Podcast Bu Heni

Menjadi Millenial Housewife dan Dampaknya Yang Menakjubkan

3 komentar
"Bu Heni, ngajar dimana?", Seorang dosen bertanya. 
"Saya bukan guru pak. Saya ibu rumah tangga digital". 
"Hah? Maksudnya?"
Dalam percakapan saat perkenalan di mata kuliah Metodologi Penelitian ini, Dosen saya tak paham, sedangkan teman saya tak henti ngikik tertahan.

Hah? Ibu rumah tangga digital?
Maksudnya ibu rumah tangga tanpa jarum panjang dan pendek?
Itu jam dinding kali :)

 Lalu apa itu pengertiannya?
Jujur nih, Sebenarnya waktu itu, saya cuma asal saja membranding diri sendiri sebagai ibu rumah tangga digital,ketika masuk lagi ke dunia kampus. Karena...awal kuliah, setiap ngaku sebagai ibu rumah tangga (saja), respon selalu kurang sreg di hati. Jadilah saya tambah kata digital dibelakangnya. Biar kelihatan rada keren? Iya juga sih, itu maksudnya.

Sebenarnya tidak salah juga loh saya menambah embel-embel digital itu. Karena saya IRT yang aktif di dunia digital. Saya bikin blog, alias blogger. Saya jualan di internet, atau onlineseller. Saya aktif di fb alias fesbuker (loh judul acara TV).

Millenial mom
 Millenial Housewife - Ibu Rumah Tangga Digital
(Di samping laptopnya, ada setumpuk cucian kotor, hihihi)

 Saya IRT, namun di pertemuan pertama kuliah sudah siap dengan nama mailing list di GMail untuk teman sekelas saya. Saya membuatkan blog beberapa teman yang nggak ngeh sama sekali tentang dunia blog, ketika ada tugas dosen.
Saya mengambil topik seputar elearning (pembelajaran menggunakan teknologi internet) dari tugas semester satu sampai tugas akhir tesis. Setelah lulus, saya semakin aktif di dunia internet yaitu sebagai blogger pro. Bukan pro Ahok,loh ya...*peace. Blogger Profesional, maksudnya.

Pekerjaan, lalu lintas komunikasi, karya, belajar, bicara dsb semua melalui teknologi gadget digital. Nah, pantaskan saya disebut IRT digital?

Sebenarnya, ini bukan masalah pantas tidak pantas. Tetapi bahwa ternyata ada peluang di luar sana yang menerima status ibu rumah tangga sebagai anggota baru. Di dunia digital.

Saat ikutan acara AkberSby bersama lenovo kemarin, saya mengenal istilah Generasi Millenial. Generasi millenial adalah generasi dengan karakter khas, diantaranya adalah ia tidak mau berhenti belajar, terus bergerak, familiar dengan teknologi-gadget dan internet. Mereka bukan sosok individual tetapi butuh berkomunitas secara digital, sekaligus bisa berkarya secara digital. Menarik sekali. Gue banget tuh kan???

Karena saya  (mantan) anak muda, maka sebutan yang pas adalah sebagai Millenial Mom atau lebih lengkapnya lagi Millenial Housewife. Nah keren kan, ibu rumah tangga digital jadi millenial housewife? :-D

Saya pun berselancar mencari di dunia seberang sana, adakah istilah ini lazim dipakai oleh IRT yang aktif di dunia maya? Dan ternyata ada. Bahkan ada web khusus membahas millenial housewife ini. Di pinterest juga banyak yang membahas millenial mom. Akhirnya, gue dapat nama profesi yang keren didengar :-D .

 Apa itu tepatnya peran dan jobdes millenial housewife? Apa keuntungan dan kelemahannya? Dan mengapa lebih baik wanita (anak wanita/murid wanita kita siapkan sebagai milenial housewife?

Saya merangkumnya singkat dengan kalimat begini. Profesi Milenial Housewife ini sesuai perkembangan jaman. Anak muda generasi Z, kelak akan dewasa, menikah dan mungkin memilih menjadi ibu rumah tangga. Nah, optimalisasi perangkat teknologi yang sudah biasa dipakai bisa dilakukan di momen itu.

