Podcast Bu Heni

Tampilkan postingan dengan label teknologi pendidikan. Tampilkan semua postingan

Mengenal Grafologi, Ilmu Analisa Tulisan Tangan

2 komentar
Hari Minggu, 14 Februari 2016 kemarin, saya mengikuti Mini Workshop Grafologi di salah satu hotel Surabaya. Acara ini diselenggarakan oleh Psiko Hipnotis, lembaga pelatihan hipnotis dan grafologi dari Surabaya.  

Apa itu Grafologi?
Kenapa saya tertarik dengan Grafologi?

Saya ingat, sepertinya cukup lama, hampir 5 tahun saya mengenal istilah ini. Dari sebuah tayangan di televisi tentang seorang grafolog yang sedang menjadi narasumber tentang analisa tulisan tangan. Waktu itu saya tertarik, 'wah ternyata tulisan tangan manusia bisa "dibaca" dengan detil dan mengungkapkan sisi psikologis manusia. 
Sayangnya pada waktu itu, pelatihan tentang Grafologi masih terpusat di Jakarta. Walaupun buku tentang Grafologi sudah ada di toko buku, namun rasanya tidak pas jika belum bertemu langsung dengan grafolog untuk mempelajarinya pertama kali. 
Sampai akhirnya, tanpa sengaja, saya mengenal salah satu coach Grafolog sekaligus web designer, pak Nugroho. Waktu itu saya iseng saja membaca status kontak Whatsapp saya di ponsel. Ternyata ada salah satu status berbunyi, Dibuka Pelatihan Grafologi di Surabaya. Kontak yang tertulis adalah Dunia Bros dan Aksesoris, namun foto pofilnya seorang laki-laki. Iseng saya bertanya tentang pelatihan tersebut. Sampai akhirnya ada pemberitahuan adanya Mini Workshop, sebuah pelatihan pengenalan tentang Grafologi. 


pak Nugroho

Mbak Anisa, Istri pak Nugroho, pemilik akun Dunia Bros & Aksesoris di ponsel saya

coach Banu (gurunya pak Nugroho).
- my handmade binder note ikutang nampang :) - 

Mini Workshop ini memberikan pengenalan singkat tentang Grafologi, hipnotis  dan 9 tanda bahaya dalam tulisan tangan yang harus kita waspadai. 
Hah, tanda bahaya???

Jadi begini, intinya adalah grafologi adalah ilmu untuk menganalisis tulisan tangan. Tulisan tangan adalah bentuk ekspresi dari otak tentang apa yang terjadi dalam diri seseorang. Apakah dia mengalami sedih, gembira, bingung, marah, percaya diri, rendah diri, putus asa atau bahkan tidak peduli dan ingin mengakhiri hidupnya.
credit

credit

Tanpa disadari semua hal yang terjadi dalam diri seseorang itu bisa tampak dari bentuk tulisan tangannya. Grafologi menganalisanya dengan mengamati trait tulisan. Trait bisa terdiri dari bentuk huruf, kemiringan tulisan, tanda titik, adanya bentuk tajam dan lain sebagainya. Seperti contoh analisa oleh Deborah Dewi, seorang grafolog Indonesia dibawah ini : 
credit

Gambar diatas adalah hasil analisa mbak Deborah. Beliau menganalisa tulisan tangan Presiden Jokowi tentang hubungan Indonesia-Amerika. Dalam laman sumber disebutkan bahwa, dari tulisan tangan pak Jokowi, terlihat adanya keraguan atas hubungan kerjasama dua negara tersebut, namun ada juga harapan yang besar. Nah semua ini bisa dipelajari dalam ilmu Grafologi. 

Apa manfaatnya jika kita mempelajari Grafologi?
Untuk dunia pendidikan, grafologi bisa membaca potensi siswa sehingga bisa mengarahkan jurusan pendidikan yang bisa ditekuni lebih lanjut. Untuk pengembangan diri, grafologi bisa membaca sifat, karakter, kekurangan dan kelebihan diri. Banyak yang sudah menggunakan grafologi, bahkan di dunia penegakan hukum, teknik membaca tulisan tangan ini digunakan untuk menganalisa seorang kriminal dan menjadi pendukung data tes psikologi atau lie detector.

Bagaimana jika dengan grafologi, ditemukan adanya kekurangan diri atau tanda bahaya?
Nah, untuk mengatasi hal tersebut ada sesi yang dinamakan Grapho Teraphy, atau terapi grafologi. Jadi seseorang itu diminta untuk mengubah tulisan tangannya selama beberapa waktu, sehingga secara tidak langsung dapat mengubah kekurangannya tersebut. 

