Navigation Menu

featured Slider

Mompreneur


Hello, i'm Heni Prasetyorini. Founder Kelasku Digital and President of Komunitas Coding Mum Indonesia. Hope you'll enjoy my blog! For business inquiries, you can reach me via email at heni.prasetyorini@gmail.com. Matur Nuwun!

Arsip Blog

Apa Yang Anda Cari?

Catatan Singkat di Apple Developer Academy | UC

Tepat tanggal 11 Desember 2019, program Apple Developer Academy di Universitas Ciputra (UC) Surabaya angkatan pertama atau disebut juga Cohort 1, telah selesai dan dirayakan dalam Graduation Ceremony. Beberapa hari kemudian baru dilakukan penyerahan Sertifikat - Certification of Completion - resmi di Flexible Space gedung Apple Academy di kawasan kampus UC, seperti yang tampak di foto saya tersebut.
photo credit: Thenar Visual

Sudah kurang lebih 10 bulan sejak hari pertama mengikuti program ini. Dan sampai kemarin, masih ada anak-anak muda, terutama mahasiswa yang mengirimkan pesan pribadi ke media sosial saya. Tentu saja ingin bertanya tentang pengalaman dan cara biar lolos diterima di Apple Developer Academy|UC.Untuk singkatnya, sekaligus akan saya jawab di sini:

Sebelum mendaftar, saya mencari dulu informasi sebanyak-banyaknya tentang Apple Developer Academy, baik yang di Indonesia maupun di beberapa negara lainnya. Untuk mengetahui konsepnya apa sih, tujuannya apa, dan apakah saya bakal diterima jika mendaftar, juga apakah sanggup menjalani proses di akademi selama berbulan-bulan?

Setelah hasil pencarian menunjukkan bahwa ada peluang untuk masuk, maka saya persiapkan dokumen CV untuk mendaftar sebaik mungkin. Jejak rekam, prestasi, hasil karya dan sebagainya diperbarui di semua lini pribadi yang saya punya: blog, instagram, facebook, twitter, linkedin. Supaya apapun tautan yang saya tulis di CV, ketika dicek ulang memang benar isinya dan sudah ter-update.Setelah tahap dokumen lolos dan masuk ke pembuatan video profil, saya lakukan lagi riset kedua. Yaitu riset video profil teman yang memang juga baru mendaftar, dengan cara mengikuti tanda pagar (#) yang sudah diatur tersebut di You Tube, yaitu #uc.apple.academy.2019.

Nah, dari situ ditarik benang merah, kira-kira Pesan apa yang mau disampaikan di video profil, supaya bisa sesuai dengan isi CV dan personal branding yang sudah dibangun sebelumnya. Karena aktivitas saya beberapa tahun ini seputar pemberdayaan perempuan di ranah teknologi juga teknologi pendidikan untuk kelas belajar anak, maka itulah yang saya tampilkan.

Video saya berjudul "Impactfull: Dari Apple Academy Untuk Coding Mum & Coding Kids Indonesia" bisa disimak di sini:


video


Ketika membuat video, usahakan dengan intonasi suara yang keras, jelas dan bersemangat. Ini pasti terpancar otomatis jika kalian punya karakter motivasi diri yang kuat. Kalau sedang baper dan bad mood, lebih baik jangan bikin video dulu ya. Makan bakso pedes dulu biar muncul lagi semangat membaranya :)

Seharusnya video profil ini hanya dibatasi 1 menit. Tapi saya keblabasan lebih dari 3 menit. Dan ketika masa rekam video itu ada drama listrik di rumah mati berjam-jam, maka ketika listrik nyala wifi nyala, tanpa babibu lagi, langsung saya posting videonya ke You Tube, karena memang deadline sampai jam 12 malam itu. Pokoke budal, kalau kata orang Surabaya.

Dokumen dan video lolos, selanjutnya adalah tahapan Tes Tulis yang langsung dikerjakan di Universitas Ciputra. Apa saja bahan materi tes tulis? Nah ini semua juga saya riset dan pelajari sendiri, sebisa mungkin, semaksimal mungkin. Mulai dari konsep Coding : OOP, Swift Programming, lalu tentang design dan juga bisnis. Ditambah lagi karena tes tulis ini waktu saya daftar disebut Tes Potensial Akademik, maka saya pun mengulang lagi materi TPA yang sekarang banyak bertebaran model soal online yang bisa dikerjakan sambil nungguin dadar jagung yang sedang digoreng matang sempurna di dapur :). Kalau ingat TPA harus ingat lagi model tes kalau mau masuk sekolah negeri reguler atau mendaftar jadi dosen. Yaitu ada Deret Hitung, Deret Ukur, Sinonim, Pola dan sebagainya.

