Podcast Bu Heni

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kasur Kapuk

Tidak ada komentar
“Ibu, kasur ini kok masih ada aja sih, nggak dibuang…??!” pekik Rini tertahan. Dia heran bukan kepalang, kenapa kasur kapuk yang bentuknya sudah merana ini masih tersimpan abadi di rumah ibunya. Ibu tersenyum menanggapi protes Rini, “jangan to, ibu nggak bisa tidur kalau nggak pakai kasur ini.”

Ibu tidak mengindahkan tatapan Rini yang sedikit bergidik. Diambilnya rotan “penebah” kasur. Dipukul-pukulnya gagang rotan itu merata di kasur kapuk. Debu tebal serentak keluar, setiap kali ibu memukulkan gagang rotannya. Bull…seperti asap putih. Uhuk, uhuk. Ibu terbatuk-batuk perlahan karena debu kasur. Beliau hanya menutup hidungnya dengan ujung daster batik lalu tetap meneruskan pekerjaannya menjemur dan membersihkan kasur kapuk.

Rini pun tidak berniat untuk mempermasalahkan kasur itu lebih lanjut. Dia lebih memilih untuk membersihkan diri. Lima belas jam duduk di  kereta api Bandung-Surabaya, sukses membuatnya penat luar biasa. Rini mengguyur air seperlunya, walau badannya ingin digerujuk air terjun saja rasanya. Tetapi tinggal di kota Surabaya, harus sadar diri. Hemat air, hemat uang juga karena sumber air hanya dari PDAM Surabaya. Tidak ada sumur dan alternatif lain.

Bicara tentang hemat, Rini hafal betul sifat ibunya yang luar biasa hemat itu. Ibu berulang kali memberikan nasihat padanya, “Jadi perempuan itu harus gemi nastiti ngati-ati”. Yang artinya harus hemat dan berhati-hati dalam membelanjakan keuangan. Ibu pun memberikan teladan yang super bahkan terlalu sempurna dan sulit untuk ditiru. Apapun dilakukan ibu asal bisa hemat.

“Kalau bapakmu makan pake lauk tempe. Ya ibu makan pake tempe menjes saja. Ngirit.”

Bahkan untuk lauk makanan pun, ibu berani berkorban supaya hemat. Jika bapak dan anak-anaknya makan dengan lauk tempe yang asli dari kedelai. Ibu memilih untuk makan tempe menjes yang terbuat dari ampas kedelai dan harganya jauh lebih murah daripada tempe. Ibu menceritakan hal tersebut dengan nada bangga, tidak ada rasa sedih atau nelangsa sama sekali.

Dan setali tiga uang dengan ibu, bapak pun sama saja hematnya. Walaupun diberikan jatah makan lauk tempe yang spesial, bapak tidak mau makan enak sendiri. Beberapa kali Rini memergoki bapak malah mengambil tempe menjes dan membiarkan jatah lauk tempenya untuk ibu. Sayangnya ada kakak lelaki Rini yang suka mengambil tempe untuk ibu itu seenaknya.

“Rini, ini ada surat dari kampusmu.”
Ibu masuk ke dalam kamar Rini dan menyerahkan selembar amplop putih yang isinya cukup tebal. Rini heran juga, ada apa kok sampai diberi surat dari kampus. Rini merasa tidak ada yang salah dengan kuliahnya satu semester ini. Segera diambilnya isi amplop itu, dan bernafaslah lega dia kemudian.

“Isinya nilai kuliahku semester 1 ini kok bu. Aku kira ada masalah apa. Untunglah,” Rini menyerahkan beberapa lembar transkrip nilainya kepada ibu.

Ibu menerimanya dengan tersenyum senang. Dibacanya satu demi satu nama mata kuliah dan nilai yang diperoleh Rini. Kemudian menyerahkan hasilnya itu kepada bapak yang sedang santai di teras, di samping aquarium ikan yang baru dibersihkannya. Ibu pun jadi ikut duduk di teras, di samping bapak. Ingatannya menerawang pada percakapannya dengan bapak setahun yang lalu.

