Podcast Bu Heni

Tampilkan postingan dengan label sharing parenting. Tampilkan semua postingan

Ngobrol Dengan Anak Sepulang Dari Acara Isra' Mi'raj: Sholat Adalah The Main Keyword

3 komentar
Hikmah Isra' Mi'raj: Sholat adalah The Main Keyword. Satu kata kunci yang saya dapatkan ketika ada pengajian Isra' Mi'raj di kampung rumah saya.

Momen Isra' Mi'raj kali ini sangat istimewa buat saya. Karena setelah acara selesai, saya bisa ngobrol enak dengan si anak bujang alias anak sulung saya yang udah kelas 9. Udah berkumis yaaa nih bocah.

Kali itu, kami membicarakan tentang isi acara yang sudah kami hadiri bersama-sama.

Tepat membuka pagar, nih anak sedikit ngedumel.

"Kok pak ustadznya menjawab gitu ke pertanyaan mama sih ya? kan nggak semudah itu jawabannya.", begitu katanya.

Ya, waktu itu saya bertanya.
Bagaimana sebaiknya mengatur waktu kita sholat, ketika sedang dalam acara seperti seminar atau pelatihan. Apalagi jika kita menjadi narasumbernya. Biasanya sholat dhuhur bisa diatur. Akan tetapi untuk sholat ashar kan di tengah acara. Mau sholat duluan, takutnya dianggap nggak profesional karena berhenti di tengah acara. Atau takutnya tidak menghargai waktu peserta yang mungkin non muslim jadi tidak sholat kan? Tapi kalau ditunda sholat asharnya, biasanya bablas mepet maghrib.
Sedangkan mengambil cara sholat jama' atau qasar tidak memenuhi syarat.

Waktu itu pak Ustadz menjawab, agar kita mengingat kembali pentingnya sholat.

Bahwa sholat itu adalah perintah yang diberikan langsung oleh Alloh SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW. Jadi itu adalah perintah yang sangat penting.

Analoginya begini:
Bandingkan jika presiden mengirimkan Surat perintah melalui pos/kurir, atau memberikan surat perintah langsung dengan kita dipanggil ke istana menghadap presiden.
Tentu, menghadap langsung adalah perintah yang lebih penting.

Begitu juga sholat.

Nah, karena sholat itu penting, maka kita harus menomorsatukannya.

credit pic


Kemudian pak Ustadz menambahkan adanya kalimat dari Alloh SWT yang tertuang dalam sebuah Hadits Qudsi,

 "siapa yang menomorduakan AKU, 
silahkan mengurus sendiri hidupnya"

Nah, jawaban ini yang makjleb banget dalam hatiku.
Siapa berani euy mengurus sendiri hidup kita ini? siapa kita? siapa saya atuuhh...

Selanjutnya beliau menekankan bahwa, Profesional kepada Alloh SWT harus didahulukan daripada profesional kita kepada manusia.

Dari situ, langsung di batin ini muncul keberanian untuk menomorsatukan sholat jika ada dalam kondisi tersebut. Sedangkan caranya, bisa dicari siasat atau kesepakatan dengan peserta atau pihak panitia.

Yang pasti, harus ada juga akal bagaimana agar waktu untuk wudhu dan sholat tidak terlalu lama. Jadi misalnya, untuk outfit atau baju saya, harus mudah dilepas dan digunakan lagi dengan rapi pasca sholat. Atau sekalian menggunakan baju yang bisa dijadikan "mukenah". Seperti gamis, outer panjang dan khimar. Bismillah, semoga bisa sampai ke level dimana berbusana karena ingin memudahkan proses sholat. Doakeun ya emak gahar yang awam ini ya kawan...amiin.

Kembali ke protes anak saya,dia mengatakan bahwa kalau gurunya menjawab pertanyaan saya akan seperti ini,"islam itu nggak hanya hablum minallah tetapi juga hablum minannas. Yang artinya, tidak hanya berhubungan dengan Alloh SWT, tetapi juga dengan manusia. Dan hablum minannas itu rumit. Karena berhubungan dengan manusia itu lebih rumit daripada berhubungan dengan Alloh SWT."

Ya, jawaban anak saya ini masuk akal juga. Waktu itu saya jelaskan, untuk kondisi pengajian saat itu dan kondisi "audience", tidak memungkinkan menjawab seperti itu atau sedetil itu. Karena pesan utama pengajian adalah menekankan kembali keutamaan shalat.

Setelah itu, saya melanjutkan obrolan ringan dengan si anak bujang ini, sambil makan nasi berkatan dari pengajian tadi. Rasa asin dari mie goreng dan ayam rica-rica tidak begitu terasa, karena ngobrol dengan anak yang sudah remaja ini sangat berharga dan manis bagi saya. *emak terharu.

"Mas, kita perbaiki sholat kita ya. Mama juga nggak sempurna, Apalagi sejak kecil mama kurang akses belajar ilmu agamanya, masih lebih bagus kamu. Apalagi nanti kalau kamu sudah mondok, mama juga pasti akan makin berbenah diri."

Anakku itu mengangguk pelan dan mengunyah makanannya dengan tenang.

"Sebentar lagi kamu ujian nasional. Yang penting sekarang kita baguskan sholatnya ya. Berdoa biar lancar ujiannya dan masuk ke sekolah yang kita tuju. Siapa tahu, makin bagus sholatmu, kamu akan diberikan berbagai kemudahan dan prestasi di luar dugaan. ya mas.."

Bagitulah percakapan saya dengan anak sulung, lelaki remaja usia hampir 15 tahun ini.
Antara jadi ibu, jadi teman, kadang kudu rada sendu manja seperti kekasihnya kelak. Begitulah utak atiknya gaya parenting saya yang lebih mengedepankan menjadi pendamping anak, dan memberitahukan kondisi saya apa adanya.

Ya, begitulah saya mamak yang awam banget ilmu agamanya.

Semoga nanti, kelak, anak-anak saya yang menjadi guru terbaik untuk saya.
Dan saya siap berproses bersama mereka, termasuk untuk meningkatkan kualitas sholat.

Bagaimana dengan anda?



Komik LINE Webtoon dan Sex Education Untuk Anak di Rumah

3 komentar
"Ma, aku mau bikin komik di Webtoon ah,"
Begitu kata anak sulung saya di depan bak cuci piring.

Sambil memeras kaos saya yang basah karena kecipratan air kran saat mencuci piring, saya nyengir kuda dan menjawab, "wah asik. Webtoon apa'an sih? bisa dilihat di browser?"

 "Pake LINE ma," gitu jawab anakku. "LINE? kamu donlot LINE sekarang?".

 Ya, tanpa babibubebo saya pun ikutan mendonlot LINE, sebuah messenger yang makin banyak dipakai anak muda. Setelah itu, saya menginstall Webtoon juga.


Ngapain Sih Latah Pake LINE & Webtoon Segala Mak?


 Nggak ada hal yang paling menyeramkan bagi saya, kecuali anak laki-laki saya berada di jalur yang nggak bener. Misalnya merokok, narkoba, kriminalitas ala geng motor dan pornografi sekaligus sex bebas.

Kalau teman lain memilih pasang BENTENG blokade semua akses yang berpotensi "bahaya" untuk anak.

Saya memilih pasang FILTER. Saya rela rempong mengakses hal itu bersama anak, duduk di samping anak, dan jika ada yang kurang benar nantinya akan saya bicarakan bersama anak saya.

Cara saya ini tentu tidak sama dengan teman lain dalam menerapkan sistim parenting. Saya juga tidak membuka akses perdebatan. Karena model parenting itu tidak bisa disamaratakan seperti rumus menghitung sudut bangun datar, harus saklek. Situasi, kondisi, keadaan ekonomi, spiritual, budaya, dan lain sebagainya mempengaruhi gaya parenting keluarga.

Satu hal yang sangat saya pegang kuat adalah bahwa saya tidak bisa menggunakan pola parenting jaman dulu. Dimana antara orang tua dan anak terdapat jarak yang sangat jauh. Tidak bisa curhat, tidak bisa bercanda atau bahkan main bersama.

Kali ini, saya ingin sekali menjadi TEMAN ANAK sampai kapan pun umurnya nanti. Oleh karena itu, di setiap ide atau hal baru yang ingin mereka cicipi, saya ikutan juga nyemplung disana. Kadang rempong juga deh sebenarnya, tapi nggak papalah, demi anak.

Komik Webtoon dan SEX Education

Ketika saya mendengar kata Webtoon, spontan yang terbesit sih ketakutan jangan-jangan disitu banyak komik porno. Jadi, malam itu juga saya nguprek tuh Webtoon. Eh, malah cekikikan dan terkagum-kagum sendiri sih.

Ceritanya banyak yang lucu. Dan gambar komiknya itu loh, alus dan bagus bangeet, kayak komik Si OCONG. . Kok ya mau penulis komik ini susah-susah upload hasil karyanya di Webtoon tanpa dibayar to? amazing deh.
Maklum emak-emak mikirnya udah dagang aja nih, hahaha.

Eh tapi, kata anak saya. Kalau masih di Webtoon Challenge sih, emang gratisan. Tapi kalau komikusnya udah layak standar, maka akan direkrut jadi Komikus Tetap oleh Webtoon, dan itu dapat "gaji". 

Kembali pada kecemasan akan pornografi, saya buka komik berjudul Pengantin Gaje. Wah dari judulnya rada gimana gitu kan? nah pas saya buka, itu ternyata cerita pengantin baru yang mengalami konflik kecil yang lucu-lucu. Memang ada sedikit adegan dewasa, namun sebelum tayang, ada peringatan tertulis bahwa gambar itu untuk UMUR 17 TAHUN KE ATAS. Kalau di klik Lanjut, baru bisa muncul.Tapi adegannya tidak vulgar kok. Saya harapkan memang ada kebijakan sih di Webtoon Indonesia ini, karena saya belum eksplor banyak komik lagi.

Memang, kita nggak akan bisa menjamin anak-anak kecil atau remaja dibawah umur 17 tahun, yang mengakses komik semacam itu, akan menaati aturan. Akan berhenti dan tidak melihat gambar. Nah disinilah pengawasan orang tua dan pendampingan harus dilakukan.