Waktu tes tulis ini, dilakukan di Lab. Komputer UC. Soal berjumlah 100 butir dan nilai saya 65. Lumayan dan ternyata memenuhi kredit minimum untuk bisa lolos tahap selanjutnya yaitu interview.
Nah, terakhir persiapan interview, maka persiapannya tidak lain dan tidak bukan adalah menampilkan diri sendiri sekeren mungkin. Jangan sampai kelihatan gembos, ngglembosi atau males-malesan aja gitu ya.

Oke, semua tahap terlampaui dan saya lolos diterima. Cerita lengkapnya bisa dibaca di blog pribadi saya berikut ini: 




Berlanjut menjawab model pertanyaan anak muda tentang pengalaman saya di program ini, berikut jawabannya.

Sebagai informasi awal, profil saya adalah ibu rumah tangga yang punya beberapa aktifitas dan jenis pekerjaan remote work atau sebagai freelancer. Sebagai IBU RUMAH TANGGA perlu digarisbawahi, karena itu mempengaruhi rekam jejak saya sebagai satu-satunya ibu-ibu dan satu-satunya peserta perempuan dari Public Participant.

Menjadi ibu rumah tangga (model saya), artinya mengantar jemput anak, mengurus rumah dan lain sebagainya adalah tugas saya. Ketika ikutan program ini, dan kebetulan masuk ke shift sore dimana harus datang pukul 13.30 WIB siang, dan pulang saat maghib pukul 17.30 WIB petang, itu bukan hal yang biasa-biasa saja. Melainkan suatu keadaan antimainstream yang luar biasa di mana harus ada banyak sekali perubahan dalam struktur yang sudah aman dan nyaman di dalam rumah tangga saya.
Menjemput anak pulang, misalnya, tidak bisa saya lakukan sendiri karena bentrok jam. Maka harus dialihkan ke pihak lain.

Di awal akademi, anak saya titipkan ke tetangga perumahan sebelah yang juga mempunyai usaha laundry kecil-kecilan. Ternyata berjalan 3 bulan, beliau mundur karena kecapekan dengan jalur dari rumahnya ke sekolahan anak saya yang cukup jauh menurutnya (Sambikerep - Lidah Kulon). Apalagi waktu jemput sekitar jam 3 sore, di masa kemarau di mana matahari lagi panas-panasnya juga. Wajar kalau mbak penjemput jadi jatuh sakit. Dengan kondisi ini, saya coba menjadi pengganti, tapi sama juga, nggak sanggup. Jadi migren kepala karena harus riwa-riwi dari UC - Lidah Kulon - Sambikerep - UC untuk sekali jalan.

Maka opsi kedua diambil yaitu menggunakan jasa ojek online. Walau di awal cukup bikin deg-degan karena anak saya masih SMP kelas 7, alhamdulillah berjalan waktu, cukup aman dan lancar.

Ini bentuk struggle saya yang pertama.

Di Apple Developer Academy|UC, kita tidak diberikan jadwal belajar yang ketat, saklek dan padat berjam-jam duduk di meja menghadap komputer saja. Melainkan bentuk belajar yang dinamis dan mandiri (self directed learning). Konsep ini sangat bagus terutama untuk generasi muda, gen Z yang punya karakter jauh berbeda dengan saya si Gen X. Dan ini lagi yang menjadi bentuk struggle saya yang kedua.

Saya mengalami proses adaptasi yang cukup sulit dalam beberapa hal. Ada momentum di mana fokus saya benar-benar terbelah karena hal keluarga. Dan jadwal saya untuk fokus dan mengerjakan sesuatu, belum tentu sinkron dengan jadwal dari teman-teman satu tim, yang usianya jauh lebih muda, yaitu setengah dari usia saya. Ya, di hari penerimaan program ini, usia saya tepat 40 tahun, sedangkan mayoritas peserta di akademi berusia 18-22 tahun. Walau ada beberapa yang juga seumuran dengan saya, namun belum pernah satu tim :)

Keterbatasan ini, cukup berdampak juga dalam kinerja saya di akademi. Bahkan hasil kontemplasi atas kondisi itu, menjadi bentuk satu podcast ini:



