Podcast Bu Heni

Change DNA

Tidak ada komentar
Short Sharing karena seharian mata pedes membaca ebook pak Rhenald Kasali berjudul Recode Your Change DNA [ebook gratis, linknya ada di sharing saya sebelumnya ya.]

Kesan pertama dari tulisan pak Rhenald adalah jelas dan mudah dimengerti bahasanya, tidak ruwet bin muter-muter seperti tulisan [maaf] pak Super Sekali - pak Mario Teguh. Tulisannya pak Rhenald ini mirip gaya tulisan pak Dis alias Dahlan Iskan. Mungkin karena keduanya pernah masuk karir jurnalistik, jadi tulisannya empuk dibacanya.

Kedua, tulisan pak Rhenald mengena sekali. Itu karena beberapa kisah yang disampaikan benar dialami sendiri oleh beliau. Sehingga saya tidak merasa hanya disuguhi teori atau hasil penelitian. Tipe tulisan pengalaman seperti ini sangat saya sukai, seperti halnya tulisan biografi. Bercerita berdasar kisah nyata. Asik.

Tentang isi ebook Recode, yang paling mengena untuk saya sampaikan saat ini adalah ketika saya masuk ke bab pengujian Change DNA saya. Change DNA = DNA perubahan, yaitu kode genetik dalam sel tubuh saya yang menyimpan kemampuan untuk berubah. Di bab ini saya menuliskan jawaban satu per satu dari kuis yang diberikan. Apakah saya memilih A atau B. Lalu di akhir kuis ada penjelasan tipe karakter Change DNA saya jika memilih A terlalu banyak, atau B terlalu banyak.

Syaa sangat bersyukur sekali, karena jawaban yang saya berikan menunjukkan arah bahwa saya punya Change DNA yang kuat dan terbuka pada perubahan. Alhamdulillah.

Yang menjadi puncak syukur adalah saya bisa menjawab dengan tepat dari beberapa pertanyaan, yang merupakan akumulasi hasil tempaan kehidupan yang saya jalani sebagai ibu rumah tangga bukan wanita karir. Misalnya pertanyaan tentang respon saya terhadap orang yang memfitnah. Apakah saya reaktif dan emosional. Atau tetap tenang, mengajak berbicara orang yang memfitnah dan mencari solusinya atau berusaha memahami.

Nah, perkara fitnah ini tidak pernah sama sekali saya hadapi ketika masih berstatus single dan pelajar atau berstatus karyawan. Tetapi saya pernah menelan pil pahit fitnah ketika menjadi ibu rumah tangga. Dan kepahitan itu benar-benar menjadi obat yang sangat baik karena membuat DNA saya berubah menjadi lebih tangguh sekaligus tenang.

Adalagi pertanyaan yang menunjukkan ketahanan saya terhadap tekanan dan keinginan besar untuk berubah. Saya pun berkali-kali bersyukur karena diberi karunia dan kemudahan oleh Alloh SWT bisa sekolah di tempat yang terbaik. Bisa merantau dan merasakan semua hal di perantauan. Ternyata hal ini  memberikan kontribusi juga dengan DNA saya hingga saat ini. Terbiasa mandiri membuat saya menjadi ibu rumah tangga yang tidak mudah merengek minta bantuan. Walau harus mengurus anak yang prematur seorang diri, walau pasca operasi tulang kaki harus tertartih-tatih menahan sakit yang luar biasa dan mondar-mandir merawat anak kedua yang mendadak sakit panas, saya tidak mudah menangis menelpon suami, ibu atau mertua. Saya terima itu semua dan lebih bangga jika melakukannya sendiri walau sekarang sudah tidak merantau lagi dan bisa saja dengan mudah menelepon mereka meminta bantuan. Rasa sulit ketika di perantauan merawat diri sendiri walau sedang sakit, membuat saya tahan dengan keadaan yang mirip seperti itu. Alhamdulillah, ALLOH MAha MEnguatkan hamba-Nya.

Terakhir saya bersyukur juga dengan motivasi diri yang kuat untuk berubah, saya bisa sekolah di tempat yang baik. karena menurut pak Rhenald, DNA juga dipengaruhi oleh lingkungan, oleh teman. Hanya bermodal niat ingin berubah, dan takut mengecewakan orang tua, saya belajar sangat keras ketika masa sekolah. Sehingga bisa diterima di sekolah negeri favorit dan terbaik. Dan juga berusaha sekeras mungkin menggunakan waktu dengan tepat, belajar cepat, supaya orang tua tidak terbebani biaya jika saya bermalas-malasan dalam belajar. Itu semua, alhamdulillah, ikut serta membina DNA saya. Subhanallah sungguh tak saya sangka. Dari hal ini, saya mulai menemukan vision dream yang makin terang untuk kehidupan saya terutama anak-anak saya kelak. Saya akan merumuskan mimpi saya lagi bersama suami, agar bisa memberikan lingkungan yang baik untuk anak-anak agar mempunyai DNA yang mumpuni, fleksibel dan bersemangat terhadap perubahan. Bismillah, dalam semua kemampuan yang kami miliki, saya akan berusaha merumuskan, menuliskan kembali apa yang perlu kami lakukan agar bisa menjadi Change Maker. Agen Perubahan untuk kehidupan kami sendiri, keluarga kecil kami, keluarga besar kami, tetangga dan saudara kami dan untuk kehidupan yang lebih luas lagi dalam ijin Alloh SWT.

Ya, saya harus mulai menuliskannya, kenapa harus ditulis?

Ada quote dari Woody Allen :
   Tuhan akan tersenyum jika kita menuliskan mimpi atau keinginan yang ingin kita peroleh dalam hidup.

Pasti, itu karena Tuhan yakin kita menghargai hidup yang diberikan oleh-Nya, dan tidak menyia-nyiakan waktu lagi. Bismillah. Allahumma Amin

Semoga bermanfaat
> Heni Prasetyorini <

Bisnis Bukan [hanya] Cari Uang

Tidak ada komentar
Pertama, saya kemarin nonton acara Kick Andy di Metro TV. Temanya adalah Kids-Preneur, yaitu profil para pemenang lomba usahawan cilik yang diadakan oleh bank Permata. Menarik sekali, terutama profil usahawan kakak beradik laki-laki yang menjual replika mobil kuno,brosur dan onderdil mobil kuno. Dua anak itu bernama Sena dan Wibi. Kedekatan mereka dalam bersaudara membuat saya ingat dua anak lelaki saya, Aldo dan Aji. Saya sungguh berharap kelak mereka tumbuh dewasa sebagai sahabat. Dan melihat contoh kemarin, mungkin saja lewat bisnis bersama sejak kecil mereka akan semakin akrab. Saya mulai berpikir untuk mengenalkan bisnis pada mereka. Mungkin tentang kaos sablon digital printing atau kaos berlukis fabric crayon dengan gambar buatan mereka sendiri. Karena mereka gemar sekali menggambar. Dan Aldo, si kakak, sudah mulai mencoba sendiri menggambar dengan Photoshop. Semoga ada jalan yang mudah untuk memulai hal tersebut, untuk pembelajaran.

Bisnis dikupas sedikit oleh pak Renald Khasali di acara metro TV itu dengan singkat tapi kena pas banget padaku. Bahwa generasi sekarang adalah tipe Connected Generation. Yaitu generasi yang terhubung satu sama lainnya, terutama lewat internet atau blackberry. Bahkan pak Renald berkelakar, anak sekarang baru lahir saja tangan kanannya sudah pegang mouse. Karakter lain dari anak sekarang adalah mereka bertipe Driver = pengemudi. Mereka mulai bisa mengemudikan hidup mereka sendiri. Soft skill mereka bagus, mereka bisa presentasi bisnis dengan baik, berpromosi dengan yakin dan tekun menjalankan usahanya.

Pak Andi F. Noya selaku host menanyakan bahwa dulu ada kekhawatiran jika anak diajari mencari uang atau berbisnis maka akan merusak konsentrasinya belajar di sekolah. Jadi sejak kapan anak diajari bisnis, begitu tanya pak Andi selanjutnya.

Dan pak Renald menjawab, "sebenarnya bisnis juga belajar. Asal dibimbing dengan baik. Harus ditekankan bahwa bisnis itu tidak mencari uang. Uang bukan tujuan. uang adalah akibat. Yang perlu diperhatikan adalah pembelajaran dalam berbisnis, seperti tekun, kerja keras, jujur, berkomunikasi dengan baik, melayani pelanggan, pencatatan teratur, disiplin dan sebagainya. Dengan bekal ini maka karakter anak akan terbentuk mandiri dan tangguh.

Yang tidak kalah penting, lanjut pak Renald, kita harus mengawasi bacaan anak tentang bisnis. Tentu bacaan ini bisa mereka dapat dari mana saja, terlebih dari internet. Kita harus membimbing mereka agar tidak salah menafsirkan. Karena sekarang banyak beredar bacaan yang memberikan cara instan untuk sukses berbisnis dan sebagainya. Seperti halnya konsep "The power of Kepepet", Kerja Cerdas, dsb.

Bisnis harus dikonsep dengan baik, dan tidak perlu menunggu untuk kepepet dulu baru bergerak dengan sungguh-sungguh. Juga tentang kerja cerdas, jangan sampai anak menafsirkan bahwa bekerja cerdas itu berarti tidak perlu bekerja keras. Karena tidak ada satupun bisnis di bumi ini bisa sukses tanpa kerja keras.

Kata-kata pak Renald ini sangat baru bagi saya. Memberi konsep baru tentang bisnis dan terutama kaitannya dengan anak-anak. Sekaligus juga menguatkan saya untuk tetap menekuni bisnis yang telah saya mulai dua tahun yang lalu. benar memang kata beliau, dalam bisnis ini banyak hal yang bisa disebut pembelajaran.