Sebenarnya, apa saja sih 9 tanda bahaya itu?
Jika penasaran bisa langsung belajar di Psiko Hipnotis Surabaya, bisa dihubungi disini. 
Semoga bermanfaat :)

-HPR-







Good bye Bookmark, Welcome Evernote Web Clipper

5 komentar
Pernahkah anda mengalami kesulitan mengingat judul website yang telah anda bookmark?
Dan ketika membuka bilah bookmark di Google Chrome, pening sendiri dengan daftarnya yang panjang? 
Dan karena frustasi akhirnya anda pun browsing lagi dan mencari informasi baru, yang belum tentu sebaik hasil browsing sebelumnya. Bete kan?

Nah, sekarang nggak perlu bete lagi, ada solusinya. Yaitu aplikasi keren bernama EVERNOTE. 

Saya jatuh cinta pada aplikasi ini sejak rajin mencari informasi tentang e-learning, dan akhirnya menemukannya.

Evernote.com
Evernote adalah aplikasi pengorganisasian catatan, sekilas mirip dengan Google Drive. Kita bisa menyimpan file di aplikasi itu dan membaginya dengan mudah. Fitur lengkap evernote akan dibahas khusus di artikel lain. 

Evernote mempunyai fitur yang bisa mengatasi masalah klasik bookmark, yaitu Evernote Web Clipper. Web clipper ini bisa dipasang widgetnya di chrome extension, jadi lebih mudah untuk diaplikasikan pada laman web yang ingin kita simpan. 

Sebelumnya, anda bisa mencari di Google, "Download Evernote Web Clipper". Lalu ikutilah prosedurnya. Setelah aplikasi terunduh di laptop dan widget chrome anda, maka perlu dilakukan "sign up" akun dulu di Evernote. 

Kenapa ini dilakukan?
Karena Evernote adalah aplikasi yang bisa diakses di semua gadget, di komputer, laptop dan android. Dengan mempunyai akun di Evernote, maka anda bisa mengakses informasi yang sama seperti yang anda simpan dalam akun anda. Termasuk Evernote Web Clipper. 

Jadi, bagaimana cara menyimpan laman penting hasil browsingan kita dengan Evernote Web Clipper?

1. Bukalah website/laman yang ingin disimpan. 
     Contohnya : http://www.theworkathomewoman.com/internet-research/ 

2. Lalu klik icon gambar gajah di sudut kanan atas, sehingga muncullah kotak perintah web clipper,
     seperti di bawah ini:

Web Clip Laman dengan Evernote Web Clipper
 3. Pilihlah jenis clip yang ingin disimpan dan ditampilkan di Evernote. Bisa Artikel, Artikel           Sederhana, Laman Penuh, dll.

4. Lengkapi membuat Folder penyimpanan, contoh: folder BLOGGER. lalu klik SIMPAN.

5. Setelah langkah selesai, maka bukalah kembali laman evernote.com dengan akun anda. Maka akan muncul tampilan seperti berikut di Home evernote anda.

Tampilan Hasil Web Clipper di Desktop Laptop
6. Evernote juga bisa diunduh dan diakses di tablet android atau ponsel android (smartphone). Setelah diunduh dan login, maka akan tampil juga hasil Web Clipper anda di gadget tersebut. Seperti         tampilan di bawah ini:


Tampilan Hasil Web Clipper di Tablet Android
7. Evernote Web Clipper, bisa menampilkan Artikel Sederhana lengkap semua artikelnya bisa dibaca langsung tanpa membuka dulu link sumber aslinya, seperti gambar di bawah ini :

Tampilan Hasil Web Clipper di Tablet Android
*klik gambar untuk memperbesar

Sehingga ketika kita ingin melihat ulang semua laman yang telah disimpan (di web clip), akan lebih mudah. Karena ada lengkap, tampilan gambar, tulisan artikel, dll. Bahkan kita bisa kembali membuka link hidup artikelnya, dengan menge-klik 'OPEN SOURCE' seperti yang ada di garis merah di atas.

Untuk versi gratis (free version), fitur di Evernote ini hanya bisa diakses secara online (ada sambungan internet). Akan tetapi jika kita sudah upgrade ke versi premium dan berbayar, maka webclipper bisa diakses secara offline.

Aplikasi Evernote Web Clipper ini menarik sekali dan bisa membantu pekerjaan anda lebih efektif. Menerapkannya dalam pembelajaran di sekolah/kuliah, bisa membantu guru dan muridnya dalam menggunakan teknologi internet untuk mempermudah kegiatan belajar mengajar. Selamat mencoba.