Kalau ada hal begini, biasanya malah saya manfaatkan untuk mengenalkan dan membicarakan tentang SEX EDUCATION.

Hari gini, akses google dan share di sosial media sangat tinggi, mustahil anak kita tidak terpapar hal berbau pornografi. Bahkan jika tidak mengakses pun, akan mendengar dari cerita teman bermainnya, seperti anak saya yang kedua. Saya punya cara yang mengadopsi ilmu parenting dari bu Elly Risman dan beberapa psikolog lainnya. Serta dengan gaya karakter keluarga kami sendiri. Begini strategi saya mengenalkan dan membicarakan SEX EDUCATION ke anak lelaki saya.

  1. Sex education awal adalah mengenali dirinya sendiri. Dan tentang siapa saja yang boleh memegang area tubuh dan tidak. Hal ini ketika anak masih kecil-kecil, sebelum kelas 3 SD.
  2. Sejak kecil saya melarang anak menjadikan guyonan anggota tubuh perempuan. Misalnya tentang "breast", akan saya katakan bahwa itu diciptakan untuk memberikan ASI kepada bayi, sehingga bisa sehat. Bukan untuk ditertawakan. Intinya saya mewajibkan anak lelaki saya menghormati perempuan, bahkan sejak mereka kecil.
  3. Jika ada adegan dewasa seperti "kissing" yang kadang nyelonong di film kartun lucu sekalipun, maka saya tidak mendadak menutup matanya lalu membentak melarang. Jika mereka terlanjur melihat, akan saya bilang, "itu boleh saja kok, asal sudah menikah. Kalau nggak menikah, ya kayak hewan aja di kartun itu bukan manusia."
  4. Ketika anak bertanya tentang hubungan orang dewasa, saya akan menjawabnya ala guru Biologi. Ilmiah aja menjawabnya. Tidak pake cekikikan malu-malu. Atau langsung memutus obrolan dengan bilang, "hush, itu saru, nggak sopan, dosa, diam, kamu jangan aneh-aneh, sekolah aja yang bener!". Saya tidak memilih itu, saya akan menjawab saja, sepotong-sepotong sesuai pertanyaannya. Tidak perlu menjawab sangat detil karena anak belum tentu ngeh dengan pertanyaan dan jawaban kita. Jika mereka tidak bertanya, ya sudah, kita berhenti bicara.
  5. Hal ini wajiib dan saya tekankan berkali-kali. Yaitu, anak wajib cerita apa saja yang terjadi, yang dia lihat, yang bikin dia merasa aneh, takut, senang atau apapun, kepada saya. Supaya jika ada apa-apa, saya bisa segera mengatasi dan mencari jalan keluarnya. 
Itulah sharing cara saya "berbicara" kepada dua anak lelaki saya tentang hal yang dulu sangat "saru" untuk dibicarakan antara anak dan orang tua. Apalagi antara IBU dengan anak lelakinya.

Sempat saya ragu dan bingung, Ternyata tidak ada masalah jika IBU membicarakan hal ini dengan anak lelakinya. Asal sebelumnya kita sudah punya kedekatan batin yang cukup baik. Dan itu memang harus dibina sejak mereka masih kecil. 

Semoga saja, dengan cara ini anak saya bisa mempunyai FILTER yang baik. Sehingga jika kelak misalnya berhadapan dengan lingkungan yang sangat buruk, atau merantau ke luar negeri dan melihat temannya berperilaku sex bebas, mereka bisa menentukan dan menyaring sendiri, mana perbuatan yang baik dan tidak. Tentu dengan koridor TAUHID yang sangat kuat. 

"Kalau nanti kalian keliling kemana-mana, mama sudah nggak bisa lihat dan ngawasi. Tapi Alloh SWT kan selalu bisa melihat kalian, nak. Ingat ya. Malu, kalau kita aneh-aneh. Sama Alloh SWT sudah dikasih tangan, kaki, badan lengkap. Jadi yang baik-baik saja ya. Jadi mandiri lalu bantu orang lain."

Udah, itu itu aja yang saya ulang-ulang bicarakan ke anak-anak. 
Harap maklum juga, saya mah apa atuh. Hanya emak-emak biasa bukan Mamah Dedeh. Ilmu agama saya masih cetek bangeet. Semoga dengan keterbatasan ini itu, saya sudah memberikan tools yang baik dan benar untuk anak di masa depannya. 

Ah, gitu aja ya. Kalau teman-teman gimana ke anak lelakinya? 
Kalau ke anak perempuan gimana ya? makin parno apa kalian ya mak-emaak? 


Kembali ke komik Webtoon, akhirnya inilah hasil karya anak saya yang sulung itu. Nih anak, emang dari kecil suka bikin komik. Webtoon oke juga untuk menyalurkan minat anak yang suka menggambar dan bikin komik. Asal tetap didampingi ya mak emak...



Semoga bermanfaat ya.

Salam,

Heni Prasetyorini

Menabung Emas Agar Masa Depan Anak Tak Lagi Bikin Was-Was

3 komentar
 "what is important for kids to learn is that no matter how much money they have, earn, win, or inherit, they need to know how to spend it, how to save it, and how to give it to others in need. This is what handling money is about, and this is why we give kids an allowance. (Barbara Coloroso)

 Dua anak lelaki saya sudah terbiasa dengan kata hemat, ngirit dan menabunglah dulu jika butuh sesuatu. Garis bawah pada kata "butuh" bukan "ingin". Untuk mendapatkan suatu barang, perlu komunikasi dan kompromi yang panjang antara saya,suami dan anak-anak. Bahkan dengan kebiasaan ini, anak sulung saya lebih parah lagi. Dia supeeer ngirit.

Anak ini rela lapar di sekolahan dan hanya kenyang dari acara makan besar, makan nasi beserta lauk pauknya. Tidak ada acara beli jajan kek, es mambo kek. Pokoknya cuma makan aja. Demi apa? ternyata demi menabung uang jatah bulanannya secara diam-diam.

Saya sebagai emak, antara seneng, bangga juga kuatir.
Seneng dan bangga karena nih anak bakal aman masa depannya. Karena terbiasa menabung dan tidak hura-hura beli hal yang nggak penting. Kuatirnya kalau dia sampai kurus kering demi menahan lapar, untuk bisa menabung.

Konsep hemat yang sudah tertanam ini, sebenarnya hasil didikan dari ibu saya. Apalagi ibu jaman dulu ya, kalau nabung hanya dianjurkan satu hal, menabung emas!

Sebelumnya ya cuma ngikut saran ibu, untuk membeli perhiasan emas lalu memakainya. Sayangnya kadang kan karena pemakaian jadi luntur, juga resiko ilang. Akhirnya setelah mengenal adanya Pegadaian Tabungan Emas di pegadaian.co.id saya mendapatkan alternatif baru cara menabung emas.

dapet juga nih tabungan emas :)
Teman saya yang memberitahukan hal ini. Menarik juga ya konsepnya. Kita menabung uang, nanti disetarakan dengan emas. Kalau mau penarikan tabungan, bisa berupa uang atau berupa emas batangan. Kalau mau ambil bentuk emas batangan, akan ada biaya percetakannya.

Saya pikir, kalau konsep gitu, pasti buka tabungannya mahal seperti bank pada umumnya. Dan males banget kalau tabungan kita lama-lama habis kesedot biaya admin. Eh, ternyata nggak loh. Untuk Pegadaian Tabungan Emas, awalnya cuma habis duit 22 ribu aja. Udah dapet emas senilai 0,0110 gram seharga Rp.5.460,- (kan harga emas mengikuti tren toko emas terbaru juga).

Ah ya, nggak mahal, okelah nanti bisa nabung dikit demi sedikit. Sekitar nabung 50ribuan, waktu longgar, kan lumayan. Nabung dikit-dikit gitu juga nggak khawatir bakal habis kesedot biaya admin. Karena, kata pak petugas tadi nih, biaya admin per bulan itu nggak ada alias NOL rupiah. Hanya ada biaya admin per tahun, cuma 30 ribu aja. Wis sip, mantep lah. Buat nabung sisa belanja, kan aman.


setelah ini, emaknya bisa bekerja dengan lebih tenang
Jadi begitulah, sejak mengenal Tabungan Emas di pegadaian, saya mulai beralih nggak beli emas dalam bentuk perhiasan. Saya pun berencana mengajak anak untuk ikutan ngisi tabungan ini, dari simpenan uang jajannya. Kebetulan nih kantor Pegadaian, dekat banget sama sekolahan anak.

Saya perkirakan, jika satu bulan saya rajin menabung minimal 300 ribu aja. Kelak waktu anak saya yang SD udah mau kuliah, bisa lumayan tuh tabungan saya. Bisa buat bekal dia mau kuliah atau modal bisnisnya.

Pegadaian pasti kinerjanya profesional, jadi bisa dibilang tabungan emas kita aman disana. Proses pencairan juga mudah, jika suatu saat kita butuh. Kalau anda penasaran bisa datang ke kantor cabang Pegadaian terdekat, lalu mintalah informasi tentang hal ini. Pasti dibantu banget. Tempo hari, saya malah dilayani oleh pak satpam. Saya tinggal nyerahin KTP dan uang 22ribu ke beliau. Lalu duduk manis, kemudian dipanggil petugas teller, tanda tangan ini itu, selesai. Cepet nggak pake ribet.

Nah, daripada nabung perhiasan emas di rumah trus kepikiran mending cobain deh Pegadaian Tabungan Emas. Semoga dengan cara ini, apapun kebutuhan keluarga dan anak-anak kita di masa depan, nggak bikin kita was-was.

Raising Boys Itu Tak Semudah Beli Sepatu Online

2 komentar
Raising boys alias mengasuh anak laki-laki itu bisa dibilang asik-asik ajaib.

