Podcast Bu Heni

Tampilkan postingan dengan label portfolio. Tampilkan semua postingan

Kelasku Digital Menjadi Tenant Inkubator UNAIR 2022 Lalu Harus Ganti Nama

Tidak ada komentar

PECAH TELUR. Itu sebutan  yang pas saat saya memutuskan untuk batal mundur menjadi tenant Inkubator UNAIR 2022. 

Pecah telur, karena  itulah momen pertama kali saya keluar rumah sendiri, menginap 3 hari, mengikuti Airlangga Startup Camp 2022 di daerah Pandaan. Setelah sejak 2020 saat dimulainya pandemi saya hanya ada di  rumah saja.


selfie pertama ketika baru sampai lokasi dan masuk ruang workshop


sering bertanya karena kepo dan kasihan kalau peserta lain pada diem :)


foto bersama di akhir acara, saya di 2 sebelah kanan



pengumuman lolos jadi tenant




Baik, cerita kita lanjutkan di sini. Sebaiknya kawan membaca dulu link tulisan di atas, supaya tahu sejarah sampai saya lolos menjadi calon  tenant di Inkubator UNAIR 2022.

Pandemi membuat saya maju mundur melanjutkan proses menjadi tenant ini. Karena ketika lagi marak kasus masuknya varian Delta dan juga Omicron, diberikan jadwal untuk ikut pelatihan atau workshop Pre-Bootcamp. 

Waktu itu langsung saya menolak. Karena takut virusnya, juga lagi ribetnya anak bungsu sakit ketika baru masuk kelas tatap muka di sekolah dua hari. Dan dia sudah kelas 3 SMP, artinya lagi  spanneng-spannengnya persiapan ujian akhir sekolah dan ujian nasional. 

Saya pemegang kunci antar jemput anak sekolah, juga urusan dia di rumah - makan, dll, merasa berat untuk mengiyakan ikut pelatihan pre-bootcamp. 

Jadi saya bilang ke panitia, kalau munndur bagaimana?
Udah resiko nama jadi ga baik atau diblacklist, yaudah gimana lagi. Demi kesehatan keluarga.

Panitia meminta saya mengirimkan surat resmi mengundurkan diri. Namun saya bimbang jadi saya diamkan, tidak mengirim email. Ya sudah di DO saja otomatislah kalau ga ikut, begitu pikir saya. 

Eh ternyata, masih jadi rejeki. Jadwal pelatihan pre bootcamp ini diundur sampai hampir 2-3 bulan kemudian. Pas ketika kasus COVID-19 sudah menurun dan kami sekeluarga sudah vaksin. Anak-anak, saya dan suami juga sehat. 

Ketika suami mengiyakan, ikut saja lanjutkan, langsung saya mengisi formulir dan segala dokumen yang harus diisi malam itu juga. Esoknya bersiap untuk packing baju dan keperluan traveling.

Wih, sudah 3 tahun lebih saya tidak keluar rumah apalagi keluar kota. Sedangkan di akhir tahun 2019 saya sampai terbang ke Balikpapan loh. Kebayang betapa bersemedinya saya karena virus ya :)

Alhamdulillah, Kersaning Gusti Allah SWT, saya pun berangkat diantar suami dengan hati gembira. Simak foto dan video saya di instagram ini, hihihih....


Pecah telur


 
saat sambutan pertama


Perjalanan  sangat lancar. Kami naik bis khusus dari Airlangga Travel. Bis bersih, tidak bau mesin atau khas bis kota yang bikin saya mual. Padahal dah ngeri aja bakal muntah-muntah di perjalanan. Karena saya udah lama banget ga naik bis dan kendaraan umum sejak lulus kuliah.

Tapi pas kemarin di perjalanan naik bis, smooth aja, mulus tanpa hambatan. Santai dan ga macet langsung sampai tujuan. 

Ketika sudah masuk ruangan seminar di K Hotel Pandaan, dan mengikuti prosesi menyanyikan Mars UNAIR. Hati saya kembang kempis. Antara haru dan gimana gitu. Sempat bicara sendiri di dalam hati, "Heni Heni, kenapa dulu nggak kuliah di Surabaya aja sih, di UNAIR aja gitu. Kan bisa hafal lagu MARS tadi :). Ngapain sih Hen,  dulu susah jauh-jauh ke ITB."

Tapi yaudinlah, ga ada gunanya, ga ada  jawabannya. Kalau saya nggak kuliah di ITB, ya gak ketemu suami kali ya. Kan ketemunya di Bandung. 

Oke lanjut ke cerita Airlangga  StartUp Camp.


biar ga asik posenya, tapi ini foto berharga

Jujur saja saya kikuk dan salah tingkah sendiri ketika masuk ke gedung inkubator UNAIR dan  ruang seminar pertama kali. Harus bersikap gimana ke anak-anak muda ini ya. Kan pada masih mahasiswa yang usianya setengah dari umur saya.

Kalau bersikap santai dengan dosen yang seusia saya, nanti kayak sok akrab. 

Jadi, saya hati-hati banget bersikap. Garing deh lah. Ini rejeki banget bisa foto bareng pas hari pertama makan siang. Selebihnya saya lebih sering makan sendiri di ruangan dalam yang  ber-kipas angin. Karena di teras outdoor itu hawanya panas banget. Sumuk pol. Dan kalau  sumuk, saya kehabisan energi atau bisa jadi migren,

hanya sekali kumpul makan dan foto bareng, selanjutnya saya makan di ruangann dalam karena di luar panas banget

Selama 3 hari itu penuh dengan workshop berbagai materi. Dan materinya dalem banget. Lebih detil dan mendalam daripada materi startUp yang selama  ini pernah saya ikuti atau pelajari sendiri. Mayan bikin puyeng kepala.

Terutama tentang LEGALITAS MERK dan PENGURUSAN PT ATAU PERUSAHAAN. 

Nah ini, saya kan buta hukum banget ya, termasuk buta ekonomi juga. Pokoknya saya  nih anak  sainstek kolot dan kuper. Yang terbuka wawasan segala hal di INKUBATOR UNAIR ini. 

Satu  keputusan cepat yang harus saya ambil adalah mengganti nama KELASKU DIGITAL. Karena merk Kelasku sudah resmi terdaftar di HAKI oleh orang lain. 

Jika saya terus memakai Kelasku Digital, bisa-bisa menyalahi aturan. 

resmi tanda tangan kontrak menjadi tenant selama 1 tahun

Keputusan penggantian nama, saya konsultasikan ulang ke LegalHub. Dan kembali disarankan untuk mengganti nama. 

Maka, bismillah, walau berat hati ya, karena Kelasku Digital sudah dikenal di hati dan juga masuk beberapa liputan media, tapi ya diganti saja dengan nama yang semoga bisa lebih luas dan memberi berkah, yaitu HEZTEK INDONESIA. 

Di usia saya yang sudah 43 tahun ini, saya dapat rejeki lagi. Dapat kesempatan ngangsu ilmu lagi di Inkubator UNAIR. Semoga kelak menjadi jalan kebaikan yang lebih seru dan mbois lagi. Bermanfaat  untuk lebih banyak orang. Terutama diri saya pribadi dan keluarga. 

Oke cerita detil disambung lagi nanti ya. Termasuk tembak-tembak'an dan makan duren. 


Diterima di FFBS Cohort 2 2021: Future Females Business School Programme

Tidak ada komentar




Belajar lagi di usia 42.

Kali ini, saya jadi murid lagi. 

