Podcast Bu Heni

Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Obat Sakit Mata Yang Aman Untuk Anak

19 komentar
Hampir satu bulan lalu anak sulung saya, Aldo menderita sakit mata. Awalnya sepulang dari kegiatan ekstrakurikuler Badminton, matanya menjadi merah, nyeri, gatal dan keluar kotoran terutama ketika bangun tidur.

Saya pikir itu sakit mata biasa. Karena inisiatifnya mengurangi obat, maka saya buatkan rebusan daun sirih. Kemudian saya basuhkan air rebusan daun sirih yang hangat itu ke mata anak saya. Caranya adalah, sediakan rebusan daun sirih hangat di gelas bersih. Dengan kapas bersih, celupkan kapas. Suruh anak untuk terpejam. Lalu oleskan kapas dengan air sirih dari arah dekat hidung keluar. Hanya sekali usap, lalu kapas buang. 

Biasanya dengan cara ini, dalam semalam saja sakit mata sudah sembuh. Air rebusan daun sirih mengandung zat yang bisa membunuh bakteri (antiseptik). 

Ternyata besoknya mata Aldo masih merah. Dan dia merasakan gatal dan nyeri sampai pusing kepalanya. Saya mulai cemas, dan mengantarkannya ke rumah sakit terdekat. Sayang sekali di situ tidak ada dokter spesialis mata. Terpaksa kami mendaftar di poli umum. Dari dokter umum, kami diberikan obat tetes mata Inmatrol dan obat antibiotik untuk diminum. Menurut dokternya, sakit mata Aldo karena virus. Sesampai di rumah obat itu kami gunakan. Akan tetapi setiap menggunakan obat tetes mata, Aldo merasakan matanya sangat perih. Dia bahkan sampai menggulung diri dan memegang matanya yang tetutup untuk menahan rasa sakit. Saya sempat curiga dan cemas, sakit mata biasanya kalau dikasih obat, nggak gitu banget deh perihnya. 

Walaupun perih, mata Aldo menjadi bening beberapa menit kemudian. Obat ini kami gunakan sampai tiga hari. Selama pengobatan, anak saya masih tetap sekolah seperti biasa. Eh ternyata tiap pulang sekolah, matanya masih merah, perih dan gatal. Bahkan sampai kepalanya jadi pusing. 


Obat dari dokter umum. Inmatrol. Anak saya kesakitan ketika memakainya.
Tidak disarankan oleh dokter spesialis mata. Termasuk obat keras dan harus dengan resep dokter. 

Meninjau ulang rasa perih anak saya tiap kena obat mata dari dokter umum itu (Inmatrol), saya pun ke dokter spesialis mata. Saya boncengan motor berdua dengan anak saya itu, ke RS swasta yang cukup jauh juga dari rumah. Disana ada dokter spesialis mata yang buka tiap hari.

Setelah diperiksa dengan beberapa alat khusus, dinyatakan dokter "ini bukan sakit mata biasa bu. Ini kena kelenjarnya. Namanya sakit mata vernalis. Harus diterapi. Ini bukan sakit mata alergi , tetapi bisa dipicu oleh angin, debu dan matahari. Kalau sekolah di dalam kelas saja, kalau pergi pakai kacamata hitam".

Waduh jadi deg-degan juga ya.

Saya tunjukkan obat sebelumnya dari dokter umum. Lalu kata beliau, "Inmatrol itu obat keras bu. Pokoknya obat mata yang belakang namanya ada ....trol, itu obat keras. Jangan diberikan sembarangan ke anak, apalagi beli sendiri di apotik".

Duh ya kan, pantesan. Saya nggak enak ati pas ngelihat anak saya kesakitan pas make obat sakit mata itu. Kami pun diberi obat tetes mata baru. Ada dua obat, yang harus diberikan beda 15 menit untuk tiap mata. Pengobatan ini harus kontrol satu minggu kemudian.



Obat dari dokter spesialis mata ke-1. 
Tobroson (kuning) dan Vernacel (biru).
Digunakan berturut-turut selang 15 menit. Diteteteskan 4 kali dalam sehari.


Kami pun melakukannya. Dan di pemeriksaan kontrol itu, hasilnya mata anak saya mulai membaik tetapi kelenjarnya masih kena. Entah apa maksudnya.

"kelenjarnya kurang bersih bu." begitu kata dokternya.
"Ini bahaya nggak dok?" tanya saya.
"Jika dibiarkan, nanti kelenjarnya bisa membengkak lalu merah bu. Lama-lama nanti matanya jadi terlihat coklat", jawab dokter.
"Bisa mempengaruhi penglihatan nggak dok?" tanya saya kemudian.
"Ya kalau sampai coklat gitu, ya bisa mempengaruhi bu," jawaban dokter terakhir membuat makin cemas.

Ngeri juga sakit mata seminggu lebih nggak sembuh total, dibilang bukan sakit mata biasa pula. Waktu periksa pertama sudah saya cek tentang sakit mata vernalis , dan disebutkan disitu ini sejenis alergi. Tetapi dokter itu mengatakan bukan alergi.