Kalau dibandingkan dengan membeli sepatu, bisa dibilang lebih mudah. Apalagi kalau belanja sepatunya di toko online. Yang recommended tuh belinya di situs online-nya MatahariMall.com.  Di sini kita bisa tahu jenis dan merk serta harga sepatu anak lelaki branded. Kenapa butuh yang branded? Lah, bukannya kenapa sih, karena anakku nih setali tiga uang sama bapaknya. Males banget diajak ke mall apalagi ke toko baju dan sepatu. Paling alergi katanya. Beda banget sama emaknya ya, hihihi. Karena jarang banget update sepatu, maka kudu milih yang awet. Nah, sepatu branded itu biasanya lebih awet dan enak dipakai. Saya udah nggak pengen lagi denger alasan anak menolak diajak ke mall buat nyari sepatu.

 “ngapain sih beli sepatu baru lagi ma? Ini juga cukup”, 

itu aja alasan mereka kalau diajak pergi. Padahal tuh sepatu lama udah butut bin baunya ajiibb. 
koleksi MatahariMall.Com

Setelah saya tunjukkan gambar sepatu dari situs belanja online tadi, barulah mereka semangat dan ikutan buka katalog sepatu onlinenya. Biar rempong urusan milih sepatu atau baju, untungnya nih barisan lelaki di rumah saya bukan tipe metroseksual. Pada males dandan. Jadi nggak perlu beli aneka jenis printilan atau kudu up to date sesuai yang lagi trendy. Makin klasik dan awet, mereka lebih suka. Syukurlah, emaknya nggak ada saingan. Mau beli apa-apa juga bisa save money duluan, karena buat beliin anak sepatu, bisa tahu harga sepatu anak lelaki branded dari MatahariMall.com.

Nah, itulah sisi asik punya anak laki semua. Tapi ada juga sisi ajaib yang kadang bikin kita ngelus dada.  Ajaib karena semakin lama, saya sering mendapatkan perilaku yang sangat jauh dari sifat dan kepribadian saya sebagai ibunya, satu-satunya perempuan di rumah.  Misalnya nih, mereka mendadak diam saja santai setelah mengalami hal tidak menyenangkan. Bapernya Cuma sesaat aja gitu loh. Ketika saya sebagai emaknya masih penuh dendam membara, nih anak udah santai main game.

Ada lagi. Kedua anak lelaki ini hampir sama dengan suami saya, bapak mereka. Yaitu susah sekali melakukan multitasking. Alias ngerjakan beberapa hal sekaligus. Misalnya, mereka tidak bisa melakukan hal sekaligus memasak, sambil mencuci piring lalu menyapu rumah dan memasukkan baju kotor ke mesin cuci. Walaupun di awal sudah dilakukan rencana kerja dan kesepakatan, tetap saja ada yang terlewat dan kelupaan. Ini bikin gemes banget. Rasanya mereka nggak bisa efektif gitu loh.

Ternyata eh ternyata, memang begitulah karakter dasar manusia bergender laki-laki. Susunan otaknya memang sedikit berbeda dengan perempuan. Ada bagian otak laki-laki yang cara kerjanya ON-OFF. Jadi ketika melakukan satu pekerjaan, akan ON untuk satu hal dan OFF untuk hal lainnya. Jadi itu sebabnya, ketika mereka mencuci, mereka tidak akan memikirkan sama sekali tentang menyapu dan memasak. Mereka hanya bisa menyelesaikan atau mengingat hal satu demi satu secara bergantian. Mengetahui kalau ini bawaan secara biologis dari Tuhan, saya harus menerimanya dengan lapang dada 

Satu lagi yang kompak menjengkelkan. Nih anak dan bapaknya sama aja. Selalu bertanya dimana benda ini itu. Lupa ditaruh dimana. Meletakkan sembarangan. Entah itu penting atau tidak. “ma, sabukku dimana? Kaos dalamku dimana? Kasoku yang hitam dulu itu dimana? Kertas yang ada tulisan nomer teleponnya itu dimana?

Hadeehh pengen kabuur aja kalau udah ini terjadi. Paling males disuruh nyari barang walau di rumah sendiri. Udah mah kita ngomel beribu kali, juga berulang lagi lagi dan lagi, mereka meletakkan barang sembarangan. Tuhan, ini kutukan atau apa yaa namanyaaa?? Ibuuukk tolooong.

Kalau dari segi ini, nih otak perempuan lebih unggul. Kita bisa merekam letak secara spasial dengan lebih lama. Lebih ingat diletakkan dimana. Dan memang, saya juga mudah sekali. Anak dan bapak muter setengah jam mencari barang. Ketika bertanya pada saya, biasanya maksimal 10 menit sudah ketemu tuh barang. Atau malah Cuma 5 menit.

Itu adalah sesi-sesi ajaib mengasuh anak lelaki. Yang asik juga ada.
Keasikan ini terjadi karena saya satu-satunya perempuan di rumah. Ratu rumah. Satu-satunya putri, walaupun lebih tepatnya disebut Putri yang Teraniaya, LOL.

Apakah itu?
Ya urusan kecantikan dan berdandan. Fix, saya aman tanpa ada satupun yang protes ketika saya beli baju baru, sepatu baru, lipstik baru atau jilbab baru. Mereka tidak akan minta dibelikan juga.

So, yang punya anak laki-laki, Merasakan hal yang sama juga mak? :D

Remember My September

2 komentar
sepenggal kisah dari buku yang akan kutulis berjudul Diary Inkubator.....
 Siang itu rasanya aneh, ada kontraksi di perutku walau prediksi lahir anakku masih satu setengah bulan lagi. Aku pun memilih tiduran dan beristirahat saja. Barusan tadi, aku kerja marathon; cuci baju, cuci piring, ngepel rumah, ngisi tandon air dan bak kamar mandi. Rutinitas yang kulakoni ketika sedang membeli air sumur di ibu warung kampung seberang. Karena sistim bayar air sumurnya Rp.6000,-/jam. Supaya hemat sekalian saja ketika air sedang dipompakan ke rumahku, semua pekerjaan yang membutuhkan air aku kerjakan secara paralel. Hasilnya ya sering begini, kelelahan. Terutama ketika kehamilanku semakin besar.

Ketika tiduran, aku merasakan kontraksi lagi beberapa kali. Sakit sekali, tapi jarang. Belum waktunya lahir kok sudah kontraksi, aku cemas juga. Langsung kuhubungi suamiku dan akhirnya nanti malam kami sepakat untuk pergi ke dokter kandungan. 

“Sudah bukaan satu bu, tenang saja. Pulang saja ya, tunggu di rumah” begitu kata dokter di kamar periksa. 

“Lho dok, kok sudah bukaan satu. Kan saya lahirannya nanti akhir bulan Oktober. Sekarang masih tanggal 5 September. Apa nggak prematur dok, anak saya nanti?” tanyaku cemas.                    

“Ah, enggak. Ini sudah gede anaknya. Udah 2,5 kg. Aman. Sudah di rumah saja, banyak jalan-jalan”. Kami pun pulang. Aku tenang-tenang saja sekaligus senang. Ibu hamil yang dikabari anaknya segera lahir, pasti akan senang. Setelah berbulan-bulan hamil, akhirnya bisa melihat wajah anaknya. Semoga anakku sehat dan organ tubuhnya sempurna, itu saja doaku.

Karena disarankan untuk aktif, maka aku semakin giat jalan-jalan. Mengajak anak sulungku yang berumur empat tahun, aku keliling kesana kemari berjalan kaki di sekitar perumahan.

 Dan dua hari kemudian, setelah hampir 21 jam di rumah sakit, anak keduaku lahir. Oeekkkk, suaranya yang keras membuatku lega sekali. Anakku bisa menangis, anakku sehat. Rasa  sakit pasca melahirkan normal langsung hilang tanpa bekas. Selesai dibersihkan, suamiku berbisik perlahan padaku, “ma, bapak masuk rumah sakit lagi semalam, kena stroke. Ibu bilang, kalau mama sudah melahirkan saja dikasih tahu.” Aku menghela nafas panjang, “howala … semoga bapak sembuh ya. Sudah nasibnya bapak keluar masuk rumah sakit karena ada penyumbatan di jantung”.

Karena tensi darahku sudah normal dan tidak ada keluhan pusing, aku diijinkan keluar dari ruang bersalin. Sampai di sal tempat tidurku di ruangan kelas tiga, aku langsung jatuh tertidur. Lelah sekali, menahan kontraksi dan proses pembukaan jalan lahir mulai jam dua siang sampai lima pagi. 

Aku sempat menggerutu sendiri, “kata ibu melahirkan anak kedua lebih enak, lebih cepat, lebih nggak sakit. Ah..ibu bohong nih”. Hanya satu jam aku tertidur, lalu aku segera mandi dan membersihkan diri dengan lebih maksimal. Aku ingin segera ke ruangan bayi, melihat wajah anak lelaki keduaku dengan lebih teliti.

Sampai di ruangan bayi, suster ada yang bertanya, “lho bu, kok sudah bisa jalan-jalan. Nggak pusing?”. Aku tersenyum dan menjawab tidak. “anak saya mana ya, Sus?”, tanyaku celingukan dari depan pintu ruang bayi. “Di sebelah sana bu, yang dipasangi oksigen,” jawab susternya singkat. 

“Oksigen?”, tanyaku dalam hati. 

Aku pun menuju ke seorang bayi kecil yang sedang tidur, terbalut selimut putih dengan selang oksigen yang dipasang di hidungnya. Dadanya turun naik dengan cepat, seperti anak yang tersengal-sengal setelah lomba lari dengan temannya. Aku lirik bayi lain di sebelahnya, dadanya tidak bergerak naik turun secepat anakku, lebih tenang. Hatiku tersentak, ada apa ini?

Lalu aku menghampiri dokter kandungan yang menolong kelahiranku tadi dan menanyakan, “Pak dokter, kenapa anak saya dipasangi oksigen?”. Dokter itu berhenti menulis, menatapku lalu menatap kearah anakku berbaring. “ah itu biasa, seperti kita kalau memakai kacamata baru. Butuh adaptasi. Nah anak ibu sedang beradaptasi bernafas langsung. Paling cuma dua jam dioksigennya. Nggak pa pa, ibu istirahat saja ya.” Hatiku lebih lega, kemudian mencari suami dan ibu mertuaku yang berpamitan ingin pulang ke rumah. Membersihkan ari-ari dan bajuku yang kotor terkena darah persalinan. Aku mengiyakan dan menunggu di sal.