Udah...Bukan untuk belajar coding lagi 🙂.

Tetapi sekarang belajar bisnis. 

Alhamdulillah. Sungguh. Merasa beruntung sekali bisa ikut (lagi) ke program yang tak membatasi usia pendaftaran.

Ketika persiapan wawancara tempo hari, masih deg-deg’an juga. Yakin ga yakin diterima. 

Namun, Allah SWT Maha Baik,  yang mengatur semua ini. 

Tepat ketika saya yakin sudah saatnya menjadi hustler, dan sepakat dengan suami dan anak-anak yang udah bujang semua untuk lebih serius berbisnis, program ini dibuka.

Saya mengalami sendiri kalau berbisnis itu sulit. Tidak mungkin saya bisa. 

Kalaupun ngotot, bakal biasa saja. Karena  saya bukan orang yang lincah bisa pergi ke sana ke mari. Mustahil berhasil. 

Saya adalah ibu rumah tangga yang hampir 100% ada di dalam rumah.

Apalagi di masa pandemi. Keluar hanya untuk belanja sembako atau ke tukang sayur pun tidak setiap hari. Bahkan ke luar pagar rumah saja jarang. 

Tak ada kata kopdar, hangout, piknik, cangkrukan atau apalah-apalah. Sejak kecil pun saya adalah kutu buku yang lebih suka diam di rumah untuk membaca, menulis dan belajar. Tidak suka main. Tidak punya banyak teman. Begitulah sampai dewasa juga tak banyak berubah. 

Mustahil tipe ibu-ibu dengan gaya hidup rumahan seperti saya ini bisa berhasil berbisnis. 

Tapi,  rupanya Gusti Allah SWT belum mengijinkan saya berhenti walau sulit. 

Ada saja kejadian tak terduga,  yang membuat saya harus punya tanggung jawab yang lebih besar atas keputusan yang kami buat untuk keluarga. Serius berbisnis. 

Mungkin anda mengalami hal yang sama.

Dan, percayalah, program seperti FFBS inilah yang bisa menyelamatkan kita dari rasa putus asa atau menyerah.

Entah itu bisnis atau berkarya apa saja, pasti ada aja kendalanya.

Kesulitan tidak hanya bisa melemahkan tapi kadang benar-benar membuat orang merasa gagal dan layak untuk berhenti. 

“Terus belajar dan kemudian mengajar”

Itulah kunci hidup yang semakin kuat saya pegang.

Semoga lancar menjalani program Future Females Business School ini bersama teman seangkatan. Sampai tuntas & langsung praktek ilmunya.

Info lengkap bisa baca di sini https://futurefemales.co/ff-business-school/

Thank You @ukindonesiatechhub @futurefemales  #ffbsukindonesiatechhub

Hasil Tes Karakter di viacharacter.org

Tidak ada komentar

Dalam rangka ikut program Future Females, acara awalnya adalah mengenali diri sendiri. Termasuk ikut tes karakter ini. Dan inilah hasilnya

 











Untuk hasil di https://www.16personalities.com/




Hasilnya untuk Archetypes,
 di https://www.archetypes.com/quiz/






Dapat Puluhan Juta di Masa Pandemi Corona

Tidak ada komentar

Loh kok bisa?

Saya aja juga gak menyangka, tak mengira. 

Kemarin merekap dan menghitung ulang penghasilan saya selama bekerja dari rumah, full kerja online sejak pandemi, Maret 2020. Total semuanya lebih dari 20 juta. 

Hitungan kasarnya seperti ini,

Sejak April 2020, saya membuka kelas online belajar coding untuk anak. Sampai Desember 2020 kemarin. Total semua murid saya adalah sekitar 100 anak. Ambil biaya kelas rata-rata 200ribu/anak. Maka penghasilan saya dari kelas online adalah 20 juta. 

Selain itu, saya juga dapat pekerjaan part time remote work, sebagai Blog editor dan manajer konten writer, dengan gaji 1 juta per bulan. Dihitung sama saja dari bulan April - Desember 2020, yaitu 9 bulan. Maka total gaji part timer adalah 9 juta. 

Penghasilan saya di masa pandemi adalah 29 juta rupiah. Saya peroleh selama 9 bulan. Ini hitungan kasar atau kisaran. Hitungan sebenarnya bisa lebih dari itu karena sesekali saya juga "dibayar" karena membuat konten video edukasi dan mengisi seminar online. 

Sebagai gambaran hitungan pendapatan saya untuk kelas online, adalah:

  1. saya mengajar mulai 1 kelas per hari, menjadi 2 kelas perhari, meningkat menjadi sampai 4 kelas per hari. Terhitung kelas kelompok dan kelas privat. 
  2. Untuk kerja jadi blog editor, total saya hanya bekerja sekitar 20 -25 jam sebulan. Jadi sekitar cuma 1-2 jam sehari. Dan mengerjakan ini tidak saya lakukan setiap hari. Melainkan sekitar seminggu 2-3 kali. Karena lebih enak jika mengedit tulisan para content writer itu sekalian. Jadi sekali ngedit bisa 10-20 artikel @1000 kata. 

Saya membuka kelas online coding untuk anak itu, sebenarnya rada ragu di awal. 

Karena cemas anak-anak belum bisa ngeh cara belajar secara online.

Eh ndilalah, ada pandemi. Dan sekolah mulai mewajibkan kelas online atau kelas daring. Jadi baik anak-anak maupun orang tuanya, semakin biasa-biasa saja dengan belajar online tersebut. 

Rejekinya lagi. Tema CODING UNTUK ANAK tiba-tiba melejit dan trendi karena mas Menteri Nadiem Makarim mulai menggaungkan Pentingnya Anak Belajar Coding sejak usia dini atau usia sekolah. 

Saya mengenal konsep Coding untuk Anak sejak 2018, sebagai koordinator kelas coding anak secara offline. Ini beberapa foto-fotonya:

satu-satunya peserta perempuan dari 40 anak lainnya

pojok kanan belakang itu anak kedua saya, depannya keponakan saya
anak saya bete banget diajak belajar coding, selain ga tertarik, juga malu dengan laptop warna pink emaknya hahahaha

waktu itu belajar KODU GAME LAB, tapi ini kurang fleksibel untuk berkreasi dan harus donlot. Jadi tidak saya pilih untuk kelas-kelas sekarang

anak dan keponakan saya yang sama-sama nggak tertarik coding, jadinya mondar-mandir melulu cari makanan lah, ke toilet lah. Ohya ini ada di Rumah Kreatif BUMN Mandiri Surabaya

foto bareng anak-anak, ini angkatan 1 kelas coding kids Surabaya yang offline. Setelah angkatan 2, kelasnya berhenti karena berbagai sebab. Baik itu dari sewa ruangan yang ganti aturan menolak kelas ini. Sibuknya para pengajar. Susahnya cari ruangan untuk disewa yang ramah anak, dll.

Dan mulai riset tentang hal itu. Baru tahun 2020 berani membuka kelas online sendiri. Sebagai pengajar. Tidak hanya sebagai koordinator kegiatan. 

Saya mengenal coding sejak 2016, sampai sekarang. Mulai dari materi membuat website dengan HTML dan CSS. Lanjut diterima di Apple Developer Academy| UC Surabaya 2019 dan kenal dengan Swift Programming dan Ios Apps Development. Lalu otodidak mempelajari tentang Coding Kids and how to teach it sejak 2018. Kemudian memilih menekuni ini sampai sekarang. 

