Fashion No Mention

Sebel nggak sih?
Jika...
Beberapa kali kumpul ibu-ibu, ada yang suka melototin kita dari ujung kepala sampai ujung kaki. Lalu dia mendekat pada kita, dan berbisik,

                      "nggak pantes banget sih jilbabnya"
"wajahnya nggak dirawat ya? kusem banget"
"pakai nih krim saya. jadinya alus dan mengkilat. nggak perlu pake bedak Jeng"
"aduh gede banget sih bempernya. Nggak pernah ngaca ya?"
"itu roknya beli dimana? pas banget ya sama gedenya badan"

Saya nih, yang dari muda nggak peduli-peduli amat sama penampilan, kok ya lama-lama sebel juga mendengar hal itu ya?

Jaman saya masih merantau dan sekolah jauh dari rumah itu, saya nggak menyediakan waktu buat mikiran fashion sama sekali. Kecuali  malah berusaha tampak gagah, macho, berani dan kuat. Tujuannya sih agar saya nggak diganggu siapapun jika di stasiun, di kereta api berjam-jam atau harus pulang jalan kaki dari kampus ke tempat kos di tengah malam.

credit
Celana jins longgar, kaos, jaket kampus, jilbab kaos, sepatu kets atau sandal. Sudah itulah senjata andalan. Make up paling banter bedak dan pelembab. Yang penting cuma, aku nggak bau badan dan bau mulut gitu aja deh, aman.

Nah, jaman itu jadi tomboi masih aman-aman saja. Atau lingkunganku mendukung juga ya?
Sekarang mulai membuka diri bergaul dengan ibu-ibu sekitar rumah, sekolahan dan sekitarnya kenapa malah saya jadi makin terintimidasi ya rasanya?

Makin terancam oleh ulah Fashion.
Jadi salting jika kumpul-kumpul. Takut dibilang nggak matching. Takut kelihatan gendut. "aduh jilbabku berlebihan gak ya? atau aduh salah kostum nih." 

Perasaan yang muncul ini bikin saya sebel juga pada diri sendiri.
"Kemana jiwaku yang merdeka dalam balutan celana jins belelku itu?'
begitulah kira-kira teriakan dalam hatiku.

Tetapi jika saya bertahan cuek beibeh juga kasihan sama suami saya. Mosok istrinya acakadut gitu sih? kayak nggak dikasih nafkah aja, kayak nggak diurus.

Akhirnya saya mulai menerima kenyataan bahwa berdandan adalah kebutuhan perempuan. Saya mulai merawat diri. Memperhatikan baju dan kebutuhan pakaian lainnya. Iya, saya juga merasakan ada energi positif juga pada self esteem dan self confidence saya dalam bergaul atau tampil keluar.
Tapi rasa terintimidasi itu belum hilang juga.

sebagai kebalikannya adalah seperti ini,
saya punya kenalan beberapa dosen perempuan. Bidang Kimia dan Matematika. Mbak-mbak ini [begitu saya memanggilanya, pakai mbak bukan ibu], konsisten banget dalam berpakaian. Kalau dari modelnya ya juadul banget. Bahkan jarang ganti baju. Artinya sering ketemu pakai baju yang sama. Tetapi kepintaran mereka luar biasa. Apalagi kebaikan hati mereka, sudah pantas jadi penghuni surga deh pokoknya. Mereka mending spend money buat mahasiswanya yang butuh uang penelitian daripada beli baju, gitu deh kasarannya.

I adore them so much. Saya sangat memuja mereka. Dan saya yakin di lingkungan kampus, mereka tidak akan menerima bentuk intimidasi fashion seperti yang saya alami di dunia ibu rumah tangga. Mereka dihargai di lingkungan yang mendukungnya itu. 

Memang sih, tidak semua ibu rumah tangga begitu. Hanya terkotak pada lomba update fashion semata. Unluckily lingkungan dekat saya begitu. Menghargai orang dari bajunya, tas-nya, sandalnya dan apalagi mobil dan rumahnya. 

Walau begitu saya juga pernah mengendalikan sebuah bisnis fashion kecil-kecilan : Jilbab Orin. Sebuah keajaiban atau campur tangan Alloh SWT juga kali ya, untuk membuat  saya nggak tomboi terus seumur hidup. Sedikit care sama kecantikan gitulah. Dan memang berhasil juga, saya sedikit ngeh tentang fashion.