Kala itu siang begitu terik, sama seperti hari ini.  Ibu selesai menjemur dan menghilangkan debu-debu pada kasur kapuknya. Ibu meminta tolong bapak untuk mengangkat kasur itu ke dalam kamar mereka. Kali ini mereka harus melakukannya berdua karena bapak sudah tidak kuat mengangkat kasur sendirian. Selesai merapikan kasur kapuknya, ibu menunjukkan sebuah kotak merah kepada bapak. Kotak merah itu sedikit kotor kena kapuk.

“Pak, tabunganku sudah banyak. Cukup untuk naik haji,”begitu kata ibu singkat.

Bapak menerima kotak merah yang disodorkan ibu. Setelah dibuka ternyata isinya adalah perhiasan emas yang cukup banyak. Ada kalung panjang, liontin, cincin dan gelang. Bapak kemudian duduk dengan tenang di atas kasur sambil memegang kotak merah itu. Bapak sama sekali tidak menyentuh perhiasan emas di dalamnya. Dadanya sedikit merasa sesak.

Bapak senang sekaligus prihatin. Senang karena melihat ibu, istrinya itu, bisa membeli sendiri perhiasan emas sebanyak itu. Gaji bapak sebagai tentara sekelas Bintara dan berpangkat Sersan, mustahil bisa bersisa setiap bulannya untuk menghidupi keluarga besar. Keluarga dengan delapan anak. Apalagi sampai bisa membeli perhiasan emas. Begitu pun dengan uang pensiunannya sekarang. Mustahil.

Bapak menatap tangan ibu yang penuh bekas goresan luka karena bekerja tiada hentinya. Untuk menambah pendapatan keluarga, ibu berjualan rujak cingur dan kolak pisang di depan rumah. Bahkan sebelumnya ibu juga menjahit baju, berjualan jamu, bensin dan segala macam yang bisa dijual. Ibu mencari uang dan menyimpannya dengan hati-hati. Setiap sudah berkumpul uang yang cukup untuk membeli perhiasan emas, ibu segera pergi ke toko emas. Membeli sejumlah perhiasan sesuai dengan uang yang dipunyai. Kemudian menyimpan perhiasan itu tanpa pernah dipakainya sama sekali. Ibu suka menabung dengan emas, itu juga karena ibu menuruti pesan terakhir dari nenek.

Karena perhiasannya tidak pernah dipakai, bapak pun tidak begitu tahu tentang simpanan emas ibu. Apalagi ibu menyimpannya di tempat rahasia yang siapapun tidak akan menduganya. Yaitu di kasur kapuk. Caranya adalah ibu mengiris kain pinggiran kasur dengan silet, memasukkan kotak merah itu ke dalamnya dengan hati-hati dan menjahit lagi kain kasur yang terbelah dengan benang hitam sebagai tanda. Ibu sudah melakukan itu selama bertahun-tahun, sejak anak pertamanya lahir sampai anak ketujuhnya, Rini, akan masuk kuliah.

“Aku pingin naik haji pak,” kata ibu dengan mata berkaca-kaca. “aku sudah nabung sejak anak-anak masih bayi. Sekarang tahun 1996, naik haji harganya 7 juta-an. Ini kalau kujual semua, ada 8 jutaan. Dan ditambah uang kontrakan rumah kita di desa, aku bisa punya 12 juta.” Titik air mata ibu jatuh saking gembiranya.

Bapak melihat ibu dengan hati berat. Bapak paham keinginan ibu begitu dalam, namun logika bapak saat itu mencegahnya untuk setuju. 

Wong tuku lombok ae, awakmu jik mikir ngono loh. Wistalah, duite gawe anak-anak sekolah ae. Engkok lak awakmu isok munggah kaji. Wistalah percoyo karo aku , awakmu isok isok munggah kaji.”* 

Air mata ibu turun semakin deras tak terbendung di pangkuan bapak. Dan bapak hanya menepuk pundak ibu sampai ibu tertidur.