Saya bukan Sarjana Informatika atau programmer. Mengenal coding dari beberapa kegiatan saja dan selebihnya otodidak. Merasakan betul kalau belajar coding itu tampak mengerikan dan sulit banget, karena baru kenal di usia udah menjelang 40-an. Udah tua. 

Kebayang  bagaimana jika sejak anak-anak sudah pada kenal coding dan kosa kata tentang hal ini?

Pasti mereka akan jauh lebih santai untuk mempelajari coding lebih lanjut.

Itulah alasannya akhirnya saya pilih tetap di jalur coding, edukasi dan memilih kelas coding untuk anak. Saya juga suka sih, karena lucu bikin coding kids class itu. Materinya lucu dan warna-warni. Anak-anak juga lucu. Memberikan semangat baru. 


Kembali ke Penghasilan Terbesar di masa pandemi. 

Saya percaya ini semua hasil "tabungan keringat" saya bertahun-tahun sebelumnya. Dan bisa "boom" muncul momentumnya di masa pandemi. 

Ketika orang lain kelabakan gabut dan cuma rebahan di rumah saja. Saya malah gas pol tanpa pikir panjang langsung menyiapkan kelas belajar baru. Sebenarnya tidak hanya untuk anak-anak. Saya juga buka kelas blogging, cara membuat kelas online, cara mengajar programming dll untuk orang dewasa. Namun yang ikut sedikit. Kelas gratisan aja sedikit dan ga terlalu direspon. Apalagi kelas berbayar.

Jodoh rejeki saya ternyata di kelas anak-anak. Dan rencana saya juga nggak cuma di kelas coding. Tetapi ada juga kelas blogging, di mana saya udah ngeblog sejak 2009. Udah sekitar 12 tahun. Dan mendapatkan banyak manfaat dengan kemampuan nulis dan ngeblog. Pasti bagus jika anak-anak juga bisa dari kecil. 

Ah banyak sekali rencana yang saya buat, setelah menyadari bahwa saya bisa BEKERJA SECARA ONLINE DARI RUMAH SAJA dan menghasilkan pendapatan yang lumayan. 

Tulisan ini saya bagikan untuk memberikan gambaran bahwa ILMU DAN PENGALAMAN yang kita asah bertahun-tahun itu, pasti suatu saat akan menemukan JODOH WAKTU TERBAIKNYA. 

Saya lulus S2 Teknologi Pendidikan tahun 2015. Dan baru 5-6 tahun kemudian inilah menuai hasilnya berusaha bekerja di jalur edukasi non formal ini. Akhirnya ketemu juga jalur yang cocok dan saya sukai. Dan itu malah terbantu karena terbatas ini itu di masa pandemi. 

Beberapa bulan sebelum pandemi, padahal saya udah nego ke sana ke mari. Untuk mencari kelas belajar yang cocok bagi anak-anak. Ga jauh dari rumah saya. Juga ga jauh banget dari pesertanya. Serba salah juga milihnya. Tapi berusaha, berbagi jadwal di Coworking Space ini itu dan Sekolahan ini itu. 

Sudah melakukan pendekatan. Sudah ngobrol. Sudah bikin rencana. Eh ndilalah datang virus Corona. 


Untungnya saya tidak patah arang. 

Dan bondo nekad aja, bonek. Dan juga bobis, Bondo Bismillah membuat kelas online di mana akses wifi rumah saya masih murah meriah. Pakai speedy. Kadang mati. Kadang nyala. Sering lemot. 

Begitu kelas saya ramai dan laris. Bonek jilid 2, yaitu upgrade Speedy 10 mbps yang bayarnya ga sampai 200ribuan/bulan. Upgrade ke Indihome Paket Gamer, yang bayarnya 700ribuan/bulan dengan kecepatan 50mbps.

Tarik ulur rencana upgrade wifi, karena takut kemahalan. Tapi saya nekad aja. Kalau makin joss sinyal, makin banyak kelas yang bisa saya buat. Ga cuma sehari sekali. Bisa sehari 4 kali dan itu terbukti. 

Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Dan sampai sekarang saya semakin percaya diri untuk bisa menghasilkan rupiah dari rumah saja. Dan mungkin kelak bisa dapat dollar juga. Dari kemampuan akademik saya. Dari kesukaan saya pada pendidikan. 


Semoga menginspirasi.

Heni Prasetyorini

Catatan Singkat di Apple Developer Academy | UC

Tidak ada komentar
Tepat tanggal 11 Desember 2019, program Apple Developer Academy di Universitas Ciputra (UC) Surabaya angkatan pertama atau disebut juga Cohort 1, telah selesai dan dirayakan dalam Graduation Ceremony. Beberapa hari kemudian baru dilakukan penyerahan Sertifikat - Certification of Completion - resmi di Flexible Space gedung Apple Academy di kawasan kampus UC, seperti yang tampak di foto saya tersebut.
photo credit: Thenar Visual

Sudah kurang lebih 10 bulan sejak hari pertama mengikuti program ini. Dan sampai kemarin, masih ada anak-anak muda, terutama mahasiswa yang mengirimkan pesan pribadi ke media sosial saya. Tentu saja ingin bertanya tentang pengalaman dan cara biar lolos diterima di Apple Developer Academy|UC.Untuk singkatnya, sekaligus akan saya jawab di sini:

Sebelum mendaftar, saya mencari dulu informasi sebanyak-banyaknya tentang Apple Developer Academy, baik yang di Indonesia maupun di beberapa negara lainnya. Untuk mengetahui konsepnya apa sih, tujuannya apa, dan apakah saya bakal diterima jika mendaftar, juga apakah sanggup menjalani proses di akademi selama berbulan-bulan?

Setelah hasil pencarian menunjukkan bahwa ada peluang untuk masuk, maka saya persiapkan dokumen CV untuk mendaftar sebaik mungkin. Jejak rekam, prestasi, hasil karya dan sebagainya diperbarui di semua lini pribadi yang saya punya: blog, instagram, facebook, twitter, linkedin. Supaya apapun tautan yang saya tulis di CV, ketika dicek ulang memang benar isinya dan sudah ter-update.Setelah tahap dokumen lolos dan masuk ke pembuatan video profil, saya lakukan lagi riset kedua. Yaitu riset video profil teman yang memang juga baru mendaftar, dengan cara mengikuti tanda pagar (#) yang sudah diatur tersebut di You Tube, yaitu #uc.apple.academy.2019.

Nah, dari situ ditarik benang merah, kira-kira Pesan apa yang mau disampaikan di video profil, supaya bisa sesuai dengan isi CV dan personal branding yang sudah dibangun sebelumnya. Karena aktivitas saya beberapa tahun ini seputar pemberdayaan perempuan di ranah teknologi juga teknologi pendidikan untuk kelas belajar anak, maka itulah yang saya tampilkan.

Video saya berjudul "Impactfull: Dari Apple Academy Untuk Coding Mum & Coding Kids Indonesia" bisa disimak di sini:


video


Ketika membuat video, usahakan dengan intonasi suara yang keras, jelas dan bersemangat. Ini pasti terpancar otomatis jika kalian punya karakter motivasi diri yang kuat. Kalau sedang baper dan bad mood, lebih baik jangan bikin video dulu ya. Makan bakso pedes dulu biar muncul lagi semangat membaranya :)

Seharusnya video profil ini hanya dibatasi 1 menit. Tapi saya keblabasan lebih dari 3 menit. Dan ketika masa rekam video itu ada drama listrik di rumah mati berjam-jam, maka ketika listrik nyala wifi nyala, tanpa babibu lagi, langsung saya posting videonya ke You Tube, karena memang deadline sampai jam 12 malam itu. Pokoke budal, kalau kata orang Surabaya.