Ketika asik mengobrol dengan teman di kamar sebelah, seorang suster tiba-tiba masuk. Masih berdiri di depan pintu, suster itu berteriak, “bu Heni? Bu Heni mana ya? Bu Heni, anaknya mau diinfus nih.” Aku terkejut mendengar namaku disebut. Langsung kuhampiri suster itu, “ya saya bu Heni. Kenapa anak saya diinfus, Sus?”. Suster itu masih sibuk dengan kertas-kertas yang dia bawa, lalu menjawab, “ kata dokter anak disuruhnya begitu bu, anak ibu prematur katanya.”.

Hah? Premature?

Jantungku serasa berhenti berdetak. “saya mau ketemu dokternya dulu. Saya ingin tahu penjelasannya. Saya ingin tahu infus itu untuk apa dan isinya apa.” Suster itu baru menatapku, lalu menjawab “saya telponkan dokternya ya bu.”

Aku jatuh terduduk di dalam ruanganku yang hanya dipisahkan oleh kelambu dengan pasien bersalin lainnya. Airmataku jatuh. Sendirian aku menata hati, suamiku belum juga datang. Pikiran macam-macam mulai muncul, sampai yang terburuk sekalipun. Bahwa aku akan pulang dengan menggendong jenazah bayiku, dan ada pengajian tahlilan di rumahku. “

makanan datang bu, silahkan makan,”seorang petugas dapur memberikan senampan makanan di mejaku. 

Hatiku masih berdebat sendiri. “Heni, kamu mau pingsan atau bertahan? Anakmu ada dua. Kalau sekarang kamu pingsan, sedih dan jatuh sakit maka anak-anakmu bagaimana? Siapa yang menunggu dan menguatkan anakmu yang baru lahir itu kalau ibunya yang menyerah duluan? Dan anakmu yang sulung juga bagaimana? Suamimu?” begitulah aku bicara sendiri dalam hati dan banyak sekali percakapan yang muncul tapi harus kujawab sendiri.

Akhirnya aku memilih untuk kuat dan bertahan. Aku tidak boleh pingsan. Aku tidak boleh sakit. Aku harus makan. Dengan sekuat tenaga aku berusaha memasukkan sesendok demi sesendok makanan ke dalam perutku. Tiap sendoknya bercampur dengan linangan air mata yang jatuh sangat deras dan tak bisa kubendung. Makanan ini tidak ada rasanya. Aku makan sambil menangis. Satu jam kemudian, suamiku baru datang. Rupanya dia sekalian mengubur ari-ari (plasenta bayiku) di pekarangan rumah kami, membersihkan diri dan sarapan. Kukatakan padanya sambil terbata-bata, “mas, anak kita harus diinfus. Dia premature kata dokter.” Suamiku diam saja dan hanya menggenggam tanganku lebih erat. Tidak ada air mata yang jatuh di wajah suamiku. Kami sepakat untuk kuat dalam diamnya.

“Ibu, anaknya premature ya. Anak premature itu ada masa kritisnya, namanya Golden Age. Sejak lahirnya dihitung tiga hari. Jika tiga hari hidup, tunggu sampai tujuh hari. Jika lewat tujuh hari hidup, maka akan hidup selamanya. Sudah ya, ada pertanyaan lagi?”. 

Itulah percakapan pertama aku dan suamiku dengan dokter anak utama yang baru pulang dari Umroh. Dua hari sebelumnya, anakku dirawat oleh dokter pengganti yang tidak menerangkan apa-apa kecuali anakku didiagnosa lahir premature dan perlu diinfus karena harus puasa tidak minum ASI dulu. Jika diberi ASI, dikhawatirkan anakku nanti tersedak dan ASI masuk paru-paru karena dia tersengal-sengal. Kami diam saja dan menggeleng perlahan tanpa pertanyaan lagi. Dalam kondisi seperti ini, selain memikirkan kesembuhan juga tentang dana perawatan yang pasti sangat besar.

Setelah sedikit berdiskusi, aku dan suami sepakat untuk berjuang tanpa merepotkan keluarga. Aku persilahkan ibu dan bapak mertuaku kembali ke desa dan beristirahat. Aku kabarkan keadaan anakku pada saudara di rumah dengan syarat harus merahasiakannya dari ibu dan bapak yang sedang stroke di rumah sakit. Aku tidak mau bapak nanti semakin sedih dan drop mendengar cucunya harus di incubator karena premature dan  paru-paru kiri cucunya belum matang. Hanya saja aku meminta bantuan pinjaman dana dari saudaraku, karena tabungan kami sudah habis untuk biaya persalinanku. 


Kami tak punya cadangan dana medis, karena dari awal anakku diprediksi oleh dokter kandunganku, akan lahir normal, sehat dan tidak premature.  


Dengan pertimbangan untuk menghemat biaya medis juga, aku menguatkan hati untuk pulang lebih dulu dan meninggalkan anakku di incubator sendirian. Aku dan suami total pasrah kepada Alloh SWT. Berulang kali aku dan suami meminta doa kepada keluarga mertuaku, karena aku merahasiakan hal ini kepada orangtuaku sendiri.

Sakit pasca persalinan tidak begitu kurasakan. Menggunakan kain stagen tradisional, aku kencangkan perutku supaya bisa beraktivitas seperti biasa. 

Membersihkan rumah, masak dan mengurus anak sulungku yang sudah masuk sekolah TK. Pagi hari, anakku diantar sekolah oleh suamiku. Lalu siangnya, aku sudah siap dengan bekal makanan dan baju ganti anakku di teras rumah. Pintu rumah sudah kukunci dari tadi. Ketika tukang becak datang mengantar anakku pulang, segera aku mengganti baju seragam anakku lalu bersama kami diantar ke RSAB tempat anak keduaku di incubator.

 Aku menyuapi anak sulungku di depan inkubator adiknya yang lebih sering tidur merem. Jarang sekali membuka matanya. Mungkin karena belum waktunya lahir, jadi dia harus lebih banyak tidur. Aku mengganti popok bayiku itu jika dia ngompol. Terkadang stok selimut pelapis di ruangan habis, jadi anakku berbaring dilapisi perlak plastic saja. Melihat tubuhnya yang kecil dengan selang sonde lambung di hidungnya, infus di kaki atau tangannya dan selang oksigen di hidungnya membuat hatiku teriris. Rasa bersalah tak terkira terus membayangi, bahkan sampai hari ini.

Pagi mengurus rumah. Siang hari menjenguk anakku dengan si sulung. Malam hari menjenguk anakku lagi segera setelah bapaknya pulang dari kerja. Lalu pulang dan tidur di rumah. Begitu terus ritme hidupku selama anakku dirawat. Sebisa mungkin aku berusaha suasana di rumah biasa saja, walau hatiku sebenarnya begitu sedih karena tidak bisa terus mendampingi bayiku selama 24 jam. Setiap detik aku terus berdzikir dan berdoa. Tak banyak ibadah yang bisa kulakukan karena aku masih dalam keadaan nifas. Ada yang bilang, bersedekahlah dan sebutkan niat kesembuhan, maka berusaha kulakukan. Karena dana minim, aku serahkan uang Rp.20.000,-kepada bapak pengangkut sampah di perumahanku dan kukatakan, “pak, saya sedekah. Mohon doanya untuk kesembuhan anak saya yang baru lahir”.

Begitulah dalam segala keterbatasan, aku menggantungkan harapanku hanya kepada Ke-Maha Besaran Alloh SWT. Mungkin juga niat kami untuk tidak merepotkan keluarga walaupun begitu sulitnya, rupanya menjadi nilai tambah juga di hadapan-Nya. Tepat hari ke-14, bayiku dinyatakan sembuh dan bisa dirawat dirumah. Di hari itu, aku sudah mandi jam 3 pagi, dan ada di RSAB jam 5 pagi. Padahal dokter visite baru jam 9 pagi. 

“ibuk rajin banget siih,”ledek para Suster kala itu.

 Aku hanya senyum saja menanggapinya. Karena suamiku harus kerja, tinggal aku dan si sulung yang menunggui adiknya siap pulang. Tepat jam 10 pagi, kami bertiga pun sampai di rumah kami yang sepi. Setelah bayiku kubaringkan di kasur kecilnya, dengan gemetar kuhubungi keluargaku, “bu, pak, anakku sudah pulang.”

Itulah ceritaku di bulan September 2006. Sekarang sudah tahun 2014, aku menuliskan ini sambil ditemani bayiku  yang sudah berumur delapan tahun. Dia sehat, normal, tinggi besar, begitu ceria dan sudah naik kelas 2 SD. Kuucapkan terima kasih tiada terkira kepada orang tua dan keluarga kami yang mendoakan tak henti-henti. Pasti, doa merekalah yang sampai ke langit dan dikabulkan-Nya. Tentu saja jika hanya mengandalkan doa dan amal ibadahku dan suami, pasti sangat minim karena banyak tersita energy dan fisik di masa pengobatan anak kami itu.

Benarlah kiranya janji Alloh SWT kepada umat-Nya,  “berdoalah, maka akan Ku-kabulkan.” Seberapapun terbatasnya kondisi kita, berdoalah dan mintalah doa terutama kepada orang tua. Yakinlah Tuhan takkan pernah mengingkari janjinya. 

*note: kisah ini kutulis 2 tahun yang lalu. Sekarang tanggal 6 September 2016. Besok, anakku itu akan genap berumur 10 tahun. Dan kondisinya sehat, tinggi besar dan selalu ceria. Alhamdulillah.

Menuliskan kembali kisah tentang lahir dan merawat anak kedua saya yang lahir prematur tanpa sebab pasti, ini sungguh berat sekali. Beberapa kali saya mencoba menulis. Lalu menangis. Dan berhenti. Saya coba lagi, begitu lagi. Menulis. Menangis. Berhenti.


