Podcast Bu Heni

Tampilkan postingan dengan label autobiografi. Tampilkan semua postingan

Seri Kuliah di ITB: Ikut Bimbel Luar Kota

Tidak ada komentar

Kuliah di ITB sekarang jadi impian hampir semua anak-anak dan orang tua, karena ITB termasuk kampus impian di Indonesia. Kalau saya memilih ITB, pada waktu itu, karena ingin menantang diri sendiri saja. Masuk ITS yang ada di tempat kelahiran saya, biasa aja pastinya. Gimana kalau kuliah lebih jauh? dan yang passing grade untuk masuk kuliahnya lebih sulit?

Menantang diri sendiri seperti hobi aneh, yang ternyata berguna juga sampai saat ini. *LOL

Sebelumnya, saya ingin membagi kisah perjuangan atau perjalanan saya belajar dari SMA sampai bisa diterima di ITB jalur UMPTN, di tahun 1997 waktu itu. 

Disclaimer: tulisan ini murni berdasarkan pengalaman saya yang belum tahu segala trik tentang Learning How To Learn, Smart Learning dan semacamnya. 

*sebenarnya mau share ini duluan di Live Youtube, tapi batal, karena SDN di belakang rumah lagi ada kegiatan akhir sekolah untuk anak kelas 6 SD, jadi rame banget :)

Pasti bakal seru kalau saya bisa menyampaikan cerita ini lewat video, namun ada kendala tadi pagi. Maka ditunda dulu bercerita lewat suara. Saya dulukan cerita lewat blog ini ya. Semoga bisa jadi referensi untuk memotivasi anak-anaknya yang ingin belajar di jenjang lebih tinggi. 

ini videonya tadi, dibuang sayang :)

Ohya, di gambar itu ada Macbook Pro besar yang lumayan harganya. Jangan bikin jiper duluan dan menganggap cerita mbak Heni ini, MBA (Modal Bacot Aja), iya bisa ini itu karena kaya dan banyak duitnya. 

Oh tidak, Alhamdulillah, saya berasal dari keluarga menengah ke bawah, cenderung miskin. Yang kalau diceritain bisa bikin kalian meneteskan air mata. Canda guys. 

Silahkan simak dulu sejenak cerita ini, nanti lebih seru lewat video atau suara emang ya. Sabar dulu. Daripada mood hilang, saya tangkap di blog ini aja dulu. 

Singkat cerita, keluarga saya itu mewajibkan anaknya sekolah atau kuliah negeri karena satu alasan. Yaitu murah bayarnya. 

Bapak saya, sudah pensiun sejak saya SMP, sebagai Purnawirawan TNI Angkatan Laut, yang waktu pensiun baru dinaikkan sebagai SERMA (Sersan Mayor). Bapak masuk dari jalur Bintara, kalau tak salah itu sebutannya. Lulus SD saja waktu itu. Sayang tak sempat bertanya ke bapak sebelum beliau wafat. Intinya bukan tentara berjabatan tinggi, melainkan biasa-biasa saja. Uang pensiunan juga tidak besar. 

Ketika bapak pensiun, dengan sedikit uang pensiun bulanan, yang menjadi tonggak nafkah keluarga adalah usahanya ibu di rumah. Berbagai hal ibu lakukan, emang sejak dulu sih, yaitu berjualan rujak, nasi, jamu, menerima pesanan tumpeng, menjahit, berjualan dan seputar itu. 

Kesulitan ekonomi ini yang juga membuat saya pindah sekolah, yang sebelumnya sejak TK-SMP di Surabaya, harus ke Jombang untuk melanjutkan SMA. 

Nilai saya cukup untuk bisa diterima di SMA Negeri 5 Surabaya, sekolah terfavorit di Surabaya dulu sampai sekarang. Namun saat itu, yang saya tahu, ibu ingin kembali ke kampung halaman yaitu di Jombang. Maka saya dan adik bungsu, ikut pindah ke sana. Termasuk sekolah. 

