HARGA YANG HARUS DIBAYAR

Beberapa fragmen terbayang di benakku,
pertama : sosok istri dosen yang menggendong sendiri anak bayinya. Kemudian, mahasiswa dan mahasiswi berbisik-bisik, "istrinya itu lulusan s2 lho, ketemu di Australia, dan sekarang jadi ibu rumah tangga (saja)". sosok itu pun masuk ke dalam mobil. dan pak dosen kami yang masih muda, masuk ke dalam gedung jurusan.

kedua : seorang dosen cantik sedang duduk di depan mahasiswanya di meja bundar. untuk membimbing mata kuliah LitKim alias Literatur Kimia. Panjang lebar seputar materi, akhirnya sampai pada sesi menceritakan pengalaman beliau pribadi. Tentang bagaimana usahanya untuk bisa lulus UMPTN, dan kuliah sehingga tidak dipaksa berjualan di toko keluarganya. Kemudian usahanya mencari beasiswa ke luar negeri, supaya bisa sekolah bareng dengan suaminya yang juga akan belajar di negeri yang sama. keluar dari perpustakaan universitas kalau mau ditutup, jarang tidur, minum kopi kental campur garam supaya tetap bisa terjaga. dan usaha keras lainnya. dan kemudian bu Dosen cantik itu pun mengatakan satu kata emas, yaitu " ya..itulah HARGA YANG HARUS DIBAYAR. kalau kalian ingin sukses, atau kalian iri dengan kesuksesan orang, amatilah berapa besar harga yang harus dibayar untuk meraih semua itu."

Dua fragmen tadi tidak sempat terlupakan. Terlebih ketika satu demi satu, keputusan harus diambil dari beberapa pilihan yang ada.

Dan sampailah pada titik jalan ini. Dimana, predikat ibu rumah tangga menjadi sebutan bagi perempuan yang tidak punya institusi/kantor.

Memutuskan profesi ini tentu ada harga yang harus dibayar. kurangnya akses untuk bertemu banyak orang secara langsung, sulitnya bepergian untuk ini itu karena harus mengantar jemput anak, dan usaha tak henti-henti untuk mengingatkan diri sendiri bahwa setiap kegiatan rutin itu berharga di mata Alloh SWT; adalah salah satu dari harga yang harus dibayar.

Dibayar untuk apa?
Untuk kesehatan anak, suami yang bisa dikelola dengan baik
Untuk waktu luang yang bisa dimanfaatkan mempelajari skill lain dan ilmu agama
Untuk kesempatan memberikan bimbingan parenting pada anak sebaik mungkin
Untuk anak yang melambaikan tangan dengan gembira, ketika kita sudah sampai di depan pintu kelasnya
Untuk mereka yang sibuk di atas kasur, satunya membaca buku tebal tentang alam dan tubuh manusia, satunya sibuk menata potongan pizza penghapusnya serta kartu bergambar dora. Sibuk belajar berkonsentrasi
Untuk orang tua dan mertua yang tenang karena cucunya diasuh dengan baik dan ibunya selalu ada
Untuk baju, celana, mukenah dan sarung yang bisa dipastikan suci dan layak untuk dipakai beribadah. Tidak dicuci dan dicampur dalam bak cucian sekenanya saja oleh PRT.
Untuk deretan empat sajadah hijau, ketika maghrib, kemudian bersama melafalkan doa untuk orang tua dan doa kebaikan di dunia dan di akherat, dipimpin oleh anak sulung, dan diikuti oleh anak bontot yang hanya bisa menggumam konyol, "Nyo..nyo..nyo.."
Untuk anak dan suami yang riuh rendah bersilat di atas kasur ketika suami pulang kerja, dengan tawa dan jurus-jurus baru
Untuk mudahnya merawat anak yang sakit, sehingga bisa lekas sembuh, juga mengajari mereka, bahwa jika bisa rela untuk sakit dan berdoa minta sembuh,maka dosanya bisa digugurkan oleh Alloh SWT
Untuk ada di samping anak, ketika mereka bertanya, "Ma, yang daging buahnya paling banyak itu buah apa ya?, dan kita bisa menjelaskannya panjang lebar
Untuk satu-dua kalimat baru yang bisa dikatakan oleh anak balita kita. Dan kita menyambutnya dengan girang, memeluknya dan mengatakan, "horee...sudah bisa bilang RRR"

Untuk beberapa hal lain yang bikin penuh halaman jika dituliskan

Juga sebaliknya,
kemudahan mencari nakah ketika meninggalkan rumah dan anak dalam pengasuhan orang lain. Lebih banyaknya akses teman ataupun rejeki. Sehingga kita bisa menyenangkan hati saudara, keluarga dan teman dengan rejeki kita.

Lalu sesampainya di rumah,
anak hanya sebentar tersenyum, lalu menangis meraung-raung meminta ini itu. Dan kita tidak punya pilihan lain kecuali menurutinya. Karena badan kita pun sudah lelah tiada tara.
Atau anak dan suami begitu bahagia setelah food delivery datang, sebelum kita pulang kantor.
Itu juga termasuk harga yang sudah kita bayar.

Satu hal mudah
Satu hal sulit

Akan menjadi kurang bijak, jika kita menginginkan hal yang sama terjadi. Atau dengan kata lain, "Benda" yang sama akan kita peroleh. Padahal harga yang harus kita bayar itu berbeda jumlahnya, bentuknya juga kualitasnya.

Kurang bijak juga jika kita menilai orang lain lebih "patut dikasihani" karena tidak mendapatkan "benda" seperti kita. Sebelum tahu alasannya yang paling tepat. Karena tujuan hidup yang dipahami semua orang, umumnya, tidak sama.

Seperti kata orang bijak, lakukan apapun terserah kamu. Asal ingat, kelak kau akan dimintai pertanggungjawaban atas semua yang kau lakukan;

Jadi, tentukan tujuan hidup yang ingin kita capai. Lalu lakukan semua hal yang bisa mendukungnya. Apapun yang menyertainya, kesusahan, kemudahan, dsb, adalah harga yang harus kita bayar.

Dan ALLOH SWT tidak pernah tidur.
Dan akan membayar kontan dengan "barang" terbaik yang diberikan sesuai seberapa "besar" harga yang telah kita bayar. Walaupun hal itu tidak nampak kasat mata di hadapan manusia lainnya.

Selamat memilih tujuan hidup ini kawan

3 comments:

  1. Wah..... sip mbak heny. hidup adalah pilihan. Pilihan pasti ada konsekuensi alias harga yang perlu dibayarkan InsyaAllah asal kita ikhlas dan sadar atas pilihan kita...... akan enteng apapun yanh terjadi. salam.

    BalasHapus
  2. Salam kenal... hidup memang HARUS memilih, walau terkadang kita digoda oleh hal-hal yang menjadi keinginan kita, tetapi BUKAN pilihan kita untuk SAAT INI. Blog mba' Heni memberi saya inspirasi dan semangat untuk terus ISTIQOMAH menjadi FULL IRT yang baik. Walau saat ini saya sedang berusaha menyusui jalan jejak impian saya..be a good mother and work at home...semoga saya tetap istiqomah untuk membimbing anak2 saya...

    BalasHapus
  3. mbak Asri : ya betul. ikhlas adalah dopping yg mujarab sepanjang masa

    mbak Ry's : salam kenal juga. amin. mari kita berbagi dan saling menguatkan. karena tentu tidak mudah.

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