Jadi, saya putuskan untuk menunda rencana menulis buku Diary Inkubator ini, walau sudah siap berkolaborasi dengan 2 ibu hebat yang punya pengalaman sama. Keinginan untuk menulis masih sangat kuat, mungkin bisa menjadi self healing therapy juga buat saya. Supaya ketika kenangan ini muncul lagi, dada saya tak perlu nyeri lagi karena menahan air mata yang masih datang tanpa henti. Dan semoga sedikit trik dan teknik saya merawat anak saya ini, bisa jadi bahan rujukan untuk ibu yang mengalami hal sama. Juga menjadi bahan peringatan agar ibu yang sedang mengandung buah hatinya, lebih waspada menjaga diri. Coming soon, bismillah, setelah beberapa hal tertata dengan rapi, saya akan mulai menulis buku ini. Doakeun yeeess... :)

Salam

Heni Prasetyorini


Apakah Anak Saya Dysleksia ? (Part 1)

5 komentar

Cerita dari ibunya Thomas Alva Edison, kurang lebih seperti ini:

Suatu hari, Edison memberikan selembar kertas kepada ibunya.
 Kertas itu berasal dari gurunya di sekolah. 
Mata ibunya berkaca-kaca, lalu dia membacakan isi kertas itu keras-keras kepada Edison. 

Anak anda sangat jenius. Sekolah ini terlalu kecil untuknya dan tidak bisa memberikan guru yang baik untuk melatihnya. Tolong ajari sendiri anak anda.

Edison akhirnya benar-benar berhenti sekolah, dan belajar sendiri bersama ibunya di rumah. Bertahun-tahun kemudian, Edison menjadi salah satu penemu terbaik abad ini. Thomas Alva Edison adalah penemu lampu pijar, yang kemudian berkembang menjadi listrik sangat bermanfaat bagi kehidupan di dunia.

Setelah ibunya meninggal Edison menemukan kertas yang pernah dia berikan kepada ibunya waktu itu. Di situ tertulis,
Anak anda mengalami sakit mental. Kami takkan mengijinkan dia sekolah di sini lagi. 

Edison menangis berjam-jam membaca isi sebenarnya dari kertas itu.  Llau dia menulis di buku hariannya,
Thomas Alva Edison adalah anak aneh, yang karena sikap kepahlawanan ibunya, menjadi orang paling jenis abad ini

-----------

Duh, meleleh hati saya membaca surat Edison ini.
Saya teringat waktu itu, begitu panik ketika anak kedua saya, Aji, sepertinya akan "ditolak" oleh sebuah sekolah dasar, karena dianggap "belum bisa baca tulis" dengan baik.
Saat itu saya sampai bolak-balik ke TK asalnya, namun tak mendapatkan dukungan berarti. Ada satu statement dari psikolog anak saya tadi, yang malah membuat hati saya jatuh berantakan.

sepertinya anak ibu ini DYSLEKSIA

Saya kaget sekali mendengar hal itu. Dalam hati saya menyangkalnya. Karena anak saya bisa berhitung. Beberapa kali  malah bisa menulis dan membaca, jauh dari jurnal perkembangannya di sekolah. Tetapi kendalanya, dia bisa calistung dengan baik kalau belajar dengan saya sendiri, berdua saja, face to face.
Berbeda jika dia ada di sekolahan. Konsentrasinya cepat sekali buyar. Dan anak saya bilang kalau temannya rame, dia nggak bisa mikir.

Saya coba sendiri membuktikan bahwa anak saya tidak dysleksia. Karena minimnya pengetahuan saya waktu itu juga, saya anggap dysleksia mirip dengan autis. Dan anak saya normal semuanya. Dia bisa bergaul, bercanda. Bisa berjam-jam mengerjakan mainan, yang artinya bisa juga berkonsentrasi tinggi.

Anak saya bahkan dengan suka rela menghitung angka 1,2,3 sampai 100. Dan bisa menghitung mundur. Itu waktu dia kelas TK A. Jadi saya benar-benar tidak terima anak saya diduga dysleksia.

Waktu pun berlalu, anak saya akhirnya diterima di sekolahan itu. Maaf sebelumnya saya jelaskan, bahwa kami memilih dia di sekolah tersebut, semata demi pemahaman dan pembiasaan agama Islam yang baik. Saya menyadari sangat terbatas ilmu agama dan kemampuan mengajari anak tentang agama Islam. Maka masuk SD Swasta Islam yang sudah saya daftarkan indent setahun yang lalu, adalah pilihan kami.

Apa yang terjadi ketika anak saya kelas 1-2 SD?
Ternyata dia masih mengalami kendala baca tulis. Beberapa kali gurunya mengeluh, kenapa Aji tidak bisa memahami pelajaran. Saya tetap mengelak, "kalau di rumah, belajar sama saya, benar semua bu. Bisa ngerti. Kenapa di sekolah begitu?'.
Gurunya tidak bisa menjawab, dan malah mengatakan satu usulan yang makin membuat hati saya pecah berkeping-keping,
bagaimana kalau Aji, diberikan "guru bayangan" ?

Saya sangat tersinggung waktu itu, kenapa sampai gurunya mengatakan hal tersebut. Anak saya tidak autis bu, kenapa sampai butuh guru bayangan?

Begitulah, kalau ilmu minim, emosi gampang kesulut ya?
Untung saja, saya menyimpan emosi itu di hati saja. Hanya saya tak habis pikir, kenapa sampai begitu. Separah apakah anakku?

Saya pun bertanya kepada kakak yang menjadi kepala sekolah sebuah SD dan pernah menangani anak TK dan SD kelas 1-2. Katanya, "ah tenang saja, tiap anak punya masa peka sendiri-sendiri. Anakmu juga nanti akan bisa baca tulis sendiri."

 Saya pun tenang dan mencoba membiarkan anak saya berkembang sesuai kemampuannya. Dengan perasaan, saya siap-siap jika ternyata harus mengambil keputusan untuk mengajar sendiri di rumah. Homeschooling.

Hal ini menjadi beban pikiran yang sangat besar. Rasa bersalah, bingung, campur aduk. Terlebih ketika saya browsing, seperti ada kaitannya antara pengidap dysleksia dan kelahiran prematur. Lah, anak saya ini lahirnya dulu prematur.

Ketika saya kuliah lagi, konsentrasi saya ke anak sangat berkurang. Terlebih ke anak saya ini, Aji. Saya benar-benar menyerahkan kepada sekolahan. Waktu itu saya nggak ambil pusing tentang akademisnya. Yang penting kamu diajari ngaji, sholat dan berakhlak baik aja dah cukup nak. Nanti akademisnya saya permak setelah lulus kuliah. Hal ini juga berat sekali waktu menjalaninya. Mending drop out nggak pake nerusin kuliah S2 kok rasanya, tapi semua sudah dijalani, dan harus dilakoni dengan tanggung jawab.

Dalam masa itu, yang saya lakukan adalah seperti ibunya Edison diatas. Saya jadi garda paling depan anak saya untuk melindungi kepercayaan dirinya. Tentu dengan keterbatasan anak saya itu, dia jadi langganan remidi ujian. Anehnya, untuk bahasa Inggris, dia bisa memahami dengan natural.

Saya masih menyimpan pertanyaan, "apakah benar anak saya dysleksia?"
Dan apakah semua keterbatasannya dalam belajar di sekolah ini, dikarenakan dysleksia?

Jurnal pencarian ini, akan saya tulis di artikel selanjutnya...
Stay tune....:)

Apakah anak anda, mengalami hal serupa? lalu apa tindakannya?

Loveable Banget ! Lakukan Konsep dan Cara Ini Untuk Meningkatkan Kualitas Hubungan Antara Ayah dan Anak Lelakinya

27 komentar

If the relationship of father to son could really be reduced to biology, the whole earth would blaze with the glory of fathers and sons. 

        Bicara tentang parenting biasanya tertuju pada peran ibu pada anak-anaknya. Quote yang sering terucap di mana-mana berbunyi, "Ibu adalah madrasah utama dan pertama anak-anaknya". Seharusnya tidak berhenti pada kalimat itu. Ada tambahan kalimat yang penting yaitu, "Ayah adalah Kepala Madrasahnya".

       Jika rumah tangga ibarat sekolah. Maka, Laki-laki, yang sudah menikah dan dikaruniai keturunan, peran utamanya tak hanya menjadi Kepala Keluarga, melainkan juga Kepala Sekolah. Sebagaimana tugas dan peran Kepala Sekolah di lembaga pendidikan, begitulah kisaran tugas dan peran ayah di ranah pendidikan anak-anak, istri dan keluarganya.

Jadi, ayah, bapak, abah, abi, abu, tugas anda tidak main-main ternyata, jangan bernafas lega hanya ketika sudah merasa bebas telah lulus sekolah, kuliah lalu menikah.

"Memberi nafkah saja sudah menyita pikiran dan tenaga!"
Jika itu dalih yang diambil, mohon maaf, tidak bisa. Kembali pada konsep awal, "Ayah adalah Kepala Madrasahnya", maka mau tidak mau tugas ini harus dilakukan dan diterima dengan lapang dada. Berat juga ya? :)

Takkan berat jika ayah tahu caranya. Akan semakin ringan jika melakukannya dengan bahu membahu, saling membantu dengan istri dan anak di rumah. Toh, itulah sesungguhnya keluarga.

Peran ayah begitu penting, apalagi terhadap anak lelakinya. Mengapa? Tentu saja, karena kelak anak lelakinya itu juga akan menikah, menjadi suami dan juga menjadi ayah. Sama seperti dirinya.

 Menurut Maureen Hitam, Ph.D (Univ. Of Marylanf School of Medicine), kedekatan ayah dengan anak lelakinya bahkan sejak bayi, bisa mengurangi munculnya masalah perilaku atau kenakalan. Dan yang tak kalah pentingnya, membuat anak mampu membedakan gender dengan baik. Anak lelaki jadi yakin dengan gendernya sebagai lelaki. Bahwa dia berbeda gender dengan ibunya, yang perempuan. Isu LGBT takkan muncul jika ayah akrab dengan anak-anaknya.

Tak bisa dipungkiri, bahwa ayah cenderung kurang akrab dengan anaknya, sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya kita. Biasanya ayah ditempatkan di posisi teratas, harus disegani, dihormati dan dipatuhi tanpa boleh banyak kata dan sedikit interaksi, seperti yang terjadi di kalangan Kesultanan atau Kerajaan.  Akibatnya, generasi berikutnya menjadi ayah yang gagap atau kaku untuk "gaul" dengan anaknya sendiri.