Usia remaja segitu, apalagi orang Jawa ya, kami atau saya dan adik tidak diberitahu alasan kepindahan ke Jombang itu kenapa. Hanya nurut saja begitu. 

Yang saya ingat, waktu mengambil Raport SMP Negeri 1 Surabaya, tempat saya sekolah untuk mengurus kepindahan di Diknas Surabaya ke Diknas Jombang, ada guru yang nyeletuk, "Kok pindah nang ndeso se Hen? kan isok ketrimo nang SMA Limo (5)?".

Saya ingat kalimat itu, tapi lupa siapa yang bicara. Dan saya tidak bereaksi atau merasakan apa-apa. Hanya nurut saja, lupa apa saya senyum atau sedih atau senang atau gimana. Hanya ingat langsung mengikuti langkah ibu untuk balik badan dan pulang naik bemo lyn W dari pinggir Jalan Pacar Surabaya. 

Sampailah saya di Jombang dan diterima di SMA Negeri 2 Jombang. Yang kabarnya juga sekolah favorit negeri di sana. 

Sejak SD ke SMP, SMP ke SMA, saya tak pernah risau dengan akan sekolah di mana. Mikirnya gampang. Sekali berangkat dengan naik satu kali jalur bemo, biar murah. Tidak terlalu terobsesi dengan sekolah favorit. Itulah cara berpikir kami, keluarga miskin ini. Sederhana.

Dan saya, sejak kecil memang suka sekali belajar. Maka asal bisa belajar, dan pasti suka belajar, sekolah di mana saja, ga masalah. Kalau harus negeri, emang benar, sekali lagi karena biar ibu bapak bisa bayar biaya yang murah untuk sekolah anaknya. Kami keluarga besar, saya anak ke-8. Terbayang besarnya tugas ibu bapak ya, semua sekolah dan hampir semua juga kuliah di kampus negeri. Dengan gaji tentara, sudah pensiun pula, ditambah kerja serabutan seorang ibu rumah tangga. 

Saya sekolah di Jombang, terhitung sebagai sekolah "ndeso" atau desa. Jauh banget dari perkembangan di Surabaya. Belum ada bimbel seperti Primagama dll pada waktu itu, sekitar tahun 1996. Maka ketika naik kelas 3 SMA, saya ikutan teman-teman juga sepertinya, saya putuskan ikut Bimbel Luar kota di Surabaya. 

Saya mendaftar di Phi Beta, bimbelnya ada di Jalan Bali Surabaya. Ikut bimbel luar kota itu maksudnya, belajarnya hanya hari Minggu, mulai jam 8 pagi sampai 1 siang. Terhitung 5 jam untuk 5 materi belajar persiapan EBTANAS dan UMPTN. Yaitu Kimia, Matematika, Fisika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. 

Jadi selama 1 tahun, di kelas 3 SMA, setiap hari Sabtu itu saya pulang sekolah jam 12 siang. Pulang di rumah tante (adiknya ibu), makan siang sebentar, mandi, menyiapkan buku untuk bimbel dan baju ganti. Lalu naik bemo menuju terminal bis kota, di depan rumah tante. Perjalanan naik bis kota dari Jombang ke Surabaya, ganti beberapa kali, lalu naik bemo lagi sampai ke rumah ibu di Surabaya, itu rata-rata dari siang sampai jam 7 malam. Karena harus nunggu bemo/bis penuh, istilahnya nge-tem dulu. Ganti bis. Nge-tem lagi. Ganti bemo. Nge-tem lagi. Begitu terus. Apalagi hari Sabtu adalah hari macet jalur luar kota. Hari orang yang kerja di Surabaya akan pulang ke desa/daerahnya karena libur kerja. Ditambah hari liburan atau piknik atau malam mingguan orang yang tinggal di Surabaya. Macet pokoknya. 