Dari percakapan itu, akhirnya Ibu mengalah. Uang yang semestinya bisa dibuat untuk naik haji digunakan untuk biaya kuliah Rini, kakaknya dan adik perempuannya yang masih SMA. Apalagi tanpa diduga siapapun, Rini memilih kuliah di Bandung. Di kota yang jauh sekali dari Surabaya, butuh dana lebih untuk kos. Ibu menyadari besarnya dana yang dibutuhkan. Oleh karena itu untuk menambah penghasilan, ibu membuka warung kecil untuk menjual rujak cingur dan kolak pisang. Bapak mempersiapkan gerobaknya dan menghiasnya seindah mungkin. Mereka adalah tim yang kompak.

“Pak, ingat waktu kita mengantar Rini pertama kali ke Bandung?”, lanjut ibu.

Bapak mengangguk dan matanya belum lepas dari deretan nilai kuliah Rini di tangannya. 

Sampeyan kan pulang duluan sama mas Di. Nah aku sama mbaknya temen kos Rini, orang Jombang itu, aku ikut masuk ke acara perkenalan mahasiswa baru. Waktu itu aku lihat Rini kok nggak ada di deretan kursi mahasiswa baru. Eh ternyata dia ada di depan. Dia ikut paduan suara mahasiswa baru. Ya Alloh pak, aku sampai nangis lihatnya. Nggak nyangka itu dia kok bisa sampai ke Bandung.”

Bapak memang tidak banyak bicara, hanya tersenyum. Tentu saja ibu begitu terharu, karena ibu belum pernah ikut acara sekolah anak-anaknya. Bahkan untuk mengambil rapot sekolah pun biasanya dilakukan oleh bapak. Dan melihat deretan nilai kuliah Rini, sama saja seperti saat bapak menerima rapor Rini sejak SD sampai SMA. Dalam periode itu bapak hampir selalu menerima berita yang sama. Rini masuk rangking satu, dua atau minimal masuk sepuluh besar. Itulah kenapa, bapak tidak tega mencegah Rini dan membiarkannya memilih kuliah sampai jauh di Bandung. Walaupun Rini hanya anak perempuan, yang mungkin tidak bisa berkarir tinggi, bapak hanya ingin Rini mendapatkan kesempatan sesuai dengan kerja kerasnya belajar sejak kecil.

“Ibu, bapak ngapain disini?” mendadak Rini ada di belakang mereka. 

Ibu segera menghapus air matanya. Bapak melipat transkrip nilai semesteran Rini dan memasukkan dalam amplop.

“Ibu lagi latihan main ludruk,” bapak menjawab sekenanya. Bapak ini walau jarang bicara, sekalinya bicara biasanya bercanda.

Rini tertawa, “ aku di Bandung malah dipaksa-paksa sama anak-anak asli Surabaya pak. Disuruh ikutan main ludruk. Aku nggak mau ah, takut habis waktu. Nggak bisa belajar, malah nggak lulus-lulus nanti.”

Mendadak ibu memeluk Rini yang duduk di sampingnya. Rini kaget menanggapinya. “Ibu, ada apa to?”. Ibu pun menatap Rini begitu dalam. 

“Ibu dulu pingin sekolah saja nggak boleh, nduk. Disuruh kerja sama mbah,” ibu mulai bercerita. Ibu tidak bisa lulus SD, karena ketika ujian akhir kelas 6, ibu tidak boleh pergi ke sekolah.

“Percuma sekolah tinggi-tinggi. Yang penting sudah bisa baca tulis. Nomer satu, perempuan itu bisa bikin sambel enak. Udah!” itu kata-kata mbah Pah, neneknya Rini dari pihak ibu.

“Itulah sebabnya ibu bertekad kuat-kuat, anakku harus sekolah setinggi-tingginya semua. Walaupun anak perempuan.” 

Kata-kata ibu membuat Rini merinding juga. Seperti tersengat kata-kata yang dikobarkan bung Tomo saat memimpin pasukannya. “Dari kecil ibu sudah dilatih untuk kerja, cari duit. Ibu lakukan semuanya asal halal, biar bisa nabung untuk bayar sekolahmu. Sekolahnya kakak-kakakmu, adikmu.”

Rini terpaku di tempat duduknya. Semua keluh kesah yang sudah dia simpan sejak dalam kereta api tadi, seketika lenyap. Kesulitanku tidak ada apa-apanya dibanding ibu,  pikir Rini.