Dengan pengalaman saya tadi, pelajaran yang bisa diambil untuk teman-teman yang ingin masuk ke Apple Developer Academy adalah sebagai berikut:
  1. Jika mengalami kesulitan, sampaikan kepada mentor pribadi, mentor akademi, teman atau siapapun yang bisa menjembatani. Karena sebenarnya di apple developer academy, diterapkan model interaksi yang bebas, cair dan dinamis. Tell somebody that you have a problem and you need help. Saya ditempa bertahun-tahun untuk tidak mudah minta tolong, jadi lumayan keteteran di akademi. Just don't act like me there.
  2. Dokumentasikan dengan baik perjalanan belajar (learning Journey) dan refleksi. Setelah di akhir akademi, saya menggunakan tools bernama Airtable (bisa dicari dan diunduh sendiri ya). Dengan fitur Calendar di Airtable, lebih mudah bagi saya mencatat kegiatan sehari-hari, sekaligus memasukkan Learning Evidence atau bukti belajar, baik dalam bentuk gambar screenshot, dokumen ataupun video. Coba deh di www.airtable.com

Baiklah itulah catatan singkat saya. Semoga bisa menginspirasi.

Tak lupa saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk keluarga baru saya di Apple Developer Academy | Universitas Ciputra Surabaya. Juga pihak Apple yang bertukar username, saling follow dan sesekali ngobrol di inbox media sosial. Serta beberapa narasumber yang hadir di Sharing session atau Training session, dan masih terus berkomunikasi dengan saya. Terima kasih banyak. Semoga ke depan bisa saling memberikan manfaat dan kebaikan.

Jika ingin melihat informasi lengkap tentang Apple Developer Academy | Universitas Ciputra Surabaya, silahkan di baca di website officialnya berikut ini:
https://developeracademy.uc.ac.id/id/landing/

Coding Mum Bekraf Membuka Peluang Kerja Untuk Perempuan di Dunia Digital

Sekali lagi saya sampaikan, saya merasa beruntung sekali bisa terlibat di Coding Mum Surabaya. Selain karena dapat ilmu baru yang sudah lama saya idam-idamkan. Saya juga makin keren. Plus membuka peluang kerja baru bagi saya pribadi. Nambah joblist gitu loh. Beneran? Bener banget, beneran, serius deh.

Coding Mum adalah program belajar ibu-ibu untuk mengenal pemrograman front-end dan web-design.

coding mum
Coding Mum pusat bisa diakses di www.codingmum.id
Coding Mum Surabaya bisa diakses di http://codingmumsby.wordpress.com
Program ini diselenggarakan oleh Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), bikinan pak Jokowi. Jadi program ini resmi diselenggarakan oleh negara tercinta kita ini. Yang ingin memberikan peluang berkarya dan bekerja para perempuan, ibu-ibu, khususnya ibu rumah tangga. Program belajar yang ditawarkan masih pada basic web design dan basic front end programming. Hasil belajar yang diharapkan adalah para peserta mampu membuat web design sendiri dan bekerja di bagian front end developer.

Waktu saya antusias mendaftar, sebenarnya harapan saya adalah bisa membuat template blogspot. Selain untuk diri saya sendiri, saya ingin bikin bisnis baru di dunia digital, yaitu “Jualan Template Blogspot”.

Karena awam banget dengan dunia coding (pemrograman), saya ikut saja. Saya senang sekali bisa diterima. Terlebih ketika mendaftar, saya menggunakan status saya sebagai Ibu Rumah Tangga Digital dengan sidejob sebagai Blogger. Namun dalam ESSAI tentang tujuan mengikuti Coding Mum dan rencana selanjutnya, saya tuliskan bahwa saya ingin membuka kelas belajar pemrograman dan digital learning, baik untuk perempuan, guru dan anak-anak. Dan memang ini rencana saya sejak menekuni digital learning dan aneka jenis platform e-learning untuk pembelajaran di sekolah. 

Niat awal ingin bisa bikin template blogspot, ternyata harus ditahan dulu. Kenapa?
Karena di Coding Mum, yang diajarkan adalah membuat web design menggunakan kode HTML 5, Javascript dan CSS 3. Sedangkan kode template blogspot bertipe XML. Beda kode maakk, hiks. Namun kekecewaan saya tidak berumur panjang. Untunglah… karena para mentor memberikan jaminan, akan membimbing saya memahami XML jika diperlukan. Mentornya alias coach-nya super sitimewa deh beneran. Eh, istimewa maksudnya :D

Menurut mentor, “XML itu lebih jadul bu daripada HTML 5 yang akan diajarkan di Coding Mum”.
Tapi ya, gimana lagi, saya ini biasa menggunakan Blogspot yang memakai XML. Jadi biar jadul, tetap aja butuh. Biarin deh saya jadi "Vintage Developer" aja kali. Hehehe.