Berbeda dengan dunia barat yang lebih santai, hubungan ayah dan anak lebih seperti teman saja tampaknya. Konsep ini bagus juga untuk diabsorbsi. Ayah dan anak adalah sahabat karib, indah nian kedengarannya. Lalu bagaimana cara agar bisa membina hubungan berkualitas antara ayah dan anak, sampai bisa jadi layaknya sahabat?

1. Selalu Ada Untuk Anak
Bukan berarti ayah harus memilih tidak bekerja demi bersama anak di rumah seharian. Melainkan ayah hadir sepenuh hati, ketika anak membutuhkannya. Misalnya, ketika anak datang, membawa kertas hasil ujian sekolah, ayah meletakkan gadgetnya, mengajak anak duduk di sampingnya, melihat hasil ujian anak, menepuk pundaknya lalu berkata,"Usahamu bagus nak. Ada yang sulit? Apa yang bisa ayah bantu?". Berapapun hasil ujian anak, hargailah dan tawarkan kehadiran sebagai ayah untuk membantunya. Sekecil apapun peristiwa dalam kehidupan anak, usahakan ayah hadir di situ. Dan anak merasakan kehadiran ayahnya.

2. Mendampingi Anak
Anak lelaki mempunyai sifat kompetisi yang lebih besar daripada perempuan, walau tidak mereka tampakkan. Mereka cenderung ingin menang, baik secara akademis, olahraga, sosial bahkan sekedar lomba 17 Agustusan di kampung. Hadirnya ayah di momen penting itu, mendampingi anak ketika berlomba "Balap Karung", saja, akan menjadi momen berharga untuk anak lelaki. Dia bisa menunjukkan kehebatannya, kemampuannya dan usaha maksimalnya itu dan berkata dalam hatinya, "Lihat, aku bisa sehebat ayah, sekuat ayah.".

3. Melakukan Kegiatan Bersama
Sewaktu kecil, saya mempunyai kenangan yang manis bersama bapak (begitu saya menyebut ayah). Di hari Minggu pagi, bapak punya ritual semir sepatu bersama. Semua sepatu dikumpulkan, dan masing-masing anak lelaki dan perempuannya menyemir sepatu. Kami berlomba menyemir sekilap mungkin dengan berbagai cara. Saya tahu trik memanaskan krim semir sepatu menggunakan lilin atau dijemur sinar matahari, supaya menjadi semir cair dan membuat sepatu lebih mengkilap. Saya pun piawai menggosok sepatu sekuatnya supaya kilap hitamnya tahan lama. Kegiatan bersama ini begitu mengena. Begitu juga jika ayah dan anak lelaki, melakukan kegiatan bersama, apapun bentuknya. Kedekatan emosional akan terjalin, komunikasi akan terbuka dan mereka bisa menjadi sahabat sampai kelak dewasa.

4. Melibatkan Kontak Fisik
Mudah mengungkapkan rasa sayang, seperti memeluk, menggoda, mencium untuk anak lelaki yang masih kecil atau balita. Beranjak besar, biasanya anak lelaki mulai membatasi diri dan enggan "disentuh". Namun percayalah, sesungguhnya mereka masih butuh dan ingin sekali disentuh, dipeluk oleh orang tuanya. Sentuhan bisa melonggarkan kecemasan dan ketegangan yang biasanya hanya dipendam di hati anak lelaki. Terlebih jika anak lelaki kita pendiam. Jika dari gestur tubuhnya tampak dia sedih, galau namun ketika ditanya, hanya dijawab, "nggak ada apa-apa". Ayah, maka mendekatlah pada anak lelakimu itu. Tanpa banyak bicara, peluklah dia. Tanpa bicara. Hal ini akan menanamkan kesan pada anak, bahwa ayah akan selalu menjaga dan melindunginya. Betapapun susahnya dunia, anak bisa mengandalkan ayahnya dan dia percaya hal itu.

5. Lebih Mencintai Ibunya Anak-Anak
Ada suatu keadaan dimana sang ayah berkarakter introvert. Yang artinya mau diubah sebagaimanapun, tetap saja dia sulit mengekspresikan rasa sayang kepada anaknya, terutama anak lelakinya. Namun satu hal yang bisa dilakukan untuk menunjukkan bentuk rasa sayang adalah, memberi perhatian kepada ibunya anak-anak. Dengan cara ini, walau tak banyak gerak dan kata, anak-anak akan mengamati bagaimana sayang, cinta, tanggung jawab, dedikasi dan komitmen seorang lelaki kepada istrinya. Dan akan mereka refleksikan cinta itu sebagai wujud kasih sayang ayahnya pada diri mereka sendiri. "Ayah sayang dan bertanggung jawab pada ibuku, pasti begitu juga padaku," itu yang akan mereka benamkan dalam hati. Secara otomatis juga, anak lelaki akan menghormati dan menyayangi ayahnya tanpa diminta.
*Ibunya anak-anak disini, pengertiannya dalam arti luas*.


Fatherhood
mereka melihat bapaknya, menyanyikan lagu cinta untuk ibunya :)
The most important thing a father can do for his children is to love their mother.
 Dengan konsep dan cara sederhana ini, mari kita tingkatkan kualitas hubungan antara ayah dan anak lelakinya. Semoga hal ini menjadi salah satu cara memperkuat pilar keluarga.

Semoga menginspirasi :)
- HPR -


Biarlah Dia Mengenal Cinta

4 komentar
Waktu berjalan tanpa terasa. Sepertinya baru kemarin saya meringis kesakitan menahan kontraksi. Menangis. Dimarahi ibu bidan karena menahan sakit dengan merem. "Ayo, nggak boleh merem, buka matanya kalau nahan kontraksi ya. Kalau merem nanti pembuluh darah matanya pecah loh".
Serem ya. Merem ketika ngeden mau melahirkan normal itu dilarang loh.
Walaupun sakitnya luar biasa, saya tertawa ngikik saja ketika sudah terdengar suara "Oeeekkk!!!". Dan lahirlah itu si bayi cempluk unyu-unyu. Anak pertama. Laki-laki. Beratnya 3600 gram. Wuih, bayangkan, baru pertamanya punya anak, sudah bisa ngeden dan mbrojolin bayi manusia segede 3,6 kg.

Si bayi unyu ini, tak terasa sudah punya kumis tipis. Tingginya jangkung melebihi saya, ibunya. Walau badannya kurus (karena dia anti jadi gendut), menurutnya dia selalu mendapat pujian sebagai "Pria Menawan" di sekolahannya. #eaaaa....

Membesarkan anak laki-laki itu membutuhkan perjuangan berat (bagi saya). Kenapa?
Karena pada intinya, sifat laki-laki dan perempuan itu berbeda banget. Jadi sifat saya, ibunya, yang notabene perempuan, tentu beda banget dengan anak-anak saya yang laki-laki semua.

Misalnya, jaman saya kecil suka tuh main sekolah-sekolahan, belajar, jadi guru. Begitu juga yang saya amati pada keponakan perempuan. Sedangkan kedua anak lelaki saya, begitulah, mainnya sekitar puzzle, sepak bola, mobil-mobilan, manjat pohon, kabur dari pagar ketika disuruh tidur siang dan berusaha nyolong-nyolong waktu ke rumah tetangga untuk main game.

Si Sulung saya yang udah Abege ini karakternya unik. Malah seperti berkepribadian ganda. Dia itu melow dan sensitif, mudah baper. Namun cueknya minta ampun. Nggak peduli sama sekali yang namanya penampilan fisik. Ketika ditegur, "mbok yang rapi naakk biar gantengnya maksimal gitu loh". Dia njawabnya, "aku udah ganteng kok."

Saya sempat ikutan il-feel , ilang feeling, menghadapi kecuekan (baca, kejorokan) nih anak. Untuk sikat gigi, bau mulut, bau badan, ketombe, jarang keramas, males mandi, kamar berantakan, kaos kaki jarang ganti, itu semuanya dia sama sekali tak peduli. Semakin gede, semakin diingatkan dia semakin sensitif. Marah. Dengan tatapan matanya yang menusuk kalbu, dan menghentakkan kedua tangan ke tubuhnya sendiri, dia sering melawan semua teguran saya. "Aku udah sikat gigi ma. Selalu aja aku di bully !!!" , Saya pun terpana menerima semua itu dan berencana untuk menyerah saja, walau masih melihat hasil "sikat giginya" itu tidak tampak sama sekali pada deretan giginya yang memang sedikit gingsul.

Ya sudahlah. Mau jadi cowok jorok, joroklah nak, terserah kamu. Semoga aja nanti istrimu nerima kamu apa adanya. Dan mau nyemprot ketiakmu itu dengan deodorant. Atau mau berjaga di depan pintu kamar mandi, sambil membawakan sikat gigi yang sudah siap dengan odolnya. Dan seminggu sekali rela melakukan ritual keramas untuk suamimu itu. Begitulah, doa seorang ibu yang sudah nyerah dengan "kejorokan" si anak laki abege ini.

Tetapi oh tetapi, bagaikan mendapat durian runtuh. Hampir satu bulan ini saya mulai sadar ada yang berubah. Ada yang hilang. Apa ya itu? kenapa hati ini jadi tenteram?

"Ma, mas sekarang sudah nggak bau ketek lagi ya."

Oh iya, itu dia. Celotehan si adek benar. Anak sulungku udah nggak bau lagi keteknya. Giginya pun putih bersih. Walau kadang nggak terlalu bersih sih, cuma nggak keterlaluan seperti biasanya ya. Dia pun sigap untuk bangun pagi, mandi, semangat berangkat sekolah dan yang terakhir ini adalah perubahan yang sangat membahana, yaitu dia jarang marah-marah lagi malah sering senyum-senyum sendiri sambil nyanyi-nyanyi.
Inikah oh namanya, anakku sedang jatuh cinta? ternyataaaaaaa..... #nyenyong

Saya mulai curiga nih anak mulai naksir cewek. Satu hal yang selalu dia bantah luar biasa sejak kelas 5 SD. Ketika semua temannya sudah rame perkara perebutan gebetan dan siapa duduk dekat siapa. Apa benar dia lagi jatuh cintrong?