Dokumen dan video lolos, selanjutnya adalah tahapan Tes Tulis yang langsung dikerjakan di Universitas Ciputra. Apa saja bahan materi tes tulis? Nah ini semua juga saya riset dan pelajari sendiri, sebisa mungkin, semaksimal mungkin. Mulai dari konsep Coding : OOP, Swift Programming, lalu tentang design dan juga bisnis. Ditambah lagi karena tes tulis ini waktu saya daftar disebut Tes Potensial Akademik, maka saya pun mengulang lagi materi TPA yang sekarang banyak bertebaran model soal online yang bisa dikerjakan sambil nungguin dadar jagung yang sedang digoreng matang sempurna di dapur :). Kalau ingat TPA harus ingat lagi model tes kalau mau masuk sekolah negeri reguler atau mendaftar jadi dosen. Yaitu ada Deret Hitung, Deret Ukur, Sinonim, Pola dan sebagainya.

Waktu tes tulis ini, dilakukan di Lab. Komputer UC. Soal berjumlah 100 butir dan nilai saya 65. Lumayan dan ternyata memenuhi kredit minimum untuk bisa lolos tahap selanjutnya yaitu interview.
Nah, terakhir persiapan interview, maka persiapannya tidak lain dan tidak bukan adalah menampilkan diri sendiri sekeren mungkin. Jangan sampai kelihatan gembos, ngglembosi atau males-malesan aja gitu ya.

Oke, semua tahap terlampaui dan saya lolos diterima. Cerita lengkapnya bisa dibaca di blog pribadi saya berikut ini: 




Berlanjut menjawab model pertanyaan anak muda tentang pengalaman saya di program ini, berikut jawabannya.

Sebagai informasi awal, profil saya adalah ibu rumah tangga yang punya beberapa aktifitas dan jenis pekerjaan remote work atau sebagai freelancer. Sebagai IBU RUMAH TANGGA perlu digarisbawahi, karena itu mempengaruhi rekam jejak saya sebagai satu-satunya ibu-ibu dan satu-satunya peserta perempuan dari Public Participant.

Menjadi ibu rumah tangga (model saya), artinya mengantar jemput anak, mengurus rumah dan lain sebagainya adalah tugas saya. Ketika ikutan program ini, dan kebetulan masuk ke shift sore dimana harus datang pukul 13.30 WIB siang, dan pulang saat maghib pukul 17.30 WIB petang, itu bukan hal yang biasa-biasa saja. Melainkan suatu keadaan antimainstream yang luar biasa di mana harus ada banyak sekali perubahan dalam struktur yang sudah aman dan nyaman di dalam rumah tangga saya.
Menjemput anak pulang, misalnya, tidak bisa saya lakukan sendiri karena bentrok jam. Maka harus dialihkan ke pihak lain.

Di awal akademi, anak saya titipkan ke tetangga perumahan sebelah yang juga mempunyai usaha laundry kecil-kecilan. Ternyata berjalan 3 bulan, beliau mundur karena kecapekan dengan jalur dari rumahnya ke sekolahan anak saya yang cukup jauh menurutnya (Sambikerep - Lidah Kulon). Apalagi waktu jemput sekitar jam 3 sore, di masa kemarau di mana matahari lagi panas-panasnya juga. Wajar kalau mbak penjemput jadi jatuh sakit. Dengan kondisi ini, saya coba menjadi pengganti, tapi sama juga, nggak sanggup. Jadi migren kepala karena harus riwa-riwi dari UC - Lidah Kulon - Sambikerep - UC untuk sekali jalan.

Maka opsi kedua diambil yaitu menggunakan jasa ojek online. Walau di awal cukup bikin deg-degan karena anak saya masih SMP kelas 7, alhamdulillah berjalan waktu, cukup aman dan lancar.

Ini bentuk struggle saya yang pertama.

Di Apple Developer Academy|UC, kita tidak diberikan jadwal belajar yang ketat, saklek dan padat berjam-jam duduk di meja menghadap komputer saja. Melainkan bentuk belajar yang dinamis dan mandiri (self directed learning). Konsep ini sangat bagus terutama untuk generasi muda, gen Z yang punya karakter jauh berbeda dengan saya si Gen X. Dan ini lagi yang menjadi bentuk struggle saya yang kedua.

Saya mengalami proses adaptasi yang cukup sulit dalam beberapa hal. Ada momentum di mana fokus saya benar-benar terbelah karena hal keluarga. Dan jadwal saya untuk fokus dan mengerjakan sesuatu, belum tentu sinkron dengan jadwal dari teman-teman satu tim, yang usianya jauh lebih muda, yaitu setengah dari usia saya. Ya, di hari penerimaan program ini, usia saya tepat 40 tahun, sedangkan mayoritas peserta di akademi berusia 18-22 tahun. Walau ada beberapa yang juga seumuran dengan saya, namun belum pernah satu tim :)

Keterbatasan ini, cukup berdampak juga dalam kinerja saya di akademi. Bahkan hasil kontemplasi atas kondisi itu, menjadi bentuk satu podcast ini:



Dengan pengalaman saya tadi, pelajaran yang bisa diambil untuk teman-teman yang ingin masuk ke Apple Developer Academy adalah sebagai berikut:
  1. Jika mengalami kesulitan, sampaikan kepada mentor pribadi, mentor akademi, teman atau siapapun yang bisa menjembatani. Karena sebenarnya di apple developer academy, diterapkan model interaksi yang bebas, cair dan dinamis. Tell somebody that you have a problem and you need help. Saya ditempa bertahun-tahun untuk tidak mudah minta tolong, jadi lumayan keteteran di akademi. Just don't act like me there.
  2. Dokumentasikan dengan baik perjalanan belajar (learning Journey) dan refleksi. Setelah di akhir akademi, saya menggunakan tools bernama Airtable (bisa dicari dan diunduh sendiri ya). Dengan fitur Calendar di Airtable, lebih mudah bagi saya mencatat kegiatan sehari-hari, sekaligus memasukkan Learning Evidence atau bukti belajar, baik dalam bentuk gambar screenshot, dokumen ataupun video. Coba deh di www.airtable.com

Baiklah itulah catatan singkat saya. Semoga bisa menginspirasi.

Tak lupa saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk keluarga baru saya di Apple Developer Academy | Universitas Ciputra Surabaya. Juga pihak Apple yang bertukar username, saling follow dan sesekali ngobrol di inbox media sosial. Serta beberapa narasumber yang hadir di Sharing session atau Training session, dan masih terus berkomunikasi dengan saya. Terima kasih banyak. Semoga ke depan bisa saling memberikan manfaat dan kebaikan.

Jika ingin melihat informasi lengkap tentang Apple Developer Academy | Universitas Ciputra Surabaya, silahkan di baca di website officialnya berikut ini:
https://developeracademy.uc.ac.id/id/landing/

Sharing Tentang Digital Learning di Radio

Tidak ada komentar

Kamis, 20 April 2017 kemarin saya diundang di radio Suara Muslim Surabaya untuk sharing Mengenal Digital Learning Sebagai Cara Pembelajaran Sesuai Perkembangan Jaman.

