Obat Sakit Mata Yang Aman Untuk Anak

Hampir satu bulan lalu anak sulung saya, Aldo menderita sakit mata. Awalnya sepulang dari kegiatan ekstrakurikuler Badminton, matanya menjadi merah, nyeri, gatal dan keluar kotoran terutama ketika bangun tidur.

Saya pikir itu sakit mata biasa. Karena inisiatifnya mengurangi obat, maka saya buatkan rebusan daun sirih. Kemudian saya basuhkan air rebusan daun sirih yang hangat itu ke mata anak saya. Caranya adalah, sediakan rebusan daun sirih hangat di gelas bersih. Dengan kapas bersih, celupkan kapas. Suruh anak untuk terpejam. Lalu oleskan kapas dengan air sirih dari arah dekat hidung keluar. Hanya sekali usap, lalu kapas buang. 

Biasanya dengan cara ini, dalam semalam saja sakit mata sudah sembuh. Air rebusan daun sirih mengandung zat yang bisa membunuh bakteri (antiseptik). 

Ternyata besoknya mata Aldo masih merah. Dan dia merasakan gatal dan nyeri sampai pusing kepalanya. Saya mulai cemas, dan mengantarkannya ke rumah sakit terdekat. Sayang sekali di situ tidak ada dokter spesialis mata. Terpaksa kami mendaftar di poli umum. Dari dokter umum, kami diberikan obat tetes mata Inmatrol dan obat antibiotik untuk diminum. Menurut dokternya, sakit mata Aldo karena virus. Sesampai di rumah obat itu kami gunakan. Akan tetapi setiap menggunakan obat tetes mata, Aldo merasakan matanya sangat perih. Dia bahkan sampai menggulung diri dan memegang matanya yang tetutup untuk menahan rasa sakit. Saya sempat curiga dan cemas, sakit mata biasanya kalau dikasih obat, nggak gitu banget deh perihnya. 

Walaupun perih, mata Aldo menjadi bening beberapa menit kemudian. Obat ini kami gunakan sampai tiga hari. Selama pengobatan, anak saya masih tetap sekolah seperti biasa. Eh ternyata tiap pulang sekolah, matanya masih merah, perih dan gatal. Bahkan sampai kepalanya jadi pusing. 


Obat dari dokter umum. Inmatrol. Anak saya kesakitan ketika memakainya.
Tidak disarankan oleh dokter spesialis mata. Termasuk obat keras dan harus dengan resep dokter. 

Meninjau ulang rasa perih anak saya tiap kena obat mata dari dokter umum itu (Inmatrol), saya pun ke dokter spesialis mata. Saya boncengan motor berdua dengan anak saya itu, ke RS swasta yang cukup jauh juga dari rumah. Disana ada dokter spesialis mata yang buka tiap hari.

Setelah diperiksa dengan beberapa alat khusus, dinyatakan dokter "ini bukan sakit mata biasa bu. Ini kena kelenjarnya. Namanya sakit mata vernalis. Harus diterapi. Ini bukan sakit mata alergi , tetapi bisa dipicu oleh angin, debu dan matahari. Kalau sekolah di dalam kelas saja, kalau pergi pakai kacamata hitam".

Waduh jadi deg-degan juga ya.

Saya tunjukkan obat sebelumnya dari dokter umum. Lalu kata beliau, "Inmatrol itu obat keras bu. Pokoknya obat mata yang belakang namanya ada ....trol, itu obat keras. Jangan diberikan sembarangan ke anak, apalagi beli sendiri di apotik".

Duh ya kan, pantesan. Saya nggak enak ati pas ngelihat anak saya kesakitan pas make obat sakit mata itu. Kami pun diberi obat tetes mata baru. Ada dua obat, yang harus diberikan beda 15 menit untuk tiap mata. Pengobatan ini harus kontrol satu minggu kemudian.



Obat dari dokter spesialis mata ke-1. 
Tobroson (kuning) dan Vernacel (biru).
Digunakan berturut-turut selang 15 menit. Diteteteskan 4 kali dalam sehari.


Kami pun melakukannya. Dan di pemeriksaan kontrol itu, hasilnya mata anak saya mulai membaik tetapi kelenjarnya masih kena. Entah apa maksudnya.

"kelenjarnya kurang bersih bu." begitu kata dokternya.
"Ini bahaya nggak dok?" tanya saya.
"Jika dibiarkan, nanti kelenjarnya bisa membengkak lalu merah bu. Lama-lama nanti matanya jadi terlihat coklat", jawab dokter.
"Bisa mempengaruhi penglihatan nggak dok?" tanya saya kemudian.
"Ya kalau sampai coklat gitu, ya bisa mempengaruhi bu," jawaban dokter terakhir membuat makin cemas.