Namun terus terang, jujur. Saya tersiksa sekali berbisnis di bidang fashion. Rasanya saya telat terus. Kuper terus. jadul terus. Dan ketinggalan jaman terus mengikuti putaran dunia fashion yang cepatnya minta ampun itu. Dan saya paling nggak nyaman kudu berdandan sesuai trend masa kini. jadinya saya nggak bisa jadi manekin berjalan untuk bisnis fashion saya itu. lama-lama saya menyerah deh. Fashion is not my passion. 

Sebenarnya ibu saya, keluarga saya, bahkan bapak saya itu suka berdandan. Suka tampil rapi, modis dan trendi. Cuma saya aja yang nggak. Dari kecil lebih tenggelam di buku-buku. 

Akhirnya saya mau ambil jalan tengah saja deh dari per-fashionan ini. Saya tetap akan meningkatkan diri untuk tampil lebih rapi dan pantas. Namun dengan gaya yang sederhana dan pilihan baju yang abadi sepanjang masa. 

karena saya nggak mau repot update fashion. Saya mau lebih meluangkan waktu untuk hal lain. Saya nggak sanggup tampil lebih cantik lebih cantik versi banyak orang.

Hhhh maaf ya ibu-ibu di lingkungan rumah saya. Saya terpaksa menjauh untuk menjaga energi positif diri saya sendiri. :DD

do you ever feel the same, woman ? 

Officeless Not Jobless

Blogwalking ke "rumahnya" mbak Dina Begum (@dinabegum) membuat saya melek rasa. Mbak Dina adalah penerjemah. Cerita beliau tentang awal karirnya sebagai penerjemah membuat saya terinspirasi, bahwa ketekunan pasti membuahkan hasil.

Yang paliing menarik adalah satu foto di sudut bawah blog. Foto mbak Dina sedang memakai laptopnya di meja teras Starbuck. Dibawah meja itu ada tulisan "Officeless Not Jobless".

Kalimat itu kereeen sekali. Dan sepertinya itulah keinginan saya selama ini. Officeless [gak ada kantor tetap] not Jobless [bukan pengangguran, artinya berpenghasilan]. Dan benar, begitulah mbak Dina.

Sebelumnya, saya dan suami sepakat memutuskan, bahwa saya berkarya dari dalam rumah saja. Kenyataannya pun benar-benar dari rumah saja. Di dalam rumah. Tidak kemana-mana kecuali ngantar jemput anak atau belanja dan ke ATM. Tidak ketemu teman. Jarang sekali ngobrol sama tetangga karena menghindari go-syip yang tak habis-habis. Begitulah, setelah rumah sepi, pada berangkat semua. Mulailah menyalakan tivi sebagai teman dan laptop untuk berkarya itu tadi.

Lama-lama menjalani hari-hari seperti ini menghadirkan kejenuhan yang luar biasa. Benar-benar luar biasa efek negatif kejenuhan ini ya. Walaupun sudah berusaha keras menghadirkan penentram hati, bahwa yang saya lakoni ini sungguh mulia, tetapi saja rasa jenuh itu mendera.

Kadang saya ingin seminggu sekali, atau sebulan sekali bertemu dengan teman baru dan belajar hal baru. Sempat saya lakukan dua kali saja di sebuah komunitas handycraft. Itu senangnya minta ampun. Tetapi akhirnya harus terkendala lagi, karena ketika weekend, suami saya pengen istirohat di rumah saja. Atau malah dia keluar kota. Kendalanya saya tidak bisa nitipkan anak-anak jika saya tinggal sekaligus tidak bisa mengajak mereka ke tempat pertemuan handycraft.

Hal ini lanjut terus sampai saya pun tidak mengindahkan lagi adanya seminar, workshop dan lain sebagainya. Dan itu cukup menyebalkan, karena saya suka sekali ada di suasana "belajar" seperti itu.

Memang sih ini juga proses. Pertama proses menunggu saya sampai anak-anak cukup gede untuk ditinggal. Dan proses lainnya sehingga suami, keluarga bisa nyaman ketika saya pergi sendirian tanpa mereka. Saya pun tenang meninggalkan mereka tanpa rasa cemas, kikuk, panik atau merasa bersalah. Ini proses.

Makanya saya sempat irii banget pada seorang makpon KEB yang bercerita tentang acaranya di seminar blogger atau lainnya, sampai terbang kemana-mana. Pikir saya, kok suaminya ngijinin ya pergi kemana-mana sendirian hanya untuk komunitas "blogger" ?

Yah, saya sadar diri juga, ada yang perlu dibenahi dalam keluarga kecil saya ini biar tidak melulu ada di dalam kotak. Begitulah, saya di masa kecil dilarang main hanya boleh belajar atau tidur dan saya nurut. Dan suami saya lebih parah lagi, tidak suka main dan hanya suka belajar di pesantren atau di rumah.

