Podcast Bu Heni

Refleksi Hidup: Semestinya Bisa Secerah Bunga Ini

1 komentar

 Makin berumur makin kusadari, tidak apa-apa jika kamu memilih hal yang berbeda dengan yang diyakini oleh banyak orang, dan kamu sendirian. Setidaknya kamu bisa tersenyum ceria dan bisa secerah bunga kuning ini.

Tadi pagi, ingin melepaskan beban hati dengan menulis banyak tweet, yang tiba-tiba menjadi sebuah utas di twitter. 

Buah dari deep thinking yang kulakukan sejak kemarin. 

Buah lagi dari pertanyaan, "Emang apa sih yang aku cari di hidup ini?", kemarinnya kemarin. 

Kejadian HP jatuh lalu earphone iphone original milikku rusak, putus. Sementara paparan Dipta, muridku yang kutunjuk sebagai Tutor Sebaya di kelas Bootcamp coding, tidak kusimak dan kudengarkan sama sekali. 

Kulihat viewer dari acara IG Live itu hanya 27 orang dari ratusan ribu follower pihak yang mengajakku talkshow secara streaming itu. 

Pertanyaan berulang, sama, membosankan, dan jawabanku yang juga berulang, sama dan membosankan itu seperti menyekat liang tenggorokanku. Enggan sekali rasanya berbicara itu-itu saja. 

Panik ketika earphone itu rusak, setelah 2 tahun lebih aman-aman saja di tanganku. Ini cukup membuatku shock. Kaget. Dan setiap kejadian seperti ini, aku selalu yakin, Allah SWT sedang menegurku. 

Sepele banget earphone seharga 120ribuan aja bikin shock. 

Ya kalau dilihat untung rugi. Percakapan live itu gratisan, tidak dibayar. Karena terburu-buru mengiyakan, aku pun lupa sudah ada jadwal mengajar kelas coding, walaupun ada Tutor Sebaya, namun aku biasanya hadir untuk menyimak dan memberi semangat. Atau mengingatkan tutor jangan bicara terlalu cepat. 

Aku pun tak bisa menyiarkan streaming ke facebook group tertutup, karena suaraku ketika live akan terdengar. 

Aku pun terpaksa berbohong kepada murid-muridku itu, kalau sedang ada tugas briefing dengan pihak penting. Padahal itu sudah selesai barusan. 

Hatiku tak terbiasa dengan hal-hal manipulatif seperti ini. Jadi kejadian HP jatuh dan earphone patah membuatku terpana.

Tuhan, aku salah. Aku bersalah. Mohon maafkan aku. Aku segera akan memperbaikinya. 

Saat itu juga aku ingat kembali dengan cerita dari Dee Lestari, saat launching novel barunya berjudul Inteligensia Embun Pagi. 

Yang kuingat adalah ucapannya bahwa ketika novelnya resmi diumumkan telah terbit, dia sudah menyiapkan template email penolakan menjadi narasumber di berbagai talkshow dan seminar. Juga menolak menjadi instruktur pelatihan menulis. 

Saat itu kupikir, kenapa ya, kan bisa promosi. Kan bisa dapat duit lain lagi. Lumayan kan. Saat itu yang kuasumsikan adalah, ya iyalah Dee udah banyak duitnya, menolak ajakan ini itu ya wajar, itu recehan aja. 

Waktu berlalu, semakin kurasakan bahwa Dee bersikap begitu pasti ada alasan lainnya. Dan itu sedikit banyak kualami sendiri. 


Aku sedang ada di titik, lelah sekali menjadi narasumber untuk topik yang sama. Pertanyaan berulang. Dan aku harus menjawab lagi hal yang sama. Sudah mentok banget. Walau aku tak tega mengatakan, sudah muak. Tidak berani. Mungkin kelak aku butuh promosi lagi, aku belum sehebat dan sekaya Dee, bukan?

Jalan tengahnya sepertinya, aku harus mengatur jadwalku dengan baik. Aku masih butuh dipromosikan sukarela oleh mereka yang mengundangku tanpa bayaran. Atau aku lebih baik me-monetize sekalian urusan ini, sehingga bisa resmi jadi bentuk pekerjaan. 

Hal ini terus bergantian muncul di benakku dan kepalaku. Menimbang ini itu. Untung rugi. Duit dan bukan duit. 

Sampai akhirnya bertanya dengan kalimat terdalam yang suka dikatakan oleh almarhum bapak padaku dan anak-anak lainnya. 

"Karepmu opo? Opo sing mbok goleki?"

Yang artinya, "Keinginanmu apa? Apa yang sebenarnya kau cari (dalam hidup) ini?"

 

Semakin lama, semakin terngiang suara bapak di telingaku dan mata batinku. 

Setelah sholat, aku pun bisa meluangkan waktu lebih lama untuk duduk, memikirkan jawaban atas pertanyaan itu. 

"Untuk apa semua ini?"

"Yang sudah kudapatkan ini, apakah belum cukup?"

"Apa benar undangan itu karena mereka membutuhkanmu, atau sekadar konten memenuhi rencana program bisnis mereka? komunitas mereka? keuntungan mereka?"

 

Tentu saja, aku sangat ahli menciptakan aneka jenis pertanyaan seperti ini. 

Dan aku yakin, muara jawabannya akan kupilih di bagian mana aku bisa lebih dekat dengan Sang Ilahi. 

Di masa pandemi ini, di mana berita orang meninggal seperti lalu lalang biasa saja berita harga cabe hari ini. Di mana tiba-tiba istri kehilangan suami, anak kehilangan bapak. 

Tentu saja, aku harus pakai akal sehat juga untuk tetap bisa membangun pertahanan diri ke depan. Jalan karir sudah kurintis dengan susah payah. Dan itu juga jadi jalan rejeki dan nafkah untuk keluarga. 

Walau keimanan atas Qadha dan Qadar harus kuyakini sepenuh hati, aku pun yakin bersiap menjadi istri dan ibu yang mandiri finansial, juga kebaikan yang bisa kupersembahkan kepada Tuhanku nanti. 

Selama masih diparingi hidup, badan sehat, pikiran sehat, aku harus bertahan untuk tetap waras dan bekerja dengan baik. Minimal tidak menyisakan kesusahan pada anak-anakku nanti. 

