Tutorial Handmade Case




















Bros Purple



Hari ini adalah hari terakhir mengurus Raport Anak. Untuk Quick Hijab, saya comot saya Bros dari kawat yang saya buat beberapa bulan yang lalu. 



Kalung dan Gelang Perca batik - Wire



Ceritanya untuk seragam panitia wisuda Taman Kanak-Kanak tempat anak keduaku sekolah, memutuskan untuk berjilbab nila ungu ini kembar semua. Secara untuk hemat dan belajar menjahit, saya dan satu wali murid, nekad membuat Sifon Batwing warna hitam ini. 

Nah, supaya baju serba hitam saya ini nggak sepi, maka saya pakailah kalung dan gelang wire ini. 




Untuk manik-maniknya, dibungkus dulu dengan kain perca batik. Prosesnya lumayan lama supaya ikatan kainnya kuat. Malah lebih cepat membuat bandul kalung [pendant] yang belakangnya saya pasang jarum bros. Tujuannya agar jika bandul dilepas, bisa dijadikan bros. Atau ketika dipakai jadi kalung pun, jarum bros ini saya pasang tembus ke baju inner, supaya kalungnya 'steady', atau bandulnya tidak lari kesana kemari. Kalungnya lebih antheng dan rapi :)



Nah, untuk bangle ini, beadnya juga dibungkus Perca Batik. Teknik uwer-uwernya baru saya coba sekali itu. Terinspirasi dari gelang wire [entah milik siapa] yang saya pegang dan lihat waktu ada acara Free Workshop Oksidasi Wire Jewelry oleh mbak Kiki Adiwijaya di Surabaya beberapa waktu yang lalu. 
Ternyata uwer-uwer zigzag ini, sulit juga. Lamaa sekali baru selesai. Fiuuh. Alhamdulillah, respon yang lihat cukup menentramkan hati. Jadi sepertinya edisi coba-coba sendiri di rumah, ada hasilnya.
Ketika saya pakai gelang ini, seandainya tidak dipasang beads perca batik itu, gelangnya bisa kelihatan seperti gelang emas deh,hehehe 

Sepanci Bothokan Rebus

Gambar dari sini
Sukses saya berlaku lagi hari ini.
Halah, sok narsis sebenarnya, hehe. Tapi bener ini sukses saya yang luaarr biasa. Bahwa hari ini saya berhasil masak Bothok Rebus yang Lumayan ribet.

Foto disamping kanan ini adalah Bothokan Kukus. Sedangkan saya bikinnya lebih mudah, hanya direbus. Tetapi nggak sempat saya foto, dah keburu dimakan habis.

Niat membuat bothok ini sudah beberapa hari yang lalu. Tetapi karena ribet entah karena apa, saya sampai lupa detilnya karena tiap hari ada aja yang bikin ribet. Maka, terlaksanalah hari ini membuat si Bothokan rebus itu.

Pagi setelah si bapak dan si kakak berangkat, saya dan si kecil pergi ke pasar. Ya, begitulah ngajak anak kecil ke pasar pasti panik aja bawaannya. To Do List amburadul.

Singkat cerita, yang ada di tangan adalah Daun Singkong, Kelapa Parut, Udang, Tempe, Tahu dan Ikan teri.

Masih harus menunggu lama, sampai akhirnya prosedur demi prosedur membuat bothok berhasil kulewati. Begini ceritanya :

1. Daun singkong disiangi daunnya saja, dibersihkan, lalu direbus. Tambahkan garam di air rebusan agar warna daun tetap hijau. Setelah lunak, tiriskan. Tunggu dingin, lalu peras dan iris-iris daunnya [dirajang], sisihkan.
2. Tahu , tempe, ikan teri direbus dulu, tiriskan dan sisihkan. [tempe dan tahu dipotong dadu kecil]
3. Siapkan bumbu : bawang merah, bawang putih, ketumbar, kencur sedikit, laos sedikit, daun jeruk purut, cabe merah, cabe rawit. Haluskan.
4. Campur semuanya dalam panci yaitu daun singkong, kelapa parut, tahu, tempe, ikan teri, dan bumbu. Aduk semua tambahkan air secukupnya untuk mematangkan bumbu dan membuat semuanya tercampur.  lalu cicipi dulu apakah rasanya sudah pas. setelah itu baru campuran direbus sampai tanak dan air menyusut.
5. Bothok rebus siap dihidangkan dengan nasi panas dan krupuk..hmmm...yummyyy


Begitulah, mengapa membuat Bothok sedemikian istimewa untuk saya?
Hihihi, bagi anda mungkin ini menggelikan. Tetapi saya penganut paham masak praktis [bukan politik praktis].
Yang sebelumnya anti banget dengan cara memasak yang butuh banyak prosedur seperti diatas, Tetapi sejak beberapa hari yang lalu pikiran saya mulai terbuka.

Apa nanti suami, anak-anak, tidak bosan saya masaknya tumis tumis saja?
Lalu saya bertekad, pasti bisa membuat masakan apapun. Toh ibu saya, kakak perempuan saya pada jago masak. Pasti ada darah pemasak yang mengalir di tubuhku, cieee...