Lalu bagaimana Coding Mum membuka lapangan kerja buat saya pribadi, khususnya?
Jadi begini. Ketika foto narsis saya pertama kali muncul di Dilo Surabaya, langsung saja derajat saya naik di dunia persilatan jagad maya. Kemarin hanya blogger sekarang nambah jadi coder. Apaan sih coder? Bikin istilah baru sendiri, hehehe.
Beberapa teman baru, malah mengira saya Sarjana IT. Luar biasa kan? Padahal saya Cuma belajar Coding Mum 3 bulan saja.

Yang mungkin memberikan Nilai Tambah bagi saya adalah….saya tidak berhenti belajar dan berkarya di dunia coding itu tadi.
Walaupun saya diberi ilmu tentang HTML5, saya nekad saja masih otak-atik kode XML blogspot saya sendiri secara otodidak. Lalu saya juga kesana-kemari membaca berita tentang dunia developer dan startup. Saya pun rajin ikutan acaranya para developer dan anak-anak muda keren, pinter bin canggih yang pada mendirikan perusahaan digital bernama Startup. Padahal hidden agenda saya sebenarnya biar terus awet muda sekaligus nyari inceran calon mantu, #ehgimana :) .

Dari kiprah ini, saya mendapatkan tawaran job baru berupa:
  1. Aplikasi reviewer. Ya, bahkan ada mbak-mbak bule dari luar negeri yang mengirimkan email Review Request pada saya. Dia meminta saya mereview aplikasi ‘graphic editing’ yang baru dibuatnya itu. Amazing kan? Walaupun saya ngobrol di emailnya dengan bahasa Inggris, dia menginginkan saya mereview aplikasinya dengan bahasa Indonesia saja. Mungkin dia ingin aplikasinya terkenal di negeri kita ini kali ya? Hidup Indonesia!
  2. Narasumber. Tawaran menjadi narasumber alias pembicara di sebuah acara mulai datang pada saya. Yang pertama dari teman saya yang bekerja sebagai dosen. Dia ingin saya tampil di depan mahasiswanya. Yang kedua, teman saya penulis novel, dia ingin saya tampil di komunitas sastranya sebagai blogger. Nah loh, happy kan? Makanya cari temen yang sebaik mereka :D
  3. Trainer. Menjadi trainer alias guru, memang sudah saya jalani sebelumnya. Namun yang terbaru adalah permintaaan menjadi trainer workshop blog dan web design. Biarpun belajar web nya baru aja, saya tetep pede menerimanya. Kenapa? Karena saya punya backup dari mentor Coding Mum yang siaga setiap saat ketika saya butuh bantuan. Coach Siaga dari Dilo Surabaya. Horee…
  4.  Template Blog Redesigner. Peluang jasa ini baru saya temukan kemarin. Ketika saya membenahi template blogspot teman saya yang masih statis. Saya memasang template baru yang responsive dan enak dibaca di gadget mobile seperti HP, Ipad dan tablet android. Disini saya kepikiran ide menerima jasa mengubah template lama jadi responsive. Eh, ternyata responnya bagus juga. Alhamdulillah.


Nah, menarik bukan belajar coding?
Cobain deh. Jika sudah pernah mencoba, akan ketagihan ngodingnya. Dijamin.

Technology can be fun!
Salam,

Heni Prasetyorini



Stop Gaptek! Perempuan Harus Melek Teknologi


Though we do need more women to graduate with technological degrees, I always like to remind women that you don't need to have science or technology degrees to build a career in tech. [Susan Wojcicki]

 Sepakat dengan kalimat dari mbak Susan Wojcicki diatas?

"Walaupun kita butuh lebih banyak perempuan yang lulus dari kuliah teknologi, saya selalu mengingatkan bahwa kamu tidak perlu harus jadi lulusan  Sains atau Teknologi lebih dulu, untuk membangun karirmu di bidang teknologi".

Kalau saya, sangat sepakat dengan kalimat diatas.
Dunia teknologi, sangat terbuka menerima calon pebelajar dari berbagai latar belakang.Contohnya teknologi digital kreatif di dunia blogging yang saya geluti sampai sekarang.Membuat blog, merawat dan mengoptimalisasi blog, menjadi BLOGGER, boleh dilakukan oleh siapa saja. Profesi inilah yang paling bisa menerima saya apa adanya.