Seneng banget kali ini bisa ngobrol tentang hal-hal yang sudah saya "kepo-in" sejak dulu kala. Apalagi sejak mengambil kuliah Teknologi Pendidikan di Pasca Sarjana Unesa dengan topik e-learning untuk tesis.

Sebelumnya saya ajukan judul tema tentang mudahnya memulai bisnis online. Kok bisnis? ya maksud saya masuk ke ranah muslimahpreneur gitu, dan yang masih nyambung dengan segala hal per-digital-an.

Akan tetapi setelah saya telaah lagi, kayaknya kok belum kompeten banget ngobrolin bisnis. Takutnya nanti nggak bisa jawab pertanyaan. Saya memang pernah mulai buka online shop dan di tahun ketiga sampai ada media televisi yang meliput. Tetapi selanjutnya bisnis saya nggak jalan. Brenti karena kuliah lagi. Nggak pede lah bicara bisnis, hihihi.

Akhirnya saya ajukan tema tentang Digital Learning, yang lumayan sudah saya kuasai. Hal ini juga diperkuat, setelah saya chit-chat dengan teman yang menjadi dosen dan mengeluh susahnya menerapkan digital learning untuk mahasiswanya. Sementara saya diajak seorang Kepala Sekolah Dasar untuk membantu keinginan beliau menerapkan digital learning untuk kelas 1-2 SD.

Klop deh, pembahasan Digital Learning adalah pilihan topik yang tepat.
Sebelum ke radio, saya sudah menyiapkan materi. Namun karena keterbatasan ada beberapa materi yang belum tersampaikan. Jadi, saya share saja disini.

Mengenal Digital Learning Sebagai Cara Belajar Sesuai Jaman

Ketika era digital sudah tiba, siapa yang tidak mau menyesuaikan diri bisa ketinggalan.
Adalah salah satu karakter makhluk hidup untuk bisa beradaptasi.
Begitu juga manusia. Mau tidak mau, harus bisa beradaptasi dengan perubahan yang terjadi
apalagi perubahan di bidang teknologi.

Perlu juga digarisbawahi bahwa karakter tiap generasi itu berbeda-beda.
Ada istilah generasi X, Y dan Z.
Generasi X bisa dibilang generasi jadul dan gaptek.
Generasi Y dan Z adalah generasi yang sejak jadi embrio sudah mengenal gadget dan internet.
Generasi ini sudah lazim disebut generasi Millenials atau generasi Langgas.

Millenials punya sifat yang harus selalu connected, atau berhubungan dengan dunia luar.
Media sosial bisa menyediakannya.Itulah kenapa mereka harus selalu update dan kemana-mana megang gadget.

Bagaimana jika, fenomena ini ditangkap dengan positif di ranah pendidikan.
Bagaimana caranya agar belajar baik di sekolah formal atau non formal bisa sesuai dengan karakter generasi millenials.

Caranya adalah menerapkan teknologi digital dalam pembelajaran yang biasa di sebut e-learning atau digital learning.

Segmen 1: Mengenal Digital Learning

1.       Apa itu digital learning?

eLearning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun komputer standalone. (LearnFrame.com).

Digital Learning System (DLS) merupakan suatu terobosan baru dalam teknologi pembelajaran yang diterapkan bagi para pelajar untuk belajar secara digital melalui pemanfaatan teknologi baik software (perangkat lunak) maupun hardware (perangkat keras), online maupun offline yang dikemas secara menarik dan interaktif (Sugema)

2.       Apa manfaat digital learning?
Penerapan digital learning ini menjadikan pelajar lebih mandiri belajar dan mendalami materi bahan ajar, karena pelajar dapat belajar kapan saja dan di mana saja, baik secara online maupun offline. Dan evaluasi pembelajaran dilakukan oleh guru secara otomatis melalui proses digital, sehingga tidak perlu pengoreksian secara manual melalui kertas. Hasil evaluasi yang diperoleh pun akan lebih cepat, akurat dan objektif. Digital learning juga dapat menyatukan semua kegiatan belajar mengajar yang biasa dilakukan secara konvensional ke dalam bentuk digital. Di dalam DLS ini, dapat mencantumkan beberapa bahan ajar sebagai referensi yang dapat mempermudah pelajar dalam memahami pelajaran seperti: e-book teori, video tutorial, soal latihan, simulasi percobaan, konsultasi, bahkan fitur pencerahan atau motivasi pagi pelajar.

3.       Siapa yang membutuhkan digital learning?
Siapa saja. ABK. Homeschool karena sakit/hal tertentu. Karyawan atau Anak usia sekolah yang harus bekerja. Bisa jadi pengajar yang dengan keadaan tertentu, misal sakit atau bertugas, tetap bisa mengajar.

Ada kisah sukses anak homeschooling yang masih berusia belasan tahun, sekitar SMP, sudah bisa menyelesaikan kursus online di Coursera dan mendapatkan sertifikat, itu sampai 20 mata kuliah. Dan itu anak Indonesia.
Kursus online ini menerapkan digital learning dimana semuanya dilakukan secara digital tanpa kertas sama sekali (paperless). Buku handout berupa ebook digital, soal ujian juga digital, interaksi dengan dosen dari luar negeri pun digital.
Anak ini selain bisa menguasai materi, juga punya skill kemandirian belajar yang begitu tinggi. Dan itu sangat bagus untuk bekal masa depannya.
Belajar mandiri bukan berarti belajar sendirian. Akan tetapi dengan motivasi diri bisa belajar sesuai kebutuhan, juga tau caranya bertanya kepada para ahli atau mencari jawaban ketika tidak bisa menguasai materi.

Siapa mau punya anak atau murid dengan karakter seperti itu?



Segmen 2: Mengapa kita butuh menerapkan digital learning?

1.       Mengapa kita butuh?
Karena sudah menjadi tuntutan jaman. Digital learning memberikan pengalaman belajar baru yang sesuai dengan karakter generasi millenials. Dengan cara ini, kita bisa menarik perhatian mereka. Selain itu digital learning memberikan kesempatan mereka untuk menumbuhkan soft skill yang dibutuhkan di era digital:
a.       Kolaborasi -à fleksibel virtual team
b.      belajar mandiri à belajar karena butuh
c.       luwes berinteraksi secara global dan internasional
d.      menerima perbedaan dengan terbuka
e.      mengendalikan diri à dengan adanya UU ITE dan etika Digital Netizen

2.       Apa yang terjadi jika tidak menerapkan?
Tentu saja tidak akan kiamat. Karena di detik ini, mereka yang hidup dengan cara sangat sederhana juga bisa.

Kalau menurut pengalaman saya berinteraksi dengan mereka yang bertahan untuk gaptek atau menolak teknologi adalah mudah sekali menjadi pengguna saja. Sekaligus mudah keliru karena tidak tahu dan tidak mau tahu.
Kalau kita dan anak-anak terus bertahan hanya menjadi pengguna, maka kita adalah korban bagi mereka yang pinter teknologi. Mereka yang bikin, kita yang beli. Begitu seterusnya.

Jadi, jika kita punya ilmu dan kemampuan sesuai perubahan jaman yang begitu cepat, maka kita bisa punya senjata lebih banyak untuk mengendalikan diri sekaligus mengembangkan diri.