Gusti Allah SWT Mugi paringi ridho barokah. Amiin. 

Credit gambar dari https://unsplash.com/photos/5yDDiMcbnHM

Resep Asem-Asem Bandeng Mudah dan Murah

Tidak ada komentar



Bandeng ini musuh besar saya dulu. Sampai akhirnya punya suami dari daerah pertambakan yang dari bayi udah makan ikan. Dan seringnya ikan bandeng. Dia dan keluarganya tidak risau sama sekali dengan duri kecil-kecil yang saya takuti dulu. 

Lama-lama saya ikutan juga suka makan ikan bandeng. Dan sudah piawai mengatasi duri-durinya. Berikut resep Asem-Asem Bandeng yang mudah banget bikinnya dan pasti seger jadi favorit keluarga anda. 


ASEM-ASEM BANDENG


Asem-Asem Bandeng


BAHAN:

Seekor ikan bandeng segar, bersihkan, tidak perlu dihilangkan sisiknya.
Cuci dengan bersih banget, pastikan tidak ada empedu pahit yang tertinggal saat membuang isi perut ikan. 

Irisan bawang putih dan bawang merah, sesuai selera

Irisan daun bawang

Satu ruas jari lengkuas, digeprek

Dua lembar daun jeruk nipis

Beberapa butir cabe rawit, sesuai selera. 

Asam mentah, secukupnya. 

Garam dan penyedap rasa.


CARA MEMASAK:

1. Didihkan air di panci, masukkan asam mentah. Sampai mendidih. 
2. Masukkan potongan ikan bandeng
3. Masukkan bumbu iris-iris itu semua.
4. Ambil asam mentah yang sudah empuk dan mulai mengelupas, masukkan ke saringan, gecek-gecek dengan sendok, dan masukkan ke air dalam panci. Saring untuk membuat asam atau kecutnya bisa masuk ke air yang mendidih tadi. Ini untuk mengambil sari rasa kecut dari asam mentah. Lalu buang ampasnya. 
5. Berikan garam dan penyedap rasa jika mau. Tambah gula jika suka, nggak juga gpp. 
6. Incipi dulu
7. Tunggu sampai mendidih dan ikan bandeng sudah pasti matang. Dan setelah rasa sudah oke, matikan kompor dan hidangan siap disajikan. 

Karena namanya Asem-Asem Bandeng, maka rasanya sebaiknya rada kecut, asin dan segar. Tidak perlu terlalu manis. Karena berbeda dengan Sayur Asem ala Jawa, biasanya manis. 

Jika suka tambahkan rempah-rempah lainnya seperti irisan jahe dan batang sereh. Jika tidak ada, resep di atas sudah cukup bikin sedap. 

Sajikan dengan tempe goreng krispi atau krupuk blek. Paling enak dimakan setelah badan meriang dan males makan tuh. Hidangan ini bikin segar dan tidak eneg. 

Selamat mencoba. 


 Credit gambar pertama dari unsplash.com

Inspirasi Untuk Ibu Rumah Tangga Digital: Membangun Passive Income

Tidak ada komentar

Passive Income atau pendapatan pasif ini yang kumaksudkan adalah mendapatkan pemasukan berupa uang, dari jasa dan produk digital, yang sekali saja bikinnya dan bisa menghasilkan berulang-ulang.

Berbeda dengan membuka kelas online di KELASKU DIGITAL, yang aku harus mengajar setiap kali ada sesi kelas. Ini bukan disebut passive income. Melainkan active income. Sepertinya begitu. 


Ada beberapa sumber penghasilan yang kuharapkan bisa mendatangkan Passive Income ini, yaitu:

  1. Membuat online course di Udemy.com
  2. Memasang Google Ads di beberapa blog
  3. Ikut afiliasi
  4. Monitize Channel YouTube
  5. Podcast di Anchor dan Spotify

Untuk poin ke-4, entahlah susah amat. Subscriber channel pribadiku dan Kelasku Digital, masih berputar dari 100-200 orang saja, susah banget nambahnya. Dan aku tak pandai juga membuat konten video secara rutin. 

Termasuk poin kelima, dengan kendala mood juga perangkat rekaman yang kurang bagus. Jadi podcast resmiku masih isi beberapa aja.

Yang paling mudah kulakukan adalah menulis di blog, ini bisa spontan. Dan karena terbiasa membuat konten job review, maka menulis postingan untuk afiliasi juga bisa cepat daripada merekam suara dan membuat video. 

Untuk membuat kursus online atau e-course di Udemy, ini adalah niat terkuat untuk mencoba platform yang bagiku dulu sangatlah sulit ditembus. Berbekal OBS dan mic punya anak sulung, seadanya, serta membeli ring light biar wajahku kelihatan cerah, jadilah satu kursus gratis dan satu kursus berbayar. Alhamdulillah dapat juga sampai 30 dollar. Walau untuk dicairkan ke rekening rupiah, minimal kudu 50 dollar.

 
penghasilan dari Affiliasi Shopee

penghasilan dari Google Ads

penghasilan dari Udemy

Ketiga hal ini baru aku lakukan selama pandemi. Itungannya belum berjalan satu tahun. Apalagi google ads itu sering kuotak-atik, kupasang kulepas di blog, begitu aja terus. Karena merasa nggak akan menghasilkan. 

Hampir sebulan lebih, baru dapat 50ribu, dan ga naik-naik juga. Ternyata hari ini diperiksa, sudah berubah jadi 80ribu. Artinya ini ada pergerakan dan bisa jadi passive income. 

Untuk affiliasi SHopee, aku iseng aja mendaftar dan diterima. Padahal follower di tiktok dikit banget, di instagram cuma 2ribuan, kalau di facebook sih full teman ada 5ribu dan facebook page Jilbab Orin ada seribu lebih. Mungkin ini menyebabkan aku lolos ya, ada blog juga. 

Penghasilan dari affiliasi Shopee, sekitar 13 ribu kalau ga salah. Dan ternyata ditransferkan juga walau seuprit itu ke rekening bank. Wah mantap dah. 