Kemudian baru tadi, saya tak sengaja menekan channel TVRI dan menemukan acara Rumah Perubahan Renald Kasali. Disitu beliau menunjukkan buku yang beliau tulis, berjudul Recode, Change Your DNA. Sekilas kalimat singkat yang saya ingat adalah kita harus beradaptasi dengan baik saja dalam hidup yang selalu berubah.
Langsung deh, saya tertarik untuk membeli buku ini. Dan ternyata, setelah saya cari di Google, berita bahagianya adalah pak Renald berbaik hati untuk membuat ebook gratis dari buku tersebut. Linknya disini. Sementara info tentang ebook gratis ini saya peroleh dari blog seseorang disini
Tanpa menunggu, ebook itu langsung saya download. Dan alhamdulillah, ebooknya ada berbentuk pdf, bisa dibaca, ada beberapa foto menarik dan tentu saya akan lanjut membacanya malam ini juga. Jika tertarik silahkan klik link yang saya berikan di atas.

Semoga bermanfaat >.<
Heni Prasetyorini

Kutahu Yang Kumau

Tidak ada komentar
Beberapa hari ini nonton tivi, menampilkan profil artis. Acaranya apa ya? singkat cerita sajalah. Ada dua artis yang dibahas. Famous semua. Yaitu Agnes Monica dan Dian Sastro.

Kedua artis ini diberi komentar yang sama oleh rekan dekatnya atau ibunya. Bahwa mereka berdua itu Tahu Yang Dia Mau.

Artinya mereka tahu benar apa keinginan mereka di masa depan. Membuat rencananya dan melakukannya. Keren betul. Apalagi pas di acara profil Dian Sastro ditunjukkan diarynya masa SMA, disana ditulis beberapa mimpinya atau ibunya bilang Repelita Dian [Rencana Pembangunan Lima Tahun] versi Dian. Dan beberapa tercapai, beberapa tidak.

Saya jadi ingat ketika membongkar buku dan menemukan diary. Bener juga, ada beberapa hal yang saya tulis dan tanpa sadar semuanya terjadi. Menikah cepat, punya anak laki-laki semua dan bahkan tanpa sadar di salah satu buku campur yang mencatat tentang resep dan kesehatan, saya menulis info tentang bayi prematur. itu saya nulisnya ketika masih kuliah. Eh Subhanallah, Masya Alloh, Allohu Akbar, ternyata bayi kedua saya lahir prematur.

Menuliskan mimpi atau keinginan ternyata tanpa sadar memberikan koridor yang jelas bagi kita untuk melangkah ke depan. Walau benar-benar itu semua saya lakukan tanpa sadar. Atau malah ini disebut "dibawah sadar ya"? entahlah. Ketika masih sekolah saya rajin menuliskan keinginan ini dan itu. Dan tanpa sadar pula saya mempunya semangat sangat membara jaman sekolah.

Nah, belakangan saya merenungi diri sendiri, kenapa semangat itu tak semenyala dulu. Kenapa saya juga tak memulai menuliskan mimpi saya lagi?
mungkinkah karena :
1. sejak punya anak, saya ragu untuk mempunyai mimpi lagi. karena walau berencana secanggih apapun, akhirnya eksekusi rencana itu harus sesuai dengan kondisi anak, suami dan rumah tangga. alias, saya sudah sangat sering harus mengalah mundur agar mereka semua maju. mungkin ini yang membuat saya enggan bermimpi lagi.

2. zona nyaman. kemarin saya anti dengan kenyamanan. lalu beberapa teguran dari Alloh SWT datang pada saya. paling gress ya ketika tulang telapa kaki saya retak tempo hari, dan harus menjalani operasi besar tipe tiga untuk memasang kawat diantara tulang kaki saya itu. Sakitnya luar biasa dan pengalaman ketika operasi sungguh membuat saya takut meninggal. Jujur itu benar. Akhirnya karena takut meninggal dan melihat anak-anak, maka fokus saya saat itu sudahlah melepaskan saja semua mimpi yang muluk-muluk dan kembali menginjak bumi dimana anak-anak saya berada.

3. banyak alasan dan semakin malas. namanya otak dan otot itu mirip. jarang dipakai, ya lembek bin letoy. ini benar terjadi pada saya. Menulis yang biasanya saya lakukan spontan membahan badai halilintar [eh niru jeng syahrinem hehehe], ini karena saya lama betul tidak menulis, jadinya sulit sekali. Membaca dengan tenang juga sulit, saya masih selalu emosian dan membaca cepat. Bahkan novel tebal Perahu Kertas habis dalam sehari semalam saja. Karena penasaran juga tidak bisa membaca lambat lagi, takut dikejar pekerjaan lagi.

Begitulah, saya membolak-balik hati, kenapa semakin pesimis dari hari ke hari. Kenapa ya, toh saya berusaha untuk memompa semangat diri sendiri ini setiap hari loh. Ternyata eh ternyata saya mendapa jawabannya setelah membaca timeline di twitternya pak Ippo di @ipporight. Beliau menunjukkan konsep Input in Output Out. Garbage in Garbage Out.

yang artinya, Apapun yang masuk dalam pikiran kita- itulah hasil yang keluar. Jika bacaan-tontonan-teman kita positif dan semangat, kita pun ketularan begitu. Jadi semangat, optimis dan yakin,

Tapi, kita akan mudah pesismis jika suka melihat berita negatif, tontonan horor,..

nah jreng jreng itu dia, BERITA NEGATIF. inilah biang keladinya. Sejak jadi ibu rumah tangga, karena menghindari sinetron, saya rajin nonton berita. Lah, berita di negeri ini berapa persen yang positif? mayoritas negatif semua. Ini diaaa, saya kebanyakan nonton berita negatif, seperti korupsi, perceraian, rusuh, banjir, dll. Pantesan saya keder sendiri secara tidak sadar.

Lalu ada lagi, karena menjadi ibu rumah tangga yang ingin posisinya aman di masyarakat sosial, saya merasa semakin sering diam memendam kalimat yang ingin saya sampaikan. Misalnya ingin menjelaskan pentingnya konsep bahwa belajar di rumah itu oke loh bu, daripada anaknya dibawa kabur les kesana kemari sampai kecapekan. Nah itu kalimat haruus saya telan terus, karena kuatir menyinggung perasaan teman sesama ibu-ibu. Atau semacam itulah kasusnya. Karena saya harus diam dan diam tanpa konsep diam yang baik , maka saya merasa untuk menambah ilmu lagi jadi sia-sia dan tidak bersemangat. Ini juga biang keladi rasa pesimis dan malas saya ini.

Tapi untunglah, alhamdulillah. Berkat gemar internetan dan membaca dengan seksama saya terinspirasi oleh status seorang teman yang menunjukkan simpati dan kagum pada temannya. Ibu rumah tangga, punya dua balita, baru melahirkan dan bisa lulus di kuliah online gratisan di www.coursera.org. Nah status ini bikin saya penasaran lalu membuka link website itu. Kuliah online gratis, asik sekali. Dan ketika saya buka, eh benar, disana banyak sekali materi kuliah dan kursus yang ditawarkan. Yang menarik bagi saya adalah tentang sains, menulis, psikologi dan digital. Yang membuat keder dan terhenyak adalah kudu pake bahasa Inggris ciin. *mukul kepala sendiri - salah sendiri dah lama kabur kalau ada bahasa Inggris yang serius. [apa saya perlu kursus lagi? hehehe]

Ah, setidaknya, ibu itu memberi saya motivasi dan contoh yang luar biasa. Memberitahukan pada saya bahwa harapan itu masih ada terbentang begitu luas. Lambat laun, saya kembali tahu apa yang saya inginkan. Kutahu Yang Kumau.

{Break} because of my BrokenBone :)

1 komentar

saya sedang dapat rejeki nih
bisa istirohat, leha-leha dan nggak kemana-mana
karena baru operasi pasang pen [wire]
akibat fractur metatarsal basic v .

salam sehat buat semuanya yaaa, terima kasih yang sudah mampir kesini :)


Ceritaku Bersama Matahari

Tidak ada komentar



Matahari masih garang memanggang siapapun yang lewat dibawah sinarnya. Berikut aku dan dua anakku. Setiap hari di siang bolong, berkendara bertiga menembus jalanan beraspal yang tampak menguap. Panasnya matahari seakan bisa membuat otakku mendidih, bahkan setelah ditutupi oleh jilbab dan helm. Luar biasa derajat panas sedikit sinar matahari yang jatuh ke bumi itu. Atmosfer !!! teriakku setiap hari. Apa yang terjadi padamu hingga sejuk masih jadi mimpi. Dan oh ya itu, OMG, kenapa kotaku ini belum juga terjamah oleh air hujan? Bahkan di Jakarta yang super panas juga itu sudah hujan. Di Lamongan juga, yang bagiku lebih panas daripada Surabaya, juga sudah hujan. Lalu kenapa disini, kotaku, Surabaya, masih kering kerontang?

Kotaku menjadi kota pahlawan kesiangan. Bukan pahlawan yang telat menolong korbannya. Tetapi pahlawan yang mengering karena terlalu panas menahan matahari siang. Bahkan ya, untuk pergi keluar rumah pukul delapan pagi pun, aku perlu perlengkapan khusus. Scarf segitiga penutup hidung dan muka, kaos tangan, kaos kaki dan sepatu. Walaupun perginya cuma sejarak lima belas menit perjalanan, tetapi tanpa perlengkapan perang itu aku masih kalap kepanasan. Jika kalap kepanasan di jalan, rasanya tidak tenang. Ingin memacu gas motor maticku dengan terburu-buru agar segera lari dari matahari. Nah buru-buru di jalan raya adalah hal yang berbahaya. Maka biar aku bisa berkendara dengan tenang, maka kututupi semua tubuhku kecuali yang terlidung oleh kacamata. Kalau begini, amanlah sudah.

Kenapa Surabaya tidak juga turun hujan? Apakah kami terlalu banyak dosa?
Ya sudahlah jika itu benar. Semoga keringat kami bisa menggugurkan dosa-dosa itu. Amin.

Terkadang aku heran, dulu di masa kecil aku merasa nyaman saja beraktivitas di kamar kecil berempat. Padahal atap kamar kami itu terbuat dari seng. Terbayang jika siang hari, panasnya bagaimana? Bahkan ketika tidur pun, aku sering tidak memakai kipas angin kecil kami. Memang sih, sebelum tidur siang, sepulang sekolah, aku seringnya mandi dulu lalu memakai bedak bayi banyak-banyak dan lelap tidur.Tetapi aku tetap nyaman tidur, belajar atau bermain di dalam kamar sampai mandi keringat. 