Akhirnya pengobatan kami teruskan seminggu kemudian, dengan obat yang sama. Jadi anak saya menggunakan obat tetes mataTobroson dan Vernacel selama hampir dua minggu. Sebenarnya sejak kontrol pertama itu, anak saya tidak mengeluh perih matanya. Tidak gatal dan tidak belekan.

Akan tetapi karena dokter mata mengatakan harus ada kontrol lagi seminggu kemudian, untuk melihat tekanan mata. Dan dengan penjelasan seperti percakapan saya diatas, saya jadi cemas dan menyuruh anak saya tetap memakai obat tetes mata itu.

Sampai dua hari menjelang kontrol kedua, saya jadi makin ragu. Meneruskan dokter itu atau cari second opinion ke dokter kedua. Akhirnya setelah berbincang dengan suami, saya memutuskan ke rumah sakit lain dan dokter mata lain.
Saya pun ke dokter mata kedua. Beliau kaget mengetahui anak saya memakai obat mata Tobroson (warna kuning ) selama 2 minggu terus menerus.

"Semua obat ini harus di stop ya bu. Apalagi yang kuning ini mengandung steroid. Kalau dipakai terus matanya bisa krompong nanti"

Saya menghela nafas panjang. Bismillah, semoga mata anak saya nggak kenapa-napa, kok salah terus gini.

Dari dokter mata kedua ini saya diberikan penjelasan yang cukup bikin adem ati.

Jadi sakit mata anak saya memang sakit mata vernalis. Dan itu karena alergi yang dipicu oleh angin, debu dan sinar matahari. Biasa diderita anak laki-laki, dan akan membaik ketika sudah umur 18 tahun. Namanya alergi ya tidak bisa hilang sama sekali. Jika ada pemicunya, bisa sakit mata lagi.  Kami pun diberikan dua obat tetes mata baru, yang kata dokternya aman. Bahkan jika habis, boleh beli sendiri di apotek.

Obat dari dokter spesialis mata ke-2 ( RS lain).
Obat yang aman untuk sakit mata Vernalis karena alergi. 
Patanol dan Vasacon-A
Obatnya adalah Patanol dan Vasacon-A. Penggunaannya Panatol dulu diteteskan lalu selang 5 menit, diteteskan Vasacon-A. Pengobatan 4 kali sehari, pagi, siang, sore, malam. Pengobatan dilakukan jika sakit mata kambuh (mata merah, perih, gatal, keluar kotoran). Jika sudah hilang gejalanya, tidak perlu diberi obat tetes mata lagi.
Syukurlah, akhirnya ketemu dokter mata yang lebih mumpuni. Benar juga kiranya ketika ada masalah kesehatan yang di hati belum sreg, sebaiknya mencari pendapat kedua dari dokter lain dan rumah sakit lain.

Semoga menginspirasi

-Heni PR-

Happy Eating Go Langsing

3 komentar
Foto dari sini
Dari acara Motiva Talk di MHTV, tentang konsep Happy Eating untuk mendapatkan kesehatan dari kontrol berat badan.

Yang menarik, cara untuk mengendalikan berat badan ini bukan dengan diet, sedot lemak atau dengan obat-obatan seperti biasanya iklan diet di media.

Happy Eating lebih mengendepankan perasaan, mindfull eating. Yaitu mendalami diri sendiri, memahami diri sendiri apakah benar-benar lapar fisik atau lapar emosi. Dan ketika benar lapar fisik, maka diajarkan untuk makan secukupnya, menikmati makanan dan berhenti sebelum kenyang dengan penuh rasa syukur dan puas.

Founder konsep ini adalah mbak Nunny. Beliau adalah seorang Hypnotherapyst yang fokus pada cara makan yang baik dan benar.

Menurut mbak Nunny, definisi langsing dan ideal setiap orang itu berbeda-beda. Yang pasti kita harus menerima blueprint dari tubuh kita masing-masing dengan penuh rasa syukur. Jika kita memang tercipta secara genetik berpinggul besar, bertulang besar maka jangan meratapi bentuk tubuh kita dan bersikeras akan lebih baik jika menjadi manusia dengan tubuh seperti model tivi.

Bahwa langsing itu adalah proses membuat tubuh kita mempunyai berat badan yang ideal dan baik untuk kesehatan, serta yang lebih penting adalah mempunyai pola makan yang permanen. Sehingga sampai di akhir usia kita pun, kita masih punya berat badan yang bagus, energi yang bagus dan perasaan yang semakin penuh dengan rasa syukur.

