Diary Inkubator part4

INJEKSI PEMATANGAN PARU, ADA ???
Kamis. Jum'at. Sabtu. Sudah tiga hari. Golden age pertama anakku terlewati. Aku sedikit lega. Kalau hidup ya hidup sesi pertama selesai. Tinggal tunggu 4 hari lagi supaya genap 7 hari. Jika 7 hari ini anakku hidup, bisa dipastikan selanjutnya bisa hidup normal. Aku baru tahu juga, kalau dokter anak Z bukan dokter utama yang bekerjasama dengan RSAB ini. Beliau adalah dokter pengganti. Dokter R yang utama, kemarin sedang umroh. Dan Sabtu malam ini beliau pulang. Kami menunggunya dengan cemas. Karena sudah 3 hari ini, menurutku anakku masih ngos-ngosan. Jumlah denyutnya juga tidak berubah menjadi berkurang. Relatif tetap. Saat itu tiba. Aku dan suamiku bertemu dengan dokter R. "Ya, prematur ini bu, kata beliau menegaskan lagi diagnosa dokter Z sebelumnya." Aku pun masih menyangkal, karena dokter kandunganku tidak berkata begitu. Kalau dikatakan prematur dari awal, kan kami lebih siap mental. Tapi dokter R tidak menanggapi kami. Aku mengerti, itu bukan ranah tanggung jawabnya. Beliau memerintahkan suster untuk mengambil darah anakku dan merontgen paru-parunya. Suster mengatakan, aku tidak perlu ikut. Karena berangkatnya nanti malam menunggu ambulans.
Aku dan suamiku masih duduk di meja konsultasi. Di belakang kami berdiri dua pasang suami istri yang mengantri untuk membicarakan kesehatan bayi mereka yang baru lahir. Kami masih terperangah ketika dokter R mengulangi lagi kata-kata, lihat 7 hari, kalau hidup ya hidup. Kami tidak segera bangkit berdiri, menanti kalau-kalau beliau akan mengatakan, "sabar ya pak..bu...banyak berdo'a. kami akan berusaha semampunya. insya Allah ada harapan untuk anak ibu bisa hidup." Tapi dokter R berkata, "Ada yang ditanyakan lagi ?". Kami menggeleng, terkunci oleh kata mati : lihat 7 hari lagi. "Ya sudah kalau begitu, selanjutnya," dokter R mempersilahkan orang tua bayi berikutnya duduk menggantikan kami. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada kesempatan untuk meminta penjelasan yang panjang lebar. Kami pulang. Dengan berharap sepenuhnya pada dokter R. Oh bukan, kami serahkan total pada Allah swt. Jika kami layak dititipi anak ini, dia pasti hidup.
Minggu pagi. Aku sengaja ingin berlama-lama di rumah sakit. Suamiku libur kerja jadi bisa menemani Aldo di rumah. Tak sengaja aku bertemu dengan dokter kandunganku pak D. Beliau sedang libur praktek di rumah sakit lain. Jadi pagi-pagi bisa inspeksi ke RSAB-nya sendiri. Kami berbincang-bincang. Sebenarnya obrolan kami cukup hangat. Aku pun berniat untuk mengambil hatinya, supaya anakku diperhatikan dengan baik disini. Tapi ada satu kalimatnya yang menyengatku. "Gara-gara kamu Hen. Menurut teori kan anak berat 2,5 kg itu kan normal. Gak prematur. Kemarin ada ibu yang hamilnya sudah 8 bulan lebih tapi bayinya 2 kg, aku suntik aja pematangan paru. Cuma semalaman saja bayinya lahir. Takut anaknya kenapa-napa kayak anakmu."Suntik pematangan paru ?Ada toh. Lho kok ? Kenapa aku tidak diperlakukan begitu. Kan hanya butuh waktu semalaman. Disuntik pematangan paru ? Bukankah jika dihitung usia kandunganku ini masih masuk bulan ketujuh. mendadak amarah yang berusaha kupadamkan dalam hatiku ini muncul kembali. Tanpa kuminta beliau melanjutkan, "Orang-orang itu harusnya tahu. Saya ini ahli. Pak R juga ahli. Kalau ada apa-apa, tidak ngomong yang aneh-aneh. Orang hamil, melahirkan itu masih misteri. Teorinya sudah ada. Tapi dalam praktek yo dek, itu banyak peristiwa..." Aku pulang.