Dulu saya enjoy saja belajar di dalam rumah, lebih banyak berteman dengan buku. Tidak banyak teman nyata, tidak masalah. Tetapi kok ya ada perubahan yang signifikan ketika saya sudah berumahtangga dan mungkin karena memilih tinggal di rumah saja.

Saya merasa butuh sekali teman. Terutama teman yang nyambung diajak bicara dan suka mengajak saya belajar hal baru atau lebih produktif dan kreatif. Teman di dunia maya, tidaklah cukup juga rasanya. Karena sering terbatas oleh jumlah karakter dan waktu luang untuk online.

Maka ketika bertemu emak-emak di KEB, sungguh terinspirasi sekali. Dan walaupun semula saya iri dengki terhadap mereka, hehehe, tetapi akhirnya saya bisa yakin kalau saya bisa juga seperti mereka.

credit
Pagi, setelah rumah sepi, saya ke tempat senam. Lalu berolahraga bersama teman. Pulang dari sana, kami mampir ke toko donat dan kopi terdekat, ngobrol sebentar. Lalu teman saya pulang. Saya tetap tinggal disana, dan aktif dengan laptop saya. Dan bisa berpenghasilan dari laptop itu. Mengetukkan jari di keyboard sambil menyeruput kopi dan menggigit donat manis. Minumnya, makannya dikit-dikit aja, biar awet, hemat, hahaha.

Lalu alarm hp berbunyi. Waktunya saya menjemput anak-anak. Jika saya perginya naik mobil, maka waktu menunggu mereka keluar sekolahan bisa dipakai dengan buka laptop lagi di mobil. Atau jika sedang bosan laptop juga, saya bisa membuka alat-alat handycraft saya.

Dan begitulah, menjadi Officeless, bisa pergi kemana-mana dan bekerja di tempat-tempat yang baru, pasti asik sekali rasanya.

Ah, semoga bisa. Minimal, beberapa bulan lagi, in sya Alloh, di pelataran kampus atau di perpus, saya bisa asik berlaptop ria dan makin produktif ketika menunggu jam kuliah di mulai.

Namun, jika Alloh SWT menghendaki hal lain, atau ga jadi kuliah. Saya sudah siap dengan gaya baru hidup saya, biar tidak monoton, tidak bosan dan tidak lagi menyalahkan istilah menjadi ibu rumah tangga yang di dalam rumah saja. #ayobelajarnyetirmobillagi :D

Bismillah, semoga Alloh SWT memudahkan niat ini. Amiin.

Eehh, bu Oling Mau Kuliah Lagi, Lho !!!

> "mbak, ngapain sih sekarang nggak pernah ngaji? bisnis baru ya?"

Bu Oling, nyengir saja. Setengah mati menahan diri untuk tidak bercerita kepada banyak orang sebelum rencananya resmi dijalankan.

> "mbak, besok kumpul-kumpul ya di rumah bu Rugi", ajak seorang ibu-ibu.

Bu Oling salah tingkah, "aduh maaf, nggak bisa mbak."

> "kenapa sih?"

Bu Oling menjawab, "anu.aku ada yang dikerjakan"

> "pesenan bros ta? duh sibuk bisnis aja sih. Nyari duit melulu"

Bu Oling nyengir palsu, hehehe.

# "Monggo ibu-ibu, kita akhiri pengajian ini dengan berdo'a. Semoga yang punya hajat bisa terlaksana. Bu Oling yang mau kuliah lagi, semoga lancar dan diberi kesabaran."

amiinn... suara guru mengaji membuat hati bu Oling tenang dan besar. Didoakan tentu senang.
setelah mendongak, bu Oling menyadari tatapan mata teman-temannya sesama ibu-ibu sedikit berubah. Serius, hanya satu orang yang nyengir lebar dan gembira mendengar rencananya ini disebutkan oleh sang guru. Hati bu Oling menjadi ciut kembali.

> "ngapain sih mau kuliah lagi? pengen kerja ya? pengen kerja ya?"

Sekali lagi bu Oling hanya nyengir palsu.

Hadeeh, susah banget ya dapat dukungan tulus dari manusia di dunia nyata.

