Kisah Anakku ketika Terserang Demam Berdarah

Saya pikir semua pasien dengan hasil tes Anti Dengue positif, wajib di rawat inap, berapapun jumlah trombositnya. Ternyata tidak juga. Seorang teman alumni mengabarkan di fesbuk, bahwa anaknya juga terkena DB, namun dirawat di rumah saja karena trombositnya masih 125ribu.

Wow, saya benar-benar kaget. Trombosit Aldo waktu pertama di tes darah masih 250 ribu, malah jauh diatasnya. Dan tanpa pikir panjang, saya dan suami memutuskan untuk rawat inap. Karena kondisi Aldo waktu itu begitu lemas, demam tinggi, mata merah, badan linu semua dan perutnya sakit. Dia tampak sangat kepanasan dan kehausan. Beberapa kali dia menggigil ketika di rumah dan ketika sedang antri periksa dokter anak.

Tetapi setelah diinfus, Aldo tidak menggigil sama sekali.

Di hari pertama opname, Aldo masih mengalami demam dan mengeluh sakit perut serta kaki pegal sekali. Demamnya sampai 38 derajat. Menurut dokter, periode yang harus dialami penderita DB antara lain demam naik turun, trombosit menurun jadi lemas, sakit perut karena ada pembesaran limpa, rasa sesak di dada, kaki yang linu terutama tungkai kaki. Dan itu semua tidak bisa dihilangkan atau dicegah. Untuk mengurangi rasa sakitnya, dianjurkan untuk minum sebanyak-banyaknya dan pipis sesering mungkin. Minum apa saja boleh, air putih, susu, jus dan sebagainya.

Saya pun memberikan air putih sebanyak-banyaknya, apalagi Aldo pun seperti orang yang selalu kehausan. Sekali minum bisa habis satu botol. Dan saya pun bolak-balik ke kamar mandi untuk mengambilkan pispot.

Di rumah sakit ini, ada mesin pengatur laju cairan infus. Yang dipasang ditiang gantungan infusnya. Akan repot sekali jika harus ke kamar mandi dan menarik tiang beserta mesinnya. Untung saja di setiap ranjang, ada korden besar memutar sehingga bisa ditarik menutupi kami dari pasien lain. Kami tinggal di kamar berisi dua pasien.

Dan begitulah, suka dukanya jika sekamar bergabung dengan pasien lain. Jika usia pasiennya sama, tidak ada masalah berarti. Tapi teman sekamar kami balita semua. Kebayang betapa rewelnya mereka. Belum bisa bicara jadi hanya menangis dan menangis saja. Saya harus menjaga Aldo agar tidak terbangun karena tangisnya. Sempat saya begitu gusar, karena menurut saya ibunya pasien kecil itu tidak berbuat apa-apa untuk menentramkan anaknya. Jadi si anak dibiarkan begitu saja dipegang sang baby sitter, yang galaknya dan kerasnya suaranya itu. Suara bersahut-sahutan, balita menangis, baby sitter marah-marah melarang si kecil menarik selang infus, membenturkan kepalanya sendiri atau menyuruhnya makan. Howala cobaaan bener.

Di hari ketiga, kaki Aldo mulai tidak terasa pegal. Namun diganti dengan rasa gatal yang luar biasa di telapak kaki dan telapak tangan. Dan itu sangat parah di malam hari, sampai Aldo tidak bisa tidur. Saya bantu menggaruk pun, ketika dia sudah tertidur, maka akan mendadak terbangun lagi dan menggosok-gosokkan kakinya ke kasur berulang kali untuk mengatasi gatalnya. Saya tidak bisa bantu apa-apa. Hanya meenyuruhnya memaksakan diri terpejam dan tidur supaya gatalnya tidak terasa.

Ketika hal ini saya sampaikan pada dokter, katanya itu adalah tanda mau sembuh. Biasanya akan tampak bintik merah, seperti di awal. Tetapi karena kulit Aldo coklat gelap banget, jadi bintik merah nggak kelihatan sama sekali. Terlihat sedikit seperti ruam merah di telapak kaki dan tangannya. Semakin hari rasa gatal berkurang, Aldo pun tidak demam sama sekali. Nafsu makan mulai membaik. Tetapi trombositnya masih cenderung turun. Di hari kelima pun belum naik. Saya mulai gelisah dan panik.

Sudah lewat lima hari meninggalkan rumah dan anak saya yang kedua, membuat saya jadi supermelow biasanya. Tiap malam tidak bisa tidur kangen adiknya, si Aji. Kadang tanpa disangka dia menelpon pakai HP neneknya. Saya semakin tidak bisa tidur.

Maunya saya ya, karena sudah tidak demam, dan sakit perut, kaki dan tidak gatal, bisa dilanjutkan rawat jalan di rumah saja. Tetapi dokter bersikeras tidak mau. Saya sempat kecewa. Namun akhirnya sadar juga, daripada memaksa tetapi di rumah jadi drop, siapa tahu kan ? ya lebih baik mencegah hal buruk. Kami pun menurut.

Untuk mengangkat jumlah trombosit, kami gelontor Aldo dengan Sari Kurma dan makan apa saja terutama daging. Eh besoknya masih juga belum naik, hanya tetap. Namun alhamdulillah, nilai tetap itu pun dikasih ijin untuk pulang.

Kami pun meninggalkan rumah sakit, di hari ketujuh. Tepat prediksi dokternya, bahwa DB biasanya punya fase 7  hari mulai terdeteksi panas sampai sembuh.

Kali ini kami berkomitmen penuh untuk lebih menjaga kesehatan. Anak-anak pun makin nurut karena tahu rasanya tidak enak di infus, diambil darah setiap hari dan makan makanan rumah sakit yang rasanya cuma bawang itu :D

Salam sehat semua.


Tambahan :
sepulang dari RS, tetangga dan saudara langsung ribet masalah fogging. Namun setelah bicara dengan bidan tetangga yang diberi tugas mengatasi wabah DB oleh ibu walikota. Fogging bisa tidak efektif, karena hanya membunuh nyamuk dewasa bukan jentik nyamuk. Bahan bakarnya solar juga beracun.
Yang lebih efektif adalah membersihkan sendiri Berantas Sarang Nyamuk, di rumah dan lingkungan sekitar. Bak mandi harus disikat sebersih mungkin, disabun, tidak hanya dibilas. Di setiap celah yang mungkin ada timbunan air dan berlumut, itu bisa dijadikan jentik nyamuk bersembunyi.

maka, kami lebih baik begitu. Di rumah dibersihkan sebaik mungkin. Saya rutin fogging sendiri sudut rumah dengan penyemprot nyamuk. Lalu anak-anak setiap selesai mandi, memakai lotion anti nyamuk khusus untuk anak. Yang merk Autan lebih soft dan tidak panas di kulit.

Begitulah, semoga bermanfaat

2 comments:

  1. berbagi info dg pembaca blog ini, jika anak terkena dbd bisa mengkonsumsi rebusan daun jambu atau susu powermix untuk menaikkan trombosit

    BalasHapus
  2. Waduh kasian banged mba :( semoga nanti anakku bisa terhindar dari penyakit ginian..

    game offline android | game android one piece | game horor android | game adventure petualangan

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