“Kamu belajar yang sungguh-sungguh ya. Jangan mikir yang aneh-aneh. Ibu berjuang disini, kamu berjuang di Bandung.”

Rini menatap kasur kapuk yang masih dijemur. Kainnya sudah kusam, beberapa tempat terlihat bercak jamur yang berwarna hitam. 

Hatinya menghangat ketika mendengar ibu melanjutkan ceritanya, “Ibu menyimpan tabungan ibu di kasur kapuk itu. Tabungan emas. Dari situlah ibu bisa mengirimmu kuliah di Bandung. Ibu melepaskan keinginan untuk naik haji, tapi ibu yakin tidak akan pernah menyesali hal itu.”

note: *(“Untuk beli cabe saja, mau masih mikir gitu loh. Sudahlah, uangmu untuk sekolah anak-anak kita saja. Nanti kamu pasti bisa naik haji. Percayalah padaku, kamu pasti bisa naik haji”).



Blogpost ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com dan www.nulisbuku.com .   

OEEKK!!!!

Tidak ada komentar
Oeekkk…suara manusia kecil yang baru terpisah dari pelukan hangat rahim ibunya terdengar di malam itu. Pukul 22.15 tepat.

“Pak San. Laki-laki.” 

Suster pembantu bidan di rumah sakit Sayang Ibu mengantarkan seorang bayi yang terbungkus selimut putih keluar ruang bersalin. Untuk menunjukkan bayi berkulit putih kemerahan itu pada keluarga yang setia menunggunya lahir sejak maghrib tadi.

“Alhamdulillah..alhamdulillah. San, San, anakmu wis lahir. Duh Gusti, alhamdulillah.” Ibuku berlari menuju pintu ruang bersalin yang terang benderang itu. Aku segera berdiri tanpa sempat membereskan sajadah yang sejak maghrib tadi menemaniku berdzikir tiada henti. Aku meloncat dan berpekik lirih, “Subhanallah, alhamdulillah anakku selamat.”

Aku dan ibu berdiri merapat di depan boks bayi yang masih dipegang oleh Suster Asisten. “Ini bu, silahkan dilihat dulu. Anda bapaknya ? kalau mau diadzani silahkan.” Tanganku gemetar tidak karuan ketika ibu meletakkan bayi itu di gendonganku. Aku menatap ibu. Beliau tersenyum sangat manis. Semanis bait-bait do’anya yang turut diberikannya tadi ketika menunggu istriku melahirkan. 

“Masih ada wudhu kan ? langsung kamu adzani di telinga kanan dan iqomah di telinga kirinya. Yang khusyu’,”kata ibu. Aku mengangguk dan mundur tiga langkah menjauh. Kudekatkan bibirku pada telinga anakku. Sedikit terpejam kulantunkan adzan dan iqomah bergantian. Perasaanku terguncang tidak karuan. Berdebar-debar. Senang. Haru yang begitu sangat. Sebenarnya lenganku sangat gemetar. Tapi kutahan. Aku harus bisa menyelesaikan tugas pertamaku sebagai bapak.
Alhamdulillah, gumamku dalam hati. 

Kuserahkan lagi bayiku kepada ibuku. “ibu, ucapkan shalawat juga ya ke adek. Biar kenal suara neneknya,”pintaku pada beliau. Ibu mengangguk dengan tersenyum sangat lebar. Permintaanku membuatnya sangat berarti agaknya . “Sudah bu, pak ? bayinya saya antarkan dulu ke ruang bayi ya. 
Oh ya untuk malam ini istri bapak tidak usah ditunggu dulu. Semua sudah jadi tugas suster ruangan. Ibu dan bapak istirahat di rumah saja. Besok pagi baru kesini, jangan lupa bawa perlengkapan ibu dan bayi lebih banyak.” Permintaan suster menghentikan belaian lembutku pada pipi montok bayiku.
“Ari-arinya, Sus..?”tanya ibu tiba-tiba. “Oh iya sudah dimasukkan ke kendil tanah liat yang ibu siapkan tadi. Nanti dibersihkan lagi di rumah. Silahkan diambil di ruangan itu bu,” suster menunjuk ke ruangan kecil bercat putih bersih di belakang kami. Tak lama kemudian aku dan ibu sudah dalam perjalanan pulang. Dinginnya angin malam yang begitu menusuk kulitku yang tidak ditutupi jaket itu tak terasa lagi. Kebahagiaan dan kebanggaanku sebagai lelaki menghangatkanku lebih dari sekedar jaket kulit.