Sore harinya, suster menelpon. Meminta suamiku datang. Ada obat yang harus ditebus dan tidak tersedia di RSAB itu. Obat itu ternyata kunci kesembuhan anakku. Suamiku mencari sampai keliling apotik dan rumah sakit di Surabaya. Sampai akhirnya dapat obat itu di apotik RS Dr. Soetomo. Obat itu nanti diinjeksikan lewat infus. Senin pagi, ketika aku menjenguk anakku, ada perubahan besar. Jumlah denyut per menitnya menurun, menjadi 90. Lalu menjadi 70 sore harinya, dia sudah tidak tersengal-sengal. Aku lega dan lebih optimis menuju hari ketujuh itu. Senin malam itu juga diagnosa dipastikan, anakku prematur. Darahnya punya Hb rendah, kulitnya tipis dan paru-parunya belum matang satu buah. Sebelah kiri. Itu terlihat dari gambar di rontgen. Paru-paru kanan warna putihnya gelap rata. Yang kiri tipis, jadi 'spon-spon' pengisi paru-parunya belum tumbuh sesempurna sebelah kanan. Jadi 2,5 kg bukan patokan terbaik bayi itu akan prematur atau tidak. Usia kandunganlah yang terbaik. Dari literatur yang kucari kemudian ternyata usia kandungan 36 bulan baru paru-paru bayi bisa dikatakan matang. Sedangkan waktu hamilku kira-kira masih 34 bulan lebih sedikit.
Kehidupan pun harus kembali normal. Suamiku kerja. Anak pertamaku sekolah. Aku sibukkan diri kembali dalam pekerjaan rumah tangga. Memasak, mempersiapkan Aldo sekolah, menemaninya nonton kartun, dsb. Pulang sekolah, Aldo bersama tukang becak yang menjemputnya, langsung kuajak menengok adek. Sampai dia kecapekan dan minta pulang. Malamnya, tepat setelah bapaknya datang, makan malam dan mandi, kami pun berangkat lagi ke rumah sakit. Sempat kukatakan pada Aldo, "mas mama ke adek kalau mas sekolah aja ya. Jadi mas nggak capek pulang sekolah langsung ke rumah sakit.' Tapi Aldo menolak, "Jangan ma, nanti adek nyari Mas.."
Begitulah. Selama Aldo sekolah, aku belanja, beres-beres rumah dan masak seperti biasa. Stagen kukencangkan kuat-kuat, karena aku takut 'turun berok' atau kandungan turun. Bisa panas dingin kata ibuku. Aku persiapkan makan siangnya dalam boks. Dan juga baju gantinya. Pintu rumah kututup, sekalian dikunci. Aku duduk menunggu di kursi teras. Tepat ketika Aldo turun dari becak, pulang sekolah. kulepas baju seragamnya, kuganti dengan baju biasa langsung di teras, tidak masuk ke rumah dulu. Lalu langsung kami minta diantarkan ke rumah sakit oleh pak becak. Di ruang bersalin yang menjadi satu dengan ruangan bayi, aku menyuapi Aldo makan siang. Sambil bercanda dengan suster-suster. Pernah ketika aku tidak masak,kami keluar beli nasi dan ayam goreng. Lalu aku menyuapinya di tempat praktek dokter anak R yang ada tepat di seberang RSAB ini. Tempat itu hanya buka 2 kali seminggu. Aku terharu dengan kebesaran hati Aldo. Tanpa merengek dan mengeluh dia menemaniku menjenguk adeknya. Sementara itu aku sekuat tenaga menyembunyikan keadaan anakku dari ibu. Bapak masih diopname stroke. Ketika ibu menelepon dari rumah sakit, aku menjawabnya singkat saja. Dan berdalih bayiku sedang menangis. Dan ibuku ternyata sangat terpukul dengan sikapku. Menurut ceritanya kemudian, ibu curhat ke besan, nelangsa, karena aku tak peduli dengan bapak. Masak bapaknya opname kok nggak nanya gimana kabar bapaknya.

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