Dengan cara ini,  Perempuan tetap update, aktif, produktif. Bahkan ketika anaknya lahir, kehidupannya tidak berhenti. Secara menakjubkan malahan, mereka bisa menjadi saksi tumbuh kembang anaknya secara detil. Mereka bisa ada di momen berharga anaknya. Ketika pertama tampil di panggung playgroup, jadi pemain sepak bola, ikut olimpiade matematika atau ujian nasional.

Di setiap tahap kehidupan rumah tangganya, bisa ditulis di dalam blog. Ditulis dari rumah dengan kualitas bernama 'pengalaman nyata'. Generasi millenial memang lazimnya suka berbagi cerita, seperti halnya berbagi status di sosmed tentang tiap detil kegiatannya. Jika cara ini dibina secara konsisten dan sepenuh hati, maka kelak aktivitas digitalnya itu bisa dijadikan peluang bisnis.

 Millenial housewife punya peluang besar jadi self employee dan pengusaha online yang sukses. Asalkan dua syaratnya terus dilaksanakan. Yaitu tidak berhenti belajar dan mempraktekkan hasil belajarnya. Jadikan itu sebagai siklus kehidupan yang menarik.

Ayo, upgrade diri para ibu rumah tangga....!!!

Masih Perlukah Anak Menghafal Tabel Perkalian?

8 komentar
Aku ingin anakku itu otaknya diisi hal yang berguna saja. Ngapain harus menghafal tabel perkalian segitu banyaknya, sih!
Matematika anak sekolah dasar
Perlu dong :)
Seorang wali murid protes kepada guru matematika anaknya. Beliau tidak mau anaknya “dipaksa” untuk menghafalkan tabel perkalian dari 1 sampai 10. Alasannya cara itu hanya akan menjejali otak anaknya dengan hal yang tidak penting. Karena di jaman sekarang ini, perkalian bisa dihitung dengan banyak alat dan ¬gadget canggih, tidak perlu repot-repot dihafalkan. Beliau ingin anaknya mempunyai otak seorang imajinator dan kreator. Yang tidak hanya menghafal namun sanggup berimajinasi dan menciptakan hal baru seperti Einstein atau bahkan pembuat Google dan Microsoft.

Yang jadi pertanyaan adalah benarkah anak tidak perlu menghafal tabel perkalian? Angka adalah hal yang paling abstrak di dunia ini. Itulah sebabnya untuk mempelajari matematika, perlu dikuatkan terlebih dahulu pemahaman terhadap konsep perkalian sebagai penjumlahan yang berulang. Sekedar menghafalkan saja tanpa paham tentu bukan cara efektif untuk belajar. Pemahaman perkalian bisa dikenalkan sejak usia dini sampai kelas 2 SD. Selanjutnya anak diberikan latihan soal sederhana.

Ketika sudah beranjak kelas 3 SD, perkalian menjadi dua digit. Dimana jika dihitung menggunakan konsep penambahan berulang saja, akan menyulitkan anak. Misalnya untuk soal (23x9). Jika anak mengerjakan dengan konsep penjumlahan berulang, dia harus menghitung (23+23) sampai 9 kali. Itu bisa melelahkan dan membuat anak malah jadi frustasi. Apabila dia sudah hafal hasil perkalian untuk angka 9, maka dia akan lebih mudah menyelesaikannya.

