Diary di Buku dan Jurnal digital


Menjalin komunikasi dengan diri sendiri itu, paling manjur lewat diary. Gitu deh yang kurasakan selama ini. Dan, paling mantap itu malah, dari diary yang ditulis secara manual di buku.

Ini terasa, kemarin-kemarin saya rajiin nulis jurnal di buku diary, belakangan pindah ke blog. Dah itu beda deh rasanya.

Ketika, hati lagi galau bin kacau, ambil diary, lalu sambil selonjoran di kasur, mulai baca satu demi satu tulisanku sendiri. Ajaib bin ajaib. Rasanya ingaat langsung nyebur ke masa itu. Padahal nulisnya nggak detil-detil banget.

Lain halnya ketika buka blog. Baca tulisan demi tulisan. Yang rata-rata detil dan panjang lebar. Kok feelnya nggak dapet. Walau itu seringnya bisa bikin teman yang baca ikutan termehek-mehek.

Thus. Buku masih lebih yahud daripada ebook, versi diaryku loh ya , heheh

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