Podcast Bu Heni

Inspirasi Dari Bu Rini Untuk Perempuan Indonesia Mandiri

Tidak ada komentar
Ketika kita lebih mengenal seseorang, kita akan lebih tahu mengapa orang ini begini dan begitu. Begitu juga ttg bu Rini...[status facebook bu Rini - 2 Agustus 2016]

Saya mengenal bu Koeshartati Saptorini, atau biasa dipanggil bu Rini ini dari facebook.
Ketika sebuah postingan tentang media belajar matematika buatan beliau, ada di beranda facebook saya. Sedikit kepo, saya telusuri profil beliau, dan ternyata satu almamater dengan saya. Bedanya beliau di Teknik Lingkungan ITB, saya di Kimia FMIPA.
Usia kami terpaut cukup jauh, beliau angkatan 1988, saya angkatan 1997. Namun kinerja beliau di dunia pendidikan, saya kalah jauh. Kalah banget. 

Walau begitu, bu Rini, ramah sekali ketika saya sapa melalui facebook messenger. Tak terkesan sedikitpun kesulitan yang beliau hadapi. Saya pun asik-asik saja bercanda ketika memesan beberapa buku Ringkasan Matematika dan Fisika SMP , buatan bu Rini, untuk anak saya.

Dari fotonya pun, bu Rini sangat ceria. Memang pernah, kakak perempuan saya bercerita, jika beliau mempunyai anak berkebutuhan khusus (ABK). Saya belum tahu detilnya seperti apa. 

Namun menjelang shubuh hari ini, saya lumayan terperanjat dan tertegun. Ketika suami menunjukkan video tentang bu Rini. Yang ternyata sebagai ibu pejuang 2 anak CP (Cerebal Palsy).





Setelah melihat video itu, saya terenyuh sekali. Teringat lika-liku dan segala hal yang saya hadapi ketika tanpa diduga anak kedua saya lahir prematur. Lalu harus berada 14 hari di inkubator-jauh dari saya. Kemudian saya harus disampingnya full sampai 3 tahun. Bahkan sampai sekarang perjuangan tak henti untuk  mengoptimalkan perkembangan anak saya itu. Kadang terasa amat lelah. Apalagi jika harus menerima komentar dari orang, yang melemahkan jiwa.
Terlebih merasa begitu bersalah pada anak, sehingga energi untuk berpikir apapun sudah habis rasanya.

Namun, setelah berkenalan sendiri dengan bu Rini, saya jadi KUAT kembali. Terlebih mengetahui kisah beliau di video itu, yang tak pernah sekalipun saya dengar dan baca dari fb-nya. Juga tak pernah saya baca keluhan di status bu Rini. Hanya beberapa kali ketika sepertinya beliau mendapatkan kalimat komentar yang memedihkan hati, beliau hanya menulis, 
"Ya Alloh, tugas bu Rini ini sudah banyak. Jangan ditambah lagi pikiran ini itu....."

Bu Rini pasti lelah luar biasa, lahir batin, ketika bertekad untuk menterapi anaknya sendiri ketika bayi. Menanti 5 tahun sampai berhasil dan anaknya bisa berjalan, pasti tidak gampang. Karena orang sekitar biasanya tidak mudah percaya. 

Sambil menterapi anak CP, bu Rini  memberikan les privat matematika.
Masya Alloh, luar biasa. Sekarang pun bu Rini, bisa menulis buku Ringkasan Matematika dan Panduan Matematika dan Fisika.

Semalam saya membaca buku tersebut, Ringkasan Matematika SD. Satu demi satu ulasan beliau, dari soal-soal Matematika, saya cermati. Di dalam hati saya berbisik, betapa telaten dan rajinnya bu Rini ini. Satu demi satu soal latihan Matematika pasti telah beliau ulik sedemikian rupa, sehingga bisa memberikan cara mengerjakan soal yang mudah dan cara belajar yang menarik dari Matematika.

Dari chatting saya tempo hari, bu Rini bercerita kalau semua buku itu beliau tulis dan edit sendiri. Dimana penerbitan buku itu dikelola oleh teman seangkatannya, ITB 88 Peduli Pendidikan. Jadi termasuk Indie Publishing. 

"Bu Rini sampai turun 5 kilo karena menulis buku dan mengurusi buku," cerita beliau sambil memberikan emoticon tertawa.
Facebook Bu Rini, KLIK DISINI


Ah, bu Rini, sungguh beruntung sekali saya mengenal ibu.
Terima kasih telah menyadarkan saya, bahwa kesulitan saya tidak ada apa-apanya.
Bahwa kesulitan kita semua, mungkin juga tidak ada apa-apanya dibanding bu Rini.

Jadi, Perempuan, marilah terus menerus memompa semangat untuk lebih baik dan lebih baik lagi.
Seperti halnya bu Rini. Walau kondisi sulit, masih bisa memberikan baktinya untuk anak negeri. Sebuah karya yang bisa mencerdaskan bangsa.

Lalu, apa karya kita?
-
Semoga menginspirasi.
- Heni Prasetyorini - 

Jon Morrow, Blogger Difable Yang Sukses Karena Helping People

Tidak ada komentar
Kalau kemarin saya “sesumbar” bisa nulis 10 artikel dalam sehari.
Bagaimana komentar anda mengetahui ada blogger yang kerjanya mulai jam 8 pagi sampai jam 11 malam?
Kebayang berapa artikel yang dia tulis seharian?
Jadi ingat sama sakit pinggang alias boyok kemeng?
Bagaimana jika saya tambahkan, bahwa blogger yang kerjanya gila-gilaan itu adalah seorang difable. Makin terperanjat?

Mengetahui orang difable bisa mengurus dirinya sendiri saja, saya sudah terkagum-kagum tidak terkira. Apalagi mengetahui mereka berhasil menjadi penolong orang lain. Sepertinya halnya satu tokoh keren ini, simak ceritanya dengan sepenuh hati, oke.

Blogger Difable Bisa Helping People

Jon
Jon Morrow dari SmartBlogger.COM

Jon Morow. Dalam artikelnya berjudul, “How to Quit Your Job Get Paid And Move To Paradise” dia menceritakan asal muasalnya memilih untuk keluar dari pekerjaannya sebagai orang kantoran lalu terjun bebas menjadi blogger.
hiiiyy...Ngeri-ngeri sedap gitu ya kedengarannya?
Bagaimana kisah lengkapnya, ayo disimak dengan lapang dada.

Nama lengkapnya Jon Morrow. Karena sebuah kecelakaan mobil yang parah, Jon mengalami kelumpuhan. Dia menggunakan kursi roda untuk bergerak. 

Mungkin banyak cerita difabel  seperti dia yang menghiasi media. Namun saya ambil kisahnya, karena kebetulan dia juga seorang blogger profesional. Yaitu seseorang yang bekerja sebagai blogger. Yang mendapatkan dollar demi dollar dari bikin blog (saja). Mengucapkan (saja)-nya jangan terlalu kencang ya. Nanti diserbu oleh blogger sejagad raya loh. *becanda…

Sebelumnya Jon adalah pekerja, karyawan dengan gaji besar dan posisi yang matang. Kecelakaan itu adalah titik balik kehidupannya. Dengan luka yang sangat parah, Jon harus menjalani pemulihan berbulan-bulan. Disitulah dia mulai memikirkan tentang kehidupan. Tentang pertanyaan mendasar dalam kehidupannya. Ketika nyawa, hidup sudah merasa penting. Dia bertanya pada diri sendiri. 

“apakah kehidupan ini yang aku inginkan?”
“apakah bekerja di tempatku kemarin, pola hidupku adalah impianku yang tercapai?”
Ternyata Jon menjawab lain. “Tidak, bukan ini yang kuinginkan”

Jon ingin mengubah hidupnya. Dia ingin lebih banyak waktu bersama keluarganya. Dia ingin bebas bekerja apa saja, kapan saja sesukanya. Dia ingin menulis. Dia ingin tulisannya bisa membantu orang, menginspirasi orang lain dan mengubah orang lain itu dari “kerangkeng” hidupnya.
Setelah dinyatakan sembuh, Jon segera membereskan tugas terakhirnya di kantor. Lalu pergi begitu saja dari kantor lamanya. Ketika temannya bertanya, “apa yang akan kau lakukan sekarang”
Sekedarnya saja Jon menjawab, “entahlah, mungkin mulai membuat blog (saja)”
 Tak disangka jawaban sekedarnya saja itulah yang mengubah hidup Jon kemudian.
Apa yang dilakukan Jon kemudian?