Google ads di blog, entahlah. Kadang ga enak hati, karena aku sendiri sebel banget buka blog tapi ada iklannya. Namun kadang merasa penasaran juga, kan enak juga udah nulis susah-susah, ada penghasilan tanpa perlu "mengajar tiap hari" gitu. Jadi kupasang lagi. 

Apapun hasilnya yang menarik adalah aku telah mengalami sendiri prosesnya. 

Terutama untuk kelas online di Udemy, sedikit lagi aku persiapan memperbaiki perangkat rekaman dan tempat menyimpan video hasil rekaman itu. Mungkin beli harddisk external yang ukuran muat 2 Terabyte. Macbookku ini udah penuh banget. Record desktop aja ditolak melulu. Ga bisa simpan file baru lagi. Dan satu per satu aku posting videonya secara unlisted di YouTube, karena sayang banget kalau dihapus. 

Kelasku di Udemy bisa diakses di https://www.udemy.com/user/heni-14/

Pandemi bikin bosen, tapi juga bikin ada effort lebih gimana caranya bekerja dengan baik, dari rumah dengan modal internet. 

Jika pandemi usai, enak juga kan bisa jadi Digital Nomad sesekali, dengan semua sudah ada jalur penghasilan. Tinggal promosi sana-sini. 

Gitulah, kamu jangan putus asa juga kerja di masa pandemi Corona. Asal niat kuat, cari tahu jalannya dan mulailah mencoba. Lama-lama pasti bisa juga. 


Gambar credit: unsplash.com

Diterima di FFBS Cohort 2 2021: Future Females Business School Programme

Tidak ada komentar




Belajar lagi di usia 42.

Kali ini, saya jadi murid lagi. 

Udah...Bukan untuk belajar coding lagi 🙂.

Tetapi sekarang belajar bisnis. 

Alhamdulillah. Sungguh. Merasa beruntung sekali bisa ikut (lagi) ke program yang tak membatasi usia pendaftaran.

Ketika persiapan wawancara tempo hari, masih deg-deg’an juga. Yakin ga yakin diterima. 

Namun, Allah SWT Maha Baik,  yang mengatur semua ini. 

Tepat ketika saya yakin sudah saatnya menjadi hustler, dan sepakat dengan suami dan anak-anak yang udah bujang semua untuk lebih serius berbisnis, program ini dibuka.

Saya mengalami sendiri kalau berbisnis itu sulit. Tidak mungkin saya bisa. 

Kalaupun ngotot, bakal biasa saja. Karena  saya bukan orang yang lincah bisa pergi ke sana ke mari. Mustahil berhasil. 

Saya adalah ibu rumah tangga yang hampir 100% ada di dalam rumah.

Apalagi di masa pandemi. Keluar hanya untuk belanja sembako atau ke tukang sayur pun tidak setiap hari. Bahkan ke luar pagar rumah saja jarang. 

Tak ada kata kopdar, hangout, piknik, cangkrukan atau apalah-apalah. Sejak kecil pun saya adalah kutu buku yang lebih suka diam di rumah untuk membaca, menulis dan belajar. Tidak suka main. Tidak punya banyak teman. Begitulah sampai dewasa juga tak banyak berubah. 

Mustahil tipe ibu-ibu dengan gaya hidup rumahan seperti saya ini bisa berhasil berbisnis. 

Tapi,  rupanya Gusti Allah SWT belum mengijinkan saya berhenti walau sulit. 

Ada saja kejadian tak terduga,  yang membuat saya harus punya tanggung jawab yang lebih besar atas keputusan yang kami buat untuk keluarga. Serius berbisnis. 

Mungkin anda mengalami hal yang sama.

Dan, percayalah, program seperti FFBS inilah yang bisa menyelamatkan kita dari rasa putus asa atau menyerah.

Entah itu bisnis atau berkarya apa saja, pasti ada aja kendalanya.

Kesulitan tidak hanya bisa melemahkan tapi kadang benar-benar membuat orang merasa gagal dan layak untuk berhenti. 

“Terus belajar dan kemudian mengajar”

Itulah kunci hidup yang semakin kuat saya pegang.

Semoga lancar menjalani program Future Females Business School ini bersama teman seangkatan. Sampai tuntas & langsung praktek ilmunya.

Info lengkap bisa baca di sini https://futurefemales.co/ff-business-school/

Thank You @ukindonesiatechhub @futurefemales  #ffbsukindonesiatechhub

Hasil Tes Karakter di viacharacter.org

Tidak ada komentar

Dalam rangka ikut program Future Females, acara awalnya adalah mengenali diri sendiri. Termasuk ikut tes karakter ini. Dan inilah hasilnya

 











Untuk hasil di https://www.16personalities.com/




Hasilnya untuk Archetypes,
 di https://www.archetypes.com/quiz/






Nikah Dulu Baru S2

Tidak ada komentar

 Judulnya bukan untuk memprovokasi kalian untuk menikah muda. Nanti jadi korban Pernikahan Dini, bahaya. Halah. Yang tahu judul sinetron yang dimainkan Agnes Monica dan Syahrul Gunawan ini, fix, kita seumuran. 

Judulnya adalah cerita hidup saya. Yang nggak hebat-hebat amat, jadi ditulis bukan untuk ditiru atau dijadikan target hidup. Apalagi masuk dalam Vision Board kalian di rumah. Jangan. 

Ini adalah berbagi cerita, bahwa yang namanya Menikah Itu, memang beneran nggak mudah. Baik itu untuk perempuan Sarjana, Lulusan SMA, tidak sempat sekolah atau tidak boleh ikut ujian SD seperti ibu saya. 

Baiklah, mari kita lanjutkan ceritanya. 

saya dan suami di usia 20 tahun pernikahan

Begini, sebenarnya rada enggan ngobrolin tentang rumah tangga dan cinta-cintaan di media sosial atau di blog. Bukannya apa, takut menyinggung perasaan kalian yang berbeda cerita. 

Tapi sepertinya udah di usia 42 tahun ini, ya saatnya mendongeng alias berbagi cerita. Siapa tahu ada yang mengena di hati kalian dan bisa nambah wawasan untuk berpikir jernih sebelum mengambil keputusan untuk menikah. 


NIKAH DULU BARU S2

Iya benar. Tiga bulan sebelum Sidang Sarjana di Kimia ITB, saya menikah. Lalu mengerjakan Skripsi, sidang, baru lulus kuliah. 

