BIKIN WARNET DI LONDON



Ada tugas menghafalkan do’a sesudah wudhu untuk hari Senin depan. Sekarang baru hari Rabu. Sejak kemarin malam, Aldo berusaha keras menghafalkannya. Dan, subhanallah, dengan gaya konsentrasinya yang membuat kami menahan geli, sekitar setengah jam kemudian dia bisa hafal. Dan berikut percakapanku ketika kami sudah bertoast untuk keberhasilan menghafal ini :
Aldo : “Ma, aku matematikanya 100 sama bahasa Inggrisnya lho 100”
Mama : “Bisa ke London nih.”
Aldo : “kalau fiqih 100 sama matematika 100?”
Mama : “bisa ke Mekah”
Aldo : “Kalau matematika 100, fiqih 100, bahasa Indonesia 100, sains 100..?”
Mama : “Mmmm…bisa kemana-mana terserah kamu.”
Aldo : [tersenyum]
Mama : “Apalagi bisa ke surga. Kan mencari ilmu itu kata Allah [SWT] sama dengan meniti jalan ke surga. Makanya sekolah itu nggak boleh males, nggak boleh bolos. Soalnya jadi jalan masuk surga.”
Aldo : “Iya. Temenku itu lho, kesiangan aja lho mbolos Ma. Kadang kalau sekolah dia ngantuukk..”

Setelah percakapan ini, esoknya, tanpa perlu dibangunkan paksa seperti biasanya, Aldo sudah bangun pagi. Mandi, sarapan, tanpa BIMOLI lagi [bibir monyong lima senti]. ketika aku handuki, dia memelukku dan membisikkan, ‘ma..kita lihat ya ??”. “Lihat apa ?” rasanya aku lupa sesuatu. “Matematika itu lho..”. “Oh ya,” padahal aku masih lupa, ada apa dengan matematika. Baru ngeh beberapa saat kemudian, oh ya, kemarin Aldo cerita soal matematikanya bisa semua. Menentukan lebih kurang/lebih banyak untuk angka 100-500. mungkin itu maksudnya. Kan nanti buku tulis matematikanya dikembalikan gurunya setelah dinilai.

Ketika kupakaikan baju seragamnya, dia mengulang lagi hafalan do’a sesudah wudu. Dan 98% hafal. Dia bangga. Dan memintaku mengantarkan sekolah duluan, biasanya dengan bapaknya. “ayo Ma, bapak lama.”. kami berangkat bertiga. Aji nggak mungkin mau ditinggal sama orang yang sudah mengeluarkan sepeda motor. Kami mampir ke emperan SD di belakang rumah. Membeli dua bungkus nasi kuning @1000-an. Sebungkus kumasukkan tas plastic bekalnya Aldo, yang sudah berisi sebotol Tupperware isi teh manis hangat. Aku tidak punya telur untuk lauk instant bekalnya Aldo. Tadi masak tumis bunga kol dan tempe goreing. Nggak enak kalau dijadikan bekal.

Ketika sampai di gerbang sekolah, aku berkata, “Sebentar mas, karetnya nasi mama rapetin dulu biar nggak mbrodol. Mama juga belum ngasih uang saku.”
Lalu Aldo bilang, “nggak usah ma. Nggak usah bawa uang.”
“Bener nih?” aku rada nggak tega juga. Kali aja bisa beli es kalau dia haus banget.
Tetapi Aldo menggeleng. Dan berlalu meninggalkanku. Memaksa memberinya uang saku, malah bisa meruntuhkan kepercayaan dirinya. Aku pun menurutinya.

Aji memanggil manja. “Mas, adik mau dadaaah nih.” Aldo berbalik dan melambaikan tangan. Kulanjutkan dengan gerakan cium jauh sambil tersenyum lebar. Aku ingat percakapan kami kemarin. Setelah keluar dari warnet yang penuh asap rokok dan umpatan. Dia mengatakan, “ ma, nanti kalau aku ke London, semua ikut ya. Kita berempat. Nanti kita buka warnet. Tapi harus bersih. Nggak boleh ada yang misuh [ngumpat] atau yang merokok.”

Lalu di rumah, dilanjutkannya lagi, “ma, kita harus nabung. Biar bisa bikin warnet di London. Ya.”

Aha, mungkin itulah mengapa dia tadi tidak mau menerima uang saku. Supaya kami bisa menabung. Biar bisa buka warnet di London. Aku tersenyum simpul. Mungkin bukan warnet yang bisa kita buka di London, anakku. Bisa jadi perusahaan saingannya Microsoft atau Google. Siapa yang tahu kehebatanmu anakku.

Ah, kawan. Hati ini menjadi begitu ringan. Anak bicara begitu. Dan kita menganggapnya serius dan benar. Kemudian merangkainya menjadi do’a. mereka bisa hebat di jaman mereka sendiri. Saya Cuma menyediakan diri menjadi teman bicaranya. Dan menemaninya belajar. Serta memotivasinya untuk mencoba lagi jika ada yang sulit untuk dikerjakan. Dan anak-anak pun bisa menemukan keinginannya sendiri. Itulah yang selama ini menjadi tujuanku. Mereka tahu apa yang ingin dilakukan. Dan itu bisa menjadi mesin semangat yang terus menerus menyala dan semakin bertambah waktu bertambahlah energinya.

Kita tinggal mendorongnya lagi dalam bentuk do’a. semoga setiap usaha membesarkan anak-anak ini, dinilai sebagai ibadah. Dan bisa mendatangkan ridho-Nya pada keluarga kami. Sakinah di dunia, chusnul khotimah dan bertemu Allah SWT dan para Rasul-Nya di akherat kelak. Amin.

Saya bukan ibu yang sempurna. Atau ibu yang hebat. Saya masih marah besar, berteriak dan menarik tangannya dengan paksa ketika mereka melawan. Tetapi setelah itu saya meminta maaf, menjelaskan kemarahan saya sambil memeluk atau mengelus kepala mereka. Setulus-tulusnya. Seterbuka mungkin. Anak pun memaafkan. Anak-anak memang jauh lebih pemaaf daripada orang dewasa.

Saya juga bukan teladan yang 100% bisa ditiru. Namun saya katakan terus terang, contohnya“bahwa mama pun sholatnya masih nggak khusyu’. Masih mikir ini itu. Mikir kerjaan rumah. Tapi sholat itu nomer satu. Kita belajar sama-sama. Ya.” Kejujuran itu membuatku lebih ringan menjadi orang tua. Tidak berada di atas kepala anak. Namun berdiri sejajar dan berjalan beriringan, bersama-sama.

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