Sampai di rumah ibu di Surabaya, sekitar jam 7 malam, saya akan mandi, makan, naik ke kamar kakak dan adik perempuan, lalu belajar karena di bimbel selalu ada pre-test sebelum kelas dimulai. 

Esoknya, hari Minggu, saya akan diantar kakak ke Jalan Bali, tempat bimbel. Lalu ditinggal. Saya belajar di sana selama 5 jam. Untuk makan siang, kadang bawa bekal dari ibu. Kadang membeli tahu isi aja yang gede dan bikin kenyang di kantin bimbel. 

Bimbel selesai sekitar jam 2 siang, saya akan berjalan di pinggir jalan untuk mencegat bis DAMRI menuju ke terminal Bungurasih untuk naik bis luar kota ke Jombang. 

Sampai di Jombang, rumah tante, sekitar jam 7 atau 8 malam. Saya akan mandi, makan malam, dan sekali lagi belajar sebelum tidur. Mengulang lagi pelajaran di bimbel. Mengatur buku dengan baik. Dan juga kroscek dengan tugas dan materi pelajaran untuk sekolah besok Senin.

Ini berputar terus rutin, selama satu tahun utuh tanpa jeda karena saya lelah atau bosan. 

Dan anehnya, nggak ada lelah dan bosan. Dan tidak juga saya berhenti karena sakit. 

Kalau sakit flu, panas, batuk, itu saja akan saya abaikan. 

Pulang ke Surabaya setiap hari Sabtu juga untuk melipur rindu. Bisa makan masakan ibu. Ketika seminggu makan di rumah tante. 

Kenapa kok tiba-tiba di rumah tante, mbak Hen?

Karena ketika saya kelas 3 SMA, ibu memutuskan kembali tinggal di Surabaya. Adik saya sudah lulus SMP jadi bisa ikut ibu ke sana. Giliran saya yang tinggal setahun lagi SMA di Jombang, jadinya terpaksa ditinggal. 

Sekali lagi, saya tidak pernah risau dengan kondisi begini. Karena fokus saya hanya di belajar dan lulus EBTANAS bagus, siap dan lolos UMPTN lalu bisa diterima kuliah di kampus negeri. Itu saja. Lainnya boleh terjadi apa saja saya terima dan jalani saja. 

Wah capek juga nih, ngos-ngosan nulisnya. Lanjut nanti ya. Sekalian udah bisa live streaming. Nanti saya sertakan videonya di bawah ini. 

Tarik nafas dulu juga kalian... :)

Nikah Dulu Baru S2

Tidak ada komentar

 Judulnya bukan untuk memprovokasi kalian untuk menikah muda. Nanti jadi korban Pernikahan Dini, bahaya. Halah. Yang tahu judul sinetron yang dimainkan Agnes Monica dan Syahrul Gunawan ini, fix, kita seumuran. 

Judulnya adalah cerita hidup saya. Yang nggak hebat-hebat amat, jadi ditulis bukan untuk ditiru atau dijadikan target hidup. Apalagi masuk dalam Vision Board kalian di rumah. Jangan. 

Ini adalah berbagi cerita, bahwa yang namanya Menikah Itu, memang beneran nggak mudah. Baik itu untuk perempuan Sarjana, Lulusan SMA, tidak sempat sekolah atau tidak boleh ikut ujian SD seperti ibu saya. 

Baiklah, mari kita lanjutkan ceritanya. 

saya dan suami di usia 20 tahun pernikahan

Begini, sebenarnya rada enggan ngobrolin tentang rumah tangga dan cinta-cintaan di media sosial atau di blog. Bukannya apa, takut menyinggung perasaan kalian yang berbeda cerita. 

Tapi sepertinya udah di usia 42 tahun ini, ya saatnya mendongeng alias berbagi cerita. Siapa tahu ada yang mengena di hati kalian dan bisa nambah wawasan untuk berpikir jernih sebelum mengambil keputusan untuk menikah. 


