Februari: Bulan Buku dan Cinta

Tidak ada komentar
sebagian buku yang saya beli di awal bulan Februari

Niat awal menulis ini dan merekam suara secara bersamaan, menceritakan hal yang sama. Ternyata sulit bareng mengetik di keyboard sambil bicara di depan mic. Jadinya ngetiknya berhenti, lalu melanjutkan rekaman suara podcast dan diposting di anchor.fm. Podcast itu bisa didengarkan di sini ya, sambil membaca ini. Monggo...

https://anchor.fm/henipr/episodes/Bulan-Buku-dan-Cinta-eptfa2


Bulan ini adalah bulan saya umbar-umbaran membeli buku di awal bulan. Alhamdulillah dengan penghasilan saya sendiri, maksudnya tidak minta suami dan tidak memakai jatah uang bulanan keluarga.

Saya tulis sekalian judul buku yang saya beli.

  1. Buku bekas dari instagram @bukuanakjakarta. Paket bundling 8 buku Pustaka Pengetahuan Modern. Judulnya: Pantai Laut, Dunia Tumbuhan, Burung, Dunia Binatang, Kapal Laut, Tubuh Manusia, Batuan dan Mineral, Pesawat Terbang. Total 250 ribu.
  2. Buku Tasaro GK beli lewat whatsApp istrinya. Beli dua buku berjudul Al Masih dan Belahan Jiwa. Total 204ribu. Beli langsung dari istrinya ini karena pengen dapat kalimat mutiara dan tanda tangan pak Tasaro GK.
  3. Beli lagi bukunya pak Tasaro GK di Mizanstore.com karena takut kehabisan bukunya. Setelah sekilas baca buku berjudul Muhammad di ipusnas (ebook). Total malah dapat 6 buku, berjudul: Patah Hati di Tanah Suci, Muhammad 1: Lelaki Penggenggam Hujan, Muhammad 2: Generasi Penggema Hujan, SERI MAM: Rahasia Bulan (buku anak), Sembilu: Pengembaraan Rasa, Keajaiban Rezeki. Total 385.500,-
  4. Bukunya A. Fuadi, paket novel: Anak Rantau, Ranah 3 Warna, Rantau Muara. beli di tokopedia toko Revanda Book Collection, Bekasi. Sekaligus saya ikut Mini Workshop dari A. Fuadi langsung seharga 100ribu, yang akan diadakan tanggal 14 Februari 2021 menggunakan zoom.
  5. Buku 77 Permasalahan Anak dan Cara Mengatasinya, Ana Widyastuti, seharga Rp 135.000,-. Ini setelah bu Ana membagikan link video ulasan tentang Cara Mengatasi Anak Kecanduan Gadget di lama facebook pribadinya. Saya mengajukan pertemanan ke beliau ketika di mention oleh teman saya, Yeti ketika membagikan Workshop Menulis Buku Aktivitas Anak yang saya ikuti juga nanti tanggal 16, 17, 18 Februari 2021 melalu grup whatsapp, seharga Rp 100.000,-
  6. Preorder buku Rapi Jali karya Dee Lestari, beli di tokopedia Mizanstore, seharga 108.000,- . Ikutan karena lagi viral di Storial. Tapi saya milih beli buku cetaknya aja, ga beli koin untuk baca ebooknya di storial. Dan setelah lihat di instagram @deelestari bahwa buku ini udah dikonsep sejak 25 tahun yang lalu. Kan keren banget tuh.
  7. Preorder buku Sesaudara dalam Iman Sesaudara dalam Kemanusiaan, seharga 25.000. Termasuk promo Nyah Nyoh dari pak Yai Edi AH Iyubenu yang saya kenal dan follow di twitter. Baru tertarik beli buku beliau karena kemarin membaca dan mengunduh tulisan beliau tentang Wasiat Nabi yang di PIN di twitter beliau. Suka cara menulisnya sederhana.
  8. Buku novel anak tulisan mbak Achi TM, lupa judulnya, harganya total 117ribu.
  9. Tambahan 2 buku Muhammad karya Tasaro GK, totalnya sekitar 200ribu.


Nah total berapa rupiah ya ini. Coba saya hitung dulu.

Jadi totalnya sekitar 1,5 juta rupiah lengkap untuk buku dan 2 workshop menulis buku.

Ini gilaa tapi saya bahagia

Ini sebuah kegilaan, ketika berhari-hari bingung mau beli apa ya untuk hari istimewa kelahiran saya ini di bulan Februari. Apa beli oven listrik, set panci bagus atau alat olahraga sepeda statis yang murah meriah. Dan itu berat semuanya, mau beli batal melulu. Mikir melulu. Takutnya ga berguna amat. Sayang. Tapi pengen. Apa butuh? gitu aja mikirnya.

