Masih Perlukah Anak Menghafal Tabel Perkalian?

Aku ingin anakku itu otaknya diisi hal yang berguna saja. Ngapain harus menghafal tabel perkalian segitu banyaknya, sih!
Matematika anak sekolah dasar
Perlu dong :)
Seorang wali murid protes kepada guru matematika anaknya. Beliau tidak mau anaknya “dipaksa” untuk menghafalkan tabel perkalian dari 1 sampai 10. Alasannya cara itu hanya akan menjejali otak anaknya dengan hal yang tidak penting. Karena di jaman sekarang ini, perkalian bisa dihitung dengan banyak alat dan ¬gadget canggih, tidak perlu repot-repot dihafalkan. Beliau ingin anaknya mempunyai otak seorang imajinator dan kreator. Yang tidak hanya menghafal namun sanggup berimajinasi dan menciptakan hal baru seperti Einstein atau bahkan pembuat Google dan Microsoft.

Yang jadi pertanyaan adalah benarkah anak tidak perlu menghafal tabel perkalian? Angka adalah hal yang paling abstrak di dunia ini. Itulah sebabnya untuk mempelajari matematika, perlu dikuatkan terlebih dahulu pemahaman terhadap konsep perkalian sebagai penjumlahan yang berulang. Sekedar menghafalkan saja tanpa paham tentu bukan cara efektif untuk belajar. Pemahaman perkalian bisa dikenalkan sejak usia dini sampai kelas 2 SD. Selanjutnya anak diberikan latihan soal sederhana.

Ketika sudah beranjak kelas 3 SD, perkalian menjadi dua digit. Dimana jika dihitung menggunakan konsep penambahan berulang saja, akan menyulitkan anak. Misalnya untuk soal (23x9). Jika anak mengerjakan dengan konsep penjumlahan berulang, dia harus menghitung (23+23) sampai 9 kali. Itu bisa melelahkan dan membuat anak malah jadi frustasi. Apabila dia sudah hafal hasil perkalian untuk angka 9, maka dia akan lebih mudah menyelesaikannya.

Dari sini diambil kesimpulan bahwa Menghafal Tabel Perkalian itu perlu. Apalagi di Indonesia, bahkan sampai ujian nasional tingkat SD-SMA pun dilarang menggunakan kalkulator dan alat bantu (gadget) lainnya Kenapa perlu? Karena menghafal adalah salah satu keterampilan yang akan terus diperlukan anak dalam menghadapi hidupnya. Banyak aspek kehidupan yang memerlukan hafalan. Misalnya menghafal alamat rumah, nomer telepon penting, nomer telepon orang tua dan anak, nomer rekening, pin BB dan sebagainya. Jika tidak terbiasa untuk menghafal sama sekali, tentu manusia harus bergantung pada alat, benda atau catatan yang harus dibawa kemanapun dia pergi. Dan hal ini hampir mustahil dilakukan. Konsep menghafal bisa dipahami sebagai hasil mengkonstruksi teknik mengingat berdasarkan cara yang ditemukan sendiri oleh seseorang.

 “Bruner states that learning the structure of knowledge facilitates comprehension, memory, and transfer of learning”. 

Dalam perspektif teori belajar, Brunner memberikan bahwa mempelajari struktur pengetahuan itu meliputi pemahaman, memori dan transfer belajar. Jadi tahapannya ketika anak sudah paham, perlu mengingatnya hingga masuk dalam memori kemudian menyalurkan kemampuannya itu misalnya dengan mengerjakan soal latihan atau mempraktekkannya. Menghafal tabel perkalian adalah hal yang berguna. Yang perlu menjadi perhatian adalah cara melatih anak atau peserta didik dalam menghafal tabel perkalian. Semua itu harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan akademik anak, emosi anak, kondisi anak juga gaya belajar anak.

Anak mempunyai cara belajar yang berbeda-beda. Ada yang suka menghafal sambil berteriak atau menyanyi, jika bergaya belajar audiotorial. Ada yang membuat catatan dengan gambar unik dan ditempel di dinding kamar, untuk yang bergaya visual. Atau menggerakkan jari jemarinya, jika dia bergaya kinestetik. Penyesuaian ini akan lebih efektif daripada cara kuno yaitu memaksa anak maju ke depan satu per satu untuk menghafal perkalian. Dan membentak atau memarahinya, serta melarangnya pulang ke rumah jika belum hafal. Metode kuno ini sebaiknya sangat dihindari. Karena bentakan atau paksaan belajar ketika anak sudah lelah, malah kontra produktif. Otak anak jadi ‘terluka’ dan malah tidak bisa berpikir sama sekali ‘thinking block’.

 Selain itu, bentakan yang membuat anak menjadi takut, marah, sedih, kesal, malah akan memutus syaraf neuron otak anak yang sudah terjalin dengan indah ketika dia sudah menghafal satu demi satu hasil perkalian. Paksaan, amarah dan respon negatif dari pendidik atau orang tualah yang bisa menghambat perkembangan anak sendiri. Jadi menghafal beberapa materi pelajaran perlu dilakukan dengan cara yang sesuai dengan karakter dan gaya belajar masing-masing anak.

8 comments:

  1. Benar gaya belajar anak nggak sama ya. Anakku tiga, gaya belajarnya beda-beda semua. Ada yang suka belajar sambil dengerin musik, ada yang sambil gerak sana gerak sini, dan ada yang baru bisa belajar dalam suasana hening :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau dilihat secara makroskopik struktur fisiologi otak dengan gaya belajar berbeda, memang ada bagian yang tidak sama mbak Lianny. Jadi memang bisa dibilang itu bawaan secara biologis dari lahir. Cuma bisa dikembangkan otaknya agar bisa terstimulasi bagian yang lainnya. Jadi tidak hanya terbatas pada satu gaya belajar saja. Biar mereka lebih fleksibel kelak.

      Hapus
  2. dalam ilmu psikologi ada yang kata mutiara kalo semakin banyak hafal semakin banyak lupa

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar juga mbak Willova. mungkin yang perlu dicermati adalah teknik menghafalnya supaya memorinya bisa bertahan lama. Dan itu tidak berarti harus hafal di waktu singkat. Bisa saja baru lulus SD, baru hafal, dan itu sah-sah saja. Bagaimana?

      Hapus
  3. Jadi tetap penting ya menghafal tabel perkalian.
    Anakku sempat kesulitan soalnya ketika menghafalkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama mbak Ety, anak keduaku juga kesulitan kalau caranya harus berdiri dan menghafal satu set perkalian, seperti jaman kita sekolah dulu. jadi caranya, saya balik. Untuk mengerjakan soal pembagian, dia saya minta menuliskan satu set perkalian di sisi kanan soal. Tidak menghafal, mencontek tabel juga gpp, hanya menulis berulang2. Lama2 bisa hafal juga ternyata.

      Hapus
  4. jadi teringat waktu SD dulu Mbak, setiap pulang sekolah kami harus menghafalkan perkalian dulu baru bisa pulang ke rumah :)

    tapi kami tetap enjoy menjalaninya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu dia mbak. Dulu saya seneng juga. Tapi ternyata tidak semua anak senang dan bisa melakukannya. Terbukti pada anak dan keponakan saya. Akhirnya setelah ditelusuri, karena gaya belajarnya berbeda.

      Hapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