Nikah Dulu Baru S2

Tidak ada komentar

 Judulnya bukan untuk memprovokasi kalian untuk menikah muda. Nanti jadi korban Pernikahan Dini, bahaya. Halah. Yang tahu judul sinetron yang dimainkan Agnes Monica dan Syahrul Gunawan ini, fix, kita seumuran. 

Judulnya adalah cerita hidup saya. Yang nggak hebat-hebat amat, jadi ditulis bukan untuk ditiru atau dijadikan target hidup. Apalagi masuk dalam Vision Board kalian di rumah. Jangan. 

Ini adalah berbagi cerita, bahwa yang namanya Menikah Itu, memang beneran nggak mudah. Baik itu untuk perempuan Sarjana, Lulusan SMA, tidak sempat sekolah atau tidak boleh ikut ujian SD seperti ibu saya. 

Baiklah, mari kita lanjutkan ceritanya. 

saya dan suami di usia 20 tahun pernikahan

Begini, sebenarnya rada enggan ngobrolin tentang rumah tangga dan cinta-cintaan di media sosial atau di blog. Bukannya apa, takut menyinggung perasaan kalian yang berbeda cerita. 

Tapi sepertinya udah di usia 42 tahun ini, ya saatnya mendongeng alias berbagi cerita. Siapa tahu ada yang mengena di hati kalian dan bisa nambah wawasan untuk berpikir jernih sebelum mengambil keputusan untuk menikah. 


NIKAH DULU BARU S2

Iya benar. Tiga bulan sebelum Sidang Sarjana di Kimia ITB, saya menikah. Lalu mengerjakan Skripsi, sidang, baru lulus kuliah. 

Singkat cerita, setelah lulus Sarjana di Bandung, saya dan suami memutuskan kembali ke kota kelahiran saya di Surabaya. Hampir selama 12 tahun saya menjadi Ibu Rumah Tangga, yang melanjutkan kuliah S2 dengan biaya sendiri, alias didanai oleh gaji dan tabungan suami. Saya, sama sekali tidak berpenghasilan pada saat itu. 

Kok keren mbak Hen?

Kelihatannya iya. Tapi bener-bener itu adalah sejarah yang berdarah-darah. 


Menjadi Ibu Rumah Tangga setelah lulus Sarjana, sama sekali bukan impian saya bahkan bukan target hidup saya. Saat itu seharusnya saya menjadi PENELITI BIOKIMIA MEDIS di LIPI Bandung. Tepatnya di Laboratorium Bio Molekuler, tempat saya menyelesaikan Tugas Akhir, membantu ibu Zalinar Udin, Kepala Balai Laboratorium itu, yang kebetulan satu grup dengan saya, satu Dosen Pembimbing, almarhum bapak Agus Noer. 

Tugas akhir saya membantu penelitian Disertasi bu Zalinar yang sedang mengambil S3. Judul Skripsi saya adalah penelitian tentang Interaksi DNA Bakteri Salmonella Typhi dengan Ekstrak Tanaman Obat Gardenia Tubifera WALL

Wuhuu, saya masih hafal judul skripsi ini di luar kepala.

Hebat?

Bukan itu. Tapi menjadi dosen atau peneliti memang target saya selama kuliah. Bahkan ketika masih SMP dan SMA, atau masih muda, saya sudah "didoktrin" oleh ibu saya untuk kelak menjadi WANITA KARIR dan jangan sampai seperti ibu saya, yang (hanya) menjadi ibu rumah tangga. 

Kebayang apa yang terjadi, ketika strategi pasca menikah saya meleset. Yang harusnya, berdua dengan suami berkarir di Bandung, sama-sama menjadi pegawai BUMN. Lalu melepaskan semuanya dan kembali ke titik nol lagi di Surabaya. 

Suami saya dulu bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nasional) yang dibangun oleh bapak B.J. Habibie. Kelak berubah nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia. 

Dengan dua posisi karir yang sama-sama keren dan matang ini, kami berdua berani melangkah untuk menikah bahkan sebelum saya lulus Sarjana. 


BULAN MADU = NGERJAKAN SKRIPSI

Menikah dengan hal yang manis-manis dan unyu-unyu itu, serius nih, hanya ada di media sosial. Atau di cerita-cerita buku roman. 

Mungkin bisa begitu, kalau pernikahan sudah dalam kondisi ekonomi mapan, berkecukupan bahkan berlebihan. 

Sementara kami, nekad menikah dalam kondisi MINUS alias di bawah titik nol. 

Setelah menikah, kami tak punya tabungan sama sekali. Sepertinya hanya beberapa ratus ribu rupiah saja. Dan itu harus dibagi dengan ongkos naik kereta api kembali ke Bandung, segera, karena saya harus menyelesaikan Seminar Tugas Akhir, lalu skripsi dan sidang. 

Sejenak saja menggelar resepsi pernikahan yang biayanya hasil patungan dari keluarga besar. Lalu beberapa hari saja menginap di rumah orang tua suami. Tidak sampai sepasar atau seminggu kemudian, kami sudah harus kembali ke Bandung. Karena jadwal Seminar Tugas Akhir saya sudah keluar. 

Tanpa pikir panjang untuk bersenang-senang dan bahkan mengecewakan keluarga besar karena tidak sempat banyak menemui tamu dah saudara, kami hanya berkomitmen untuk menyelesaikan kuliah secepat mungkin. Dan tidak menundanya karena akan berdampak pada biaya.


KAMAR KOS PENUH TIKUS

Tidak begitu kaget juga ketika sepasang pengantin baru ini masuk ke kamar kos yang diobrak-abrik tikus di dalam kamar. Yang namanya Mesin Ketik manual saya, habis sudah dengan air kencing dan kotoran tikus yang kecil-kecil. Buku-buku, modul kuliah dan isi rak buku yang terbuka, kena juga jadi tempat pesta pora mereka, si Mickey Mouse, begitu saya menyebut para tikus berkuping bulat, berbadan kecil dan ke sana ke mari suka berjalan sambil membuang kotorannya itu. 

Tanpa ada amarah, tangis, sesal atau jengkel, kami meletakkan tas ransel dan barang bawaan di lantai kamar kos. Lalu gerak cepat membersihkan ini itu. Kemudian mandi dan beristirahat. 