NIKAH DULU BARU S2

Iya benar. Tiga bulan sebelum Sidang Sarjana di Kimia ITB, saya menikah. Lalu mengerjakan Skripsi, sidang, baru lulus kuliah. 

Singkat cerita, setelah lulus Sarjana di Bandung, saya dan suami memutuskan kembali ke kota kelahiran saya di Surabaya. Hampir selama 12 tahun saya menjadi Ibu Rumah Tangga, yang melanjutkan kuliah S2 dengan biaya sendiri, alias didanai oleh gaji dan tabungan suami. Saya, sama sekali tidak berpenghasilan pada saat itu. 

Kok keren mbak Hen?

Kelihatannya iya. Tapi bener-bener itu adalah sejarah yang berdarah-darah. 


Menjadi Ibu Rumah Tangga setelah lulus Sarjana, sama sekali bukan impian saya bahkan bukan target hidup saya. Saat itu seharusnya saya menjadi PENELITI BIOKIMIA MEDIS di LIPI Bandung. Tepatnya di Laboratorium Bio Molekuler, tempat saya menyelesaikan Tugas Akhir, membantu ibu Zalinar Udin, Kepala Balai Laboratorium itu, yang kebetulan satu grup dengan saya, satu Dosen Pembimbing, almarhum bapak Agus Noer. 

Tugas akhir saya membantu penelitian Disertasi bu Zalinar yang sedang mengambil S3. Judul Skripsi saya adalah penelitian tentang Interaksi DNA Bakteri Salmonella Typhi dengan Ekstrak Tanaman Obat Gardenia Tubifera WALL. 

Wuhuu, saya masih hafal judul skripsi ini di luar kepala.

Hebat?

Bukan itu. Tapi menjadi dosen atau peneliti memang target saya selama kuliah. Bahkan ketika masih SMP dan SMA, atau masih muda, saya sudah "didoktrin" oleh ibu saya untuk kelak menjadi WANITA KARIR dan jangan sampai seperti ibu saya, yang (hanya) menjadi ibu rumah tangga. 

Kebayang apa yang terjadi, ketika strategi pasca menikah saya meleset. Yang harusnya, berdua dengan suami berkarir di Bandung, sama-sama menjadi pegawai BUMN. Lalu melepaskan semuanya dan kembali ke titik nol lagi di Surabaya. 

Suami saya dulu bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nasional) yang dibangun oleh bapak B.J. Habibie. Kelak berubah nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia. 

Dengan dua posisi karir yang sama-sama keren dan matang ini, kami berdua berani melangkah untuk menikah bahkan sebelum saya lulus Sarjana. 


BULAN MADU = NGERJAKAN SKRIPSI

Menikah dengan hal yang manis-manis dan unyu-unyu itu, serius nih, hanya ada di media sosial. Atau di cerita-cerita buku roman. 

Mungkin bisa begitu, kalau pernikahan sudah dalam kondisi ekonomi mapan, berkecukupan bahkan berlebihan. 

Sementara kami, nekad menikah dalam kondisi MINUS alias di bawah titik nol. 

Setelah menikah, kami tak punya tabungan sama sekali. Sepertinya hanya beberapa ratus ribu rupiah saja. Dan itu harus dibagi dengan ongkos naik kereta api kembali ke Bandung, segera, karena saya harus menyelesaikan Seminar Tugas Akhir, lalu skripsi dan sidang. 

Sejenak saja menggelar resepsi pernikahan yang biayanya hasil patungan dari keluarga besar. Lalu beberapa hari saja menginap di rumah orang tua suami. Tidak sampai sepasar atau seminggu kemudian, kami sudah harus kembali ke Bandung. Karena jadwal Seminar Tugas Akhir saya sudah keluar. 

