DI SATU MINGGU PAGI


GELIAT MINGGU PAGI

Mengawali hari Minggu ini aku ingin sekali berbeda. Kemarin malam, Sabtu, Malam minggu, aku sudah all out mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tujuannya? Ya supaya di esok paginya aku tak perlu melakukan lebih banyak hal.
Ah bisakah??
Aku akan memaksakannya untuk kali ini. Kulirik dapur yang sepi. Dan rencanaku akan kubiarkan sepi untuk beberapa jam nanti. Tapi, rencana sekecil itu saja tidak bisa lolos tereksekusi. Aku harus bangkit, mencoba mengatasi keramaian kecil antara dua anak lelakiku.
Kuhampiri Aldo-anak lelaki sulungku yang berumur delapan tahun. Dia sedang duduk cemberut di sebelah bantal besar bersarung hello kitty hijau yang lusuh. Bibirnya monyong lima senti alias bimoli. Dia sedang berseteru dengan Aji-adiknya, umur empat tahun, laki-laki juga. Tepatnya sedang rebutan mainan dan berdebat ingin membeli berapa mainan baru yang sama atau lebih bagus.
Sumpah. Aku bosan dengan suara anak-anak saat ini. Kalau bisa aku ingin terbang saja. Pinjam singgasana langit. Dan duduk di atas sofa awannya yang empuk. Lalu sendirian dan menuliskan hasratku disana.

Tapi tidak. Bumiku masih memaksaku duduk di pojok kamar. Memandang laptop. Hati bergemuruh. Otak berputar kreatif. Dan telinga yang terpaksa mendengar sedu sedan Aji, kesakitan karena jatuh sendiri.
Aduh mak. Mereka rewel karena lapar?
Itu kemungkinan terbesar, mengingat sejak bayi sudah bisa dianalisis. Nangis tanpa sebab yang masuk akal. Di pagi, siang atau malam hari, bisa berarti lapar.
Dan aku pun bergegas di langkah pertama. Duduk di depan Aldo, meletakkan segelas susu coklat hangat dan roti tawar di depannya. Lalu berucap memerintah, “Bismillah. “ memintanya membaca bismillah sebelum makan. Kuambil selembar roti tawar untuk Aldo dan untukku sendiri. Kucelupkan roti itu kedalam susu dan menggigit bagiannya yang basah. Aldo melakukan hal yang sama. Hanya dia mencelupkan rotinya terlalu banyak. Susu berceceran menetes dari roti, dan membuat kotor kakinya sendiri. Aku diam saja tidak menegur caranya makan. Kutunjukkan saja sambil berucap,” dicelupnya sedikit saja mas.”

Selesai, kami makan masing-masing dua lembar roti tawar celup. Dan menyeruput beberapa teguk susu hangat itu. Kemudian kubereskan roti dan gelasnya kembali ke dapur. Sambil meraih selembar serbet corak biru dan melemparkannya ke kaki Aldo. Sesi pertama beres. Anak sulung sudah sarapan, bukan nasi, tapi minimal perutnya sudah terisi makanan.

Tinggal si kecil. Dia tidak suka acara roti celup-celup atau bubur. Aji ini Nasi n Kecap minded. Nah, aku kembali memaksakan diri tidak melirik ke dalam kamar dan memandang layar laptopku yang sudah berisi beberapa kalimat dengan model fancy di program Word.

Aku masuk ke dapur yang tak berpintu. Membuka kulkas. Mengeluarkan kentang kupas yang sudah kurendam dengan air sejak kemarin sore. Memotongnya kecil-kecil dan menggorengnya. Sambil menunggu matang, kubuka kulkas kembali. Kali ini aku mengeluarkan isi lebih banyak. Daging burger koin yang kubuat by accident kemarin, kecap Bango yang kubungkus kresek karena sebagian isinya sudah kumasukkan kedalam botol refill, dan wadah berisi lombok, tomat ers untuk sesi bikin sambal trasi favorit suamiku.

Belum juga kentang selesai digoreng, Aji menghampiriku dan berteriak,” mama aku maem nasi sama kecap!”
Wah cocok sekali. Karena rencananya aku masak kentang dan daging burger itu jadi SEMUR KECAP. “Oke deh….ini mama masak dulu sayur kecapnya”.

Kutersenyum sendiri dengan nada bicaraku yang ringan. Lalu aku berhenti sejenak dan meletakkan sutilku. Kutoleh ke belakang tempat Aji berdiri. Dan mengangkat tubuhnya. “Nih lihat nih mama masak sayur, “ kutunjukkan ke arah wajan sedang di atas kompor. Aji melengos mencoba menghindari ciumanku. Aku malah makin usil untuk menggigit dagunya. Beres deh. Sedikit mesra bisa melipur lara anak-anak. Aji pun kembali ke ruang tamu, aku kembali melanjutkan memasakku.
Di ruang tamu sudah ada sahabat kedua anakku, Adam- kelas 2 SD-sahabat dekat anak sulungku sebenarnya. Hanya karena sesama lelaki, dan Adam ini sifatnya sabar, jadi bisa klop dengan Aji.

Aldo-Adam-Aji : aku menjulukinya trio kwek-kwek. Hehehe…
Dengan adanya Adam, suasana bisa lebih aman terkendali. Aldo dan Aji punya penengah untuk tidak melanjutkan hobi rebutan dan rusuhnya. Apalagi setelah komputer sudah menyala. Semakin aman.