Awal Ngeblog Itu 

Jon Fokus di Blog Dari Jam 8 Pagi - 11 Malam

 Tiap Hari, 3 Bulan Full

Berani? 


Jon tidak hanya memikirkan rencana membuat blog. Tapi dia benar-benar menekuninya. Dalam 3 bulan ke depan, dia bekerja sejak jam 8 pagi sampai jam 11 malam. Dari pagi sampai malam, pekerjaannya adalah menulis, membaca dan berinteraksi dengan blogger lainnya. Hanya itu.
Dalam bulan pertama, blognya yang bicara tentang strategi keuangan, On Money Making, langsung melejit, tembus sampai 2000 pengunjung setiap hari. Sampai masuk nominasi sebagai blog keuangan dan bisnis terbaik tahun itu.

Dua bulan setelahnya, Brian Clark mengajaknya menjadi Associate Editor di website Copyblogger. Akhirnya dia memilih untuk menjual blog pertamanya On Money Making kepada lima orang pembeli dan memilih bekerja di Copyblogger, salah satu blog paling terkenal di dunia.

Kesuksesannya ini ternyata masih awal.
Saat itu, musim dingin yang parah. Jon hanya berdiam di apartemennya tanpa bertemu siapapun. Sampai akhirnya dia sadar. Untuk apa aku terkurung di apartemen seperti orang yang menyedihkan begini? Teriak Jon. Full time blogger itu bisa bekerja dimana saja kan?!
Dengan bantuan temannya, Jon pindah ke Mexico. Sekarang, dia ngeblog, menulis sambil menatap ikan lumba-lumba yang berloncatan di lautan. Alamakjaang itu surgaaa, paradise.

Ngayal Ngeblog di Tanah Surga ^_^


Saya juga sering ngayal kayak gini loh. Ada di rumah kayu, berlantai kayu. Adem. Banyak tanaman di teras, bahkan di halaman rumah. Ada pohon mangga, jambu, durian, rambutan, semangka dan tak ketinggalan  pohon cabe. Saya duduk di teras berlantai kayu. Angin semilir sejuk. Suara anak-anak berlarian di halaman rumah, diantara pepohonan rindang. Gemericik air menyirami pepohonan, dari selang air yang dipegang suami. Di meja teras, ada Macbook, drawing pad, kopi susu panas, brownies manis menemani saya mengetik. Tidak ada cucian yang belum dijemur, piring kotor yang menumpuk, baju bersih belum disetrika. Lantai sudah disapu dan bersih, kamar mandi sudah kinclong sendiri, semua kasur sudah diganti sprei. Di meja makan tersaji aneka ria hidangan. Di kulkas penuh camilan. Di rekening bank……*lanjutkan sendiri , hihihihi.

Kita semua bermimpi seperti itu. Tampaknya mustahil kan? Ternyata tidak bagi Jon.
Jon bisa mewujudkan semua keinginannya dengan menjadi BLOGGER. Bahkan dia berhasil meraup jutaan dollar dan bisa membelikan mobil untuk ayahnya, ketika memutuskan untuk menolong orang, Helping People. Jon membuka kursus atau kelas belajar cara nge-Blog yang baik. Cara menaikkan trafic blog. Cara mendapatkan penghasilan dari sosial media. Dia melakukannya tanpa menetapkan rate card, standar gaji. Sekali waktu dia menerima 50$, di lain waktu dia menerima 350$, namun dia memberikan dedikasi pekerjaan yang sama besarnya kepada mereka, membantu sampai impian dan tujuan para kliennya terwujud.

Yang menyenangkan adalah kalimat terakhirnya yang menegaskan, bahwa Jon tidak fokus untuk mencari uang dari blog. Dia fokus mengubah hidup seseorang jadi lebih baik. Dan ternyata, uang juga datang sendiri.


Di suatu malam, saya menghubungi seorang blogger senior, mbak Ani Berta. Curhat ala blogger sebenarnya. Dan mbak Ani, juga membagikan pandangannya yang sama seperti Jon. Mbak Ani berkata,

"Ketika menjadi BLOGGER fokus saja untuk memberikan dan membagikan manfaat kepada sebanyak mungkin orang yang membutuhkan. Rejeki akan datang mengikuti"

You are Mastah Blogger mbak Ani, makasih ya.

Kembali ke Jon. Setelah dia bosen jadi pegawai dan memutuskan jadi Profesional Fulltime Blogger, Jon mendapatkan penghasilan berlimpah dari blog dan kelas belajarnya. Kemudian Jon diundang sebagai pembicara, narasumber, speaker, motivator. Jon mengatakan, jika dia bisa melakukannya, maka dia ingin banyak orang yang bisa juga sesukses dia.
Anda ingin keluar kerjaan lalu jadi profesional blogger? Bisa!
Anda ingin jalan-jalan keliling dunia sepuasnya? Bisa!
Anda ingin mendedikasikan diri tiap jam membantu orang dan membuat dunia ini jadi tempat tinggal yang lebih baik? bisa!
Dan itu semua diwujudkan Jon, dengan menjadi BLOGGER.

hhfhh..kalau sudah baca artikel ini ,mereka yang ringan berkomentar, “Enak ya jadi Blogger, Cuma Nulis Doang bisa Dapat Duit” , akan terdiam dan lari tunggang langgang menuju lautan kemudian dicaplok ikan.
*ih dendam banget sih Hen, :D

Begitulah kisah inspiratif dari saya, cerita aslinya dari artikel ini http://www.problogger.net/how-to-quit-your-job-move-to-paradise-and-get-paid-to-change-the-world/

Kalau ingin jadi blogger sukses, coba dulu fokus ngeblog "dari jam 8 pagi sampai jam 11 malam".
Lalu perhatikan apa yang terjadi :)

Semoga menginspirasi,

Salam

Heni Prasetyorini




Pengen Buka Kursus, Alhamdulillah Dapat PC All in One ASUS

Tidak ada komentar
Jadi begini teman-teman, sewaktu di akhir bulan puasa kemarin, menjelang deadline saya mendapat info ASUS Writing Competition dari komunitas Blogger Perempuan (BP). Antara pede nggak pede, saya ikutan daftar lomba. Sudah ciri khas BP, kalau ada lomba menulis di blog, pasti diminta ngisi form pendaftaran dulu baru kita bikin tulisannya. Jadi tidak langsung submit artikel lomba begitu saja. Bagus juga ya manajemennya BP, rapi. Perlu dicontoh :)

Dibilang juga, antara pede nggak pede, karena pernah ikutan lomba review gadget sekali lalu mati kutu lihat kompetitor blogger kawakan yang piawai membuat ilustrasi. Namun mbak Shintaries, punggawanya BP memberikan semangat, "Ayo dicoba aja, siapa tahu bisa jadi hadiah lebaran".

Yaudin, ya samsudinlah, Saya bondo nekad mencoba.
Topik lomba nulis ASUS kali ini tentang rencana bisnis StartUp yang bisa dikembangkan dengan menggunakan produk ASUS yang akan di review. Kebetulan, sejak lulus dari Coding Mum, di kepala saya udah beredar imajinasi visual tentang bikin kursus aja di rumah tuh. Ngumpulin emak-emak yang udah pada santai habis nganterin anak sekolah, trus belajar blogging, writing dan ngoding di rumah.