Bersih-bersihnya tidak mudah ya, karena kamar mandi dan akses air bersih hanya ada di lantai bawah ibu kos. Kami ada di kamar atas, lantai kayu sementara yang dirombak menjadi kamar semi permanen dan kemudian disewakan sebagai tempat kos. Sebuah tempat yang kurang layak sebenarnya, namun itulah yang cukup untuk kantong kami berdua. 

Tinggal sekitar beberapa bulan di situ, sampai akhirnya kami putuskan mencari tempat kos yang lebih bersih dan di lantai satu saja, sehingga tidak repot kalau harus ke kamar mandi. Syukurlah akhirnya nemu pas di belakang gedung LIPI Bandung. Jadi saya kalau harus ke laboratorium, lebih dekat. Walaupun sama juga hanya perlu jalan kaki saja seperti di tempat kos sebelumnya. 

Ketika saya di Bandung, suami saya harusnya masih kuliah lagi di ITS (Surabaya), namun tinggal menyelesaikan skripsi. Ya suami saya lulusan D3 Teknik Mesin ITS, lalu kerja di IPTN atau PT. DI yang mengambil cuti belajar untuk kuliah lagi melanjutkan ke jenjang S1. 

Sebenarnya, semuanya akan sempurna, jika itungan kami berdua tepat. 

Seharusnya jika sesuai jadwal, kami berdua akan lulus barengan jadi Sarjana. Beneran barengan. 

Akan tetapi, nasib berkata lain, tugas akhir suami saya rumit. Mungkin topiknya yang dikaitkan dengan industri pesawat terbang tempatnya bekerja ya, jadi untuk menemukan software yang pas aja butuh perjuangan. Apalagi kami berdua hanya punya satu unit laptop Celeron, yang sering ngadat ketika suami butuh mengerjakannya untuk skripsi. 

Jangan ditanya bagaimana kondisi pengantin baru yang sama-sama didera skripsi ini. 

Asyik-asyik saja?

Tentu tidak. 

Tegang. Kepikiran terus. Harus berhemat sangat, karena gaji suami kan jadi setengah doang karena cuti belajar. Kebayang kan, setengah gaji untuk biaya hidup sehari-hari, bayar SPP kuliah berdua, bayar kos, transportasi naik angkot sampai 6 kali pulang pergi. Berat banget. 

Dan, kami sama sekali tidak menelepon orang tua atau mertua dan menangis-nangis minta pertolongan. Semua kami ambil sebagai tanggung jawab yang harus dipikul oleh kedua pundak kami sendiri. 

Ketika saya sudah yakin akan bekerja menjadi PENELITI sesuai impian dan target selama kuliah, lalu tiba-tiba saya terlambat datang bulan dan positif hamil, maka melepaskan impian itu dan sepakat kembali ke Surabaya adalah bentuk tanggung jawab saya sebagai perempuan yang memutuskan untuk menikah. 


MENIKAH ADALAH PERKARA TANGGUNG JAWAB

Dan, ketika saya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja selama belasan tahun, itu juga bentuk tanggung jawab.

Mungkin saja, kalian tidak mengalami hal yang sama dan masih bisa melakukan ini itu, bekerja, mencari penghasilan, bisnis dan lain sebagainya selama awal pernikahan. Namun, saya, tidak. 

Kondisi dan situasi saya, anak-anak dan suami yang masih merintis karir, membuat saya berpikir untuk mengalah lebih dulu. Menerima semua keterbatasan keuangan, aktivitas dan meredam ambisi pribadi, semata untuk membuat kondisi RUMAH TANGGA STABIL dulu. 

Baru ketika semua sudah kuat. Anak-anak sehat dan kuat dan mandiri. Suami sudah punya pekerjaan tetap yang bagus dengan posisi yang sangat kompeten di bidangnya. Barulah saya beranjak untuk kembali berkiprah. 

Bayangkan keputusan yang saya ambil ini membutuhkan waktu belasan tahun. Bukan sulap. Dan tidak instan sama sekali. 

Berusaha menahan diri atas nama tanggung jawab mengurus anak-anak, suami dan rumah tangga. Tanpa sama sekali merepotkan kedua belah orang tua. Adalah SENJATA UTAMA untuk laki-laki dan perempuan yang memutuskan untuk menikah. 

Tentu saja sangat tidak enak lebih banyak daripada enaknya. 

Konflik pun mudah terpicu. Karena saya dan suami sama-sama capek lahir batin. Sama-sama berusaha di sisi masing-masing. Dia bekerja sebagai Kepala Keluarga, walau harus lembur tiap hari bahkan sakit Typhus ketika anak-anak masih bayi. Saya pun harus menggedor pintu tetangga ketika tengah malam, meminta bantuan diantarkan ke rumah sakit. Karena saya ada bayi dan anak balita, tentu tidak bisa meninggalkan mereka berdua di rumah untuk membonceng suami saya ke dokter, kan?

Capek. Harus berhemat. Jarang piknik, karena harus berhemat pula. Menyimpan dalam-dalam semua kesusahan dari orang tua. Walau tak jarang, jadinya saudara dan orang tua menganggap kita sebagai orang yang pelit, tak peduli dan anti sosial, karena menarik diri dari beberapa hal dan kegiatan, serta tak mampu menceritakan kondisi keuangan yang sangat ketat dan harus super ngirit. 

Tak mudah menjalani ini semua. Bahkan ketika melanjutkan S2 juga entah komentar muncul dari kanan, kiri, atas dan bawah, masih terus saja ada. 

Kalau dipikir-pikir sekarang, kenapa saya dulu seberani itu melepaskan pekerjaan sebagai Peneliti. Padahal kuliah berdarah-darah selama 4 tahun demi menggapainya. 

Kenapa juga saya sukarela menjadi ibu rumah tangga saja, padahal bisa saja merepotkan orang tua, meminta bantuan ini itu supaya karir saya tetap jalan dan meningkat. 

Kenapa juga saya mau susah payah kuliah lagi S2, padahal pekerjaan suami sudah aman dan saya bisa duduk tenang menerima nafkahnya?

Ini semua adalah perkara TANGGUNG JAWAB. 

Saya menjadi ibu rumah tangga, karena merasa bahwa anak-anak yang saya lahirkan adalah tanggung jawab saya, bukan tugas kakek-neneknya. 

Bahwa saya kuliah lagi S2, itu adalah juga cara membuka pintu untuk kembali mengamalkan ilmu dan kemampuan diri, sebagai bentuk tanggung jawab saya diberikan titipan bakat sebagai pembelajar yang suka belajar dan mengajar. 

