Brooch Jewelry Rush Hours

Sudah kuceritakan kemarin, kalau ada calon pembeli yang super nekad mendadak mengirimkan uangnya ke rekeningku. Untuk membeli beberapa jilbab, ciput dan bros handmade.

Padahal, itu stok bros handmade hanya setengah dari pesanannya. Beliau pesan 10 biji, yang kupunya hanya 5 biji.

Sebelumnya kusampaikan kepada beliau, bahwa sebaiknya jangan transfer uang dulu, sampai aku selesai membuat bros itu. Lalu ku-upload fotonya, dan jika dia oke,dia bisa transfer, baru semua pesanan kukirim.

Lah dalah, karena sudah terlanjur di transfer, aku jadi panik juga. Beberapa kali ingin mengkonfirmasi dan memberikan contoh bros mana yang sekiranya dia ingin aku membuatnya. Tetapi karena kemarin final SEA GAMES sepak bola Indonesia-Malaysia, maka kena efek juga kali ya, itu sinyal modem-ku lemoot luar biasa.

Ya sudah, pikirku, besok saja ku-ngebut sedikit buat brosnya. Lalu di foto dan ditunjukkan dulu.

Eh lah, jam 7 pagi, sudah ada SMS dari beliau, kalau semua pesanan minta segera dikirimkan saja.

Haduh , nah lho??

masih kurang 5 bros handmade lho?
dan TIKI tutup jam 12 siang..

ingin hati membalas SMS itu dengan "maaf mbak, saya kirimnya besok saja ya... takutnya bros-nya nggak keburu selesai bikinnya"

tapi, di hati kecil ini ada rasa khawatir.
kalau aku nunda pengiriman terus gini, nanti dikira sebagai toko online yang nipu-nipu aja nih. wah ini sangat berbahaya.

maka dengan bismillah aja, aku balas sms itu dengan "oke mbak, insya Alloh nanti siang saya kirim. dan akan segera saya sms kan nomer resi pengirimannya"

perihal kepercayaan pembeli itu mutlak wajibun wajib harus kuperhatikan.

maka, aku langsung atur strategi supaya 5 bros itu beres dibuat sebelum jam 11 siang. Karena harus ada waktu cukup juga untuk sesi pengepakan dan penulisan alamat, nota, dsb, yang tidak boleh salah tulis.

Anakku Aji, sudah ambil ancang-ancang agar aku menunggu di sekolah TK-nya lebih lama. Waduh, bisa habis waktuku. Maka, ketika dia sudah masuk barisan, aku berbisik pada gurunya untuk pamit. Dan kaburlah aku masuk rumah.

Tanpa ingat sarapan nasi dulu , yang jadi ritual wajibku, dan tak kupedulikan PR jemuran yang masih belum dipajang di rak jemuran serta urusan dapur, rumah dan sebagainya.

Aku pun duduk di ruang tamu rumahku, di depan tivi menyala, entah apa acaranya, kalau tidak salah sih acara DAHSYAT di RCTI.

AKu mulai ngebut bikin bros handmade ini. Kupikir satu jam selesailah semuanya. Eh ndilalah, semua baru beres jam setengah 11 siang.

Bagaimana tidak, aku bikinnya kan 5 model yang berbeda. Dan itu semua dari wire alias kawat. Yang butuh teknik khusus.

Hatiku dag dig dug, tapi aku berusaha serapi mungkin. Kutenangkan hati. Ini bukan buru-buru, tapi aku sedang harus cepat aja. Seperti ikut lomba. Cepat tapi tetep bagus.

Nah, dan inilah hasilnya, insya Alloh tidak mengecewakan pembelinya.










0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