Hampir seminggu lebih saya membuat draft tulisan, riset, nanya ke coach Coding Mum tentang StartUp, membuat ilustrasi dan edit re-edit edit re-edit tulisan begitu seterusnya. Sampai jadilah artikel ini, http://www.heniprasetyorini.com/2016/06/asus-vivo-aio-v200ib-pc-all-in-one-canggih-dan-harga-bersahabat--yang-dibutuhkan-untuk-membuat-kursus.html


Ramadhan berlalu, lebaran pun berlalu. Saya sudah hampir haqqul yakin kalah. Karena tidak ada kabar hasil lomba. Saya pikir, info pemenang udah kelewat, mau nanya juga sungkan. Tapi yang namanya hati ini ngerapal do'a tuh terus aja, hehehe #pedeaja kan cuma doa.

Mengapa? karena saya udah ngidam banget pengen punya PC All In One yang layarnya gede itu. Pengen bikin tutorial dan video tutorial digital learning, yang ciamik gitu loh. Jadi, bismillah saya berdoaa aja bisa menang.

Ternyata, pada suatu pagi. Ketika saya ada di depan laptop, mendadak ada notifikasi email masuk di hape saya. Melihat nama pengirimnya, wow hati deg-degan nggak karuan. Dari ASUS. Dan, itu adala berita saya ditanyakan sebagai Juara 2 Untuk Kategori PC All in One. Allahu Akbar, senangnya tak terkira. Sekitar satu bulan berikutnya, PC All In One yang dijanjikan sebagai hadiah lomba telah sampai dengan selamat di rumah saya. Diterima oleh anak bontot dan suami saya. Kebetulan waktu itu saya sedang mengikuti seminar Ortu Digital dan bertemu dengan sahabat baru yang ingin diajari nge-blog.


start up
juara 2 Asus Writing Competition Kategori PC All in One

langsung lebay di fesbuk, hihihi



Jadi, jika teman-teman mengalami hal yang sama. Ada kegelisahan, harapan, impian yang begitu kuat untuk diungkapkan. Tulis aja. Syukur jika ada lomba terkait. Lalu diam-diam berdo'a. Kalau saya sih lebih banyak minta didoakan ibu, ibu mertua dan bapak mertua, suami dan anak. Kagak pede berdoa sendirian mah, hehehe.

Begitu saja cerita singkat saya.
Sebagai tambahan, setelah seminggu menulis artikel lomba tadi, saya lalu sakit berhari-hari. Lumayan juga sakit ketika puasa. Sakitnya kenapa coba? masuk angin kelamaan kena kipas angin pas ngetik. Juga kelamaan mantengin layar laptop. Mabok laptop namanya lah. hahaha.

Alhamdulillah, semua harga yang harus dibayar telah tertutupi dengan hadirnya PC All in One ASUS di rumah kami. Pengennya bisa  makin bermanfaat, semangat dan nambah sahabat deh. Amin.

Semoga bermanfaat bagi nusa dan bangsa :)

Salam,

Heni Prasetyorini




Kreatif, Go Digital dan Perbanyak Talents Muda Untuk Kemajuan Surabaya Menjadi Kota Kreatif Kelas Dunia

Tidak ada komentar
Orang kreatif tidak akan miskin dan bangkrut. - Tri Rismaharini
Kalimat itulah yang disampaikan oleh Bu Risma, sapaan bagi Walikota Surabaya yang menjadi walikota terbaik ketiga di dunia, pada acara Bekraf Developer Day, 4 September 2016,yang  saya hadiri bersama anak sulung saya itu.



Bu Risma melanjutkan kalimatnya dengan memberikan contoh.
Salah satu contohnya adalah kisah penjual kacang Madura. Sebelumnya kacang goreng yang dibumbui dengan air bawang putih itu, hanya dijual seharga Rp.2000,- per bungkus. Penjual mengemas kacang itu dalam plastik bening kecil-kecil, dan dijual rentengan di beberapa warung kopi.

Bu Risma kemudian memfasilitasi agar dibuatkan kemasan yang menarik untuk kacang goreng tersebut. Akhirnya kacang itu dikemas lebih banyak seberat 250gram. Gambar kemasan dibuat oleh desainer grafis profesional. Bahan kemasan dibuat lebih mahal dengan plastik doff. Hasilnya kacang goreng madura itu bisa dijual seharga Rp.15.000,-. Jauh lebih mahal daripada kacang yang dikemas seadanya di bungkus plastik sebelumnya.


"Ini namanya kreatif," begitu bu Risma menegaskan. Dengan cara berpikir kreatif, semua orang tidak akan kehilangan akal untuk mempertahankan hidupnya, begitu lanjut beliau. Orang yang mulai bisnis dan menemui kendala, tidak akan bangkrut, jika dia mau putar otak. Hanya sekedar mengganti kemasan, seperti kacang goreng Madura ini, penjualnya sekarang sudah jauh lebih sukses. Saya dan ribuan anak muda lebih di acara tersebut  manggut-manggut, membenarkan perkataan ibu Risma.

Dengan mental kreatif dan mindset yang terbuka, kita akan bisa mengatasi apapun yang terjadi dalam usaha yang dijalankan.

KREATIF 
Sepak terjang bu Risma untuk mendukung ekonomi kreatif di Surabaya, sudah tidak bisa diragukan lagi. Geliat kota mulai tampak dari berbagai segi. Di bidang kuliner misalnya, mulai bermunculan tempat makan atau cafe dengan konsep unik, kreatif dan mewadahi kegiatan komunitas. Di bidang teknologi, mulai banyak bermunculan acara yang mendukung perkembangan para programmer muda kota ini. Begitu juga dengan ranah seni, literasi, musik dan akademisi.

Tempat bekerja para pelaku industri kreatif pun mulai tersedia berupa co-workspace. Termasuk adanya Rumah Kreatif BUMN yang mewadahi adanya interaksi, edukasi dan pertumbuhan para pelaku UMKM di Surabaya. Training Gapura Digital yang memfasilitasi UMKM Go Online, juga diselenggarakan di Surabaya. Beruntung sekali, saya termasuk salah satu trainernya. Dan saya lihat antusiasme pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnisnya dengan teknologi berbasis online mulai diperhatikan.

Bahkan khusus untuk pelaku UMKM dan bisnis kreatif perempuan, terwadahi dalam seminar besar WOMEN WILL yang diselenggarakan oleh Google dan Femina, beberapa waktu lalu di gedung Dyandra Surabaya. Sebanyak hampir 2000 perempuan dari Surabaya dan sekitarnya, berkumpul disitu.

Hal ini sangat membanggakan. Sama halnya ketika saya mengikuti Bekraf Developer Day. Ada hampir 1300 orang yang hadir. Mereka adalah anak muda yang belajar dan bekerja di bidang Teknoogi Informasi.

Ribuan pelaku industri kreatif. Dengan beberapa narasumber dari Surabaya yang sangat berprestasi. Hal ini menunjukkan Surabaya sudah mempunyai sumber daya manusia yang sangat potensial. Di bidang bisnis ada, bidang teknologi juga ada. Lalu apa yang menjadi PR utamanya?


GO DIGITAL 


Menurut saya pribadi, Surabaya punya pekerjaan rumah (PR) besar untuk semakin GO DIGITAL. Surabaya harus bisa eksis di dunia maya dan media sosial, karena disanalah sekarang lintas informasi bergerak sangat cepat dan efektif.

Saya adalah arek asli Surabaya yang beberapa kali merantau untuk studi. Ketika kembali ke Surabaya, terkadang saya ingin menjelajahi kota, tapi saya tidak tahu harus mulai dari mana. Cara tercepat adalah saya mencarinya di portal pencarian seperti Google. 

Hasil yang saya dapatkan begitu random, banyak. Mayoritas ditulis oleh blogger dan orang secara personal. Saya belum menemukan satu portal yang resmi dan terpusat dari kota Surabaya, dan beritanya selalu di-update. 

Hal ini juga yang dikeluhkan dalam beberapa event diskusi dengan beberapa orang. Misalnya orang asing ingin datang ke Surabaya dan ingin berwisata kota, mereka bingung mencari informasinya dimana. Ulasan tempat wisata kota Surabaya belum terpusat jadi satu. Apalagi yang berbahasa Inggris. 