Nikah dulu baru S2. 

S2 dulu baru nikah. 

Menikah atau tidak menikah. Yang penting harus berani bertanggung jawab.














Semakin Ingin di Zona Nyaman

Tidak ada komentar

 


Mungkin mengejutkan bagi beberapa orang, termasuk suami saya sendiri, ketika saya memutuskan melepas satu pekerjaan di era pandemi ini. Saya mundur dari jabatan sebagai editor blog suatu startup pendidikan, yang sudah saya ikuti kurang lebih setahun ini, sejak pandemi bermula tahun 2020. 

Alasan utama adalah saya mulai keteteran dan sebenarnya lebih pada kehilangan minat dan daya tarik pada pekerjaan itu. Sebenarnya menjadi editor tulisan itu lebih sulit daripada menulis. Itu opini saya pribadi. Dan sepertinya akan diaminkan oleh banyak penulis juga. Terbukti saya membaca beberapa status blogger dan penulis buku yang menyerah pada pekerjaan sebagai editor profesional. 

Menjadi editor itu ibaratnya seperti jadi tukang permak baju. 

Bandingkan dengan pekerjaan sebagai desainer baju atau tukang jahit baju dari nol.

Mana yang lebih rumit?

Enak mana menjahit baju dari kain, atau menyesuaikan baju yang sudah jadi dan kurang ini itu dengan permak?

Kalau saya pribadi, tentu lebih enak jadi penjahit baju, atau kalau buku dan tulisan, lebih enak menjadi penulisnya. 

Nah, kembali ke mundur kerja tadi, seharusnya ini bisa saja tidak terjadi. Karena dengan pengalaman bertahun-tahun menulis blog, mengedit tulisan di blog itu mudah saja. Asal no typo, aman. Biasanya saya bekerja juga sekali duduk bisa mengedit 10 artikel. Bahkan lebih. Untuk tulisan artikel berisi 500 - 1000 kata. Mudah. 

Namun, yang namanya BOSAN itu seperti racun dalam jiwa saya. 

Ketika sudah merasa bosan, akhirnya tertekan. Terlebih lagi MERASA BERSALAH karena seperti makan gaji buta. 

Pekerjaan jadi editor blog kok semakin mudah bagi saya, tidak ada masalah apa-apa, bahkan ketika saya tidak berbuat apa-apa pula untuk kemajuan blog startup yang menggaji saya itu. NGGAK ENAK HATI rasanya jika seperti itu. 

Dan di usia segini, 42 tahun, menerima dan menyimpan perasaan bersalah itu semakin tidak enak dan berat. Maka setelah menimbang ini itu, saya pun mundur, dan bisa diterima dengan baik oleh CEO startup yang memang tahu saya bakal begitu. Ya, sebelumnya saya juga mengundurkan diri namun dicegah. 

Lalu saya ngapain?

Nah, di usia ini, saya merasakan ingin lebih SANTAI DI ZONA NYAMAN. Tidak begitu tertarik lagi untuk bekerja atau belajar atau berapa-saja dalam perasaan tertekan atau dipaksa dan terpaksa. Capek banget deh. Nggak banget. 

Untung saja, ALHAMDULILLAH, saya diberikan rejeki untuk bisa menghasilkan uang atau pendapatan sebagai PEKERJA LEPAS, yang artinya tidak tergantung pada suatu lembaga apapun. Atau disebut lebih keren dengan istilah SELF EMPLOYEE. 

Saya membuat kelas online sendiri untuk mengajarkan coding anak-anak di KELASKU DIGITAL. Dan ingin bekerja di ranah saya sendiri ini saja. Tidak menjadi karyawan perusahaan atau startup orang lain. 

Supaya saya bisa ber-TANGGUNG JAWAB dengan diri saya sendiri. Untuk saya sendiri. Dan tidak risau jika kiranya tidak bisa bertanggung-jawab dengan baik kepada orang lain. 

Ah cemen dan receh sekali tampaknya?

Iya betul. 

Jikalau harus berkaitan dengan pihak lain, maka saya memilih mengambil sikap sebagai MITRA KERJA atau saya yang menjadi BOS-nya. Ini akan lebih mudah. 

Maka, di ZONA NYAMAN yang saya maksud ini adalah bukan dengan bersantai-santai belaka. Melainkan memilih satu NICHE PEKERJAAN yang paling pas dengan ritme hidup saya sehari-hari (yang didominasi mengurus rumah tangga) dan juga karakter diri saya pribadi. 

Tidak bermalas-malasan dibuktikan dengan gerakan selanjutnya saya untuk menambah skill profesi dengan mendaftarkan diri ke beasiswa Digital Talent Scholarsip yang diadakan oleh KOMINFO secara daring. 

Baca Juga: Usia 42 Dapat Beasiswa Digital Talent Kominfo 2021

Ini sebuah keputusan yang tidak mudah namun menarik untuk dilakukan. Menjadi pelajar lagi di usia 42. Jika mengingat saya masuk ke Apple Developer Academy 2019 di usia 40 tahun. Ceritanya bisa dibaca di sini: Alhamdulillah, Diterima di UC Apple Developer Academy 2019.

Ini beberapa tahun setelah saya tekun belajar coding dan seputar itu, setelah ikut program Coding Mum, tahun 2016. Yaitu di usia saya sekitar 37 tahun. Banyak tulisan saya tentang Coding Mum, bisa anda akses juga di sini

Maka begitulah. 

Dari cerita saya ini, jika anda masih muda, tidaklah mengapa mencoba segala hal yang sulit, rumit, terpaksa dan semacamnya. Coba saja. Lakukan dengan sungguh-sungguh. Toh tenaga dan semangat masih membara tentu saja di usia muda itu. Yang penting tekun dan tekun. Kelak akan bertemu dengan energi dan pola hidup yang sesuai dengan diri kita sendiri. Dan sesuai dengan MISI HIDUP yang kita yakini. 


Semoga menginspirasi. 

-Heni Prasetyorini - 


*Credit: gambar dari Unsplash.com

Februari: Bulan Buku dan Cinta

Tidak ada komentar
sebagian buku yang saya beli di awal bulan Februari

Niat awal menulis ini dan merekam suara secara bersamaan, menceritakan hal yang sama. Ternyata sulit bareng mengetik di keyboard sambil bicara di depan mic. Jadinya ngetiknya berhenti, lalu melanjutkan rekaman suara podcast dan diposting di anchor.fm. Podcast itu bisa didengarkan di sini ya, sambil membaca ini. Monggo...

https://anchor.fm/henipr/episodes/Bulan-Buku-dan-Cinta-eptfa2


Bulan ini adalah bulan saya umbar-umbaran membeli buku di awal bulan. Alhamdulillah dengan penghasilan saya sendiri, maksudnya tidak minta suami dan tidak memakai jatah uang bulanan keluarga.

