Whatsapp-mu Harimau-mu.


 Ini sudah kesekian kalinya saya menemui ada masalah di grup whatsapp. Tidak hanya satu grup, beberapa grup juga mengalami hal yang sama. 


Whatsapp adalah sebuah fitur di ponsel pintar yang lebih banyak digunakan daripada lainnya. Saya sudah menginstall LINE, wechat dan kakao talk untuk berpesan singkat. Tetapi hanya whatsapp yang aktif. Lainnya tidak.

Padahal saya lebih suka LINE, karena bisa juga digunakan di laptop atau PC dan ada gambar yang lucu-lucu. Sayangnya di LINE, karakter hurufnya sangat terbatas.


WA atau whatsapp ini menjadi sarana yang paling efektif untuk berbagi informasi, terutama di kelas pasca kami. Di minggu pertama kuliah, langsung ada teman yang membuat grup di whatsapp dan menginvite kami satu per satu. Tentu saja yang menggunakan aplikasi android atau blackberry.

Saya sebenarnya sudah membuat milis jauh hari sebelum pertemuan pertama kuliah pasca, tetapi aktifnya milis jauh di bawah grup WA ini. Padahal milis bisa efektif untuk semua orang, walaupun tidak menggunakan android atau BB.

Karena seperti chatting, grup WA tidak hanya untuk berbagi informasi kuliah. Tetapi juga untuk bercanda atau berbagi cerita. Beberapa hal terjadi dan menyebabkan konflik di dunia WA, sampai-sampai yang sedang sakit hati langsung keluar dari grup.

Saya pernah sekali melakukannya. Saat itu saya merasa sangat tidak nyaman, ketika teman-teman mulai bercanda dan menggoda seolah-olah ada teman lelaki yang mencari saya karena naksir. Saya marah bukan karena memang jadi pelaku yang ketahuan (ih amit amiiit), wong yang dipasangkan ke saya itu umurnya jauh lebih muda alias seperti keponakan saya sendiri. Tetapi saya tidak suka beneran, gaya bercanda begituan untuk kami-kami yang sudah menikah dan punya anak. Saya makin marah, ketika sang pelaku membela diri dan menjawab keluhan saya dengan tulisan yang full huruf kapital dan banyak tanda seru. Tanpa babibubebo saya langsung cabut, keluar dari grup.
                          " JANGAN SALAH PERSEPSI!!!! SAYA HANYA BERCANDA !!!"

nah loh, baca tulisan ginian apa nggak malah emosi jiwa?

Untungnya beberapa teman lalu meminta saya bersedia masuk kembali ke grup. Mereka sebenarnya kuatir saja sih ga dapat info atau kehilangan reminder. Karena saya dinobatkan jadi bu RT di kelas pasca itu. Mereka nggak tulus-tulus amat sih takut kehilangan saya, heheh.

Kondisi lain terjadi di grup satunya lagi. Teman alumni saya itu aktif sekali berdiskusi apa saja di grup WA. Apa saja. Mulai dari tentang banjir, korupsi, PKI, apa aja. Saya jarang aktif, karena ada satu hal yang saya kurang sreg. Ada diskusi tentang agama disitu. Teman saya sesama muslim ini sering menuliskan keluhannya tentang beberapa hal yang muslim juga lakukan. Lalu ini dibahas oleh semuanya, bahkan yang non muslim. Tentu saja ini rasanya kurang etis. Mau membantah, nanti debat kusir. Diam saja, hati gak enak. Akhirnya dengan beberapa alasan, saya pamit untuk keluar dari grup itu. Tentu dengan lebih dulu menyimpan nomer kontak beberapa teman yang dekat dan kira-kira nanti perlu untuk dihubungi.

Terakhir, terjadi lagi. Seorang teman saya mendadak ngambek dan langsung keluar dari grup WA. Karena dua postingannya tidak ada yang mengomentari. Saya yang memang seharian tidak membuka ponsel karena sedang main ke rumah ibu, jadi kaget. Ini ada apa?
Namanya itu hari Minggu, semua pada pergi sama keluarga mungkin. Dan nggak ada sinyal yang baik buat WA, bisa saja ga ada yang baca tuh postingan. Perasaan saya campur antara heran, geli dan ga enak juga. Karena masuk jajaran teman yang tidak mengomentari itu tadi.

Hffhh...begitulah resiko text world.Whatsapp-mu Harimaumu.  Jarimu Harimaumu.


0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