60 juta

"Eh prend, kan udah haji yak kemarin. Tolong do'ain ya, gue mau kuliah lagi nih. Do'anya pak Haji kan makbul tuh"

> "Ha?? elu mau kuliah lagi?"
>" eh, mikir dua kali deh Ling. Nggak sayang lu lepas jualan lu. Ini agenku ya, kemarin udah berhasil punya omset 60 juta pake belagak kuliah lagi segala. Sekarang bisnisnya berantakan"

[bu Oling diam]
Dia menyesal sekali memberitahukan rencana ini pada mantan teman kuliahnya dulu.
"Aduuh ngapain siih diriku ini... sesumbar kesana kemari kalau mau kuliah lagi. Wong daftar aja belum."

Tapi sebenarnya bu Oling ingin sekali menjawab kepada temannya itu,
"apa salahnya aku kuliah lagi, bro?"
"misalnya saja nih, yang punya niat ini istrimu, adik perempuanmu atau anak perempuanmu kelak. Apa akan kau jawab hal yang sama?"

Kalimat itu hanya di dalam hati bu Oling, tidak tersampaikan. Karena dia memilih mematikan nada dering handphonenya, lalu memaksa untuk tidur.

Ini adalah terakhir kalinya, aku meminta do'a dan motivasi dari teman, saudara, tetangga atau siapapun yang kukenal dan kuanggap lebih manjur doanya, lebih bisa memberiku motivasi.

Sejak detik ini, biar aku berdoa sendiri, hanya meminta doa pada suami dan orang tuaku serta mertuaku. Dan tidak minta motivasi kepada siapapun lagi karena sesungguhnya yang bisa memotivasiku adalah diriku sendiri.

Begitu tekad bu Oling


Bu Oling Mau Kuliah Lagi

"ngapain kuliah lagi?"
"mau ambil apa?"

> "ambil kimia lagi kayak dulu, mas"

"halah ngapain. ambil pendidikan guru aja, sekarang guru SMA gajinya besar. enak"

glek.

>"tapi. kayaknya aku ingin belajar biokimia lagi deh mas. kalau SMA kan cuma kimia dasar"

"tujuanmu kuliah itu apa?!"
"kuliah kok dijadikan hobi !"

grrr... seisi ruangan tertawa.

Bu Oling menghembuskan nafas kuat-kuat, mengendalikan emosinya. Lalu dengan terbata dia menjawab, "mmm...sebenarnya menekuni kimia sudah cita-cita dan keinginan sejak SMA. Pas lulus kuliah juga, sebenarnya sudah diterima jadi peneliti. Laluu..yaa...setelah menikah ya prioritas ke anak-anak dulu. Nah sekarang mereka sudah besar. Saya dan suami sepakat, saya kuliah lagi, moga-moga bisa jadi dosen atau peneliti atau kedua-duanya."

Hffhhh nafas bu Oling dihembuskan kuat-kuat. Ingin sekali dia menggenggam erat tangan suaminya yang duduk disampingnya. Tapi itu tampaknya nanti terlalu lebay.


Bu Oling menutup mata sejenak saja, tapi kelibatan beberapa peristiwa malah muncul dengan cepat. Jelas sekali, ya kalimatnya, ruangannya.

"Eh...kemarin itu kamu kuliah ta? kirain ke Bandung cuma mau nyari suami"

"Aduh, jangan kawin dulu anakmu itu. Sekolah saja terus sampai S3. Jangan niru tantenya, sekolah jauh-jauh cuma jadi ibu rumah tangga. Momong anak."

"Ini anak saya. Iya mulai usaha pengetikan kecil-kecilan. Sebenarnya lulusan ITB. Tapi sekarang hamil, yaa nanti momong anak saja jadinya"

"Aduh mbak, lulusan ITB? kok jadi ibu rumah tangga? sayang banget. Mbok bikin les bimbel gitu loh."

"bikin ayam goreng aja gak bener. Katanya pinter. Sarjana ITB. halaahhh...."


aisss...dah, bu Oling memukul kepalanya sendiri.

credit






UNAS SD Dihapus

Kemarin menulis keresahan akan begitu hebohnya hal yang terjadi akibat UNAS alias UN alias Ujian Nasional. Hari ini dari koran Jawa Pos kemarin, Rabu15 Mei 2013, terpampang di headline paling atas. Ujian Nasional SD Resmi Dihapus.

Subhanallah.
Nggak nyangka juga saya, kalau keputusan untuk menghapus UNAS khusus SD ini cepat juga. Sudah resmi pula, sampai disebutkan nomer keputusannya atau PP-nya.

Karena, tema Ujian Nasional ini sudah bertahun-tahun lamanya. Dan seperti biasanya akan berulang-ulang saja seperti itu. Kembali menjadi masalah. Tetapi rupanya sekarang lain. Mungkin juga ini adalah akumulasi dari perjuangan tak henti-henti para guru, wali murid, murid dan pemerhati pendidikan yang menganalisa bahwa ujian nasional sekarang ini begitu tidak efektifnya di dunia pendidikan di Indonesia.