Dari sini diambil kesimpulan bahwa Menghafal Tabel Perkalian itu perlu. Apalagi di Indonesia, bahkan sampai ujian nasional tingkat SD-SMA pun dilarang menggunakan kalkulator dan alat bantu (gadget) lainnya Kenapa perlu? Karena menghafal adalah salah satu keterampilan yang akan terus diperlukan anak dalam menghadapi hidupnya. Banyak aspek kehidupan yang memerlukan hafalan. Misalnya menghafal alamat rumah, nomer telepon penting, nomer telepon orang tua dan anak, nomer rekening, pin BB dan sebagainya. Jika tidak terbiasa untuk menghafal sama sekali, tentu manusia harus bergantung pada alat, benda atau catatan yang harus dibawa kemanapun dia pergi. Dan hal ini hampir mustahil dilakukan. Konsep menghafal bisa dipahami sebagai hasil mengkonstruksi teknik mengingat berdasarkan cara yang ditemukan sendiri oleh seseorang.

 “Bruner states that learning the structure of knowledge facilitates comprehension, memory, and transfer of learning”. 

Dalam perspektif teori belajar, Brunner memberikan bahwa mempelajari struktur pengetahuan itu meliputi pemahaman, memori dan transfer belajar. Jadi tahapannya ketika anak sudah paham, perlu mengingatnya hingga masuk dalam memori kemudian menyalurkan kemampuannya itu misalnya dengan mengerjakan soal latihan atau mempraktekkannya. Menghafal tabel perkalian adalah hal yang berguna. Yang perlu menjadi perhatian adalah cara melatih anak atau peserta didik dalam menghafal tabel perkalian. Semua itu harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan akademik anak, emosi anak, kondisi anak juga gaya belajar anak.

Anak mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. Ada yang suka menghafal sambil berteriak atau menyanyi, jika bergaya belajar audiotorial. Ada yang membuat catatan dengan gambar unik dan ditempel di dinding kamar, untuk yang bergaya visual. Atau menggerakkan jari jemarinya, jika dia bergaya kinestetik. Penyesuaian ini akan lebih efektif daripada cara kuno yaitu memaksa anak maju ke depan satu per satu untuk menghafal perkalian. Dan membentak atau memarahinya, serta melarangnya pulang ke rumah jika belum hafal. Metode kuno ini sebaiknya sangat dihindari. Karena bentakan atau paksaan belajar ketika anak sudah lelah, malah kontra produktif. Otak anak jadi ‘terluka’ dan malah tidak bisa berpikir sama sekali ‘thinking block’.

 Selain itu, bentakan yang membuat anak menjadi takut, marah, sedih, kesal, malah akan memutus syaraf neuron otak anak yang sudah terjalin dengan indah ketika dia sudah menghafal satu demi satu hasil perkalian. Paksaan, amarah dan respon negatif dari pendidik atau orang tualah yang bisa menghambat perkembangan anak sendiri. Jadi menghafal beberapa materi pelajaran perlu dilakukan dengan cara yang sesuai dengan karakter dan gaya belajar masing-masing anak.

Generasi SIAP MAJU Bersama AKADEMI BERBAGI SURABAYA

4 komentar
Nuwun sewu mas, jalan ke UNAIR itu sebelah mana ya?"

1 Maret 2016.
Adalah hari bersejarah bagi saya dan kedua anak lelaki ganteng saya itu, Aldo dan Aji. Di hari itulah mereka baru mengetahui bahwa ibunya nggak hafal jalanan di Surabaya. Hahaha.... 

Kasihan kamu naakk...ya inilah ibumu. Walau dah lupa rute jalan dari Grahadi ke UNAIR, tetep aja nekad ngajak kalian berdua. Demi sebuah acara yang sangat ibumu harapkan, bisa membuka wawasan dan menambah inspirasi kalian. 

Saya mengetahui even ini dari twitternya komunitas Akademi Berbagi (@akbersby). Akber adalah komunitas berbagi ilmu, dengan narasumber praktisi,profesional, ahli kepada siapa saja dengan biaya nol rupiah. Alias gratis. Beberapa kali saya melewatkan even yang diadakan, karena terhalang waktu. Namun kali ini, saya niat nekad tekad bulat untuk bisa ikut dengan kedua anak saya.