Sekarang, kondisi rumahku jauh lebih baik. Dengan atap genteng yang pasti lebih sejuk. Namun ketika ada panas seperti ini, rasanya, ampun, tersiksa sekali. Kepala seperti mau pecah, pusing sekali. Badan penat semua, pegel linu. 

Entahlah, ini faktor umur juga mungkin. Karena dua anak lelakiku juga santai saja dengan panas seperti ini. 

Workshop Wire Jewelry #1 di Kebun Bibit Surabaya

Tidak ada komentar
Alhamdulillah, akhirnya Workshop Wire jewelry di Kebun Bibit Surabaya, terjadi juga ^_^
Horeee...

Ini pertama kalinya saya jadi Tutor. Deg-degan juga, takut salah omong, atau bikin kecewa atau ngajarinnya geje [gak jelas].

Namun berangkatlah dengan persiapan yang sudah kulakukan satu bulan sebelumnya. Membuat beberapa model cincin dan mengira-ngira cara mengajarkan yang mudah dimengerti, sekaligus mengukur panjang kawat dan jumlah bahan yang dibutuhkan di tiap model cincinnya. 

Sekali lagi, terima kasih untuk mbak Ririe Rengganis dan ers pengurus My Sister;s Fingers yang memfoto dan mengupload foto ini. Link asli foto disini ya 


Persiapan dan menunggu Peserta lain datang. 


ada yang butuh di reparasi cincinnya ^_^



beberapa cincin untuk contoh teknik wire yang saya buat

dan mbak Arina, sukarela memfotoinya ^_^

hasil cincin-cincin kamiii

pose sebelum pulang, cibi-cibiiii



Nah, inilah salah satu kegiatan rutin komunitas craft My Sister's Fingers di Surabaya. jika ingin tahu lengkapnya coba klik link di bawah gambar ini ya, 

[sedikit] Cerita Korden Pink

2 komentar
Korden pink menyala terselip di areal dinding warna oranye pasta. Sungguh tidak matching sama sekali ^_^

Apa mau dikata, perkara korden dan cat tembok tidak bisa singkron dalam sekejap. Ketika husbano memutuskan upgrade cat rumah dan memilih warna orange, aku menyesal luar biasa kenapa pas tukang jual korden keliling lewat itu, aku belinya korden warna pink banget. Kenapa nggak beli warna krem aja gituu, biar netral. #sighmenyesaltiadaguna

Dan muncullah keingin menyamaratakan korden di rumah dengan warna klasik dari kain blacu. Namun, begitulah, perkara jahit menjahit sering masuk urutan mbuncit kecuali terpaksa buanget. Atau penasaran buanget.

Mungkin hal ini akan terkikis oleh waktu. Artinya, makin lama, aku makin suka dan ringan tangan saja untuk menjahit, heheh. Mudah-mudahan tetanggaku itu mau menjahit-jahit ria,dan main kerumahku. Tidak lagi sendirian di rumahnya dan meratapi suaminya yang telah berpulang itu.

Cerita sampai disini dulu, karena harus persiapan besok ada tutorial wire jewelry oleh saya sendiri. Semoga lancar dan yang datang puas dengan tutorialnya. Sekaligus bisa bermanfaat. Amin.

Workshop Wire Jewelry Surabaya

Tidak ada komentar

Workshop Komunitas My Sister Finger.
Membuat Cincin Wire Jewelry, Teknik Dasar, with Heni Prasetyorini
Minggu 7 Oktober 2012, Di Kebun Bibit Surabaya
Pukul 08.00 pagi - selesai.
Investasi IDR 60 ribu [pengganti bahan dan tutorial]
Dibatasi 20 peserta.

Yuk Minggu Seru Nambah Ilmu & Teman Baru ^_^

link ke My Sister Fingers :
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=4020807671129&set=o.233756620053146&type=1&theater

Belajar Bikin Beads Cabochon Brooch

1 komentar
Dass..
Dan inilah di tengah malam ini. Tepatnya jam 12 lebih 13 menit malam hari, saya mulai ngeblog lagi. Kopi instan panas dari rumah kakak tadi, manjur membuat mata saya terbelalak dengan gagah sekali.

Satu bulan ini, banyak surprise untuk dunia kecil saya di rumah. Pertama, saya berhasil keluar dari kandang [baca : rumah saya] dan terbang ke Kebun Bibit Surabaya, untuk mengikuti workshop craft yang diadakan oleh komunitas My Sister's Fingers di Surabaya.

WS [baca : workshop] nya tentang membuat Beads Cabochon, yang di tutori oleh mbak Intan pemilik Bunder Shop.

Padahal malam sebelum berangkat, sudah ada prediksi kemacetan total ke arah Kebun Bibit karena akan ada lomba bersepeda di daerah itu, plus tepat di esok paginya anak-anakku harus siap untuk lomba menggambar dan mewarnai di perumahahan. Sperti kebanyakan rencana, sebagai emak saya harus siap mengalah. Nggak jadi pergi. Dan tunduk teratur menghadapi jejalan kerjaan rumah tangga lagi untuk menghibur hati yang lara [haduh galau banget sih :P]

Namun kali ini saya bersikeras sangat keras. Kalau misua saya keberatan nganter, never mind baby, saya akan naik angkot kali ini. Karena kalau naik motor saya takut dua hal : satu, SIM saya mati sejak anak kedua lahir, alias 6 tahun yang lalu. Dan kedua, saya nggak apal jalan - jadi resiko kesasar sangaat besar [gini nih arek Suroboyo nggak ngerti jalan kotanya sendiri, payaahhh jreeenng].

Begitulah, karena niat kuat membara-bara, berhasillah saya di drop di pelataran parkir Kebun Bibit. Agak dag dig dug, karena ini baru pertama kali saya ke sini. [nah, makin ketahuan kan, katrok dan kupernya. atau menurut istilah teman saya sesama ibu-ibu, saya ini penghuni goa yang suka ada di dalam goa itu, heheh]

Semula saya ragu bener apa nggak, karena di pagar Kebun Bibit itu ada tulisan Taman Flora. Nah loh, sama nggak sih Kebun Bibit sama Taman Flora.

Yaudin deh, setelah sms dan telpon sama kepala suku MSF [My Sister's Fingers], akhirnya bertemulah aku dengan 3 member MSF yang sudah siap ikut WS.

Alhamdulillah bahagianya. Selain akan terbuka teka-teki membuat cabochon, saya merasa sangat sukses bisa keluar rumah dengan kemungkin kegagalan tadi. Ndewooo......

Tunggu menunggu, maka dimulailah acara itu dengan sangat ramah, hangat dan khas Suroboyoan. Ndagel terus reekk... berikut cuplikan adegannya, foto diambil disindang yaaa

start bikin "mangkuk kertas" buat wadah manik-maniknya

mulai menjahit manik-manik satu demi satu di sekeliling batu cabochonnya : khusyuuuuuu

minjem rambutnya mbak Fitri, ini hasilnya .....    
 Bros Beads Cabochon



Yang Cibi-cibi itulah tutornya : mbak Intan Bellina 




karena saya pake Kalung Perca Manik bahan kawat,
maka langsung ditodong jadi tutor untuk bulan Oktober :
rencana bikin Abstract Wire Ring dengan Simple Technic.
Surprise , Terharu, dan pasti Termotivasi banget deh.
semoga besok lancar WS Wire Ring Perdana saya yah :) amin.
seperti ini cincinnya.
bentuk abstrak uwer-uwer.
saya buat beberapa contoh dan mumpung ada ponakan
lumayan, jadi model deh, jepret :)


Supermaknyak #1 :

2 komentar
Mati gaya kalau di rumah saja?
Bisa diakalin.
Jaman kayak gini. Ngantor gak cuma di kantor. Rumah pun bisa jadi kantor. Bahkan kemarin aku sempat dengar di televisi, kalau di suatu negara sudah menerapkan kebijakan kerja di rumah untuk beberapa karyawannya. Dengan pertimbangan, hemat ongkos bensin, hemat waktu dan lebih produktif. Hasil kerjanya tinggal dikirim pakai internet. Karyawan senang, bos senang, perusahaan untung. Asik juga kalau ini diterapkan di Indonesia ya?

Mati gaya di rumah, ini istilah yang saya dapat waktu seorang teman baru mampir di salah satu artikelku di blog ini. Beliau memutuskan resign dari pekerjaannya karena merasa putranya tidak bisa didampingi maksimal karena waktunya habis untuk perjalanan di kantor berikut padatnya pekerjaannya.

Oke, yang sudah terlanjur jadi ibu rumah tangga, mari kita bersama menyingsingkan lengan dan membusungkan dada dengan bangga. hahahaha *suara ketawa bajak laut*

Predikat IRT dah kadung nancep di jidat kita. Suka nggak suka, pendapat pro dan kontra tentang IRT itu harus kita hadapi sepanjang masa. maka ABAIKAN saja.

Kita harus bersatu padu, membangun imej baru, bahwa berkarier dari rumah, asik juga. Malah hemat cermat dan bersahaja membangun persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, *halagh :P

Apa yang bisa kita lakukan biar bisa jadi supermaknyak dan nggak mati gaya di dalam rumah ?
Berikut tips ngawur dari saya, yang monggo dibaca untuk hiburan dan senang-senang saja, hahaha

1. kita ganti kosakata ibu rumah tangga yang kesannya nganggur banget itu, jadi WORK AT HOME MOM alias IBU-IBU YANG KERJA DI RUMAH. nah, kan keren tuh.

