Podcast Bu Heni

Tampilkan postingan dengan label kelasku digital. Tampilkan semua postingan

Kelasku Digital Menjadi Tenant Inkubator UNAIR 2022 Lalu Harus Ganti Nama

Tidak ada komentar

PECAH TELUR. Itu sebutan  yang pas saat saya memutuskan untuk batal mundur menjadi tenant Inkubator UNAIR 2022. 

Pecah telur, karena  itulah momen pertama kali saya keluar rumah sendiri, menginap 3 hari, mengikuti Airlangga Startup Camp 2022 di daerah Pandaan. Setelah sejak 2020 saat dimulainya pandemi saya hanya ada di  rumah saja.


selfie pertama ketika baru sampai lokasi dan masuk ruang workshop


sering bertanya karena kepo dan kasihan kalau peserta lain pada diem :)


foto bersama di akhir acara, saya di 2 sebelah kanan



pengumuman lolos jadi tenant




Baik, cerita kita lanjutkan di sini. Sebaiknya kawan membaca dulu link tulisan di atas, supaya tahu sejarah sampai saya lolos menjadi calon  tenant di Inkubator UNAIR 2022.

Pandemi membuat saya maju mundur melanjutkan proses menjadi tenant ini. Karena ketika lagi marak kasus masuknya varian Delta dan juga Omicron, diberikan jadwal untuk ikut pelatihan atau workshop Pre-Bootcamp. 

Waktu itu langsung saya menolak. Karena takut virusnya, juga lagi ribetnya anak bungsu sakit ketika baru masuk kelas tatap muka di sekolah dua hari. Dan dia sudah kelas 3 SMP, artinya lagi  spanneng-spannengnya persiapan ujian akhir sekolah dan ujian nasional. 

Saya pemegang kunci antar jemput anak sekolah, juga urusan dia di rumah - makan, dll, merasa berat untuk mengiyakan ikut pelatihan pre-bootcamp. 

Jadi saya bilang ke panitia, kalau munndur bagaimana?
Udah resiko nama jadi ga baik atau diblacklist, yaudah gimana lagi. Demi kesehatan keluarga.

Panitia meminta saya mengirimkan surat resmi mengundurkan diri. Namun saya bimbang jadi saya diamkan, tidak mengirim email. Ya sudah di DO saja otomatislah kalau ga ikut, begitu pikir saya. 

Eh ternyata, masih jadi rejeki. Jadwal pelatihan pre bootcamp ini diundur sampai hampir 2-3 bulan kemudian. Pas ketika kasus COVID-19 sudah menurun dan kami sekeluarga sudah vaksin. Anak-anak, saya dan suami juga sehat. 

Ketika suami mengiyakan, ikut saja lanjutkan, langsung saya mengisi formulir dan segala dokumen yang harus diisi malam itu juga. Esoknya bersiap untuk packing baju dan keperluan traveling.

Wih, sudah 3 tahun lebih saya tidak keluar rumah apalagi keluar kota. Sedangkan di akhir tahun 2019 saya sampai terbang ke Balikpapan loh. Kebayang betapa bersemedinya saya karena virus ya :)

Alhamdulillah, Kersaning Gusti Allah SWT, saya pun berangkat diantar suami dengan hati gembira. Simak foto dan video saya di instagram ini, hihihih....


Pecah telur


 
saat sambutan pertama


Perjalanan  sangat lancar. Kami naik bis khusus dari Airlangga Travel. Bis bersih, tidak bau mesin atau khas bis kota yang bikin saya mual. Padahal dah ngeri aja bakal muntah-muntah di perjalanan. Karena saya udah lama banget ga naik bis dan kendaraan umum sejak lulus kuliah.

Tapi pas kemarin di perjalanan naik bis, smooth aja, mulus tanpa hambatan. Santai dan ga macet langsung sampai tujuan. 

Ketika sudah masuk ruangan seminar di K Hotel Pandaan, dan mengikuti prosesi menyanyikan Mars UNAIR. Hati saya kembang kempis. Antara haru dan gimana gitu. Sempat bicara sendiri di dalam hati, "Heni Heni, kenapa dulu nggak kuliah di Surabaya aja sih, di UNAIR aja gitu. Kan bisa hafal lagu MARS tadi :). Ngapain sih Hen,  dulu susah jauh-jauh ke ITB."

