Easy Start

Pagi-pagi blogging?
wah keren dah, udah berminggu-minggu saya tidak melakukannya. Pertama karena tiap pagi, saya dah kabur ke pondok modern tempat saya dan ibu-ibu lainnya belajar mengaji. Hari ini, pondok tidak libur sebenarnya. Tapi saya ingin di rumah saja, bersama dua anak lelaki saya yang juga libur karena sekolahan ada UNAS.

Hari ini, ingin diisi dengan sesuatu yang ringan. Pertama ingin membuat organizer dari flanel, buat masukin HP kalau lagi di charge tuh. Plus wadah kabel-kabelnya. Lalu lanjut bikin bros aja ah. Oke deh, cabut dulu. Mumpung sepi, anak-anak masih pada main bola di luar sama temannya. Dan mumpung hawa masih bersih di ruang tamu. Nggak kemasukan asap mobil tetangga yang sedang dipanasin. Libur manasin ya pak hari ini, plis :)

Selamat berngapain saja my bloggerfriends. Kita lanjut nanti dengan pamer karya. heheh

Nulis,Bisnis atau Craft; milih mana mbak ? -__-

Hmmm....
judul itu adalah satu kalimat dari teman jarak jauhku. Ya teman baru yang sangat kuanggap seperti kakak sendiri. Bisa diajak diskusi dengan cara berpikir beliau yang juauuuhhh lebih matang dariku.

Judul itu juga, malah, aduh maaaf, bisa mematahkan sebuah judul yang membuat beliau tertarik padaku. Yaitu sebuah tulisan di blog ini yang berjudul, "Kupilih Bisnis dan Craft". Yang akhirnya membuatku diajak untuk join sharing cerita dalam blog yang dikelolanya.

sebelumnya, aduh mbakku, ojo gelo ya,
ah pasti tidak, karena kami sudah sangat intens bertukar pikiran sebelumnya.

Judul itu juga, walaupun pertanyaan pilihan, semacam tipe ujian sekolahan kita, pun masih tidak bisa kujawab dengan mudah.

Tempo hari, aku mantab menutup buku, meletakkan pensil lalu membuka majalah fashion, buku craft, tabloid bisnis dan sebagainya. Lalu mantap mengatakan , aku memilih bisnis dan craft. Dan sepertinya itu benar jalanku. Aku tidak akan menulis apapun lagi, kecuali penting. Semacam info diskon, begitu :)

Akibatnya, hobi menulis Note, mengisi Blog jadi berhenti. lama lama terasa ada kerinduan yang lain itu. akan rasa hening, hanyut. Rasa yang kualami ketika hanya berdua dengan buku yang kubaca. atau sesuatu yang kutulis.

Rindu itu sangat mengganggu. sampai harus bertarung dengan keinginanku untuk memegang kawat, tang, manik-manik ataupun kalkulator.

Pertarungan itu sangat melelahkan, sampai akhirnya aku memilih berhenti bertarung. melepaskan atribut perangku. lalu terbang ke angkasa.

Di atas sana kupandangi, diriku sendiri yang carut marut stress bingung mau mengerjakan apa dan menuruti kata hati yang mana.

Dan ketika aku menyerah saja. Tersenyum pada satu demi satu desakan hati untuk berbuat. lalu menurutinya menyesuaikan dengan tugas rumahku, maka, sekali lagi, lepaslah bebanku.

Aku menutup mata sejenak, lalu membayangkan kalau diriku adalah superwoman yang pakai daster. Bisa melakukan banyak hal, tapi tidak bisa melonjak-lonjak kegirangan untuk merayakannya - malu kan, pakai daster gitu loh, nanti kelihatan :P

Aku melaju dengan diam-diam.
Dan jika sekarang aku membagi ceritanya, itu karena aku ingin berbagi cerita, bahwa kadang kita tidak perlu memaksakan diri untuk memilih. Lakukan saja, apa yang bisa dilakukan. Selanjutnya, kita evaluasi lagi. Easy ya kedengarannya?

Saya masih terus berbenah untuk menjadi semakin biasa seperti daster itu tadi , hehe.

Berdiri Sendiri

Anakku masih suka berteriak "mama makaaannnn!!!"
atau, "aku nggak punya temaaaannn !!!!"

Padahal kalau dipikir, tidak ada alasan yang jelas untuk meneriakkan hal itu. Dia hanya ingin diperhatikan, itu saja.

