My Hijab Journey

Hidayah
Kata ini terasa begitu...."mahal".
Terasa begituu....*SULIT*
Rasanya takkan mau menghampiri diriku ini, yang dari kemarin-marin, masih begini-begini saja.
Biasa-biasa saja :
sholat sekedarnya 5 waktu.
tak lanjut bergegas sholat tahajud ketika alarm berbunyi jam 3 dini hari
tak segera menghabiskan hutang puasa di bulan ramadhan
standar
gituuu saja.

Namun, hati kecil ini sering sekali merasa nggak puas dan memarahi diri sendiri.
karena aku ingin sebenarnya meningkatkan keimanan dalam bentuk apapun. Ya ibadahnya , ya menutup auratnya.
Aku ingin menjadi seperti sosok yang menawan di hatiku :
seperti istrinya AA Gym [Teh Ninih]- yang bagiku beliau adalah wanita yang lembut, tangguh, tahan banting sekaligus selalu maju ke depan, apapun yang terjadi. Aku terkesan ketika beliau menjadi mentor di acara Kajian Muslimah ITB, beberapa tahun yang lalu, ketika aku masih menjadi mahasiswi Kimia ITB.

Aku terkesan dengan bajunya, terus terang. Walaupun tutur kata, tatapan matanya yang teduh, suaranya yang pelan - yakin dan teratur, sungguh juga mengagumkan. Tapi aku masih sangat terkesan pada cara beliau berpakaian. Gamis panjang lebar berlapis, dengan kerudung khas Daarut Tauhid berwarna senada. Manis dan anggun sekali tampaknya. Ingin sekali aku berpakaian seperti itu, feel so free, gitu deh rasanya.

Maka ketika masih kuliah itu pun, aku mencoba-coba dan meniru-niru. Pertama aku coba beli jilbabnya di daerah Dipati Ukur, kalau tidak salah. Di gerai Rabbani - saat itu belum sebesar ini merk Rabbani. Itu sekitar tahun 1999. Wow, 11 tahun yang lalu ya...!!! nggak kerasa.

Aku memakai Jilbab Teh Ninih. Ukurannya gede banget. Sebenarnya nggak cocok dengan gaya berpakaianku yang bercelana panjang. Maka aku memakai rok panjang yang dibuatkan kakakku dari Surabaya.

UUhh...rasanya ribet banget deh. Maklum saja, sejak kecil aku sudah dibiasakan oleh ibu untuk memakai celana panjang. Begitu juga dengan keempat saudara perempuanku lainnya. Alasan ibu waktu itu, karena biar aman. Maklum saja kami tinggal di kota besar, di Surabaya. Notabene banyak kejahatan yang bisa terjadi pada anak perempuan, jika kita tak ekstra waspada menjaga diri.

Nah kebiasaan itu terus terlaksana sampai sekarang. Sampai dua anak lelakiku sudah berumur 8 dan 4 tahun. Aku masih setia bercelana panjang kemana-mana. Jilbab juga makin pendek karena milih praktisnya. Kadang juga repot kudu berjilbab, main meluncur saja ke warung atau toko tetangga untuk membeli krupuk.

Dan..berjalannya waktu...
Kenangan atau bisa disebut sosok seorang Teh NInih ini masih terpancang kuat di mata batinku. Betapa tenang rasanya beliau. Sering aku berangan, kapan ya bisa seperti beliau? dalam hal berpakaian. Entahlah, pakaian ini yang masih saja menjadi PR besar buatku,

Pernah, suatu hari aku bercakap dengan temanku Nora, ketika sama-sama aktif di masjid Salman ITB. Nora ini mahasiswi UNPAD. Gaya berpakaiannya persis Teh Ninih. Dia pun kulihat mempunyai ketenangan air muka yang sama,
aku curahkan isi hatiku pada Nora ini, aku katakan "ingin sekali bisa berpakaian seperti kamu Nora. Rasanya aman dan damai banget deh"

Dan malah dia menjawab dengan kalimat yang diluar dugaanku.
"Hen, harusnya bukan baju yang jadi prioritasmu. Perbaiki dulu ibadahmu dan rasamu kepada Allah SWT"

Aku tercengang beberapa saat, dan itu berlanjut sampai sekarang.
Aku pun melepaskan diri dari angan-angan untuk bergamis dan berjilbab lebar. Aku pun semakin mensahkan diri sebagai perempuan tomboy. Terlebih anakku laki-laki semua , klop deh. Semakin orang mengomentariku, "gagah, kayak cowok, tomboy" hatiku semakin senang.