Mbak Heni, bukannya udah lulus S2?
Iya itu benar. Tapi, walau sudah lulus S2, background saya 14 tahun sebelumnya adalah ibu rumah tangga (IRT). Ketika saya mencoba menggunakan ijazah S2 untuk melamar pekerjaan formal di jaur pendidikan, entah sebagai guru atau dosen, ternyata tidak mudah.

Betapapun saya sudah aktif di dunia pendidikan dari balik layar laptop, kinerja saya tidak tertulis dalam lembaran sertifikasi formal. Mungkin selain faktor IRT ditambah juga usia saya yang sudah over deadline untuk diterima sebagai karyawan :).

Maka, menjadi pekerja bebas (freelancer,), atau pekerja usaha sendiri (self employee) adalah pilihan termudah. Salah satu pilihan adalah menjadi blogger, writer dan trainer pendidikan terutama digital learning.

Ada hal menarik yang saya temui ketika terjun lebih dalam ke komunitas Blogger. Di sana saya berkenalan dengan perempuan yang lulusan SMP, namun kinerja sebagai Bloggernya sudah luar biasa. Dari ngeblog saja, beliau bisa menghidupi keluarganya. Sebut saja namanya Mawar  *loh doi pedagang boraks? - LOL

Anyway, bicara gelar sekolahan, Ibu Menteri kita, bu Susi, juga sekolah formalnya sampai SMP kan?
So, gelas is not a big deal. Bukan patokan kualitas diri seseorang.

Memang benar, belajar dan sekolah formal bukan satu hal yang sama. Belajar itu wajib, bagaimanapun caranya. Jika melihat profil blogger teman saya itu, saya sering menggumam sendiri.
"Seandainya semua perempuan mau melek teknologi, sedikiit saja. Bayangkan sebesar apa pencapaian dalam hidupnya?".

Kalau mau?
Ya kalau mau!
Karena saya masih sering menemukan teman, kenalan, atau perempuan yang tidak peduli dengan teknologi. Cuek dengan ke-gaptek-annya. Namun merasa dunia runtuh karena dia tidak punya skill apa-apa untuk bekerja.

Diajari bikin email, nggak mau lihat langkah saya.
Dibikinin email, nama password selalu lupa.
Padahal mereka lulusan SMA, D3, bahkan Sarjana.
Gemes banget pokoknya.

Perempuan. Ladies. Women.
Ayo toh, melek teknologi. Jangan gaptek, pliiis plis banget deh.


Kita harus meningkatkan kemampuan diri, bagaimanapun bentuknya. Jika fasilitas sudah di genggaman, hape canggih bahkan iphone selalu ditenteng kesana kemari, tinggal memaksimalkan gadget itu. Kalaupun, jika kita sudah dalam zona nyaman. Cukup ekonomi. Rumah tangga harmonis serasi. Anak sekolah di tempat favorit. Tetep saja nggak ada salahnya kita belajar lagi, kan?Kalaupun kita nggak butuh hal lain, Kita bisa membantu orang lain, kan? Kan? Kan?

Ayolah bersusah-susah sedikiit saja.
Agar bisa menjadi garda depan keluarga.
Jika ibu gaptek, bagaimana bisa paham cara mengaktifkan fitur Parental Control, di gadget anak?
Bagaimana bisa diajak ngobrol anak dan suami, yang biasanya lebih melek teknologi?
Apa mau jadi warga kelas dua terus-terusan?
Being underdog?


Ah, ayolah.
Jika mau, kita bisa berbuat sesuatu.
Perempuan, kita harus mulai melek teknologi.


Semoga menginspirasi
- Heni Prasetyorini -

Inspirasi Dari Bu Rini Untuk Perempuan Indonesia Mandiri

Ketika kita lebih mengenal seseorang, kita akan lebih tahu mengapa orang ini begini dan begitu. Begitu juga ttg bu Rini...[status facebook bu Rini - 2 Agustus 2016]

Saya mengenal bu Koeshartati Saptorini, atau biasa dipanggil bu Rini ini dari facebook.
Ketika sebuah postingan tentang media belajar matematika buatan beliau, ada di beranda facebook saya. Sedikit kepo, saya telusuri profil beliau, dan ternyata satu almamater dengan saya. Bedanya beliau di Teknik Lingkungan ITB, saya di Kimia FMIPA.
Usia kami terpaut cukup jauh, beliau angkatan 1988, saya angkatan 1997. Namun kinerja beliau di dunia pendidikan, saya kalah jauh. Kalah banget. 