Tapi yaudinlah, ga ada gunanya, ga ada  jawabannya. Kalau saya nggak kuliah di ITB, ya gak ketemu suami kali ya. Kan ketemunya di Bandung. 

Oke lanjut ke cerita Airlangga  StartUp Camp.


biar ga asik posenya, tapi ini foto berharga

Jujur saja saya kikuk dan salah tingkah sendiri ketika masuk ke gedung inkubator UNAIR dan  ruang seminar pertama kali. Harus bersikap gimana ke anak-anak muda ini ya. Kan pada masih mahasiswa yang usianya setengah dari umur saya.

Kalau bersikap santai dengan dosen yang seusia saya, nanti kayak sok akrab. 

Jadi, saya hati-hati banget bersikap. Garing deh lah. Ini rejeki banget bisa foto bareng pas hari pertama makan siang. Selebihnya saya lebih sering makan sendiri di ruangan dalam yang  ber-kipas angin. Karena di teras outdoor itu hawanya panas banget. Sumuk pol. Dan kalau  sumuk, saya kehabisan energi atau bisa jadi migren,

hanya sekali kumpul makan dan foto bareng, selanjutnya saya makan di ruangann dalam karena di luar panas banget

Selama 3 hari itu penuh dengan workshop berbagai materi. Dan materinya dalem banget. Lebih detil dan mendalam daripada materi startUp yang selama  ini pernah saya ikuti atau pelajari sendiri. Mayan bikin puyeng kepala.

Terutama tentang LEGALITAS MERK dan PENGURUSAN PT ATAU PERUSAHAAN. 

Nah ini, saya kan buta hukum banget ya, termasuk buta ekonomi juga. Pokoknya saya  nih anak  sainstek kolot dan kuper. Yang terbuka wawasan segala hal di INKUBATOR UNAIR ini. 

Satu  keputusan cepat yang harus saya ambil adalah mengganti nama KELASKU DIGITAL. Karena merk Kelasku sudah resmi terdaftar di HAKI oleh orang lain. 

Jika saya terus memakai Kelasku Digital, bisa-bisa menyalahi aturan. 

resmi tanda tangan kontrak menjadi tenant selama 1 tahun

Keputusan penggantian nama, saya konsultasikan ulang ke LegalHub. Dan kembali disarankan untuk mengganti nama. 

Maka, bismillah, walau berat hati ya, karena Kelasku Digital sudah dikenal di hati dan juga masuk beberapa liputan media, tapi ya diganti saja dengan nama yang semoga bisa lebih luas dan memberi berkah, yaitu HEZTEK INDONESIA. 

Di usia saya yang sudah 43 tahun ini, saya dapat rejeki lagi. Dapat kesempatan ngangsu ilmu lagi di Inkubator UNAIR. Semoga kelak menjadi jalan kebaikan yang lebih seru dan mbois lagi. Bermanfaat  untuk lebih banyak orang. Terutama diri saya pribadi dan keluarga. 

Oke cerita detil disambung lagi nanti ya. Termasuk tembak-tembak'an dan makan duren. 


Dapat Puluhan Juta di Masa Pandemi Corona

Tidak ada komentar

Loh kok bisa?

Saya aja juga gak menyangka, tak mengira. 

Kemarin merekap dan menghitung ulang penghasilan saya selama bekerja dari rumah, full kerja online sejak pandemi, Maret 2020. Total semuanya lebih dari 20 juta. 

Hitungan kasarnya seperti ini,

Sejak April 2020, saya membuka kelas online belajar coding untuk anak. Sampai Desember 2020 kemarin. Total semua murid saya adalah sekitar 100 anak. Ambil biaya kelas rata-rata 200ribu/anak. Maka penghasilan saya dari kelas online adalah 20 juta. 

Selain itu, saya juga dapat pekerjaan part time remote work, sebagai Blog editor dan manajer konten writer, dengan gaji 1 juta per bulan. Dihitung sama saja dari bulan April - Desember 2020, yaitu 9 bulan. Maka total gaji part timer adalah 9 juta. 

Penghasilan saya di masa pandemi adalah 29 juta rupiah. Saya peroleh selama 9 bulan. Ini hitungan kasar atau kisaran. Hitungan sebenarnya bisa lebih dari itu karena sesekali saya juga "dibayar" karena membuat konten video edukasi dan mengisi seminar online. 