Suatu hari, ketika saya iseng membuka update-an bbm, saya lihat anak saya pasang status di profil bbm-nya. Nah loh, tumben nih anak nulis status. Walau isinya tentang targetnya dapat subscriber youtube di channel review gamenya aja sih. Tapi ya, saya amazing aja nih anak, fitur BBM nya di install lagi di hapenya. Padahal dia tuh cuek beibeh dan anti chatting-chaating gak jelas dengan aplikasi apapun. Saya aja yang memaksa kemarin dia pasang whatsapp biar bisa dihubungi oleh saya dan bapaknya.

Setelah status bbm sering diupdate, saya amati juga dia sering hape-an sekarang. Nggak terdengar suara video youtuber yang biasanya dia lihat. Silent and full of smile. Wah bener ini dugaan emaknye, pasti dia lagi bbm-an sama cewek. Tapi, siapakah dia? sebagai emak, saya wajib mengetahuinya.

Sedikit demi sedikit, saya mulai pasang jurus menginvestigasi anak abege saya ini.  Segala cara ditempuh. Mulai sedikit sindir menyindir. Nyeritakan kisah cinta saya dan bapaknya. Ngutip-ngutip kata-kata pujangga atau lagu yang lagi hits. Sampai akhirnya di suatu malam, tibalah saatnya. Dengan gugup disodorkanlah hape item kecilnya itu pada saya. "Ma, ma ini nih baca nih, lihat". Dia gugup luar biasa, karena si adek di belakangnya udah jumpalitan pengen ikutan baca isi hape kakaknya juga.
> "Eh, tahu nggak, aku deg-degan loh kalau lihat kamu."  [bbm dari teman ceweknya]
 <"Kalau nggak deg-degan, ya mati namanya." [jawab anak saya]
> "ah, kamu..."
 Misteri telah terpecahkan!
Saya ngikik dalam hati. Anak lelaki gueh ditembak ama cewek. Hadoh, anak cewek jaman sekarang yaaa, beraninye.
Saya berjuang sekuat tenaga untuk tidak over-reaction pada anak lelaki abege umur 13 tahun lebih ini. Saya tidak marah, tapi juga tidak beraksi sangat gembira. Belum saatnya saya bereaksi seperti akan menerima calon menantu kan?

Saya senyum aja ringan. Ikutan membaca bbm-nya sedikit saja, lalu menyerahkan kembali hape itu kepada anak saya. "Anak mana?" tanya saya singkat. "Anak kelas A", jawab anak saya.

Oh, beda kelas. Baiklah, ketika sudah tahu namanya besok emaknya akan melakukan penyelidikan secara gerilya melalui momen hahahihi saat ketemu ibu-ibu wali murid. #teuteuup.....

Kenapa saya membiarkan anak saya begitu?

Kenapa saya tidak segera menarik hp-nya dengan paksa, lalu berkomentar, "kamu jangan aneh-aneh ya. tugasnya belajar belajar dan belajar. Anak masih bau kencur, belum bisa buang ingus aja udah mau macarin anak orang. Belajar dulu, Cari duit dulu. Kamu itu laki-laki tahu. bla..bla..blaaa..!"

Oh, NO, NO,NO. NO
Saya tak mau menerapkan gaya parenting jaman dulu. Anak baru bicara satu kalimat, sudah disambut rentetan nasihat. Belum juga si anak cerita, curhat, ortu sudah panik parno dan menyangka yang tidak-tidak.

Saya memilih untuk tetap di samping anak saya. Ingin jadi teman curhatnya. Karena saya kepo juga lah, namanya juga emaknya kan?? hihihi. Kalau saya komentar "panas", nanti anak saya malah nyumput sembunyi sendirian di pojok. Dengan hati luka karena merasa tidak dipercaya, dianggap anak kecil yang tidak becus apa-apa, dan menganggap perasaannya adalah dosa besar.

Saya tahu betapa mengerikannya model pergaulan di luar batas di jaman ini, namun saya berprinsip bahwa apapun yang terjadi, saya harus jadi garda depan anak saya. Yang pertama tahu cerita hidupnya, kisah cintanya, kisah putusnya, kisah kecewanya dan kisah ketakwaan hatinya dalam menjalani kehidupan ini.

Maka, saya lega luar biasa ketika nih anak yang cenderung pendiam, melankolis dan keras hati ini mau membuka diri pada saya, ibunya. Yang dia sama sekali belum bisa melakukannya pada bapaknya, yang punya karakter nyaris sama. Saya menyambut itu dengan melakukan percakapan ringan dan berulang-ulang pada anak saya.

Sebenarnya itu dalam bagian investigasi emak-emak. Saya tanyakan namanya, rumahnya dimana. Dan karena kebetulan saya pernah lihat nih anak di sekolahan, saya pun jadi rada nyambung ketika mendengar ceritanya. Saya juga diam-diam nyuri baca inbox fesbuk anak saya dengan si gadis imut itu. Dan membaca candaan mereka yang seputar game dan sekolah, saya cukup lega. Masih standar gaya anak SMP.

Saya yakin anak saya tidak akan keblabasan, amin. Karena sistim pengawasan di sekolahnya sangat ketat. Jangankan pacaran di sekolahan. Cuma lirik-lirikan saja bisa kena sangsi dijemur di lapangan dan disaksikan warga satu sekolahan. Malu kan?!.

Jadi, anak saya hanya kontak melalui gadget. Langkah awal yang aman.
Untuk langkah selanjutnya, saya perlahan dan halus mengingatkan bahwa ada aturan dalam agama Islam yang harus dia patuhi, jangan keblabasan.

Begitulah, saya memilih melakukan sistim pengasuhan anak dimana posisi saya dan anak adalah sama-sama makhluk Alloh SWT yang terus dalam proses untuk menjadi muslim yang sebaik-baiknya. Saya pun memilih untuk membiarkan anak saya mengalami rasa sayang kepada lawan jenisnya. Berkali-kali saya sampaikan padanya, lelaki suka sama perempuan itu adalah fitrahnya manusia. "Mama malah tenang kalau kamu dah mulai naksir perempuan. Jangan sampai naksir sesama jenis, duh amit-amit, naudzubillah."

Anak saya tertawa nyengir. "mama ini ada-ada aja".
Saya jawab cepat, "hari gini gitu loh. Bahaya banyak orang yang nggak bener."
"Iya ma, itu kemarin temanku di game loh aneh. Tiba-tiba dia nulis gini, 'eh aku homo loh, aku 100% banci'; Ya udah, langsung aku delete aja biar nggak berteman."

Nah loh, ya bener kan?

Jadi, ketika anak remaja lelakimu mulai naksir teman perempuannya, biarkanlah dia jatuh cinta. Dan terus dampingilah dia dengan pengawasan yang penuh cinta. Semoga Alloh SWT melindungi langkahmu agar selamat dunia akherat ya nak. Ibumu ini hanyalah hamba-Nya yang biasa-biasa saja dan masih terus berjalan.....

Selamatkan Generasi Emas Indonesia Bersama SEMAI 2045

Tidak ada komentar
Tayangan berita di televisi, terkadang membuat lelah. Terutama melihat para pemimpin negara yang "bertarung" sendiri. Sibuk mencari kebenaran sendiri dan mengulik kesalahan orang lain. Sebagai rakyat biasa, terkadang melihatnya malah bikin putus asa. Sudah harga sembako naik terus, eh disuguhi adegan saling gugat menggugat, lapor melapor para pejabat yang ngakunya wakil rakyat. Kalau jaman gini aja begitu, gimana di masa depan?

Siapakah pemimpin masa depan? 
Yang pasti adalah generasi muda. Anak-anak kita. Jika syarat menjadi pemimpin ada di kisaran usia 32-51 tahun, maka calon pemimpin bangsa ini sekarang masih berusia 0-19 tahun. Usia anak masuk kuliah sampai yang belum lahir, merekalah calon pemimpin. Apakah anak-anak kita siap menjadi pemimpin bangsa ini?

Apakah anak-anak kita sudah punya mental yang tangguh dan bertanggung jawab, seperti Jenderal Sudirman yang terus memimpin perjuangan bahkan di saat beliau harus ditandu dan bernafas dengan satu paru-paru?

Apakah anak-anak kita sudah terbiasa lelah, sakit, susah payah demi meraih cita-cita, seperti Patih Gajah Mada yang bersumpah akan terus berpuasa sampai bisa menyatukan Nusantara?

Ataukah anak-anak kita rewel jika di sekolah dan di rumah, AC-nya mati? Lalu ngambek, tidak mau belajar karena gerah dan berkeringat?

Maukah anak-anak kita membaca buku berulang-ulang sampai paham ataukah memilih meng-copy paste pertanyaan ke mesin pencari di internet?

Kecanggihan teknologi di era digital ini memberikan kemudahan sekaligus dampak negatifnya. Anak-anak kita setiap hari dikepung oleh paparan pornografi, kekerasan seksual, bullying, kesalahan pola asuh dan tekanan dari lingkungan. Hal inilah yang menjadi dasar bergeraknya sebuah gerakan nirlaba untuk menyelamatkan Generasi Emas Indonesia.

Gerakan ini disebut SEMAI 2045.


SEMAI2045 yang terdiri dari berbagai latar belakang, profesi dan status sosial bersatu padu secara aktif untuk mengatasi masalah generasi muda (anak-anak) saat ini.

Ada 4 fokus gerakan yang dilakukan, yaitu Riset, Knowledge Pool, Sekolah Parenting da  Whisperer Program.

Menurut Elma Fitria,sang koordinator, Semai2045 ini fokus ke edukasi, mendorong orang tua muda sama sama belajar menerapkan pola asuh yang baik dan benar, demi menyelamatkan 90 juta anak Indonesia.

Kenapa 2045 ? Karena di tahun 2045, Indonesia genap 100 tahun. Dan 90 juta anak-remaja Indonesia sekarang akan masuk usia produktif di tahun itu, dan menduduki berbagai amanah penting yang memandu Indonesia nanti.