-HPR-

Mengenal Konsep Sex Education Dengan Cara Bermain

7 komentar
Hari Minggu kemarin, tanggal 8 November 2015 keponakan saya - Dita - yang kuliah di jurusan Despro ITS datang ke rumah ibu. Info awal sih, katanya si Dita ini ingin menguji produk 'game' yang dia buat ke keponakan lain. Game ini nanti mau diujikan dalam sidang sarjananya.

Saya semangat mengajak anak-anak untuk ikut ke rumah ibu saya. Saya pikir bakal mereview game digital seperti yang biasa mereka mainkan. Ternyata maksudnya adalah alat peraga permainan. Salah paham :)

Dita kemudian cuma memilih keponakan yang duduk di kelas 3 sampai 5 SD, sesuai target penelitiannya. Game atau alat bermain yang dibawa Dita ini seperti permainan ular tangga. Pionnya dari kertas. Namun tidak ada langkah ular atau merosot turun. Hanya meliuk sesuai garis maze. Di tiap langkah berhenti, sesuai angka dadu, anak diberi kartu untuk dibaca. Isi kartu adalah tentang pengenalan sex education pada anak.


Wah, lucu juga nih. Saya mengamati reaksi keponakan-keponakan yang sedang bermain. Mereka senang dan tertarik. Ketika ada satu kartu bertuliskan, "Apa yang kau lakukan ketika ada orang asing yang memegangmu?".

Aneka macam jawaban bersahutan muncul:
" aku nggak pernah"
"Aku lariii"

Dita lalu memancing tanya, "kamu akan bilang ke mama nggak?"
Serempak mereka menjawab, "bilaaang".

Setiap anak yang membaca kartu, mendapat hadiah satu keping puzzle besar. Di akhir permainan, semua keping puzzle dikumpulkan lalu dipasang bersama. Dan akhirnya berbentuk pesan utama tentang Sex Education pada anak.


Kreatif ya?... Bisa diterapkan untuk menyampaikan pesan moral yang lain untuk anak-anak seusia mereka. Tepat sekali caranya karena masa bermain sangat dominan. Pembelajaran berdasarkan permainan ini, bisa disebut Game-based Learning. Yaitu penggunaan game dan perangkat bermain untuk menyampaikan materi pelajaran.

Papan maze itu bisa menjadi media pembelajaran yang efektif, jika kemudian selesai bermain anak-anak diajak untuk mereview ulang. Kemudian pengajar memberikan penguatan pada inti materi yang diberikan sehingga tujuan belajar bisa tercapai.

Dengan cara ini, anak tidak langsung mendengar kalimat sex education. Yang mungkin juga mereka belum paham. Akan tetapi mereka sudah tahu, bahwa isi di kartu permainan adalah hal penting yang harus mereka perhatikan. 

Menjelaskan perihal sex education memang harus sesuai dengan umur dan tahapan perkembangan anak. Di usia dini sampai sekolah dasar, anak hanya perlu diberi pengertian bahwa laki-laki dan perempuan berbeda secara fisik. Bagaimana cara menjaga kebersihan dan kesehatan alat kelamin. Siapa saja yang boleh memegang daerah tertentu tubuhnya. Aturan agama yang harus ditaati sejak dini pun dibiasakan, seperti tidak keluar dari kamar mandi tanpa memakai baju apapun, dsb.

Ketika beranjak remaja, pengenalan sex education meningkat. Mulai dari perkembangan biologis seperti mimpi basah dan menstruasi. Kebersihan, kesehatan serta yang terpenting pengenalan kegiatan reproduksi manusia yang harus dikaitkan dengan norma agama. Bahwa hubungan laki-laki dan perempuan, harus dilakukan setelah ada pernikahan resmi. 

Biasanya orang tua masih segan, malu, kikuk dan tabu untuk membicarakan hal ini pada anak remajanya. Tetapi mau tidak mau, kita harus melakukannya. Kata bu Elly Risman, sejak umur 9 - 10 tahun sebaiknya anak mendengar tentang hubungan sex manusia itu dari orang tuanya sendiri. Saya pun memberanikan diri bicara pada anak sulung saya, lelaki, ketika dia kelas 5 SD. Saya khawatir jika tidak bicara, maka anak akan mencari sendiri entah tanya teman atau dari internet.

Dan benar saja, saya coba browsing di google tentang Sex Education, lalu muncul juga video porno tentang hubungan suami istri. Serem kan kalo anak-anak mengakses sendiri tanpa dibekali ilmu dari ortunya???

Maka sungguh bijaksana jika sedini mungkin kita beri anak-anak bekal ilmu dan iman yang kuat, sehingga kelak mereka mampu menyaring sendiri hal yang baik dan tidak.