Saya tulis sekalian judul buku yang saya beli.

  1. Buku bekas dari instagram @bukuanakjakarta. Paket bundling 8 buku Pustaka Pengetahuan Modern. Judulnya: Pantai Laut, Dunia Tumbuhan, Burung, Dunia Binatang, Kapal Laut, Tubuh Manusia, Batuan dan Mineral, Pesawat Terbang. Total 250 ribu.
  2. Buku Tasaro GK beli lewat whatsApp istrinya. Beli dua buku berjudul Al Masih dan Belahan Jiwa. Total 204ribu. Beli langsung dari istrinya ini karena pengen dapat kalimat mutiara dan tanda tangan pak Tasaro GK.
  3. Beli lagi bukunya pak Tasaro GK di Mizanstore.com karena takut kehabisan bukunya. Setelah sekilas baca buku berjudul Muhammad di ipusnas (ebook). Total malah dapat 6 buku, berjudul: Patah Hati di Tanah Suci, Muhammad 1: Lelaki Penggenggam Hujan, Muhammad 2: Generasi Penggema Hujan, SERI MAM: Rahasia Bulan (buku anak), Sembilu: Pengembaraan Rasa, Keajaiban Rezeki. Total 385.500,-
  4. Bukunya A. Fuadi, paket novel: Anak Rantau, Ranah 3 Warna, Rantau Muara. beli di tokopedia toko Revanda Book Collection, Bekasi. Sekaligus saya ikut Mini Workshop dari A. Fuadi langsung seharga 100ribu, yang akan diadakan tanggal 14 Februari 2021 menggunakan zoom.
  5. Buku 77 Permasalahan Anak dan Cara Mengatasinya, Ana Widyastuti, seharga Rp 135.000,-. Ini setelah bu Ana membagikan link video ulasan tentang Cara Mengatasi Anak Kecanduan Gadget di lama facebook pribadinya. Saya mengajukan pertemanan ke beliau ketika di mention oleh teman saya, Yeti ketika membagikan Workshop Menulis Buku Aktivitas Anak yang saya ikuti juga nanti tanggal 16, 17, 18 Februari 2021 melalu grup whatsapp, seharga Rp 100.000,-
  6. Preorder buku Rapi Jali karya Dee Lestari, beli di tokopedia Mizanstore, seharga 108.000,- . Ikutan karena lagi viral di Storial. Tapi saya milih beli buku cetaknya aja, ga beli koin untuk baca ebooknya di storial. Dan setelah lihat di instagram @deelestari bahwa buku ini udah dikonsep sejak 25 tahun yang lalu. Kan keren banget tuh.
  7. Preorder buku Sesaudara dalam Iman Sesaudara dalam Kemanusiaan, seharga 25.000. Termasuk promo Nyah Nyoh dari pak Yai Edi AH Iyubenu yang saya kenal dan follow di twitter. Baru tertarik beli buku beliau karena kemarin membaca dan mengunduh tulisan beliau tentang Wasiat Nabi yang di PIN di twitter beliau. Suka cara menulisnya sederhana.
  8. Buku novel anak tulisan mbak Achi TM, lupa judulnya, harganya total 117ribu.
  9. Tambahan 2 buku Muhammad karya Tasaro GK, totalnya sekitar 200ribu.


Nah total berapa rupiah ya ini. Coba saya hitung dulu.

Jadi totalnya sekitar 1,5 juta rupiah lengkap untuk buku dan 2 workshop menulis buku.

Ini gilaa tapi saya bahagia

Ini sebuah kegilaan, ketika berhari-hari bingung mau beli apa ya untuk hari istimewa kelahiran saya ini di bulan Februari. Apa beli oven listrik, set panci bagus atau alat olahraga sepeda statis yang murah meriah. Dan itu berat semuanya, mau beli batal melulu. Mikir melulu. Takutnya ga berguna amat. Sayang. Tapi pengen. Apa butuh? gitu aja mikirnya.

Eh tiba-tiba keluar begitu saja, transfer sana-sini untuk beli buku.

Nah, perasaan saya begitu lega dan plong dan yakin. Tidak menyesal dan mikir ulang seperti sebelumnya. Ini saya lakukan dengan yakin sekali.

Dan sengaja tidak cerita ke anak dan suami. Karena mereka semua bukan pembaca buku dan pecinta buku. Jadi bakal komentar aneh-aneh hahaha.

Dapat Puluhan Juta di Masa Pandemi Corona

Tidak ada komentar

Loh kok bisa?

Saya aja juga gak menyangka, tak mengira. 

Kemarin merekap dan menghitung ulang penghasilan saya selama bekerja dari rumah, full kerja online sejak pandemi, Maret 2020. Total semuanya lebih dari 20 juta. 

Hitungan kasarnya seperti ini,

Sejak April 2020, saya membuka kelas online belajar coding untuk anak. Sampai Desember 2020 kemarin. Total semua murid saya adalah sekitar 100 anak. Ambil biaya kelas rata-rata 200ribu/anak. Maka penghasilan saya dari kelas online adalah 20 juta. 

Selain itu, saya juga dapat pekerjaan part time remote work, sebagai Blog editor dan manajer konten writer, dengan gaji 1 juta per bulan. Dihitung sama saja dari bulan April - Desember 2020, yaitu 9 bulan. Maka total gaji part timer adalah 9 juta. 

Penghasilan saya di masa pandemi adalah 29 juta rupiah. Saya peroleh selama 9 bulan. Ini hitungan kasar atau kisaran. Hitungan sebenarnya bisa lebih dari itu karena sesekali saya juga "dibayar" karena membuat konten video edukasi dan mengisi seminar online. 

Sebagai gambaran hitungan pendapatan saya untuk kelas online, adalah:

  1. saya mengajar mulai 1 kelas per hari, menjadi 2 kelas perhari, meningkat menjadi sampai 4 kelas per hari. Terhitung kelas kelompok dan kelas privat. 
  2. Untuk kerja jadi blog editor, total saya hanya bekerja sekitar 20 -25 jam sebulan. Jadi sekitar cuma 1-2 jam sehari. Dan mengerjakan ini tidak saya lakukan setiap hari. Melainkan sekitar seminggu 2-3 kali. Karena lebih enak jika mengedit tulisan para content writer itu sekalian. Jadi sekali ngedit bisa 10-20 artikel @1000 kata. 

