Damar Wulan (cerbung)

Adapun suara kembali terdengar. Menderu-deru seperti gemuruh. Menyesakkan dada dan pikiran. Membangkitkan kembali kenangan yang telah padam. Memanggil kembali rasa pahit yang sudah berusaha untuk dimaniskan. Ah, begitu ingin disampaikannya semua ini dengan bahasa yang sederhana. Sesederhana air menghilangkan kotoran dari wajahnya.

“Ibu ingin pergi,” disampaikannya lagi hal itu dengan hati-hati. Tidak ada jawaban. Damar dan Wulan hanya duduk diam menatapnya. Dengan air mata yang mengalir tak henti-henti dari keduanya. Kunti menahan sesak di dadanya. Ini tidak mudah. Tapi harus kukatakan sekarang. Atau semuanya akan semakin kacau dan menyakitkan.

“Ibu pasti pergi. Dan kalian boleh ikut.” Kalimat Kunti yang kedua memaksa Damar menjawabnya. “Bapak?” jawabannya berubah menjadi satu kata tanya saja. Kunti tersenyum. Lalu menggeleng. Lalu mendekati kedua anak kembarnya itu. Dan mengelus kepala mereka berdua. “Sudah bertahun-tahun bapak kalian meninggalkan kita,” ujarnya pelan. “Ibu sudah tidak tahu lagi, bapak kalian ada dimana sekarang ini. Ibu sudah lelah menunggu.”

“Siapa tahu bapak pulang bu?” akhirnya Wulan bersuara. Jepit mawar di rambutnya jatuh perlahan. Menghapus sedikit jejak air mata di pipinya. Wulan mengambilnya. Menggenggam erat hadiah terakhir dari bapak.

Kunti menarik nafas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. “Mungkin juga. Bapak kalian akan kembali.” Dia merapikan kedua tas besar berisi barang-barangnya. “Mungkin juga tidak. Haruskah kita masih menunggu?”

“Tapi bapak masih ada bu. Masih ingat pada kita. Lihat ini. Rekening tabunganku. Sampai sekarang masih ada kiriman uang dari bapak. Bapak masih ada, bu. Aku memimpikannya.” Wulan menjawab dengan linangan air mata yang semakin menderas. Di pangkuannya terdapat buku tabungan berwarna biru tua. Kunti menatap Damar, meminta dukungan. Damar mengangguk, sembari menunjukkan buku tabungan yang sama.

“Damar, Wulan, ini bukan kali pertamanya ibu membicarakan hal ini. Dan bukan sebentar ibu menunda untuk menuruti kemauan kalian. Menunggu bapakmu pulang. Anggap saja bapakmu sudah tidak ada!” Kunti tidak mampu lagi menahan emosinya. “Sekali lagi ibu katakan. Besok siang. Ibu pergi. Ibu sudah mengatur semuanya. Terserah kalian ingin tetap disini atau ikut bersama ibu. Semua yang tersedia di istana megah ini memang hak kalian. Dan kalian bebas menggunakannya. Ibu tak lagi punya hak apapun di rumah ini. Satu-satunya hak yang ibu punya adalah pergi. Mungkin itu kewajiban ibu sekarang.” Kunti mendengus kesal. Dan meninggalkan kedua anaknya, lalu masuk ke dalam kamar.

Tepat ketika bayangan benda paling pendek, Kunti berangkat pergi. Menuju kota kecil yang dipilihnya dengan hati. Kedua anaknya bersikeras bertahan. Kunti hampir tidak percaya betapa keras kepala sifat kedua anaknya itu. Sekeras kepala sifatnya juga. Atau mungkin mereka takut jatuh miskin jika pergi bersamaku, pikir Kunti lain. Dasar anak-anak manja, geramnya. Dan berlalulah Kunti untuk selamanya. Meninggalkan pondok super mewah yang telah dibangun oleh suami tercintanya, Cipto. Suami yang sekaligus menghilang dengan ajaib selama hampir lima tahun. Kunti memacu laju mobilnya dengan kencang. Toh mobil ini kelak akan kukembalikan, teriaknya dalam hati. Air matanya mengalir bak hujan deras. Hatinya paling remuk redam. Jauh lebih sakit ditolak kedua anaknya daripada pengusiran secara halus yang dilakukan secara intensif oleh keluarga mertuanya.

Di kota kecil itu, di tempatnya yang baru, Kunti menyambung hidup dengan membuka toko roti. Bisnis apa yang bermodal sedikit dan bisa berputar menghasilkan uang, kalau bukan bisnis makanan. Membuka warung makan, membutuhkan modal dan tenaga serta alat yang lebih banyak. Kunti memilih membuka toko roti. Roti kering dan roti panggang sejenis roti tawar dan roti manis. Kunti Bakery, papan nama dari ukiran kayu menggantung di pilar pagar rumah peninggalan orang tuanya itu.

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