Tetap Tegar Jadi Emak Gahar



Emak gahar dilarang tumbang!
Emak gahar dilarang nangis di pojokan!

Lah, mbak Heni, itu ngapain sampai mangap-mangap segala. 
Ekspresinya itu sepenuh hati banget gaharnya. 
Hahaha, itulah cara terampuh saya untuk "mencambuk" diri sendiri. Memaksa diri sendiri melawan baper dan mager. [*baper = bawa perasaan, mager = males gerak]

Apalagi kalau udah harus berhadapan dengan siklus bulanan yang memporak-porandakan mood, dan membuat kaki dan boyok terus nyut-nyutan. Linunya itu loh, kayak habis naik gunung sama himpunan pecinta alam aja. Perasaan jaman sekolah, naik lereng gunung sampai subuh terus pulang ke kos-kosan, besoknya aman aja lari ngejar angkot. Sekarang track jalan kaki cuma pagar dan dapur aja, aduuh badan pegel semua.

Perempuan Multitasking Butuh Multivitamin

Mendengar keluhan saya itu, banyak teman yang menganjurkan saya minum multivitamin mineral dalam kemasan modern yang siap minum. Secara umur juga udah lewat jauh dari angka 17 tahun, saya pun kudu tahu diri juga lah. Apalagi perempuan, kerjaannya banyak bener, nggak ada habisnya dengan waktu terbatas. Mau jadi ibu rumah tangga, kerja dirumah, kerja di kantor, pokoknya jadi emak-emak itu nggak mungkin lepas dari multitasking.

Terlebih kalau udah jadi emak-emak, jadi ibu, jadi mom.
Singkatan kata MOM juga apa coba?


MOM = Master of Multitasking. 


Menjadi seorang ibu adalah sebuah perjalanan baru menjadi manusia ajaib yang ahli melakukan beberapa hal sekaligus. Multitask.


Ajaib?

Ya, karena tanpa perlu adanya pelatihan tertentu, seorang ibu otomatis saja bisa melakukan semua hal dalam satu waktu. Misalnya menggendong anak, sambil menyusuinya, sambil membersihkan telinga anaknya, sambil berjalan kesana kemari dari dapur menuju tempat mesin cuci baju. Ya, semuanya bisa dilakukan sekaligus. Bahkan sesekali sang ibu mampir ke meja makan, mencomot beberapa potong tahu goreng untuk pengganjal lapar saat menyusui.  Hitunglah berapa jumlah pekerjaannya? Mau ditambahin lagi? bisa!

Dengan beberapa pekerjaan yang perlu diprioritaskan sekaligus dalam satu waktu inilah, perempuan biasanya kurang baik menata pola makan dan pola hidup yang sehat. Terkadang karena kelelahan pula, terjadi gangguan kesehatan dan pencernaan yang menyebabkan penyerapan vitamin dan mineral dalam tubuh jadi tidak optimal. 


Terlebih jenis vitamin dan mineral itu ada yang larut dalam air, yang bisa mudah hilang jadi keringat atau air seni. Jadi harus di-"supply" terus supaya metabolisme tubuh tetep berjalan baik. Cara termudah ya minum multivitamin dan mineral. Selain menjaga stamina, multivitamin mineral diperlukan juga untuk beberapa hal dalam infografik berikut ini:





Memilih multivitamin juga kudu ati-ati loh mak. Sesuaikan dengan kebutuhan gizi kita yang dipengaruhi gender dan juga umur. Untuk perempuan, suplemen multivitamin biasanya dirancang untuk kebutuhan usia subur 18 - 50 tahun. Bahkan pada wanita hamil, diperlukan multivitamin yang mengandung lebih banyak zat besi dan asam folat, utnuk mencegah bayi lahir cacat. 

Nah, di cerita awal saya lemah letih lesu, itu bisa dikarenakan kekurangan vitamin dan mineral. Emang mak, itu loh, walaupun vitamin dan mineral hanya diperlukan dalam jumlah kecil, akan tetapi penting. Kalau kekurangan bakal ada masalah, kalau berlebihan juga kurang baik. Lebih lengkapnya saya sajikan dalam bentuk tabel ini nih, biar mudah bacanya. 



Tabel1. Jenis Mineral, Fungsi dan Akibat jika kekurangan


Tabel 2. Jenis vitamin, produk makanan sesuai 


Ketika Menstruasi, Kemampuan Multitasking Perempuan Menurun


Jadi, kayak saya tuh, kalau lagi mens badan pegel semua, lemah, letih, lesu, itu bisa diakibatkan kurangnya asupan vitamin dan mineral berupa zat besi, Mangaan dan seng. Saat siklus menstruasi, bahkan ketika sudah menopouse, perempuan membutuhkan asupan zat seng dan zat besi dengan baik. Coba deh kalau lagi drop bulanan gitu, minum suplemen yang ada kedua unsur mineral tadi, dijamin badan lebih seger rasanya. 