Di acara Motiva Talk itu, ada profil dr. Ivon yang badannya tinggi besar. Beliau termasuk peserta Go Langsing Class yang dipandu oleh mbak Nunik. Kalimat dari dr. Ivon ini sangat menarik.
    " Saya menikmati diri saya melangsing. Mengijinkan diri saya melangsing. Ketika ada teman yang memuji atau berkomentar, "Ivon kamu langsing". Maka saya menjawab, oh iya saya memang lebih langsing sekarang. Saya tidak lagi menjawab sebaliknya seperti diet saya kemarin, yaitu, "Oh tidak kok, saya nggak langsing. Ini cuma efek bajunya."  Saya menerima diri saya, tidak fokus pada seberapa lama saya diet. Saya lebih fokus untuk berlatih mengenali sinyal diri saya sendiri apakah saya lapar fisik atau tidak. Saya pun menggunakan kalimat positif, yaitu, "saya mau langsing", bukan lagi, "Saya harus langsing". Menggunakan kata harus itu tidak enak."

Seru sekali ya, sebuah konsep yang benar-benar menarik. Tidak hanya untuk konsep cara makan yang sehat. Tetapi konsep penerimaan diri yang positif, bersyukur dan membina mental agar tetap positif untuk terus maju dan tidak berhenti.

Saya jadi ingat sering mengatakan Harus Harus dan Harus sebagai Target. Yang saya pikir itu adalah kalimat yang ampuh. Padahal sebenarnya, di dalam hati dan kepala, kata HARUS itu sangat membebani.

Lanjut pada Mindfull Eating. Dianjurkan kita untuk semakin terlatih mengenali sinyal tubuh kita apakah kita sedang lapar, capek atau sedih. Dan turutilah kata tubuh kita. Ketika sedang capek ya istirahat. Ketika sedih, ya lakukan hal lain seperti curhat. Jika benar-benar lapar fisik, itulah baru kita makan. Waktu makan pun tidak tergantung pada jam dinding seperti konsep kita selama ini. Sarapan jam 7 pagi, makan siang jam 12 siang, makan malam jam 7 malam. Tetapi sesuai dengan "kata perut" kita. Bukan "kata lidah" kita atau "kata hati" kita.

Intinya, pikiran yang baik mengendalikan diri kita dengan baik.
Dan pikiran yang baik diperoleh dari kata-kata yang positif untuk diri kita.

Teknik lain yang dikatakan mbak Nunik untuk mengendalikan berat badan ideal kita adalah lebih baik kita mempersiapkan bajunya. Misalnya, kita ideal di celana jins ukuran 32. Maka itulah patokan yang mudah. Jika terasa sesak, berarti berat badan kita naik. Cara ini lebih efektif daripada kita menggunakan timbangan badan dalam kilogram. [ah ini membatalkan rencana saya untuk nambah stok baju berbahan kaos, heheeh. Bahan kaos kan melar, bisa-bisa kenaikan berat badan sangat tertutupi]

Acara yang saya lihat hanya setengah saja ini sangat berguna. Kebetulan kok pas ketika saya mulai siap untuk menerima diri saya apa adanya dan menutup telinga pada komentar orang. Sejak SMA semua selalu mengkritik my Big Hip. Semakin berumur, apalagi sudah melahirkan dua anak serta menggunakan alat kontrasepsi, maka tentu saja Hip saya bukannya malah mengecil. Sempat saya begitu gusar dengan komentar orang. Dan begitu salah tingkah jika harus berkumpul di acara umum. Woh, suara itu membunuh ya :D

Tapi yaudinlah. What's wrong with big hip? Nothing's wrong kan.

Maka, konsep Mindfull Eating dari mbak Nunik ini cukup melegakan. Dan saya mencoba mengikutinya sedikit demi sedikit untuk kesehatan dan energi yang cukup dalam beraktivitas. Acara ini juga membuka mata saya lagi, wah wah keren juga ya orang bikin bisnis. Satu konsep sudah bisa jadi ladang rejeki bagi diri sendiri dan orang lain. Keren keren :D

Oke, semoga bermanfaat ya
Loveyu
Heni Prasetyorini

Alhamdulillah, Bukan LUPUS !!!

4 komentar
Hasil tes ANA untuk saudaraku, ternyata NEGATIF>
artinya dugaan terkena penyakit LUPUS tidak terjadi.
dan artinya : keluarga kami sudah relatif lepas dari ketegangan akan menghadapi penyakit ini seumur hidup.

Betulkan "LUPUS" ??

Tidak ada komentar
Hari ini adalah hari ke enam, salah satu saudaraku dirawat inap di sebuah rumah sakit mahal di Surabaya. Gejala yang ditampakkannya adalah :

1. sariawan berat, sangat amat berat ; sampai perlu infus dan sonde lambung karena tidak bisa membuka mulut untuk makan, minum atau menelan ludah

2. bercak merah di telapak kaki.
3. rasa linu badan
4. rambutnya rontok [katanya sejak setahun belakangan ini]
5. kulitnya memerah jika kena sinar matahari [katanya sejak gadis alias puluhan tahun yang lalu]
6. ada protein di urin [dari hasil tes urin]

dari indikasi ini, dokter menduga adanya penyakit SLE atau disingkat lupus.

Percaya tidak percaya, kami masih harus menunggu hasil tes darahnya besok [ANA TEST]