Menjadi Millenial Housewife dan Dampaknya Yang Menakjubkan

"Bu Heni, ngajar dimana?", Seorang dosen bertanya. 
"Saya bukan guru pak. Saya ibu rumah tangga digital". 
"Hah? Maksudnya?"
Dalam percakapan saat perkenalan di mata kuliah Metodologi Penelitian ini, Dosen saya tak paham, sedangkan teman saya tak henti ngikik tertahan.

Hah? Ibu rumah tangga digital?
Maksudnya ibu rumah tangga tanpa jarum panjang dan pendek?
Itu jam dinding kali :)

 Lalu apa itu pengertiannya?
Jujur nih, Sebenarnya waktu itu, saya cuma asal saja membranding diri sendiri sebagai ibu rumah tangga digital,ketika masuk lagi ke dunia kampus. Karena...awal kuliah, setiap ngaku sebagai ibu rumah tangga (saja), respon selalu kurang sreg di hati. Jadilah saya tambah kata digital dibelakangnya. Biar kelihatan rada keren? Iya juga sih, itu maksudnya.

Sebenarnya tidak salah juga loh saya menambah embel-embel digital itu. Karena saya IRT yang aktif di dunia digital. Saya bikin blog, alias blogger. Saya jualan di internet, atau onlineseller. Saya aktif di fb alias fesbuker (loh judul acara TV).

Millenial mom
 Millenial Housewife - Ibu Rumah Tangga Digital
(Di samping laptopnya, ada setumpuk cucian kotor, hihihi)

 Saya IRT, namun di pertemuan pertama kuliah sudah siap dengan nama mailing list di GMail untuk teman sekelas saya. Saya membuatkan blog beberapa teman yang nggak ngeh sama sekali tentang dunia blog, ketika ada tugas dosen.
Saya mengambil topik seputar elearning (pembelajaran menggunakan teknologi internet) dari tugas semester satu sampai tugas akhir tesis. Setelah lulus, saya semakin aktif di dunia internet yaitu sebagai blogger pro. Bukan pro Ahok,loh ya...*peace. Blogger Profesional, maksudnya.

Pekerjaan, lalu lintas komunikasi, karya, belajar, bicara dsb semua melalui teknologi gadget digital. Nah, pantaskan saya disebut IRT digital?

Sebenarnya, ini bukan masalah pantas tidak pantas. Tetapi bahwa ternyata ada peluang di luar sana yang menerima status ibu rumah tangga sebagai anggota baru. Di dunia digital.

Saat ikutan acara AkberSby bersama lenovo kemarin, saya mengenal istilah Generasi Millenial. Generasi millenial adalah generasi dengan karakter khas, diantaranya adalah ia tidak mau berhenti belajar, terus bergerak, familiar dengan teknologi-gadget dan internet. Mereka bukan sosok individual tetapi butuh berkomunitas secara digital, sekaligus bisa berkarya secara digital. Menarik sekali. Gue banget tuh kan???

Karena saya  (mantan) anak muda, maka sebutan yang pas adalah sebagai Millenial Mom atau lebih lengkapnya lagi Millenial Housewife. Nah keren kan, ibu rumah tangga digital jadi millenial housewife? :-D

Saya pun berselancar mencari di dunia seberang sana, adakah istilah ini lazim dipakai oleh IRT yang aktif di dunia maya? Dan ternyata ada. Bahkan ada web khusus membahas millenial housewife ini. Di pinterest juga banyak yang membahas millenial mom. Akhirnya, gue dapat nama profesi yang keren didengar :-D .

 Apa itu tepatnya peran dan jobdes millenial housewife? Apa keuntungan dan kelemahannya? Dan mengapa lebih baik wanita (anak wanita/murid wanita kita siapkan sebagai milenial housewife?

Saya merangkumnya singkat dengan kalimat begini. Profesi Milenial Housewife ini sesuai perkembangan jaman. Anak muda generasi Z, kelak akan dewasa, menikah dan mungkin memilih menjadi ibu rumah tangga. Nah, optimalisasi perangkat teknologi yang sudah biasa dipakai bisa dilakukan di momen itu.

Dengan cara ini,  Perempuan tetap update, aktif, produktif. Bahkan ketika anaknya lahir, kehidupannya tidak berhenti. Secara menakjubkan malahan, mereka bisa menjadi saksi tumbuh kembang anaknya secara detil. Mereka bisa ada di momen berharga anaknya. Ketika pertama tampil di panggung playgroup, jadi pemain sepak bola, ikut olimpiade matematika atau ujian nasional.

Di setiap tahap kehidupan rumah tangganya, bisa ditulis di dalam blog. Ditulis dari rumah dengan kualitas bernama 'pengalaman nyata'. Generasi millenial memang lazimnya suka berbagi cerita, seperti halnya berbagi status di sosmed tentang tiap detil kegiatannya. Jika cara ini dibina secara konsisten dan sepenuh hati, maka kelak aktivitas digitalnya itu bisa dijadikan peluang bisnis.

 Millenial housewife punya peluang besar jadi self employee dan pengusaha online yang sukses. Asalkan dua syaratnya terus dilaksanakan. Yaitu tidak berhenti belajar dan mempraktekkan hasil belajarnya. Jadikan itu sebagai siklus kehidupan yang menarik.

Ayo, upgrade diri para ibu rumah tangga....!!!

3 comments:

  1. kok aku jadi pengen nyanyi lagunya mas robbie williams... milleniuuumm...hihi
    aw aw keren mak istilahnya :)

    BalasHapus
  2. setuju mak Heni . . .
    Meskipun IRT kita ngga boleh ketinggalan teknologi dan informasi. Kuliah S2 dimana mak?

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