MOM-PRENEURSHIP WANNABE

Ada seorang kenalan baru yang bertubi-tubi menyerangku dengan pertanyaan dan pernyataan, yang siratan maknanya adalah "kok bisa sih jadi ibu rumah tangga dan lain-lain?..

Pertanyaan itu menohokku. Jujur sih, ada bangga terselip di dada. Karena, sedikit banyak pertanyaan beliau menunjukkan kalau aku sudah tampak hebat, minimal baginya. Apalagi ketika ada pertanyaan lanjutan, "Kasih resepnya donk?"

Nah lho, seharian aku mencoba meramu kalimat yang pas untuk menjawabnya. Aku harus hati-hati sekali, karena takut terkesan sombong, sekaligus khawatir,kalau nulisnya sok hebat, jadinya nanti kejepit sendiri dan terpaksa harus selalu melakukan apa-apa yang sudah kutulis, kan?
misalnya, ketika aku menjawab, "itu manajemen waktu dan emosi harus dibina banget mbak.." dan semacam itulah. Nah, konsekuensinya kan, dalam keseharianku nanti, aku harus menunjukkan bahwa, aku pribadi sudah bisa menerapkan manajerial sebaik yang kutulis. padahal aslinya??

Tetapi, jika aku diam saja, resikonya, dianggap NOT RESPONDING atau PROBLEM LOADING ya?? :-P

Aku ingin sekali menjawab dengan kalimat yang indah dan inspiratif. Tapi dari tadi tidak nemu. Aku coba meramu secara sistematis, dan instruksional mirip tutorial craft gratisan yang bertebaran di dunia maya ini. Tapi tetap tidak bisa.

Dan sampai sekarang, aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan runtut.

Kenapa?

karena :

aku biasanya mengambil kepingan-kepingan nasihat dari alam semesta di sekitarku. satu per satu. dari dialog film di tivi, dari kisah sejati di tivi, eh itu karena sejak bayi aku sudah akrab banget dengan tivi...
atau dari chatting dengan teman, dari kisah biografi, dsb.

Yang pada intinya menguatkan kilatan-kilatan di hatiku, tentang :

1. ibu harus di rumah. dan menjadi pusat kehidupan anak dan keluarganya. mungkin juga karena aku sempat beberapa saat menjadi GURU SD, maka, menjadi guru buat anak-anakku sendiri, merancang pembelajaran mereka, melatihnya, membuat soal,dsb, itu sangat seru. walau melelahkan tentunya.


2. aku ingin menjadi kebanggaan buat anakku, jadi kalau aku seringnya ngelist sinetron ecek-ecek saja di tivi , ketika waktuku senggang, di jamin anakku gak akan bangga, ya nggak?
aku pun ingin menjadi kebanggaan orang tuaku. minimal, aku sudah menjadi atau menghasilkan sesuatu yang kontinu.

3. aku harus mandiri secara finansial. karena aku ingin bebas menggunakan penghasilanku untuk ibuku [karena bapakku sudah almarhum], ibu mertuaku, sanak saudaraku dan siapa saja yang ingin kurengkuh dengan rejeki yang dilewatkan kepadaku. aku pun ingin bebas memenuhi keinginanku sendiri sebagai perempuan. karena biasanya, ketika seorang perempuan sudah mempunyai anak, maka dirinya tak lagi dipikirkan. semuanya menjadi "anak-minded". aku tak ingin terlalu seperti itu, aku ingin seimbang. maka agar tidak mengganggu anggaran belanja rumah tangga, maka aku harus berpenghasilan sendiri.
dan selain itu, aku pun ingin perempuan lain juga bisa mandiri secara financial sepertiku.

4. aku tidak ingin menjadi "manula pengangguran".
ketika tua harus berkutat dengan cucu dan mengulang kembali periodeku sebagai seorang ibu muda. terkesan bakal jadi nenek yang "judes" sih, cuma aku ingin di periode tuaku, aku semakin bebas menjadi pribadiku sendiri. karena, ketika mengasuh anak seperti sekarang ini, aku harus melepaskan atribut "keakuanku", dan mengikuti dunia mereka sampai anak-anak mandiri nanti.
yang menjadi bayanganku, adalah , ketika tua nanti, [jika ada umur panjang dan barakah], aku masih sibuk. sibuk berkreasi, menjadi pengajar di rumah kreatifku, mengajari gratis para gadis/ibu muda yang kurang beruntung, ikut pameran INACRAFT, dan sibuk memantau perkembangan usahaku-apapun nanti muaranya-entah jilbab atau craft.

dari keempat kilatan hatiku ini, aku sering berdiskusi mencari bentuk kegiatan yang bisa mengakomodasi semuanya, dengan suamiku. maka terbitlah kata USAHA ONLINE. dengan alasan utama, usaha ini bisa dikendalikan dari rumah.