Saya membuka kelas online coding untuk anak itu, sebenarnya rada ragu di awal. 

Karena cemas anak-anak belum bisa ngeh cara belajar secara online.

Eh ndilalah, ada pandemi. Dan sekolah mulai mewajibkan kelas online atau kelas daring. Jadi baik anak-anak maupun orang tuanya, semakin biasa-biasa saja dengan belajar online tersebut. 

Rejekinya lagi. Tema CODING UNTUK ANAK tiba-tiba melejit dan trendi karena mas Menteri Nadiem Makarim mulai menggaungkan Pentingnya Anak Belajar Coding sejak usia dini atau usia sekolah. 

Saya mengenal konsep Coding untuk Anak sejak 2018, sebagai koordinator kelas coding anak secara offline. Ini beberapa foto-fotonya:

satu-satunya peserta perempuan dari 40 anak lainnya

pojok kanan belakang itu anak kedua saya, depannya keponakan saya
anak saya bete banget diajak belajar coding, selain ga tertarik, juga malu dengan laptop warna pink emaknya hahahaha

waktu itu belajar KODU GAME LAB, tapi ini kurang fleksibel untuk berkreasi dan harus donlot. Jadi tidak saya pilih untuk kelas-kelas sekarang

anak dan keponakan saya yang sama-sama nggak tertarik coding, jadinya mondar-mandir melulu cari makanan lah, ke toilet lah. Ohya ini ada di Rumah Kreatif BUMN Mandiri Surabaya

foto bareng anak-anak, ini angkatan 1 kelas coding kids Surabaya yang offline. Setelah angkatan 2, kelasnya berhenti karena berbagai sebab. Baik itu dari sewa ruangan yang ganti aturan menolak kelas ini. Sibuknya para pengajar. Susahnya cari ruangan untuk disewa yang ramah anak, dll.

Dan mulai riset tentang hal itu. Baru tahun 2020 berani membuka kelas online sendiri. Sebagai pengajar. Tidak hanya sebagai koordinator kegiatan. 

Saya mengenal coding sejak 2016, sampai sekarang. Mulai dari materi membuat website dengan HTML dan CSS. Lanjut diterima di Apple Developer Academy| UC Surabaya 2019 dan kenal dengan Swift Programming dan Ios Apps Development. Lalu otodidak mempelajari tentang Coding Kids and how to teach it sejak 2018. Kemudian memilih menekuni ini sampai sekarang. 

Saya bukan Sarjana Informatika atau programmer. Mengenal coding dari beberapa kegiatan saja dan selebihnya otodidak. Merasakan betul kalau belajar coding itu tampak mengerikan dan sulit banget, karena baru kenal di usia udah menjelang 40-an. Udah tua. 

Kebayang  bagaimana jika sejak anak-anak sudah pada kenal coding dan kosa kata tentang hal ini?

Pasti mereka akan jauh lebih santai untuk mempelajari coding lebih lanjut.

Itulah alasannya akhirnya saya pilih tetap di jalur coding, edukasi dan memilih kelas coding untuk anak. Saya juga suka sih, karena lucu bikin coding kids class itu. Materinya lucu dan warna-warni. Anak-anak juga lucu. Memberikan semangat baru. 


Kembali ke Penghasilan Terbesar di masa pandemi. 

Saya percaya ini semua hasil "tabungan keringat" saya bertahun-tahun sebelumnya. Dan bisa "boom" muncul momentumnya di masa pandemi. 

Ketika orang lain kelabakan gabut dan cuma rebahan di rumah saja. Saya malah gas pol tanpa pikir panjang langsung menyiapkan kelas belajar baru. Sebenarnya tidak hanya untuk anak-anak. Saya juga buka kelas blogging, cara membuat kelas online, cara mengajar programming dll untuk orang dewasa. Namun yang ikut sedikit. Kelas gratisan aja sedikit dan ga terlalu direspon. Apalagi kelas berbayar.

Jodoh rejeki saya ternyata di kelas anak-anak. Dan rencana saya juga nggak cuma di kelas coding. Tetapi ada juga kelas blogging, di mana saya udah ngeblog sejak 2009. Udah sekitar 12 tahun. Dan mendapatkan banyak manfaat dengan kemampuan nulis dan ngeblog. Pasti bagus jika anak-anak juga bisa dari kecil. 

Ah banyak sekali rencana yang saya buat, setelah menyadari bahwa saya bisa BEKERJA SECARA ONLINE DARI RUMAH SAJA dan menghasilkan pendapatan yang lumayan. 

Tulisan ini saya bagikan untuk memberikan gambaran bahwa ILMU DAN PENGALAMAN yang kita asah bertahun-tahun itu, pasti suatu saat akan menemukan JODOH WAKTU TERBAIKNYA. 

Saya lulus S2 Teknologi Pendidikan tahun 2015. Dan baru 5-6 tahun kemudian inilah menuai hasilnya berusaha bekerja di jalur edukasi non formal ini. Akhirnya ketemu juga jalur yang cocok dan saya sukai. Dan itu malah terbantu karena terbatas ini itu di masa pandemi. 

Beberapa bulan sebelum pandemi, padahal saya udah nego ke sana ke mari. Untuk mencari kelas belajar yang cocok bagi anak-anak. Ga jauh dari rumah saya. Juga ga jauh banget dari pesertanya. Serba salah juga milihnya. Tapi berusaha, berbagi jadwal di Coworking Space ini itu dan Sekolahan ini itu. 

Sudah melakukan pendekatan. Sudah ngobrol. Sudah bikin rencana. Eh ndilalah datang virus Corona. 


Untungnya saya tidak patah arang. 

Dan bondo nekad aja, bonek. Dan juga bobis, Bondo Bismillah membuat kelas online di mana akses wifi rumah saya masih murah meriah. Pakai speedy. Kadang mati. Kadang nyala. Sering lemot. 

Begitu kelas saya ramai dan laris. Bonek jilid 2, yaitu upgrade Speedy 10 mbps yang bayarnya ga sampai 200ribuan/bulan. Upgrade ke Indihome Paket Gamer, yang bayarnya 700ribuan/bulan dengan kecepatan 50mbps.