Segmen 3: Kendala selama ini
1. Apa saja kendalanya?
   a. Mindset keluarga (orang tua) bahwa teknologi itu lebih banyak mudharatnya jadi di stop semuanya
   b. Mindset guru bahwa kerja dengan teknologi itu lebih sulit
   c. Siswa belum terbiasa berkomunikasi dengan platform edukatif
   d. belum meratanya akses listrik dan internet di Indonesia

2. Bagaimana cara mengatasi kendala?
   a. edukasi ke orang tua oleh pihak lembaga pendidikan
   b. pembiasaan penggunaan kinerja berbasis teknologi di sekolah dan di kelas
   c. aktif dalam komunitas teknologi pendidikan


Segmen 4: Langkah Menerapkan Digital Learning

1.       Bagaimana tahapan menerapkan digital learning di sekolah?
a.       Punya mindset yang sama dan sepakat akan pentingnya digital learning.
b.      Menganalisa kesiapan sumber daya manusia dan sumber daya internet. Karena akses internet adalah wajib.
c.       Mencari sumber belajar, bisa belajar mandiri, memanggil Trainer / Guest Teacher, ikut Komunitas terkait seperti Google Educator Group, Bincang Edukasi, dll.


2.       Platform atau tools apa yang bisa digunakan?
a.       Ada gratisan dan berbayar
b.      Alhamdulillah nya yang gratisan itu buanyak sekali. Beberapa negara sudah membuat platform digital learning, termasuk Indonesia.
Terutama yang ada unsur LMS (Learning Management System), seperti Edmodo, Course Networking, Schoology,dll. Kalau di Indonesia: ada  Kelase, Kelas Kita, Ge School.

Bahkan Google sendiri juga mengembangkan banyak tools untuk pendidikan. Terangkum di GAFE (Google App For Education). Saya sendiri sudah menggunakan beberapa tools Google untuk pembelajaran ketika masih bersama teman di pasca Unesa, untuk beberapa guru di MTs Wonosalam Jombang. Dan nanti ada satu sekolah lagi di Sidoarjo yang ingin menerapkan hal yang serupa.

Platform yang sering digunakan, terutama di Indonesia adalah Edmodo. Karena relatif mudah dan menarik, bisa dilihat di www.edmodo.com. Di Indonesia sendiri sudah ada Kelase. Bisa dicoba di www.kelase.net.
Khusus Kelase, saya belum berhasil utak-atik karena register masih belum berhasil. Tetapi jika sudah semakin diperbaiki, dan sesuai kebutuhan, saya akan senang sekali menggunakan produk lokal dari bangsa Indonesia sendiri seperti Kelase.

Untuk rekaman suara saya di radio, bisa disimak disini:


Semoga bermanfaat, jika ada yang ingin ditanyakan atau sharing bisa hubungi saya di email:
heni.prasetyorini@gmail.com

Seru, Jadi Trainer Gapura Digital Surabaya

Tidak ada komentar
Sudah tahu kan tentang Gapura Digital? Sudah menggema ya nama ini di berbagai kota. 
Ya, kebetulan saya tergabung sebagai salah satu TRAINER di Gapura Digital kota Surabaya. 

Seru banget jadi trainer disini. Bertemu dengan berbagai pengusaha UMKM skala kecil sampai yang sudah besar sekali omsetnya. Mereka semua ingin mengembangkan bisnisnya menjadi online. Jika anda salah satu dari mereka, bisa segera gabung disini. It's 100% FREE.

Apa itu Gapura Digital?

Program yang mendukung Usaha Kecil Menengah Indonesia untuk memajukan bisnis melalui digital. Terdapat serangkaian topik yang lengkap mulai dari tren digital, membangun portal usaha hingga SEO/SEM. Anda dapat memilih topik yang diinginkan atau ikuti semua kelasnya untuk mendapatkan sertifikat dari Google.


Salah satu peserta Gapura Digital, Keren ya :)


Pelatihan Gapura Digital

Di Gapura Digital terdapat kelas-kelas gratis yang bisa anda ikuti dengan berbagai topik untuk mengenal lebih dalam bagaimana membangun usaha melalui digital. Kelas-kelas ini terbagi menjadi tiga kategori dari Siap Digital, Handal Digital dan Kelas Berbagi.
PILIH KOTA DAN DAFTAR KELASNYA







Jika ada kenalan dekat atau anggota komunitas ingin memajukan usaha dengan cara digital atau mulai bisnis online, silahkan ikut training ini. Gratis 100%, malah dapat jajan loh. Lumayan kan.
Jika jadwal tepat, bisa bertemu dengan saya :)

Ayo segera daftar di kota terdekat. Jangan lewatkan kesempatan.


Writingthon #1 di Puspiptek Membuatku Redirect Kembali Ke Sainstek

Tidak ada komentar
"when I saw (again) a chemistry laboratory that day, I know I have to redirect my path"

Bau khas laboratorium kimia. Senyuman dan tutur kata yang runtut dari perempuan yang hamil tua dan menerangkan detil tentang konsep Meterologi. Istilah ilmiah, binar mata menyala dan bergairah dari para peneliti yang menceritakan kisahnya, membuatku menarik nafas berulang-ulang. Disinilah, disinilah, disinilah seharusnya aku mengabdikan jiwa raga. Di dunia penelitian sainstek dan pendidikan. Sesuai dengan latar belakangku mengambil kuliah sarjana kimia dan pasca sarjana Teknologi Pendidikan. Benar, inilah saatnya aku berpikir serius untuk REDIRECT.

Debaran Hati di Gedung Merah LIPI Kimia

Aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu lagi dengan terminologi kimia. Bisa masuk ke gedung besar dengan petunjuk bertuliskan LIPI KIMIA. Apalagi bisa mendapatkan kontak langsung bu Zalinar Udin, Kepala Balai Laboratorium Biomolekul LIPI Kimia Bandung, yang sudah 16 tahun tak bersua.

Bu Zalinar, sangat membantuku di masa penelitian Tugas Akhir  dan setelah lulus kuliah Sarjana. Topik skripsiku termasuk dalam penelitian beliau di S3. Yaitu meneliti ada tidaknya interaksi antara ekstrak Gardenia Turbifera WALL dengan DNA bakteri Salmonella typhi.

Beliaulah yang akhirnya menerimaku untuk bekerja di LIPI dengan tangan terbuka lebar setelah lulus, juga mengijinkan mengundurkan diri ketika memilih kembali ke Surabaya ketika hamil anak pertama. Bahkan 2 tahun kemudian setelah anak pertamaku lahir dan besar, beliau masih dengan semangat menyuruhku kembali bekerja di sana, di LIPI Kimia Bandung.


Walaupun akhirnya aku tidak meneruskan rencana kembali ke LIPI, tapi bagaimana beliau menerimaku kembali, sangat berharga di hatiku ini. Pendek kata, Kimia berkesan di hati walaupun aku berusaha sekuat tenaga menguburnya dalam-dalam.

di depan gedung LIPI KIMIA

Laboratorium Kimia untuk bioenergi
Aku di depan Pilot Plan Bioetanol Generasi 2 LIPI Kimia




Bagaimana seorang "aku" bisa sampai kesana?
Jalan yang terbuka dan tak terduga berasal dari satu kata yaitu WRITINGTHON.

WRITINGTHON #1 : INOVASI ANAK NEGERI

Writingthon adalah ajang para penulis untuk bekerjasama mewujudkan satu buku. Proses penulisan dan pencarian sumber tulisan dilakukan secara marathon dalam batas waktu tertentu.

Diinspirasi oleh projeknya para programmer aplikasi mobile yaitu Hackathon. Bedanya, disini para programmer dan timnya harus bekerja selama 3 hari membuat sebuah aplikasi berbasis android yang bermanfaat.

Hackathon untuk programmer.

