Zero Mind (Riset Parenting step 1)

Spektakuler. Hari ini aku mencoba teknik parenting baru. Aku namakan wait and see. Begini, ini karena aku membaca note dari mbak Yanti dif b. pelaku HE yang anaknya jago math. Dari note itu dipaparkan kesabaran guru sekolah alam dalam membimbing anak didiknya. Menggunakan pendekatan hati. Yang membuatku tersentuh adalah. Dari cerita guru itu. Bahwa murid baru dari sekolah biasa, kebanyakan mengalami tekanan batin yang luar biasa karena tuntutan penguasaan kognitif siswa. Jadi ketika mereka baru saja masuk ke sekolah alam yang luas sekali itu mereka girang bukan kepalang. Guru itu membiarkan saja murid tersebut melampiaskan emosinya untuk bias mencapai keadaan nol. Apakah ini termasuk keadaan zero mind? Ah aku perlu mencari literature tentang hal ini.

Aku tersadar (banget), sedikit banyak telah terlibat dalam tekanan batin yang mungkin dialami oleh anakku Aldo, terutama. Karena sudah masuk usia sekolah dan sudah kelas 2 SD. Sedangkan Aji, aku masih sulit menilainya

Hari ini aku biarkan Aldo sesuka hatinya. Aku tidak menegur. Aku tidak menyuruh. Aku tidak marah. Sejak pulang sekolah dia meminta ijin untuk bermain game computer. Kubiarkan sampai kira-kira 5 jam. Sejak jam 12 siang sampai hamper setengah enam sore. Aku tidak menawarinya makan. Atau menyuapinya tanpa dia minta. Aku ingin dia merasakan sendiri lapar. Lalu mengambil makanan sendiri. Aku biarkan saja. Aku hanya mondar-mandir untuk mengeceknya. Dan selama hamper 5 jam itu dia berada di depan monitor computer nonstop. Aku pun tidak mengkhawatirkan kesehatan matanya. Aku tidak berteriak memperingatkannya. Pendek kata aku hanya diam.

Biasanya aku diam dengan marah. Tapi kali ini tidak. Aku diam dengan penuh rasa ingin tahu. Kebetulan kemudian Aji tidur berjam-jam. Aku mandi sore dan sholat ashar masih dalam diam. Aldo beberapa kali melirikku. Tapi aku berpura-pura tidak melihatnya. Tepat ketika sudah selesai, dia meneliti air mukaku. Dan bertanya, “ apa ma?” aku hanya mengangkat kedua pundakku. Dan meneruskan menonton tv. Dia pun ikut duduk. Hanya dengan kaos singlet dan celana dalam. Wajahnya kusut sekali. Matanya sangat lelah. Aku diam saja tidak menyuruhnya mandi. Aku sebenarnya menunggu pertanyaannya ketika lapar. Dan meminta makan. Tapi dia diam saja. Aku pun diam saja

Setelah sholat maghrib, bapaknya datang. Aldo segera meminta makan pada bapaknya. Aku pun sengaja tidak mengatakan rencana penelitian psikologis ini kepada suamiku. Karena aku ingin tahu reaksi alamiah diantara keduanya. Bapaknya pun segera memberinya makanan. Dan Aldo menyantapnya segera. Pasti dia sangat lapar. Aku pun segera ke dapur memasak nasi goring untuk makan malam. Mendadak lampu mati disertai hujan sangat deras.

Kami berkumpul di ruang tengah. Aldo berusaha membuatku berkomentar dalam cerita-ceritanya. Aku menanggapinya dengan ringan. Hanya karena cenderung diam, semua jadi heran. Terutama suamiku. Biasanya aku cerewet melarang ini itu. Aku ingin stop untuk hari ini. Dan hasilnya hatiku menjadi lebih ringan. Aku akan mengubah caraku jika ini kontra produktif. Terlalu banyak aturan, terlalu ketat, terlalu tegang. Anak 7 tahun yang enggan sholat, apa kelak jadi durhaka? Tentu tidak. Masih panjang perjalanannya.
Yang membuatku terharu. Ketika aku mengambil wudhu untuk sholat maghrib, Aji sedang merengek karena sakit gigi setelah minum susu. Aku sodorkan saja air putih untuknya berkumur. Lalu Aji tiba-tiba bergegas masuk kamar mandi. Menyiram kakinya dan mengelap mukanya dengan air. Dan mengeringkannya dengan handuk. Eh ternyata dia ikut sholat magrib denganku. Aku terharu sekaligus sedih. Aku bahagia jika Aji mempunyai sense of religy yang baik. Dan aku sedih dengan tidak adanya reaksi Aldo. Hm…riset ini masih harus diperpanjang lagi sampai aku sendiri tahu apa yang harus kulakukan.

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