Eh tiba-tiba keluar begitu saja, transfer sana-sini untuk beli buku.

Nah, perasaan saya begitu lega dan plong dan yakin. Tidak menyesal dan mikir ulang seperti sebelumnya. Ini saya lakukan dengan yakin sekali.

Dan sengaja tidak cerita ke anak dan suami. Karena mereka semua bukan pembaca buku dan pecinta buku. Jadi bakal komentar aneh-aneh hahaha.

Dapat Puluhan Juta di Masa Pandemi Corona

Tidak ada komentar

Loh kok bisa?

Saya aja juga gak menyangka, tak mengira. 

Kemarin merekap dan menghitung ulang penghasilan saya selama bekerja dari rumah, full kerja online sejak pandemi, Maret 2020. Total semuanya lebih dari 20 juta. 

Hitungan kasarnya seperti ini,

Sejak April 2020, saya membuka kelas online belajar coding untuk anak. Sampai Desember 2020 kemarin. Total semua murid saya adalah sekitar 100 anak. Ambil biaya kelas rata-rata 200ribu/anak. Maka penghasilan saya dari kelas online adalah 20 juta. 

Selain itu, saya juga dapat pekerjaan part time remote work, sebagai Blog editor dan manajer konten writer, dengan gaji 1 juta per bulan. Dihitung sama saja dari bulan April - Desember 2020, yaitu 9 bulan. Maka total gaji part timer adalah 9 juta. 

Penghasilan saya di masa pandemi adalah 29 juta rupiah. Saya peroleh selama 9 bulan. Ini hitungan kasar atau kisaran. Hitungan sebenarnya bisa lebih dari itu karena sesekali saya juga "dibayar" karena membuat konten video edukasi dan mengisi seminar online. 

Sebagai gambaran hitungan pendapatan saya untuk kelas online, adalah:

  1. saya mengajar mulai 1 kelas per hari, menjadi 2 kelas perhari, meningkat menjadi sampai 4 kelas per hari. Terhitung kelas kelompok dan kelas privat. 
  2. Untuk kerja jadi blog editor, total saya hanya bekerja sekitar 20 -25 jam sebulan. Jadi sekitar cuma 1-2 jam sehari. Dan mengerjakan ini tidak saya lakukan setiap hari. Melainkan sekitar seminggu 2-3 kali. Karena lebih enak jika mengedit tulisan para content writer itu sekalian. Jadi sekali ngedit bisa 10-20 artikel @1000 kata. 

Saya membuka kelas online coding untuk anak itu, sebenarnya rada ragu di awal. 

Karena cemas anak-anak belum bisa ngeh cara belajar secara online.

Eh ndilalah, ada pandemi. Dan sekolah mulai mewajibkan kelas online atau kelas daring. Jadi baik anak-anak maupun orang tuanya, semakin biasa-biasa saja dengan belajar online tersebut. 

Rejekinya lagi. Tema CODING UNTUK ANAK tiba-tiba melejit dan trendi karena mas Menteri Nadiem Makarim mulai menggaungkan Pentingnya Anak Belajar Coding sejak usia dini atau usia sekolah. 

Saya mengenal konsep Coding untuk Anak sejak 2018, sebagai koordinator kelas coding anak secara offline. Ini beberapa foto-fotonya:

satu-satunya peserta perempuan dari 40 anak lainnya

pojok kanan belakang itu anak kedua saya, depannya keponakan saya
anak saya bete banget diajak belajar coding, selain ga tertarik, juga malu dengan laptop warna pink emaknya hahahaha

waktu itu belajar KODU GAME LAB, tapi ini kurang fleksibel untuk berkreasi dan harus donlot. Jadi tidak saya pilih untuk kelas-kelas sekarang

anak dan keponakan saya yang sama-sama nggak tertarik coding, jadinya mondar-mandir melulu cari makanan lah, ke toilet lah. Ohya ini ada di Rumah Kreatif BUMN Mandiri Surabaya

foto bareng anak-anak, ini angkatan 1 kelas coding kids Surabaya yang offline. Setelah angkatan 2, kelasnya berhenti karena berbagai sebab. Baik itu dari sewa ruangan yang ganti aturan menolak kelas ini. Sibuknya para pengajar. Susahnya cari ruangan untuk disewa yang ramah anak, dll.

Dan mulai riset tentang hal itu. Baru tahun 2020 berani membuka kelas online sendiri. Sebagai pengajar. Tidak hanya sebagai koordinator kegiatan. 