“Assalamualaikum sayang.” 

Dua belahan jiwaku sedang asyik duduk di atas tempat tidur berukuran kecil. Sapaan lembutku membuat belahan jiwaku yang cantik menoleh. “Waalaikum salam. Eh, itu bapak datang dik.” Perlahan Sastri menepuk pipi anakku yang sedang menyusu. “Belum terlalu bisa menghisap ASI-ku mas,”keluh Sastri setelah mengambil tissue basah yang kubawakan dari rumah. Dia membersihkan sudut mata bayiku yang masih ada kulit arinya yang berwarna putih-putih seperti bercak kapas tertinggal di kulitnya. Mungkin itu sisa lemak yang melindungi tubuh anakku sewaktu masih di dalam perut seperti yang kubaca di majalah ibu itu.

“Baru sehari dik. Belum pengalaman kali,”selorohku. 

Maklum pengetahuanku tentang bayi dan ASI masih sebatas buku. “Katanya kalau dicoba terus dia bakal bisa menghisap dengan baik kok.” Sastri tersenyum. “Iya kali ya. Mungkin juga dia sama capeknya kayak aku. Dari tadi cuma tidur. Waktu aku susui pertama kali. Dia membuka mata sebentar, lalu tersenyum trus tidur lagi.”

Pembicaraan kami terputus sebentar ketika ada seorang lelaki masuk ke ruangan yang sama dengan kami. Lelaki itu berpakaian rapi sekali. Dengan jas dan handphonenya yang model terbaru tampak berpegangan erat di pinggangnya. Dia menatap kami. Tersenyum. Kami membalasnya. Lelaki itu kemudian berjalan ke tempat tidur yang ada di seberang tempat tidur istriku.

“Istrinya itu sejak tadi malam menangis mencari suaminya,”bisik istriku pelan-pelan. “Biarin saja. Kangen kali.” Aku menjawab bisikan istriku dengan bercanda. Tidak berminat untuk melanjutkannya, khawatir jadi ghibah.

“Sudah sayang. Jangan cemberut terus toh. Kan sudah dijenguk.” Waduh nggak pengen ngurusi orang lain sebenarnya. Tapi kok suara lelaki yang baru datang itu keras sekali. Aku pura-pura tidak mendengar. Dengan isyarat aku meminta istriku mendekat. “aku bawa cd player portable sama murotal juz-ammah. Aku mau memperdengarkan lantunan kalimat-kalimat Ilahi pada anak kita.” Aku berbisik pada Sastri, dan dia mengangguk senang. Sebentar kemudian kami bertiga larut dalam hening. Mendengar lantunan surat Ar-Rahman. Nikmat sekali mendengarkannya di ruangan ini. Pada saat ini. Entah mengapa rasanya jauh lebih nikmat daripada ketika aku mendengarkannya setiap hari di ruang kerjaku sejak lima tahun yang lalu. Mungkin sekarang karena ada si kecil. Yang ikut bergerak pelan ketika murottal ini kuperdengarkan. Lima tahun yang lalu jagoan kecilku itu belum datang.

“Iya. Tapi kenapa kemarin mas nggak datang!” Suara perempuan di seberang tempat tidur istriku mengagetkan kami. Dengan tenang Sastri membelai rambutku, menjagaku supaya tidak jadi emosi. Aku yang hendak protes jadi mengurungkan niatku dan meletakkan kepalaku lebih dekat ke perut si bayi yang tergeletak di samping Sastri.