2. kita harus cari cara cerdas agar pekerjaan rutin kita bisa selesai secepatnya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Seperti ritual masak-cuci piring-hidangin masakan-makan-cuci piring-masak. Atau cuci baju - setrika - pakai;in baju - cuci baju -setrika. Dan segalam macam alur ritual rutin rumahan yang seringkali bikin rasa bosan yang mencekik leher [haduh curhat colongan!]. Tipsi paling manjur untuk hal ini adalah JANGAN DITUNDA. Biar males dan bosaaan sekalipun, langsung saja nggak pake mikir, bras bres bros, pake daster atau babydoll, hajarrr tuh cucian kotor. hehehe, kasar amat kesannya. Nah, biar nggak bosen lagi, bisa nyanyi sendiri atau muter lagu di radio, mp3, ipad, apa aja deh. Yang lebih afdol ya disertai dzikir-dzikir dikitlah sembari masak, nyuci, setrika dan semacamnya, biar dapat berkah kerjaan rumah tangga. Niru putri Nabi Muhammad SAW yang memilih ngerjain kerjaan rumah tangga sendiri demi mendapat kemuliaan dalam rumah tangganya, daripada mencari khadimat atau asisten rumah tangga.

3. nambah ilmu dan skill. wajibun wajib ini bu. Janganlah hamburkan waktu buat nyetel sinetron sama inpotainment doang. ganti channel tipi ke talkshow semacam kick andy, oprah winfrey, bosan jadi pegawai, galeri dan semua acara yang menampilkan profil sukses entah pengusaha, penulis, atlet dan semacamnya. Biasanya kisah mereka itu susah payah banget baru bisa sukses. Nah ini bisa jadi inspirasi buat kita agar mau ikutan susah payah biar ngikut sukses juga gitu.
Selain nonton tipi yang baik-baik, kita juga kudu doyan baca. bacanya juga jangan tabloid gosip aja. Buku yang bagus. Novel yang bagus dan apa aja deh yang nambah wawasan. Biar dilihat anak, juga cakep. Nih emak gue doyan baca, pasti dia pinter. Maka anakpun ketularan jadi doyan baca. Untuk ini kita harus ikhlas menyisihkan jatah bedak kita buat beli buku. Biar cantiknya luar dalam gitu buk, ntar make bedaknya yang rada irit-irit aja ya. Nggak papa, kurang menor dikit, kan inner beauty dari brain kita juga muncul dan memancar bercahaya keluar. wkkkk.

nah urusan nambah skill juga harus bu. Jaman sekarang, apa-apa serba instan malah bikin penyakit. Badan jarang gerak, lengkap sudah tinggal nunggu mau sakit apa, kolesterol, darah tinggi, stroke, osteoporosis, haduh. Kita bikin semuanya sendiri aja dah. Masak sendiri. Bikin kue sendiri. Njahit baju sendiri. Dan semacamnya gitu. Skill alias keahlian yang bisa dijadikan hobi sekaligus bisa jadi penghasilan. Aku yang paling iri itu sama orang yang skill memasak, menjahit dan melukisnya jago. Kayaknya tuh duit ada di genggaman tangan ajah deh. Bisnis mereka pasti laris tampaknya.

4. nambah teman yang positif. Ingat ya, teman yang positif. Pernah kumpul sama ibu-ibu nggak? terus tiap ketemu ceritanya gini aja, " aduh belum setrika, numpuk semua. cucian banyak, belum masak. males banget, badan capek semua. linu. udah gitu anak mau ujian sekolah, nggak mau belajar sama saya. Kudu nganter les kesana kemari. Capek banget yaa. muteer aja jadi ibu rumah tangga itu, udah nggak digaji. diperas kayak babu."
Nah, tipe teman kayak gini, jarang-jarang aja kita deketin. kalau bisa malah, kita kabur aja jika beliau mulai menggerutu jaya seperti itu. Karena percuma buk, kita bisa kesetrum energy negatifnya. Ikutan mengeluh, makin capek rasanya. Ntar sampai rumah, cuman duduk nggelesor di depan tipi dan semakiin merasa capek padahal nggak ngapa-ngapain. Rumah tetep aja berantakan.

cari teman yang suka nyari duit [yang halal tentunya]. nah ini aku demen. mereka yang cas cis cus pandai berdagang, atau suka kesana kemari ngajarin ilmunya dengan sukarela murah meriah; cara menjahit, merajut, dsb. Atau teman yang suka aktivitas sosial, atau suka mengaji Al-qur'an dan hal lain yang positif, nah ini deketin. Ntar kita kesetrum ikutan suka belajar dan berbagi.

5. bersyukur dan bersungguh-sungguh ngurus  diri sendiri. Aku merasakan, ketika males ngurus badan, wajah karena merasa percuma dandan toh di rumah aja. hasilnya aku malah males aja di dalam rumah gitu. Giliran mulai care dikit, kadang luluran pakai scrub yang wangi alus. Rajin pakai lotion tiap habis nyuci piring atau nyuci baju. Bersihin muka sambil masak, entah diolesin pakai putih telur kek, tomat kek, timun kek atau sisa teh, apa aja yang ada di dapur. Wajah dikasih pelembab, bedak secukupnya, lipstik yang segar. Dan tentu saja penghadang bau badan yang wajib dipakai itu. Hasilnya makin menghargai diri sendiri. Memakai pakaian yang pantas ketika menjemput anak sekolah, nggak cuma celana jins belel, jilbab lusuh dan jaket lebih lusuh lagi, kayak aku dulu. Maka sekarang, biar keluar rumah cuman seimprit waktunya, tapi dengan menghargai diri sendiri memakai pakaian yang pantas, kita sampai dalam rumah tetap semangat. Nggak jadi males dan makbrug maunya ndlosor tidur melulu atau nonton tipi.

6.... dst
udah malem, otak saya rada nge-hang nih. ngantuk...besok dilanjut ya :)

semoga bermanfaat, jika ada yang salah, mohon mangap - eh mohon maap

Melanjutkan Ramadhan

1 komentar
Idul Fitri sudah hampir masuk waktu seminggu. Isi perut tak lagi sering kosong seperti Ramadhan kemarin. Malah seringnya kuisi makanan silih berganti. Sudah sarapan, lalu kue kering kemudian mangga dan lanjut sesuai apa yang ada.

Minum air mineral pun kulakukan beberapa menit sekali. Untuk mengatasi kerongkongan yang rasanya haus melulu. Mungkin balas dendam kemarin terasa kering karena puasa.

Karena sempat berhalangan rutin, Al-qur'an pun tak kupegang sama sekali. Kegiatanku lebih banyak berbenah rumah. Mencuci baju kotor yang menumpuk setelah mudik. Membersihkan isi kulkas, kompor, rak piring dan dapur semuanya. Yang biasanya berimbas membuatku malas belanja dan masak. Karena belanja membuat kulkasku jadi penuh dan bisa kotor lagi. Memasak pun membuat dapurku berantakan lagi dan bak cuci piring penuh lagi. Efek dapur bersih, hehehe.

Di depan tivi aku merenung (sambil setrika _ teuteup...), haruskah rutinitas selama Ramadhan berhenti begitu saja?

Tadarus
Tharawih (yg bisa diganti tahajud)
Nggak nonton inpotainment gosip
Berkompromi dengan haus dan lapar
Dsb

Konon katanya, diterima tidaknya amalan Ramadhan kita ini, baru tampak Pasca Ramadhan : ya sekarang inilah waktunya.

Jadi ?

Sayang ya jika dibiarkan berlalu begitu saja momen Ramadhan dan perasaan suka melaksanakan ibadah di dalamnya itu.

Biarpun pasti pasti sulit, mari bersetapak meneruskan Ramadhan ini اللّÙ‡ُ. Tak butuh ibadah kita.
Kita yang butuh.
Kita yang butuh.
Dan keluarga kita butuh tauladan dan percikan pahala dari amalan itu, demi mencari ridho اللّÙ‡ُ .

Bismillah, dengan semua kelemahanku, aku berharap diberi kemudahan untuk beribadah bersama keluarga besarku.

Allahumma 'ainna alaa dzikrika
Wa syukrika
Wa husna ibadatika

Ya اللّÙ‡ُ , tolonglah kami dalam berdzikir, bersyukur dan memperbaiki ibadah kami.

آمين ÙŠَا رَ بَّ العَـــالَÙ…ِÙŠْÙ†

Mulai dari hal yang terkecil
Mulai dari diri sendiri
Mulai saat ini juga

Have a nice praying process :-)


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kapal Pinisi

Tidak ada komentar
Dari Kick Andy Show yang baru saja tayang di Metro TV, tentang ekspedisi Ring of Fire.

Ada cerita tentang Kapal Pinisi.
Kapal buatan tangan orang Indonesia. Dari kayu terbaik. Dibuat tanpa sketsa, gambar dan perhitungan apapun. Tanpa ilmu sekolahan melainkan diajarkan secara turun temurun. Kapal Pinisi ini banyak dipesan oleh orang Belanda dan Inggris. Dibuat dalam waktu 2 tahun atau lebih, sesuai ukuran kapal. Dihargai dua milyar rupiah atau lebih. Dalam proses pembuatannya selalu diawali dengan do'a. Untuk peletakan kayu pertama, pemasangan tiang dan peluncuran kapal. Tiap tiang punya makna sendiri.

Kurang hebat apa Indonesia kita ini?

Bangga sekali !

»Aku Cinta Indonesia«

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Lovely Reminder

Tidak ada komentar

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Di Lebaran ini ..

Tidak ada komentar
Beberapa hari sebelum lebaran, berita duka datang dari sahabatku di dunia maya. Bayi mungilnya - 5 bulan- berpulang ke Rahmatullah setelah 2 hari masuk NICU karena kejang, ada pembengkakan di jantung dan masalah di paru-parunya.

Berita itu sangat memukul hatiku. Sejak dia hamil sampai melahirkan, aku ikut tahu bagaimana cerita gembiranya. Dan rencana dia ingin punya 3 anak saja, lalu fokus membesarkan mereka sambil berkarya : menulis novel seperti yang biasa dilakukannya.

Dan,ketika fotonya mengecup jasad bayinya kulihat di fb, hatiku mengerut memeraskan air mataku begitu derasnya. Aku sedih,sangat sedih. Perasaan kehilangan bayi seperti sama dengan perasaanku dulu yang mungkin akan kehilangan bayi. Di saat bayi keduaku lahir dulu.

Aku menangis sejadi-jadinya di depan laptop kecilku. Duduk, tergugu sendirian dan sengaja membiarkan kesedihanku terpuaskan. Mungkin ini juga airmata yang kupaksa kupendam ketika mendampingi anak keduaku di inkubator dulu.