Semoga menginspirasi
-Heni PR - 


Anak Keduaku Sepertinya Bergaya Belajar Auditorial

2 komentar
Nama panggilannya Aji.
Ada kata Dirgantara di belakang namanya, itu sengaja kami lakukan untuk mengenang jasa perusahaan yang telah membesarkan dan memberi kesempatan bapaknya untuk kuliah lagi, yaitu PT. Dirgantara Indonesia atau IPTN (untuk nama lamanya) - tempat bapaknya Aji bekerja.

Aji, adalah anak kedua saya. Dia lahir prematur dengan adanya masalah pada alat pernafasannya. Yaitu diagnosa prematur dengan paru-paru kiri belum sempurna. Aji harus  ada di inkubator selama 14 hari. Ketika baru lahir, tubuh Aji beranjak berwarna biru dan nafasnya ngos-ngosan seperti orang habis lomba lari.

Alhamdulillah, akhirnya kami masih diberi  kepercayaan untuk mengasuh Aji sampai saat ini, dan semoga sampai masa terbaik kami nanti. Aji sekarang kelas 1 SD, umurnya 7 tahun. Dia sekolah di SD Islam Terpadu Daarul Muttaqien Surabaya. Lokasinya hanya 15 menit dari rumah kami.

Di sekolah ini, Aji mengalami hal yang istimewa. Istimewa menurut saya ibunya :)
Ketika masuk, ada tes menguji kemampuan calistung dasar Aji. Istimewanya Aji perlu ujian dua kali, karena dianggap mungkin untuk tes kedua, kondisi Aji lebih siap sehingga hasilnya lebih akurat.

Singkat cerita, kemampuan calistung Aji masih terkendala di dua hal yaitu kemampuan membaca dan menulis. Untuk matematika, malah menurut saya, dia maju dengan cepat dan dengan minatnya sendiri. Bahkan ketika masih TK, Aji bisa menghitung mundur dari angka 100 dengan benar, dan dari angka 10 dengan sangat cepat.

Kurangnya Aji membaca dan menulis ini terjadi sejak TK. Saya dan gurunya belum menemukan cara yang tepat agar Aji bisa menghafalkan huruf dengan sempurna dan bisa membaca. Tetapi karena pihak SD mengatakan sebelumnya hal ini tidak masalah, maka saya yakin memasukkan Aji disana. Tidak perlu tetap tinggal kelas di TK.

Dalam perjalanan sampai akhir semester, saya dan gurunya Aji masih mengamati adanya kesulitan Aji untuk membaca dan memahami bacaan. Walaupun dalam perjalanannya saya sudah berusaha memasukkan Aji ke sebuah bimbel baca, dengan harapan ada pengalaman baru yang memotivasinya dan membuatnya yakin bahwa di sebenarnya bisa membaca.

Dan prediksi saya itu benar. Hanya satu bulan saja di bimbel, sudah ada peningkatan yang signifikan untuk kemampuan membacanya. Aji pun menunjukkan minat untuk membaca apa saja, yang sebelumnya tidak muncul. Kami pun memberi apresiasi dengan memberikan hadiah berupa sepeda lipat yang sudah lama di idam-idamkan.

Kami pikir, dengan Aji mulai lancar dan suka membaca, masalah belajarnya di kelas terutama, akan selesai. Tapi ternyata belum. Gurunya Aji masih mengeluh bahwa AJi di kelas masih sering melamun, butuh bimbingan untuk mengerjakan soal dan sering menulis huruf yang terbalik.

Saya menjawab, kenapa bisa begitu? karena ketika di rumah, Aji belajar dengan saya lancar saja. Bisa mengerti dan mengerjakan soal. Tetapi ketika sampai di sekolah, Aji sering tidak bisa merespon keterangan gurunya, menjawab soal ujian paper-test.

Gurunya menambahkan, Aji bisa fokus dan merespon dengan baik jika berhadapan langsung dengan gurunya. Jadi diminta untuk duduk di depan gurunya, atau di samping gurunya. Intinya menjauh dari teman-temannya.

Saya sampaikan, di rumah juga begitu. Jika belajar menghadap buku, Aji tidak bisa jika seruangan dengan kakaknya. Maka saya pindah belajar membaca buku dan mengerjakan soal tertulis di kamar saya. Itu sukses. 

Ketika di rumah, saya tanyakan kepada Aji, kalau di kelas bagaimana?
intinya Aji menjawab, "di kelas kalau ramai, temanku ngomong-ngomong aku bingung"

Dengan jawaban Aji ini saya menduga, jangan-jangan gaya belajar Aji itu AUDITORIAL. Sangat berbeda dengan saya, bapaknya dan kakaknya. Kami bertiga sangat VISUAL. Kami suka membaca buku dan tidak terganggu dengan suara apapun.