“Mas kan meeting di luar kota. Selesainya baru jam delapan sore. Sudah ya jangan marah.” Rupanya kedua suami istri itu mempunyai jenis suara yang super vokal. Keras sekali kalau bicara. “Bawa apa ?!” suara istrinya masih terdengar ketus. “Baju, selimut, tisue sama apa ya nggak tahu tadi mami yang nyiapin,” jawab suaminya. “Bawa dot sama susunya nggak ? coba periksa di tasnya,” pinta sang istri.
“Nggak ada tuh. Buat apa ?” tanya sang suami. “Ya buat dia. Masak nggak dikasih minum susu. Emangnya mau dikasih nasi rawon seperti kesukaanmu ?”. jawaban sang istri membuatku menahan tawa. “Lho dik, bukannya kalau baru lahir harus disusui sama ibunya sendiri ?” kata sang suami kemudian. “Siapa bilang. Itu kan katanya orang-orang tua dulu. Waktu jaman ekonomi sulit,” sang istri menjawab dengan intonasi yang masih tinggi. “Bukan begitu. Katanya kalau baru lahir itu bisa dapat zat kebal dari ASI yang pertama kali keluar. Biar anak kita nggak gampang sakit. Itu loh Sontrum …sontrum gitu namanya.”

Kolostrum kali pak, aku menggumam dalam hati. Kurasakan kaki Sastri bergerak. Mungkin dia juga menahan tawa seperti aku. Mendengar lelaki itu salah menyebut cairan bening yang padat zat kebal itu.

“Tahu apa kamu tentang ASI mas..mas. Itu kan cuma mitos. Susu formula sekarang sudah canggih. Vitaminnya sudah lengkap-kap. Biar bagaimanapun aku nggak mau ah nyusuin. Nanti bentuk tubuhku jadi nggak proporsional lagi. Sebulan lagi aku juga mau diet dan senam. You kan eksekutif muda masa kuno gitu mikirnya,” jawab si istri panjang lebar. Yang intinya tidak ada kata ASI untuk si bayi. Dia tidak mau repot bangun malam untuk menyusui. Atau harus duduk bermenit-menit tanpa bisa melakukan hal apa-apa selain memandangi bayinya yang asyik menghisap cairan putih dari dalam tubuhnya itu. “Sudah ada baby sister yang kusewa seminggu lalu dari agen. Jangan minta aku berkorban lebih banyak lagi. Waktu dan tenagaku sudah habis ketika masih hamil kemarin. Sekarang masih sakit nggak karuan, disuruh repot lagi. Nggak mau aku,” lanjutnya.
Hhhh…terdengar lelaki itu menghembuskan nafas berat. “Ya sudahlah.terserah kamu.”

Jendela ruangan ini besar-besar. Anginnya terasa sepoi-sepoi. Bau harum bayiku dan lantunan halus ayat suci bagaikan lagu nina bobok yang indah di telinga batinku. Kurasakan badanku jadi berat untuk meninggalkan Sastri dan anakku dari sini. Tapi aku harus pergi, sebentar lagi Mr. Kondo akan menyelesaikan negoisasinya denganku. Aku sudah janji untuk menemuinya setelah jam makan siang. Duh.. kok ngantuk sekali. Kepalaku terasa berat, aku merebahkannya di samping anakku.

“Dandy, kamu lupa dotnya anakmu. Nih aku bawakan,” kata perempuan tua itu sambil menyerahkan sebuah dot yang telah penuh berisi cairan putih. Tampak istri Dandy tersenyum senang sambil mengerling manja kepada suaminya. “Mami memang yang paling top deh. Nggak kayak mas Dandy. Apa-apa lupa.” Kata si istri menyindir suaminya yang lupa membawa botol susu. Gadis berseragam putih itu dengan sigap mengambil si bayi dari boksnya. Memangkunya dan menyodorkan botol susu berukuran besar itu padanya. Sebentar kemudian terlihat si bayi mulai menghisap puting karet yang nongol dari dalam botol itu. “Tuh..pinternya anak ini. Sudah bisa ngedot sendiri. Apa tadi malam dia sempat kamu susuin Ven ?” tanya ibu paruh baya itu. ”Nggak. Dikasih dot sama susternya. Aku yang minta, soalnya badanku rasanya masih remuk semua. Sakiiit sekali. Nggak nyangka bakal sesakit ini jadinya,”jawab Veni, istri lelaki itu. “Ya sudah nggak masalah. Nanti sebelum pulang kamu coba aja minta obat untuk menghentikan air susumu supaya nggak keluar lagi. Karena kalau masih produksi tapi kamu nggak kasih ke itu bayi, biasanya payudara jadi penuh dan sakitnya minta ampun,”nasehat ibu itu pada putri semata wayangnya. “Ya sudah kalau begitu, kita pulang dulu aja. Suster kamu jaga disini ya. Jangan sampai ibu kecapekan.” Perempuan berbusana merah tua itu mengajak menantu lelakinya pulang.