Alhamdulillah, bayiku selamat dan sehat. Karunia ini semakin kurasakan. Susah payah mengurus anak,masih dan pasti sanggup kurasakan, daripada kehilangannya.

Ini semua takdir. Mau tidak mau, harus belajar ikhlas dan siap kehilangan mereka yang sudah jadi "milik" kita.




Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Ingin Jadi Ibu Rumah Tangga? Benarkah?

10 komentar
Untuk kesekian kalinya, ada teman curhat sekaligus konsul pada saya,kadang di malam hari. Entah lewat inbox fesbuk, chatting atau sms. Topik mereka sama : ingin resign kerja dan jadi ibu rumah tangga (saja) seperti saya ini.

Jika itu kenalan baru, biasanya awal disertai pujian dulu pada saya,yang mereka kira sebagai ibu rumah tangga yang sukses berbisnis sekaligus sukses ngurus keluarga.Baru kemudian mereka bertanya ini itu.

Yang biasanya mereka tanyakan, gimana caranya jadi ibu rumah tangga sambil bisnis, gimana mulainya, dan tentang kegalauan mereka mau resign apa nggak.

Menghadapi pertanyaan ini, saya sering geli aja sendiri. Pertama, saya heran juga kok bisa dibilang jadi IRT yang sukses bisnis. Saya amin-kan saja kalimat pujian itu. Kedua, saya bingung jika ditanya gimana caranya jadi IRT sambil bisnis ; karena saya gak pake mikir panjang pas mau jualan. Bondo nekad aja. Maka untuk menjawab hal ini,saya seringnya berbagi cerita saja,gimana saya memulai sebuah toko jilbab online.

Nah, untuk pertanyaan yang terakhir,jawaban saya gak pakai ragu. Dan cenderung tegas. Ketika mereka - para istri itu bertanya, mereka perlu resign apa ga ya? Langsung saya jawab "RESIGN saja ! Cari duit di rumah saja !"

Sering penanya jadi kaget dengan "kekakuan" saya ini. Nggak nyangka saya seenak udelnya aja nyuruh mereka berhenti dan tidak mempunyai gaji tetap lagi. Kayak yang saya nggak butuh duit aja.

Saya juga merasa sih, jangan-jangan para penanya ini sekedar uji coba perasaannya aja, nggak beneran ingin resign. Karena walau semanis apapun uraian tentang utamanya para istri dan ibu beraktivitas berbasis rumah, mereka tetep ragu-ragu melepas pekerjaan kantorannya.

Jika sudah begitu ngotot memberikan alasan kenapa dia harus tetap kerja, maka dengan cepat saya putus percakapan saya itu. Salah alamat saja sepertinya. Padahal nggak seharusnya saya begitu (saya pun sadar).

Tapi ya gimana, saya bilang saja : saya sekedar berbagi crita dan memberitahukan prinsip saya. Bahwa saya ini idealis, nekad dan berani melarat. Anak adalah alasan utama saya resign kerja. Memang kemarin-kemarin saya juga ragu mengambil keputusan. Karena ego saya ingin mandiri finansial lebih besar. Namun belakangan,ketika makin pasrah dan tulus menjadi IRT, toh rejeki lewat suami diberikan lebih mudah oleh اللّÙ‡ُ SWT. Dan dengan pengalaman ini,maka saya tanpa tedeng aling-aling mengatakan pada mereka yang bertanya itu dengan satu jawaban tegas. Jika kondisi menitipkan anak, dll tidak memungkinkan, maka RESIGN saja semoga lebih baik.

Semoga.. Semoga, saya harap begitu. Dan alhamdulillah juga, ada seorang teman baru juga yang dulu kerja di laboratorium negara,lalu hamil dan takut kehilangan anaknya lagi,sharing kepada saya. Dan saya yakinkan untuk berani memulai bisnis jika memilih resign. Dan sekarang dia sudah punya bisnis handycraft yang gejalanya makin laris.

Tentu, pendapat saya ini tidak mutlak benar dan bisa berlaku untuk semua orang. Namun saya ingin membagi prinsip nekad saya kepada mereka yang cemas kekurangan rejeki jika resign kerja.

Langit menyimpan banyak rahasia, termasuk rejeki kita. Kenapa dengan yakinnya kita hanya menganggap rejeki cuma dari kantor kita saja? Dan tetap bertahan disana dengan resiko anak-anak dan keluarga kacau atau tidak optimal?

Saya ingat kalimat bahwa Anak Shalih termasuk salah satu modal kita bisa nyangkut ke surga. Maka, bismillah dengan prinsip itu saya tak ragu lagi menjadi IRT - stay at home mom- dan fokus pada anak-anak.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Uji coba insert Picture dari BB ke Blogspot

Tidak ada komentar

Aku pernah diledek mbakku nomer dua. Waktu masang jam ini. Katanya, lah, jam pas lulus kuliah kok udah dipasang foto bonusnya : dua prencils. Hehehe
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Uji coba

Tidak ada komentar
Baru saja nemu cara mudah ngisi blog pake BB. Memanfaatkan pushing email.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Hijabers

Tidak ada komentar
foto dari sini
Namanya Ramadhan. Selain tema ibadah, yang rame juga tema busana muslim. Hijaber menjadi nama baru yang makin merakyat di media, terutama televisi.

Saya salut dan kagum juga dengan munculnya Hijaber ini.

Hijaber dari kata Hijab.
Dulu penggunaan kata Hijab, sangat limited. Pengertian paling awam tentang hijab [bagi saya] adalah penutup seluruh tubuh yang full seperti para perempuan di Afganishtan. Yaitu jilbab lebaar menjulur sampai kaki dengan cadar atau burqa menutupi wajah. Dengan warna hitam, biru dongker atau warna gelap lainnya.

Dulu, banyak yang enggan menggunakan kata Berhijab dan memilih untuk kata berjilbab atau berkerudung saja. Kesannya lebih ringan dan sesuai dengan proses menjadi muslimah yang ingin mematuhi perintah Alloh SWT untuk menutup aurat.

Lalu, entah dimulai dari siapa, kata Hijaber mulai muncul.
Hijaber yang biasanya tergabung dalam Hijaber's Community ini [dari penjelasan Dian Pelangi] bertujuan untuk mengedukasi para muslimah [khususnya Indonesia] bahwa hijaber, alias pengguna hijab adalah mereka yang tidak hanya peduli pada jilbab / kerudung saja. melainkan juga Hijab dalam arti menutup tubuh dengan pakaian yang sesuai syar;i, serta menghijabi hati agar sesuai dengan yang dititahkan Alloh SWT dalam Alqur'an.

Kreativitas designer dalam komunitas hijaber ini, menurut saya, patut diacungi jempol juga. terutama untuk para designer yang masih mengusung tinggi konsep pakaian muslimah sesuai aturan/syar'i.

Dengan kreativitas mereka, sekaligus cara berjilbab yang super kreatif juga a.k.a hijab style; akhirnya makin mendongkrak keinginan wanita muslim untuk mulai menutup auratnya.

Memang, beberapa segi, model berjilbab para hijaber ini juga menjadi sorotan. Karena kadang, tampak begitu berlebihan. Terutama mereka yang menggunakan inner jilbab dengan isi cempol yang begitu besar, bak punuk unta.

namun, jika kita jeli dan mau rajin mencari di internet, ada banyak designer yang kreatifnya masih dalam koridor syar'i, misalnya designer Gda's Gallery yaitu putri pertama dari Aa Gym. Beberapa saya lihat tergabung dalam sebuah toko hijab online di www.hijup.com.

Berjilbab menutupi dada, menjadi menarik sekarang dan sudah banyak diterapkan oleh para hijaber. Model baju, yang sebenarnya bagi saya, rada ruwet juga tampaknya, tapi berhasil sesuai dengan syar'i yaitu tidak transparan, tidak ketat dan menutup seluruh tubuh.

Saya anggap, Hijaber memulai langkah yang baik untuk syiar islam terutama syiar hijab. Bahwa ada kekurangan disana sini, itu adalah proses.

Benang Merah

2 komentar
Masih di bulan Ramadhan ya.
Hmm..sudah di minggu kedua, alhamdulillah. Sekeluarga saya sehat semuanya, bagaimana dengan keluarga kawan sekalian? semoga sehat selalu ya.

Perkara sehat, saya sendiri sering nyolong waktu minum sebutir kapsul habbatussauda atau ekstrak temulawak [ah kok saya lupa namanya]. Selang-seling. Kadang sehari minum Habbat, kadang temulawak. Sesekali ditambah sesendok madu, minumnya pas sahur atau pas sebelum tidur malam. Lumayan banget, badan tak mudah flu dan masuk angin, seperti biasanya, walau sedang puasa.

Wokay, selesai bicara suplemen-nya ya :)

Sudah beberapa bulan tidak memegang yang namanya "berkreasi". Walau ingin disangkal, dan tak ingin menjadikannya excuse. Tapi.. yang namanya kerjaan rumah kok ya menyita waktu lumayan banyak.

Ada hal baru yang saya mulai yaitu menjadi Reseller Pourvous Natural Bodycare. Sehingga perhatian terpusat disana. Saya bersyukur menemukan produk dan sistim bisnis di Pourvous ini. Produknya beneran bagus. Sistim bisnisnya sangat mudah.

Ketika aktif menelorkan Pourvous di setiap akun jejaring sosial saya ini, terus terang saya dilanda kejenuhan akut di kancah fashion dalam toko online saya di Jilbab Orin.

Saya juga menderita writerblock yang lumayan parah juga.

Dua "derita" yang saya alami ini, cukup mengganggu. Antara rasa bersalah, ingin maju namun entah, yang namanya isi kepala nggak bisa konek dan terisi.

Mengapa, oh mengapa? saya pun bingung sendiri. Ada yang bilang, ini adalah masa remaja kedua saya. Ibaratnya puber, ada puber kedua. Menjadi remaja pun begitu. Dalam arti menjadi remaja adalah masa yang labil dan mencari jati diri.

Ada seorang teman yang mengatakannya, kelak jika sudah berumur 35 tahun, maka saya akan stabil dengan sendirinya. tidak sering galau, bingung, dan menyesali apa yang sudah dilakukan. Persis perasaan ketika masih sweet seventeen itu.