Dengan begitu, saya coba mempraktekkan metode belajar yang lain pada Aji. Saya mengajaknya tebak-tebakan, membacakan materi belajarnya, lalu main cerdas cermat berebut menjawab dengan kakaknya. Kata Aji, cara ini membuatnya ingat. Tetapi ada kendala lain, yaitu untuk pelajaran bahasa Inggris dan bahasa Jawa. Karena keduanya berbeda tulisan dan cara membacanya. Aduh, tugas saya belum selesai.

 Dari literatur yang saya cari, eh ternyata benar, anakku Aji sepertinya tipe auditorial dalam belajar.

AUDITORI (Auditory Learners )
Gaya belajar Auditori (Auditory Learners) mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.
Ciri-ciri gaya belajar Auditori yaitu :
  1. Mampu mengingat dengan baik penjelasan guru di depan kelas, atau materi yang didiskusikan dalam kelompok/ kelas
  2. Pendengar ulung: anak mudah menguasai materi iklan/ lagu di televise/ radio
  3. Cenderung banyak omong
  4. Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya
  5. Kurang cakap dalm mengerjakan tugas mengarang/ menulis
  6. Senang berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain
  7. Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru dilingkungan sekitarnya, seperti hadirnya  anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas, dll

sumber : http://www.gayabelajar.net/gaya-belajar-anda-visual-auditori-atau-kinestetik.html

Dari kutipan web berikut juga menggambarkan yang terjadi pada anak saya, dia pernah berkata "aku ini anak bodoh ya ma, aku ini bodoh". Dan itu menghancurkan hati saya *serius walau lebay :)

During my first session with Derek he said, “I can’t do the work because I’m stupid.” I replied, “You’re not stupid, you just need to learn how you learn.” He gave me a puzzled look, so I said, “Some of us learn best by seeing, some by hearing, and some by doing. Let’s see what works best for you.”
Here are some characteristics of auditory learners and what strategies maximize their learning.
Auditory Learners Usually:
  • Enjoy talking.
  • Talk aloud to themselves.
  • Like explaining things to others.
  • Remember names.
  • Recognize variations in a person’s tone of voice.
  • Understand concepts better by talking about them.
  • Are distracted by background noise.
  • Have difficulty following written directions.
  • Read slowly.
  • Have difficulty being quiet for extended periods of time.
  • Like being read to.
  • Memorize things by repeating them aloud.
  • Enjoy music.
  • Whisper the words on the page as they read.
  • Hum or sing often.
  • Like being around other people.
  • Enjoy the performing arts.
Here's a List of Strategies to Help Auditory Learners Succeed in School:
Teach reading by having your child:
  • Use the phonetic approach.
  • Use rhyming word games.
  • Read aloud, even when reading independently.
Use auditory materials to teach lessons, including:
  • Video tapes
  • Audio tapes
  • Books on tape
  • Melodies, rhythms and beats to reinforce information
Have your child:
  • Answer questions orally.
  • Give oral reports.
  • Repeat facts aloud with their eyes closed.
  • Use repetition to memorize.
  • Recite information aloud when they’re studying (i.e., facts, spelling words).
  • Use tape recorders to record and play back lessons.
  • Participate in small and large group discussions before working independently.
  • Study in groups.
Parents should also try to give directions verbally, paraphrase key information, provide students a quiet place to do homework, and play music softly in the background, if they prefer.
So, break out the tape recorder, the books on tape and those rhyming skills, and maximize your child's learning style while boosting his confidence.

sumber :  http://www.education.com/magazine/article/auditory_learners/

Ya, semoga bermanfaat buat kawans yang mengalami hal yang mirip dengan keadaan saya.




Di Semester Satu

4 komentar
Jauh sebelumnya, saya berspekulasi sendiri bagaimana sih ritme kuliah pasca sarjana itu. Yang pada intinya, pasti lebih berat daripada kuliah di tahap sarjana. Pengalaman saya waktu di Kimia ITB itu, ada 2 x 8 jam ada di laboratorium tiap minggunya. Tidurnya hanya 3 jam. Tugasnya banyak. Bukunya tebal semua dan berbahasa Inggris. Dan capeknya sampai mimisan.

waktu di laboratorium biokimia

Ketika saat itu saya bertemu dengan kakak-kakak yang sedang pasca sarjana, sepertinya ritmenya seperti itu juga. Bahkan lebih ganas lagi. Contohnya saja, ketika saya sedang tugas akhir penelitian di gedung Biokimia Medis di PAU ITB, itu kakak kelas pulangnya jam 9 malam lebih. Bahkan subuh kadang harus kembali lagi untuk mengecek biakan bakteri, jamur atau mikroorganisme yang sedang diteliti.