Mengapa?
Acara apa itu?
Ya, ini adalah acara kolaborasi antara Akber Surabaya dengan pihak Lenovo yang mengadakan program Siap Maju Road Show & Inspirational Class, ke daerah-daerah di Indonesia. Dengan target sasaran para generasi muda bangsa. Generasi millenial Indonesia yang sudah akrab dengan dunia digital dari lahir. Bahkan dari mereka masih dalam bentuk zygot mungkin ya.

Itulah kenapa, even kali ini diadakan di kampus Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, kampus B, Fakultas Ekonomi Bisnis. Lenovo, sebagai vendor ternama penyedia perangkat digital berteknologi canggih, berusaha mengetahui kebutuhan para user-nya, sekaligus memenuhi kebutuhan tersebut semaksimal mungkin.

Siapa saja user yang disasar?
Ya para anak muda era digital yang mulai aktif baik secara akademis, sosial serta bisnis. Salah satu topik yang diangkat adalah bisnis startup.


Topik startup sangat menarik perhatian saya, sejak mengenal konsep virtual distance learning, pembelajaran jarak jauh menggunakan teknologi digital. Cepat atau lambat, insyaAlloh saya ingin sekali membangun sebuah startup pendidikan yang dapat memudahkan guru dan murid untuk belajar di semua tingkatan jenjang pendidikan. Amin.

Startup juga mulai dikenal oleh anak sulung saya, Aldo. Kemarin dia membaca buku tentang startup, dan jadi makin tertarik. Buku yang saya pinjam dari perpustakàan Balai Pemuda Surabaya. Aldo juga sangat tertarik pada dunia animasi, ilustrasi digital, game dan semacamnya. Karena tahu bahwa salah satu inspirator adalah Chiki Fawzi, anaknya Ikang Fawzi, yang adalah animator. Maka saya bela-belain bersepeda motor bertiga, menempuh puluhan kilometer menuju even ini. Emak samsooon bener ya 😀.

Cerita tentang Chiki, akan saya ulas di satu blogpost khusus. Because I adore her so much. Love you dek...

Oke lanjut. Inspirator kedua adalah founder dari gantibaju.com. Anak muda yang mirip artis Vidi Aldiano ini, alumni Universitas Indonesia. Setelah mencoba 12 kali bisnis dan gagal, akhirnya startup gantibajudotcom ini sukses. Beberapa award diraihnya. Cara bicaranya so cool, asik, cuek namun berbobot. Anak saya sedikit banyak mengenal konsep bisnis darinya.


"Cepet action biar cepet gagal!"
Keren kan tips bisnisnya?! Asik juga mengikuti semangat anak muda untuk selalu berani dan siap maju ke depan. Setelah pihak Lenovo dan inspirator, tiba saatnya penanggung jawab Akber Surabaya berbicara. Beliau memberitahukan bahwa konsep Akber harus gratis. "Semua orang boleh belajar. Kapan saja. Dimana saja. Tidak boleh ada batasan."




Beliau mengatakan pentingnya menanamkan jiwa volunteerisme ke dalam anak-anak muda. Agar mereka terbiasa berbuat maksimal dan sesempurna mungkin, walaupun pekerjaan itu tidak dibayar. Karena hal itu akan berdampak sangat baik pada mereka. Dan menjadi bekal mental positif yang sangat membantu untuk sukses ke depannya.
Amazing ya. Semoga saya dan anak-anak suatu saat bisa berkontribusi langsung dalam even Akber Surabaya.
Baiklah, itulah reportase singkat dari even yang dihadiri oleh satu-satunya peserta pasangan ibu dan anak di antara mahasiswa UNAIR yang masih unyu. Untuk artikel tentang isi materi dari inspirator, tunggu blogpost selanjutnya

Salam berbagi.
-HPR-

VISUAL IDENTITY Dalam Kemasan Sunday Sharing #13 Surabaya

2 komentar
Bisnis saya tidak akan sesukses ini, jika kemarin-kemarin saya tidak melakukan visual branding. (Angger, founder DUS DUK DUK)

Visual Branding?
Visual Identity ?
panganan opo maneh iki reeekk....??? :)

