Tidur 8 jam = MALAPETAKA !!!

Sebuah majalah UMMI edisi lama saya pinjam dari mbak Siwi, kakak ipar pertama saya. Tepatnya edisi 03 Juli 2009. Di halaman 10-12 dipaparkan profil bapak Romi Satrio Wahono berjudul Membagi Ilmu Komputer di Dunia Maya.

Paragraf demi paragraf yang menggambarkan kehidupannya benar-benar menginspirasiku. Pak Romi ini divonis guru SD-nya sebagai anak yang tidak punya masa depan. Karena mengalami disleksia kompleks, tidak bisa membedakan huruf b dan d.

Hebatnya, pak Romi muda tidak patah arang. Dengan metode mind mapping yang penuh simbol dan warna, beliau belajar keras, sampai akhirnya bisa masuk SMA Taruna Nusantara dan lulus sebagai rangking pertama.

Tamat dari SMA, sebenarnya beliau lulus untuk masuk ITB dan STT Telkom, tetapi yang dipilih kemudian adalah beasiswa ke Jepang dari BPPT Ristek, untuk kuliah di Jurusan Informasi dan Ilmu Komputer di Universitas Saitama, Jepang.

Karena ingin segera lulus, di tahun pertama beliau mengambil kuliah sebanyak 70 sks. Mata kuliah tingkat 2 diambil di tingkat pertama. Wow, saya kuliah saja, setahun, paling banter 44 sks, itu sudah paket, dan sudah sampai mimisan. Akhirnya beliau berhasil lulus cum laude. Lalu melanjutkan sekolah sampai s2 dan s3. Dan lulus sebagai master dengan tesis terbaik dan IPK sempurna 4. Subhanallah. Betapa hebat etos kerjanya.

TIDUR 8 JAM ADALAH MALAPETAKA. Itu adalah konsep gaya hidup pak Romi. Sungguh membuat saya tertunduk malu. Malu sekali. Beliau lebih suka tidur di awal dan bangun ketika orang masih tidur. Saya hitung, kira-kira tidurnya jam 8 malam, bangunnya jam 1 dini hari.

Beliau lebih suka bekerja lagi, menulis, lalu sholat malam. Sehingga mengerjakan sesuatu dengan badan dan pikiran segar.

Saya ingin sekali bisa mempraktekkan kebiasaan ini. Semoga saya bisa. Dan tidak ngantuk luar biasa ketika tiba waktunya mengantar jemput anak saya sekolah.

Pak Romi menolak gaji 100 juta sebulan yang ditawarkan perusahaan Jepang, tempat beliau belajar dan bekerja selama 10 tahun sebelumnya itu. Dan memilih untuk tinggal di Indonesia. Semula beliau bekerja di LIPI sambil membuat situs untuk membagikan ilmu komputernya, yaitu di www.ilmukomputer.com

Tetapi di LIPI tidak membuat beliau nyaman, sehingga memutuskan total mengelola situs itu. Sambil merekrut anak-anak lulusan SMK yang cerdas dan berekonomi lemah, Pak Romi mengajak mereka magang di situs miliknya. Kemudian memberinya beasiswa untuk sekolah lagi. Dan meskipun kuliah sambil kerja, anak-anak didiknya ini bisa ber-IPK 3,8 atau 3,9. Waduh, semakin membuat saya malu. Begadang dan mimisan saya tidak sampai menghasilkan angka segitu besarnya. Saya kurang bekerja cerdas dan keras, mungkin ya.

"Jadi anak-anak seperti Lintang di Laskar Pelangi itu nyata adanya," komentar pak Romi pada kegigihan dan kecerdasan anak didiknya. Bahkan beliau merasa, anak didiknya itu lebih cerdas dan lebih pantas kuliah di Jepang daripada beliau. Hanya karena dulu beliau yang punya aksesnya. Jadi sekarang, pak Romi ingin menjadi jembatan akses antara anak cerdas dan pendidikan yang berkualitas.


Situs yang beliau kelola ini kemudian berkembang menjadi bisnis. Dan mendapat penghargaan Continental Best Practice Examples kategori e-learning dari PBB di Jenewa, Swiss. Situs ini bisa menjadi mata pencahariannya, walau sebelumnya diremehkan oleh teman-temannya.

Situs yang beliau kelola antara lain :
www.ilmukomputer.com berisi repositori (artikel, buku dan tutorial)
yang ingin seriua, bisa kuliah online dan dapat sertifikat dari
www.university.romisatriowahono.net
www.brainmatics.com untuk yang ingin training
www.romisatriowahono.net adalah blog pribadinya, yang banyak berisi motivasi dengan bahasa untuk anak muda.

baru saja saya buka blog ini dan memang bahasanya gaul. ada BASBANG alias basi banget, dll.

semua ini disebut beliau adalah e-learning center.

wah benar-benar menginspirasi saya pak Romi. Seorang anak disleksia kompleks, bisa sehebat ini.

Dan ternyata, untuk bisa menjadi ahli, kita harus konsisten di satu bidang saja. Fokus. Persis seperti saran dari Helmi Yahya yang sering diucapkannya di media.

2 comments:

  1. Memang sekali lagi kedisiplinan bisa mentukan apa yang kita dapatkan.

    Ada konsep bekerja harus leih keras, tetapi ternyata bekerja itu harus lebih mudah dengan didukung kedisiplinan.

    Salam :)
    http://msantika.com

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