Padahal jika sudah ada portal website dan media sosial tentang Surabaya yang terpusat, maka segala bentuk informasi bisa diletakkan disana.

Selama ini kedua platform digital ini tersedia secara pribadi. Ada beberapa anak muda Surabaya yang membuat sendiri website dan media sosial untuk Surabaya contohnya twitter @info_surabaya. Akan jauh lebih efektif jika bisa bersinergi secara terpusat dalam satu forum yang sekaligus bisa mempunyai jaringan dengan pemerintahan kota Surabaya. Untuk pengisian konten bisa memberdayakan blogger, penulis konten, desainer grafis dan penterjemah bahasa Inggris profesional yang banyak di Surabaya.


Ada satu forum yang sudah mewakili hal tersebut yaitu SCCF (Surabaya Creative City Forum). SCCF memfasilitasi semua simpul di Surabaya. Di setiap simpul ada penanggung jawabnya. Hanya saja, ternyata, tidak semua orang tahu. SCCF perlu bersinergi dengan media dan media sosial partner seperti para blogger untuk semakin menyebarluaskan informasi dalam tiap program yang dilakukan.

credit


Baca Juga: Dengan SCCF Surabaya Siap Menghadapi MEA


Sinergi dan satu pusat informasi ini sangat penting. Pengalaman saya menunjukkan hal tersebut. Dengan berkecimpung di dunia literasi, bisnis dan teknologi, saya melihat hambatan yang muncul adalah kendala kurangnya informasi.

Misalnya di ranah teknologi. Beberapa kali saya terlibat dengan orang yang ingin membangun startup digital baru di Surabaya. Yang mengejutkan adalah mereka akan membuat startup baru dengan konsep yang sama dan sebenarnya sudah ada di Surabaya. Mengapa ingin membuat inkubator startup baru sedangkan sudah ada GERDHU, Gedung Creative Digital HUB, yang bisa dilihat di https://gerdhu.com/.

Di dunia bisnis juga misalnya. Bersama SCCF, saya mengikuti dialog bisnis kreatif dengan Rumah Bisnis Kreatif BUMN Mandiri. Disini banyak pelaku UMKM yang sudah tergabung. Di lain pihak, saya juga masuk sebagai trainer Gapura Digital. Yaitu projek UMKM Go Online yang difasilitasi Google.

Di Gapura Digital, pelaku UMKM yang masuk ke database sudah berjumlah ratusan karena pihak Google menggunakan langkah online untuk menjaring peserta. Yang menarik, beberapa peserta di Rumah Kreatif BUMN dan juga beberapa komunitas bisnis yang saya ikuti seperti WOSCA, belum tahu tentang Gapura Digital ini.Begitu juga sebaliknya, komunitas bisnis dan Gapura Digital belum banyak tahu tentang Rumah Kreatif yang memfasilitasi mereka untuk berkembang.

Menyampaikan informasi demi informasi secara personal tentu kurang efektif. Jadi saya sungguh berpendapat, Surabaya butuh satu portal website dan media sosial sebagai pusat informasi. Yang menyajikan informasi akurat dan paling terbaru tentang Surabaya disemua lini.

Setelah mendapatkan pusat informasi, maka kembali lagi ke SCCF sebagai pusat sumber daya manusia. Jadi siapapun yang ingin berkolaborasi, bisa mendapatkan informasi dan kontak dari SCCF. Mengoptimalkan satu forum yang sudah ada, akan jauh lebih efektif daripada membuat banyak forum baru. Terlebih lagi dalam SCCF sudah dilakukan kolaborasi pentahelix  yaitu sinergi antara Akademisi, Pebisnis, Komunitas, Pemerintah, dan Media Massa.


Dengan maju bersama dan menguasai informasi, maka Surabaya bisa mempunyai daya saing global.
Karena di era digital ini persaingan sudah melewati batas ruang dan waktu. Yang menang adalah yang menguasai informasi. Jadi sebisa mungkin Surabaya memanfaatkan media informasi agar segala projek yang dicanangkan bisa diketahui oleh warga Surabaya dan warga dunia.

Yang terakhir, Surabaya membutuhkan gaungan yang lebih mengaum di MEDIA SOSIAL. Maka Surabaya butuh media social strategist yang bisa menggunakan jasa profesional dari para freelancer atau blogger. Dengan aktif di MEDIA SOSIAL maka Surabaya akan bisa membangung keterikatan atau engagement yang baik antara warga dan pemegang kebijakan di Surabaya.

Kalau di Bandung, bapak Ridwan Kamil sendiri yang maju sebagai pemegang media sosial. Surabaya bisa membuat unit kerja khusus yang terdiri dari anak-anak muda. Sehingga generasi muda Surabaya bisa semakin terlibat aktif. Karena di tangan merekalah pertumbuhan Surabaya di masa depan akan berjalan.

PERBANYAK TALENTS MUDA

Hal ini bisa sangat optimal dengan kerjasama dari ASTRA sebagai fasilitator untuk memajukan Surabaya melalui 3 hal tersebut. ASTRA, sebuah perusahaan yang sudah tampak berkomitmen untuk memajukan Indonesia dari segala bidang. Kali ini ASTRA dibutuhkan untuk berkontribusi dari segi sumber daya manusia. 

Sesuai dengan data statistik penduduk Indonesia, 70% adalah generasi muda usia 18-35 tahun. Mereka termasuk generasi millenials yang tanggap teknologi digital dan mempunyai karakter unik seperti yang tertulis dalam buku Generasi Langgas karya Yoris Sebastian.

Generasi digital inilah pemegang peran penting pembangunan bangsa termasuk juga kota Surabaya. Geliat anak muda di kota pahlawan ini harus difasilitasi dengan baik, supaya kelak mereka lebih siap memimpin Surabaya menjadi lebih maju dan berdaya saing global.

Pengadaan Rumah Pintar, sebagai bagian kontribusi sosial dari Astra sangat membantu mewujudkan edukasi dan pembinaan generasi muda Indonesia.

credit


Astra sudah mempunyai program ASTRA CERDAS, ASTRA KREATIF,  dan juga SATU INDONESIA dan SATU INDONESIA AWARDS yang mencari anak-anak muda berprestasi dan berbakat (tallents). Contohnya seperti Dewis Akbar (34 tahun) yang menggagas "Lab Komputer Mini" di Garut.

credit
Gagasan Dewis untuk membuat laboratorium mini sebagai fasilitas belajar teknologi informasi untuk anggotanya sejak usia anak-anak, sungguh bisa jadi langkah yang bagus untuk menambah jumlah generasi berbakat Indonesia.

Generasi muda berbakat Indonesia yang dibutuhkan harus datang dari berbagai bidang. Seperti halnya sosok Muhammad Aripin yang mengelola sampah daur ulang menjadi benda bernilai ekonomis ini.

Sore ini masih dalam SATU Indonesia Berbagi bersama penerima SATU Indonesia Awards 2016, Muhammad Aripin. . Dulu dia bekerja sebagai guru, tapi kepeduliannya kepada anak-anak kurang beruntung menggerakkan dia untuk membina mereka lewat Yayasan Rumah Kreatif dan Pintar. . Menurut Aripin , "yang membuat saya terketuk untuk membuat @Rumahkreatifdanpintar74 kota Banjarmasin adalah cita2 almarhum kedua org tua saya yg bermimpi pengen banget punya sekolah buat masyarakat yg tidak berkesempatan meraih pendidikan Jadi saya mewujudkan impian beliau, karena saya menyadari orang tua saya seorang tukang Beca sekaligus pengumpul sampah untuk memperjuangkan sampe saya meraih sarjana...Ketika karir saya mulai baik keduanya belum sempat merasakan...Mungkin dengan cara terus berbagi dan menebar manfaat buat orang banyak, orang tua saya jg merasakan rezeki melalui pahala. Harapan saya Banjarmasin juga bisa berkualitas ditingkat nasional dan berharap sekali kami punya tempat aktifitas dan workshop sendri bangunan yg layak.. semoga dg usaha kami tempat itu bisa terwujud... . Yayasan ini bergerak dalam pengolahan sampah yang diubah menjadi barang-barang bernilai ekonomis. Ini adalah hasil kreativitas Aripin dalam memberdayakan anak-anak kurang beruntung agar terus berkarya. . Simak juga timeline @wiranurmansyah dan @rizalabdlh_ untuk tahu cerita lainnya. #Astra60 #SATUIndonesia
Sebuah kiriman dibagikan oleh SATU Indonesia (@satu_indonesia) pada

Seperti yang disampaikan oleh pak Zaenal, founder GERDHU, di acara Dialog Bisnis Kreatif tempo hari, beliau mengatakan bahwa "talents setiap kota sebaiknya itu banyak. Supaya dalam setiap program kerja atau projek untuk memajukan Surabaya ini lebih banyak lagi yang bisa memimpin. Kalau tidak banyak, maka yang maju ya kami-kami ini terus."