Membangun personal branding adalah hal yang mutlak dilakukan bagi siapa saja yang ingin mengenalkan atau mempromosikan hal baru. Entah itu bisnis baru, blog baru atau bahkan profesi baru. Personal branding yang kuat, akan menjadi patokan dasar seperti apa sebuah nama itu dikenal. Membangun sebuah personal branding bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bisa dalam bentuk konten tulisan yang mempunyai ciri khas. Contoh kecilnya, bila kita menyebut kata #kurangpiknik , nama siapa yang teringat?. Warga instagram pasti langsung menjawab, "Kang Emil" (walikota Bandung, Ridwan Kamil). Atau jika kita ingin membeli air mineral, merk (brand) apa yang kita sebut secara spontan? Tentu saja "Aqua". Sama seperti ketika kita ingat "Supermi" sebagai brand yang kuat dulu, sebelum gencarnya personal branding dari "Indomie" dan "Mie Sedap".

Kekuatan brand kelas kakap itu jika ditelisik berasal dari segala penjuru iklan yang tayang baik di media cetak, visual ataupun audio. Jingle khas di radio, iklan di televisi yang menarik, logo yang unik. Tampilan secara visual (logo, video iklan) ini bisa dikemas dalam istilah identitas visual atau visual identity.

Kenapa komunitas Blogger yang berkumpul dalam Sunday Sharing Surabaya #13 Detikdotcom kali ini, merasa perlu membahas tentang Visual Identity ?

Sebagai pegiat online, di dunia maya, pertarungan antar blogger begitu sengitnya. Kita harus mempunyai ciri khas atau sesuatu yang bisa diingat dan unik. Karena blog adalah produk digital yang dinikmati oleh mata (dilihat, dibaca), maka konten blog harus bisa menarik secara visual. Semakin menarik, orang akan semakin senang datang kembali ke blog kita. Ini bisa jadi salah satu cara meningkatkan kunjungan pembaca blog.

Pentingnya Visual Identity dan Visual Brandinginilah yang disampaikan oleh dua narasumber praktisi profesional. Dalam acara yang diselenggarakan secara rutin oleh komunitas blogger dan Detikdotcom. Bertempat di kantor Qwords.com di Intiland Tower, Jl. Panglima Sudirman Surabaya, dua lelaki dengan identitas visual yang kuat ini berbagi ilmu.

Ki-Ka : Cak Waw , Saya, Angger

Narsum pertama adalah CAK Waw, anggota tim penulis dari komik TRIO HANTU CS, Identitas visual cak Waw ini sekilas sudah tertancap kuat. Yaitu mirip dengan budayawan, Sujiwo Tejo. Sorot matanya, gesturnya hampir serupa. Hanya saja Cak Waw tidak melotot-lotot ketika berbicara. Dan intonasi bicaranya kalem saja, tidak meledak-ledak seperti Sujiwo Tejo. Hampir saja muncul pertanyaan, "masih sodaraan sama Sujiwo Tejo nggak mas?".


Sebagai komikus, Cak Waw memberikan materi tentang dua Media Visual yaitu Film Animasi dan Komik Strip. Kedua media ini sekarang sudah bisa ditampilkan secara digital. Keduanya bisa digunakan sebagai suplemen untuk postingan blog supaya lebih menarik. Atau dijadikan media yang bisa dibagikan di sosial media, dan menimbulkan efek viral. Seperti halnya minivideo 3 detik yang banyak dibagi di instagram dan media lain, maka durasi animasi atau film sekarang harus lebih singkat. Bisa sekitar 3 detik, bahkan hanya 1 detik. Sekejap.

komik trio hantu cs

Beberapa contoh film animasi pendek dan komik strip diberikan oleh Cak Waw. Kami terkagum-kagum dan tertawa-tawa karena kebanyakan isinya lucu. Terutama untuk komik strip Trio Hantu Cs, yang isinya hantu banget.
visual identity

Nah itulah basic teori- nya. Menurut Cak Waw, karena durasi singkat dan biar bisa viral maka konten visual harus fokus dan tajam mengarah pada segmen yang akan dibidik. Untuk mendapatkan itu semua, perlu diadakan riset untuk bisa menjawab 5W + 1 H , dari konten yang akan dibuat.