Singkat cerita, setelah lulus Sarjana di Bandung, saya dan suami memutuskan kembali ke kota kelahiran saya di Surabaya. Hampir selama 12 tahun saya menjadi Ibu Rumah Tangga, yang melanjutkan kuliah S2 dengan biaya sendiri, alias didanai oleh gaji dan tabungan suami. Saya, sama sekali tidak berpenghasilan pada saat itu. 

Kok keren mbak Hen?

Kelihatannya iya. Tapi bener-bener itu adalah sejarah yang berdarah-darah. 


Menjadi Ibu Rumah Tangga setelah lulus Sarjana, sama sekali bukan impian saya bahkan bukan target hidup saya. Saat itu seharusnya saya menjadi PENELITI BIOKIMIA MEDIS di LIPI Bandung. Tepatnya di Laboratorium Bio Molekuler, tempat saya menyelesaikan Tugas Akhir, membantu ibu Zalinar Udin, Kepala Balai Laboratorium itu, yang kebetulan satu grup dengan saya, satu Dosen Pembimbing, almarhum bapak Agus Noer. 

Tugas akhir saya membantu penelitian Disertasi bu Zalinar yang sedang mengambil S3. Judul Skripsi saya adalah penelitian tentang Interaksi DNA Bakteri Salmonella Typhi dengan Ekstrak Tanaman Obat Gardenia Tubifera WALL

Wuhuu, saya masih hafal judul skripsi ini di luar kepala.

Hebat?

Bukan itu. Tapi menjadi dosen atau peneliti memang target saya selama kuliah. Bahkan ketika masih SMP dan SMA, atau masih muda, saya sudah "didoktrin" oleh ibu saya untuk kelak menjadi WANITA KARIR dan jangan sampai seperti ibu saya, yang (hanya) menjadi ibu rumah tangga. 

Kebayang apa yang terjadi, ketika strategi pasca menikah saya meleset. Yang harusnya, berdua dengan suami berkarir di Bandung, sama-sama menjadi pegawai BUMN. Lalu melepaskan semuanya dan kembali ke titik nol lagi di Surabaya. 

Suami saya dulu bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nasional) yang dibangun oleh bapak B.J. Habibie. Kelak berubah nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia. 

Dengan dua posisi karir yang sama-sama keren dan matang ini, kami berdua berani melangkah untuk menikah bahkan sebelum saya lulus Sarjana. 


BULAN MADU = NGERJAKAN SKRIPSI

Menikah dengan hal yang manis-manis dan unyu-unyu itu, serius nih, hanya ada di media sosial. Atau di cerita-cerita buku roman. 

Mungkin bisa begitu, kalau pernikahan sudah dalam kondisi ekonomi mapan, berkecukupan bahkan berlebihan. 

Sementara kami, nekad menikah dalam kondisi MINUS alias di bawah titik nol. 

Setelah menikah, kami tak punya tabungan sama sekali. Sepertinya hanya beberapa ratus ribu rupiah saja. Dan itu harus dibagi dengan ongkos naik kereta api kembali ke Bandung, segera, karena saya harus menyelesaikan Seminar Tugas Akhir, lalu skripsi dan sidang. 

Sejenak saja menggelar resepsi pernikahan yang biayanya hasil patungan dari keluarga besar. Lalu beberapa hari saja menginap di rumah orang tua suami. Tidak sampai sepasar atau seminggu kemudian, kami sudah harus kembali ke Bandung. Karena jadwal Seminar Tugas Akhir saya sudah keluar. 

Tanpa pikir panjang untuk bersenang-senang dan bahkan mengecewakan keluarga besar karena tidak sempat banyak menemui tamu dah saudara, kami hanya berkomitmen untuk menyelesaikan kuliah secepat mungkin. Dan tidak menundanya karena akan berdampak pada biaya.


KAMAR KOS PENUH TIKUS

Tidak begitu kaget juga ketika sepasang pengantin baru ini masuk ke kamar kos yang diobrak-abrik tikus di dalam kamar. Yang namanya Mesin Ketik manual saya, habis sudah dengan air kencing dan kotoran tikus yang kecil-kecil. Buku-buku, modul kuliah dan isi rak buku yang terbuka, kena juga jadi tempat pesta pora mereka, si Mickey Mouse, begitu saya menyebut para tikus berkuping bulat, berbadan kecil dan ke sana ke mari suka berjalan sambil membuang kotorannya itu. 

Tanpa ada amarah, tangis, sesal atau jengkel, kami meletakkan tas ransel dan barang bawaan di lantai kamar kos. Lalu gerak cepat membersihkan ini itu. Kemudian mandi dan beristirahat. 

Bersih-bersihnya tidak mudah ya, karena kamar mandi dan akses air bersih hanya ada di lantai bawah ibu kos. Kami ada di kamar atas, lantai kayu sementara yang dirombak menjadi kamar semi permanen dan kemudian disewakan sebagai tempat kos. Sebuah tempat yang kurang layak sebenarnya, namun itulah yang cukup untuk kantong kami berdua. 

Tinggal sekitar beberapa bulan di situ, sampai akhirnya kami putuskan mencari tempat kos yang lebih bersih dan di lantai satu saja, sehingga tidak repot kalau harus ke kamar mandi. Syukurlah akhirnya nemu pas di belakang gedung LIPI Bandung. Jadi saya kalau harus ke laboratorium, lebih dekat. Walaupun sama juga hanya perlu jalan kaki saja seperti di tempat kos sebelumnya. 

Ketika saya di Bandung, suami saya harusnya masih kuliah lagi di ITS (Surabaya), namun tinggal menyelesaikan skripsi. Ya suami saya lulusan D3 Teknik Mesin ITS, lalu kerja di IPTN atau PT. DI yang mengambil cuti belajar untuk kuliah lagi melanjutkan ke jenjang S1. 

Sebenarnya, semuanya akan sempurna, jika itungan kami berdua tepat. 

Seharusnya jika sesuai jadwal, kami berdua akan lulus barengan jadi Sarjana. Beneran barengan. 

