Datanglah ke Bali dan Coba Rasakan Kelembutan Hati di Balik Proses Pembuatan Canang Sari

Even the Simplest Things can be Beautiful

Ketika berwisata, sebagian besar orang datang ke destinasi wisata yang sudah terkenal. Namun saya lebih nyaman mempraktekkan tips wisata sederhana dan lebih 'ngena' di hati. Salah satu tips yang diberikan oleh teman dekat saya. Yaitu berwisata ke dalam hati para pribumi. Menelusuri kehidupan penduduk asli suatu daerah dan menyerap energi positif dari sana, apapun bentuknya. Seperti yang pernah saya alami saat berkunjung ke Bali.

Di salah satu sudut rumah di Bali, ada sepasang ibu dan anak perempuannya yang sedang asyik membuat sesuatu. Di tangannya ada beberapa helai daun kelapa muda (janur) dan sebilah pisau kecil. Tangan mereka cekatan sekali, mengiris, mengukir, melipat sehingga janur itu berubah bentuknya menjadi seperti mangkok kecil yang indah. Orang Bali menyebutnya Canang.

Canang sari

Ibu Ida Ayu dan putrinya Dayu Intan, sudah terbiasa dengan rutinitas pagi itu. Setiap hari mereka membuat Canang. Canang adalah wadah sesaji untuk banten (berdoa), bagi umat Hindu. Terbuat dari janur yang dihias indah, tampak diletakkan di beberapa tempat di Bali. Wadah itu berisi potongan tebu, bunga, beras, daun pandan dan beberapa tetes air.

Canang sari terbuat dari janur atau daun kelapa yang masih muda. Janur ini dihias sedemikian rupa, sehingga menjadi wadah yang cantik. Hampir setiap hari ada Canang Sari yang diletakkan di mana saja. Di atas pagar rumah, di jalan raya, di dekat pohon, dekat Pura, dekat tempat persembahyangan orang Hindu. Karena Canang sari digunakan ketika orang Hindu akan berdoa.

Canang sari ini tidak hanya ada di Bali. Orang Hindu di daerah luar Bali, juga menggunakan Canang sari. Jika tidak sempat membuat sendiri, atau kesulitan menemukan bahannya, mereka bisa membeli canang yang sudah jadi di Pura. Bahkan ada yang lengkap dengan isi sesajiannya, sehingga lebih mudah digunakan sebagai pelengkap peralatan berdoa.

Memang sekarang canang bisa dilihat di mana saja, tidak hanya di pulau Bali. Namun melihat pembuatannya langsung di Bali, membuat hati meleleh juga. Bukan hanya bentuknya yang cantik, atau tangan pembuatnya yang cekatan. Namun kebersamaan antara orang-orang yang membuatnya itulah yang begitu manis untuk dilihat.

Pemandangan seperti inilah yang paling saya suka ketika sedang berwisata. Menyaksikan langsung kehidupan sehari-hari orang asli daerah yang saya kunjungi. Jadi, selepas dari hotel, saya biasanya berjalan-jalan 'blusukan' ke kampung pemukiman warga. Di sana saya mencari orang yang bisa diajak ngobrol, mencari makanan khas kampung dan ikut serta kegiatan rutin. Hal itu jauh lebih membuat rileks daripada sekedar keliling pantai atau tempat wisata yang sudah terkenal di Bali.

Suara gamelan selalu bergantian terdengar di kampung Bali. Terutama ketika menjelang sore hari. Ada sekelompok anak-anak yang berlatih menari Bali. Dengan perangkat sederhana di halaman rumah seorang warga, mereka menari dengan khusyu. Liukan badannya, hentakannya dan tak lupa lirikan mata khas tarian Bali, tampak di sana.

