BONEK, Bondo Nekad, Modal Nekad


Kalung Batu Alam Biru Kombinasi

Sungguh diluar dugaanku, bahwa aku akan tertarik dengan craft. Terutama aksesoris manik. Ini bermula dari obrolan antara anak kos yang tinggal di rumah ibuku, Yuni. Dia menceritakan bisnis kecil-kecilan kakakknya yang tinggal di Jogja. Bisnis membuat aksesoris manik dan batu, dan bisa dipasarkan sampai luar Jawa. Siang itu juga kami berangkat ke tempat kulakan. Rencananya kami akan ke pasar Turi, sekarang PGS. Ternyata belum sampai sana, Yuni sudah belok ke arah pasar Blauran. Dan di dekatnya ada Toko Burhani.

Aku terpana masuk ke toko ini. Roncean manik-manik dan batu segala bentuk dan warna tergantung di atas. Dalam etalase ada manik-manik halus, pin loop o dan 1, beraneka tautan untuk kalung dan gelang, dibungkus plastik. KArena masih terpana itu pula, aku asal mengangguk saja ketika Yuni memilih ini itu. Dan sudah tabiatku sebagai maniak baca, yang membuatku tertarik adalah buku teknik pembuatan aksesoris. Kebeli deh semua. Dan, busyet sampai tiga ratus ribu!!! Aku bisa bikin aksesoris setahun nih bahannya.

Sampai di rumah ibu, heboh semua. Komentar ini itu. Aku inisiatif langsung membagi tiga, sesuai uang titipan. Mbak ipar dan mbakku sendiri tertarik juga belajar bikin. Aku menyerah tidak membuat di situ, karena anak keduaku, Aji masih kecil. BElum bisa jalan. JAdi mustahil tidak terganggu. Apalagi ketika aku datang, dia baru saja muntah. KArena kebanyakan dikasih susu sama budenya. Heheh...dasar si bude, tiap kali nangis, Aji disodori botol susu yang segede itu. Aku pun konsentrasi mengurus Aji.

Eksperimen berlanjut di rumah. Kebetulan tak lama kemudian datang bulan puasa. Targetku bisa menjual untuk keperluan lebaran. Tiap habis sahur aku otak-atik bahan aksesoris dan meniru buku yang kubeli seharga 55ribu. Pokoknya aku curi waktu tiap kali Aji tidur. Kalau Aldo, sudah ikut membuat roncean tanpa mengganggu sama sekali. Aldo masih TK waktu itu.

Jadi deh beberapa model aksesoris. Tiba saatnya menjual. Ya Rabb...hati ini dag dig dug derr!!! nggak pengalaman jualan karya sendiri. Dengan malu-malu kutawarkan pada ibu wali murid TK tempat Aldo sekolah. Terjual 4 biji. Yang lain basa basi nawar sambil muji. Aku ke tempat ibu yang suka ngreditin baju, kemarin dia bilang mau kutitipi barang karyaku, eh sampai di rumahnya aku ditolak dengan super halus. Katanya dia ribet kalau nerima aksesoris, barangnya kecil-kecil, takut ilang. LAlu dia beli 2 kalung untuk 2 anak perempuannya. Dan milih yang paling murah.

Celakanya, aku nih nggak pengalaman ngasih harga. Plus jiwa sosialnya terlalu tinggi. JAdi kalau ada yang suka, lalu bilang tapi nggak punya uang, aku langsung banting harga. Heheh...bisa bangkrut kalau gini ya. Dan sampailah tinggal yang mahal-mahal saja yang tersisa.

Dewi penolongku kemudian adalah kakak iparku. BEliau juga tukang kredit baju. Aku nekad, alias PD aja bikin aksesoris lagi dengan bahan yang ada. PAdahal dalam hati juga tahu, manik bulat aja sudah nggak update lagi. Sekarang kalau tidak etnik ya logam. Ini terakhir belum di cek, semoga banyak yang terjual. Untunglah di sekitar perumahanku ada toko fashion kecil yang menjual rantai kalung stainless steel yang bisa dimodifikasi dengan manik. Jadi lumayan tidak jauh.

Menawarkan pada ibu-ibu perumahan kulakukan secara "pura-pura" nggak sengaja. Ya faktor tidak PD itu tadi. Kalau dagang tuh, malu. Aneh ya. Jadinya mereka protes, lhoo...kok nggak nawarin siihh... sambil lihat-lihat model aksesorisnya. Dan tetep aja nggak beli. Dasar ibu-ibu!!!!

Untunglah ada tetangga sebelah rumah yang maniak kalung handmade. Dia pilih satu bungkus batu alam kecil-kecil dan minta dibuatkan kalung yang panjang. Kejual deh 45 ribu. Itu pun ngasih harganya pake perasaan nggak enak banget. HEheh...

Dan vakumlah semuanya. Sampai pada titik aku bertemu dengan seorang crafter yang menyemangatiku. Namanya mbak Kenti. Kalau nggak salah dia juga pharmacist. JAdi aku berani lagi unjuk gigi. Kalund dan gelang buatanku ku foto dan kupublish. Juga dengan PDnya kupake di acara arisan, pengajian atau sehari-hari. Promosi. Tak dinyana kebonekanku terpupuk semakin subur. Dan ini benar-benar ampuh untuk menerbitkan kembali kreatifitasku.

Aku berencana menekuni pembuatan handmade accessories ini kembali. Biar deh sudah ada Elizabeth Wahyu yang kondang dan mendunia. Moga-moga aja karyaku ada yang suka. Selain diriku sendiri tentunya.

Pelajaran moral dari ceritaku ini adalah tidak apa-apa jika kita ragu. Tapi lawan saja ragu itu ketika kita memulainya. LAlu carilah informasi dan komunitas yang bisa mendukung. Maka semangatmu akan terpupuk dengan sendirinya. [dari tadi ngomongin pupuk, kayak petani aja].
OK selamat mencoba apa saja yang terbesit di hatimu kawan. Semoga sukses.

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