Program ASTRA CERDAS selain Guruku Inspirasiku

ASTRA sangat bisa memfasilitasi generasi muda Surabaya untuk semakin mengasah minat bakat mereka. Sehingga setiap hal yang sudah muncul di kota ini, bisa mereka lejitkan ke ranah global bahkan internasional dengan kepiawaian mereka di segala bidang. Terlebih kepiawaian mereka connected secara digital. 

Seperti halnya profil GenerAKSI CERDAS yang sudah ditampilkan oleh SATU INDONESIA,
berikut ini:


Potensi, energi dan misi visi ASTRA membangun sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik ini, pasti sangat mampu ikut serta memfasilitasi Kota Surabaya untuk menjadi kota kreatif kelas dunia. Sebuah Kota yang mampu mandiri dan bisa menginspirasi dengan memajukan potensi industri kreatif yang sudah menggeliat mulai sekarang.

ASTRA bersinergi dengan SCCF dengan bahan baku anak muda Surabaya, akan menjadikan mimpi itu terwujud dengan segera. Karena SCCF telah membuat program yang bisa memfasilitasi 10 simpul kreatif dari 16 simpul yang dicanangkan oleh BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif).

Adapun 10 simpul kreatif itu adalah aplikasi dan pengembangan game, arsitektur dan desain interior, desain produk, televisi dan radio, kuliner, kriya (kerajinan tangan), film, penerbitan, periklanan, dan desain komunikasi visual. Sementara simpul lain yang akan dikembangkan ialah fashion, animasi video, fotografi, musik, seni pertunjukan, dan seni rupa.

Sedangkan ASTRA adalah perusahaan besar yang saat ini memiliki 214.835 karyawan pada 208 anak perusahaan, perusahaan asosiasi dan pengendalian bersama entitas yang menjalankan tujuh segmen usaha, yaitu sebagai berikut:




Bersama inspirasi 60 tahun ASTRA  untuk Indonesia, kami, arek Suroboyo,  siap bergandeng tangan dengan penuh semangat. Sehingga misi pak Presiden Joko Widodo untuk menjadikan industri kreatif sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia, bisa segera terwujud. Sukses untuk ASTRA. Sukses untuk Surabaya dan pasti sukses untuk Indonesia.



Literatur:

  1. https://id.techinasia.com/bekraf-developer-day-surabaya-inspirasi-developer-game
  2. Website Surabaya Creative City, www.surabayacreativecity.com
  3. http://surabayacreativecity.com/2016/08/04/sccf-deklarasikan-kolaborasi-pentahelix/
  4. https://www.astra.co.id/
  5. http://satu-indonesia.com/satuindonesiaawards/
  6. http://satu-indonesia.com/home/artikel/detail/371/-rumah-pintar-astra,-sahabat-kita

Mindset Berubah Lebih Bermakna Setelah Membaca Buku Astra: on Becoming Pride of The Nation

Tidak ada komentar
Books don't change people: Paragraphs Do , Sometimes Even Sentences

Sebuah buku tidak akan bisa mengubah seseorang. Tetapi beberapa paragraf bahkan kalimat di dalamnya bisa mengubah seseorang. Makna quote di atas tepat sekali untuk menggambarkan isi buku Astra: on becoming Pride of The Nation.

Buku ini berisi tentang perjalanan perusahaan ASTRA International yang semua berawal dari usaha kecil, kemudian bisa berkembang pesat menjadi perusahaan multinasional. Gambaran perjalanan yang diberikan adalah bahwa semua itu bukan proses instan. Satu per satu tahapan harus dilakukan oleh pendiri dan semua karyawan yang biasa disebut insan ASTRA, sampai bisa menjadi sukses seperti sekarang.

buku ASTRA: on Becoming Pride of The Nation
buku ASTRA: on Becoming Pride of The Nation


Untuk generasi langgas, generasi millenial yang hidup dalam kondisi teknologi canggih dan terbiasa bergerak cepat sangat perlu membaca buku ini. Banyak studi kasus dan kisah sukses ASTRA yang diangkat di buku ini, bisa jadi landasan berpikir tentang bagaimana bersikap atau mengambil keputusan jika mengalami keadaan yang serupa.

Apalagi kisah manajemen ASTRA yang telah dibukukan ini, mengangkat begitu dalam filosofi CATUR DHARMA sebagai ideologi perusahaan. Jika semula mindset orang memandang bisnis dan perusahaan besar hanya dan hanya berorientasi pada peningkatan omset dan profit. Dengan membaca buku ini, mindset itu akan berubah.

Dalam filosofi CATUR DHARMA, pada dasarnya adalah semua tindak tanduk manusia harus kembali untuk kebaikan manusia lainnya, bahkan dalam bentuk bekerja di sebuah perusahaan. Tidak sekedar mengejar keuntungan material, ASTRA menanamkan kepada semua insannya bahwa perusahaan harus bisa memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa.

"Kebesaran Astra bukan pada jumlah profit atau inovasi teknologi baru yang dihasilkan, 
tetapi ketika bisnis baru dan lapangan kerja terus tercipta"


Menjadi sukses bukan untuk dirinya sendiri, hal menakjubkan ini dibangun dan dimulai oleh si Om, panggilan akrab dari bapak William Soeryadjaya, pendiri ASTRA. Kisah hidupnya yang sulit di masa muda, karena menjadi yatim sejak usia 12 tahun, malah bisa menempa ketangguhan dan intuisi bisnis dari pak William.

Terus bisa berpikir dan tekun bekerja di masa sulit, hal inilah yang bisa mengubah mindset generasi muda, bahwa untuk menjadi sukses harus dimulai dengan berbagai fasilitas yang lengkap. Pak William salah satu contoh nyata yang harus diteladani.

Meskipun dalam perjalanan hidup dan bisnisnya, pak William kerap jatuh bangun, bahkan sampai pernah masuk penjara karena difitnah, dia tidak pernah menyerah. Tanpa takut, dia terus membangun bisnisnya. Seperti halnya kisah ASTRA yang dimulai dari perusahaan kecil.

Bersama Kian Tie, adiknya dan seorang sahabat baiknya Liem Peng Hong, pak William membeli sebuah perusahaan kecil yang beralamat di Jalan Sabang No.36, Jakarta. Perusahaan ini diberi nama Astra, yang diambil dari nama Dewi Astrea, dari mitologi Yunani, yang artinya terbang ke langit menjadi bintang.

Awal bisnisnya Astra mengalami kegagalan sampai jutaan dollar Amerika. Namun pak William terus menerus bangkit, bekerjasama dengan Pemerintah dan berbagai pihak untuk mengembangkan bisnisnya. Beralih dari perusahaan manufaktur menjadi perusahaan otomotif karena terbukanya peluang yang ada saat itu.

REDIRECT itu tidak masalah. 

Jika kenyataan yang terjadi tak sesuai dengan tujuan awal kita, tak perlu putus asa. Tak perlu merasa gagal atau bodoh. Lakukan saja seperti yang pak William pilih, yaitu mengubah lini bisnisnya, menyambut peluang yang ada dan bersungguh-sungguh mengembangkan bisnis baru itu. Redirect, mengaatur ulang arah hidup baru dan ditekuni dengan sebaik mungkin.