Tarik ulur rencana upgrade wifi, karena takut kemahalan. Tapi saya nekad aja. Kalau makin joss sinyal, makin banyak kelas yang bisa saya buat. Ga cuma sehari sekali. Bisa sehari 4 kali dan itu terbukti. 

Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Dan sampai sekarang saya semakin percaya diri untuk bisa menghasilkan rupiah dari rumah saja. Dan mungkin kelak bisa dapat dollar juga. Dari kemampuan akademik saya. Dari kesukaan saya pada pendidikan. 


Semoga menginspirasi.

Heni Prasetyorini

Catatan Selama 2020

Tidak ada komentar

 

credit: unsplash.com

Februari 2020

Menjemput anak sulung yang baru selesai ujian nasional SMK. Untuk kembali pulang ke rumah di Surabaya. Selesai sekolah di luar kota, selama 3 tahun. 

Maret 2020

Tak disangka mulai merebak berita adanya virus Corona yang kemudian disebut COVID-19 di Wuhan. Belum heboh Indonesia, belum nentukan lockdown dan karantina mandiri. Tapi kami sekeluarga langsung menerapkannya. 

Semua rencana batal. Padahal beberapa bulan setelah lulus dari Apple Dev Academy, saya mulai bergerilya untuk networking, mencari tempat membuat KELAS BELAJAR untuk KELASKUDIGITAL di beberapa coworkspace terdekat. 

Bahkan sempat mengajar di satu sekolahan di dekat rumah juga. Dan berencana rutin membuka kelas baru setiap Sabtu Minggu di sana. Untuk anak-anak dan dewasa. 


April 2020 = bulan Ramadhan

Nekad mulai kelas online. Setelah hampir setahun riset tentang coding kids and how to teach it. Lulus dari Apple dev, sekitar bulan Desember 2019. Saya berpikir harus mempunyai satu hal yang bisa dijadikan pekerjaan tetap dan itu terkait coding. 

Sempat ingin meneruskan ios apps untuk belajar berhitung yang saya buat di tugas akhir Apple dev, bersama satu mahasiswa PENS yang juga tertarik. Sayangnya dia lagi skripsi, jadi sibuk sendiri. 

Beberapa kelas online juga sudah mulai saya buat, untuk orang dewasa. Karena saya tak yakin kalau anak-anak bisa diajari coding secara online. Namun kondisi pandemi tidak memberikan tempat untuk membuat kelas tatap muka.

Setelah mencoba beberapa conference app, termasuk google hangout, zoom, webex, facebook messenger room dan beberapa lainnya, saya pun membuat KELAS CODING SCRATCH FOR KIDS GRATIS sebagai bentuk TRIAL. 

Tak disangka responnya bagus. Dan berlanjutlah kelas online itu sampai sekarang. Desember 2020. 


GOOGLE MEET GRATIS

Tak disangka, google meet yang sebelumnya hanya untuk pemilik akun G Suite resmi (sekolah atau perusahaan), karena pandemi jadi menggratiskan. 

Setelah beberapa kali pakai Zoom gratis, saya pun balik badan pakai google meet, karena isu ZOOM BAHAYA. 

Sampai sekarang pun saya memakai google meet, karena masih gratis. Dan Zoom tidak berbahaya tapi berbayar yang lumayan harganya. 


KEJARCITA

Entah bulan apa dimulainya, saya lupa. Tanpa disangka saya dapat pekerjaan part-time remote work baru. Awalnya iseng ikutan menjadi conten writer di blog.kejarcita.id, menulis artikel tentang teknologi pendidikan karena ditawari oleh Cynthia. Waktu itu karena pandemi, udah lulus akademi dan literally menganggur lagi, maka saya mau saja menulis artikel 1000 kata dengan gaji 50ribu. Dengan hitungan, satu bulan bisa menulis 10 artikel, lumayan dapat 500ribu. Apalagi bisa lebih. 20 artikel bisa dapat 1 juta nih. Nulis gitu doang, gak sulit kayak nulis sains kan. Banyak pengalaman pula. 

Aku pun menulis artikel itu seperti orang kesetanan. Seperti orang dikejar deadline. Seperti orang yang sangat-sangat membutuhkan uang. 1000 kata bisa selesai ditulis hanya sekali duduk saja. Bahkan sehari bisa menulis sampai 3 artikel, artinya 3000 kata. 

Nulis pun dengan spontan saja. Tanpa deep thinking. Mengalir saja yang penting sudah tahu kata kuncinya dan pesan apa yang ingin disampaikan.

Dan, sekali lagi, kespontananku dalam menulis ini, dinilai LEBIH BAGUS di mata orang lain. Sampai akhirnya tim kejarcita menawariku menjadi EDITOR BLOG dan juga MANAJER CONTENT WRITER. Dengan alasan, katanya tulisanku bebas typo, tajam dan enak dibaca. 

Di kejarcita juga aku dapat pengalaman pekerjaan baru sebagai kreator video. Yaitu membuat video 10 menit tentang pendidikan sesuai dengan topik yang diberikan. Nah ini sampai aku install app 'telepromper' di iphone. Yang bisa membantu banget membaca teks saat merekam. Ternyata ini berhenti di 4 video saja. Dan lanjut memintaku menjadi narasumber WEBINAR. Dengan gaji sama, per per video atau per pertemuan, 200ribu. 


Kalau menjadi editor dan manajer konten writer itu, aku digaji dari 500ribu, kemudian naik menjadi 1 juta rupiah per bulan. Dinaikkan karena aku pengen mengundurkan diri dengan alasan fokus mengurus kelas online. Your skill raised up your salary. 



NOVEMBER 2020

Memutuskan untuk melepaskan KCMI (Komunitas Coding Mum Indonesia). Setelah beberapa bulan sebelumnya berdiskusi dengan beberapa orang. Dan juga mempertanyakan kesanggupan Wakil alumni Coding Mum sebelumnya untuk menjadi pengurus baru, Presiden baru. Namun rupanya belum ada yang mau. 

Baiklah, sudah melakukan 2 tahun menjaga KCMI dan memberikan awareness adanya KCMI ini, saya memutuskan juga mundur. 

Setelah ngobrol dengan beberapa alumni dan anggota baru KCMI tentang rencana ke depan, disepakati kalau grup yang sudah ada di telegram akan dialihkan dengan bendera baru bernama BUMAGIT. Dan ini tanggung jawab orang lain, Tika. Aku berusaha keras tidak banyak muncul di sana, supaya peralihan tanggung jawab ini bisa berjalan dengan baik. 

