Mengenal Konsep Sex Education Dengan Cara Bermain

Hari Minggu kemarin, tanggal 8 November 2015 keponakan saya - Dita - yang kuliah di jurusan Despro ITS datang ke rumah ibu. Info awal sih, katanya si Dita ini ingin menguji produk 'game' yang dia buat ke keponakan lain. Game ini nanti mau diujikan dalam sidang sarjananya.

Saya semangat mengajak anak-anak untuk ikut ke rumah ibu saya. Saya pikir bakal mereview game digital seperti yang biasa mereka mainkan. Ternyata maksudnya adalah alat peraga permainan. Salah paham :)

Dita kemudian cuma memilih keponakan yang duduk di kelas 3 sampai 5 SD, sesuai target penelitiannya. Game atau alat bermain yang dibawa Dita ini seperti permainan ular tangga. Pionnya dari kertas. Namun tidak ada langkah ular atau merosot turun. Hanya meliuk sesuai garis maze. Di tiap langkah berhenti, sesuai angka dadu, anak diberi kartu untuk dibaca. Isi kartu adalah tentang pengenalan sex education pada anak.


Wah, lucu juga nih. Saya mengamati reaksi keponakan-keponakan yang sedang bermain. Mereka senang dan tertarik. Ketika ada satu kartu bertuliskan, "Apa yang kau lakukan ketika ada orang asing yang memegangmu?".

Aneka macam jawaban bersahutan muncul:
" aku nggak pernah"
"Aku lariii"

Dita lalu memancing tanya, "kamu akan bilang ke mama nggak?"
Serempak mereka menjawab, "bilaaang".

Setiap anak yang membaca kartu, mendapat hadiah satu keping puzzle besar. Di akhir permainan, semua keping puzzle dikumpulkan lalu dipasang bersama. Dan akhirnya berbentuk pesan utama tentang Sex Education pada anak.


Kreatif ya?... Bisa diterapkan untuk menyampaikan pesan moral yang lain untuk anak-anak seusia mereka. Tepat sekali caranya karena masa bermain sangat dominan. Pembelajaran berdasarkan permainan ini, bisa disebut Game-based Learning. Yaitu penggunaan game dan perangkat bermain untuk menyampaikan materi pelajaran.

Papan maze itu bisa menjadi media pembelajaran yang efektif, jika kemudian selesai bermain anak-anak diajak untuk mereview ulang. Kemudian pengajar memberikan penguatan pada inti materi yang diberikan sehingga tujuan belajar bisa tercapai.

Dengan cara ini, anak tidak langsung mendengar kalimat sex education. Yang mungkin juga mereka belum paham. Akan tetapi mereka sudah tahu, bahwa isi di kartu permainan adalah hal penting yang harus mereka perhatikan. 

Menjelaskan perihal sex education memang harus sesuai dengan umur dan tahapan perkembangan anak. Di usia dini sampai sekolah dasar, anak hanya perlu diberi pengertian bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fisik. Bagaimana cara menjaga kebersihan dan kesehatan alat kelamin. Siapa saja yang boleh memegang daerah tertentu tubuhnya. Aturan agama yang harus ditaati sejak dini pun dibiasakan, seperti tidak keluar dari kamar mandi tanpa memakai baju apapun, dsb.

Ketika beranjak remaja, pengenalan sex education meningkat. Mulai dari perkembangan biologis seperti mimpi basah dan menstruasi. Kebersihan, kesehatan serta yang terpenting pengenalan kegiatan reproduksi manusia yang harus dikaitkan dengan norma agama. Bahwa hubungan laki-laki dan perempuan, harus dilakukan setelah ada pernikahan resmi. 

Biasanya orang tua masih segan, malu, kikuk dan tabu untuk membicarakan hal ini pada anak remajanya. Tetapi mau tidak mau, kita harus melakukannya. Kata bu Elly Risman, sejak umur 9 - 10 tahun sebaiknya anak mendengar tentang hubungan sex manusia itu dari orang tuanya sendiri. Saya pun memberanikan diri bicara pada anak sulung saya, lelaki, ketika dia kelas 5 SD. Saya khawatir jika tidak bicara, maka anak akan mencari sendiri entah tanya teman atau dari internet.

Dan benar saja, saya coba browsing di google tentang Sex Education, lalu muncul juga video porno tentang hubungan suami istri. Serem kan kalo anak-anak mengakses sendiri tanpa dibekali ilmu dari ortunya???

Maka sungguh bijaksana jika sedini mungkin kita beri anak-anak bekal ilmu dan iman yang kuat, sehingga kelak mereka mampu menyaring sendiri hal yang baik dan tidak.

Semoga menginspirasi
-Heni PR - 


7 comments:

  1. Iya juga ya, Mba. Namun saat ini, masalah sex education masih tabu dibicarakan oleh kebanyakan orang tua sebab menganggap anaknya masih kecil. Namun dengan cara mengajak anak bernain, ketika anak mulai paham, akan membantu menghindarkan anak dari hal hal yang nggak diinginkan ya. Semoga nanti aku bisa menjadi orang tua yang berpikiran terbuka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo bunda Akarui Cha, udah harus dan kudu terbuka. Kita harus jadi sumber info anak yang terdekat dan anak merasa aman curhat apa aja ke kita

      Hapus
  2. game nya keren :)
    kalo aku sungkan ngejelasin. baca di buku, katanya kalo anak laki, yg jelasin tugas bapaknya. suami kusuruh ajak aa ngomong. sempet lempar2an, krn suami jg sungkan. tapi kupaksa terus. waktu itu aa baru naik kelas 6. pas suamiku baru sampai kata2 pembuka, aa bilang, "Udah tauu, udah diajarin di sekolah." Weehh...kita ortunya deg2an mau jelasin, anaknya nyantey jawab gitu hehehe

    sekarang sedikit2 aku n suami jelasin ke kk n dd sesuai umurnya. juga, kalo mereka bertanya ya dijawab secukupnya. secukupnya dulu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat mak. Secukupnya dulu memang. Kata bu Elly Risman juga, jawab sesuai pertanyaan anak. Jika setelah dijawab anak diam, ya sudah selesai

      Hapus
  3. wah keren nih artikelnya mak hehe , semoga bisa menjadi calon suami idaman wkwkkw

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