Kebetulan, kemarin saya coba minum tuh multivitamin mineral Theragran M, lumayan badan ini jadi seger lagi dan bisa neruskan beberapa pekerjaan yang tertunda. Itu karena, di dalam setiap kapsulnya mengandung beberapa vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh, dengan komposisi tepat. Minumnya juga sehari sekali saja ya, kecuali dokter menganjurkan lain. 


multivitamin theragran M
Jenis vitamin dan mineral yang ada dalam Theragran M


komposisi Multivitamin Mineral Theragran M

Nah, jadi kenapa ada orang bilang kalau multitasking perempuan menurun ketika mens? 

ya karena setelah diteliti, kemampuan spasial perempuan berkurang dalam siklus mens bulanannya. Kemampuan spasial itu penting karena menentukan kemampuan menggabungkan beberapa kemampuan yang berbeda sekaligus. Tetapi hal ini juga berbeda-beda sih, tergantung bawaan tiap orang juga. Ada perempuan yang makin lincah gesit saat mens, ada yang makin susah mikir banyak hal dan melakukan multitasking. 



Pokoknya kalau mau kerja multitasking, butuh banyak energi deh, kayak animasi di bawah ini:


Ingat! Jangan Berlebihan

Walaupun sangat berguna untuk kesehatan, minum multivitamin tidak boleh berlebih loh mak. Hindari multivitamin yang melebihi 100% dari nilai harian yang direkomendasikan. Karena kalau kebanyakan dalam dosis besar, dapat jadi racun bukan jadi nutrisi dalam makanan. Misalnya kelebihan kalsium, akan menghambat penyerapan zat besi. Pokoknya pilih multivitamin dengan komposisi seimbanglah kayak Theragran M ini, yang diproduksi perusahaan terpercaya PT. Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk. Belinya juga gampang, ada di apotek terdekat atau apotek online yang sekarang sudah mulai banyak beredar di internet. 


Tetap Tegar Jadi Emak Gahar

Bener juga nih, setelah rutin mengkonsumsi multivitamin mineral Theragran M, badan jadi lebih segeran. Nggak gampang ngantuk, lesu dan bete lagi. Pekerjaan rumah beres, urusan kerjaan di blog dan edupreneur juga oke. Proposal training digital learning yang sudah diminta oleh pihak sekolah, bisa saya hias lagi dengan beberapa infografik dan mengirimnya menjadi berkas yang lebih cantik. 
fotonya yang cakepan dikit napa mak? :D
Serius nih, nggak mudah jadi perempuan loh, apalagi emak gahar. Kan emak gahar nggak boleh nangis di pojokan? wkk..

Yang artinya, biarpun migren melanda atau gundah gulana kehidupan datang menerjang, tetep aja rencana kerja kudu jalan terus. 

Demi apa coba?
Emak gahar ingin membangun 7 karakter perempuan suksesIngin menguji kemampuan diri sendiri, seberapa besar pencapaian yang bisa dibangun oleh perempuan yang baru bisa berkarya setelah belasan tahun menjadi ibu rumah tangga. Nah, 7 karakter ini harus saya upayakan sekuat tenaga tetap ada dalam diri saya. Yaitu:
  1. punya passion yang kuat
  2. mau bekerja keras
  3. fokus 
  4. punya motivasi diri yang kuat
  5. melayani sepenuh hati
  6. gigih menghadapi rintangan
  7. percaya diri
Apalagi saya nih dianugerahi anak laki-laki semua. Saya kudu menunjukkan ketangguhan dalam menjalani hidup. Sehingga anak saya jadi anak gadas, kuat sekuat batu cadas. Tapi itu semua tidak hanya dibangun dengan tekad. Melainkan kudu dibarengi gaya hidup sehat. Sepakat? 

Semoga menginspirasi ya...

Salam, 


Emak Gahar :D
alias Heni Prasetyorini







Saat Ibu Rumah Tangga Ngayal Jadi Juragan Minimarket


Kalau dibilang ibu rumah tangga suka banget baper, itu bener sekali. Terutama di bagian ujung dan akhir dari kolom mingguan kalender. Awal bulan dan akhir bulan, *sigh. Saat awal bulan, harusnya kita gembira ria ya, dana segar udah cair. Tapi, jujur saya sering banget baper pas giliran belanja kebutuhan bulanan untuk sembako dan aneka ria jenis sabun. Tiap maju di meja kasir, sering saya mbatin gini,
"dari dulu kok giliran aku aja yang beli dan bayar, kapan giliranku yang jual?"
 Yang artinya, kapan yaa bisa punya minimarket kayak Alfamart gini. Udah adem, bersih, rapi plus selalu disambut dengan kalimat "selamat datang...." lalu dilepas dengan kalimat, "selamat datang kembali...". So sweet kan? :D

koleksi Alfamart.com
Ya ampun Heni, bangun atuh.
Mimpi kok segede langit pengen punya bisnis franchise alfamart. Eh lah, siapa tahu diijabah oleh Sang Penguasa Alam Semesta? iya toh? Apalagi katanya, bermimpi harus sampai setinggi langit. Biar kalau jatuh, masih berada diantara bintang-bintang. Yang artinya, nggak ada salahnya ibu rumah tangga bermimpi jadi juragan minimarket paling hits di Indonesia ini. Siapa tahu ada teman baik hati, mampir lalu ngasih modal, ya kan?
amin
*lalu berdo'a di pojokan kamar :)

FYI ya Gaess..
For Your Information.
Cakep-cakep gini, saya udah pengalaman dagang loh. Biar kata kemarin berkutat sama tabung reaksi dan erlenmeyer. Ketika fix jadi IRT, jiwa dagang saya mulai dipaksa muncul, hehehe.