Di Jawa Pos itu disebutkan bahwa penghapusan ujian nasional untuk SD ini dikarenakan agar sesuai dengan kurikulum baru 2013 yang akan diterapkan. Kalau tidak salah, kurikulum tematik terintegrasi. Yang mengandung pengurangan mata pelajaran dan penggabungan beberapa mata pelajaran.

Nah, bicara kurikulum nanti akan ada masalah lagi, pastinya.
Bahkan ilmuwan Indonesia, Yohanes Surya sangat resah dengan kurikulum baru ini. Beliau resah karena adanya penggabungan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan IPA.

Prof-Yos ini tidak setuju karena banyak sekali materi IPA yang dikurangi karena penggabungan ini. Dan karena beliau sangat memperhatikan dunia sains, IPA dan teknologi maka jika materi IPA berkurang itu seperti bencana alam yang direncanakan.

Kalau saya pikir juga begini, IPA digabung dengan Bahasa Indonesia...
Bagaimana dengan nilai SASTRA dari Bahasa Indonesia ?
Apakah bisa bernilai seni sebuah kalimat atau paragraf jika dipakai untuk menggambarkan pelajaran IPA?

Dan bagaimana dengan IPA?
apa bisa diungkapkan dengan kalimat yang panjang, berbunga-bunga seperti sastra?
bukankan IPA butuh kalimat yang tegas, jelas dan langsung ke tujuan?

Ah, sudahlah, kembali ke prinsip awal.
Yang penting adalah menuntut ilmu, mencari ilmu, belajar. Bagaimanapun negara ini mengatur para murid untuk belajar di sekolah. Kita, orang tua, bisa menambal kekurangannya atau menyediakan alternatif lainnya di rumah. Asal orang tuanya mau berlelah-lelah untuk kembali belajar lagi bersama anak-anaknya di rumah.

Pokoknya sekolah tidak diremehkan. Mencari ilmu tidak dianggap buang-buang waktu tetapi bernilai ibadah tinggi. Maka jika nilai ini diyakini dan dilaksanakan seluruh anggota keluarga, maka betapa dinamisnya dunia pendidikan di Indonesia ini nantinya, tidak akan terlalu berpengaruh.

Bagaimana menurut anda sahabat?

UNAS [kok] Bikin Panas dan Was-Was ?

credit
Masih ramai membicarakan UNAS alias Ujian Nasional. Yang sebenarnya sekarang disingkat UN.

Tetapi lidah orang Jawa, ya lebih enak menyebut UNAS sepertinya.

Ini dunia sekolah ada apa ya? saya yang wali murid jadi bingung sendiri.
Untuk istilah ujian saja, bermacam-macam. Ada UNAS, UN, USEK, UAS, UTS, UH.

Kalau jaman emak sekolah dulu kan cuma ada sedikit saja istilah dan itu tidak berganti-ganti. Yaitu Ulangan Harian, UTS, UAS, EBTA, EBTANAS, UMPTN. sudah beres.

Sekarang ini, singkatan dan nama ujian saja ababil berganti-ganti, apalagi isi ujiannya. Belum lagi pro dan kontranya yang heboh sekali di media massa.

Jika mendengar berita tentang UNAS ini saya sering berpikir, apa ini cuma kehebohan yang sengaja diciptakan di media. Supaya tivi itu laris, ratingnya tinggi, iklannya banyak. Atau untuk menjatuhkan lawan politik satu dengan lainnya, satu sekolah dengan sekolah lainnya, satu daerah dengan daerah lainnya, satu menteri dengan menteri lainnya, dan sebagainya.

Wong UNAS saja kok diributin to?
UNAS saja kok ditakutin dan dibikin tegang sebegitu rupanya oleh murid dan guru?
Memangnya apa sih UNAS ini?

Jika diingat lagi di masa lalu. Kan UNAS ini sama saja dengan EBTANAS di jaman dulu, iya kan?
Suatu bentuk Ujian tertulis di akhir masa sekolah, sebagai syarat lulus dan diterima di jenjang sekolah selanjutnya. Kan sama saja?

Apa UNAS sekarang jauh lebih hebat tingkat kesulitannya daripada EBTANAS?
atau sekarang malah murid dan gurunya sedikit berlebihan menganggap hal ini luar biasa?