Pernah suatu kali pak William nekad masuk ke industri baru tanpa penguasaan kompetisi. Hal ini membuat banyak orang sampai geleng-geleng kepala. Namun, otaknya lalu berpikir keras, siapa yang harus didekatinya untuk membantu merealisasikan mimpinya?

"terus berpikir keras dan mencari mitra kerja yang lebih hebat"

Ini adalah mindset yang sangat menarik. Jika ingin merencanakan sesuatu yang besar, jangan patah arang karena merasa tidak yakin atau tidak cukup pintar. Boleh saja mengerjakan sesuatu yang tampak di luar jangkauan namun peluang besar. Untuk mewujudkannya, kita bisa mencari mitra kerja atau pembimbing yang bisa menunjukkan arah mana yang harus dituju agar rencana kita berhasil. 


Ketekunan pun tak selalu langsung berbuah sukses. Ada kalanya terjadi kegagalan dan penolakan dari mitra kerja yang dibidik. Hal ini membuat pak William kembali masuk ke dalam situasi kritis. Untuk mengatasinya, dia berdoa dengan sungguh-sungguh agar diberikan jalan keluar.

"Terkadang kita menganggap kemampuan diri terlalu hebat dan melupakan khasiat DO'A"

Saya terperangah beberapa kali ketika membaca lembar demi lembar buku ini. Sama sekali tidak menyangka bahwa perusahaan sebesar ASTRA dibangun setapak demi setapak. Yang ada di kepala saya, pebisnis biasanya hanya fokus untuk mengembangkan usaha, karena profit. Ini karena informasi dari media yang pernah saya baca.

Sedangkan ASTRA, tidak hanya itu. Perusahaan ini sangat berkomitmen menjadi bagian dari kemajuan bangsa Indonesia dengan berbagai program. Salah satunya adalah program pengentasan kemiskinan melalui pendidikan, yang ditulis pada halaman 423 di buku ini. 

Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslin (YPA-MDR) mempunyai visi membantu sekolah tingkat dasar dan menengah di daerah pra-sejahtera. Programnya dalam bentuk pengembangan SDM, kurikulum dan manajemen sekolah yang profesional. Tujuannya adalah agar para siswa mampu meningkatkan kualitas hidup, serta memiliki karakter yang didasarkan pada nilai luhur bangsa Indonesia. Hingga tahun 2015, YPA-MDR telah membina 50 sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Sungguh menakjubkan kiprah ASTRA untuk kemajuan bangsa ini. Untuk kita yang belum mempunyai perusahaan sebesar ini, terus menanamkan mindset bahwa setiap tindak tanduk kita adalah juga untuk bangsa, adalah hal yang sangat bagus. 

Dalam buku ini, tujuan ASTRA 2020 "Pride of The Nation" merupakan wujud ASTRA membantu pemerintah dalam membangun negara, agar maju dan bisa sejajar dengan negara maju dan besar lainnya. Kita pun perlu juga menanamkan semangat menuju kebanggan bangsa: on Becoming Pride of The Nation, dalam segala tindak tanduk.

Buku setebal 518 halaman ini yang ditulis oleh Yakub Liman, yaitu orang yang pernah memimpin Astra Management Development Institute (AMDI) pada tahun 2000-2008. Untuk menulis buku ini, dilakukan riset dan wawancara mendalam selama lebih dari setahun. Hasilnya adalah buku yang berisi pokok bahasan praktik manajemn dan kepimpinan insan Astra, dan diharapkan menjadikan sumber ilmu dan inspirasi bagi generasi muda bangsa. 

Sungguh beruntung ada buku ASTRA: on Becoming Pride of The Nation yang memberikan saya semangat lebih tinggi lagi untuk bersungguh-sungguh berbuat sesuatu. Tidak ada kata terlambat untuk berbuat hal baru. Sama halnya seperti pak William yang masih bersemangat membangun bisnis baru di usia 70 tahun (hal.2). Buku ini rekomended banget untuk dibaca siapa saja, apalagi menjadi harta benda dalam keluarga. 

Selamat ulang tahun ke 60 ASTRA, semakin sukses, berjaya dan semakin bermanfaat untuk bangsa.

Semoga menginspirasi,


Heni Prasetyorini 

Seru, Jadi Trainer Gapura Digital Surabaya

Tidak ada komentar
Sudah tahu kan tentang Gapura Digital? Sudah menggema ya nama ini di berbagai kota. 
Ya, kebetulan saya tergabung sebagai salah satu TRAINER di Gapura Digital kota Surabaya. 

Seru banget jadi trainer disini. Bertemu dengan berbagai pengusaha UMKM skala kecil sampai yang sudah besar sekali omsetnya. Mereka semua ingin mengembangkan bisnisnya menjadi online. Jika anda salah satu dari mereka, bisa segera gabung disini. It's 100% FREE.

Apa itu Gapura Digital?

Program yang mendukung Usaha Kecil Menengah Indonesia untuk memajukan bisnis melalui digital. Terdapat serangkaian topik yang lengkap mulai dari tren digital, membangun portal usaha hingga SEO/SEM. Anda dapat memilih topik yang diinginkan atau ikuti semua kelasnya untuk mendapatkan sertifikat dari Google.


Salah satu peserta Gapura Digital, Keren ya :)


Pelatihan Gapura Digital

Di Gapura Digital terdapat kelas-kelas gratis yang bisa anda ikuti dengan berbagai topik untuk mengenal lebih dalam bagaimana membangun usaha melalui digital. Kelas-kelas ini terbagi menjadi tiga kategori dari Siap Digital, Handal Digital dan Kelas Berbagi.
PILIH KOTA DAN DAFTAR KELASNYA







Jika ada kenalan dekat atau anggota komunitas ingin memajukan usaha dengan cara digital atau mulai bisnis online, silahkan ikut training ini. Gratis 100%, malah dapat jajan loh. Lumayan kan.
Jika jadwal tepat, bisa bertemu dengan saya :)

Ayo segera daftar di kota terdekat. Jangan lewatkan kesempatan.


Writingthon #1 di Puspiptek Membuatku Redirect Kembali Ke Sainstek

Tidak ada komentar
"when I saw (again) a chemistry laboratory that day, I know I have to redirect my path"

Bau khas laboratorium kimia. Senyuman dan tutur kata yang runtut dari perempuan yang hamil tua dan menerangkan detil tentang konsep Meterologi. Istilah ilmiah, binar mata menyala dan bergairah dari para peneliti yang menceritakan kisahnya, membuatku menarik nafas berulang-ulang. Disinilah, disinilah, disinilah seharusnya aku mengabdikan jiwa raga. Di dunia penelitian sainstek dan pendidikan. Sesuai dengan latar belakangku mengambil kuliah sarjana kimia dan pasca sarjana Teknologi Pendidikan. Benar, inilah saatnya aku berpikir serius untuk REDIRECT.

Debaran Hati di Gedung Merah LIPI Kimia

Aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu lagi dengan terminologi kimia. Bisa masuk ke gedung besar dengan petunjuk bertuliskan LIPI KIMIA. Apalagi bisa mendapatkan kontak langsung bu Zalinar Udin, Kepala Balai Laboratorium Biomolekul LIPI Kimia Bandung, yang sudah 16 tahun tak bersua.

Bu Zalinar, sangat membantuku di masa penelitian Tugas Akhir  dan setelah lulus kuliah Sarjana. Topik skripsiku termasuk dalam penelitian beliau di S3. Yaitu meneliti ada tidaknya interaksi antara ekstrak Gardenia Turbifera WALL dengan DNA bakteri Salmonella typhi.

Beliaulah yang akhirnya menerimaku untuk bekerja di LIPI dengan tangan terbuka lebar setelah lulus, juga mengijinkan mengundurkan diri ketika memilih kembali ke Surabaya ketika hamil anak pertama. Bahkan 2 tahun kemudian setelah anak pertamaku lahir dan besar, beliau masih dengan semangat menyuruhku kembali bekerja di sana, di LIPI Kimia Bandung.