Sedihnya, 90 juta anak-remaja Indonesia itu sekarang terbelit banyak masalah seputar kekerasan, narkoba, seks bebas, dll.

Menurut Bu Elly Risman, Psi. yang menjadi narasumber dan pembimbing kami, ini karena anak-anak ini BLAST (Bored Lonely Afraid Angry Tired Stress).

Untuk itu, SEMAI2045 mengajak orang tua memperbaiki pola asuh di era digital ini, sehingga anak anak tumbuh jadi BEST (Behave, Emphatic, Smart, Tough).

Urutan BEST ini sesuai dengan urutan pengasuhan yang dicontohkan dalam Alquran dan Hadits, serta sesuai dengan tumbuh kembang otak anak 😊.

Kegiatan yang rutin adalah :

- Fatherhood Forum
Seminar rutin khusus para ayah (pernah 3x untuk ayah-ibu). Memfasilitasi para ayah untuk memahami pengasuhan dari peran laki-laki. Narasumber juga  para ayah.

- Semai sosial 
Seminar skala kecil, gratis untuk masyarakat.

- Semai profesional (kadang berupa acara Fatherhood Forum)
Seminar besar. Narasumber yang pernah hadir : Bu Elly Risman, Bu Septi Peni Wulandani sekeluarga, Bpk Harry Santosa, Bpk Adriano Rusfi, Ust. Saiful Islam, Ust. Bendri Jaisyurrahman.

- Digital Native Education
Seminar khusus anak dan remaja, memandu mereka menjadi pengguna teknologi digital yang sehat dan terhindar dari paparan konten negatif seperti pornografi, dll.

- Video, infografik, tulisan.


Di youtube semai org ada beberapa video yang dibuat melalui kerjasama dengan Kementrian Sosial.
Infografik alhamdulillaah sudah dipakai juga sampai ke TK di Papua.
Tulisan dan ilustrasi (kerjasama dengan Yayasan Kita dan Buah Hati) dipakai oleh Kakatu (apps android) dan Samsung.

Jadi tunggu apalagi, mari bergabung dengan mereka dan menyelamatkan generasi emas bangsa Indonesia.

Fanpage di facebook :
www.facebook.com/semai2045

Twitter : @semai2045

Youtube : Semai org
(Bisa disearch dengan semai 2045)

Instagram : @semai2045Fanpage di facebook :
www.facebook.com/semai2045

Twitter : @semai2045

Youtube : Semai org
(Bisa disearch dengan semai 2045)

Instagram : @semai2045

Obat Sakit Mata Yang Aman Untuk Anak

19 komentar
Hampir satu bulan lalu anak sulung saya, Aldo menderita sakit mata. Awalnya sepulang dari kegiatan ekstrakurikuler Badminton, matanya menjadi merah, nyeri, gatal dan keluar kotoran terutama ketika bangun tidur.

Saya pikir itu sakit mata biasa. Karena inisiatifnya mengurangi obat, maka saya buatkan rebusan daun sirih. Kemudian saya basuhkan air rebusan daun sirih yang hangat itu ke mata anak saya. Caranya adalah, sediakan rebusan daun sirih hangat di gelas bersih. Dengan kapas bersih, celupkan kapas. Suruh anak untuk terpejam. Lalu oleskan kapas dengan air sirih dari arah dekat hidung keluar. Hanya sekali usap, lalu kapas buang. 

Biasanya dengan cara ini, dalam semalam saja sakit mata sudah sembuh. Air rebusan daun sirih mengandung zat yang bisa membunuh bakteri (antiseptik). 

Ternyata besoknya mata Aldo masih merah. Dan dia merasakan gatal dan nyeri sampai pusing kepalanya. Saya mulai cemas, dan mengantarkannya ke rumah sakit terdekat. Sayang sekali di situ tidak ada dokter spesialis mata. Terpaksa kami mendaftar di poli umum. Dari dokter umum, kami diberikan obat tetes mata Inmatrol dan obat antibiotik untuk diminum. Menurut dokternya, sakit mata Aldo karena virus. Sesampai di rumah obat itu kami gunakan. Akan tetapi setiap menggunakan obat tetes mata, Aldo merasakan matanya sangat perih. Dia bahkan sampai menggulung diri dan memegang matanya yang tetutup untuk menahan rasa sakit. Saya sempat curiga dan cemas, sakit mata biasanya kalau dikasih obat, nggak gitu banget deh perihnya. 

Walaupun perih, mata Aldo menjadi bening beberapa menit kemudian. Obat ini kami gunakan sampai tiga hari. Selama pengobatan, anak saya masih tetap sekolah seperti biasa. Eh ternyata tiap pulang sekolah, matanya masih merah, perih dan gatal. Bahkan sampai kepalanya jadi pusing. 


Obat dari dokter umum. Inmatrol. Anak saya kesakitan ketika memakainya.
Tidak disarankan oleh dokter spesialis mata. Termasuk obat keras dan harus dengan resep dokter. 

Meninjau ulang rasa perih anak saya tiap kena obat mata dari dokter umum itu (Inmatrol), saya pun ke dokter spesialis mata. Saya boncengan motor berdua dengan anak saya itu, ke RS swasta yang cukup jauh juga dari rumah. Disana ada dokter spesialis mata yang buka tiap hari.

Setelah diperiksa dengan beberapa alat khusus, dinyatakan dokter "ini bukan sakit mata biasa bu. Ini kena kelenjarnya. Namanya sakit mata vernalis. Harus diterapi. Ini bukan sakit mata alergi , tetapi bisa dipicu oleh angin, debu dan matahari. Kalau sekolah di dalam kelas saja, kalau pergi pakai kacamata hitam".

Waduh jadi deg-degan juga ya.

Saya tunjukkan obat sebelumnya dari dokter umum. Lalu kata beliau, "Inmatrol itu obat keras bu. Pokoknya obat mata yang belakang namanya ada ....trol, itu obat keras. Jangan diberikan sembarangan ke anak, apalagi beli sendiri di apotik".

Duh ya kan, pantesan. Saya nggak enak ati pas ngelihat anak saya kesakitan pas make obat sakit mata itu. Kami pun diberi obat tetes mata baru. Ada dua obat, yang harus diberikan beda 15 menit untuk tiap mata. Pengobatan ini harus kontrol satu minggu kemudian.



Obat dari dokter spesialis mata ke-1. 
Tobroson (kuning) dan Vernacel (biru).
Digunakan berturut-turut selang 15 menit. Diteteteskan 4 kali dalam sehari.


Kami pun melakukannya. Dan di pemeriksaan kontrol itu, hasilnya mata anak saya mulai membaik tetapi kelenjarnya masih kena. Entah apa maksudnya.

"kelenjarnya kurang bersih bu." begitu kata dokternya.
"Ini bahaya nggak dok?" tanya saya.
"Jika dibiarkan, nanti kelenjarnya bisa membengkak lalu merah bu. Lama-lama nanti matanya jadi terlihat coklat", jawab dokter.
"Bisa mempengaruhi penglihatan nggak dok?" tanya saya kemudian.
"Ya kalau sampai coklat gitu, ya bisa mempengaruhi bu," jawaban dokter terakhir membuat makin cemas.

Ngeri juga sakit mata seminggu lebih nggak sembuh total, dibilang bukan sakit mata biasa pula. Waktu periksa pertama sudah saya cek tentang sakit mata vernalis , dan disebutkan disitu ini sejenis alergi. Tetapi dokter itu mengatakan bukan alergi.

Akhirnya pengobatan kami teruskan seminggu kemudian, dengan obat yang sama. Jadi anak saya menggunakan obat tetes mataTobroson dan Vernacel selama hampir dua minggu. Sebenarnya sejak kontrol pertama itu, anak saya tidak mengeluh perih matanya. Tidak gatal dan tidak belekan.

Akan tetapi karena dokter mata mengatakan harus ada kontrol lagi seminggu kemudian, untuk melihat tekanan mata. Dan dengan penjelasan seperti percakapan saya diatas, saya jadi cemas dan menyuruh anak saya tetap memakai obat tetes mata itu.

Sampai dua hari menjelang kontrol kedua, saya jadi makin ragu. Meneruskan dokter itu atau cari second opinion ke dokter kedua. Akhirnya setelah berbincang dengan suami, saya memutuskan ke rumah sakit lain dan dokter mata lain.
Saya pun ke dokter mata kedua. Beliau kaget mengetahui anak saya memakai obat mata Tobroson (warna kuning ) selama 2 minggu terus menerus.

"Semua obat ini harus di stop ya bu. Apalagi yang kuning ini mengandung steroid. Kalau dipakai terus matanya bisa krompong nanti"

Saya menghela nafas panjang. Bismillah, semoga mata anak saya nggak kenapa-napa, kok salah terus gini.

Dari dokter mata kedua ini saya diberikan penjelasan yang cukup bikin adem ati.

Jadi sakit mata anak saya memang sakit mata vernalis. Dan itu karena alergi yang dipicu oleh angin, debu dan sinar matahari. Biasa diderita anak laki-laki, dan akan membaik ketika sudah umur 18 tahun. Namanya alergi ya tidak bisa hilang sama sekali. Jika ada pemicunya, bisa sakit mata lagi.  Kami pun diberikan dua obat tetes mata baru, yang kata dokternya aman. Bahkan jika habis, boleh beli sendiri di apotek.

Obat dari dokter spesialis mata ke-2 ( RS lain).
Obat yang aman untuk sakit mata Vernalis karena alergi. 
Patanol dan Vasacon-A
Obatnya adalah Patanol dan Vasacon-A. Penggunaannya Panatol dulu diteteskan lalu selang 5 menit, diteteskan Vasacon-A. Pengobatan 4 kali sehari, pagi, siang, sore, malam. Pengobatan dilakukan jika sakit mata kambuh (mata merah, perih, gatal, keluar kotoran). Jika sudah hilang gejalanya, tidak perlu diberi obat tetes mata lagi.
Syukurlah, akhirnya ketemu dokter mata yang lebih mumpuni. Benar juga kiranya ketika ada masalah kesehatan yang di hati belum sreg, sebaiknya mencari pendapat kedua dari dokter lain dan rumah sakit lain.

Semoga menginspirasi

-Heni PR-