Podcast Bu Heni

Anak Keduaku Sepertinya Bergaya Belajar Auditorial

2 komentar
Nama panggilannya Aji.
Ada kata Dirgantara di belakang namanya, itu sengaja kami lakukan untuk mengenang jasa perusahaan yang telah membesarkan dan memberi kesempatan bapaknya untuk kuliah lagi, yaitu PT. Dirgantara Indonesia atau IPTN (untuk nama lamanya) - tempat bapaknya Aji bekerja.

Aji, adalah anak kedua saya. Dia lahir prematur dengan adanya masalah pada alat pernafasannya. Yaitu diagnosa prematur dengan paru-paru kiri belum sempurna. Aji harus  ada di inkubator selama 14 hari. Ketika baru lahir, tubuh Aji beranjak berwarna biru dan nafasnya ngos-ngosan seperti orang habis lomba lari.

Alhamdulillah, akhirnya kami masih diberi  kepercayaan untuk mengasuh Aji sampai saat ini, dan semoga sampai masa terbaik kami nanti. Aji sekarang kelas 1 SD, umurnya 7 tahun. Dia sekolah di SD Islam Terpadu Daarul Muttaqien Surabaya. Lokasinya hanya 15 menit dari rumah kami.

Di sekolah ini, Aji mengalami hal yang istimewa. Istimewa menurut saya ibunya :)
Ketika masuk, ada tes menguji kemampuan calistung dasar Aji. Istimewanya Aji perlu ujian dua kali, karena dianggap mungkin untuk tes kedua, kondisi Aji lebih siap sehingga hasilnya lebih akurat.

Singkat cerita, kemampuan calistung Aji masih terkendala di dua hal yaitu kemampuan membaca dan menulis. Untuk matematika, malah menurut saya, dia maju dengan cepat dan dengan minatnya sendiri. Bahkan ketika masih TK, Aji bisa menghitung mundur dari angka 100 dengan benar, dan dari angka 10 dengan sangat cepat.

Kurangnya Aji membaca dan menulis ini terjadi sejak TK. Saya dan gurunya belum menemukan cara yang tepat agar Aji bisa menghafalkan huruf dengan sempurna dan bisa membaca. Tetapi karena pihak SD mengatakan sebelumnya hal ini tidak masalah, maka saya yakin memasukkan Aji disana. Tidak perlu tetap tinggal kelas di TK.

Dalam perjalanan sampai akhir semester, saya dan gurunya Aji masih mengamati adanya kesulitan Aji untuk membaca dan memahami bacaan. Walaupun dalam perjalanannya saya sudah berusaha memasukkan Aji ke sebuah bimbel baca, dengan harapan ada pengalaman baru yang memotivasinya dan membuatnya yakin bahwa di sebenarnya bisa membaca.

Dan prediksi saya itu benar. Hanya satu bulan saja di bimbel, sudah ada peningkatan yang signifikan untuk kemampuan membacanya. Aji pun menunjukkan minat untuk membaca apa saja, yang sebelumnya tidak muncul. Kami pun memberi apresiasi dengan memberikan hadiah berupa sepeda lipat yang sudah lama di idam-idamkan.

Kami pikir, dengan Aji mulai lancar dan suka membaca, masalah belajarnya di kelas terutama, akan selesai. Tapi ternyata belum. Gurunya Aji masih mengeluh bahwa AJi di kelas masih sering melamun, butuh bimbingan untuk mengerjakan soal dan sering menulis huruf yang terbalik.

Saya menjawab, kenapa bisa begitu? karena ketika di rumah, Aji belajar dengan saya lancar saja. Bisa mengerti dan mengerjakan soal. Tetapi ketika sampai di sekolah, Aji sering tidak bisa merespon keterangan gurunya, menjawab soal ujian paper-test.

Gurunya menambahkan, Aji bisa fokus dan merespon dengan baik jika berhadapan langsung dengan gurunya. Jadi diminta untuk duduk di depan gurunya, atau di samping gurunya. Intinya menjauh dari teman-temannya.

Saya sampaikan, di rumah juga begitu. Jika belajar menghadap buku, Aji tidak bisa jika seruangan dengan kakaknya. Maka saya pindah belajar membaca buku dan mengerjakan soal tertulis di kamar saya. Itu sukses. 