Walaupun akhirnya aku tidak meneruskan rencana kembali ke LIPI, tapi bagaimana beliau menerimaku kembali, sangat berharga di hatiku ini. Pendek kata, Kimia berkesan di hati walaupun aku berusaha sekuat tenaga menguburnya dalam-dalam.

di depan gedung LIPI KIMIA

Laboratorium Kimia untuk bioenergi
Aku di depan Pilot Plan Bioetanol Generasi 2 LIPI Kimia




Bagaimana seorang "aku" bisa sampai kesana?
Jalan yang terbuka dan tak terduga berasal dari satu kata yaitu WRITINGTHON.

WRITINGTHON #1 : INOVASI ANAK NEGERI

Writingthon adalah ajang para penulis untuk bekerjasama mewujudkan satu buku. Proses penulisan dan pencarian sumber tulisan dilakukan secara marathon dalam batas waktu tertentu.

Diinspirasi oleh projeknya para programmer aplikasi mobile yaitu Hackathon. Bedanya, disini para programmer dan timnya harus bekerja selama 3 hari membuat sebuah aplikasi berbasis android yang bermanfaat.

Hackathon untuk programmer.

Writingthon untuk penulis.



Audisi penulis writingthon ini juga sama maratonnya. Hanya 1 minggu saja, Bitread, sebagai penyelenggara menggelar rekruitmen. Kami, para blogger, biasa menyebutnya sebagai kompetisi ngeblog atau menulis.

Biasanya satu banner kompetisi menulis akan beredar viral di komunitas blogger. Tapi kali ini tidak. Aku mendapatkan banner di hampir tengah malam. Saat itu, teman aku, Prita Hw, blogger dari Jember, sengaja mengirimkan banner ini secara pribadi di chat messenger.
Aku langsung terpana melihat syaratnya adalah penulis berbasis sains. Langsung juga berterima-kasih kepada Prita karena sudah memberitahukan hal itu.

“Ikut sana mbak, aku nggak punya background sains. Sampeyan saja yang maju,”begitu tulis Prita.

Aku sama sekali tidak tahu apa itu Puspiptek, Bitread dan Writingthon.
Sebelum bergerak selanjutnya, aku cari dulu kedua “kata kunci” itu di google chrome, browsing. Semacam naluri blogger yang menyelidiki apakah kompetisi ini beneran atau abal-abal. Dan hasilnya fix semua aman, benar dan bisa dipercaya.

Malam itu juga, aku lembur di depan laptop sampai menjelang dini hari. Segera mencari banyak literatur tentang ilmuwan yang harus menjadi topik artikel yang akan diaudisi. Pilihan pun jatuh pada bu Evvy Kartini, satu-satunya Ilmuwan Nuklir dari Indonesia, perempuan pula, hebat. Aku sengaja memilih beliau karena genre menulisku selama ini juga seputar perempuan dan teknologi. Pas banget.

Urusan tulis menulis pun harus berhenti sejenak, karena esok paginya, aku ke Jombang, mengantarkan si anak sulung kembali ke pondok pesantren. Aku bertekad menyelesaikan tulisan ini dan ikut audisi. Tapi sama sekali tidak berharap atau menganggap bisa lolos. Tulisan aku selesaikan di rumah ibu, dengan sedikit drama karena laptop harus di-service dan ibu tak suka aku “mainan laptop” di depan beliau. Terlebih jika ada juga suamiku disitu.

Perempuan Jawa haram hukumnya jika membiarkan suami tanpa kopi di sore hari, syukurlah ibu tidak terlalu bereaksi keberatan saat itu karena suamiku mengatakan sudah biasa menghadapiku seperti itu ketika sedang dikejar "deadline" untuk menulis sesuatu.

Sebenarnya kondisi kurang kondusif dan aku tidak yakin bakal lolos. Tapi aku nekad saja, menyelesaikan semaksimal mungkin di waktu mepet itu. Menuliskan esai tentang motivasi mengikuti audisi yang menyertakan kalimat “ingin membumikan hasil riset agar mudah dipahami orang umum”. Aku kirim email ke  penanggung jawab kompetisi. “Kirim dan Lupakan.” Itu mantraku saat menekan tombol SEND.

Alhamdulillah, ternyata aku diterima dan lolos audisi menjadi 10 Penulis terpilih dari 200 peserta yang mengirimkan tulisannya. Atas bantuan Alloh SWT.

Writingthon vs Puspiptek

INOVASI ANAK NEGERI. Writingthon yang pertama ini diadakan bertepatan dengan program Puspiptek Serpong Bogor yang akan mengadakan PIF (Pekan Inovasi Festival 2017). 10 penulis pilihan dari writingthon diberikan tantangan untuk menuliskan buku yang bisa mendeskripsikan tentang Puspiptek dan semua hal yang ada di dalamnya, misi visi, inovasi, kendala dan juga harapan yang dimiliki oleh lembaga penelitian terbesar di Indonesia ini.

Oleh karena itu, kali ini latar belakang penulis memang dipilih yang berbasis Sains dan Teknologi. Aku punya basis kimia karena kuliah S1 mengambil jurusan Kimia FMIPA di ITB. Teman aku lain ada yang dari Fisika, Biologi, Matematika dan juga yang aktif dengan kegiatan reservasi alam. Aku pun sangat intent, tekun dan aktif untuk terlibat dalam teknologi. Terutama teknologi digital untuk digunakan di pendidikan dan kreatifitas. Mungkin salah satu latar belakang ini yang menjadi nilai tambah dariku.


Sampai tiba di hari pelaksanaan. Urusan akomodasi sudah ditangani dengan baik oleh pihak Puspiptek. Aku hanya menyediakan biaya taksi untuk jarak rumah-bandara-lokasi acara. Di Wisma Tamu Puspiptek jadi base camp pelaksanaan. Kami tidak akan hanya duduk manis menulis disana. Sekali lagi, kami harus marathon keliling laboratorium dan gedung tertentu Puspiptek yang akan diangkat sebagai materi tulisan. 


ibu Sri Rahayu, Kepala Puspiptek Serpong

Acara dibuka resmi oleh kepala Puspiptek, ibu Sri Rahayu, yang gesture tubuh dan cara bertuturnya mirip banget dengan bu Risma, Walikota Surabaya. Sedangkan wajah beliau mirip banget dengan bude tetanggaku seberang rumah. I feels like home J

Baiklah untuk tiga hari ke depan, aku harus siap jiwa raga. Alhamdulillah saat itu aku sehat wal afiat. Dan tidak ada kendala baper atau mellow ala emak-emak yang melanda. I’m ready 100%. I’m on fire. Mungkin juga karena di sekelilingku ini anak-anak muda. Ya, bisa dibilang aku paling tua disana. Dan mereka pun satu persatu mulai memanggilku MAMA.

Menjadi paling tua, tidak ada halangan sama sekali. Kecuali sakit pinggang dan sakit kepala yang dating lebih cepat ketika hari lembur telah tiba. Ya, di hari ketiga, 10 penulis diletakkan dalam posisi berhadap-hadapan di dua sisi meja panjang. Seperti pemandangan kantornya media online, beneran deh. Kami bersepuluh dan beberapa tim Bitread terus berdiskusi, menulis dan ngakak bersama sampai lewat tengah malam. Inilah Menulis Marathon itu.

Ya, hari pertama dan kedua, kami marathon mewawancarai peneliti. Dating ke lokasi sampai ke tempat penyimpanan Reaktor Nuklir di Batan. Menyusun taktik penulisan dan memilih sudut pandang yang akan diambil. Baru di hari ketiga, setelah materi terkumpul, menulis di depan laptop dilakukan pol-polan. Lewat jam 2 dini hari, kepalaku sudah nggak kuat. Pusing bagian belakang. Bahaya kalau diteruskan nih, pikirku.