Tanpa pikir panjang untuk bersenang-senang dan bahkan mengecewakan keluarga besar karena tidak sempat banyak menemui tamu dah saudara, kami hanya berkomitmen untuk menyelesaikan kuliah secepat mungkin. Dan tidak menundanya karena akan berdampak pada biaya.


KAMAR KOS PENUH TIKUS

Tidak begitu kaget juga ketika sepasang pengantin baru ini masuk ke kamar kos yang diobrak-abrik tikus di dalam kamar. Yang namanya Mesin Ketik manual saya, habis sudah dengan air kencing dan kotoran tikus yang kecil-kecil. Buku-buku, modul kuliah dan isi rak buku yang terbuka, kena juga jadi tempat pesta pora mereka, si Mickey Mouse, begitu saya menyebut para tikus berkuping bulat, berbadan kecil dan ke sana ke mari suka berjalan sambil membuang kotorannya itu. 

Tanpa ada amarah, tangis, sesal atau jengkel, kami meletakkan tas ransel dan barang bawaan di lantai kamar kos. Lalu gerak cepat membersihkan ini itu. Kemudian mandi dan beristirahat. 

Bersih-bersihnya tidak mudah ya, karena kamar mandi dan akses air bersih hanya ada di lantai bawah ibu kos. Kami ada di kamar atas, lantai kayu sementara yang dirombak menjadi kamar semi permanen dan kemudian disewakan sebagai tempat kos. Sebuah tempat yang kurang layak sebenarnya, namun itulah yang cukup untuk kantong kami berdua. 

Tinggal sekitar beberapa bulan di situ, sampai akhirnya kami putuskan mencari tempat kos yang lebih bersih dan di lantai satu saja, sehingga tidak repot kalau harus ke kamar mandi. Syukurlah akhirnya nemu pas di belakang gedung LIPI Bandung. Jadi saya kalau harus ke laboratorium, lebih dekat. Walaupun sama juga hanya perlu jalan kaki saja seperti di tempat kos sebelumnya. 

Ketika saya di Bandung, suami saya harusnya masih kuliah lagi di ITS (Surabaya), namun tinggal menyelesaikan skripsi. Ya suami saya lulusan D3 Teknik Mesin ITS, lalu kerja di IPTN atau PT. DI yang mengambil cuti belajar untuk kuliah lagi melanjutkan ke jenjang S1. 

Sebenarnya, semuanya akan sempurna, jika itungan kami berdua tepat. 

Seharusnya jika sesuai jadwal, kami berdua akan lulus barengan jadi Sarjana. Beneran barengan. 

Akan tetapi, nasib berkata lain, tugas akhir suami saya rumit. Mungkin topiknya yang dikaitkan dengan industri pesawat terbang tempatnya bekerja ya, jadi untuk menemukan software yang pas aja butuh perjuangan. Apalagi kami berdua hanya punya satu unit laptop Celeron, yang sering ngadat ketika suami butuh mengerjakannya untuk skripsi. 

Jangan ditanya bagaimana kondisi pengantin baru yang sama-sama didera skripsi ini. 

Asyik-asyik saja?

Tentu tidak. 

Tegang. Kepikiran terus. Harus berhemat sangat, karena gaji suami kan jadi setengah doang karena cuti belajar. Kebayang kan, setengah gaji untuk biaya hidup sehari-hari, bayar SPP kuliah berdua, bayar kos, transportasi naik angkot sampai 6 kali pulang pergi. Berat banget. 

Dan, kami sama sekali tidak menelepon orang tua atau mertua dan menangis-nangis minta pertolongan. Semua kami ambil sebagai tanggung jawab yang harus dipikul oleh kedua pundak kami sendiri. 

Ketika saya sudah yakin akan bekerja menjadi PENELITI sesuai impian dan target selama kuliah, lalu tiba-tiba saya terlambat datang bulan dan positif hamil, maka melepaskan impian itu dan sepakat kembali ke Surabaya adalah bentuk tanggung jawab saya sebagai perempuan yang memutuskan untuk menikah. 