Seperti halnya komik Trio hantu Cs. Komik ini khusus membahas tentang hantu. Dan harus lucu. Walaupun pemilihan segmen hantu ini diambil secara tidak sengaja, alias karena kepepet kudu dapat projek. Tapi, karena digarap dengan sungguh-sungguh, komiknya sukses juga. Bahkan beberapa cerita nampak begitu nyata. Sampai cak Waw ini menerima pertanyaan, "mas, kalau mau nulis komik itu melakukan ritual khusus manggil hantu gitu ya kayaknya? kok bisa persis kayak kenyataan sih?".


mirip Sujiwo Tejo, kan? :)

Selanjutnya ada narsum pengganti yaitu Angger, mahasiswa Desain Produk ITS. Walaupun sudah jadi mahasiswa selama 5 tahun, pria berambut klimis ini tidak mau disebut mahasiwa yang kuliahnya tidak lulus tepat waktu.  Melainkan mahasiswa yang  (sengaja) mencari waktu yang tepat untuk lulus. Angger menampilkan foto awalnya dalam 4 kolom, yang disengaja sebagai Visual Identity. "saya satu-satunya laki-laki yang fotonya dalam 4 kolom di Instagram. Dan ini sengaja saya lakukan."
foto alay-nya = strategi visual branding Angger
Tidak cuma foto 4 kolom saja yang menarik secara visual. Ada 2 pengamatan lanjutan, yaitu pada poni klimis rambutnya serta kaos kaki unyu yang dipakai Angger. Jarang-jarang ada cowok pake kaos kaki mirip kaos kaki yang biasanya dijadikan suvenir ibu-ibu yang pulang dari umroh atau haji. Amazing melihatnya. Atau itu gaya pria kekinian? #entahlah :)

dus duk duk
capture the black shocks :D

Angger... saya tidak sedang mem-bully yaa... hanya keheranan yang tak sempat terucapkan padamu. 
Dengan gayanya yang kalem, ternyata Angger ini asik juga dalam presentasi. Diawali dengan tampilan video sebuah destinasi wisata bawah laut baru di Madura, yang menjadi projek nekadnya. Sampai cerita awal mula bisnisnya jadi tukang kerdus di DUS DUK DUK. Smooth talk dan full humor cerdas. 

Dari tugas mendesain produk, Angger mengembangkan aneka produk kreatif dan siap guna dari bahan kerdus bekas. Kerdus-kerdus itu digabung menjadi kursi, meja, jam dinding, dan banyak benda lain yang bisa dimanfaatkan dan dijual mahal. 

Produk olahan dari kerdus, belum banyak diketahui orang. Untuk itu, Angger dan timnya melakukan visual branding yang dirancanakan dengan baik. Mulai dari pemilihan logo, bentuk foto produk bagus dan pemanfaatan tokoh terkenal di acara pameran untuk memberikan testimoni bahwa kursi kerdusnya kuat untuk diduduki atau produknya bagus. Cerdik sekali caranya. 





mas Gilang dari Detikdotcom
Acara kemudian diakhiri oleh mas Gilang dari Detikdotcom, untuk memilih ketua kelas baru yang bertanggung jawab pada acara Sunday Sharing berikutnya. Dan terpilihlah, Wira sebagai narasumber tentang traveling. Sebelum acara makan siang, diadakan pemilihan 2 penanya terbaik. Alhamdulillah saya terpilih. Dan mendapatkan voucher hosting gratis 100 ribu dari Qwords.com. Lumayan, alhamdulillah.


dapat voucher gratis :)

Begitulah, inilah acara Sunday Sharing Surabaya pertama yang saya ikuti. Dan sangat antusias untuk ikut lagi di acara-acara berikutnya.

sunday sharing surabaya
Blogger bahagiaaa

Salam Blogger Bahagia
- HPR -