Cerita Kemarin dan Kemarinnya lagi

Selesai sudah satu per satu pekerjaan rumahku. Kalau aku pandangi lagi, seisi rumah, kadang aku bisa heran dan kagum sendiri pada diriku sendiri. Dengan daya diri yang rasanya mualesnya minta ampun, yaooh, ternyata bisa juga pekerjaan itu beres. Seberes-beresnya.

Aku membicarakan tentang, mencuci baju, mencuci piring, memasak dan kawan-kawannya. Rangkuman sarkatis ala ibu rumah tangga di Jawa adalah, tugas "mbabu" nang omah.

Mbabu = menjadi babu
Babu = ART = Asisten Rumah tangga = pembantu rumah tangga

Haiyya sudahlah, persoalan mbabu tidak ingin aku panjang lebarkan disini. Lah walaupun mengeluhnya sampai air ludah kering pun, pekerjaan itu ya datang lagi datang lagi. Wong itu yang namanya tugas rutin di rumah.

Sudah, aku nggak manjang-manjangin konflik dan menyambungkannya pada diskriminasi pengelolaan pekerjaan rumah tangga antara suami dan istri, atau lainnya-lah.

Udah. Cukup mengingat, bahwa dari pekerjaan rutin itu, moga-moga saja, aku [dan kita - yang sama-sama mengerjakannya] mendapatkan hadiah dari TUHAN berupa pahala yang mbarokahi kehidupan kita.

Oke kawan,
Kemarin aku absen menulis blog. Karena kurang sehat. Duduk sebentar di depan laptop, kepala rasanya mau ambruk. Syukurlah, bukan sakit yang luar biasa. Hanya sakit yang membuat saya dimengerti jika ingin tidur-tiduran lebih banyak daripada biasanya. Alhamdulillah :)

Kemarin, aku ingin menulis hal khusus tentang "gemeretekan hati" yang nggak enak banget rasanya sejak aku menjemput anakku pulang, sekitar seminggu yang lalu.

Nah, kejadian bermula ketika satu per satu ibu wali murid, juga datang menjemput. Sama seperti aku. Ada satu ibu yang, aku ingat pernah memberiku selembar kertas foto kopian, bertuliskan judul drama seri di TVRI, dan nama-nama artisnya. Lalu ibu itu menunjuk satu nama, dan berkata, " ini anak saya bu. Ditonton ya filmnya di TVRI.

Oh, rupanya anaknya artis. Eh, ternyata anaknya laki-laki. Ah lucu juga, rambutnya gondrong. Ibu guru pasti memberi dispensasi boleh berambut gondrong karena dia artis dan sedang syuting. Kalau harus potong rambut, bisa-bisa penampakan tokoh artisnya berbeda, atau dia harus pakai wig.

Ibu si artis ini, dandanannya pun mirip artis. Rapi jali. Fashionnya update banget super banget. Dengan kacamata besar ala Syahrini. Jilbab, baju, sandal dan tas kecil yang sering bergonta-ganti baru. Sayang, karena dia wali murid kelas satu, dan aku kelas tiga, maka kami tak pernah saling ngobrol banyak.

Hingga suatu hari, tak sengaja ikutan "ngobrol" atau terpaksa jadi "pendengar"-nya.

Waktu itu, aku sudah usai mengaji rutin di pondok modern dekat sekolahan anakku sulung. Karena jam pulang pasca UTS sudah dekat, maka aku langsung saja ke sekolahan SD itu, untuk menunggu jam pulang disana. Aku sengaja duduk di sebelah dua ibu-ibu yang lebih dulu datang. Basa-basi sedikit, aku pasang badan serileks mungkin.

Mendadak, datanglah ibu artis ini. Sreeettt, parkirlah sepeda motornya yang super bersih di depan kami. Lagi-lagi, update fashion. Rok panjang, pasmina serasi dengan rok, kemeja putih, aneka gelang dan cincin emas, serta tas kecil hitam yang isinya pasti banyak kartu ATM, kartu debet dan kartu kreditnya.

Setelah say hai, hai, dan sok say goodbye, mulailah ibu artis ini bicara.
"aduh buu, aku mau curhat nih ya," katanya pada salah satu ibu yang duduk di sebelahku.
"tahu nggak sih, ibu anu itu lho, nguntit anakku pulang lho. dia ingin tahu, aku ini rumahnya dimana. Dia nyelidiki gitu lho bu. Bener nggak sih, aku ini rumahnya banyak. Bener nggak sih, kalau neneknya anakku itu di Singapura. Lah buat apaaa aku ini bohong, udah dijambak ibu2 di sekolahan TK anakku deh kalau aku bohong."

aku menelan ludah, dan mulai nggak serba salah ngatur posisi duduk.

ibu itu lanjut lagi,
"lah pas aku renovasi rumahku itu lho bu ya, kan aku cari kontrakan. tapi yaaa, cuman untuk 6 bulanan aja. Eh, dia malah koar-koar kemana-mana, kalau aku ini tinggal di satu kamar di rumahku yang mau direnovasi itu. Nggak ada duit buat kontrak rumah lain sementara waktu.
Gila apa. Satu kamar. Aku tidur di situ. Emang aku mau digagahi sama tukang apa?!!!

kalimat terakhir masuk mendadak di telingaku.

Ibu itu memandangku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain tersenyum tipis.

"nanti aku bisa masu koran memorandum. Ibunya arti digagahi tukang."

kalimat terakhir ini diulang-ulang ibu itu. Tidak dengan suara yang pelan. Aku yakin, pak satpam di posnya pasti kedengeran.

"dikira kita orang kagak punya duit apa?. aku coba lihat wajah tuh ibu-ibu yang nguntit itu. eh ya bener aja, wong masih cantikan aku lho. Pasti nanti suaminya aku gaet. "

Suara ibu itu masih terdengar. makin lama makin kencang. dan mengulang-ulang semua perkataannya. Aku berdiri dari tempat dudukku. Tanpa berpamitan lalu pergi menuju kelas anakku, walau bel belum berbunyi. Aku merasa mual.


2 comments:

  1. Kok ada orang seperti itu ya, kira saya hanya di sinetron saja ?!!....

    BalasHapus
  2. nah itu dia mbak. ajaib memang orangnya.
    selebritis lokal, biasalah...heheeh

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