Writingthon untuk penulis.



Audisi penulis writingthon ini juga sama maratonnya. Hanya 1 minggu saja, Bitread, sebagai penyelenggara menggelar rekruitmen. Kami, para blogger, biasa menyebutnya sebagai kompetisi ngeblog atau menulis.

Biasanya satu banner kompetisi menulis akan beredar viral di komunitas blogger. Tapi kali ini tidak. Aku mendapatkan banner di hampir tengah malam. Saat itu, teman aku, Prita Hw, blogger dari Jember, sengaja mengirimkan banner ini secara pribadi di chat messenger.
Aku langsung terpana melihat syaratnya adalah penulis berbasis sains. Langsung juga berterima-kasih kepada Prita karena sudah memberitahukan hal itu.

“Ikut sana mbak, aku nggak punya background sains. Sampeyan saja yang maju,”begitu tulis Prita.

Aku sama sekali tidak tahu apa itu Puspiptek, Bitread dan Writingthon.
Sebelum bergerak selanjutnya, aku cari dulu kedua “kata kunci” itu di google chrome, browsing. Semacam naluri blogger yang menyelidiki apakah kompetisi ini beneran atau abal-abal. Dan hasilnya fix semua aman, benar dan bisa dipercaya.

Malam itu juga, aku lembur di depan laptop sampai menjelang dini hari. Segera mencari banyak literatur tentang ilmuwan yang harus menjadi topik artikel yang akan diaudisi. Pilihan pun jatuh pada bu Evvy Kartini, satu-satunya Ilmuwan Nuklir dari Indonesia, perempuan pula, hebat. Aku sengaja memilih beliau karena genre menulisku selama ini juga seputar perempuan dan teknologi. Pas banget.

Urusan tulis menulis pun harus berhenti sejenak, karena esok paginya, aku ke Jombang, mengantarkan si anak sulung kembali ke pondok pesantren. Aku bertekad menyelesaikan tulisan ini dan ikut audisi. Tapi sama sekali tidak berharap atau menganggap bisa lolos. Tulisan aku selesaikan di rumah ibu, dengan sedikit drama karena laptop harus di-service dan ibu tak suka aku “mainan laptop” di depan beliau. Terlebih jika ada juga suamiku disitu.

Perempuan Jawa haram hukumnya jika membiarkan suami tanpa kopi di sore hari, syukurlah ibu tidak terlalu bereaksi keberatan saat itu karena suamiku mengatakan sudah biasa menghadapiku seperti itu ketika sedang dikejar "deadline" untuk menulis sesuatu.

Sebenarnya kondisi kurang kondusif dan aku tidak yakin bakal lolos. Tapi aku nekad saja, menyelesaikan semaksimal mungkin di waktu mepet itu. Menuliskan esai tentang motivasi mengikuti audisi yang menyertakan kalimat “ingin membumikan hasil riset agar mudah dipahami orang umum”. Aku kirim email ke  penanggung jawab kompetisi. “Kirim dan Lupakan.” Itu mantraku saat menekan tombol SEND.

Alhamdulillah, ternyata aku diterima dan lolos audisi menjadi 10 Penulis terpilih dari 200 peserta yang mengirimkan tulisannya. Atas bantuan Alloh SWT.

Writingthon vs Puspiptek

INOVASI ANAK NEGERI. Writingthon yang pertama ini diadakan bertepatan dengan program Puspiptek Serpong Bogor yang akan mengadakan PIF (Pekan Inovasi Festival 2017). 10 penulis pilihan dari writingthon diberikan tantangan untuk menuliskan buku yang bisa mendeskripsikan tentang Puspiptek dan semua hal yang ada di dalamnya, misi visi, inovasi, kendala dan juga harapan yang dimiliki oleh lembaga penelitian terbesar di Indonesia ini.

Oleh karena itu, kali ini latar belakang penulis memang dipilih yang berbasis Sains dan Teknologi. Aku punya basis kimia karena kuliah S1 mengambil jurusan Kimia FMIPA di ITB. Teman aku lain ada yang dari Fisika, Biologi, Matematika dan juga yang aktif dengan kegiatan reservasi alam. Aku pun sangat intent, tekun dan aktif untuk terlibat dalam teknologi. Terutama teknologi digital untuk digunakan di pendidikan dan kreatifitas. Mungkin salah satu latar belakang ini yang menjadi nilai tambah dariku.


Sampai tiba di hari pelaksanaan. Urusan akomodasi sudah ditangani dengan baik oleh pihak Puspiptek. Aku hanya menyediakan biaya taksi untuk jarak rumah-bandara-lokasi acara. Di Wisma Tamu Puspiptek jadi base camp pelaksanaan. Kami tidak akan hanya duduk manis menulis disana. Sekali lagi, kami harus marathon keliling laboratorium dan gedung tertentu Puspiptek yang akan diangkat sebagai materi tulisan. 


ibu Sri Rahayu, Kepala Puspiptek Serpong

Acara dibuka resmi oleh kepala Puspiptek, ibu Sri Rahayu, yang gesture tubuh dan cara bertuturnya mirip banget dengan bu Risma, Walikota Surabaya. Sedangkan wajah beliau mirip banget dengan bude tetanggaku seberang rumah. I feels like home J

Baiklah untuk tiga hari ke depan, aku harus siap jiwa raga. Alhamdulillah saat itu aku sehat wal afiat. Dan tidak ada kendala baper atau mellow ala emak-emak yang melanda. I’m ready 100%. I’m on fire. Mungkin juga karena di sekelilingku ini anak-anak muda. Ya, bisa dibilang aku paling tua disana. Dan mereka pun satu persatu mulai memanggilku MAMA.

Menjadi paling tua, tidak ada halangan sama sekali. Kecuali sakit pinggang dan sakit kepala yang dating lebih cepat ketika hari lembur telah tiba. Ya, di hari ketiga, 10 penulis diletakkan dalam posisi berhadap-hadapan di dua sisi meja panjang. Seperti pemandangan kantornya media online, beneran deh. Kami bersepuluh dan beberapa tim Bitread terus berdiskusi, menulis dan ngakak bersama sampai lewat tengah malam. Inilah Menulis Marathon itu.

Ya, hari pertama dan kedua, kami marathon mewawancarai peneliti. Dating ke lokasi sampai ke tempat penyimpanan Reaktor Nuklir di Batan. Menyusun taktik penulisan dan memilih sudut pandang yang akan diambil. Baru di hari ketiga, setelah materi terkumpul, menulis di depan laptop dilakukan pol-polan. Lewat jam 2 dini hari, kepalaku sudah nggak kuat. Pusing bagian belakang. Bahaya kalau diteruskan nih, pikirku.

Mungkin dulu jaman masih unyu, aku berani saja nggak tidur seharian. Tapi aku dah sadar umur. Daripada dipaksa terus aku pingsan, mending aku menyerah dan tidur dulu saja. Teman sekamarku, si anak mahasiswa abege, Iiz , juga beberapa kali merengek mengajakku kembali ke kamar. Dia sudah nggak kuat juga. Bukan karena dia tua. Tapi karena kemarin malam dia juga begadang sampai pagi. Sepertinya ada tugas kuliah juga yang harus dia selesaikan. Fix, kami ke kamar. Dan satu per satu temanku pun kembali ke kamar. Hanya satu orang yang bertahan sampai shubuh dan selesai menulis 10 halaman, namanya pak Mul dari Semarang. Jagoan euy.

