esmosi

Jika kondisi rumah biasa. Ramai. Aku begitu rindu dengan kesepian. Begitu suka dengan tiadanya suara apapun, kecuali desisan deru kipas angin, tarikan nafas anak dan suami yang sedang tidur dan suara ketukanku sendiri di atas papan berhuruf kapital.

Namun, ketika kesepian itu mendadak dianugerahkan kepadaku, ketika aku belum menyerah pada kuasa alam mimpi. Aku mendadak pula tertegun kebingungan. Oke, sekarang sendiri. Lalu apa?

Dan ini tidak hanya terjadi sekali atau dua kali.

Maka kemudian aku mencoba cara ini, aku menulis saja ketertegunanku itu sekarang. Dan sepertinya semakin bergeraknya jari jemariku, yang sudah mampu pula tidak menabrak touchpad, sehingga tidak ada huruf yang berloncatan kesana kemari, aku merasakan nyawaku mulai kembali.

Dan terasa mulai menyenangkan. Terutama sekarang di dalam kamarku tidak hanya ada kipas angin. Sudah ada mesin pengendali kesejukan udara, yang kubeli secara kredit dari kartu kredit milik kakakku. Kakak yang sering memporak-porandakan hatiku. Sekaligus yang paling sering memberi dan menolongku. Betapa ironis dan relatifnya hati itu.

Aku menutup malam ini tidak dengan cantik.
Ada sesal dan sesak di dada. Ketika menyaksikan, Aldo, anak pertamaku, menarik nafas panjang mendengar jawabanku atas permintaannya membeli buku. Ampuun...bukankah aku sudah bertekad untuk menjadi baik, baik dan baik.

Menjadi ibu yang baik.
Seperti apa itu?

Aku pikir minimal, tidak berteriak-teriak dan tidak marah.

Tapi, aku masih mudah sekali marah. Amat sangat mudah marah kepada dua anak lelakiku. Mudah sekali jengkel dan merasa betapa berat mengurus mereka berdua. Padahal aku tahu, bahwa yang sedang kukerjakan itu berpahala, ladang amal, amanah dan tugasku sebagai ibu.
Maka, aku mulai memikirkan hal ini, dengan ingin mencari tahu apa sebabnya.
Kenapa aku ingin marah hari ini, padahal aku bisa ke warnet, foto bisa diupload, ada yang mau beli, laptop pun beres. Lalu kenapa masih marah?
Entahlah, ini mungkin analisaku :
1. Aku marah biasanya ketika aku mulai marah kepada diri sendiri. Kenapa aku memarahi anakku untuk hal-hal yang seharusnya aku tidak perlu marah. Dan perasaan bersalah itu malah semakin membuatku terus menerus marah dan mudah sekali gusar.
2. Ketika aku menatap wajah tidak enak dari suamiku, dan merasa aku bukanlah sebaik yang seharusnya sebagai ibu ataupun istri.
Ya, biasanya karena dua hal ini, aku menjadi begitu mudah naik pitam untuk hal yang sangat sepele. Perasaan bersalah itu sangat meracuniku dengan mudahnya. Kenapa ya?
Lalu bagaimana mengatasinya.
1. Aku mulai berdoa dan mengadu. Aku menyerah dengan kelemahanku. Aku tidak mau menganalisa terlalu dalam bahwa diriku adalah efek dari pola asuh ortuku saja. Karena aku tidak mau menjadi marah kepada mereka. Padahal mereka sudah berjuang jiwa raga untuk semua anaknya. Maka aku mengadu dan meminta pertolongan agar bisa menjadi lebih baik hatinya. Minimal tidak mudah marah dan bisa berkata lebih lembut.
2. Supaya tidak kelepasan marah, aku ngapain ya enaknya. Itu marah kok spontan banget rasanya. Di hati masih berkata tidak, jangan. Eh mulut ini sudah keceplosan teriak ini itu. Aduuhh….kok aku gini-gini amat ya,,…..
3. Mungkin lebih baik aku…menggigit lidah? Menutup mata? Atau berkata, anakku yang baiiikkkk…………..begini ya………huhuhuhu…dicoba ajalah…
4. Aku adalah istri yang baik dan bisa mengurus rumah dengan baik lho. Iya iya, kadang juga berantakan lagi. Iya nih, aku sebel aja kali sama suami dan anak yang pinter banget memberantakkan kembali keadaan rumah yang sudah dibereskan dengan susah payah. Ya mainan, ya koran. Ampun, lelaki apa jorok semua se,,,,,
5. Ya sudah, terakhir, aku harus mencoba menahan diri saja. Minimal tidak ngomel-ngomel. Malu ngomel dah umur. Gitu aja deh mikirnya. Malu dilihat anak, dah segede ini ngomel melulu. Aku pengen mereka hormat padaku. Oke deh, itu yang cukup mengkatalis hatiku di akhir hari ini. Semoga ada pertolongan-NYA untukkku dalam melaksanakannya. Amin.