Entahlah, celakanya saya bukan guru dan tidak punya kenalan guru yang bisa diajak sharing sebanyak-banyaknya tentang UNAS ini. Jika sharing dengan wali murid, yang muncul cuma heboh agar anaknya lulus UNAS saja.

Saya ingat jaman masih sekolah itu, tidak pernah pusing dengan hasil. Saya tidak takut sama sekali untuk gagal ujian. Saya tidak akan malu untk mengulang ujian lagi, jika kelak saya gagal. Karena satu hal yang menopang diri saya saat itu adalah, saya suka belajar

Karena saya suka belajar, suka mengerjakan soal dan malah lebih aneh lagi, saya suka sekali dengan suasana ujian, maka ujian ya seperti olahraga Bungee Jumping saja. Perlu dipersiapkan sebaik mungkin, lalu terjun walau ada resiko jatuh kebawah.

Karena saya hanya fokus pada mempersiapkan diri, maka sejak pelajaran harian, UTS, UAS, itu pun saya lakukan dengan sungguh-sungguh. Setiap ujian adalah cara untuk mengukur diri saya, pelajaran mana yang sudah saya kuasai, mana yang tidak. Jika di UTS, matematika saya nilainya 6. Maka saya genjot lagi belajar matematika lebih banyak, supaya di UAS saya lebih bagus nilainya.

Juga ketika jaman EBTANAS. Dulu teman-teman saya masih SMA suka meremehkan ujian ini. Karena dulu sepertinya ya, semua pasti lulus berapapun nilai EBTANAS-nya. Tapi saya tidak menghiraukan hal itu. Ketika EBTANAS saya forsir betul diri sendiri untuk mengerjakan aneka soal latihan bahkan soal-soal latihan untuk UMPTN [jika ingat ada buku kumpulan soal tebal bersampul oranye]. Dengan asumsi saya waktu itu, jika EBTANAS saya sudah siap dan nilai saya bagus. Artinya saya sudah siap minimal 70% untuk lolos UMPTN.

Keberanian dan optimisme saya itu muncul, karena usaha untuk belajar yang luar biasa kerasnya. Namanya tiada hari tanpa memegang buku. Usaha keras untuk tidak menonton televisi dan rela hanya ditemani radio. Berusaha agar bisa terus terjaga di malam hari, tidak mengantuk dan bisa terus belajar dengan makan rujak mangga yang kecutnya minta ampun. Dan lain sebagainya cara.

Yang saya pegang dengan susah payah memang adalah KEJUJURAN. Saya anti mencontek dan anti memberikan contekan. Walau teman mencibir saya sok suci dan sebagainya. Memang waktu itu dengan egois saya berpikir, "lah kok enak saja. Saya belajar mati-matian sendiri, kok kalian tinggal metik hasilnya dengan nyontek jawaban saya".

Nah, apakah saya jujur ketika lingkungan saya mendukung? tidak juga. Bahkan keluarga pun ada sedikit intrik-intrik ketidakjujuran kecil yang dilakukan, kadang-kadang dengan dalih demi anak, demi kami.

Entah itu saya dapat kekuatan dari mana. Mungkin kejenuhan menghadapi suasana dan orang yang tidak jujur. Dan begitu inginnya saya mendapatkan pertolongan dari Alloh SWT. Saya tahu betul diri saya nggak ada apa-apanya dari segi ibadah dan lain sebagainya. Tapi setidaknya, jika saya jujur maka Alloh SWT akan melihat saya. Dan jika belajar begitu keras, Alloh SWT akan mengasihani saya. Dan saya yakin, yang namanya pertolongan itu ya sesuai dengan usaha keras kita. Ya belajarnya, ya berdoanya.

Hal yang paling penting mungkin yang membuat saya begitu punya power adalah saya ini BERANI GAGAL. Memang sih ada deg-degan, cemas takut tidak lulus, memalukan orang tua, dan di bully sama saudara dan teman. Tetapi untuk mengatasi hal itu saya kerahkan segenap tenaga untuk belajar lebih banyak lagi. Bahkan lebih sering daripada teman-teman umumnya.

Misalnya seperti ini, ketika kelas 3 SMA saya di Jombang. Sendirian. Dalam arti keluarga besar saya ada di Surabaya. Ini karena sesuatu hal. Ibu saya ingin pindah ke tanah kelahiran di Jombang. Saya ikut. Dan ketika saya kelas 3 SMA, ibu memutuskan pindah kembali ke Surabaya.