Saya masih terjebak dalam segala perasaan kacau balau galau tersebut. Sampai saya membaca novel Perahu Kertas, karya Dee.

Di novel itu, ada cerita dari pak Wayan, Pelukis. Yang membiarkan dirinya tidak melukis selama bertahun-tahun, karena memang tak bisa melukis lagi, dalam arti, tak tahu harus melukis apalagi. Perasaan ini dibiarkan dan diterima dahulu dengan pasrah. Mengalir saja seperti air. Kelak akan bisa melukis lagi dengan sendirinya.

nah, dengan tulisan ini, membuatku cukup aman. Minimal tidak ruwet dengan kegalauan diri sendiri yang merasa semakin tidak produktif. Karena, saya tidak ingin ,menjadikan posisi sebagai ibu rumah tangga, kembali menyeret saya dalam perasaan tidak berguna itu tadi, karena tidak produktif.

Seiring waktu, saya akan menemukan benang merah kehidupan saya sendiri. Saya mempraktekkan minta bantuan kepada Tuhan, kepada Alloh Rabbul Izzati, untuk menunjukkan jalan mana yang paling baik untuk saya lalui.

Sekarang, yang saya lakukan adalah menjalani hidup, belajar bersyukur dan menikmatinya dengan cara yang semakin sederhana.

Tutorial Handmade Case

Tidak ada komentar



















Bros Purple

1 komentar


Hari ini adalah hari terakhir mengurus Raport Anak. Untuk Quick Hijab, saya comot saya Bros dari kawat yang saya buat beberapa bulan yang lalu. 



Kalung dan Gelang Perca batik - Wire

Tidak ada komentar


Ceritanya untuk seragam panitia wisuda Taman Kanak-Kanak tempat anak keduaku sekolah, memutuskan untuk berjilbab nila ungu ini kembar semua. Secara untuk hemat dan belajar menjahit, saya dan satu wali murid, nekad membuat Sifon Batwing warna hitam ini. 

Nah, supaya baju serba hitam saya ini nggak sepi, maka saya pakailah kalung dan gelang wire ini. 




Untuk manik-maniknya, dibungkus dulu dengan kain perca batik. Prosesnya lumayan lama supaya ikatan kainnya kuat. Malah lebih cepat membuat bandul kalung [pendant] yang belakangnya saya pasang jarum bros. Tujuannya agar jika bandul dilepas, bisa dijadikan bros. Atau ketika dipakai jadi kalung pun, jarum bros ini saya pasang tembus ke baju inner, supaya kalungnya 'steady', atau bandulnya tidak lari kesana kemari. Kalungnya lebih antheng dan rapi :)



Nah, untuk bangle ini, beadnya juga dibungkus Perca Batik. Teknik uwer-uwernya baru saya coba sekali itu. Terinspirasi dari gelang wire [entah milik siapa] yang saya pegang dan lihat waktu ada acara Free Workshop Oksidasi Wire Jewelry oleh mbak Kiki Adiwijaya di Surabaya beberapa waktu yang lalu. 
Ternyata uwer-uwer zigzag ini, sulit juga. Lamaa sekali baru selesai. Fiuuh. Alhamdulillah, respon yang lihat cukup menentramkan hati. Jadi sepertinya edisi coba-coba sendiri di rumah, ada hasilnya.
Ketika saya pakai gelang ini, seandainya tidak dipasang beads perca batik itu, gelangnya bisa kelihatan seperti gelang emas deh,hehehe 

Sepanci Bothokan Rebus

Tidak ada komentar
Gambar dari sini
Sukses saya berlaku lagi hari ini.
Halah, sok narsis sebenarnya, hehe. Tapi bener ini sukses saya yang luaarr biasa. Bahwa hari ini saya berhasil masak Bothok Rebus yang Lumayan ribet.

Foto disamping kanan ini adalah Bothokan Kukus. Sedangkan saya bikinnya lebih mudah, hanya direbus. Tetapi nggak sempat saya foto, dah keburu dimakan habis.

Niat membuat bothok ini sudah beberapa hari yang lalu. Tetapi karena ribet entah karena apa, saya sampai lupa detilnya karena tiap hari ada aja yang bikin ribet. Maka, terlaksanalah hari ini membuat si Bothokan rebus itu.

Pagi setelah si bapak dan si kakak berangkat, saya dan si kecil pergi ke pasar. Ya, begitulah ngajak anak kecil ke pasar pasti panik aja bawaannya. To Do List amburadul.

Singkat cerita, yang ada di tangan adalah Daun Singkong, Kelapa Parut, Udang, Tempe, Tahu dan Ikan teri.

Masih harus menunggu lama, sampai akhirnya prosedur demi prosedur membuat bothok berhasil kulewati. Begini ceritanya :

1. Daun singkong disiangi daunnya saja, dibersihkan, lalu direbus. Tambahkan garam di air rebusan agar warna daun tetap hijau. Setelah lunak, tiriskan. Tunggu dingin, lalu peras dan iris-iris daunnya [dirajang], sisihkan.
2. Tahu , tempe, ikan teri direbus dulu, tiriskan dan sisihkan. [tempe dan tahu dipotong dadu kecil]
3. Siapkan bumbu : bawang merah, bawang putih, ketumbar, kencur sedikit, laos sedikit, daun jeruk purut, cabe merah, cabe rawit. Haluskan.
4. Campur semuanya dalam panci yaitu daun singkong, kelapa parut, tahu, tempe, ikan teri, dan bumbu. Aduk semua tambahkan air secukupnya untuk mematangkan bumbu dan membuat semuanya tercampur.  lalu cicipi dulu apakah rasanya sudah pas. setelah itu baru campuran direbus sampai tanak dan air menyusut.
5. Bothok rebus siap dihidangkan dengan nasi panas dan krupuk..hmmm...yummyyy


Begitulah, mengapa membuat Bothok sedemikian istimewa untuk saya?
Hihihi, bagi anda mungkin ini menggelikan. Tetapi saya penganut paham masak praktis [bukan politik praktis].
Yang sebelumnya anti banget dengan cara memasak yang butuh banyak prosedur seperti diatas, Tetapi sejak beberapa hari yang lalu pikiran saya mulai terbuka.

Apa nanti suami, anak-anak, tidak bosan saya masaknya tumis tumis saja?
Lalu saya bertekad, pasti bisa membuat masakan apapun. Toh ibu saya, kakak perempuan saya pada jago masak. Pasti ada darah pemasak yang mengalir di tubuhku, cieee...

Dan sip deh, rasanya maknyuss kata suami.
Saya pun PD memberikannya pada tetangga sebagai isi piring mereka yang harus saya kembalikan. Gantian, tempo hari mereka memberikan sesuatu untuk saya :)

Kelak kalau berkunjung ke ortu/mertua, saya pun PD untuk membawakan mereka sepanci Bothokan Rebus :)

DIY Facial Scrub Kopi dan Bodyscrub Green tea

Tidak ada komentar
Masih liburan sekolah untuk si anak-anakku. Libur awal bulan puasa Ramadhan tahun 2012 ini.

Karena keajaiban alam dan anugerah Ilahi, aku tidak lemas, letoy dan galau [kok galau sih, hehhe] sama sekali selama berpuasa di hari pertama dan kedua.

Semua kewajiban domestik alias pekerjaan khas Upik Abu di rumah, berrrees seberes-beresnya sejak pagi. Sungguh heran juga. Mungkin efek sebutir "fatigon viro" di waktu sahur, lumayan membantu fisikku masih segar dan kepala tidak cenut-cenut, seperti yang seriing sekali kualami jika berpuasa, sejak dulu kala.

Selain karena itu, aku curiga juga, ini diakibatkan efek internalisasi ilmu-ilmu dan berita gembira tentang pahala, kebaikan bertirakat, berpuasa dan lain sebagainya yang disampaikan oleh para guruku di ponpes Daarul Muttaqien Surabaya, tempatku belajar rutin selama enam bulan ini. Alhamdulillah, Puasa jadi bukan beban lagi.

Bahkan bangun untuk sahur dan memasak sendirian di dapur pun, tak lagi aku rutuki sebagai rutinitas yang diskriminatif - karena kaum lelaki boleh masih lelap di kasur dan aku sendirian di dapur. Melainkan, aku memaknainya sebagai bentuk jihad mengurus rumah tangga, meniti jalan ke surga dan membuatku semakin dicintai-Nya. Allahumma Amin.

Lanjut pada hariku yang sangat produktif itu. Setelah pagi memasak sayur lodeh, yang entah bagaimana rasanya karena nggak bisa mencicipi. Kemudian membersihkan dapur. Dan menjelang dhuhur, rasanya kok semua sudah beres. Maka, aku iseng saja ingin praktek memakai kopi untuk scrub wajah.

Aku dapat dari twitter seseorang, aku lupa tepatnya, kalau tidak salah, "littlepresenthings".


Resepnya begini :

DIY Facial Scrub Kopi :
1. Basahi dan kompres wajah dengan air hangat
2. Campur dua sendok kopi bubuk dengan air, lalu balurkan ke wajah dan biarkan selama beberapa menit [saya lupa ngitung, sekitar 10 menit mungkin]
3. Bersihkan kopi dari wajah, dengan cara, ciprati dulu wajah dengan air, lalu gosok-gosok bubuk kopi yang sudah melekat di wajah itu perlahan-lahan seperti scrubbing. Arah membersihkan wajah, tentu saja dari bawah ke atas. Sesekali diciprati air lagi, dan begitu seterusnya kemudian bilas wajah dengan air bersih.
4. Keringkan wajah dengan handuk
5. Olesi wajah dengan madu secukupnya, biarkan selama beberapa menit.
6. Bersihkan wajah dengan air hangat lalu tutup dengan air dingin [ air es ], membersihkannya menggunakan saputangan handuk yang lembut.
7. facial scrub kopi selesai. silahkan mencoba dirumah :)


Apa rasanya?
ketika kopi saya balurkan ke wajah, rasanya adem. Lama-lama jadi kaku dan kesat, seperti memakai masker. Bau khas kopi, favorit saya, juga bikin relaks. Ketika kopi dibersihkan, wajah terasa kesat dan bersih.

