Dari Film Eat Pray Love #1 : Komitmen Pada Anak

Cukup terlambat saya menonton film ini ya. Memang baru hari ini, bisa membeli DVD filmnya, lalu menontonnya di laptop suami saya. Maklum, tivinya masih dipakai anak-anak untuk menonton film kartun.

Gaung EPL ini, sejak mula bukunya yang super best seller sudah saya lihat di Oprah Show. Termasuk mengulas filmnya. Sungguh ingin sekali saya menonton filmnya dan membaca bukunya. Dan kali ini masih kesampaian menonton filmnya. Belum bukunya.

Kenapa saya terlambat menontonnya? aneh ya, bukannya di bioskop film ini sudah dirilis sejak lama. Karena ya begitulah, kami sekeluarga kok ya belum jodoh untuk pergi ke bioskop bersama-sama dan nonton film. Suami saya lebih suka suasana nonton film di rumah dengan DVD. He's 1000% family-man :-D

Baiklah lanjut di dalam film ini, sudah saya duga, saya akan mendapatkan pencerahan di dalamnya seperti yang dibahas di acaranya Oprah. Hanya saya tidak menyangka jika pencerahannya akan seterang ini.

Kisah yang berawal dari kegalauan seorang wanita bernama Liz, diperankan oleh Julia Robert. Yang merasa kehilangan dirinya sendiri sampai pada puncaknya mengakhiri pernikahannya. Percakapan antara Liz dengan sahabatnya yang sudah mempunyai anak, memberikan pencerahan pertama.

Percakapan menarik ada di kamar ketika adegan mengganti popok si bayi sahabatnya itu. Liz mendesah bahwa punya anak terlihat susah. Lalu sahabatnya menyangkalnya dan mengatakan, "ini sangat menyenangkan". Lalu dia membuka rahasia sejak sebelum dia menikah yang ada di sebuah kotak kertas di bawah tempat tidurnya. Liz mengambil kotak itu dan takjub melihat beberapa baju bayi, sepatu bayi dan perlengkapan bayi tersimpan di sana. Sahabatnya Liz telah mengangankan untuk mempunyai bayi sejak lama, sejak sebelum menikah. Dia baru menunjukkan isi kotak itu kepada suaminya ketika suaminya siap mempunyai anak.

Liz mengerutkan dahinya dan menghela nafas lebih berat. lalu berkata, "aku juga punya kotak seperti itu. hanya isinya adalah National Geographic dan catatan negara-negara yang ingin kudatangi sebelum aku meninggal".

Sahabat Liz menatap lurus dalam di mata Liz, dan berkata ,"mempunyai anak seperti memasang tato di dahimu. Ini membutuhkan komitmen yang sangat besar". Dia menunjukkan betapa mempunyai anak harus disertai kesiapan dan tanpa keraguan.

Betapa besar komitmen yang diperlukan, saya sangat setuju. Walau tidak semua pasangan benar-benar siap dan mengerti sebesar apa komitmen yang harus diberikan ketika mereka dikaruniai buah hati.

Seperti halnya saya sendiri. Saya menikah muda sekali jika dibanding dengan mayoritas perempuan jaman sekarang. Umur dua puluhan saya sudah menikah. Ketika sedang mengerjakan skripsi dan alhamdulillah bisa langsung lulus. Kemudian hamil ketika sudah diterima di sebuah institusi penelitian negara  di Bandung.

Dari segi kesiapan, bisa dipastikan saya tidak siap sama sekali. Ketika sidang sarjana, dosen penguji ada yang berkata, "saya bangga dengan kamu karena sekarang sudah diterima bekerja sebagai peneliti. Faktor tunggumu NOL". Dan disambut anggukan bangga oleh dosen pembimbing saya. Bangga sekali saat itu. Sudah punya suami. Sudah lulus. Sudah punya pekerjaan.

Namun tepat tiga bulan setelah menikah, saya sudah ada tanda hamil. Sungguh tidak siap. Namun saya dan suami berdiskusi begitu intensif. Untuk memutuskan apakah kami tetap di Bandung atau kembali ke Surabaya.

Bisa saja saya bersikeras mempertahankan pekerjaan saya dan kemungkinan karir yang begitu saya impikan sebagai peneliti. Namun kecemasan tentang keadaan anak saya nanti, jika saya berkutat di laboratorium dengan beberapa zat yang karsinogenik (pencetus kanker), membuat saya memutuskan untuk mengundurkan diri.

Saya dan suami memutuskan kembali ke Surabaya. Tempat kelahiran saya, dimana ada orang tua, saudara lengkap disana. Sementara jika di Bandung, saya tidak punya saudara satu pun. Hamil anak pertama tanpa saudara dan jauh dari suami, akan sangat beresiko. Kami sepakat memberikan peluang pada suami untuk melanjutkan studinya lagi.

Inilah gambaran besarnya komitmen pada anak. Selain sebagai buah hati, juga amanah yang butuh tanggung jawab yang luar biasa besarnya. Dan tidak mudah menjalaninya, bahkan sampai sekarang.  Semoga ALLOH SWT memudahkan kami. Amiin.


You know it's true
Everything I do
I do it for you
my sons

3 comments:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