Ketika di rumah, saya tanyakan kepada Aji, kalau di kelas bagaimana?
intinya Aji menjawab, "di kelas kalau ramai, temanku ngomong-ngomong aku bingung"

Dengan jawaban Aji ini saya menduga, jangan-jangan gaya belajar Aji itu AUDITORIAL. Sangat berbeda dengan saya, bapaknya dan kakaknya. Kami bertiga sangat VISUAL. Kami suka membaca buku dan tidak terganggu dengan suara apapun.

Dengan begitu, saya coba mempraktekkan metode belajar yang lain pada Aji. Saya mengajaknya tebak-tebakan, membacakan materi belajarnya, lalu main cerdas cermat berebut menjawab dengan kakaknya. Kata Aji, cara ini membuatnya ingat. Tetapi ada kendala lain, yaitu untuk pelajaran bahasa Inggris dan bahasa Jawa. Karena keduanya berbeda tulisan dan cara membacanya. Aduh, tugas saya belum selesai.

 Dari literatur yang saya cari, eh ternyata benar, anakku Aji sepertinya tipe auditorial dalam belajar.

AUDITORI (Auditory Learners )
Gaya belajar Auditori (Auditory Learners) mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.
Ciri-ciri gaya belajar Auditori yaitu :
  1. Mampu mengingat dengan baik penjelasan guru di depan kelas, atau materi yang didiskusikan dalam kelompok/ kelas
  2. Pendengar ulung: anak mudah menguasai materi iklan/ lagu di televise/ radio
  3. Cenderung banyak omong
  4. Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya
  5. Kurang cakap dalm mengerjakan tugas mengarang/ menulis
  6. Senang berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain
  7. Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru dilingkungan sekitarnya, seperti hadirnya  anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas, dll

sumber : http://www.gayabelajar.net/gaya-belajar-anda-visual-auditori-atau-kinestetik.html

Dari kutipan web berikut juga menggambarkan yang terjadi pada anak saya, dia pernah berkata "aku ini anak bodoh ya ma, aku ini bodoh". Dan itu menghancurkan hati saya *serius walau lebay :)

During my first session with Derek he said, “I can’t do the work because I’m stupid.” I replied, “You’re not stupid, you just need to learn how you learn.” He gave me a puzzled look, so I said, “Some of us learn best by seeing, some by hearing, and some by doing. Let’s see what works best for you.”
Here are some characteristics of auditory learners and what strategies maximize their learning.
Auditory Learners Usually:
  • Enjoy talking.
  • Talk aloud to themselves.
  • Like explaining things to others.
  • Remember names.
  • Recognize variations in a person’s tone of voice.
  • Understand concepts better by talking about them.
  • Are distracted by background noise.
  • Have difficulty following written directions.
  • Read slowly.
  • Have difficulty being quiet for extended periods of time.
  • Like being read to.
  • Memorize things by repeating them aloud.
  • Enjoy music.
  • Whisper the words on the page as they read.
  • Hum or sing often.
  • Like being around other people.
  • Enjoy the performing arts.
Here's a List of Strategies to Help Auditory Learners Succeed in School:
Teach reading by having your child:
  • Use the phonetic approach.
  • Use rhyming word games.
  • Read aloud, even when reading independently.
Use auditory materials to teach lessons, including:
  • Video tapes
  • Audio tapes
  • Books on tape
  • Melodies, rhythms and beats to reinforce information
Have your child:
  • Answer questions orally.
  • Give oral reports.
  • Repeat facts aloud with their eyes closed.
  • Use repetition to memorize.
  • Recite information aloud when they’re studying (i.e., facts, spelling words).
  • Use tape recorders to record and play back lessons.
  • Participate in small and large group discussions before working independently.
  • Study in groups.
Parents should also try to give directions verbally, paraphrase key information, provide students a quiet place to do homework, and play music softly in the background, if they prefer.
So, break out the tape recorder, the books on tape and those rhyming skills, and maximize your child's learning style while boosting his confidence.

sumber :  http://www.education.com/magazine/article/auditory_learners/

Ya, semoga bermanfaat buat kawans yang mengalami hal yang mirip dengan keadaan saya.




2 komentar

  1. Memang untuk gaya belajar auditori oangnya tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya.... semangat

    BalasHapus
  2. anak pertama saya juga sepertinya audirori, Mbak. Seringkali gurunya bilang kalau anak saya ketika belajar seperti tidak memperhatikan. Tapi, ketika ditanya dia tau. Dan, banyak ciri dimana sepertinya anak saya memang mengarah ke auditori

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