Akan tetapi, nasib berkata lain, tugas akhir suami saya rumit. Mungkin topiknya yang dikaitkan dengan industri pesawat terbang tempatnya bekerja ya, jadi untuk menemukan software yang pas aja butuh perjuangan. Apalagi kami berdua hanya punya satu unit laptop Celeron, yang sering ngadat ketika suami butuh mengerjakannya untuk skripsi. 

Jangan ditanya bagaimana kondisi pengantin baru yang sama-sama didera skripsi ini. 

Asyik-asyik saja?

Tentu tidak. 

Tegang. Kepikiran terus. Harus berhemat sangat, karena gaji suami kan jadi setengah doang karena cuti belajar. Kebayang kan, setengah gaji untuk biaya hidup sehari-hari, bayar SPP kuliah berdua, bayar kos, transportasi naik angkot sampai 6 kali pulang pergi. Berat banget. 

Dan, kami sama sekali tidak menelepon orang tua atau mertua dan menangis-nangis minta pertolongan. Semua kami ambil sebagai tanggung jawab yang harus dipikul oleh kedua pundak kami sendiri. 

Ketika saya sudah yakin akan bekerja menjadi PENELITI sesuai impian dan target selama kuliah, lalu tiba-tiba saya terlambat datang bulan dan positif hamil, maka melepaskan impian itu dan sepakat kembali ke Surabaya adalah bentuk tanggung jawab saya sebagai perempuan yang memutuskan untuk menikah. 


MENIKAH ADALAH PERKARA TANGGUNG JAWAB

Dan, ketika saya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja selama belasan tahun, itu juga bentuk tanggung jawab.

Mungkin saja, kalian tidak mengalami hal yang sama dan masih bisa melakukan ini itu, bekerja, mencari penghasilan, bisnis dan lain sebagainya selama awal pernikahan. Namun, saya, tidak. 

Kondisi dan situasi saya, anak-anak dan suami yang masih merintis karir, membuat saya berpikir untuk mengalah lebih dulu. Menerima semua keterbatasan keuangan, aktivitas dan meredam ambisi pribadi, semata untuk membuat kondisi RUMAH TANGGA STABIL dulu. 

Baru ketika semua sudah kuat. Anak-anak sehat dan kuat dan mandiri. Suami sudah punya pekerjaan tetap yang bagus dengan posisi yang sangat kompeten di bidangnya. Barulah saya beranjak untuk kembali berkiprah. 

Bayangkan keputusan yang saya ambil ini membutuhkan waktu belasan tahun. Bukan sulap. Dan tidak instan sama sekali. 

Berusaha menahan diri atas nama tanggung jawab mengurus anak-anak, suami dan rumah tangga. Tanpa sama sekali merepotkan kedua belah orang tua. Adalah SENJATA UTAMA untuk laki-laki dan perempuan yang memutuskan untuk menikah. 

Tentu saja sangat tidak enak lebih banyak daripada enaknya. 

Konflik pun mudah terpicu. Karena saya dan suami sama-sama capek lahir batin. Sama-sama berusaha di sisi masing-masing. Dia bekerja sebagai Kepala Keluarga, walau harus lembur tiap hari bahkan sakit Typhus ketika anak-anak masih bayi. Saya pun harus menggedor pintu tetangga ketika tengah malam, meminta bantuan diantarkan ke rumah sakit. Karena saya ada bayi dan anak balita, tentu tidak bisa meninggalkan mereka berdua di rumah untuk membonceng suami saya ke dokter, kan?

Capek. Harus berhemat. Jarang piknik, karena harus berhemat pula. Menyimpan dalam-dalam semua kesusahan dari orang tua. Walau tak jarang, jadinya saudara dan orang tua menganggap kita sebagai orang yang pelit, tak peduli dan anti sosial, karena menarik diri dari beberapa hal dan kegiatan, serta tak mampu menceritakan kondisi keuangan yang sangat ketat dan harus super ngirit. 

Tak mudah menjalani ini semua. Bahkan ketika melanjutkan S2 juga entah komentar muncul dari kanan, kiri, atas dan bawah, masih terus saja ada. 

Kalau dipikir-pikir sekarang, kenapa saya dulu seberani itu melepaskan pekerjaan sebagai Peneliti. Padahal kuliah berdarah-darah selama 4 tahun demi menggapainya. 

Kenapa juga saya sukarela menjadi ibu rumah tangga saja, padahal bisa saja merepotkan orang tua, meminta bantuan ini itu supaya karir saya tetap jalan dan meningkat. 

Kenapa juga saya mau susah payah kuliah lagi S2, padahal pekerjaan suami sudah aman dan saya bisa duduk tenang menerima nafkahnya?

Ini semua adalah perkara TANGGUNG JAWAB. 

Saya menjadi ibu rumah tangga, karena merasa bahwa anak-anak yang saya lahirkan adalah tanggung jawab saya, bukan tugas kakek-neneknya. 

Bahwa saya kuliah lagi S2, itu adalah juga cara membuka pintu untuk kembali mengamalkan ilmu dan kemampuan diri, sebagai bentuk tanggung jawab saya diberikan titipan bakat sebagai pembelajar yang suka belajar dan mengajar. 

Nikah dulu baru S2. 

S2 dulu baru nikah. 

Menikah atau tidak menikah. Yang penting harus berani bertanggung jawab.














Semakin Ingin di Zona Nyaman

Tidak ada komentar

 


Mungkin mengejutkan bagi beberapa orang, termasuk suami saya sendiri, ketika saya memutuskan melepas satu pekerjaan di era pandemi ini. Saya mundur dari jabatan sebagai editor blog suatu startup pendidikan, yang sudah saya ikuti kurang lebih setahun ini, sejak pandemi bermula tahun 2020. 

Alasan utama adalah saya mulai keteteran dan sebenarnya lebih pada kehilangan minat dan daya tarik pada pekerjaan itu. Sebenarnya menjadi editor tulisan itu lebih sulit daripada menulis. Itu opini saya pribadi. Dan sepertinya akan diaminkan oleh banyak penulis juga. Terbukti saya membaca beberapa status blogger dan penulis buku yang menyerah pada pekerjaan sebagai editor profesional. 

Menjadi editor itu ibaratnya seperti jadi tukang permak baju. 

Bandingkan dengan pekerjaan sebagai desainer baju atau tukang jahit baju dari nol.

Mana yang lebih rumit?

