Diary di Buku dan Jurnal digital


Menjalin komunikasi dengan diri sendiri itu, paling manjur lewat diary. Gitu deh yang kurasakan selama ini. Dan, paling mantap itu malah, dari diary yang ditulis secara manual di buku.

Ini terasa, kemarin-kemarin saya rajiin nulis jurnal di buku diary, belakangan pindah ke blog. Dah itu beda deh rasanya.

Ketika, hati lagi galau bin kacau, ambil diary, lalu sambil selonjoran di kasur, mulai baca satu demi satu tulisanku sendiri. Ajaib bin ajaib. Rasanya ingaat langsung nyebur ke masa itu. Padahal nulisnya nggak detil-detil banget.

Lain halnya ketika buka blog. Baca tulisan demi tulisan. Yang rata-rata detil dan panjang lebar. Kok feelnya nggak dapet. Walau itu seringnya bisa bikin teman yang baca ikutan termehek-mehek.

Thus. Buku masih lebih yahud daripada ebook, versi diaryku loh ya , heheh

Harus keluar dari Zona Nyaman[ku]

Dua-tiga bulan ini, sehat menjadi issue utama dalam hidup saya. Pertama suami saya opname karena tipus selama 6 hari dan ekstra care untuk hari-hari berikutnya. Lalu teman baru yang mendadak tahu sedang mengidap kanker payudara stadium 3 lanjut, dan harus menjalani operasi pengangkatan satu payudaranya. Lalu satu teman lagi, yang takut memeriksakan diri ke dokter tentang keluhannya, dan menerima hasil diagnosa menderita kanker serviks stadium satu. Kemudian tanpa diduga tak dinyana, saya , yang selama hidup sakitnya cuman berkisar pada : flu, batuk, pilek dan masuk angin, mendadak menerima hasil tes darah saya bahwa ada masalah pada liver.

Ini belum termasuk, ibu mertua yang juga bermasalah pada liver, serta bapak mertua yang bermasalah pada tulangnya serta ibu kandung yang harus mengatasi masalah sakit jantung dan darah tingginya.

Fiuuhh....saya harus terduduk berkali-kali dalam kesendirian, untuk merenungi semua masalah kesehatan yang terjadi ini. Terutama yang menimpa saya, yang notabene saya pikir, gaya makan saya relatif aman, biasa-biasa saja. Tapi memang, saya jarang sekali berolahraga. Saya hanya membakar kalori dalam mengurus rumah tangga saja, dan itu bukan olahraga, itu kata teman saya yang tinggal di Timur Tengah.

Waktu berbilang dengan sendirinya. Terus bertambah satu tahun, satu bulan, satu menit bahkan satu detik. Tubuh pun menyesuaikan dengan sukarela. Menjadi tak setangguh di jaman muda.

Saya ingat, jaman sekolah, jaman kuliah. Dengan kelelahan yang berlipat. Stress tinggi, tekanan harus lulus dan kesulitan ini itu. Serta makan seadanya saja sesuai budget anak kos. Alhamdulillah, kok yaaooo saya aman jaya, sehat-sehat saja. Pernah sekali waktu sakit kepala hebat dan kata dokter cuma kecapekan saja syarafnya dipakai belajar terus-terusan.

Ya, begitulah. Merasa akan sehat selalu dengan gaya hidup saya yang biasa ini, sepertinya tidak bisa diteruskan lagi. Saya harus malah lebih bersusah payah untuk memperbaiki diri. Melawan keengganan untuk keluar rumah dan berolahraga, dengan atau tanpa teman. Menjadi sehat, harus mulai dengan lebih banyak bergerak.