Mendengar percakapan mereka bertiga di belakangku, aku jadi penasaran. Ingin tahu bagaimana sih tampang wanita yang kalah sama kucingku. Ogah nyusuin anaknya sendiri. Supaya tidak kentara, aku pura-pura mau keluar. Pelan-pelan aku berdiri. Masya Allah, pekikku dalam hati. Kayak artis sinetron, pantes saja bingung masalah berat dan bentuk badan. Aku berkata dalam hati. Sambil berjingkat kuhampiri boks mungil itu. Ingin tahu betapa rupawannya bayi mereka yang sudah pasti mengusung gen-gen kecantikan ibunya.

Selimut pink muda itu bergerak. Telapak tangan yang mungil muncul perlahan dari sela-sela lipatan selimut. Kulitnya putih sekali. Kuberanikan diri menengok wajahnya. Hmm…betul dugaanku. Pipinya montok bersemu merah, bibir dan hidungnya mungil namun sangat proporsional. Maha Besar Engkau Ya Rabb, bisa menciptakan manusia begini rupa. Dorongan batin menyuruhku membelai kepalanya. Sedikit ragu aku tengok dulu ibunya. Hm..masih tidur pulas dan suster bayi ini juga sedang tidak ada di sini. “Sayang..,” aku memanggil bayi itu lirih. Kuusap kepalanya dengan lembut sekali. Kalau besar nanti kamu akan jadi teman anakku, gumamku pelan-pelan. Seperti tahu kalau sedang disayang, bayi perempuan itu membuka matanya. Dia tersenyum padaku. Kedua tangan dan kakinya bergerak lebih banyak. Mungkin dia gembira. Aku tersenyum menyapanya langsung. 

Hallooo..kubuat wajah lucu tepat di mukanya. Aku harus berdiri membungkuk untuk dapat menciumnya. Cup. Nah kena kamu, kataku gemas. Tiba-tiba bayi itu menangis. Aku panik. Dia menatap mataku tajam. Dia bergerak dan bergerak semakin banyak. Selimutnya sudah tak lagi menutupi tubuh mungilnya itu. Bajunya juga amburadul. Popoknya turun sampai pangkal paha. Aku panik dan bingung, bagaimana bisa menghentikan tangisnya. Dengan ujung jari aku menarik selimutnya pelan-pelan. Ingin menutupi tubuh bayi itu kembali. Astaghfirullah, aku memekik heran. Bayi itu …si cantik itu ternyata tidak mulus total. Kulitnya tidak hanya putih mulus. Tapi banyak totol-total hitam di sekitarnya. Seperti totol anjing dalmatian, tapi lebih besar. Apa itu tanda lahir ? aku menatapnya heran. Rupanya tatapanku itu menambah marah si bayi. Bagaikan sudah mengerti apa yang berada di dalam benakku. Dia menangis keras-keras. Semakin lama semakin keras. Aku bingung. 

Kuputuskan untuk kembali duduk di sebelah istriku. Pura-pura tidak tahu. Biar saja mereka menganggap bayinya menangis karena ngompol. Aku lihat dia dari jauh. Tangisnya belum berhenti. Memekakkan telinga. Tapi tunggu…kenapa suaranya lain dengan bayiku. Dengan bayi pada umumnya. “ Mmmoooohhh….mmmmooohhhh…” bayi itu menangis dengan suara mmoh bukan ooeekkk. “Ya Alloh keanehan apa ini,” aku berdiri dari tempat dudukku. Tapi baru saja aku mau melangkah untuk menenangkannya, bayi itu tiba-tiba tengkurap. Aku heran bukan kepalang, belum saatnya bayi berumur dua hari bisa tengkurap sendiri. lalu dia berputar. Sekarang kepalany tepat mengarah kepadaku. Dan..oh…Masya Allah…dia…bayi itu…anak itu.. sekarang telah berdiri. Dia menatapku dan berdiri. Tapi bukan dengan dua kakinya, dia berdiri dengan kedua tangannya juga. Berdiri dengan empat kaki. Kulitnya bertotol hitam semakin jelas, dan rambutnya…oh di kepalanya sekarang tersembul dua benjolan besar. Seperti ..seperti tanduk. Aku mundur beberapa langkah. Merapat ke tempat tidur istriku. 