Enggak kok, serius.
Memang saya keturunan pedagang. Nenek dari ibu saya, gemar berdagang dan kreatif sekali. Kesukaan nenek, yang kami panggil, Mbah Pa, adalah berjualan makanan alias bisnis kuliner. Mbah Pa pernah jualan rujak ulek, buka warung, jualan kue dan es di depan asrama polisi tempat mbah dan ibu saya tinggal.

Ibu saya selain jadi penjahit, juga suka bisnis kuliner. Malah yang paling lama itu bisnis jualan Jamu seduh. Aneka jenis dan merk jamu seduh saya tahu. Cara mengadon jamu juga saya cukup piawai. Bahkan saya dan adik cewek saya, kalau iseng bikin jamu sariawan atau jamu Gadis Remaja. Dibikin sendiri, dikasih madu, diminum sendiri. Iseng-iseng berhadiah kesehatan, hihihi.

Ndilalah alias kebetulan juga, ibu mertua saya penjahit pula. Hadeeh jodoh banget ya, saya dan suami. Sampai profesi ibu kami pun sama.

Nah, sejak saya bertransformasi jadi Ibu Rumah Tangga, saya pun mulai berdagang. Diawali dengan jualan daster milik kakak ipar. Lalu merambah produksi jilbab sendiri dan menjualnya secara online. Sempat ikutan MLM jualan produk madu, tapi gagal total. Lalu membuat aksesoris dari kawat, belajar otodidak sampai ada orang Malaysia yang ingin memesan. Dan dari produk kreatif ini, saya bisa diliput oleh Metro TV Jatim di segmen wideshot Inspirasi Bisnis Kreatif tahun 2013.

Yang intinya adalah, sekali kita berdagang maka virus dagang itu akan melekat erat sampai ke sel DNA. eaaaa...biologis banget siihh Hen.

Beneran, suer. Walaupun sekarang saya milihnya ke jalur digitalpreneur, tetep aja jika ada peluang bisnis maka radar saya akan menyala. Buktinya ya dari kegelisahan saya ketika belanja bahan bulanan di minimarket itu tadi. Gelisah untuk memilih jadi penjual daripada sekedar pembeli. Mimpi setinggi langitnya ya jadi  pemilik bisnis franchise alfamart. Apalagi setelah mengalami pengalaman dagang, serta berkumpul dengan para ahli di bidangnya.

Saya berkesimpulan bahwa berdagang itu tak sekedar nyari duit, nyari untung. Tetapi bisa diniatkan memberikan kemudahan kepada user atau konsumen kita. 

Salah satunya ya seperti minimarket itu tadi. Dengan lebih lengkapnya barang yang tersedia, dengan harga terjangkau, maka konsumen mudah mengakses toko dan memenuhi kebutuhannya. Tidak perlu parkir di tempat yang jauh meliuk-liuk. Cukup jalan kaki beberapa meter atau naik sepeda motor sekitar lima menit, sudah sampai di minimarket.

Kebayang juga saya jadi juragan minimarket, bakal punya banyak teman baru. Karena saya paling seneng nemenin di bagian kasir, lalu ngajak ngobrol orang. Asik gitu, lihat aneka karakter orang dan cara mereka menjawab pertanyaan kita. Terkadang bisa belajar tentang kehidupan tanpa sadar. Yang pasti, di minimarket saya nanti ada spot untuk jualan buku unik dan menarik. Ditambah sesi dongeng tiap Minggu pagi di pelataran minimarket. Aiihh, bakal banyak anak kecil-kecil lucu, imut, ginuk-ginuk.

Amin, Ya Rabb...
Tolong Like, Share dan tulis Amin.
Hihihi...

So, khayalanmu apa?







Raising Boys Itu Tak Semudah Beli Sepatu Online

Raising boys alias mengasuh anak laki-laki itu bisa dibilang asik-asik ajaib.

Kalau dibandingkan dengan membeli sepatu, bisa dibilang lebih mudah. Apalagi kalau belanja sepatunya di toko online. Yang recommended tuh belinya di situs online-nya MatahariMall.com.  Di sini kita bisa tahu jenis dan merk serta harga sepatu anak lelaki branded. Kenapa butuh yang branded? Lah, bukannya kenapa sih, karena anakku nih setali tiga uang sama bapaknya. Males banget diajak ke mall apalagi ke toko baju dan sepatu. Paling alergi katanya. Beda banget sama emaknya ya, hihihi. Karena jarang banget update sepatu, maka kudu milih yang awet. Nah, sepatu branded itu biasanya lebih awet dan enak dipakai. Saya udah nggak pengen lagi denger alasan anak menolak diajak ke mall buat nyari sepatu.

 “ngapain sih beli sepatu baru lagi ma? Ini juga cukup”, 

itu aja alasan mereka kalau diajak pergi. Padahal tuh sepatu lama udah butut bin baunya ajiibb. 
koleksi MatahariMall.Com

Setelah saya tunjukkan gambar sepatu dari situs belanja online tadi, barulah mereka semangat dan ikutan buka katalog sepatu onlinenya. Biar rempong urusan milih sepatu atau baju, untungnya nih barisan lelaki di rumah saya bukan tipe metroseksual. Pada males dandan. Jadi nggak perlu beli aneka jenis printilan atau kudu up to date sesuai yang lagi trendy. Makin klasik dan awet, mereka lebih suka. Syukurlah, emaknya nggak ada saingan. Mau beli apa-apa juga bisa save money duluan, karena buat beliin anak sepatu, bisa tahu harga sepatu anak lelaki branded dari MatahariMall.com.