Sama seperti semua orang sepertinya. Butuh diperhatikan. Butuh atensi, aktualisasi diri atau apalah istilah kerennya. Yang pasti, tidak semua orang suka jika dirinya dianggap tidak ada atau tidak penting.

Aku pernah mengalami masa begitu butuh dengan Perhatian seperti ini.
Amat sangat butuh. Sampai-sampai aku gundah betul, jika perhatian yang kuharapkan itu tidak muncul. Padahal aku sudah berkorban banyak, agar dianggap benar - penting - baik -berhasil.

Hasilnya, lebih banyak kecewa daripada senangnya. Karena jarang sekali sesama manusia yang rela mengakui keberhasilan orang lain. Atau tetap lembut mendampingi ketika kita sedang jatuh.

Alhasil, karena berulang kali kecewa tidak diperhatikan manusia, aku pun memilih berhenti mengharapkannya.
Aku akan maju saja, melakukan apa yang bisa, tak peduli mau dianggap seperti apa, dimata manusia.
Aku hanya melatih keyakinan hati, bahwa biar manusia pura-pura tak peduli atau lebih hobi meremehkan kita, toh, ALLOH SWT yang lebih kuasa, pasti SETIA mengawasi, menemani dan membimbing kita dengan kasih sayang-Nya Yang Maha Luas.

bagaimana kemudian hasilnya?
Fantastis. Karena tidak mengharapkan orang lain, hati saya lapang. PIkiran tenang. Lebih produktif. Dan tanpa disangka, pujian itu malah datang. Saya berhasil mencuri perhatian. Saya berhasil dianggap sukses. Saya sudah tidak dianggap gagal. Tapi yang lebih menyenangkan, hal itu sudah tidak penting lagi bagiku. Tidak begitu penting. Ini melegakan.


[jangan] Katakan Rencanamu Pada Orang Lain

Kemarin saya membuka twitternya Bob Sadino. Menelusuri timelinenya, saya menemukan beberapa hal yang menarik. Salah satunya yang saya retweet adalah "Buatlah rencana yang bagus. Jangan merusaknya dengan mengatakannya kepada orang lain."

Ini menarik. Karena sebelumnya, saya membaca sebuah anjuran, agar Semesta bisa Mendukung. Maka kita dianjurkan untuk mengatakan rencana kita kepada siapa saja. Kepada teman dekat, suami, saudara, dan semua yang bisa kita percaya. Maka rencana kita akan pasti berhasil karena mereka yang terdekat itu pasti mendukung.

Lalu, saya mempraktekkannya. Hampir setahun lebih, yang lalu, saya menulis ke teman sekamar saya waktu masih sekolah dulu, bahwa, saya sedang menulis buku How to Raising muslim boys.

teman saya itu tertawa dan menyindir dalam chatingannya, "gampang raising boys mah. Ikat di tiang bendera lalu ditarik. Raising deh."

saya nyengir juga sih. tapi tulisan saya itu berhenti. karena saya malu. nggak pantes deh kayaknya nulis buku berat seperti itu. malu. karena pasti belum bisa praktek sehebat yang tertulis di buku, dibandingkan dengan cara saya sendiri mengasuh dua anak lelaki saya di rumah. buku itu pun mandeg.

selanjutnya, saya mengatakan pada seorang teman baru, saya mau menulis memoar tentang ibu. dan benar, draft buku ini selesai. tapi untuk mengedit dengan baik saya dilanda kebosanan sekaligus kesulitan. karena memikirkan bagaimana reaksi orang ya, suka apa tidak. nanti tulisan ini bagus apa tidak. kalau belum jadi juga, ah malu banget, udah kadung koar koar kesana kemari. mau nerusin, kok macet nih isi kepala?

tidak hanya satu hal yang kuutarakan dengan entengnya pada saat itu kepada teman. rencana bisnis, pengen kursus melukis, ingin produksi ini itu, rencana ini itu. semua kukatakan. dengan harapan, akan mendapatkan suntikan semangat dari mereka. tetapi rupanya ini tidak berhasil [terutama bagi saya pribadi]. karena beban di hati makin berat, karena banyak yang terlanjur tahu. dan pasti mereka menganggap saya gagal dan gemar sesumbar omong kosong padahal tidak ada [belum ada] pencapaian yang nyata.

sampai pada akhirnya, saya membaca tweet dari pak Bob nyentrik itu. ya, inilah yang tepat. dan sesuai tipeku. lebih banyak diam, lebih hening, lebih baik.

entah dengan kawan lainnya, mungkin berbeda :)