Sebagai gambaran hitungan pendapatan saya untuk kelas online, adalah:

  1. saya mengajar mulai 1 kelas per hari, menjadi 2 kelas perhari, meningkat menjadi sampai 4 kelas per hari. Terhitung kelas kelompok dan kelas privat. 
  2. Untuk kerja jadi blog editor, total saya hanya bekerja sekitar 20 -25 jam sebulan. Jadi sekitar cuma 1-2 jam sehari. Dan mengerjakan ini tidak saya lakukan setiap hari. Melainkan sekitar seminggu 2-3 kali. Karena lebih enak jika mengedit tulisan para content writer itu sekalian. Jadi sekali ngedit bisa 10-20 artikel @1000 kata. 

Saya membuka kelas online coding untuk anak itu, sebenarnya rada ragu di awal. 

Karena cemas anak-anak belum bisa ngeh cara belajar secara online.

Eh ndilalah, ada pandemi. Dan sekolah mulai mewajibkan kelas online atau kelas daring. Jadi baik anak-anak maupun orang tuanya, semakin biasa-biasa saja dengan belajar online tersebut. 

Rejekinya lagi. Tema CODING UNTUK ANAK tiba-tiba melejit dan trendi karena mas Menteri Nadiem Makarim mulai menggaungkan Pentingnya Anak Belajar Coding sejak usia dini atau usia sekolah. 

Saya mengenal konsep Coding untuk Anak sejak 2018, sebagai koordinator kelas coding anak secara offline. Ini beberapa foto-fotonya:

satu-satunya peserta perempuan dari 40 anak lainnya

pojok kanan belakang itu anak kedua saya, depannya keponakan saya
anak saya bete banget diajak belajar coding, selain ga tertarik, juga malu dengan laptop warna pink emaknya hahahaha

waktu itu belajar KODU GAME LAB, tapi ini kurang fleksibel untuk berkreasi dan harus donlot. Jadi tidak saya pilih untuk kelas-kelas sekarang

anak dan keponakan saya yang sama-sama nggak tertarik coding, jadinya mondar-mandir melulu cari makanan lah, ke toilet lah. Ohya ini ada di Rumah Kreatif BUMN Mandiri Surabaya

foto bareng anak-anak, ini angkatan 1 kelas coding kids Surabaya yang offline. Setelah angkatan 2, kelasnya berhenti karena berbagai sebab. Baik itu dari sewa ruangan yang ganti aturan menolak kelas ini. Sibuknya para pengajar. Susahnya cari ruangan untuk disewa yang ramah anak, dll.

Dan mulai riset tentang hal itu. Baru tahun 2020 berani membuka kelas online sendiri. Sebagai pengajar. Tidak hanya sebagai koordinator kegiatan. 

Saya mengenal coding sejak 2016, sampai sekarang. Mulai dari materi membuat website dengan HTML dan CSS. Lanjut diterima di Apple Developer Academy| UC Surabaya 2019 dan kenal dengan Swift Programming dan Ios Apps Development. Lalu otodidak mempelajari tentang Coding Kids and how to teach it sejak 2018. Kemudian memilih menekuni ini sampai sekarang. 

Saya bukan Sarjana Informatika atau programmer. Mengenal coding dari beberapa kegiatan saja dan selebihnya otodidak. Merasakan betul kalau belajar coding itu tampak mengerikan dan sulit banget, karena baru kenal di usia udah menjelang 40-an. Udah tua. 

Kebayang  bagaimana jika sejak anak-anak sudah pada kenal coding dan kosa kata tentang hal ini?

Pasti mereka akan jauh lebih santai untuk mempelajari coding lebih lanjut.

Itulah alasannya akhirnya saya pilih tetap di jalur coding, edukasi dan memilih kelas coding untuk anak. Saya juga suka sih, karena lucu bikin coding kids class itu. Materinya lucu dan warna-warni. Anak-anak juga lucu. Memberikan semangat baru. 


Kembali ke Penghasilan Terbesar di masa pandemi. 

Saya percaya ini semua hasil "tabungan keringat" saya bertahun-tahun sebelumnya. Dan bisa "boom" muncul momentumnya di masa pandemi. 

Ketika orang lain kelabakan gabut dan cuma rebahan di rumah saja. Saya malah gas pol tanpa pikir panjang langsung menyiapkan kelas belajar baru. Sebenarnya tidak hanya untuk anak-anak. Saya juga buka kelas blogging, cara membuat kelas online, cara mengajar programming dll untuk orang dewasa. Namun yang ikut sedikit. Kelas gratisan aja sedikit dan ga terlalu direspon. Apalagi kelas berbayar.