Nah, itulah sisi asik punya anak laki semua. Tapi ada juga sisi ajaib yang kadang bikin kita ngelus dada.  Ajaib karena semakin lama, saya sering mendapatkan perilaku yang sangat jauh dari sifat dan kepribadian saya sebagai ibunya, satu-satunya perempuan di rumah.  Misalnya nih, mereka mendadak diam saja santai setelah mengalami hal tidak menyenangkan. Bapernya Cuma sesaat aja gitu loh. Ketika saya sebagai emaknya masih penuh dendam membara, nih anak udah santai main game.

Ada lagi. Kedua anak lelaki ini hampir sama dengan suami saya, bapak mereka. Yaitu susah sekali melakukan multitasking. Alias ngerjakan beberapa hal sekaligus. Misalnya, mereka tidak bisa melakukan hal sekaligus memasak, sambil mencuci piring lalu menyapu rumah dan memasukkan baju kotor ke mesin cuci. Walaupun di awal sudah dilakukan rencana kerja dan kesepakatan, tetap saja ada yang terlewat dan kelupaan. Ini bikin gemes banget. Rasanya mereka nggak bisa efektif gitu loh.

Ternyata eh ternyata, memang begitulah karakter dasar manusia bergender laki-laki. Susunan otaknya memang sedikit berbeda dengan perempuan. Ada bagian otak laki-laki yang cara kerjanya ON-OFF. Jadi ketika melakukan satu pekerjaan, akan ON untuk satu hal dan OFF untuk hal lainnya. Jadi itu sebabnya, ketika mereka mencuci, mereka tidak akan memikirkan sama sekali tentang menyapu dan memasak. Mereka hanya bisa menyelesaikan atau mengingat hal satu demi satu secara bergantian. Mengetahui kalau ini bawaan secara biologis dari Tuhan, saya harus menerimanya dengan lapang dada 

Satu lagi yang kompak menjengkelkan. Nih anak dan bapaknya sama aja. Selalu bertanya dimana benda ini itu. Lupa ditaruh dimana. Meletakkan sembarangan. Entah itu penting atau tidak. “ma, sabukku dimana? Kaos dalamku dimana? Kasoku yang hitam dulu itu dimana? Kertas yang ada tulisan nomer teleponnya itu dimana?

Hadeehh pengen kabuur aja kalau udah ini terjadi. Paling males disuruh nyari barang walau di rumah sendiri. Udah mah kita ngomel beribu kali, juga berulang lagi lagi dan lagi, mereka meletakkan barang sembarangan. Tuhan, ini kutukan atau apa yaa namanyaaa?? Ibuuukk tolooong.

Kalau dari segi ini, nih otak perempuan lebih unggul. Kita bisa merekam letak secara spasial dengan lebih lama. Lebih ingat diletakkan dimana. Dan memang, saya juga mudah sekali. Anak dan bapak muter setengah jam mencari barang. Ketika bertanya pada saya, biasanya maksimal 10 menit sudah ketemu tuh barang. Atau malah Cuma 5 menit.

Itu adalah sesi-sesi ajaib mengasuh anak lelaki. Yang asik juga ada.
Keasikan ini terjadi karena saya satu-satunya perempuan di rumah. Ratu rumah. Satu-satunya putri, walaupun lebih tepatnya disebut Putri yang Teraniaya, LOL.

Apakah itu?
Ya urusan kecantikan dan berdandan. Fix, saya aman tanpa ada satupun yang protes ketika saya beli baju baru, sepatu baru, lipstik baru atau jilbab baru. Mereka tidak akan minta dibelikan juga.

So, yang punya anak laki-laki, Merasakan hal yang sama juga mak? :D

Suami Nggak Baper Lagi Kalau Ditugaskan ke Jakarta, Ada Objek Wisata Menarik di Kawasan Morrisey Hotel Residences Jakarta

Enak gak enaknya jadi ibu rumah tangga udah kenyang saya rasakan. 

Enaknya kalau kita pengen berkarya dan "kerja" nggak usah nembus kemacetan, cukup di rumah saja atau beredar di sekitar rumah. Nggak enaknya itu kalau ditinggal suami tugas luar kota, lalu dia pamer kamar hotel, fasilitas hotel bahkan objek wisata dari kota yang disinggahinya. Dan itu makin menyakitkan lagi, karena cuma dikirimin foto via messenger. Saya nggak diajaaakkk.... *nangis bombay. 

Sejak pindah ke departemen baru, suami saya jadi sering luar kota. Biasanya dia paling sebel kalau ditugaskan ke ibukota, ke Jakarta. Karena macet, nggak enak, jauh dari objek wisata untuk melepas lelah dan apalah apalah lainnya. 

Ya, namanya juga Jakarta gitu loh. 
Jakarta kan kota metropolitan. Yang juga termasuk salah satu kota tersibuk di Indonesia, dari pagi hingga tengah malam pun aktifitas di kota ini tak pernah berhenti. Dikarenakan banyaknya pusat-pusat bisnis dan perbelanjaan di kota ini, maka banyak para pebisnis yang datang untuk urusan bisnis, atau berbelanja di kota ini. Memang tak semua yang datang ke Jakarta adalah pebisnis, banyak juga dari mereka yang merupakan wisatawan yang ingin berkeliling Jakarta.