Nah, jika masuk pasca sarjana jurusan Kimia lagi, saya haqqul yakin, pasti akan mengalami ritme belajar dan kerja sekeras itu. Bahkan bagi saya yang sudah 12 tahun lebih jadi ibu rumah tangga, tentu makin gila-gilaan harus mengejar ketertinggalan sekaligus kelupaan terhadapa materi pelajaran kimia.

Itulah yang mendasari, akhirnya saya meloncat pindah dengan nekad [sekali lagi] ke dunia baru yaitu Teknologi Pendidikan (TP). Paling dasar adalah saya yakin tidak bisa membagi waktu dan tenaga dengan baik, jika tetap ambil kuliah di kimia, dengan waktu untuk anak-anak dan rumah tangga saya.

Singkat cerita, saya sampai di gedung kuliah Universitas Negeri Surabaya jurusan Teknologi Pendidikan. Seperti apa kuliah S2 di sini?

Kebetulan, jadwal kuliah saya cuma dua hari, Jumat dan Sabtu. Mulai jam 1 siang sampai maksimal 9 malam. Intensif banget ya sebenarnya. Tetapi begitulah, saya tidak bisa memilih jadwal, karena sudah ditentukan dari pusat. Bagaimana dengan kurikulumnya? ternyata sama saja dengan waktu saya di Bandung itu, semua juga ditentukan oleh pusat. Jadi bahkan referensi kurikulum 2012 yang saya baca sebelumnya di website pasca TP UNESA tidak sama dengan kurikulum 2013. Untung alhamdulillah ada satu mata kuliah yang dihapus yaitu Statistik. 

Kurikulum TP UNESA 2013, meliputi teori belajar, cara membuat dan mengembangkan kurikulum, teori dan praktek mengembangkan pembelajaran online, filsafat ilmu dan kebijakan ilmu pendidikan serta pembelajaran mandiri. 

Ketika kuliah, para dosen yang terdiri dari para doktor dan profesor, memfasilitasi kami dengan membuka diskusi menggunakan slide power point. Beberapa menit mereka menjelaskan isi power pointnya, yaitu apa-apa saja yang perlu dipelajari, dan buku rujukan apa yang perlu dibaca [kadang perlu juga dibeli].

Setelah itu, hampir pasti, kami langsung diberi tugas untuk mereview buku atau jurnal baik secara individu atau kelompok. Tugas itu berbentuk slide power point dan makalah. Kadang kami hanya perlu mengirim tugas lewat email, menulisnya dalam blog atau harus mencetaknya dalam bentuk handout dan makalah. Kebetulan UNESA belum menerapkan sistim pembelajaran online sepenuhnya, jadi perkuliahan harus ada bukti fisik berupa printout dari tugas-tugas.

Kami tidak hanya mengumpulkan tugas, tetapi wajib wajib dan wajib mempresentasikannya di depan kelas. Kemudian mendiskusikannya dengan teman dan dosen. Begitu seterusnya tugas demi tugas diberikan.






Kehadiran tidak dianggap penting, karena mayoritas mahasiswanya adalah para guru dan pekerja. Terutama bagi guru PNS, mereka sulit sekali untuk membolos saat ini. Karena ada ketentuan waktu minimal mengajar sebagai syarat cairnya insentif sertifikasi dari pemerintah. 

Karena jarang bertemu, kami berkomunikasi lewat email, grup whatsapp dan sms/telpon. Untuk mengerjakan tugas juga mudah sekali, karena adanya internet. Buku rujukan juga beberapa berupa e-book, sehingga kami bisa jauh lebih hemat dan mudah. Walau sebenarnya jauh lebih nyaman membaca buku cetak daripada ebook.

Dengan waktu kuliah hanya 2 hari, apakah itu mudah bagi saya?
Oh ternyata diluar dugaan, saya sulit juga membagi waktu. Mengurus rumah, anak-anak, sesekali mengendalikan bisnis online saya, mengerjakan tugas kuliah dan belajar. Apalagi ketika kuliah itu, saya berangkatnya jam 12 siang dari rumah, naik sepeda motor di waktu macet. Sampai di kampus biasanya 1 jam kemudian. Penatnya luar biasa, terlebih di pagi harinya saya biasanya tidak istirahat. Karena harus ekstra memasak untuk anak suami di rumah, menjemput anak-anak, dan menyiapkan mereka agar aman ketika saya tinggal ke kampus. Sering waktu sampai kampus, saya lapar luar biasa karena tidak sempat makan siang. Untungnya saya selalu sempatkan untuk membawa bekal sendiri dari rumah. Jadi sayalah satu-satunya mahasiswi ibu-ibu yang selalu dengan cueknya makan di kelas sebelum kuliah mulai atau di waktu rehat. Cuek aja biar saya tidak kena sakit maag.