Ngeri juga sakit mata seminggu lebih nggak sembuh total, dibilang bukan sakit mata biasa pula. Waktu periksa pertama sudah saya cek tentang sakit mata vernalis , dan disebutkan disitu ini sejenis alergi. Tetapi dokter itu mengatakan bukan alergi.

Akhirnya pengobatan kami teruskan seminggu kemudian, dengan obat yang sama. Jadi anak saya menggunakan obat tetes mataTobroson dan Vernacel selama hampir dua minggu. Sebenarnya sejak kontrol pertama itu, anak saya tidak mengeluh perih matanya. Tidak gatal dan tidak belekan.

Akan tetapi karena dokter mata mengatakan harus ada kontrol lagi seminggu kemudian, untuk melihat tekanan mata. Dan dengan penjelasan seperti percakapan saya diatas, saya jadi cemas dan menyuruh anak saya tetap memakai obat tetes mata itu.

Sampai dua hari menjelang kontrol kedua, saya jadi makin ragu. Meneruskan dokter itu atau cari second opinion ke dokter kedua. Akhirnya setelah berbincang dengan suami, saya memutuskan ke rumah sakit lain dan dokter mata lain.
Saya pun ke dokter mata kedua. Beliau kaget mengetahui anak saya memakai obat mata Tobroson (warna kuning ) selama 2 minggu terus menerus.

"Semua obat ini harus di stop ya bu. Apalagi yang kuning ini mengandung steroid. Kalau dipakai terus matanya bisa krompong nanti"

Saya menghela nafas panjang. Bismillah, semoga mata anak saya nggak kenapa-napa, kok salah terus gini.

Dari dokter mata kedua ini saya diberikan penjelasan yang cukup bikin adem ati.

Jadi sakit mata anak saya memang sakit mata vernalis. Dan itu karena alergi yang dipicu oleh angin, debu dan sinar matahari. Biasa diderita anak laki-laki, dan akan membaik ketika sudah umur 18 tahun. Namanya alergi ya tidak bisa hilang sama sekali. Jika ada pemicunya, bisa sakit mata lagi.  Kami pun diberikan dua obat tetes mata baru, yang kata dokternya aman. Bahkan jika habis, boleh beli sendiri di apotek.

Obat dari dokter spesialis mata ke-2 ( RS lain).
Obat yang aman untuk sakit mata Vernalis karena alergi. 
Patanol dan Vasacon-A
Obatnya adalah Patanol dan Vasacon-A. Penggunaannya Panatol dulu diteteskan lalu selang 5 menit, diteteskan Vasacon-A. Pengobatan 4 kali sehari, pagi, siang, sore, malam. Pengobatan dilakukan jika sakit mata kambuh (mata merah, perih, gatal, keluar kotoran). Jika sudah hilang gejalanya, tidak perlu diberi obat tetes mata lagi.
Syukurlah, akhirnya ketemu dokter mata yang lebih mumpuni. Benar juga kiranya ketika ada masalah kesehatan yang di hati belum sreg, sebaiknya mencari pendapat kedua dari dokter lain dan rumah sakit lain.

Semoga menginspirasi

-Heni PR-

7 comments:

  1. Terima kasih infonya sangat bermanfaat, anak saya saat ini sdg menggunakan obat tetes cendo tobroson sudah 4 hari dari resep dokter mata, sy jadi kuatir dan akan sy hentikan penggunaannya

    BalasHapus
  2. sama-sama. Semoga anaknya lekas sembuh :)

    BalasHapus
  3. sama-sama. Semoga anaknya lekas sembuh :)

    BalasHapus
  4. maaf mba ,mau nanya. itu setelah pakai pathanol masih sering kambuh gak? kebetulan mata anak saya mirip gejalanya seperti anak mba. sya audah ke 3 dokter tp begitu obatnya habis, timbul lg gejalanya. jadi khawatir.. masa iya harus ketergantungan obat

    BalasHapus
  5. Informasi tentang obat penyakit mata yang sangat bermanfaat sekali, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk berbagi.

    BalasHapus
  6. Makasih sharingnya Mbak. Saya jadi makin yakin kalo troboson itu obat keras.

    BalasHapus
  7. Makasih sharingnya Mbak. Saya jadi makin yakin kalo troboson itu obat keras.

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana ­čśŐ