Pun ketika aku mulai membuka usaha Jilbab. Itu aneh sebenarnya. Karena aku tak peduli dengan berdandan. Bergonta=ganti jilbab, baju, dll, cuek deh. Jaket, kaos oblong, jilbab pendek, celana jins, itu saja seharianku.

Lalu ada beberapa hal yang menelisik hatiku sedikit demi sedikit.
Ketika aku lewat di depan kaca jendela sekolah atau rumah orang dan melihat siluet badanku, aku merasa.."ih, kok kelihatan banget gitu ya...lekuk tubuhku..."
ada rasa malu menyergapku diam-diam. Dan ketika ini kuutarakan kepada suamiku, dia hanya tersenyum.

Semakin hari semakin waktu...
rasa malu itu semakin bertambah besar. Apalagi ketika mendengar komentar anak sulungku, ketika aku berpakaian sedikit pas di rumah, dia sudah protes, "mama kok bajunya malu se?"

Dan...
Hidayah itu pun datang. Terutama ketika aku semakin yakin, bahwa perintah dari TUHAN itu hanya untuk kebaikan MAKHLUK=NYA semata. PAsti.
Sekarang...
Tanpa disuruh siapapun..
Tanpa dipelototin suamiku...karena dia lebih suka aku sadar karena kemauanku sendiri. ...

Semakin hari, aku semakin membenahi busanaku...
Baju, kaos, jilbab yang pendek dan rada ngepas, sudah aku wariskan ke adik iparku.
Kuganti dengan yang ukuran lebih panjang.

Dan itu sekarang kupakai dengan nyaman saja. Tidak merasa ribet sama sekali. Pun ketika di rumah aku sering memakai rok dan gamis. Subhanallah, inikah namanya hidayah itu?

Aku senang dengan perubahan diriku sendiri. Terutama ketika aku ingin sekali agar anak-anakku bisa punya keimanan dan kebiasaaan ibadaha yang lebih baik dariku. Maka aku sering merasa , kalau harus lebih dulu membenahi diri. Apapun itu. Ya sholat, ya bicara, ya semuanya. Aku semakin haus ilmu. Aku semakin ingin menerapkan ini itu. dan Hidayah itu datang

Aku pun sekarang berjilbab lebih baik daripada kemarin.
KEtika belanja, aku berjilbab. Ketika duduk-duduk di teras , aku usahakan berjilbab
Dan ketika berjilbab, aku sudah merasa biasa saja. Tidak merasa gerah dan segera melepas jilbab seperti sebelumnya.

Dan..
ketika kemarin aku sibuk memikirkan, apa komentar tetanggaku nanti ya?
kemarin aku sore-sore nyuapin anak, dengan berpakaian biasa, tanpa jilbab.
Trus aku berjilbab, jadi sok gimana-gimana jangan-jangan nanti aku dianggapnya?...

ternyata...
tidak ada satu pun reaksi negatif kepadaku...setidaknya yang kudengar.
Atau juga karena aku sudah tidak menghiraukannya lagi, karena aku sekarang lebih sibuk untuk membenahi diriku sendiri, agar semakin pantas menjadi teladan untuk anak-anakku.

Oh semoga, kelak anak mantuku bisa lebih baik dariku dari segi keimanan...
semoga kedua anak lelakiku mendapatkan istri yang shalihah dan baik kepadaku dan suamiku.

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih telah meninggalkan jejak dan memberikan komentar.
Pasti lebih menarik jika kita terus ngobrol. Bisa ke facebook: Heni Prasetyorini dan Twitter: @HeniPR. Sampai jumpa disana 😊