Jodoh rejeki saya ternyata di kelas anak-anak. Dan rencana saya juga nggak cuma di kelas coding. Tetapi ada juga kelas blogging, di mana saya udah ngeblog sejak 2009. Udah sekitar 12 tahun. Dan mendapatkan banyak manfaat dengan kemampuan nulis dan ngeblog. Pasti bagus jika anak-anak juga bisa dari kecil. 

Ah banyak sekali rencana yang saya buat, setelah menyadari bahwa saya bisa BEKERJA SECARA ONLINE DARI RUMAH SAJA dan menghasilkan pendapatan yang lumayan. 

Tulisan ini saya bagikan untuk memberikan gambaran bahwa ILMU DAN PENGALAMAN yang kita asah bertahun-tahun itu, pasti suatu saat akan menemukan JODOH WAKTU TERBAIKNYA. 

Saya lulus S2 Teknologi Pendidikan tahun 2015. Dan baru 5-6 tahun kemudian inilah menuai hasilnya berusaha bekerja di jalur edukasi non formal ini. Akhirnya ketemu juga jalur yang cocok dan saya sukai. Dan itu malah terbantu karena terbatas ini itu di masa pandemi. 

Beberapa bulan sebelum pandemi, padahal saya udah nego ke sana ke mari. Untuk mencari kelas belajar yang cocok bagi anak-anak. Ga jauh dari rumah saya. Juga ga jauh banget dari pesertanya. Serba salah juga milihnya. Tapi berusaha, berbagi jadwal di Coworking Space ini itu dan Sekolahan ini itu. 

Sudah melakukan pendekatan. Sudah ngobrol. Sudah bikin rencana. Eh ndilalah datang virus Corona. 


Untungnya saya tidak patah arang. 

Dan bondo nekad aja, bonek. Dan juga bobis, Bondo Bismillah membuat kelas online di mana akses wifi rumah saya masih murah meriah. Pakai speedy. Kadang mati. Kadang nyala. Sering lemot. 

Begitu kelas saya ramai dan laris. Bonek jilid 2, yaitu upgrade Speedy 10 mbps yang bayarnya ga sampai 200ribuan/bulan. Upgrade ke Indihome Paket Gamer, yang bayarnya 700ribuan/bulan dengan kecepatan 50mbps.

Tarik ulur rencana upgrade wifi, karena takut kemahalan. Tapi saya nekad aja. Kalau makin joss sinyal, makin banyak kelas yang bisa saya buat. Ga cuma sehari sekali. Bisa sehari 4 kali dan itu terbukti. 

Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Dan sampai sekarang saya semakin percaya diri untuk bisa menghasilkan rupiah dari rumah saja. Dan mungkin kelak bisa dapat dollar juga. Dari kemampuan akademik saya. Dari kesukaan saya pada pendidikan. 


Semoga menginspirasi.

Heni Prasetyorini

Kini Anak Bisa Bikin Game Sendiri di Kelasku Digital

Tidak ada komentar
Suasana Coding Kids di Kelasku Digital
"Aduh, anakku kecanduan game. Bisa hancur masa depannya nanti!"

Ekspresi putus asa dan greget ini biasanya diungkapkan orang tua ketika mereka merasa tidak bisa berbuat apapun untuk MENGHENTIKAN kegemaran anak-anaknya bermain game.
Saya sendiri pun mengalaminya. Dengan hadiah berupa 2 anak laki-laki yang gemar sekali main game, masa saya jadi mamah muda, harus mati-matian mencari cara untuk menghentikan anak main game tadi.

Wih kalimat ini panjang bener ya. Maaf. Sekarang pada tarik nafas deh.
Usaha saya yang bertahun-tahun itu, ga ada hasilnya. Anak saya tak bisa lepas dari game. Dan malah emosional, gampang ngamuk kalau ada masalah keciiil banget di rumah.
Saya nyaris menyerah, mau membiarkan saja anak berbuat sekehendak hatinya. 

Dalam bahasa Spanyol bisa disebut, "Sak karepmu wis nak!!!"

Untunglah, ada sejumprit sel neuron di otak saya dan seimprit bisikan hati saya yang mengatakan, "bagaimana kalau nih bocah diarahkan untuk MEMBUAT GAME".