Enak mana menjahit baju dari kain, atau menyesuaikan baju yang sudah jadi dan kurang ini itu dengan permak?

Kalau saya pribadi, tentu lebih enak jadi penjahit baju, atau kalau buku dan tulisan, lebih enak menjadi penulisnya. 

Nah, kembali ke mundur kerja tadi, seharusnya ini bisa saja tidak terjadi. Karena dengan pengalaman bertahun-tahun menulis blog, mengedit tulisan di blog itu mudah saja. Asal no typo, aman. Biasanya saya bekerja juga sekali duduk bisa mengedit 10 artikel. Bahkan lebih. Untuk tulisan artikel berisi 500 - 1000 kata. Mudah. 

Namun, yang namanya BOSAN itu seperti racun dalam jiwa saya. 

Ketika sudah merasa bosan, akhirnya tertekan. Terlebih lagi MERASA BERSALAH karena seperti makan gaji buta. 

Pekerjaan jadi editor blog kok semakin mudah bagi saya, tidak ada masalah apa-apa, bahkan ketika saya tidak berbuat apa-apa pula untuk kemajuan blog startup yang menggaji saya itu. NGGAK ENAK HATI rasanya jika seperti itu. 

Dan di usia segini, 42 tahun, menerima dan menyimpan perasaan bersalah itu semakin tidak enak dan berat. Maka setelah menimbang ini itu, saya pun mundur, dan bisa diterima dengan baik oleh CEO startup yang memang tahu saya bakal begitu. Ya, sebelumnya saya juga mengundurkan diri namun dicegah. 

Lalu saya ngapain?

Nah, di usia ini, saya merasakan ingin lebih SANTAI DI ZONA NYAMAN. Tidak begitu tertarik lagi untuk bekerja atau belajar atau berapa-saja dalam perasaan tertekan atau dipaksa dan terpaksa. Capek banget deh. Nggak banget. 

Untung saja, ALHAMDULILLAH, saya diberikan rejeki untuk bisa menghasilkan uang atau pendapatan sebagai PEKERJA LEPAS, yang artinya tidak tergantung pada suatu lembaga apapun. Atau disebut lebih keren dengan istilah SELF EMPLOYEE. 

Saya membuat kelas online sendiri untuk mengajarkan coding anak-anak di KELASKU DIGITAL. Dan ingin bekerja di ranah saya sendiri ini saja. Tidak menjadi karyawan perusahaan atau startup orang lain. 

Supaya saya bisa ber-TANGGUNG JAWAB dengan diri saya sendiri. Untuk saya sendiri. Dan tidak risau jika kiranya tidak bisa bertanggung-jawab dengan baik kepada orang lain. 

Ah cemen dan receh sekali tampaknya?

Iya betul. 

Jikalau harus berkaitan dengan pihak lain, maka saya memilih mengambil sikap sebagai MITRA KERJA atau saya yang menjadi BOS-nya. Ini akan lebih mudah. 

Maka, di ZONA NYAMAN yang saya maksud ini adalah bukan dengan bersantai-santai belaka. Melainkan memilih satu NICHE PEKERJAAN yang paling pas dengan ritme hidup saya sehari-hari (yang didominasi mengurus rumah tangga) dan juga karakter diri saya pribadi. 

Tidak bermalas-malasan dibuktikan dengan gerakan selanjutnya saya untuk menambah skill profesi dengan mendaftarkan diri ke beasiswa Digital Talent Scholarsip yang diadakan oleh KOMINFO secara daring. 

Baca Juga: Usia 42 Dapat Beasiswa Digital Talent Kominfo 2021

Ini sebuah keputusan yang tidak mudah namun menarik untuk dilakukan. Menjadi pelajar lagi di usia 42. Jika mengingat saya masuk ke Apple Developer Academy 2019 di usia 40 tahun. Ceritanya bisa dibaca di sini: Alhamdulillah, Diterima di UC Apple Developer Academy 2019.

Ini beberapa tahun setelah saya tekun belajar coding dan seputar itu, setelah ikut program Coding Mum, tahun 2016. Yaitu di usia saya sekitar 37 tahun. Banyak tulisan saya tentang Coding Mum, bisa anda akses juga di sini

Maka begitulah. 

Dari cerita saya ini, jika anda masih muda, tidaklah mengapa mencoba segala hal yang sulit, rumit, terpaksa dan semacamnya. Coba saja. Lakukan dengan sungguh-sungguh. Toh tenaga dan semangat masih membara tentu saja di usia muda itu. Yang penting tekun dan tekun. Kelak akan bertemu dengan energi dan pola hidup yang sesuai dengan diri kita sendiri. Dan sesuai dengan MISI HIDUP yang kita yakini. 


Semoga menginspirasi. 

-Heni Prasetyorini - 


*Credit: gambar dari Unsplash.com

Februari: Bulan Buku dan Cinta

Tidak ada komentar
sebagian buku yang saya beli di awal bulan Februari

Niat awal menulis ini dan merekam suara secara bersamaan, menceritakan hal yang sama. Ternyata sulit bareng mengetik di keyboard sambil bicara di depan mic. Jadinya ngetiknya berhenti, lalu melanjutkan rekaman suara podcast dan diposting di anchor.fm. Podcast itu bisa didengarkan di sini ya, sambil membaca ini. Monggo...

https://anchor.fm/henipr/episodes/Bulan-Buku-dan-Cinta-eptfa2


Bulan ini adalah bulan saya umbar-umbaran membeli buku di awal bulan. Alhamdulillah dengan penghasilan saya sendiri, maksudnya tidak minta suami dan tidak memakai jatah uang bulanan keluarga.

Saya tulis sekalian judul buku yang saya beli.