Dengan banyaknya wisatawan dan pendatang tersebut tentu kebutuhan akan penginapan pun semakin banyak. Oleh karena itu banyak sekali hotel-hotel yang berdiri di Kota Jakarta. Hotel-hotel di Jakarta kebanyakan memang hotel berbintang mewah. Tapi kalau lagi butuh sih, ada juga beberapa hotel ekonomis yang ada di kota ini. Mesen kamar hotel juga sekarang nggak pake repot. Bisa melalui situs travel online yang iklannya udah banyak beredar di media. Nah, salah satu hotel berbintang di Jakarta yang sudah bisa kita pesan langsung melalui situs travel online seperti traveloka adalah Morrissey Hotel Residences Jakarta.

Sumber Gambar : traveloka.com

Morrissey Hotel Residences Jakarta terletak di area Menteng tepatnya di Jalan Wahid Hasyim. Hotel ini letaknya sangat strategis dan sangat mudah dijangkau. Hotel yang berkonsep modern dengan furniture kayu, dan unik. Pastinya hotel berbintang 4 ini cocok jadi tempat transit saat kerja atau kalau keluarganya ikut sekalian buat piknik. Hiks, ngarep banget aku deh. *Maass...ajak aku ke Jakarta yaaa...:D

Ketika memasuki hotel Morrissey, kesan tenang dan nyaman akan kita dapatkan pada saat memasuki lobi hingga ke dalam kamar. Hotel yang menyediakan 5 tipe kamar ini tentunya memiliki berbagai macam fasilitas pendukung yang cukup lengkap. Mulai dari free Wi-Fi, gym, kolam renang, restoran, hingga layanan shuttle ada di hotel ini.

Kolam renang di hotel ini pun cukup menarik, kolam renang indoor yang juga berkonsep modern ini terlihat sangat bersih dan nyaman sehingga cocok untuk bersantai. Dan restoran hotel ini pun tidak kalah menarik, restoran khas Italia yang bernama Ocha & Bella ini dibagi menjadi dua tempat yaitu indoor dan outdoor.

Di area indoor kita dapat melihat proses pembuat makanan di dapur yang memang di desain secara terbuka, dan pada area outdoor anda dapat menikmati pemandangan kota dan bersantai di kursi goyang, ayunan, atau sofa dalam birdcage.

Untuk para tamu yang datang dari luar kota tentunya ingin berkeliling Jakarta dan mengunjungi beberapa tujuan wisata. Suami saya dan koleganya tak perlu khawatir, mengingat lokasi hotel ini yang sangat strategis, mereka tentu dapat mudah menemukan beberapa lokasi yang patut dikunjungi dan tak jauh dari hotel. Berikut beberapa lokasi yang bisa anda tuju.

Monumen Nasional (Monas)
Monumen Nasional atau yang biasa disingkat Monas ini merupakan monumen setinggi 132 meter yang dibangun dengan tujuan untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Monumen ini mulai dibangun pada tahun 1961, dan mulai dibuka pada tahun 1975. Di atas tugunya terdapat mahkota lidah api yang dilapis emas. Disini kita juga dapat mengunjungi museum yang berisi berbagai macam peninggalan pada zaman perang. Monas buka setiap hari mulai pukul 08.00 – 15.00 WIB.

Sumber Gambar : commons.wikimedia.org

Planetarium & Observatorium Jakarta
Planetarium Jakarta merupakan tempat wisata pendidikan yang menunjukan peragaan simulasi bintang dan benda benda langit lainnya. Anda akan disuguhkan simulasi langit untuk memahami konsep tentang alam semesta. Tempat wisata ini mulai berdiri pada tahun 1964.

Di tempat ini juga terdapat ruang pameran yang berisi berbagai macam benda-benda angkasa, foto dari berbagai bentuk galaksi, dan teori-teori terbentuknya galaksi dan tokoh yang menemukan teori tersebut. Disini anda juga dapat melihat benda-benda langit secara langsung melalui teropong khusus, anda dapat melihat fenomena, dan kejadian alam lainnya seperti gerhana, komet, dan lain lain.

Sumber Gambar : commons.wikimedia.org

Plaza Indonesia
Plaza Indonesia merupakan pusat perbelanjaan yang berada di Bundara HI, tepatnya Jalan M.H. Thamrin dan Kebon Kacang Raya. Di Plaza Indonesia kita dapat menemukan berbagai macam tenant-tenant ternama, restoran, playground, dan masih banyak lagi.

Di sebelah gedung kita dapat menemukan Entertainment X’nter yang merupakan pusat perbelanjaan yang ditujukan untuk para remaja, uniknya ke dua gedung tersebut tersambung secara langsung dengan sebuah jembatan.

Masih banyak tempat menarik yang wajib anda kunjungi saat berada di Jakarta, salah satunya adalah Dunia Fantasi atau Dufan, lokasinya memang tidak terlalu dekat dengan Morrissey Hotel namun tempat wisata ini wajib kita kunjungi saat berada di Jakarta. Dufan memiliki berbagai macam wahana anak hingga wahana yang menantang, sehingga tempat wisata ini sangat cocok untuk wisata bersama keluarga ataupun bersama teman. Jika tidak ingin untuk bermain, mungkin kita bisa mengunjungi beberapa pantai di area Ancol.

Tuh kan, walau bertugas di Jakarta, asal bisa milih lokasi Hotel yang tepat, bisa deh sekalian piknik. Apalagi kalau bisa ngajak istrinya juga, #eh.

