BERANI MENJADI IBU RUMAH TANGGA

Salah satu pilihan karir yang tersedia untuk kaum wanita adalah menjadi ibu rumah tangga. Pekerjaan ini sering masih diperdebatkan. Baik dengan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Beberapa orang menganggap ibu rumah tangga bukan pekerjaan. Apalagi pantas disebut karir. Karena beberapa pekerjaan bisa digantikan oleh pembantu rumah tangga, nenek atau saudara yang hidup serumah.

Dewasa ini tanpa disangka-sangka posisi ibu rumah tangga menaiki tangga ke atas. Cibiran remeh tak lagi selalu hinggap pada sosok perempuan yang sudah menikah namun tak jua berseragam cantik di pagi hari. Malahan dengan berkembangnya kesadaran akan pentingnya membangun generasi yang berkualitas, peran seorang ibu menjadi begitu diperhatikan.

Dan bahkan mulai dianggap penting. Walaupun sebenarnya dari dulu juga sudah penting.

Menjadi ibu rumah tangga bukanlah pilihan. Menurut saya, dengan adanya pernikahan dengan maupun tanpa lahirnya seorang anak maka predikat ibu muncul secara otomatis. Bekerja lagi di luar rumah atau di dalam rumah atau total mengerjakan sendiri semua pekerjaan rumah – semua ibu otomatis disebut ibu rumah tangga.

Dalam buku membumikan Alquran, disebutkan bahwa pekerjaan domestic dan pemenuhan sandang pangan papan, bukanlah kewajiban istri/ibu. Tugas utama ibu adalah mendidik anaknya. Keutamaan ibu yang disebutkan sebanyak tiga kali setelah bapak, tidak hanya karena ibulah yang payah dalam mengandung, melahirkan dan menyusui anaknya. Melainkan juga beban berat ibu yang harus mendidik pemimpin baru di setiap generasi yang dilahirkannya.

Pendapat ini disambut gembira oleh para pengusung emansipasi. Konsep wanita harus diam di rumah hanya untuk masak, macak dan manak menjadi terbantahkan sendiri. Dan memang bukan itu konsep utama fungsi ibu dalam rumah tangga. Bisa saja ibu itu aktif kesana kemari. Namun bisa menempatkan waktu dan prioritas dengan fleksibel dan cantik. Disertai evaluasi dan reevaluasi tentang perkembangan anak dan keluarganya.Kebutuhan untuk memenuhi pendidikan anak bisa terpenuhi. Keinginan bersosialisasi juga bisa memperluas wawasan ibu. Sehingga ibu selalu dialiri energi positif.

Rumah memang harus jadi poros utama. Disanalah pendidikan bermula dan menjadi pondasi pertama. Disanalah segala hal bermula dan bermuara. Rumah bukan saja bangunan yang harus dihuni bersama. Rumah ada di dalam hati. Karena jika dalam suatu keadaan tertentu anggota keluarga harus terpisahkan untuk sementara, maka fungsi rumah masih berjalan dengan baik. Juga ketika harus pindah rumah. Kita bisa rela dan lega melepasnya dan membangun kembali rumah yang baru. Yang disanalah kita bisa belajar lagi. Mungkin dengan suatu yang lebih baik.

Menjadi ibu rumah tangga tak boleh lagi menjadi polemik. Keputusan apapun yang diambil, berdasarkan kebutuhan ataupun prioritas, diletakkan pada masing-masing pribadi. Pertemuan dengan ibu rumah tangga lainnya yang aktif dan mandiri secara finansial maupun educational membuka wawasan saya pribadi. Rasa bersalah karena merasa sia-sia melanjutkan Pendidikan tinggi, bisa saya proyeksikan dengan cantik menjadi rasa syukur karena pernah mengalami masa pendidikan yang baik, dan mempunyai kawan-kawan atau koneksi yang baik pula. Untuk selanjutnya beban menjadi bermanfaat bagi banyak orang, adalah fokus Kemudian.

Jadi baru-baru ini saya meramu konsep baru tentang ibu rumah tangga. Selama golden age anak-anak kita [5 tahun], kita pusatkan perhatian pada anak. Menjaga kesehatannya, menstimulasi cara berpikir dan rasa ingin tahunya, mengamati bakatnya dengan baik dan memfasilitasinya. Juga yang tak kalah penting membangun komunikasi yang akrab, mesra, tulus dan terbuka. walau konsekuensinya kita harus lebih berhemat dan berhati-hati mengelola pendapatan.[dan juga melakukan sendiri semua pekerjaan domestik. Untuk hal ini, saya sering membayangkan saja tayangan di TV, 'orang Jepang, Inggris, Amerika, Australia saja mencuci baju sendiri kenapa saya harus protes?']

Setelah lepas masa emas itu, selayaknya kita yang sudah dianugerahi pendidikan tinggi, mengusahakan sesuatu. Apakah itu bisnis, jasa atau pendidikan yang bisa memberi kepada mereka, yang tak seberuntung kita. Contohnya membuka bisnis padat karya, bimbingan belajar, aktif dalam kegiatan sosial, dsb. Sehingga kita pun bisa menghasilkan pendapatan kita sendiri. Yang nilainya nanti menjadi sedekah untuk anak dan keluarga kita. Memenuhi kebutuhan anak sekaligus menjadi jalan rejeki, jalan hidayah dan jalan ilmu bagi keluarga kecil lainnya. Ah, indah sekali kawan jika ini bisa terwujud. Wallahu'alam bisshowab.

Kalau begitu jangan ragu lagi jika keputusan menjadi ibu rumah tangga yang diambil dalam situasi dan kondisi kita saat ini.

BERANI MENJADI IBU RUMAH TANGGA
MENJADI IBU RUMAH TANGGA YANG BERANI

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