MENIKAH ADALAH PERKARA TANGGUNG JAWAB

Dan, ketika saya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja selama belasan tahun, itu juga bentuk tanggung jawab.

Mungkin saja, kalian tidak mengalami hal yang sama dan masih bisa melakukan ini itu, bekerja, mencari penghasilan, bisnis dan lain sebagainya selama awal pernikahan. Namun, saya, tidak. 

Kondisi dan situasi saya, anak-anak dan suami yang masih merintis karir, membuat saya berpikir untuk mengalah lebih dulu. Menerima semua keterbatasan keuangan, aktivitas dan meredam ambisi pribadi, semata untuk membuat kondisi RUMAH TANGGA STABIL dulu. 

Baru ketika semua sudah kuat. Anak-anak sehat dan kuat dan mandiri. Suami sudah punya pekerjaan tetap yang bagus dengan posisi yang sangat kompeten di bidangnya. Barulah saya beranjak untuk kembali berkiprah. 

Bayangkan keputusan yang saya ambil ini membutuhkan waktu belasan tahun. Bukan sulap. Dan tidak instan sama sekali. 

Berusaha menahan diri atas nama tanggung jawab mengurus anak-anak, suami dan rumah tangga. Tanpa sama sekali merepotkan kedua belah orang tua. Adalah SENJATA UTAMA untuk laki-laki dan perempuan yang memutuskan untuk menikah. 

Tentu saja sangat tidak enak lebih banyak daripada enaknya. 

Konflik pun mudah terpicu. Karena saya dan suami sama-sama capek lahir batin. Sama-sama berusaha di sisi masing-masing. Dia bekerja sebagai Kepala Keluarga, walau harus lembur tiap hari bahkan sakit Typhus ketika anak-anak masih bayi. Saya pun harus menggedor pintu tetangga ketika tengah malam, meminta bantuan diantarkan ke rumah sakit. Karena saya ada bayi dan anak balita, tentu tidak bisa meninggalkan mereka berdua di rumah untuk membonceng suami saya ke dokter, kan?

Capek. Harus berhemat. Jarang piknik, karena harus berhemat pula. Menyimpan dalam-dalam semua kesusahan dari orang tua. Walau tak jarang, jadinya saudara dan orang tua menganggap kita sebagai orang yang pelit, tak peduli dan anti sosial, karena menarik diri dari beberapa hal dan kegiatan, serta tak mampu menceritakan kondisi keuangan yang sangat ketat dan harus super ngirit. 

Tak mudah menjalani ini semua. Bahkan ketika melanjutkan S2 juga entah komentar muncul dari kanan, kiri, atas dan bawah, masih terus saja ada. 

Kalau dipikir-pikir sekarang, kenapa saya dulu seberani itu melepaskan pekerjaan sebagai Peneliti. Padahal kuliah berdarah-darah selama 4 tahun demi menggapainya. 

Kenapa juga saya sukarela menjadi ibu rumah tangga saja, padahal bisa saja merepotkan orang tua, meminta bantuan ini itu supaya karir saya tetap jalan dan meningkat. 

Kenapa juga saya mau susah payah kuliah lagi S2, padahal pekerjaan suami sudah aman dan saya bisa duduk tenang menerima nafkahnya?

Ini semua adalah perkara TANGGUNG JAWAB. 

Saya menjadi ibu rumah tangga, karena merasa bahwa anak-anak yang saya lahirkan adalah tanggung jawab saya, bukan tugas kakek-neneknya. 

Bahwa saya kuliah lagi S2, itu adalah juga cara membuka pintu untuk kembali mengamalkan ilmu dan kemampuan diri, sebagai bentuk tanggung jawab saya diberikan titipan bakat sebagai pembelajar yang suka belajar dan mengajar. 

Nikah dulu baru S2. 

S2 dulu baru nikah. 

Menikah atau tidak menikah. Yang penting harus berani bertanggung jawab.