UNAS SD Dihapus

Kemarin menulis keresahan akan begitu hebohnya hal yang terjadi akibat UNAS alias UN alias Ujian Nasional. Hari ini dari koran Jawa Pos kemarin, Rabu15 Mei 2013, terpampang di headline paling atas. Ujian Nasional SD Resmi Dihapus.

Subhanallah.
Nggak nyangka juga saya, kalau keputusan untuk menghapus UNAS khusus SD ini cepat juga. Sudah resmi pula, sampai disebutkan nomer keputusannya atau PP-nya.

Karena, tema Ujian Nasional ini sudah bertahun-tahun lamanya. Dan seperti biasanya akan berulang-ulang saja seperti itu. Kembali menjadi masalah. Tetapi rupanya sekarang lain. Mungkin juga ini adalah akumulasi dari perjuangan tak henti-henti para guru, wali murid, murid dan pemerhati pendidikan yang menganalisa bahwa ujian nasional sekarang ini begitu tidak efektifnya di dunia pendidikan di Indonesia.

Di Jawa Pos itu disebutkan bahwa penghapusan ujian nasional untuk SD ini dikarenakan agar sesuai dengan kurikulum baru 2013 yang akan diterapkan. Kalau tidak salah, kurikulum tematik terintegrasi. Yang mengandung pengurangan mata pelajaran dan penggabungan beberapa mata pelajaran.

Nah, bicara kurikulum nanti akan ada masalah lagi, pastinya.
Bahkan ilmuwan Indonesia, Yohanes Surya sangat resah dengan kurikulum baru ini. Beliau resah karena adanya penggabungan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan IPA.

Prof-Yos ini tidak setuju karena banyak sekali materi IPA yang dikurangi karena penggabungan ini. Dan karena beliau sangat memperhatikan dunia sains, IPA dan teknologi maka jika materi IPA berkurang itu seperti bencana alam yang direncanakan.

Kalau saya pikir juga begini, IPA digabung dengan Bahasa Indonesia...
Bagaimana dengan nilai SASTRA dari Bahasa Indonesia ?
Apakah bisa bernilai seni sebuah kalimat atau paragraf jika dipakai untuk menggambarkan pelajaran IPA?

Dan bagaimana dengan IPA?
apa bisa diungkapkan dengan kalimat yang panjang, berbunga-bunga seperti sastra?
bukankan IPA butuh kalimat yang tegas, jelas dan langsung ke tujuan?

Ah, sudahlah, kembali ke prinsip awal.
Yang penting adalah menuntut ilmu, mencari ilmu, belajar. Bagaimanapun negara ini mengatur para murid untuk belajar di sekolah. Kita, orang tua, bisa menambal kekurangannya atau menyediakan alternatif lainnya di rumah. Asal orang tuanya mau berlelah-lelah untuk kembali belajar lagi bersama anak-anaknya di rumah.

Pokoknya sekolah tidak diremehkan. Mencari ilmu tidak dianggap buang-buang waktu tetapi bernilai ibadah tinggi. Maka jika nilai ini diyakini dan dilaksanakan seluruh anggota keluarga, maka betapa dinamisnya dunia pendidikan di Indonesia ini nantinya, tidak akan terlalu berpengaruh.

Bagaimana menurut anda sahabat?

5 comments:

  1. saya juga baru saja memposting metode ujian nasional yang saya anggap baik mbak..hehe..

    Semoga kedepannya pendidikan makin baik. Aamiin ^^

    BalasHapus
  2. syukur banget dihapus ... secara anakku tahun depan kelas 5 ... tapi eh tahun 2014 ganti menteri, jgn2 diadakan lagi nih ..

    BalasHapus
  3. Sebetulnya kalau masih SD jangan lah dibebani gitu ya kasian :D

    ujian nya kalau udah kualiah aja atau SMU :)

    BalasHapus
  4. cuman berdoa smoga sistem pendidikan di negara kita bs lebih baik..

    BalasHapus
  5. mbak Novia, Ide menerapkan di UT ya mbak, mungkin bisa diusulkan ya nanti.

    mbak Titin, mbak Hana, Mbak Nathalia : iya amin semoga saja, walau prosesnya panjang semoga pendidikan di Indonesia semakin nyaman untuk anak-anak dan sesuai dengan kondisi bangsa ini baik secara budaya, geografis dll.

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