Dan sip deh, rasanya maknyuss kata suami.
Saya pun PD memberikannya pada tetangga sebagai isi piring mereka yang harus saya kembalikan. Gantian, tempo hari mereka memberikan sesuatu untuk saya :)

Kelak kalau berkunjung ke ortu/mertua, saya pun PD untuk membawakan mereka sepanci Bothokan Rebus :)

DIY Facial Scrub Kopi dan Bodyscrub Green tea

Masih liburan sekolah untuk si anak-anakku. Libur awal bulan puasa Ramadhan tahun 2012 ini.

Karena keajaiban alam dan anugerah Ilahi, aku tidak lemas, letoy dan galau [kok galau sih, hehhe] sama sekali selama berpuasa di hari pertama dan kedua.

Semua kewajiban domestik alias pekerjaan khas Upik Abu di rumah, berrrees seberes-beresnya sejak pagi. Sungguh heran juga. Mungkin efek sebutir "fatigon viro" di waktu sahur, lumayan membantu fisikku masih segar dan kepala tidak cenut-cenut, seperti yang seriing sekali kualami jika berpuasa, sejak dulu kala.

Selain karena itu, aku curiga juga, ini diakibatkan efek internalisasi ilmu-ilmu dan berita gembira tentang pahala, kebaikan bertirakat, berpuasa dan lain sebagainya yang disampaikan oleh para guruku di ponpes Daarul Muttaqien Surabaya, tempatku belajar rutin selama enam bulan ini. Alhamdulillah, Puasa jadi bukan beban lagi.

Bahkan bangun untuk sahur dan memasak sendirian di dapur pun, tak lagi aku rutuki sebagai rutinitas yang diskriminatif - karena kaum lelaki boleh masih lelap di kasur dan aku sendirian di dapur. Melainkan, aku memaknainya sebagai bentuk jihad mengurus rumah tangga, meniti jalan ke surga dan membuatku semakin dicintai-Nya. Allahumma Amin.

Lanjut pada hariku yang sangat produktif itu. Setelah pagi memasak sayur lodeh, yang entah bagaimana rasanya karena nggak bisa mencicipi. Kemudian membersihkan dapur. Dan menjelang dhuhur, rasanya kok semua sudah beres. Maka, aku iseng saja ingin praktek memakai kopi untuk scrub wajah.

Aku dapat dari twitter seseorang, aku lupa tepatnya, kalau tidak salah, "littlepresenthings".


Resepnya begini :

DIY Facial Scrub Kopi :
1. Basahi dan kompres wajah dengan air hangat
2. Campur dua sendok kopi bubuk dengan air, lalu balurkan ke wajah dan biarkan selama beberapa menit [saya lupa ngitung, sekitar 10 menit mungkin]
3. Bersihkan kopi dari wajah, dengan cara, ciprati dulu wajah dengan air, lalu gosok-gosok bubuk kopi yang sudah melekat di wajah itu perlahan-lahan seperti scrubbing. Arah membersihkan wajah, tentu saja dari bawah ke atas. Sesekali diciprati air lagi, dan begitu seterusnya kemudian bilas wajah dengan air bersih.
4. Keringkan wajah dengan handuk
5. Olesi wajah dengan madu secukupnya, biarkan selama beberapa menit.
6. Bersihkan wajah dengan air hangat lalu tutup dengan air dingin [ air es ], membersihkannya menggunakan saputangan handuk yang lembut.
7. facial scrub kopi selesai. silahkan mencoba dirumah :)


Apa rasanya?
ketika kopi saya balurkan ke wajah, rasanya adem. Lama-lama jadi kaku dan kesat, seperti memakai masker. Bau khas kopi, favorit saya, juga bikin relaks. Ketika kopi dibersihkan, wajah terasa kesat dan bersih.

Lalu, ketika wajah dibaluri madu, lama-lama terasa sedikit panas. Namun setelah dibersihkan, wajah jadi terasa lembab dan kenyal.

Dari beberapa literatur, kopi mengandung kafein sebagai antioksidan yang baik untuk kulit. Serta  Kandungan asam alami pada kopi dipercaya mampu mengencangkan dan melicinkan kulit.


Scrub sebaiknya dilakukan seminggu dua kali saja. Jika terlalu sering malah mengurangi kelembaban kulit.




Setelah mem-facial wajah sendiri dengan scrub, giliran saya mencoba untuk bodyscrub sendiri di rumah, menggunakan Pourvous Body Cream Scrub - Tea in Summer 


Wangi Teh hijau-nya segar banget. 
Tekstur Scrub creamnya mudah dikeluarkan dari tube. Dari pengalaman waktu itu, lebih baik, tubuh kita basahi air dulu, baru dibaluri oleh scrub cream. Kemudian digosok perlahan-lahan. Kemudian dibilas air. 


Setelah pakai scrub, saya merasa masih lembab saja dan tidak perlu memakai body lotion.


Rasanya aman menggunakan Pourvous Body Cream Scrub, karena terdiri dari bahan yang alami. Kulit pun menjadi lembut dan perasaan ini merasa lebih dihargai.


Hari itu pun berlangsung dengan sangat menggembirakan. Home spa pertama kali saya lakukan dirumah itu, berjalan sukses. Saya merasa tercerahkan untuk semakin memperdulikan diri sendiri walau saya jarang bertemu orang, karena menjadi ibu rumah tangga.


Merawat diri sendiri, demi diri sendiri, ternyata membuat kita bahagia sendiri. Tidak perlulah kita ngotot ini itu hanya untuk suami atau untuk dinilai orang lain.


Karena kebahagiaan itu harus bersumber dari hati dan kepuasan batin kita sendiri, bukan begitu?