Mungkin dulu jaman masih unyu, aku berani saja nggak tidur seharian. Tapi aku dah sadar umur. Daripada dipaksa terus aku pingsan, mending aku menyerah dan tidur dulu saja. Teman sekamarku, si anak mahasiswa abege, Iiz , juga beberapa kali merengek mengajakku kembali ke kamar. Dia sudah nggak kuat juga. Bukan karena dia tua. Tapi karena kemarin malam dia juga begadang sampai pagi. Sepertinya ada tugas kuliah juga yang harus dia selesaikan. Fix, kami ke kamar. Dan satu per satu temanku pun kembali ke kamar. Hanya satu orang yang bertahan sampai shubuh dan selesai menulis 10 halaman, namanya pak Mul dari Semarang. Jagoan euy.

10 penulis pilihan Writingthon #1 , Pihak Puspiptek dan Bitread

Kita akan punya energi yang semakin kuat jika berada di lingkungan dengan frekuensi yang sama. Begitulah yang aku alami saat itu. Jika dihitung kasar, energi kami seharusnya habis karena harus lari kesana kemari dari satu laboratorium ke laboratorium lain. Lalu bertemu dengan narasumber yang kebanyakan para peneliti senior.

Peneliti senior yang sangat antusias menjelaskan detil konsep penelitian mereka, yang seringnya malah mengeluarkan istilah ilmiah yang kadang diluar pemahaman kami. Disaat yang sama, kami harus konsentrasi penuh menyerap penjelasan para peneliti sekaligus menyiapkan pertanyaan di waktu yang sama. Kalau bisa melihat alur kerja di dalam sel neuron kami, mungkin loncatan elektron dari satu synaps ke synaps lainnya seperti mereka lari Sprint ya, nggak cuma marathon. Cepet banget! 

Sedang mendengarkan paparan Peneliti di Puspiptek

Biasanya, orang akan mudah kelelahan bila digempur tuntutan harus berpikir keras sekaligus bergerak kemana-mana. Giliran menulis, hampir dipastikan langsung tumbang. Atau malah sama sekali nggak ada ide mau nulis apa karena kecapekan.

Tapi, ajaibnya, hal ini sama sekali tidak terjadi pada kami. Baik 10 penulis, pihak Puspiptek juga baladewa Bitread, semuanya antusias dan energik. Sampai tengah malam kami tak hentinya bergantian melontarkan pemikiran yang "berat".

Mengapa hal ini bisa terjadi?
Secara pribadi, kalau aku, alasannya adalah aku terperangah dan takjub. Bahwa negeri ini punya Pusat Penelitian sebesar Puspiptek dengan prestasi dan fasilitas yang sudah setara dengan kelas dunia internasional. Hanya saja, tidak banyak yang tahu.

Akhirnya, aku seperti kesetrum petir dan akhirnya ingin segera memberitahukan ke semua orang. 

"Haiii kita punya PUPSPIPTEK loohh gaeess....bangga banget deh!!"


Kegemasan untuk memberitahukan ke sebanyak mungkin orang melalui tulisan kami inilah yang membuat kami tak habis-habis energinya.

Terlebih lagi aku sendiri, seperti terhenyak ke masa lalu bergaul dengan larutan asam sulfat, laboratorium, elektroforesis dan lain sebagainya jaman kuliah di Kimia. Ketika merenung kembali, kenapa aku sampai di titik ini, akhirnya aku mengambil kesimpulan. Bahwa ini adalah tugasku ketika dilahirkan ke dunia ini. Istilahnya adalah Inilah Tujuan Penciptaanku.

Pundakku seperti ditepuk seseorang dengan mantap dan mendengarnya berkata, "ingat, ada ribuan materi sains yang sudah kau lahap bertahun-tahun ketika menempuh studi. Juga rangkaian berita sainstek yang suka kau baca di setiap ada kesempatan. Ingat bahwa itulah juga amanah dan tanggung jawab yang harus kau selesaikan di dunia ini."

Semacam itulah hasil perenunganku. Demi juga mendengar paparan beberapa peneliti dan teknopreneur di gedung TBIC Puspiptek (Technology Business Incubation Center) yang ingin agar kiprah mereka bisa semakin diketahui banyak orang untuk memberikan inspirasi. Saat itulah aku semakin yakin bahwa aku harus berbuat sesuatu untuk ranah ini: SAINS - TEKNOLOGI - RISET.

Ide yang pertama kali terbesit adalah membuat media online yang mengulas tentang 3 hal tersebut. Ide ini aku sampaikan ketika sesi berjumpa peneliti dan teknopreneur di TBIC waktu itu. Dan segera disambut baik oleh mereka. Humas Puspiptek, juga memberikan masukan bagaimana caraku bekerja nanti jika harus berhadapan dengan peneliti. 

Sebuah angin segar untuk ide berkutat dengan media online yang mengangkat hal yang tidak biasa. Sampai kembali ke Surabaya, ide ini terus aku gulirkan di setiap kesempatan. Aku sengaja mengikuti workshop cara merencanakan sesuatu menggunakan Business Model Canvas. Aku bertanya pada teman programmer yang ahli membuat website dan pengalaman mengelola media online. Kepada sebanyak mungkin orang, aku sampaikan niatkan ingin membuat sesuatu yang online untuk memfasilitasi keinginan para peneliti di Puspiptek tempo hari.

Akhirnya, aku dan teman-teman Writingthon memilih satu nama media yang bisa mewakili dan menjadi nama media online kami nanti. Namanya adalah RISETPEDIA. Banyak rencana yang berloncatan di kepala terkair Risetpedia ini. Risetpedia Go to School, Risetpedia Quote, Kompetisi, Seminar, Festival, Vlog, You Tube, Komik dan segala macamnya. 

Sebagai gerak cepat yang biasanya spontan dilakukan oleh blogger, khususnya aku, segera saja aku membuat akun username media sosial dan membeli domain. Tujuannya agar niat ini tidak keduluan orang. Karena sekali username dipakai orang lain, kita tidak bisa merebutnya kecuali dimodifikasi dengan kata dan huruf lain.


Jadi, mulai domain www.risetpedia.com dan username @risetpedia, semua sudah ada di dalam genggaman tanganku. 

Belum fix semua sudah melakukan itu semua?

Boleh kok, itu sah-sah saja di dunia digital seperti ini. Karena tumbuh dan mengembangkan suatu produk atau media bersama dengan "follower" kita malah akan saling menguntungkan. Kita bisa membaut produk yang tepat sasaran yang mereka butuhkan. Sekaligus mereka bisa merasa engage dan terkait emosional baik dengan kita.

Sekarang aku masih terus menggodok ide ini.
Karena setelah pulang dari Writingthon, ternyata aku tak hentinya juga terus menulis secara marathon. Pekerjaan terkait menulis, semakin datang. Bahkan saat ini aku terlibat Pelatihan Menulis Karya Tulis Ilmiah yang diadakan oleh Kemdikbud, untuk menjaring penulis yang paham teknologi dan Teknologi Pendidikan. Pelatihan untuk meningkatkan kualitas dan menambah jumlah jurnal pada website Jurnal Teknodik yang akan go Online.

Sebulan setelah Writingthon, aku mengikuti pelatihan Jurnal Ilmiah di Jakarta

Alhamdulillah, disinilah aku berada sekarang.
Dan aku sangat yakin dengan keputusan untuk tekun di bidang penulisan, sains, teknologi dan pendidikan. Semoga semakin banyak kesempatan untuk berkolaborasi dengan semakin banyak orang hebat lainnya. Sehingga ide untuk mengembangkan RISETPEDIA berhasil menjadi inspirasi, informasi dan motivasi para generasi muda bangsa untuk menjadi peneliti, teknopreneur. Bangsa ini di masa depan akan makin banyak memiliki orang yang siap membuat sesuatu yang dibutuhkan bangsanya sendiri. Dan tidak melulu menjadi konsumen dari produk bangsa lain.

Di depan salah satu tembok di gedung TBIC Puspiptek Serpong
Di akhir tulisan ini, aku ingin kembali mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk BITREAD, PUSPIPTEK dan WRITINGTHON yang telah memberiku kesempatan untuk "kembali ke jalan yang benar" :)

Love you from my deepest heart.

Salam,


Heni Prasetyorini