Mama, S1 saja ...

Entah sejak kapan, anak keduaku, Aji jadi penakut sekarang. Kemana-mana minta diantar. Pintu dapur harus ditutup. Mandi, BAK,BAB tidak mau sendirian. Dia akan teriak ketakutan jika tidak ada seorang pun yang ada di dekatnya. Padahal jaman dia masih umur 5 tahunan, berani sekali. Lah sekarang umur 7 tahun, mendadak jadi penakut.

Dengan alasan takut karena digoda kakaknya inilah juga, Aji selalu minta bapaknya atau saya tidur menemaninya. Seperti malam tadi, Aji masuk kamar saya dan tiduran diatas kasur saya.

"Kok tidur disini?" tegur saya. "Pengen tidur disini sama mama, mas Aldo nakal godain terus loh", begitu jawabnya.

"Ya udah tidur di sini dulu", sahut bapaknya kemudian.

Saya diam dan melanjutkan pekerjaan saya di depan laptop. Mengedit jawaban UTS mata kuliah Pembelajaran Mandiri yang akan saya email-kan ke dosen malam ini. Tak lupa juga menambahkan satu daftar pustaka yang relevan.

Aji memeluk guling dan bergerak gelisah. Beberapa kali mencoba menari perhatian saya, tapi saya respon sekedarnya saja. Saya tetap konsentrasi di laptop.

"Ma, mama lihat iniloh ma, tanganku bisa begini," kata Aji.
Saya jawab pelan, "he em", tanpa menoleh.

"Maa maa, ..." Aji mengulang lagi kalimatnya. Saya menoleh dan menjawab pelan, "oiya pinteer".

Aji terdiam, saya pikir dia sudah puas dengan jawaban saya. Ternyata tidak, setelah itu dia berkata seperti ini, "mama nggak usah S2 harusnya. S1 aja ma. Udah selesai". Begitu berulang-ulang.

Saya tidak menoleh, hanya merespon " emangnya kenapa?"

Aji menjawab, "soalnya mas itu nakal. Nggodain aku kalau mama nggak ada."

"Mm, waktu mama kuliah ta? Mas nggodain ta? Ya kalau gitu, besok kamu sama mas dititipkan ke Uti saja ya?"Jawabku tetep tanpa menoleh.

"Yawis, pokoknya aku bawa tablet ya ma" , jawab Aji.

"Iya," dan saya tetap fokus di laptop. Namun hati saya rasanya tertohok sekali lagi. Aduh, apalagi kendalaku untuk maju? Begitu saja yang terpikir.

Sore tadi saya membaca buku tulisan motivator terkenal se Asia, Adam Khoo. Buku berjudul I'm Gifted so Are You !.

Saya baca buku itu awalnya karena buku itu adalah bahan UTS matkul Teori Belajar. Setelah membaca sedikit saya tertarik sekali. Dan mirip juga sih dengan motivator lain, bahwa harus berani bercita-cita , bla..bla..bla

Saat sore itu saya merenung. Jadi emak-emak gini apa iya saya bisa bercita-cita? Apa iya ada perubahan nanti? Sedangkan gaya karakter suami dan anak-anakku, Njawani banget. Alias sosok laki-laki yang 90% harus dilayani,ditunggui,didampingi perempuan.

Apa iya saya bisa tembus ke luar Surabaya dalam pencapaian cita-cita saya? Bahkan bisa ke Jepang seperti yang sangat saya idam-idamkan?

Apa iya saya bisa? Wong masih awal S2 saja, anak protes gitu?

Bagaimana solusi ini? Saya terus merenung.

Apa iya tidak bisa?
Wong bu Sri Mulyani saja bisa kerja di Amerika. Padahal kan orang Jawa, iya kan?

Tugas UTS yang hampir beres jadi tertunda pengeditannya. Saya diam dan keluar kamar. Berpapasan dengan suami yang baru selesai mandi. Dia heran dengan perubahan raut wajah saya. Lalu bertanya, "ada apa ma, kok wajahnya gitu?"

"Baru dicurhatin sama anakmu".


Powered by Telkomsel BlackBerry®

2 comments:

  1. memang respon anak terhadap sugesti seseorang atau media itu selalu berbeda - beda

    BalasHapus
  2. iya sepertinya ketakutan karena media televisi dgn iklan film horornya. karena mereka tidak saya ijinkan menonton film tersebut

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