Dan lalu, bergerilyalah saya di jelajah mbah Google, mencari "tempat kursus game anak Surabaya murah meriah bahagia".
*google bete kali ada yang search dengan kata kunci sebanyak itu :)

Dan hasilnya adalah...<<<<zonk>>>

Ada studio animasi, tapi ga nerima peserta anak kecil. Atau ada kursus komputer anak, tapi bayarnya harus satu paket yang nilainya jutaan rupiah.

Akhirnya, saya dan suami mencari cara yang paling bisa kami lakukan, yaitu:
1. Membelikan komputer
2. Memberi aturan bahwa:
A. Hanya boleh main game di komputer
B. Game harus tidak porno, sadis, horor
C. Dilarang main game di PS, Nitendo, dll

Tujuan kami adalah agar setelah capek main game, anak bisa nguprek komputer itu untuk belajar hal lain. Minimal buka ms.words atau Paint.
Sekitar 9-10 tahun lalu, 2007, untuk mendapatkan game "berat" harus beli CD di THR (sekarang disebut Hi Tech Mall).
Untuk main game online, masih terbatas karena belum punya modem apalagi wifi.

Waktu berlalu, ternyata anak saya beneran nguprek komputer selain main game. Singkat cerita, si sulung memilih sekolah di SMK jurusan pemrograman, karena ingin jadi programmer.

Alhamdulillah strategi berhasil.
Saat ini, saya masih melihat masalah yang sama untuk anak-anak kecil terhadap game yang makin canggih dan menarik. Orang tua makin panik, tak tahu bagaimana membendung kehebatan anaknya memainkan gadget untuk gaming.

Dengan niat menjadi bagian dari solusi dan kebetulan bertemu dengan penggagas kursus game anak, maka saya membuka Kelasku Digital di Surabaya. Update informasi bisa dilihat di instagram @kelaskudigital

Dengan pengalaman yang sama, saya yakin program coding kids di Kelasku Digital ini, bisa jadi jalan anak-anak gamer mengasah kreatifitasnya. Dan tidak ada lagi kalimat pedas ortu yang panik ketika melihat anaknya bermain game. Melainkan ortu bisa seiring sejalan mengenal kemajuan teknologi bersama si buah hati.

Ayah, bunda, kini saatnya mengarahkan putra putri kita menjadi Pembuat Game, bukan hanya Pemain game. Semoga dari sana, mereka mulai tertarik dengan dunia pemrograman. Sehingga kelak mereka bisa menjadi TEKNOPRENEUR yang andal. Amin.

Ingin tahu detil kelasnya?
Chat langsung di bit.ly/infokelasku

Kesengsem e-Learning

2 komentar
Singkat cerita, saya nih diselamatkan oleh internet. Sehingga bisa tetap "hidup". Dari hasil browsing sana-sini, akhirnya kenal dengan istilah e-learning alias pembelajaran online [kata yang umum].

Kebetulan di semester 1, Teknologi Pendidikan di pasca Unesa ada mata kuliah TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Pendidikan. Dan subyek yang diajarkan itu tentang e-learning dengan segala bentuknya.

Jika disimpulkan dengan singkat, ada 3 bentuk proses belajar yang umum digunakan di dunia ini :
1. Kelas tradisional (kelas tatap muka) --> ya seperti kelas sekolahan kita pada umumnya
2. Kelas online (e-learning murni) ---> belajar benar-benar lewat internet, tanpa tatap muka sama sekali
3. Blended learning ---> kombinasi dari kelas tradisional dan kelas online (ini yang mulai diterapkan di beberapa sekolah dan universitas di Indonesia di daerah tertentu)

3 poin diatas untuk memperjelas topik entry saya kali ini. Dan akhirnya saya jatuh cinta dengan konsep e-learning, pembelajaran melalui internet. Kenapa? karena dari kalimat awal tadi, internet menyelamatkan saya. Kok bisa? bukankah internet mahal?
\mahal? benarkah?

Begini, saya mulai mengakses internet di rumah tuh, dengan ponsel CDMA Smart yang bisa dijadikan modem. Saya beli di toko ponsel dekat rumah seharga 300ribu, kira-kira tahun 2010. Dipasang di komputer yang jadul juga deh, atau sudah diupgrade CPU nya jadi core 2 duo sama suami saya ya? ah lupa.

jadi begitulah, modem smart ini luar biasaaaaa .... lemotnya, hehehe
Walau begitu saya hobi browsing dan nekad mulai bisnis jilbab online dengan modem ini loh. Pertama kali niat banget pengen upload foto jilbab ke facebook page, sampai bela-belain bangun jam 1 pagi. Dengan pertimbangan jam segitu internetnya cepat, dan memang lumayanlah. Jika saya perlu upload foto dengan segera, ya lari ke warnet dekat rumah bersama anak kedua saya yang masih kecil waktu itu dan ribetnya duileee sedaappp. *ah masa itu telah berlalu* hehehe....