Semurku sudah matang. Segera kuambil beberapa sendok dan kutuang ke atas nasi yang juga baru saja matang, lalu kusuapi Aji. Semula dia menolak, namun setelah beberapa suap, dia mulai lahap. Kulihat wajah kedua anakku buram semua, belum mandi. Maunya langsung kumandikan saja mereka berdua, tetapi Aji baru makan. Kabarnya kudu menunggu beberapa saat dulu setelah makan, baru mandi. Agar suhu tubuh badan tetap hangat untuk keperluan metabolisme makanan yang baru masuk tadi. Jika langsung mandi, nanti tubuh menjadi lebih dingin.

Ya ini masuk akal. Hanya saja, beberapa lamanya menerapkan ke diri sendiri atau anak-anak, sudah makan langsung mandi : tidak ada efek buruk yang berarti. Tidak sakit perut, tidak jadi perut buncit, tidak terjadi apa-apa.

Kupikir, Minggu saja, ada delay sedikit untuk jadwal mandi is find and fun. Ku langsung masuk kembali ke dalam kamar. Layar laptopku sudah gelap. Aku menyentuh mousepad touch. Dan kembalilah kulanjutkan tulisanku.

Sebelumnya iseng dulu update status di facebook. Dan membuka WINAMP sebagai teman meredam kebisingan di luar kamar. Lagunya itu-itu saja sebenarnya. Lumayanlah.

Kuteguk dulu teh hangat yang baru kuambil dan menggigit sepotong tape goreng. Tercium bau cat pilox menyengat dari jendela di atas lantai tempatku duduk. Suamiku sedang berjibaku dengan sepeda tua bapakku. Sepeda kebo. Sepeda kuno. Memperbaikinya agar bisa dipakai lagi. Supaya ada kendaraan bersehat-ria di pagi hari bersama anaknya. Juga untukku bisa mencari aktivitas unik bersama Aji di kala pagi atau sore hari. Facebookan terus bukan hal yang bagus kan? Walaupun itu sambil jualan, itu masih menyedot berjuta detik waktuku dengan sia-sia sebenarnya.

“Jangan! Adik !”
Kudengar teriakan suamiku kepada Aji. Wah mulai deh berulah si bontot ini. “Ini sudah kering pak catnya, ini boleh, kalau ini?” suara riang Aji semakin merunyamkan masalah.

Aku menengok keluar jendela. Tampak dada suamiku sudah naik turun menahan amarah melihat ulah Aji. Wah wah, kalau sedang bekerja, suamiku ini mudah sekali marah. Susah deh diinterupsi sekecil apapun.

Nah, terpaksa edisi kelima mungkin ya? 
Aku keluar, menarik tangan Aji yang sudah waspada untuk membuat tubuhnya menjadi berat. Tanpa kata kutuntun dia ke dalam kamar mandi, dan kututup pintunya.

“Lho, kok aku mandi se ma?” tanyanya polos. Aku masih diam. Tanganku bergerak melepas kaosnya. Aji berusaha memberontak dengan cara menggigit kaos yang lewat kepalanya. Ku katakan saja,” kalau digigit , kepalamu makin sakit lho” dan aku teruskan saja mencoba melepaskan kaos itu dari kepalanya. Aji pun menyerah.

Langsung byur tanpa babibu lagi. Seperti biasa, Aji akan berteriak-teriak,” dingin…..ga mau mandi, ga mau mandi.” Kulanjutkan mengguyur kepalanya dengan air. “aku gak mau keramas. Ga mau keramas. Mama nakal. Nanti mataku kena sabun.” Teriakan rutin Aji ketika aku mencoba membersihkan rambutnya dengan sampoo.

“Kalau Aji diam, nanti matanya nggak kena. Sudah diam dulu.” Kulanjutkan semua sesi mengoleskan dan menggosokkkan sampo dan sabun. Siap untuk membilas. Kutarik badannya menempel ke perutku. Dan mendongakkan kepalanya. “Ayo lihat atas, biar airnya nggak kenak mata”. Aji menurut dengan desis menggigil seperti anak yang takut tenggelam. Urusan mandi satu anak selesai. Nah kan, kalau sudah mandi dan makan, anak relatif lebih tenang dan tidak mudah cari cara untuk menggoda saudara/ortunya. Karena mereka merasa sudah nyaman dan kenyang. Untuk Aldo, aku tinggal bilang saja. “mas mandi dulu ayo.”
Aldo pun berpamitan pada Adam, “ aku mandi dulu ya Dam.” Dan meninggalkan game hamster yang mereka mainkan berdua, 2 players. Aku tinggal berteriak sedikit dari luar, “keramas!”
“sikat gigi!”
Menyediakan kaos untuk gantinya. Dan kembali masuk ke dalam kamar, melanjutkan menuliskan diary cerpenku hari ini.
Paska mandi dan makan, dua anakku plus Adam, sudah kabur dengan sukarela dan meninggalkan rumah menjadi sepi. Senyumku tersungging di dalam hati. Namun hati masih yakin, sebentar lagi mereka akan segera kembali dan rumahku menjadi ramai lagi.

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