Seutas Benang dan Jarum Jahit


Sudah lama sekali, kira-kira sembilan atau sepuluh tahun yang lalu, aku mendengar cerita ini. Ada seorang penjahit sukses, yang kemudian karena sesuatu hal jadi bangkrut. Keluarganya berantakan. Lalu merantaulah dia dan anaknya ke Jakarta. Disana dia tidak punya dana sepeserpun kecuali untuk mengontrak satu kamar. Dia ingin mencari pekerjaan, tapi tidak punya kemampuan kantoran. Yang dia kuasai cuma satu, yaitu menjahit. Tetapi dia tidak punya apa-apa. Mesin jahit dia pinjam dari si pemilik rumah.


Yang hebat, beliau mencari jalan keluar. Jadi mendatangi rumah-rumah warga di sekitar rumah kontrakannya. Dia tawarkan jasa menjahit. Tapi dia pinjam uang dulu untuk beli jarum dan benang. Sementara kain sudah diberikan oleh calon konsumennya.


Dengan sepenuh hati, beliau kerjakan baju pesanan tetangganya itu. Dan jadilah. Tetangganya puas. Dari mulut ke mulut, berkembanglah usaha menjahitnya.


Pernah suatu saat beliau disuruh menjahit baju pengantin yang panjangnya bermeter-meter. Beliau tidak tahu caranya. Belum pernah les menjahit baju pengantin Eropa. Tetapi tidak putus asa. Beliau membeli majalah bergambar pengantin Eropa, lalu mondar-mandir ke toko baju pengantin Eropa untuk mengamati bajunya. Dan kemudian menjahit sendiri baju itu dengan sangat hati-hati.


Dengan sungguh-sungguh walau sempat tidak tidur, dia menyelesaikan satu demi satu pesanan jahitan. Dan sampailah akhirnya dia dikenal ahli menjahit baju pengantin yang cantik. Kalau saya tidak salah ingat, profil ini saya lihat di televisi. Profil pengusaha wanita sukses. Jadi dari nol, sampai bisa eksis di media tivi, itu adalah sosok wanita yang tangguh menjalani kehidupannya.


Dari situ, aku mulai termotivasi tak henti-henti. Agar tidak surut langkah hanya karena tidak punya uang untuk modal. Tidak punya modem bagus untuk online. Bahkan tidak punya kamera digital untuk memotret produk, ketika kuputuskan menjalankan usaha menjual jilbab secara online.


Adakalanya kenekadanku tidak didukung oleh orang lain. Bahkan orang terdekat kita sekalipun. Tetapi punya kekerasan hati pun bisa menjadi bahan bakar yang luar biasa. Maksudnya keras hati adalah, ketika orang berpikir mustahil kita sukses, maka kita keraskan hati kita, dan kita pantulkan kalimat itu kepada mereka kembali. Sehingga gaungnya kepada kita bisa berubah suara,”aku bisa sukses, walau tanpa bantuanmu sekalipun. Karena dibantu oleh YANG MAHA KUASA, itu lebih penting”.


Bersikeras untuk terus menjalani dengan semua keterbatasan dan hambatan, tentu tidak mudah. Ada airmata, ada keringat yang jatuh tak putus-putusnya. Ada pengorbanan. Bahkan mungkin mengorbankan keadaan nyaman untuk anak kita, sewaktu kita bersusah payah merintis usaha mulai dari nol.


Saya menuliskan hal ini, agar menjadi motivasi yang terhunjam di setiap hati para ibu. Yang galau, gelisah, dan panik karena tidak punya modal atau barang yang bisa mendukung keinginannya.

Ingatlah seutas benang dan jarum jahit itu. Beliau meminjam uang dari calon konsumennya, dan itu dipercaya. Kenapa? \

karena si peminjam percaya pada kemampuannya, pada ketrampilannya, pada life skill yang sudah dia miliki dan dia asah sebelumnya. Juga kegigihan yang pasti bisa meyakinkan calon pembeli.


Maksud saya, konsentrasilah penuh pada cara untuk menambah atau mengasah ketrampilan kita, kemampuan kita. Dalam berapa saja. Menjahit, meronce, melukis, menulis, memasak, dsb. Tinggalkan jauh perasaan, aku tidak suka menjahit, tidak cocok melukis, dsb.


Ingatlah artis Pepeng yang terbaring sakit, tapi bisa menjadi dosen, menulis buku dan menjadi web designer.

Menjadi web designer lho, padahal waktu sehat, dia tidak bisa membuat desain web apapun. Tentu dia belajar web design ketika sudah sakit kan?


Kata Pepeng, jadilah seperti anak kecil. Yang selalu ingin tahu. Ingin tahu. Ingin tahu. Maka anda akan panjang umur.


Betul kiranya,

saya yang berlatar belakang ilmu sains, semula tak begitu suka dengan dunia crat, menjahit, dsb. Tetapi saya selalu dianugerahi rasa penasaran yang luar biasa besar. Ketika orang bisa membuat kalung, hati saya akan gelisah, bagaimana ya caranya. Bahannya apa. Alatany apa. Bukunya apa. Begitu terus. Dan tidak akan berhenti, sampai aku bisa membuatnya. \


begitu juga ketika membuat kreasi flanel. Cara menjahit tusuk feston, kukupelajari dari ibu, yang seorang penjahit. Sementara di waktu SMA aku benci sekali jika disuruh ibu menjahit. Bahkan menjahit kancing pun aku benci dan tidak sabar.

Tetapi karena penasaran, aku lansung praktek. Bahkan lapar, tidak sarapan, tidak kuhiraukan. Baru setelah sebuah boneka tangan berbentuk gajah kecil jadi, barulah aku bisa makan dengan tenang.


Jadi jangan batasi diri, apa suka ini atau itu.

Selalulah ingin tahu dan ingin bisa. Maka tanpa sadar ketrampilan kita bertambah, bertambah dan makin bertambah. \\dan percayalah, ilmu apapun entah itu ilmu kimia, membuat gelang atau bahkan membuat tahu, tidak akan sia-sia, jika kita praktekkan. Entah untuk diri sendiri. Atau untuk kita amalkan , kita ajarkan kepada orang lain.




just believe on yourself
jangan bandingkan diri dengan orang lain. capek !

walau kita ngerjain urusan rumah semuanya sendiri, gak berarti kita lebih gagal daripada mereka yang punya banyak asisten rumah tangga.

semua tergantung kita, mau atau tidak.

yang penting, kemauan harus sangat keras dan kuat.

oke, ibu-ibu...semangat !!!

4 comments:

  1. Salam kenal Mbak Heni. Aku menikmati sekali tulisan ini. Terima kasih banyak.

    BalasHapus
  2. tul mbak, berkenginan dulu dan punya kenginan, yang lainnya belakangan. Jurusku juga itu mbak.

    BalasHapus
  3. salam kenal mbak Pingkan, terima kasih sudah mampiirr.. kemarin saya mampir ke blog mbak, Pink's Made. aiihh itu crochetnya lucu, kecil-kecil. juga pergamano -nya,cantik.

    mbak Hany, : sepakat ya mbak. saya suka sedih sama teman baru, ibu2, yang kurang gereget gitu kalau ingin sesuatu. mudah banget mundur dan mandeg. jadi gemes deh saya. semoga tulisan ini bisa menyengat mereka :D

    BalasHapus
  4. bukan cuman sedih mbak, jadi ikutan stress kalo isinya setiap kali cuman keluhan tanpa bisa melihat sisi positif sesuatu.

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