Lalu, ketika wajah dibaluri madu, lama-lama terasa sedikit panas. Namun setelah dibersihkan, wajah jadi terasa lembab dan kenyal.

Dari beberapa literatur, kopi mengandung kafein sebagai antioksidan yang baik untuk kulit. Serta  Kandungan asam alami pada kopi dipercaya mampu mengencangkan dan melicinkan kulit.


Scrub sebaiknya dilakukan seminggu dua kali saja. Jika terlalu sering malah mengurangi kelembaban kulit.




Setelah mem-facial wajah sendiri dengan scrub, giliran saya mencoba untuk bodyscrub sendiri di rumah, menggunakan Pourvous Body Cream Scrub - Tea in Summer 


Wangi Teh hijau-nya segar banget. 
Tekstur Scrub creamnya mudah dikeluarkan dari tube. Dari pengalaman waktu itu, lebih baik, tubuh kita basahi air dulu, baru dibaluri oleh scrub cream. Kemudian digosok perlahan-lahan. Kemudian dibilas air. 


Setelah pakai scrub, saya merasa masih lembab saja dan tidak perlu memakai body lotion.


Rasanya aman menggunakan Pourvous Body Cream Scrub, karena terdiri dari bahan yang alami. Kulit pun menjadi lembut dan perasaan ini merasa lebih dihargai.


Hari itu pun berlangsung dengan sangat menggembirakan. Home spa pertama kali saya lakukan dirumah itu, berjalan sukses. Saya merasa tercerahkan untuk semakin memperdulikan diri sendiri walau saya jarang bertemu orang, karena menjadi ibu rumah tangga.


Merawat diri sendiri, demi diri sendiri, ternyata membuat kita bahagia sendiri. Tidak perlulah kita ngotot ini itu hanya untuk suami atau untuk dinilai orang lain.


Karena kebahagiaan itu harus bersumber dari hati dan kepuasan batin kita sendiri, bukan begitu?

Diary di Buku dan Jurnal digital

Tidak ada komentar

Menjalin komunikasi dengan diri sendiri itu, paling manjur lewat diary. Gitu deh yang kurasakan selama ini. Dan, paling mantap itu malah, dari diary yang ditulis secara manual di buku.

Ini terasa, kemarin-kemarin saya rajiin nulis jurnal di buku diary, belakangan pindah ke blog. Dah itu beda deh rasanya.

Ketika, hati lagi galau bin kacau, ambil diary, lalu sambil selonjoran di kasur, mulai baca satu demi satu tulisanku sendiri. Ajaib bin ajaib. Rasanya ingaat langsung nyebur ke masa itu. Padahal nulisnya nggak detil-detil banget.

Lain halnya ketika buka blog. Baca tulisan demi tulisan. Yang rata-rata detil dan panjang lebar. Kok feelnya nggak dapet. Walau itu seringnya bisa bikin teman yang baca ikutan termehek-mehek.

Thus. Buku masih lebih yahud daripada ebook, versi diaryku loh ya , heheh

Harus keluar dari Zona Nyaman[ku]

Tidak ada komentar
Dua-tiga bulan ini, sehat menjadi issue utama dalam hidup saya. Pertama suami saya opname karena tipus selama 6 hari dan ekstra care untuk hari-hari berikutnya. Lalu teman baru yang mendadak tahu sedang mengidap kanker payudara stadium 3 lanjut, dan harus menjalani operasi pengangkatan satu payudaranya. Lalu satu teman lagi, yang takut memeriksakan diri ke dokter tentang keluhannya, dan menerima hasil diagnosa menderita kanker serviks stadium satu. Kemudian tanpa diduga tak dinyana, saya , yang selama hidup sakitnya cuman berkisar pada : flu, batuk, pilek dan masuk angin, mendadak menerima hasil tes darah saya bahwa ada masalah pada liver.

Ini belum termasuk, ibu mertua yang juga bermasalah pada liver, serta bapak mertua yang bermasalah pada tulangnya serta ibu kandung yang harus mengatasi masalah sakit jantung dan darah tingginya.

Fiuuhh....saya harus terduduk berkali-kali dalam kesendirian, untuk merenungi semua masalah kesehatan yang terjadi ini. Terutama yang menimpa saya, yang notabene saya pikir, gaya makan saya relatif aman, biasa-biasa saja. Tapi memang, saya jarang sekali berolahraga. Saya hanya membakar kalori dalam mengurus rumah tangga saja, dan itu bukan olahraga, itu kata teman saya yang tinggal di Timur Tengah.

Waktu berbilang dengan sendirinya. Terus bertambah satu tahun, satu bulan, satu menit bahkan satu detik. Tubuh pun menyesuaikan dengan sukarela. Menjadi tak setangguh di jaman muda.

Saya ingat, jaman sekolah, jaman kuliah. Dengan kelelahan yang berlipat. Stress tinggi, tekanan harus lulus dan kesulitan ini itu. Serta makan seadanya saja sesuai budget anak kos. Alhamdulillah, kok yaaooo saya aman jaya, sehat-sehat saja. Pernah sekali waktu sakit kepala hebat dan kata dokter cuma kecapekan saja syarafnya dipakai belajar terus-terusan.

Ya, begitulah. Merasa akan sehat selalu dengan gaya hidup saya yang biasa ini, sepertinya tidak bisa diteruskan lagi. Saya harus malah lebih bersusah payah untuk memperbaiki diri. Melawan keengganan untuk keluar rumah dan berolahraga, dengan atau tanpa teman. Menjadi sehat, harus mulai dengan lebih banyak bergerak.

Easy Start

Tidak ada komentar
Pagi-pagi blogging?
wah keren dah, udah berminggu-minggu saya tidak melakukannya. Pertama karena tiap pagi, saya dah kabur ke pondok modern tempat saya dan ibu-ibu lainnya belajar mengaji. Hari ini, pondok tidak libur sebenarnya. Tapi saya ingin di rumah saja, bersama dua anak lelaki saya yang juga libur karena sekolahan ada UNAS.

Hari ini, ingin diisi dengan sesuatu yang ringan. Pertama ingin membuat organizer dari flanel, buat masukin HP kalau lagi di charge tuh. Plus wadah kabel-kabelnya. Lalu lanjut bikin bros aja ah. Oke deh, cabut dulu. Mumpung sepi, anak-anak masih pada main bola di luar sama temannya. Dan mumpung hawa masih bersih di ruang tamu. Nggak kemasukan asap mobil tetangga yang sedang dipanasin. Libur manasin ya pak hari ini, plis :)

Selamat berngapain saja my bloggerfriends. Kita lanjut nanti dengan pamer karya. heheh

Nulis,Bisnis atau Craft; milih mana mbak ? -__-

Tidak ada komentar
Hmmm....
judul itu adalah satu kalimat dari teman jarak jauhku. Ya teman baru yang sangat kuanggap seperti kakak sendiri. Bisa diajak diskusi dengan cara berpikir beliau yang juauuuhhh lebih matang dariku.

Judul itu juga, malah, aduh maaaf, bisa mematahkan sebuah judul yang membuat beliau tertarik padaku. Yaitu sebuah tulisan di blog ini yang berjudul, "Kupilih Bisnis dan Craft". Yang akhirnya membuatku diajak untuk join sharing cerita dalam blog yang dikelolanya.

sebelumnya, aduh mbakku, ojo gelo ya,
ah pasti tidak, karena kami sudah sangat intens bertukar pikiran sebelumnya.

Judul itu juga, walaupun pertanyaan pilihan, semacam tipe ujian sekolahan kita, pun masih tidak bisa kujawab dengan mudah.

Tempo hari, aku mantab menutup buku, meletakkan pensil lalu membuka majalah fashion, buku craft, tabloid bisnis dan sebagainya. Lalu mantap mengatakan , aku memilih bisnis dan craft. Dan sepertinya itu benar jalanku. Aku tidak akan menulis apapun lagi, kecuali penting. Semacam info diskon, begitu :)

Akibatnya, hobi menulis Note, mengisi Blog jadi berhenti. lama lama terasa ada kerinduan yang lain itu. akan rasa hening, hanyut. Rasa yang kualami ketika hanya berdua dengan buku yang kubaca. atau sesuatu yang kutulis.

Rindu itu sangat mengganggu. sampai harus bertarung dengan keinginanku untuk memegang kawat, tang, manik-manik ataupun kalkulator.

Pertarungan itu sangat melelahkan, sampai akhirnya aku memilih berhenti bertarung. melepaskan atribut perangku. lalu terbang ke angkasa.

Di atas sana kupandangi, diriku sendiri yang carut marut stress bingung mau mengerjakan apa dan menuruti kata hati yang mana.

Dan ketika aku menyerah saja. Tersenyum pada satu demi satu desakan hati untuk berbuat. lalu menurutinya menyesuaikan dengan tugas rumahku, maka, sekali lagi, lepaslah bebanku.

Aku menutup mata sejenak, lalu membayangkan kalau diriku adalah superwoman yang pakai daster. Bisa melakukan banyak hal, tapi tidak bisa melonjak-lonjak kegirangan untuk merayakannya - malu kan, pakai daster gitu loh, nanti kelihatan :P

Aku melaju dengan diam-diam.
Dan jika sekarang aku membagi ceritanya, itu karena aku ingin berbagi cerita, bahwa kadang kita tidak perlu memaksakan diri untuk memilih. Lakukan saja, apa yang bisa dilakukan. Selanjutnya, kita evaluasi lagi. Easy ya kedengarannya?

Saya masih terus berbenah untuk menjadi semakin biasa seperti daster itu tadi , hehe.

Berdiri Sendiri

Tidak ada komentar
Anakku masih suka berteriak "mama makaaannnn!!!"
atau, "aku nggak punya temaaaannn !!!!"

Padahal kalau dipikir, tidak ada alasan yang jelas untuk meneriakkan hal itu. Dia hanya ingin diperhatikan, itu saja.

Sama seperti semua orang sepertinya. Butuh diperhatikan. Butuh atensi, aktualisasi diri atau apalah istilah kerennya. Yang pasti, tidak semua orang suka jika dirinya dianggap tidak ada atau tidak penting.