  1. Buku bekas dari instagram @bukuanakjakarta. Paket bundling 8 buku Pustaka Pengetahuan Modern. Judulnya: Pantai Laut, Dunia Tumbuhan, Burung, Dunia Binatang, Kapal Laut, Tubuh Manusia, Batuan dan Mineral, Pesawat Terbang. Total 250 ribu.
  2. Buku Tasaro GK beli lewat whatsApp istrinya. Beli dua buku berjudul Al Masih dan Belahan Jiwa. Total 204ribu. Beli langsung dari istrinya ini karena pengen dapat kalimat mutiara dan tanda tangan pak Tasaro GK.
  3. Beli lagi bukunya pak Tasaro GK di Mizanstore.com karena takut kehabisan bukunya. Setelah sekilas baca buku berjudul Muhammad di ipusnas (ebook). Total malah dapat 6 buku, berjudul: Patah Hati di Tanah Suci, Muhammad 1: Lelaki Penggenggam Hujan, Muhammad 2: Generasi Penggema Hujan, SERI MAM: Rahasia Bulan (buku anak), Sembilu: Pengembaraan Rasa, Keajaiban Rezeki. Total 385.500,-
  4. Bukunya A. Fuadi, paket novel: Anak Rantau, Ranah 3 Warna, Rantau Muara. beli di tokopedia toko Revanda Book Collection, Bekasi. Sekaligus saya ikut Mini Workshop dari A. Fuadi langsung seharga 100ribu, yang akan diadakan tanggal 14 Februari 2021 menggunakan zoom.
  5. Buku 77 Permasalahan Anak dan Cara Mengatasinya, Ana Widyastuti, seharga Rp 135.000,-. Ini setelah bu Ana membagikan link video ulasan tentang Cara Mengatasi Anak Kecanduan Gadget di lama facebook pribadinya. Saya mengajukan pertemanan ke beliau ketika di mention oleh teman saya, Yeti ketika membagikan Workshop Menulis Buku Aktivitas Anak yang saya ikuti juga nanti tanggal 16, 17, 18 Februari 2021 melalu grup whatsapp, seharga Rp 100.000,-
  6. Preorder buku Rapi Jali karya Dee Lestari, beli di tokopedia Mizanstore, seharga 108.000,- . Ikutan karena lagi viral di Storial. Tapi saya milih beli buku cetaknya aja, ga beli koin untuk baca ebooknya di storial. Dan setelah lihat di instagram @deelestari bahwa buku ini udah dikonsep sejak 25 tahun yang lalu. Kan keren banget tuh.
  7. Preorder buku Sesaudara dalam Iman Sesaudara dalam Kemanusiaan, seharga 25.000. Termasuk promo Nyah Nyoh dari pak Yai Edi AH Iyubenu yang saya kenal dan follow di twitter. Baru tertarik beli buku beliau karena kemarin membaca dan mengunduh tulisan beliau tentang Wasiat Nabi yang di PIN di twitter beliau. Suka cara menulisnya sederhana.
  8. Buku novel anak tulisan mbak Achi TM, lupa judulnya, harganya total 117ribu.
  9. Tambahan 2 buku Muhammad karya Tasaro GK, totalnya sekitar 200ribu.


Nah total berapa rupiah ya ini. Coba saya hitung dulu.

Jadi totalnya sekitar 1,5 juta rupiah lengkap untuk buku dan 2 workshop menulis buku.

Ini gilaa tapi saya bahagia

Ini sebuah kegilaan, ketika berhari-hari bingung mau beli apa ya untuk hari istimewa kelahiran saya ini di bulan Februari. Apa beli oven listrik, set panci bagus atau alat olahraga sepeda statis yang murah meriah. Dan itu berat semuanya, mau beli batal melulu. Mikir melulu. Takutnya ga berguna amat. Sayang. Tapi pengen. Apa butuh? gitu aja mikirnya.

Eh tiba-tiba keluar begitu saja, transfer sana-sini untuk beli buku.

Nah, perasaan saya begitu lega dan plong dan yakin. Tidak menyesal dan mikir ulang seperti sebelumnya. Ini saya lakukan dengan yakin sekali.

Dan sengaja tidak cerita ke anak dan suami. Karena mereka semua bukan pembaca buku dan pecinta buku. Jadi bakal komentar aneh-aneh hahaha.

Dapat Puluhan Juta di Masa Pandemi Corona

Tidak ada komentar

Loh kok bisa?

Saya aja juga gak menyangka, tak mengira. 

Kemarin merekap dan menghitung ulang penghasilan saya selama bekerja dari rumah, full kerja online sejak pandemi, Maret 2020. Total semuanya lebih dari 20 juta. 

Hitungan kasarnya seperti ini,

Sejak April 2020, saya membuka kelas online belajar coding untuk anak. Sampai Desember 2020 kemarin. Total semua murid saya adalah sekitar 100 anak. Ambil biaya kelas rata-rata 200ribu/anak. Maka penghasilan saya dari kelas online adalah 20 juta. 

Selain itu, saya juga dapat pekerjaan part time remote work, sebagai Blog editor dan manajer konten writer, dengan gaji 1 juta per bulan. Dihitung sama saja dari bulan April - Desember 2020, yaitu 9 bulan. Maka total gaji part timer adalah 9 juta. 

Penghasilan saya di masa pandemi adalah 29 juta rupiah. Saya peroleh selama 9 bulan. Ini hitungan kasar atau kisaran. Hitungan sebenarnya bisa lebih dari itu karena sesekali saya juga "dibayar" karena membuat konten video edukasi dan mengisi seminar online. 

Sebagai gambaran hitungan pendapatan saya untuk kelas online, adalah:

  1. saya mengajar mulai 1 kelas per hari, menjadi 2 kelas perhari, meningkat menjadi sampai 4 kelas per hari. Terhitung kelas kelompok dan kelas privat. 
  2. Untuk kerja jadi blog editor, total saya hanya bekerja sekitar 20 -25 jam sebulan. Jadi sekitar cuma 1-2 jam sehari. Dan mengerjakan ini tidak saya lakukan setiap hari. Melainkan sekitar seminggu 2-3 kali. Karena lebih enak jika mengedit tulisan para content writer itu sekalian. Jadi sekali ngedit bisa 10-20 artikel @1000 kata. 

Saya membuka kelas online coding untuk anak itu, sebenarnya rada ragu di awal. 

Karena cemas anak-anak belum bisa ngeh cara belajar secara online.

Eh ndilalah, ada pandemi. Dan sekolah mulai mewajibkan kelas online atau kelas daring. Jadi baik anak-anak maupun orang tuanya, semakin biasa-biasa saja dengan belajar online tersebut. 