Semoga bermanfaat informasinya ya :)
Salam,

Heni Prasetyorini

Remember My September

sepenggal kisah dari buku yang akan kutulis berjudul Diary Inkubator.....
 Siang itu rasanya aneh, ada kontraksi di perutku walau prediksi lahir anakku masih satu setengah bulan lagi. Aku pun memilih tiduran dan beristirahat saja. Barusan tadi, aku kerja marathon; cuci baju, cuci piring, ngepel rumah, ngisi tandon air dan bak kamar mandi. Rutinitas yang kulakoni ketika sedang membeli air sumur di ibu warung kampung seberang. Karena sistim bayar air sumurnya Rp.6000,-/jam. Supaya hemat sekalian saja ketika air sedang dipompakan ke rumahku, semua pekerjaan yang membutuhkan air aku kerjakan secara paralel. Hasilnya ya sering begini, kelelahan. Terutama ketika kehamilanku semakin besar.

Ketika tiduran, aku merasakan kontraksi lagi beberapa kali. Sakit sekali, tapi jarang. Belum waktunya lahir kok sudah kontraksi, aku cemas juga. Langsung kuhubungi suamiku dan akhirnya nanti malam kami sepakat untuk pergi ke dokter kandungan. 

“Sudah bukaan satu bu, tenang saja. Pulang saja ya, tunggu di rumah” begitu kata dokter di kamar periksa. 

“Lho dok, kok sudah bukaan satu. Kan saya lahirannya nanti akhir bulan Oktober. Sekarang masih tanggal 5 September. Apa nggak prematur dok, anak saya nanti?” tanyaku cemas.                    

“Ah, enggak. Ini sudah gede anaknya. Udah 2,5 kg. Aman. Sudah di rumah saja, banyak jalan-jalan”. Kami pun pulang. Aku tenang-tenang saja sekaligus senang. Ibu hamil yang dikabari anaknya segera lahir, pasti akan senang. Setelah berbulan-bulan hamil, akhirnya bisa melihat wajah anaknya. Semoga anakku sehat dan organ tubuhnya sempurna, itu saja doaku.

Karena disarankan untuk aktif, maka aku semakin giat jalan-jalan. Mengajak anak sulungku yang berumur empat tahun, aku keliling kesana kemari berjalan kaki di sekitar perumahan.

 Dan dua hari kemudian, setelah hampir 21 jam di rumah sakit, anak keduaku lahir. Oeekkkk, suaranya yang keras membuatku lega sekali. Anakku bisa menangis, anakku sehat. Rasa  sakit pasca melahirkan normal langsung hilang tanpa bekas. Selesai dibersihkan, suamiku berbisik perlahan padaku, “ma, bapak masuk rumah sakit lagi semalam, kena stroke. Ibu bilang, kalau mama sudah melahirkan saja dikasih tahu.” Aku menghela nafas panjang, “howala … semoga bapak sembuh ya. Sudah nasibnya bapak keluar masuk rumah sakit karena ada penyumbatan di jantung”.

Karena tensi darahku sudah normal dan tidak ada keluhan pusing, aku diijinkan keluar dari ruang bersalin. Sampai di sal tempat tidurku di ruangan kelas tiga, aku langsung jatuh tertidur. Lelah sekali, menahan kontraksi dan proses pembukaan jalan lahir mulai jam dua siang sampai lima pagi. 

Aku sempat menggerutu sendiri, “kata ibu melahirkan anak kedua lebih enak, lebih cepat, lebih nggak sakit. Ah..ibu bohong nih”. Hanya satu jam aku tertidur, lalu aku segera mandi dan membersihkan diri dengan lebih maksimal. Aku ingin segera ke ruangan bayi, melihat wajah anak lelaki keduaku dengan lebih teliti.

Sampai di ruangan bayi, suster ada yang bertanya, “lho bu, kok sudah bisa jalan-jalan. Nggak pusing?”. Aku tersenyum dan menjawab tidak. “anak saya mana ya, Sus?”, tanyaku celingukan dari depan pintu ruang bayi. “Di sebelah sana bu, yang dipasangi oksigen,” jawab susternya singkat. 

“Oksigen?”, tanyaku dalam hati. 

Aku pun menuju ke seorang bayi kecil yang sedang tidur, terbalut selimut putih dengan selang oksigen yang dipasang di hidungnya. Dadanya turun naik dengan cepat, seperti anak yang tersengal-sengal setelah lomba lari dengan temannya. Aku lirik bayi lain di sebelahnya, dadanya tidak bergerak naik turun secepat anakku, lebih tenang. Hatiku tersentak, ada apa ini?

Lalu aku menghampiri dokter kandungan yang menolong kelahiranku tadi dan menanyakan, “Pak dokter, kenapa anak saya dipasangi oksigen?”. Dokter itu berhenti menulis, menatapku lalu menatap kearah anakku berbaring. “ah itu biasa, seperti kita kalau memakai kacamata baru. Butuh adaptasi. Nah anak ibu sedang beradaptasi bernafas langsung. Paling cuma dua jam dioksigennya. Nggak pa pa, ibu istirahat saja ya.” Hatiku lebih lega, kemudian mencari suami dan ibu mertuaku yang berpamitan ingin pulang ke rumah. Membersihkan ari-ari dan bajuku yang kotor terkena darah persalinan. Aku mengiyakan dan menunggu di sal.