kebetulan ga bawa bekal, beli nasi bungkus di kantin pasca


Begitulah, mungkin jika kita ambil kelas pasca langsung setelah lulus sarjana atau ketika kita aktif bekerja sebagai pendidik atau di bidang yang sama, kesulitannya lebih sedikit daripada saya yang full ibu rumah tangga dan malah aktif ke bisnis dan craft. Namanya mendongkrak isi kepala agar bisa konsentrasi kembali itu luar biasa usahanya. Alhamdulillah sangat terbantu dengan deadline. Kalau sudah waktu mepet, eh selesai juga kerjaan saya, hehehe.

ada teman asli dari Cina, miss Zhu, dosen bahasa Mandari, Univ. Petra Sby


Dan alhamdulillah, berkat sebelumnya saya aktif membaca dan update diri secara online, maka ketika presentasi, saya bisa melebarkan topik pembicaraan yang relevan sehingga lebih menunjukkan faktanya. Di awal semester ini, intinya kami masih belajar di pusaran teori. Hobi browsingku sebelumnya juga membantu saya dengan cepat mencara referensi atau gambar yang sesuai dan menarik untuk power point saya. Apalagi ketrampillan blogging saya, sampai bisa bermanfaat untuk beberapa teman yang bahkan belum mengenal blog sama sekali. Begitulah kawan, semua ilmu pasti kelak ada manfaatnya untuk orang lain.

 Ini saja sharing saya kali ini, semoga bermanfaat. 
Heni PR

Class Shoot

Tidak ada komentar
Gedung Pasca Sarjana Universitas Negeri Surabaya
jurusan Teknologi Pendidikan 
angkatan 2013
kelas A


Mayor Sita. Pengembang kurikulum di kalangan pendidikan TNI AL
Markas di Kobangdikal Surabaya
Berkat ibu Mayor Sita ini kita selalu "SIAP !'", ya SIAP !


suasana serius ngerjakan tugas di kelas
tampak deretan kabel-kabel di lantai
colokan kabel sampai panjang paralel

kemarin sempat shoot dosen Pembelajaran Mandiri waktu ngajar


Makan Siang + Dinner sekalian di kelas, Hemat bawa sendiri. :)


Kelas Kosong, Narsis duluuu :)

Dari Kimia

2 komentar
Saya atau Aku, 
Maaf biasanya saya sering tertukar menuliskan diri sendiri sebagai aku dan saya berbarengan dalam satu tulisan. Jika itu terjadi di tulisan sebelumnya, mohon maklum adanya [seperti surat ijin absen sekolah hehehe].

Ini adalah kisah singkat pencarian minat diri saya sendiri. Yang kalau ditelusuri malah nggak bisa diterima akal sehat. Harusya bisa diterima oleh iman yang sehat :)

Ketika hampir akhir sekolah SMA atau SMU jaman sekarang, saya hampir yakin jika masuk kelas 3 Bahasa adalah pilihan saya yang tepat. Karena sejak SD saya suka sekali membaca dan menulis diary atau semacamnya. Pas masih kelas 2 SMA, sengaja nih kalau saya lewat kelas 3 Bahasa para kakak kelas, saya akan mengintip kegiatan mereka. Dan hati saya meledak-ledak begitu tertarik ketika membaca sebuah karya sastra yang ditulis seorang kakak kelas di papan tulis. Padahal pegel kan tuh nulis sastra di papan tulis pakai kapur?

Namun apa daya. Keinginan saya distop oleh seorang kakak kandung saya, cowok. Yang mengatakan, "ngapain milih bahasa?"!
Singkat cerita, akhirnya saya masuk ke kelas 3 IPA. Lalu lanjut sampai nyemplung ke kampus berlambang ganesha di gedung tua di belakang pojok dekat orang jual gudeg Jogja. Selama 4 tahun saya menjebloskan diri ke dalam meja kelas dan laboratoriumnya departemen Kimia Institut Teknologi Bandung. Luar biasa mati-matiannya saya belajar disini. Yang namanya MIMISAN waktu di lab atau di kelas, seperti hobi saja. 

Mungkin karena hawa dingin Bandung yang ekstrim daripada Surabaya tempat asal saya. Atau mungkin juga begitu menyengatnya bau dari asam asetat, chloroform dan semacamnya yang merusak lapisan tipis pembuluh hidung saya waktu praktikum di laboratorium organik. 