Waktu itu karena ingin menjaga kualitas dan kuantitas saya dalam belajar dan berlatih mengerjakan soal, maka saya memilih ikut Bimbingan Belajar Reguler Luar kota di Surabaya. Ini ketika kelas 3 SMA. Jadi setiap hari Sabtu jam 2 siang, sepulang sekolah, saya langsung pulang ke rumah tante tempat saya menumpang. Lalu mandi, makan siang secepatnya, dan menyambar buku dan baju kemudian berangkat ke terminal bis. Saya naik bis ke Surabaya. Karena hari Sabtu, biasanya saya sampai ke Surabaya setelah maghrib.

Sampai di rumah saya di Surabaya sudah malam. Saya mandi lagi, makan malam dan belajar sedikit untuk persiapan pre-test di bimbel. Setelah itu besoknya pagi, saya diantar ke tempat bimbel. Saya belajar bimbel dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang. Selesai bimbel saya langsung naik bis menuju Jombang. Dan sekali lagi, saya sampai di Jombang sudah malam, lewat maghrib. Esok paginya, Senin, sudah mulai sekolah seperti biasa.

Hal ini saya lakukan selama satu tahun penuh. Tidak ada absen kecuali saya sakit atau acara keluarga yang penting sekali. Ketika Try Out atau aneka kuis dan tes lainnya, saya lakukan bersungguh-sungguh. Udah kayak gitu pun ada juga yang menyindir dan mem-bully. Biasanya anak-anak yang sekolah di Surabaya yang mencibir kami ketika belajar sebelum Try OUt. Kata mereka, "itu anak-anak luar kota. Belajarnya serius amat. Kayak mau UMPTN saja."

Lha? serius belajar , salah?

Ya begitulah, komentar miring selalu ada. Tapi fokus agar bisa lolos UMPTN membuat saya melupakan hal itu. Walaupun ingin sebenarnya maju menghampiri para komentator itu dan mengatakan, "hei mas, mbak. Aku iki arek asli Suroboyo. Sejak kecil sampai SMP, sekolah di sini. SMA aja yang diluar. Mbok jangan sok sombong gitu toh. Emangnya wong ndeso, nggak bisa lebih pinter dari sampeyan?!"

hahaha, tapi ini cuma adegan imajinatif. Saya milih diam saja dan kembali belajar.

Oke, inti dari semua ini. Menurut saya, jika setiap pribadi murid punya watak mau BELAJAR LEBIH KERAS dan TEKUN, BERANI GAGAL, BANYAK BERDOA, JUJUR

Maka kelak, mau ada UNAS kek, Ujian Nusantara kek. Ujian internasional kek. Ujian penyetaraan kek. Apapun namanya, ya SIAP saja. HADAPI saja.

Dan ketika murid yang sudah punya watak seperti ini, kelak jadi dewasa, lalu menikah dan punya anak. Maka juga sudah siap sedia. Tidak akan takut ketika anaknya ujian. Wong dari kecil mereka sudah biasa berusaha sekeras mungkin, iya kan?


"Bu, Sepertinya Anak Ibu Sudah Kecanduan Game"

"Pak Suhadi, mana yang lebih tepat. Anak-anak dibiarkan main game setiap hari tetapi dibatasi 2 jam saja. Atau dilarang main selain Sabtu dan Minggu. Kebetulan anak saya dua lelaki semua. Suka game. Saya kendalikan gamenya jenis apa. Tetapi saya belum bisa sama sekali memutuskan melarang mereka main game. Mereka jadi gelisah jika saya larang total. Bagaimana pak?"

Dengan singkat pertanyaan saya ini dijawab, "begini bu, sepertinya anak ibu kecanduan game. Jadi butuh terapi-terapi khusus oleh orang yang ahli."

"Lah!"
"Lho???!!!"

Saya tertegun dengan jawaban beliau.
Rasa bersalah menghujam saya dan menyurukkan saya tidak hanya jatuh di bawah kursi penonton. Melainkan tembus jauh sampai ke inti bumi.

Dihadapan puluhan peserta seminar ini anak saya langsung divonis kecanduan game. Dan secara tidak langsung saya bagai dituding sebagai ibu paling gagal mengendalikan anaknya terhadap game.


credit 
Benarkah?
Benarkah anakku kecanduan game?

Saya pun menghela nafas dan menentramkan hati. Tidak ada kesempatan untuk menjawab kembali dan meluruskan persoalan serta menjelaskan beberapa hal yang sudah saya lakukan selama ini terhadap anak-anak saya berkaitan dengan fenomena game ini.

Sungguh sebenarnya geregetan sekali. Ingin sekali merebut mik dari moderator, lalu menjelaskan panjang lebar. Sehingga diagnosa prematur tentang anak saya itu, bisa diluruskan dengan proporsional.