Ketika asik mengobrol dengan teman di kamar sebelah, seorang suster tiba-tiba masuk. Masih berdiri di depan pintu, suster itu berteriak, “bu Heni? Bu Heni mana ya? Bu Heni, anaknya mau diinfus nih.” Aku terkejut mendengar namaku disebut. Langsung kuhampiri suster itu, “ya saya bu Heni. Kenapa anak saya diinfus, Sus?”. Suster itu masih sibuk dengan kertas-kertas yang dia bawa, lalu menjawab, “ kata dokter anak disuruhnya begitu bu, anak ibu prematur katanya.”.

Hah? Premature?

Jantungku serasa berhenti berdetak. “saya mau ketemu dokternya dulu. Saya ingin tahu penjelasannya. Saya ingin tahu infus itu untuk apa dan isinya apa.” Suster itu baru menatapku, lalu menjawab “saya telponkan dokternya ya bu.”

Aku jatuh terduduk di dalam ruanganku yang hanya dipisahkan oleh kelambu dengan pasien bersalin lainnya. Airmataku jatuh. Sendirian aku menata hati, suamiku belum juga datang. Pikiran macam-macam mulai muncul, sampai yang terburuk sekalipun. Bahwa aku akan pulang dengan menggendong jenazah bayiku, dan ada pengajian tahlilan di rumahku. “

makanan datang bu, silahkan makan,”seorang petugas dapur memberikan senampan makanan di mejaku. 

Hatiku masih berdebat sendiri. “Heni, kamu mau pingsan atau bertahan? Anakmu ada dua. Kalau sekarang kamu pingsan, sedih dan jatuh sakit maka anak-anakmu bagaimana? Siapa yang menunggu dan menguatkan anakmu yang baru lahir itu kalau ibunya yang menyerah duluan? Dan anakmu yang sulung juga bagaimana? Suamimu?” begitulah aku bicara sendiri dalam hati dan banyak sekali percakapan yang muncul tapi harus kujawab sendiri.

Akhirnya aku memilih untuk kuat dan bertahan. Aku tidak boleh pingsan. Aku tidak boleh sakit. Aku harus makan. Dengan sekuat tenaga aku berusaha memasukkan sesendok demi sesendok makanan ke dalam perutku. Tiap sendoknya bercampur dengan linangan air mata yang jatuh sangat deras dan tak bisa kubendung. Makanan ini tidak ada rasanya. Aku makan sambil menangis. Satu jam kemudian, suamiku baru datang. Rupanya dia sekalian mengubur ari-ari (plasenta bayiku) di pekarangan rumah kami, membersihkan diri dan sarapan. Kukatakan padanya sambil terbata-bata, “mas, anak kita harus diinfus. Dia premature kata dokter.” Suamiku diam saja dan hanya menggenggam tanganku lebih erat. Tidak ada air mata yang jatuh di wajah suamiku. Kami sepakat untuk kuat dalam diamnya.

“Ibu, anaknya premature ya. Anak premature itu ada masa kritisnya, namanya Golden Age. Sejak lahirnya dihitung tiga hari. Jika tiga hari hidup, tunggu sampai tujuh hari. Jika lewat tujuh hari hidup, maka akan hidup selamanya. Sudah ya, ada pertanyaan lagi?”. 

Itulah percakapan pertama aku dan suamiku dengan dokter anak utama yang baru pulang dari Umroh. Dua hari sebelumnya, anakku dirawat oleh dokter pengganti yang tidak menerangkan apa-apa kecuali anakku didiagnosa lahir premature dan perlu diinfus karena harus puasa tidak minum ASI dulu. Jika diberi ASI, dikhawatirkan anakku nanti tersedak dan ASI masuk paru-paru karena dia tersengal-sengal. Kami diam saja dan menggeleng perlahan tanpa pertanyaan lagi. Dalam kondisi seperti ini, selain memikirkan kesembuhan juga tentang dana perawatan yang pasti sangat besar.

Setelah sedikit berdiskusi, aku dan suami sepakat untuk berjuang tanpa merepotkan keluarga. Aku persilahkan ibu dan bapak mertuaku kembali ke desa dan beristirahat. Aku kabarkan keadaan anakku pada saudara di rumah dengan syarat harus merahasiakannya dari ibu dan bapak yang sedang stroke di rumah sakit. Aku tidak mau bapak nanti semakin sedih dan drop mendengar cucunya harus di incubator karena premature dan  paru-paru kiri cucunya belum matang. Hanya saja aku meminta bantuan pinjaman dana dari saudaraku, karena tabungan kami sudah habis untuk biaya persalinanku. 


Kami tak punya cadangan dana medis, karena dari awal anakku diprediksi oleh dokter kandunganku, akan lahir normal, sehat dan tidak premature.  


Dengan pertimbangan untuk menghemat biaya medis juga, aku menguatkan hati untuk pulang lebih dulu dan meninggalkan anakku di incubator sendirian. Aku dan suami total pasrah kepada Alloh SWT. Berulang kali aku dan suami meminta doa kepada keluarga mertuaku, karena aku merahasiakan hal ini kepada orangtuaku sendiri.

Sakit pasca persalinan tidak begitu kurasakan. Menggunakan kain stagen tradisional, aku kencangkan perutku supaya bisa beraktivitas seperti biasa. 