Jika KCMI ini benar-benar tidak ada yang mau meneruskan langkahnya menjadi pengurus, maka bisa dibilang saya satu-satunya Presiden KCMI yang pernah ada. What a roller coaster journey >.<


DESEMBER 2020

Menjelang liburan sekolah, sekali lagi, nekad saja membuat kelas online liburan setiap hari untuk anak-anak. Berawal dari satu orang yang bertanya, apakah saya membuka kelas coding liburan untuk anak-anak?

Sebelum menjawabnya, saya buat dulu banner di Canva, lengkap dengan materi dan biaya. Juga upload dulu di instagram. Setelah jadi baru saya jawab, ada kelas liburan. 

Nekad sekali membuka kelas setiap hari, pagi dan sore. Ditambah dengan kelas reguler dan privat sebelumnya. 

Jadi total bulan ini saya mengajar itu bisa 3-4 kali sehari. Allahu Akbar. Capek bangeet. Capek parah. 

Sampai kapok dan bosan banget lihat Google Meet dan Scratch hahaha.

Tapi kalau ketemu anak-anak sih happy aja. Rutinitasnya dan tenaganya itu yang terkuras habis banget. 

Belum habis bulan ini, ada kabar ibu sakit. 

Karena kecapekan.


Di masa masih pandemi dan gelombang kedua dengan virus COVID-19 yang bermutasi, aku pun berpikir ulang tentang kata kecapekan. 

Oh No No No No

Aku tidak mau sakit konyol hanya karena kecapekan. Emang apa yang dicari? Emang siapa yang maksa? Jangan-jangan salah strategi dan metode mengajar saja?

Jadi saya putuskan untuk rehat bulan Januari 2021 nanti. Tidak ada kelas baru yang mulai. Hanya menghabiskan 1 kali kelas liburan dan 2 kali kelas reguler Scratch coder saja. 

Selebihnya, fokus istirahat sambil membuat konten belajar untuk kelas online di Udemy. 

Dan membuat rencana baru. Yang tidak harus membuka google meet setiap kali belajar. Karena itu sangat menyita waktu kedua belah pihak.

Aku pun memutuskan kelas privat murid-muridku. Karena privat itu capek ya. Satu jadwal untuk satu anak saja. Mending satu jadwal sekalian untuk mengajar banyak anak di kelas kelompok. Kelas semi privat juga saya hentikan. Pokoknya hanya ada kelas kelompok dan free streaming di Code With Me. 


--

cerrita lanjut nanti habis maghriban 




Catatan Singkat di Apple Developer Academy | UC

Tidak ada komentar
Tepat tanggal 11 Desember 2019, program Apple Developer Academy di Universitas Ciputra (UC) Surabaya angkatan pertama atau disebut juga Cohort 1, telah selesai dan dirayakan dalam Graduation Ceremony. Beberapa hari kemudian baru dilakukan penyerahan Sertifikat - Certification of Completion - resmi di Flexible Space gedung Apple Academy di kawasan kampus UC, seperti yang tampak di foto saya tersebut.
photo credit: Thenar Visual

Sudah kurang lebih 10 bulan sejak hari pertama mengikuti program ini. Dan sampai kemarin, masih ada anak-anak muda, terutama mahasiswa yang mengirimkan pesan pribadi ke media sosial saya. Tentu saja ingin bertanya tentang pengalaman dan cara biar lolos diterima di Apple Developer Academy|UC.Untuk singkatnya, sekaligus akan saya jawab di sini:

Sebelum mendaftar, saya mencari dulu informasi sebanyak-banyaknya tentang Apple Developer Academy, baik yang di Indonesia maupun di beberapa negara lainnya. Untuk mengetahui konsepnya apa sih, tujuannya apa, dan apakah saya bakal diterima jika mendaftar, juga apakah sanggup menjalani proses di akademi selama berbulan-bulan?

Setelah hasil pencarian menunjukkan bahwa ada peluang untuk masuk, maka saya persiapkan dokumen CV untuk mendaftar sebaik mungkin. Jejak rekam, prestasi, hasil karya dan sebagainya diperbarui di semua lini pribadi yang saya punya: blog, instagram, facebook, twitter, linkedin. Supaya apapun tautan yang saya tulis di CV, ketika dicek ulang memang benar isinya dan sudah ter-update.Setelah tahap dokumen lolos dan masuk ke pembuatan video profil, saya lakukan lagi riset kedua. Yaitu riset video profil teman yang memang juga baru mendaftar, dengan cara mengikuti tanda pagar (#) yang sudah diatur tersebut di You Tube, yaitu #uc.apple.academy.2019.

Nah, dari situ ditarik benang merah, kira-kira Pesan apa yang mau disampaikan di video profil, supaya bisa sesuai dengan isi CV dan personal branding yang sudah dibangun sebelumnya. Karena aktivitas saya beberapa tahun ini seputar pemberdayaan perempuan di ranah teknologi juga teknologi pendidikan untuk kelas belajar anak, maka itulah yang saya tampilkan.

Video saya berjudul "Impactfull: Dari Apple Academy Untuk Coding Mum & Coding Kids Indonesia" bisa disimak di sini:


video


Ketika membuat video, usahakan dengan intonasi suara yang keras, jelas dan bersemangat. Ini pasti terpancar otomatis jika kalian punya karakter motivasi diri yang kuat. Kalau sedang baper dan bad mood, lebih baik jangan bikin video dulu ya. Makan bakso pedes dulu biar muncul lagi semangat membaranya :)

Seharusnya video profil ini hanya dibatasi 1 menit. Tapi saya keblabasan lebih dari 3 menit. Dan ketika masa rekam video itu ada drama listrik di rumah mati berjam-jam, maka ketika listrik nyala wifi nyala, tanpa babibu lagi, langsung saya posting videonya ke You Tube, karena memang deadline sampai jam 12 malam itu. Pokoke budal, kalau kata orang Surabaya.