10 penulis pilihan Writingthon #1 , Pihak Puspiptek dan Bitread

Kita akan punya energi yang semakin kuat jika berada di lingkungan dengan frekuensi yang sama. Begitulah yang aku alami saat itu. Jika dihitung kasar, energi kami seharusnya habis karena harus lari kesana kemari dari satu laboratorium ke laboratorium lain. Lalu bertemu dengan narasumber yang kebanyakan para peneliti senior.

Peneliti senior yang sangat antusias menjelaskan detil konsep penelitian mereka, yang seringnya malah mengeluarkan istilah ilmiah yang kadang diluar pemahaman kami. Disaat yang sama, kami harus konsentrasi penuh menyerap penjelasan para peneliti sekaligus menyiapkan pertanyaan di waktu yang sama. Kalau bisa melihat alur kerja di dalam sel neuron kami, mungkin loncatan elektron dari satu synaps ke synaps lainnya seperti mereka lari Sprint ya, nggak cuma marathon. Cepet banget! 

Sedang mendengarkan paparan Peneliti di Puspiptek

Biasanya, orang akan mudah kelelahan bila digempur tuntutan harus berpikir keras sekaligus bergerak kemana-mana. Giliran menulis, hampir dipastikan langsung tumbang. Atau malah sama sekali nggak ada ide mau nulis apa karena kecapekan.

Tapi, ajaibnya, hal ini sama sekali tidak terjadi pada kami. Baik 10 penulis, pihak Puspiptek juga baladewa Bitread, semuanya antusias dan energik. Sampai tengah malam kami tak hentinya bergantian melontarkan pemikiran yang "berat".

Mengapa hal ini bisa terjadi?
Secara pribadi, kalau aku, alasannya adalah aku terperangah dan takjub. Bahwa negeri ini punya Pusat Penelitian sebesar Puspiptek dengan prestasi dan fasilitas yang sudah setara dengan kelas dunia internasional. Hanya saja, tidak banyak yang tahu.

Akhirnya, aku seperti kesetrum petir dan akhirnya ingin segera memberitahukan ke semua orang. 

"Haiii kita punya PUPSPIPTEK loohh gaeess....bangga banget deh!!"


Kegemasan untuk memberitahukan ke sebanyak mungkin orang melalui tulisan kami inilah yang membuat kami tak habis-habis energinya.

Terlebih lagi aku sendiri, seperti terhenyak ke masa lalu bergaul dengan larutan asam sulfat, laboratorium, elektroforesis dan lain sebagainya jaman kuliah di Kimia. Ketika merenung kembali, kenapa aku sampai di titik ini, akhirnya aku mengambil kesimpulan. Bahwa ini adalah tugasku ketika dilahirkan ke dunia ini. Istilahnya adalah Inilah Tujuan Penciptaanku.

Pundakku seperti ditepuk seseorang dengan mantap dan mendengarnya berkata, "ingat, ada ribuan materi sains yang sudah kau lahap bertahun-tahun ketika menempuh studi. Juga rangkaian berita sainstek yang suka kau baca di setiap ada kesempatan. Ingat bahwa itulah juga amanah dan tanggung jawab yang harus kau selesaikan di dunia ini."

Semacam itulah hasil perenunganku. Demi juga mendengar paparan beberapa peneliti dan teknopreneur di gedung TBIC Puspiptek (Technology Business Incubation Center) yang ingin agar kiprah mereka bisa semakin diketahui banyak orang untuk memberikan inspirasi. Saat itulah aku semakin yakin bahwa aku harus berbuat sesuatu untuk ranah ini: SAINS - TEKNOLOGI - RISET.

Ide yang pertama kali terbesit adalah membuat media online yang mengulas tentang 3 hal tersebut. Ide ini aku sampaikan ketika sesi berjumpa peneliti dan teknopreneur di TBIC waktu itu. Dan segera disambut baik oleh mereka. Humas Puspiptek, juga memberikan masukan bagaimana caraku bekerja nanti jika harus berhadapan dengan peneliti. 

Sebuah angin segar untuk ide berkutat dengan media online yang mengangkat hal yang tidak biasa. Sampai kembali ke Surabaya, ide ini terus aku gulirkan di setiap kesempatan. Aku sengaja mengikuti workshop cara merencanakan sesuatu menggunakan Business Model Canvas. Aku bertanya pada teman programmer yang ahli membuat website dan pengalaman mengelola media online. Kepada sebanyak mungkin orang, aku sampaikan niatkan ingin membuat sesuatu yang online untuk memfasilitasi keinginan para peneliti di Puspiptek tempo hari.

Akhirnya, aku dan teman-teman Writingthon memilih satu nama media yang bisa mewakili dan menjadi nama media online kami nanti. Namanya adalah RISETPEDIA. Banyak rencana yang berloncatan di kepala terkair Risetpedia ini. Risetpedia Go to School, Risetpedia Quote, Kompetisi, Seminar, Festival, Vlog, You Tube, Komik dan segala macamnya. 

Sebagai gerak cepat yang biasanya spontan dilakukan oleh blogger, khususnya aku, segera saja aku membuat akun username media sosial dan membeli domain. Tujuannya agar niat ini tidak keduluan orang. Karena sekali username dipakai orang lain, kita tidak bisa merebutnya kecuali dimodifikasi dengan kata dan huruf lain.


Jadi, mulai domain www.risetpedia.com dan username @risetpedia, semua sudah ada di dalam genggaman tanganku. 

Belum fix semua sudah melakukan itu semua?

Boleh kok, itu sah-sah saja di dunia digital seperti ini. Karena tumbuh dan mengembangkan suatu produk atau media bersama dengan "follower" kita malah akan saling menguntungkan. Kita bisa membaut produk yang tepat sasaran yang mereka butuhkan. Sekaligus mereka bisa merasa engage dan terkait emosional baik dengan kita.

Sekarang aku masih terus menggodok ide ini.
Karena setelah pulang dari Writingthon, ternyata aku tak hentinya juga terus menulis secara marathon. Pekerjaan terkait menulis, semakin datang. Bahkan saat ini aku terlibat Pelatihan Menulis Karya Tulis Ilmiah yang diadakan oleh Kemdikbud, untuk menjaring penulis yang paham teknologi dan Teknologi Pendidikan. Pelatihan untuk meningkatkan kualitas dan menambah jumlah jurnal pada website Jurnal Teknodik yang akan go Online.

Sebulan setelah Writingthon, aku mengikuti pelatihan Jurnal Ilmiah di Jakarta

Alhamdulillah, disinilah aku berada sekarang.
Dan aku sangat yakin dengan keputusan untuk tekun di bidang penulisan, sains, teknologi dan pendidikan. Semoga semakin banyak kesempatan untuk berkolaborasi dengan semakin banyak orang hebat lainnya. Sehingga ide untuk mengembangkan RISETPEDIA berhasil menjadi inspirasi, informasi dan motivasi para generasi muda bangsa untuk menjadi peneliti, teknopreneur. Bangsa ini di masa depan akan makin banyak memiliki orang yang siap membuat sesuatu yang dibutuhkan bangsanya sendiri. Dan tidak melulu menjadi konsumen dari produk bangsa lain.

Di depan salah satu tembok di gedung TBIC Puspiptek Serpong
Di akhir tulisan ini, aku ingin kembali mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk BITREAD, PUSPIPTEK dan WRITINGTHON yang telah memberiku kesempatan untuk "kembali ke jalan yang benar" :)

Love you from my deepest heart.

Salam,


Heni Prasetyorini