ULTAH AJI KE-3



Alhamdulillah.

Sungguh hari ini berbeda dari biasanya. Karena takut dianggep niru-niru bule, saya biasanya tak begitu acuh dengan ulang tahun. Tapi kali ini, hari jadi Aji yang ketiga berbeda rasanya. Dimulai dari saat sahur. Sejak hari pertama saya nonton sinetron para pencari Tuhan 3 sambil makan sahur. Kok kebetulan, ndilalah, hari ini adegannya menusuk hati.

Anak terkecil Bang Asrul meninggal dunia. Kyaa...pas gambar si anak ditutupi kain putih dikelilingi ibu dan kakak-kakknya itu; hiks....hikss....hati saya terseret cepat ke bilangan 36 bulan yang lalu. ketika Aji divonis mengalami masa kritis untuk kelangsungan hidupnya.

Bahwa adegan itu persis seperti yang kubayangkan ketika masih di bed kamar bersalin. Sesaat setelah diberitahu kenyataan yang harus mampu kuhadapi. [kalau mau tahu ceritanya, klik link pustaka madoji, dan baca diary inkubator part 1,2 dan 3 ya...:D].

Deugh. Hari ini istimewa. Itu yang langsung terbesit di kepalaku. Harus ada artinya.

Yang kepikir kemudian, perayaan syukur kecil-kecilan. Kebetulan Aji sudah sekolah PAUD di RW tetangga. Jadi bagi-bagi jajan aja disana. Karena keputusan mendadak, sedangkan sekolahnya pagi, dan ada kemungkinan toko belum buka, maka rencana ini masih mentah. Berlalulah hari seperti biasa, dengan maksud rencana itu tidak terungkap pada siapapun. Pada suami maupun anak-anak. Mama masih nyimpen rahasianya.

Kok ya?

sepulang dari mengantar Aldo ke sekolah, sepeda motor trouble. Perseneling dol. Nggak bisa maju, nggak bisa di starter, bisanya cuma mundur. Kejadian ini pernah kualami dan bisa sembuh dengan menendang logam pengatur 'gigi' itu ke dalam. Namun sudah kutendang dan kupukul-pukul dengan batu pun, masih tak berubah. Waduh, angka jam digital di HP sudah menunjukkan 8 lebih. Padahal Aji masuk jam 8. Dengan segala pertimbangan akhirnya sepeda motor itu kutitipkan ke pak satpam. Dan nanti sore akan diambil oleh suamiku. Dengan keringat bercucuran aku berniat mencari becak untuk pulang dan menuju PAUD.

Alhamdulillah ada teman yang menawari untuk mengantarkan. Di perjalanan kulihat toko snack buka, aku sempatkan dulu beli 'jajanan syukuran' untuk teman-teman Aji di PAUD. Dan sampailah kami tepat pukul 9.30. Telat. dengan bawa bungkusan. Semua mata memandang heran. Aku masih ngos-ngosan. Karena puasa kan tidak bisa minum untuk menghilangkan ketegangan tadi.

Setelah berpesan pada salah satu bunda PAUD untuk membagikan jajan dalam rangka ulang tahun Aji, aku duduk di belakang. Aji kecapekan rasanya. Dia sudah malas bergabung dengan teman-temannya. Tentu saja, dia kan sudah siap sejak pagi tadi.

Akhirnya acara bagi jajan tiba. Aji dipangku bundanya, bernyanyi selamat ulang tahun bersama temannya. Aku meminjam HP teman untuk mengabadikan momen itu. Aji tampak gembira. Apalagi teman-temannya menyalaminya. Lucu.

Pulang. Dengan satu keajaiban lagi. Ada yang nawarin nganterin sampai depan rumah. Phuiff...rencana nggak masak buat buka. Lemass. Suami pun setuju. Namun dia masih kepikiran apakah keluarga ibuku jadi ke rumah untuk merayakan ulang tahun Aji. Aku duga tidak jadi. Karena selama ini aku nggak pernah bikin acara apa-apa saat ulang tahun anak-anakku. Paling-paling mereka kubelikan mainan, jajan dan es krim.

Meleset. Adik dan kakakku bersikeras tetap datang. Dan wajib hukumnya aku menyediakan hidangan bukber. Kyaa...kan rencananya aku nggak masak ? $%^$#@!!!

Alhasil. Susah payah kuseret diriku untuk bangun. Piring kotor dll masih terbayang di mata. Semua belum siap, gimana nih? untung ada adik ipar yang dekat rumah. Aku minta bantuannya. Dan berhasillah ku memasak mie goreng, memesan 50 tusuk sate ayam, seporsi gule dan membuat es degan campur blewah.

Sampai adzan maghrib, tamu belum datang. Aku deg-degan takut batal. Siapa yang mau menghabisakan sate sebanyak itu?

Pas isya', keluarga datang. Aji berteriak senang. Aldo langsung menyeret dua keponakan lelakiku di depan komputer, pada game online yang sedang dia mainkan. Tanpa babibu kami langsung menyantap hidangan, karena mereka kelaparan. Hanya sempat membatalkan dengan ta'jil. Hidangan tandas, aku lega, senang.

Budenya membawakan hadiah playdouh, Aji senang sekali. Karena kemarin suka dengan plastisin. dan satu mainan robot lagi kusuruh untuk diantarkan ke masnya Aldo. Alhamdulillah Aji tidak protes. Rupanya dia mengerti untuk berbagi. Atau kalau dapat mainan baru ya dua-duanya. Keluargaku juga membawa kue tart kecil. Acara tiup lilin dan potong kuenya dilakoni Aji dengan semangat. Sayang foto baru belum bisa diupload karena kabel data lupa dibawa adikku. Aku gembira sekali. Merayakan ulang tahun anak ternyata tidak se'buleisme yang aku kira. Ini perwujudan syukur dan menyambung silaturahmi. terutama anak dengan keluarga besar. Hatiku tersenyum puas.

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