Rejekinya lagi. Tema CODING UNTUK ANAK tiba-tiba melejit dan trendi karena mas Menteri Nadiem Makarim mulai menggaungkan Pentingnya Anak Belajar Coding sejak usia dini atau usia sekolah. 

Saya mengenal konsep Coding untuk Anak sejak 2018, sebagai koordinator kelas coding anak secara offline. Ini beberapa foto-fotonya:

satu-satunya peserta perempuan dari 40 anak lainnya

pojok kanan belakang itu anak kedua saya, depannya keponakan saya
anak saya bete banget diajak belajar coding, selain ga tertarik, juga malu dengan laptop warna pink emaknya hahahaha

waktu itu belajar KODU GAME LAB, tapi ini kurang fleksibel untuk berkreasi dan harus donlot. Jadi tidak saya pilih untuk kelas-kelas sekarang

anak dan keponakan saya yang sama-sama nggak tertarik coding, jadinya mondar-mandir melulu cari makanan lah, ke toilet lah. Ohya ini ada di Rumah Kreatif BUMN Mandiri Surabaya

foto bareng anak-anak, ini angkatan 1 kelas coding kids Surabaya yang offline. Setelah angkatan 2, kelasnya berhenti karena berbagai sebab. Baik itu dari sewa ruangan yang ganti aturan menolak kelas ini. Sibuknya para pengajar. Susahnya cari ruangan untuk disewa yang ramah anak, dll.

Dan mulai riset tentang hal itu. Baru tahun 2020 berani membuka kelas online sendiri. Sebagai pengajar. Tidak hanya sebagai koordinator kegiatan. 

Saya mengenal coding sejak 2016, sampai sekarang. Mulai dari materi membuat website dengan HTML dan CSS. Lanjut diterima di Apple Developer Academy| UC Surabaya 2019 dan kenal dengan Swift Programming dan Ios Apps Development. Lalu otodidak mempelajari tentang Coding Kids and how to teach it sejak 2018. Kemudian memilih menekuni ini sampai sekarang. 

Saya bukan Sarjana Informatika atau programmer. Mengenal coding dari beberapa kegiatan saja dan selebihnya otodidak. Merasakan betul kalau belajar coding itu tampak mengerikan dan sulit banget, karena baru kenal di usia udah menjelang 40-an. Udah tua. 

Kebayang  bagaimana jika sejak anak-anak sudah pada kenal coding dan kosa kata tentang hal ini?

Pasti mereka akan jauh lebih santai untuk mempelajari coding lebih lanjut.

Itulah alasannya akhirnya saya pilih tetap di jalur coding, edukasi dan memilih kelas coding untuk anak. Saya juga suka sih, karena lucu bikin coding kids class itu. Materinya lucu dan warna-warni. Anak-anak juga lucu. Memberikan semangat baru. 


Kembali ke Penghasilan Terbesar di masa pandemi. 

Saya percaya ini semua hasil "tabungan keringat" saya bertahun-tahun sebelumnya. Dan bisa "boom" muncul momentumnya di masa pandemi. 

Ketika orang lain kelabakan gabut dan cuma rebahan di rumah saja. Saya malah gas pol tanpa pikir panjang langsung menyiapkan kelas belajar baru. Sebenarnya tidak hanya untuk anak-anak. Saya juga buka kelas blogging, cara membuat kelas online, cara mengajar programming dll untuk orang dewasa. Namun yang ikut sedikit. Kelas gratisan aja sedikit dan ga terlalu direspon. Apalagi kelas berbayar.

Jodoh rejeki saya ternyata di kelas anak-anak. Dan rencana saya juga nggak cuma di kelas coding. Tetapi ada juga kelas blogging, di mana saya udah ngeblog sejak 2009. Udah sekitar 12 tahun. Dan mendapatkan banyak manfaat dengan kemampuan nulis dan ngeblog. Pasti bagus jika anak-anak juga bisa dari kecil. 

Ah banyak sekali rencana yang saya buat, setelah menyadari bahwa saya bisa BEKERJA SECARA ONLINE DARI RUMAH SAJA dan menghasilkan pendapatan yang lumayan. 

Tulisan ini saya bagikan untuk memberikan gambaran bahwa ILMU DAN PENGALAMAN yang kita asah bertahun-tahun itu, pasti suatu saat akan menemukan JODOH WAKTU TERBAIKNYA. 

Saya lulus S2 Teknologi Pendidikan tahun 2015. Dan baru 5-6 tahun kemudian inilah menuai hasilnya berusaha bekerja di jalur edukasi non formal ini. Akhirnya ketemu juga jalur yang cocok dan saya sukai. Dan itu malah terbantu karena terbatas ini itu di masa pandemi. 

Beberapa bulan sebelum pandemi, padahal saya udah nego ke sana ke mari. Untuk mencari kelas belajar yang cocok bagi anak-anak. Ga jauh dari rumah saya. Juga ga jauh banget dari pesertanya. Serba salah juga milihnya. Tapi berusaha, berbagi jadwal di Coworking Space ini itu dan Sekolahan ini itu. 

Sudah melakukan pendekatan. Sudah ngobrol. Sudah bikin rencana. Eh ndilalah datang virus Corona. 


Untungnya saya tidak patah arang. 

Dan bondo nekad aja, bonek. Dan juga bobis, Bondo Bismillah membuat kelas online di mana akses wifi rumah saya masih murah meriah. Pakai speedy. Kadang mati. Kadang nyala. Sering lemot. 

Begitu kelas saya ramai dan laris. Bonek jilid 2, yaitu upgrade Speedy 10 mbps yang bayarnya ga sampai 200ribuan/bulan. Upgrade ke Indihome Paket Gamer, yang bayarnya 700ribuan/bulan dengan kecepatan 50mbps.

Tarik ulur rencana upgrade wifi, karena takut kemahalan. Tapi saya nekad aja. Kalau makin joss sinyal, makin banyak kelas yang bisa saya buat. Ga cuma sehari sekali. Bisa sehari 4 kali dan itu terbukti. 

Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Dan sampai sekarang saya semakin percaya diri untuk bisa menghasilkan rupiah dari rumah saja. Dan mungkin kelak bisa dapat dollar juga. Dari kemampuan akademik saya. Dari kesukaan saya pada pendidikan. 


Semoga menginspirasi.

Heni Prasetyorini