Aku menatapnya tanpa berkedip. Sssaa….sa..sapi. aku gemetar sekali. Sapi, anak itu seperti sapi. Astaghfirulloh…aku beristighfar berulang-ulang. Aku duduk. Kupegang tubuh bayiku erat-erat. Aku tak mau makhluk itu menyerang anakku. Keringat dingin mengucur. Bayi itu menatapku liar. Penuh amarah. Terdengar dengusan nafasnya. Dia menggerakkan kaki belakangnya. Apa yang mau dilakukan. Apa dia mau pipis ? tanyaku dalam hati. Dzikirku tak putus sedikitpun. Lho..lho..jangan..jangan ! Kulihat bayi itu menekuk kaki depannya atau tangannya. Dia siap melompat. Menerjang kami. Tolong..tolong….kurasakan dia mencengkeram mukaku dengan kuat. Nafasku sesak..tolong..tolong. Jangan sakiti anakku.

“Ada apa ini ?” teriak ibu bayi itu keras. “Lho mana bayiku?” dia menceracau. Dilihatnya seorang lelaki sedang diterjang makhluk kecil di lantai. Lelaki itu meronta-ronta. Makhluk atau hewan yang menyerang lelaki itu seperti anak sapi. Perempuan itu mencoba tak peduli, dia hanya ingin mencari anaknya. Tiba-tiba masuklah baby sitter yang mereka sewa. Sendirian. Tanpa si bayi. “Lho, anakku mana ?” teriak wanita itu. Baby sitter itu menggeleng. Dia hanya berdiri di depan pintu, karena melihatku bergumul dengan makhluk bermuka sapi ini. Tak lama kemudian dia menunjuk ke arah kami. 

“Bu…ii..tuu…bajunya ..dik..Janette,”katanya kemudian. Wanita itu melompat dari tempat tidur. Sekuat tenaga dia menarik makhluk kecil yang menyerangku itu. “Janeeette..apa yang terjadi. Tidak…”wanita itu menjerit. Berteriak sekeras-kerasnya. Mendekap sapi kecil itu. Eh mendekap anaknya. Yang hidung dan mulutnya masih sama. Tapi kulitnya, tanduknya dan kakinya tak lagi seperti anak manusia. Aku langsung bangkit, meloncat ke tampat tidur istri dan anakku. Aku harus menyelamatkan mereka.

“Mas…mas..bangun. ponselnya bunyi tuh. Dari Mr. Kondo.” Aku bangun dengan terkesiap. Setengah sadar kusambut ponsel yang disodorkan istriku. “Hai. Kondo-san, watashi moo owarimasuyo, soshite jimushoo e ikimasu.” Kutatap tempat tidur di seberangku. Kosong. 

Astaghfirullah. Jantungku belum berhenti berdebar. “Ada apa mas ?”selidik istriku yang heran dengan peluh dingin yang tidak biasanya ada di jidatku. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Kumatikan poselku. Kutubruk istriku. Terima kasih sayang.. terima kasih atas kesediaanmu menyusui anak kita. Seberapa lelahnya aku akan membantumu, meringankan payahmu dalam merawat buah hati kita. Terima kasih sayang, kau tidak mempercayakan anak kita minum susu formula sebelum enam bulan umurnya. Kau bilang, apa anak kucing disusui sama anjing, kan sama ibunya sendiri sesama kucing. Masa anakku disusui sama sapi.

Catatan :
Hai. Kondo-san, watashi moo owarimasuyo, soshite jimushoo e ikimasu.
(Ya. Tuan Kondo. Saya sudah selesai, setelah ini akan pergi ke kantor.)