aku berbasis sains, itu ditinjau darimana aku menyelesaikan kuliahku. jika aku berwirausaha, biasanya yang terlintas,adalah bimbel, klub sains,buku, dll. lalu aku merenung, ketika bertemu ibu-ibu rumah tangga yang lulusan SMP atau SMA, mana bisa aku merekrutnya menjadi tenaga pengajar atau karyawan akademikku? maka aku putuskan untuk pindah ke craft, yang bisa lebih mudah diajarkan dan juga mudah dipelajari. hati ini sebenarnya berat, karena aku seperti mengkhianati para dosenku dan guru-guruku. juga, masih harus membuka telinga mendengar komentar pedih dari mereka yang mengenalku dan mendadak tahu almamaterku, kemudian berkata "sayang banget mbak, lulusan kimia kok nggak ngajar, atau nggak kerja, atau kok malah jualan jilbab, dst.." klasik, tapi nyata.

dan lahirlah konsep USAHA JILBAB ONLINE. dengan target utama, minimal, bisa menjadikan usaha ini jalan rejeki untuk keluarga besarku, : aku , adik iparku yang jago bordir dan sulam, ibu mertua yang sudah puluhan tahun menjadi penjahit, keponakan yang bisa merajut, dan sanak saudara lain jika tertarik untuk mengikuti usaha ini.

oww...MISI USAHA yang sungguh MULIA.

apakah misi yang mulia itu berarti segalanya pasti lancar?

enam bulan pertama, keadaan rada kacau. anakku yang sudah sekolah kelas 2 SD, jarang sekali belajar bersamaku. aku pun jarang membuatkan soal dan belajar bersamanya seperti jaman kelas 1 atau TK dulu. perhatian pun terbagi untuk adiknya yang kuajak monda-mandir warnet-rumah ketika menggawangi bisnis jilbab onlineku itu.

suamiku memendam amarahnya, dan menganggap prioritasku berubah arah. dan ini cukup memancing emosi. namun bisa redam ketika aku mengingat misi utamaku membuka usaha ini.

bagaimana keadaan rumahku yang tanpa pembantu rumah tangga?
cucian baju menumpuk padahal tinggal digiling di mesin cuci, apalagi yang harus disetrika. suamiku sering harus mensetrika baju kantornya sendiri di pagi hari, karena ketika modemku masih SMART Hape, aku harus online sejak sebelum shubuh,ketika sinyal masih kuat.

sarapan, masak seadanya. anakku sekolah kubekali dengan uang saja. perlengkapan sekolah dan buku-buku, kupaksa disiapkannya sendiri.
kadang siangnya aku tidak masak, karena dari pagi sampai menjelang acara menjemput anak pertama sekolah, aku stay di warnet, untuk mengedit dan mengupload foto atau chatting dengan calon pembeli jilbab. aku di warnet bersama anak keduaku, Aji.

Aji sering ketiduran di pangkuanku, dengan keringat penuh karena warnetnya panas tanpa AC. Aji pun sering bolak-balik BAB karena kebanyakan makan snack - bekalku untuk menyogoknya agar tidak minta pulang.

Sulit dan kacau, namun aku diyakinkan oleh teman kuliahku yang sudah lama berbisnis, agar aku bertahan dengan kondisi itu. dan bisa memenuhi fasilitas yang kuperlukan dari keuntungan usaha. dan nasihat ini sangat manjur.

dalam waktu enam bulan , fasilitasku terpenuhi, modem yang bagus, kamera digital yang cukup bagus, laptop yang hard disknya sembuh,

karena fasilitas sudah bagus, maka ritme kerja sudah bisa diperbaiki. aku tak perlu lagi begadang untuk upload foto. anak, suami dan rumah bisa terurus.

dan , apakah itu sudah menunjukkan menajemen yang bagus?
belum sih, cuman membaik, karena aku menerapkan konsep, JANGAN MENUNDA DAN KERJAKAN SECEPAT MUNGKIN KALAU BISA.

misalnya, aku harus memasak dan berbenah dapur. aku harus lakukan saat itu juga, masak sekalian beberes dapur, dan selesai. kemudian kembali ke laptop, hehehe...

kadangkala, rasa enggan, capek, dan ga mood kembali mengacaukan sistim pengaturan kerja ini, tapi aku terapkan lagi satu resep AKU TIDAK MERASA BERSALAH LAGI DENGAN SEDIKIT KETIDAKSEMPURNAAN PEKERJAANKU,

jadi, kalau terpaksa anak-anak makan siang pakai abon, ya dibuatlah suasana makan yang asik-asik saja, aku gak membiarkan diriku merasa bersalah karena belum masak. hasilnya sangat positif. karena perasaan bersalah itu racun berbisa untuk produktivitas.

baru dua hal ini yang cukup membantu dan mampu kukerjakan. semakin hari, tentu aku ingin mempunyai ritme kerja yang manis, antara mengurus rumah tangga, diri sendiri, berkarya dan berjualan, ohya dan satu lagi bertetangga [karena asik online, jadi jarang keluar rumah soalnya, hehehe]

itu dulu yang ingin kubagi, jika ada MOM-PRENEURSHIP yang udah gape banget ngatur waktu, kita bisa share disini.

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