Benang Merah

Masih di bulan Ramadhan ya.
Hmm..sudah di minggu kedua, alhamdulillah. Sekeluarga saya sehat semuanya, bagaimana dengan keluarga kawan sekalian? semoga sehat selalu ya.

Perkara sehat, saya sendiri sering nyolong waktu minum sebutir kapsul habbatussauda atau ekstrak temulawak [ah kok saya lupa namanya]. Selang-seling. Kadang sehari minum Habbat, kadang temulawak. Sesekali ditambah sesendok madu, minumnya pas sahur atau pas sebelum tidur malam. Lumayan banget, badan tak mudah flu dan masuk angin, seperti biasanya, walau sedang puasa.

Wokay, selesai bicara suplemen-nya ya :)

Sudah beberapa bulan tidak memegang yang namanya "berkreasi". Walau ingin disangkal, dan tak ingin menjadikannya excuse. Tapi.. yang namanya kerjaan rumah kok ya menyita waktu lumayan banyak.

Ada hal baru yang saya mulai yaitu menjadi Reseller Pourvous Natural Bodycare. Sehingga perhatian terpusat disana. Saya bersyukur menemukan produk dan sistim bisnis di Pourvous ini. Produknya beneran bagus. Sistim bisnisnya sangat mudah.

Ketika aktif menelorkan Pourvous di setiap akun jejaring sosial saya ini, terus terang saya dilanda kejenuhan akut di kancah fashion dalam toko online saya di Jilbab Orin.

Saya juga menderita writerblock yang lumayan parah juga.

Dua "derita" yang saya alami ini, cukup mengganggu. Antara rasa bersalah, ingin maju namun entah, yang namanya isi kepala nggak bisa konek dan terisi.

Mengapa, oh mengapa? saya pun bingung sendiri. Ada yang bilang, ini adalah masa remaja kedua saya. Ibaratnya puber, ada puber kedua. Menjadi remaja pun begitu. Dalam arti menjadi remaja adalah masa yang labil dan mencari jati diri.

Ada seorang teman yang mengatakannya, kelak jika sudah berumur 35 tahun, maka saya akan stabil dengan sendirinya. tidak sering galau, bingung, dan menyesali apa yang sudah dilakukan. Persis perasaan ketika masih sweet seventeen itu.

Saya masih terjebak dalam segala perasaan kacau balau galau tersebut. Sampai saya membaca novel Perahu Kertas, karya Dee.

Di novel itu, ada cerita dari pak Wayan, Pelukis. Yang membiarkan dirinya tidak melukis selama bertahun-tahun, karena memang tak bisa melukis lagi, dalam arti, tak tahu harus melukis apalagi. Perasaan ini dibiarkan dan diterima dahulu dengan pasrah. Mengalir saja seperti air. Kelak akan bisa melukis lagi dengan sendirinya.

nah, dengan tulisan ini, membuatku cukup aman. Minimal tidak ruwet dengan kegalauan diri sendiri yang merasa semakin tidak produktif. Karena, saya tidak ingin ,menjadikan posisi sebagai ibu rumah tangga, kembali menyeret saya dalam perasaan tidak berguna itu tadi, karena tidak produktif.

Seiring waktu, saya akan menemukan benang merah kehidupan saya sendiri. Saya mempraktekkan minta bantuan kepada Tuhan, kepada Alloh Rabbul Izzati, untuk menunjukkan jalan mana yang paling baik untuk saya lalui.

Sekarang, yang saya lakukan adalah menjalani hidup, belajar bersyukur dan menikmatinya dengan cara yang semakin sederhana.

2 comments:

  1. Masih sering galau toh mbak? Semoga dengan Ramadhan Allah memberi berkah kemantapan dan tidak galau lagi ya mbak, aamiin ...

    BalasHapus
  2. isin-isin'ni sebenarnya mbak hany.

    ya, Ramadhan ini berusaha istikomah menumpas galau. heheh, kayak abege aja

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