Aku pernah mengalami masa begitu butuh dengan Perhatian seperti ini.
Amat sangat butuh. Sampai-sampai aku gundah betul, jika perhatian yang kuharapkan itu tidak muncul. Padahal aku sudah berkorban banyak, agar dianggap benar - penting - baik -berhasil.

Hasilnya, lebih banyak kecewa daripada senangnya. Karena jarang sekali sesama manusia yang rela mengakui keberhasilan orang lain. Atau tetap lembut mendampingi ketika kita sedang jatuh.

Alhasil, karena berulang kali kecewa tidak diperhatikan manusia, aku pun memilih berhenti mengharapkannya.
Aku akan maju saja, melakukan apa yang bisa, tak peduli mau dianggap seperti apa, dimata manusia.
Aku hanya melatih keyakinan hati, bahwa biar manusia pura-pura tak peduli atau lebih hobi meremehkan kita, toh, ALLOH SWT yang lebih kuasa, pasti SETIA mengawasi, menemani dan membimbing kita dengan kasih sayang-Nya Yang Maha Luas.

bagaimana kemudian hasilnya?
Fantastis. Karena tidak mengharapkan orang lain, hati saya lapang. PIkiran tenang. Lebih produktif. Dan tanpa disangka, pujian itu malah datang. Saya berhasil mencuri perhatian. Saya berhasil dianggap sukses. Saya sudah tidak dianggap gagal. Tapi yang lebih menyenangkan, hal itu sudah tidak penting lagi bagiku. Tidak begitu penting. Ini melegakan.


[jangan] Katakan Rencanamu Pada Orang Lain

2 komentar
Kemarin saya membuka twitternya Bob Sadino. Menelusuri timelinenya, saya menemukan beberapa hal yang menarik. Salah satunya yang saya retweet adalah "Buatlah rencana yang bagus. Jangan merusaknya dengan mengatakannya kepada orang lain."

Ini menarik. Karena sebelumnya, saya membaca sebuah anjuran, agar Semesta bisa Mendukung. Maka kita dianjurkan untuk mengatakan rencana kita kepada siapa saja. Kepada teman dekat, suami, saudara, dan semua yang bisa kita percaya. Maka rencana kita akan pasti berhasil karena mereka yang terdekat itu pasti mendukung.

Lalu, saya mempraktekkannya. Hampir setahun lebih, yang lalu, saya menulis ke teman sekamar saya waktu masih sekolah dulu, bahwa, saya sedang menulis buku How to Raising muslim boys.

teman saya itu tertawa dan menyindir dalam chatingannya, "gampang raising boys mah. Ikat di tiang bendera lalu ditarik. Raising deh."

saya nyengir juga sih. tapi tulisan saya itu berhenti. karena saya malu. nggak pantes deh kayaknya nulis buku berat seperti itu. malu. karena pasti belum bisa praktek sehebat yang tertulis di buku, dibandingkan dengan cara saya sendiri mengasuh dua anak lelaki saya di rumah. buku itu pun mandeg.

selanjutnya, saya mengatakan pada seorang teman baru, saya mau menulis memoar tentang ibu. dan benar, draft buku ini selesai. tapi untuk mengedit dengan baik saya dilanda kebosanan sekaligus kesulitan. karena memikirkan bagaimana reaksi orang ya, suka apa tidak. nanti tulisan ini bagus apa tidak. kalau belum jadi juga, ah malu banget, udah kadung koar koar kesana kemari. mau nerusin, kok macet nih isi kepala?

tidak hanya satu hal yang kuutarakan dengan entengnya pada saat itu kepada teman. rencana bisnis, pengen kursus melukis, ingin produksi ini itu, rencana ini itu. semua kukatakan. dengan harapan, akan mendapatkan suntikan semangat dari mereka. tetapi rupanya ini tidak berhasil [terutama bagi saya pribadi]. karena beban di hati makin berat, karena banyak yang terlanjur tahu. dan pasti mereka menganggap saya gagal dan gemar sesumbar omong kosong padahal tidak ada [belum ada] pencapaian yang nyata.

sampai pada akhirnya, saya membaca tweet dari pak Bob nyentrik itu. ya, inilah yang tepat. dan sesuai tipeku. lebih banyak diam, lebih hening, lebih baik.

entah dengan kawan lainnya, mungkin berbeda :)

Book For Shadaqah

1 komentar
Teman baru ketemu dari twitter turun ke bbm turun ke websitenya. Dan saya beruntung, ternyata beliau punya ide cemerlang untuk beramal, bersedekah. Melalui buku yang ditulisnya, berikut ini.

Buku cerita bergambar, yang ditulisnya sendiri, di terbitkan sendiri dan 100% royalty bukunya dipersembahkan untuk :

1. mendirikan perpustakkan bagi sekolah tertinggal
2. biaya pendidikan untuk kaum yatim dhuafa

Bagi teman yang ingin menyebarkan informasi ini, bisa kontak saya di twitter @jilbaborin atau @percamanik atau @heni_hpr [akun twitter saya ada 3, hehehe, beda segmen soalnya]

atau klik facebook saya saja ya,
www.facebook.com/jilbaborincollections

Harga buku IDR 45.000 [belum ongkos kirim]

Bukunya bisa untuk diri sendiri, anak, keponakan. Atau dihadiahkan ke siapa saja. Silahkan, bisa digalang ke kantornya, instansinya, dll. Tidak akan rugi. Bukunya bisa dibaca di rumah. Sedekahnya mengundang profit akherat yang lebih indah. Amin.

Memilih Pentungan Yang Tepat

1 komentar
Aku ingat ketika masuk kelas Kalkulus. Seorang dosen lelaki yang nyentrik, sering sekali mengucapkan kalimat ini. "Kalkulus itu perlu alat yang tepat. Kamu tidak bisa seperti SMA dulu. Dikasih cara cepat, cara singkat, untuk diterapkan ke semua jenis soal. Itu seperti, kamu diberi satu pentungan, lalu disuruh motong kayu, ngiris buah dengan satu alat itu. Kamu harus memilih, alat yang paling tepat untuk menyelesaikan soal. Apakah itu dengan dideferensiasikan dulu, di integralkan dulu dan lain sebagainya. Maka, kamu belajar kalkulus disini ya untuk itu. Belajar bermacam-macam alat, untuk menyelesaikan persoalan matematis."

Apa hubungannya pentungan sama kalkulus, dan juga maksud entry blog ini.

Saya menemukan korelasi yang tepat untuk menggambarkan kondisi yang ingin saya bagi. Katakanlah ini bicara tentang kemudahan yang saya peroleh, karena memilih alat yang tepat [baca :gadget].

Saya tidak sedang ingin memperbandingkan kelebihan dan kelemahan. Tapi, coba dengar dulu cerita saya melalui mata anda [ya iyalah lagi baca, kalau lagi ngobrol ya melalui telinga anda :) ]

Tanpa terasa sudah hampir dua tahun ini, saya konsisten menjalankan bisnis jilbab online saya. Bukan konsisten dalam model jilbab atau produk. Tetapi konsisten untuk tetap menjalankannya. Padahal, hampir saja yang melakukan harakiri alias bunuh diri alias suntik mati pada usaha ini. Mungkin gara-gara juga kemarin nonton Kick Andy. Yang para pengusahanya yang diundang, sering bicara tentang suntik mati terhadap usaha yang kembang kempis hidupnya. Atau memang jalan tapi profit kecil.

Nah, kondisi itu terjadi padaku, beberapa saat yang lalu. Penjualan online menurut drastis. Jarang sekali ada pemesanan via facebook. SMS yang masuk, sering sekali menanyakan produk yang sudah tidak saya jual lagi. Artinya, calon pembeli itu, mengetahui nomer HP saya dari Google. Lalu masuk ke blog saya. Dan tidak masuk ke Facebook saya. Padahal di FB lah saya rajin sekali mengupdate informasi dan stok barang.

Saya heran sekali. KEnapa begitu?
Beberapa calon konsumen, sering sekali menanyakan pin BB. Ah, saya jadi rada jengah. Karena saya juga punya tipe, anti-trendy. Misalnya sekarang lagi trend pake BB, saya malah milih HP biasa. Misalnya lagi trend tas impor KW atau asli, saya malah tertarik bikin tas sendiri dari kain. Walau emang terlihat keren, tetapi karena gengsi, biasanya saya tak ingin memakai barang yang lagi trendy itu.

Dan, kemudian saya bertahan dengan update status fb yang rajin pangkal pandai, itu. Bikin iklan online. dan sebagainya. tetapi tidak ada hasil. saya memakai Internet, sebagai satu-satunya penthung.

dan ternyata tidak berhasil.

Lama kelamaan, saya penasaran juga. Apa benar dengan BB, solusi bisa saya dapatkan?

Dan ternyata so far, masih belum satu bulan megang BB, ada banyak sekali perubahan. Terutama perubahan dalam smallbiz ini.

Suplier baru, pelanggan baru, teman baru semua datang jadi satu. bahkan saudara dan teman lama, bisa saling menggoda lewat kirim mengirim foto.

Saya sungguh tercengang. Saya pikir, android akan mengalahkan semua hal. termasuk BB. karena dari segi fitur, android begitu canggih. mudah sekali akses kemana-mana. Tetapi rupanya, android dan whatsappnya belum jadi senjata yang tepat untuk masalah saya. Yaitu koneksi dengan pelanggan dan suplier.

Akhirnya harus saya akui, selama ini kurang tepat memilih alat. Karena saya berbisnis online , yang mengandalkan komunikasi online secara tulisan dan visual/gambar. Maka cara yang mudah dilakukan oleh banyak orang adalah memilih ponsel BB.

Hal ini tidak perlu sama dengan anda sekalian. Bisa jadi anda lebih pas memakai HP bukan smartphone, atau versi android, ipad, tablet , dsb.

Kegengsian saya untuk anti-trend akhirnya luntur juga. Dan kelunturan gengsi saya ini cukup melegakan juga. Karena itu berarti saya jauh leibih luwes daripada dulu :)

Ya kawan, itu sharingku. Silahkan pilih alatmu sendiri.