Saya mencoba menentramkan diri sendiri.
Pertama, tema pertanyaan saya tidak cocok dengan tema seminar yang mengangkat cara parenting umum. Kedua, waktu yang mepet sehingga pembicara memilih cara singkat saja untuk menjawab pertanyaan saya.

Puisi Semesta Suhadi Dan Dedaunan Dik Doank


Tahun Pertama,
Aku hidup di surga
Ada dua malaikat yang selalu mendampingiku dengan setia
Baru kutahu mereka bernama Mama dan Papa
.........

Puisi tentang anak di tahapan usianya, dibacakan oleh pak Suhadi Fajaray dengan baik sekali. Beberapa kali air mataku merebak di sudut-sudut mata saat mendengarnya. Beliau berkata, "puisi ini saya tulis dengan berlinang air mata". Oh, pantas saja. 

Puisi itu betul-betul bisa kunikmati. Mungkin karena pak Suhadi membuatnya dengan sepenuh hati dan membacanya dengan lebih tulus lagi. Awal seminar parenting dan pendidikan yang memasukkan unsur seni sastra di dalamnya, menarik minatku dan melepaskan dahagaku pada puisi yang telah lama kutinggalkan.

Kuatur posisi dudukku senyaman mungkin. Disampingku ada teman sesama wali murid TK dan adik kandungku serta anak sulungnya. Ya, kami bertiga sedang menjadi tamu undangan istimewa dengan kotak konsumsi berpita, pada acara Seminar Pendidikan Spektakuler. Menjadi Orang Tua dan Guru Cerdas untuk Membina Generasi Emas. Berlokasi di Aula Pondok Pesantren Daarul Muttaqien Surabaya.

Kami bertiga adalah calon wali murid SD Islam Terpadu Daarul Muttaqien Surabaya . Sebagai calon wali murid, kami diwajibkan datang di seminar ini agar kelak mempunyai visi dan misi pendidikan yang senada dengan konsep pendidikan di SDIT Daarul Muttaqien ini. 

Dua narasumber dihadirkan di acara ini, yaitu pak Suhadi Fajaray sebagai founder dari Visi Semesta Education System dan artis serta pemerhati pendidikan - Dik Doank dari Kandank Jurank Doank


Menunggu acara dimulai

Dibuka dengan Puisi Hom Pim Pa
dari santri SMP Islam Terpadu Daarul Muttaqien Surabaya

Puisinya keren banget. Kabarnya juara 3 [lupa dalam lomba apa]. 
Puisi Hom Pim Pa ini intinya bercerita tentang manusia yang selalu plin-plan, labil alias keimanannya naik turun. Selalu bingung ingin berbuat baik apa buruk. Dan untuk mudahnya mereka ber- Hom Pim Pa saja cara memutuskannya. Tidak memperdulikan bagaimana keputusan itu sesuai dengan kehendak Alloh SWT apa tidak. Menarik kan ?

Pembicara pertama adalah pak Suhadi Fadjaray. 

Saking semangatnya mendengar lantunan puisi beliau tentang anak, dan joke-joke segar yang menyindir kesalahan orang tua pada anak, atau istri pada suami dan sebaliknya, saya sampai tidak sempat memfotonya. Padahal saya duduk di baris ke dua dari depan. Tepat di hadapan beliau jika berdiri mendekat ke penonton.

Pak Suhadi menggunakan pendekatan Sirah Nabi Muhammad SAW beserta para keluarga dan sahabatnya di masa keemasan islam, untuk menjelaskan patokan dasar kurikulum keluarga. Dan kembali mengingatkan bahwa anak adalah amanah yang besar sekali dari Alloh SWT.

Akhirnya tibalah giliran si "om ganteng" Dik Doank muncul.

Orasi awalnya dengan menerangkan adanya Ilmu Bulan dan Ilmu Matahari.
Karena beliau adalah artis, tampilnya begitu nyeni, santai dan percaya diri. Ngena banget di hati peserta seminar. 

Dik Doank meminta KH. Achmad Sofwan Ilyas, LC owner Pondok Pesantren Daarul Muttaqien Surabaya , untuk menggambar ikan dari coretan yang beliau buat sebelumnya.

"Abah, di pondok ini tolong jangan tinggalkan seni. Karena seni membuat indah. Dan Alloh SWT suka dengan keindahan. Seni bisa melembutkan hati manusia"
itu pesan Dik Doank berkali-kali kepada kami.

Duo pemerhati umat yang menginspirasi karena keistikomahan dan keikhlasan mereka. Salut.