Saya mengenal coding sejak 2016, sampai sekarang. Mulai dari materi membuat website dengan HTML dan CSS. Lanjut diterima di Apple Developer Academy| UC Surabaya 2019 dan kenal dengan Swift Programming dan Ios Apps Development. Lalu otodidak mempelajari tentang Coding Kids and how to teach it sejak 2018. Kemudian memilih menekuni ini sampai sekarang. 

Saya bukan Sarjana Informatika atau programmer. Mengenal coding dari beberapa kegiatan saja dan selebihnya otodidak. Merasakan betul kalau belajar coding itu tampak mengerikan dan sulit banget, karena baru kenal di usia udah menjelang 40-an. Udah tua. 

Kebayang  bagaimana jika sejak anak-anak sudah pada kenal coding dan kosa kata tentang hal ini?

Pasti mereka akan jauh lebih santai untuk mempelajari coding lebih lanjut.

Itulah alasannya akhirnya saya pilih tetap di jalur coding, edukasi dan memilih kelas coding untuk anak. Saya juga suka sih, karena lucu bikin coding kids class itu. Materinya lucu dan warna-warni. Anak-anak juga lucu. Memberikan semangat baru. 


Kembali ke Penghasilan Terbesar di masa pandemi. 

Saya percaya ini semua hasil "tabungan keringat" saya bertahun-tahun sebelumnya. Dan bisa "boom" muncul momentumnya di masa pandemi. 

Ketika orang lain kelabakan gabut dan cuma rebahan di rumah saja. Saya malah gas pol tanpa pikir panjang langsung menyiapkan kelas belajar baru. Sebenarnya tidak hanya untuk anak-anak. Saya juga buka kelas blogging, cara membuat kelas online, cara mengajar programming dll untuk orang dewasa. Namun yang ikut sedikit. Kelas gratisan aja sedikit dan ga terlalu direspon. Apalagi kelas berbayar.

Jodoh rejeki saya ternyata di kelas anak-anak. Dan rencana saya juga nggak cuma di kelas coding. Tetapi ada juga kelas blogging, di mana saya udah ngeblog sejak 2009. Udah sekitar 12 tahun. Dan mendapatkan banyak manfaat dengan kemampuan nulis dan ngeblog. Pasti bagus jika anak-anak juga bisa dari kecil. 

Ah banyak sekali rencana yang saya buat, setelah menyadari bahwa saya bisa BEKERJA SECARA ONLINE DARI RUMAH SAJA dan menghasilkan pendapatan yang lumayan. 

Tulisan ini saya bagikan untuk memberikan gambaran bahwa ILMU DAN PENGALAMAN yang kita asah bertahun-tahun itu, pasti suatu saat akan menemukan JODOH WAKTU TERBAIKNYA. 

Saya lulus S2 Teknologi Pendidikan tahun 2015. Dan baru 5-6 tahun kemudian inilah menuai hasilnya berusaha bekerja di jalur edukasi non formal ini. Akhirnya ketemu juga jalur yang cocok dan saya sukai. Dan itu malah terbantu karena terbatas ini itu di masa pandemi. 

Beberapa bulan sebelum pandemi, padahal saya udah nego ke sana ke mari. Untuk mencari kelas belajar yang cocok bagi anak-anak. Ga jauh dari rumah saya. Juga ga jauh banget dari pesertanya. Serba salah juga milihnya. Tapi berusaha, berbagi jadwal di Coworking Space ini itu dan Sekolahan ini itu. 

Sudah melakukan pendekatan. Sudah ngobrol. Sudah bikin rencana. Eh ndilalah datang virus Corona. 


Untungnya saya tidak patah arang. 

Dan bondo nekad aja, bonek. Dan juga bobis, Bondo Bismillah membuat kelas online di mana akses wifi rumah saya masih murah meriah. Pakai speedy. Kadang mati. Kadang nyala. Sering lemot. 

Begitu kelas saya ramai dan laris. Bonek jilid 2, yaitu upgrade Speedy 10 mbps yang bayarnya ga sampai 200ribuan/bulan. Upgrade ke Indihome Paket Gamer, yang bayarnya 700ribuan/bulan dengan kecepatan 50mbps.

Tarik ulur rencana upgrade wifi, karena takut kemahalan. Tapi saya nekad aja. Kalau makin joss sinyal, makin banyak kelas yang bisa saya buat. Ga cuma sehari sekali. Bisa sehari 4 kali dan itu terbukti. 

Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Dan sampai sekarang saya semakin percaya diri untuk bisa menghasilkan rupiah dari rumah saja. Dan mungkin kelak bisa dapat dollar juga. Dari kemampuan akademik saya. Dari kesukaan saya pada pendidikan. 


Semoga menginspirasi.

Heni Prasetyorini