Beberapa ibu yang sedang menunggui anaknya berlatih menari, berkumpul di sisi lain. Mereka bicara, bercanda sambil makan rujak kuah pindang dan membuat Canang bersama-sama. Kegiatan tanpa teknologi tinggi seperti inilah yang mulai terkikis. Ada juga beberapa ponsel pintar tergeletak di sekitarnya, namun mereka tidak fokus disana. Mereka lebih suka bicara langsung, menyentuh dan tersenyum.

Apakah yang bisa membuat hal tersebut begitu menarik perhatian daripada gadget?
Ah, saya tahu. Rasa kasih sayang, kebersamaan, sense of belonging yang tumbuh karena aktifitas bersama menyiapkan perangkat berdoa. Membuat canang sari.

Sedetil mungkin, seindah mungkin mereka membuatnya. Menunjukkan kesungguhan, kesabaran sekaligus pemberian yang seutuhnya untuk dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Sebuah hikmah yang luar biasa saya dapatkan, mempersiapkan segala sesuatu seindah mungkin, sebagai wujud syukur dan menghamba kepada Tuhan, adalah hal yang sangat baik untuk diteladani walaupun saya berbeda agama dan keyakinan.

Kebersamaan antara ibu dan anak, tetangga dan saudara itu juga prinsip kasih sayang kehidupan yang bisa membuat semua hal menjadi ringan, mudah dan damai. Pengawasan sosial mudah dilakukan, takkan ada lagi orang yang sendirian merenungi kesedihan karena selalu ada tempat berbagi cerita. Tak terdengar lagi kabar anak perempuan menghilang karena tiada merasa dekat dengan ibundanya. Betapa kegiatan sederhana yang dilakukan sepenuh hati bisa menjadi kunci peradaban yang mulia.


Pagi itu, adalah sebuah pengalaman berharga menyaksikan ibu dan anak puterinya membuat canang dari janur. Lalu terseraplah keindahan serta kelembutan hati yang menyertai di setiap proses pembuatannya. Sebuah kegiatan yang patut dicoba ketika anda datang ke pulau Bali.

lamun sira menek, meneka wit galinggang. sira bakal ketemu apa? Sira bakal ketemu janur, sing tegese jatining nur, ya Nur Muhammad. [Sunan Kalijaga]


artinya:
kalau kamu akan naik, naik saja pohon kelapa. Kamu akan bertemu janur, yang artinya jatining nur (cahaya sejati), yaitu Nur Muhammad (cahaya Rasulullah Muhammad SAW). 
sumber quote janur: Filsafat Jawa Sunan Kalijaga tentang pohon kelapa 'galinggang' dalam kehidupan.

13 comments:

  1. Ternyata tersimpan banyak filosofi kehidupan dalam ritual tradisi yg sudah mengental tiap harinya y mbak😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi filosofi janur dan pohon kelapa mbak, daleeem banget deh.

      Hapus
  2. Baru tau kalau tempat naruh sesajennya itu disebut canang. Hihihi. Makasih infonya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalau nggak ke Bali dan ketemu orang Bali ya nggak ngeh itu namanya canang

      Hapus
  3. Asyiknya bisa chitchat kece dengan penduduk setempat ya, Mba? Jadi bisa mengetahui sisi2 yg tak banyak diketahui oleh orang lainnya.

    Saya juga barubtau nih kalo tempat sesaji itu disebut canangsari. TFS, Mba Heni, keren sharingnya, suka cara bertuturmuh. :)

    BalasHapus
  4. Cara berwisata yg bikin adem. Wajib dicontek..

    BalasHapus
  5. Betul juga ya, kenapa harus berada di tempat wisatanya aja. Kenapa gak mencoba untuk blusukan dan mengetahui tata cara kehidupan warga sekitar? Hal ini malah membuat wawasan kita semakin bertambah, ya Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi jika disuguhi makanan gratis :)

      Hapus
  6. Baru tahu apa itu canang sari...hehehe

    BalasHapus
  7. Yang berbeda dengan campur sari, hihihi

    BalasHapus

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