Luar biasanya juga saya nekad merantau di Bandung ini, sendirian. Tanpa saudara dari Jawa Tengah atau Jawa Barat. Tanpa teman satu sekolah dan semacamnya. Benar-benar sendirian. Hanya mengandalkan do'a orang tua bahwa saya akan selamat-selamat saja disini. Ups, mengandalkan juga gaya saya yang super tomboi agar nggak diganggu di perantauan. 

Dari kimia saya berhijrah habis-habisan ke dunia ibu rumah tangga. Saya lepaskan peluang menjadi PNS di sebuah lembaga penelitian negara, karena ada si janin yang udah dititipkan di rahim saya. Begitulah, dunia ibu rumah tangga memompa jiwa raga saya habis-habisan. Betul-betul menjadi kawah candradimuka yang hampir saja membuat tulang belulang saya ikut larut menjadi bahan baku pembakar kawah itu.

Menjadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja di kantoran, membuat saya putar otak, putar badan untuk melakukan sesuatu. Dan pilihannya belajar membuat kerajinan tangan, belajar di dunia internet, belajar tentang parenting, pendidikan dan lain sebagainya lewat internet. 

Dengan semangat otodidak, karena tak bisa meninggalkan rumah dan anak-anak serta untuk menghemat biaya, maka saya belajar banyak sekali hal baru itu. Membuat kreasi dari kain flanel, aksesoris manik-manik sampai yang lebih rumit yaitu membuat aksesoris dari kawat alias wire jewelry. 

Kadang saya menertawakan diri sendiri juga sih, lulusan kimia kok pegangannya jarum jahit, kain, kawat, manik-manik dan tang. Dan sebenarnya yang menertawakan saya itu banyak sih, ya saudara ya tetangga bahkan orang yang baru kenal sekalipun, selalu berkomentar, "aduh sayang banget lulusan kimia kok jadi ibu rumah tangga saja".

Ya begitulah, mau tidak mau saya harus menyimpan itu suara tertawa di dalam hati sambil mencari cara agar saya bebas dari rasa tidak enak seperti itu. Atau jika tidak bisa, maka saya cari saja motivator lain yang bisa membuat saya nggak minder-minder amat. Sekaligus bisa meningkatkan kemampuan saya baik dalam ketrampilan ataupun pengetahuan.

Begitulah, saya jadi emak-emak browser, yang rajin browsing kesana kemari. Sampai akhirnya saya menclok di dunia komunitas penulis lepas, emak2blogger, ibu profesional dan lain sebagainya. Saya mengenal internet, jejaring maya dan sebagainya untuk mengasah ilmu bahkan sampai nekad berbisnis di dunia maya. Bisnis online. 

Sampai tiga tahun menjalankan bisnis online, saya merasa masih ada kekosongan dalam hati yang belum terpenuhi. Saya kangen dengan sekolah, belajar, ujian dan kawan-kawannya. Saya yang suka sastra tetapi berhasil lolos di dunia IPA, itu karena saya suka sekali belajar. Dan ketika menjadi ibu rumah tangga, proses belajar saya belum mendapatkan tempat yang pas. 

Merenung, merenung dan merenung, maka sampailah satu keputusan bahwa saya harus kuliah lagi. Masuk ke dalam sebuah institusi resmi lagi untuk mengupgrade kembali diri saya dan meletakkan saya kembali tepat di posisi dan konfigurasi yang tepat. Seperti elektron.

Layaknya elektron yang tidak ada di konfigurasinya yang benar, maka dia akan gelisah dan masih ingin sekali lompat ke atas atau malah lompat ke bawah, ketempat yang baginya lebih stabil.

Begitu juga saya. Maka dalam rangka mencari kembali konfigurasi saya yang tepat, saya memilih untuk meneruskan kuliah. Dari informasi yang diharmonisasikan dengan keadaan diri saya sendiri, maka saya pun memilih jurusan Teknologi Pendidikan untuk dipelajari sekarang.

Maka sejak postingan ini, saya akan membagi cerita bagaimana seorang ibu rumah tangga menjalani hari-harinya menjadi mahasiswi pasca sarjana Teknologi Pendidikan. 

Entah nanti bagaimana akhir dari proses saya ini, dari ingin menjadi sastrawan, masuk ke kimia, lalu jadi ibu rumah tangga, kemudian menjadi pebisnis dan emak blogger, kemudian menjadi mahasiswa lagi di dunia pendidikan. Apapun itu, niat saya hanyalah ingin menjadi perempuan yang mandiri dan bermanfaat di dunia dan akhirat. Amin.
Semoga kelak kisah-kisah harian saya menjadi manfaat dan inspirasi, terutama untuk para ibu rumah tangga.