Namanya orang niat belajar itu, pasti sama Alloh SWT diberikan kemudahan rejeki. Dan akhirnya, saya ganti beli modem smart evdo. [kok smart lagi, bukannya lemot?]. Untungnnya NGGAK. karena modem ini harga awalnya yang baru itu sekitar 900ribu kalau nggak salah. mehong juga kok. Dan saya beli bekas dari adek saya, seharga 500ribu. Modem ini masih setiaaa saya pakai sejak tahun 2011 sampai sekarang. Dan lumayan bagus untuk paket internet unlimited yang cuma 45ribu/bulan.


45ribu/bulan dipakai 30 hari, jadi setiap hari sekitar bayar 1.500 rupiah aja buat internetan. Ya murah kan?

malah sekarang, modem smartfren evdo ini murah harganya, mulai 200ribu-400ribu. Atau modem lain dengan kartu provider lain yang semakin muuuraaah aja sekarang. Beruntunglah mereka yang berkompetisi di bidang ini, kami pelanggannya yang diuntungkan juga hehehe...

Internet murah ini juga saya diskusikan di kelas. Bisakah di seluruh pelosok Indonesia kelak bisa mengakses internet dengan murah bahkan gratis dengan kualitas dan kecepatan yang bagus?
karena e-learning yang membutuhkan internet ini bisa menjadi solusi efektif untuk penyebaran merata materi pendidikan berkualitas. Bahkan membuka peluang daerah terpencil di Indoneisa untuk bisa mengakses informasi dari luar negeri dengan mudah.

Dan kata teman saya, bisa saja. Mungkin saja, apalagi sekarang ada provider yang bekerjasama dengan pemerintah untuk menyediakan internet murah. Misalnya Indischool yang disediakan telkomsel untuk sekolah-sekolah. Kalau tidak salah murah sekali, Rp.1000,-/hari atau bahkan gratis, dengan kualitas yang bagus.

Saya makin tertarik dan penasaran dengan e-learning. Saya pun ingat beberapa teman yang sering membagikan informasi atau ngeblog tentang online learning ini. Yaitu mbak Mira Julia, Anna Farida dan Romi Satria Wahono (yang terakhir ini belum jadi teman, belum kenalan, hehehe).

Dari mbak Anna dan mbak Mira Julia, saya mengenal dua platform gratisan untuk membuat e-learning ini yaitu Course Networking (CN) dan Second Life.

COURSE NETWORKING (CN)


SECOND LIFE FOR EDUCATION (SLED)


Oh ya, ada satu lagi, dari institut Ibu Profesional yang dibuat oleh mbak Septi, saya kenal WizIQ.

virtualclassroom

kalau pak Romi SW, itu lebih pada informasi tentang e-learning dan ilmu komputer yang dibagikan di blognya, secara beliau juga seorang dosen keren yang baik hati membagikan ilmunya dengan gratisan.

Begitulah indahnya dunia internet, banyak yang gratisan :)

Selain platform untuk membuat kelas online gratisan seperti WizIQ, CourseNetworking dan Second Life, ada dua  aplikasi lain yang sangat sangat amat berguna untuk digunakan di dunia persilatan jagad online. Yaitu EVERNOTE dan keluarga GOOGLE.
   Singkatnya, EVERNOTE ini adalah aplikasi untuk menyimpan data dimana saja, di komputer, laptop, android, handphone dan asiknya data ini bisa diakses dimana saja. Jadi semua gadget yang mendonlot evernote di dalamnya, bisa bersinkronisasi.

Lalu keluarganya GOOGLE, misalnya Google Drive, Google Plus, Gmail, Google Hangout dan satu lagi yang baru saya tahu dan keren juga yaitu Google Connected Classrooms. Wah hebring...

Adalah suatu impian dan ambisi, kalau kelak saya akan cukup menguasai segala hal tentang e-learning ini dan bergabung dengan mbak Anna farida dan ibu-ibu lain yang menggiatkan e-learning di Indonesia untuk pendidikan yang murah dan berkualitas dunia. Okeh semangaattt....