Membersihkan rumah, masak dan mengurus anak sulungku yang sudah masuk sekolah TK. Pagi hari, anakku diantar sekolah oleh suamiku. Lalu siangnya, aku sudah siap dengan bekal makanan dan baju ganti anakku di teras rumah. Pintu rumah sudah kukunci dari tadi. Ketika tukang becak datang mengantar anakku pulang, segera aku mengganti baju seragam anakku lalu bersama kami diantar ke RSAB tempat anak keduaku di incubator.

 Aku menyuapi anak sulungku di depan inkubator adiknya yang lebih sering tidur merem. Jarang sekali membuka matanya. Mungkin karena belum waktunya lahir, jadi dia harus lebih banyak tidur. Aku mengganti popok bayiku itu jika dia ngompol. Terkadang stok selimut pelapis di ruangan habis, jadi anakku berbaring dilapisi perlak plastic saja. Melihat tubuhnya yang kecil dengan selang sonde lambung di hidungnya, infus di kaki atau tangannya dan selang oksigen di hidungnya membuat hatiku teriris. Rasa bersalah tak terkira terus membayangi, bahkan sampai hari ini.

Pagi mengurus rumah. Siang hari menjenguk anakku dengan si sulung. Malam hari menjenguk anakku lagi segera setelah bapaknya pulang dari kerja. Lalu pulang dan tidur di rumah. Begitu terus ritme hidupku selama anakku dirawat. Sebisa mungkin aku berusaha suasana di rumah biasa saja, walau hatiku sebenarnya begitu sedih karena tidak bisa terus mendampingi bayiku selama 24 jam. Setiap detik aku terus berdzikir dan berdoa. Tak banyak ibadah yang bisa kulakukan karena aku masih dalam keadaan nifas. Ada yang bilang, bersedekahlah dan sebutkan niat kesembuhan, maka berusaha kulakukan. Karena dana minim, aku serahkan uang Rp.20.000,-kepada bapak pengangkut sampah di perumahanku dan kukatakan, “pak, saya sedekah. Mohon doanya untuk kesembuhan anak saya yang baru lahir”.

Begitulah dalam segala keterbatasan, aku menggantungkan harapanku hanya kepada Ke-Maha Besaran Alloh SWT. Mungkin juga niat kami untuk tidak merepotkan keluarga walaupun begitu sulitnya, rupanya menjadi nilai tambah juga di hadapan-Nya. Tepat hari ke-14, bayiku dinyatakan sembuh dan bisa dirawat dirumah. Di hari itu, aku sudah mandi jam 3 pagi, dan ada di RSAB jam 5 pagi. Padahal dokter visite baru jam 9 pagi. 

“ibuk rajin banget siih,”ledek para Suster kala itu.

 Aku hanya senyum saja menanggapinya. Karena suamiku harus kerja, tinggal aku dan si sulung yang menunggui adiknya siap pulang. Tepat jam 10 pagi, kami bertiga pun sampai di rumah kami yang sepi. Setelah bayiku kubaringkan di kasur kecilnya, dengan gemetar kuhubungi keluargaku, “bu, pak, anakku sudah pulang.”

Itulah ceritaku di bulan September 2006. Sekarang sudah tahun 2014, aku menuliskan ini sambil ditemani bayiku  yang sudah berumur delapan tahun. Dia sehat, normal, tinggi besar, begitu ceria dan sudah naik kelas 2 SD. Kuucapkan terima kasih tiada terkira kepada orang tua dan keluarga kami yang mendoakan tak henti-henti. Pasti, doa merekalah yang sampai ke langit dan dikabulkan-Nya. Tentu saja jika hanya mengandalkan doa dan amal ibadahku dan suami, pasti sangat minim karena banyak tersita energy dan fisik di masa pengobatan anak kami itu.

Benarlah kiranya janji Alloh SWT kepada umat-Nya,  “berdoalah, maka akan Ku-kabulkan.” Seberapapun terbatasnya kondisi kita, berdoalah dan mintalah doa terutama kepada orang tua. Yakinlah Tuhan takkan pernah mengingkari janjinya. 

*note: kisah ini kutulis 2 tahun yang lalu. Sekarang tanggal 6 September 2016. Besok, anakku itu akan genap berumur 10 tahun. Dan kondisinya sehat, tinggi besar dan selalu ceria. Alhamdulillah.

Menuliskan kembali kisah tentang lahir dan merawat anak kedua saya yang lahir prematur tanpa sebab pasti, ini sungguh berat sekali. Beberapa kali saya mencoba menulis. Lalu menangis. Dan berhenti. Saya coba lagi, begitu lagi. Menulis. Menangis. Berhenti.


Jadi, saya putuskan untuk menunda rencana menulis buku Diary Inkubator ini, walau sudah siap berkolaborasi dengan 2 ibu hebat yang punya pengalaman sama. Keinginan untuk menulis masih sangat kuat, mungkin bisa menjadi self healing therapy juga buat saya. Supaya ketika kenangan ini muncul lagi, dada saya tak perlu nyeri lagi karena menahan air mata yang masih datang tanpa henti. Dan semoga sedikit trik dan teknik saya merawat anak saya ini, bisa jadi bahan rujukan untuk ibu yang mengalami hal sama. Juga menjadi bahan peringatan agar ibu yang sedang mengandung buah hatinya, lebih waspada menjaga diri. Coming soon, bismillah, setelah beberapa hal tertata dengan rapi, saya akan mulai menulis buku ini. Doakeun yeeess... :)

Salam

Heni Prasetyorini