Dokumen dan video lolos, selanjutnya adalah tahapan Tes Tulis yang langsung dikerjakan di Universitas Ciputra. Apa saja bahan materi tes tulis? Nah ini semua juga saya riset dan pelajari sendiri, sebisa mungkin, semaksimal mungkin. Mulai dari konsep Coding : OOP, Swift Programming, lalu tentang design dan juga bisnis. Ditambah lagi karena tes tulis ini waktu saya daftar disebut Tes Potensial Akademik, maka saya pun mengulang lagi materi TPA yang sekarang banyak bertebaran model soal online yang bisa dikerjakan sambil nungguin dadar jagung yang sedang digoreng matang sempurna di dapur :). Kalau ingat TPA harus ingat lagi model tes kalau mau masuk sekolah negeri reguler atau mendaftar jadi dosen. Yaitu ada Deret Hitung, Deret Ukur, Sinonim, Pola dan sebagainya.

Waktu tes tulis ini, dilakukan di Lab. Komputer UC. Soal berjumlah 100 butir dan nilai saya 65. Lumayan dan ternyata memenuhi kredit minimum untuk bisa lolos tahap selanjutnya yaitu interview.
Nah, terakhir persiapan interview, maka persiapannya tidak lain dan tidak bukan adalah menampilkan diri sendiri sekeren mungkin. Jangan sampai kelihatan gembos, ngglembosi atau males-malesan aja gitu ya.

Oke, semua tahap terlampaui dan saya lolos diterima. Cerita lengkapnya bisa dibaca di blog pribadi saya berikut ini: 




Berlanjut menjawab model pertanyaan anak muda tentang pengalaman saya di program ini, berikut jawabannya.

Sebagai informasi awal, profil saya adalah ibu rumah tangga yang punya beberapa aktifitas dan jenis pekerjaan remote work atau sebagai freelancer. Sebagai IBU RUMAH TANGGA perlu digarisbawahi, karena itu mempengaruhi rekam jejak saya sebagai satu-satunya ibu-ibu dan satu-satunya peserta perempuan dari Public Participant.

Menjadi ibu rumah tangga (model saya), artinya mengantar jemput anak, mengurus rumah dan lain sebagainya adalah tugas saya. Ketika ikutan program ini, dan kebetulan masuk ke shift sore dimana harus datang pukul 13.30 WIB siang, dan pulang saat maghib pukul 17.30 WIB petang, itu bukan hal yang biasa-biasa saja. Melainkan suatu keadaan antimainstream yang luar biasa di mana harus ada banyak sekali perubahan dalam struktur yang sudah aman dan nyaman di dalam rumah tangga saya.
Menjemput anak pulang, misalnya, tidak bisa saya lakukan sendiri karena bentrok jam. Maka harus dialihkan ke pihak lain.

Di awal akademi, anak saya titipkan ke tetangga perumahan sebelah yang juga mempunyai usaha laundry kecil-kecilan. Ternyata berjalan 3 bulan, beliau mundur karena kecapekan dengan jalur dari rumahnya ke sekolahan anak saya yang cukup jauh menurutnya (Sambikerep - Lidah Kulon). Apalagi waktu jemput sekitar jam 3 sore, di masa kemarau di mana matahari lagi panas-panasnya juga. Wajar kalau mbak penjemput jadi jatuh sakit. Dengan kondisi ini, saya coba menjadi pengganti, tapi sama juga, nggak sanggup. Jadi migren kepala karena harus riwa-riwi dari UC - Lidah Kulon - Sambikerep - UC untuk sekali jalan.

Maka opsi kedua diambil yaitu menggunakan jasa ojek online. Walau di awal cukup bikin deg-degan karena anak saya masih SMP kelas 7, alhamdulillah berjalan waktu, cukup aman dan lancar.

Ini bentuk struggle saya yang pertama.

Di Apple Developer Academy|UC, kita tidak diberikan jadwal belajar yang ketat, saklek dan padat berjam-jam duduk di meja menghadap komputer saja. Melainkan bentuk belajar yang dinamis dan mandiri (self directed learning). Konsep ini sangat bagus terutama untuk generasi muda, gen Z yang punya karakter jauh berbeda dengan saya si Gen X. Dan ini lagi yang menjadi bentuk struggle saya yang kedua.

Saya mengalami proses adaptasi yang cukup sulit dalam beberapa hal. Ada momentum di mana fokus saya benar-benar terbelah karena hal keluarga. Dan jadwal saya untuk fokus dan mengerjakan sesuatu, belum tentu sinkron dengan jadwal dari teman-teman satu tim, yang usianya jauh lebih muda, yaitu setengah dari usia saya. Ya, di hari penerimaan program ini, usia saya tepat 40 tahun, sedangkan mayoritas peserta di akademi berusia 18-22 tahun. Walau ada beberapa yang juga seumuran dengan saya, namun belum pernah satu tim :)

Keterbatasan ini, cukup berdampak juga dalam kinerja saya di akademi. Bahkan hasil kontemplasi atas kondisi itu, menjadi bentuk satu podcast ini:



Dengan pengalaman saya tadi, pelajaran yang bisa diambil untuk teman-teman yang ingin masuk ke Apple Developer Academy adalah sebagai berikut:
  1. Jika mengalami kesulitan, sampaikan kepada mentor pribadi, mentor akademi, teman atau siapapun yang bisa menjembatani. Karena sebenarnya di apple developer academy, diterapkan model interaksi yang bebas, cair dan dinamis. Tell somebody that you have a problem and you need help. Saya ditempa bertahun-tahun untuk tidak mudah minta tolong, jadi lumayan keteteran di akademi. Just don't act like me there.
  2. Dokumentasikan dengan baik perjalanan belajar (learning Journey) dan refleksi. Setelah di akhir akademi, saya menggunakan tools bernama Airtable (bisa dicari dan diunduh sendiri ya). Dengan fitur Calendar di Airtable, lebih mudah bagi saya mencatat kegiatan sehari-hari, sekaligus memasukkan Learning Evidence atau bukti belajar, baik dalam bentuk gambar screenshot, dokumen ataupun video. Coba deh di www.airtable.com

Baiklah itulah catatan singkat saya. Semoga bisa menginspirasi.

Tak lupa saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk keluarga baru saya di Apple Developer Academy | Universitas Ciputra Surabaya. Juga pihak Apple yang bertukar username, saling follow dan sesekali ngobrol di inbox media sosial. Serta beberapa narasumber yang hadir di Sharing session atau Training session, dan masih terus berkomunikasi dengan saya. Terima kasih banyak. Semoga ke depan bisa saling memberikan manfaat dan kebaikan.

Jika ingin melihat informasi lengkap tentang Apple Developer Academy | Universitas Ciputra Surabaya, silahkan di baca di website officialnya berikut ini:
https://developeracademy.uc.ac.id/id/landing/