Walau begitu, bu Rini, ramah sekali ketika saya sapa melalui facebook messenger. Tak terkesan sedikitpun kesulitan yang beliau hadapi. Saya pun asik-asik saja bercanda ketika memesan beberapa buku Ringkasan Matematika dan Fisika SMP , buatan bu Rini, untuk anak saya.

Dari fotonya pun, bu Rini sangat ceria. Memang pernah, kakak perempuan saya bercerita, jika beliau mempunyai anak berkebutuhan khusus (ABK). Saya belum tahu detilnya seperti apa. 

Namun menjelang shubuh hari ini, saya lumayan terperanjat dan tertegun. Ketika suami menunjukkan video tentang bu Rini. Yang ternyata sebagai ibu pejuang 2 anak CP (Cerebal Palsy).





Setelah melihat video itu, saya terenyuh sekali. Teringat lika-liku dan segala hal yang saya hadapi ketika tanpa diduga anak kedua saya lahir prematur. Lalu harus berada 14 hari di inkubator-jauh dari saya. Kemudian saya harus disampingnya full sampai 3 tahun. Bahkan sampai sekarang perjuangan tak henti untuk  mengoptimalkan perkembangan anak saya itu. Kadang terasa amat lelah. Apalagi jika harus menerima komentar dari orang, yang melemahkan jiwa.
Terlebih merasa begitu bersalah pada anak, sehingga energi untuk berpikir apapun sudah habis rasanya.

Namun, setelah berkenalan sendiri dengan bu Rini, saya jadi KUAT kembali. Terlebih mengetahui kisah beliau di video itu, yang tak pernah sekalipun saya dengar dan baca dari fb-nya. Juga tak pernah saya baca keluhan di status bu Rini. Hanya beberapa kali ketika sepertinya beliau mendapatkan kalimat komentar yang memedihkan hati, beliau hanya menulis, 
"Ya Alloh, tugas bu Rini ini sudah banyak. Jangan ditambah lagi pikiran ini itu....."

Bu Rini pasti lelah luar biasa, lahir batin, ketika bertekad untuk menterapi anaknya sendiri ketika bayi. Menanti 5 tahun sampai berhasil dan anaknya bisa berjalan, pasti tidak gampang. Karena orang sekitar biasanya tidak mudah percaya. 

Sambil menterapi anak CP, bu Rini  memberikan les privat matematika.
Masya Alloh, luar biasa. Sekarang pun bu Rini, bisa menulis buku Ringkasan Matematika dan Panduan Matematika dan Fisika.

Semalam saya membaca buku tersebut, Ringkasan Matematika SD. Satu demi satu ulasan beliau, dari soal-soal Matematika, saya cermati. Di dalam hati saya berbisik, betapa telaten dan rajinnya bu Rini ini. Satu demi satu soal latihan Matematika pasti telah beliau ulik sedemikian rupa, sehingga bisa memberikan cara mengerjakan soal yang mudah dan cara belajar yang menarik dari Matematika.

Dari chatting saya tempo hari, bu Rini bercerita kalau semua buku itu beliau tulis dan edit sendiri. Dimana penerbitan buku itu dikelola oleh teman seangkatannya, ITB 88 Peduli Pendidikan. Jadi termasuk Indie Publishing. 

"Bu Rini sampai turun 5 kilo karena menulis buku dan mengurusi buku," cerita beliau sambil memberikan emoticon tertawa.
Facebook Bu Rini, KLIK DISINI


Ah, bu Rini, sungguh beruntung sekali saya mengenal ibu.
Terima kasih telah menyadarkan saya, bahwa kesulitan saya tidak ada apa-apanya.
Bahwa kesulitan kita semua, mungkin juga tidak ada apa-apanya dibanding bu Rini.

Jadi, Perempuan, marilah terus menerus memompa semangat untuk lebih baik dan lebih baik lagi.
Seperti halnya bu Rini. Walau kondisi sulit, masih bisa memberikan baktinya untuk anak negeri. Sebuah karya yang bisa mencerdaskan bangsa.

Lalu, apa karya kita?
-
Semoga menginspirasi.
- Heni Prasetyorini - 

Jon Morrow, Blogger Difable Yang Sukses Karena Helping People

Kalau kemarin saya “sesumbar” bisa nulis 10 artikel dalam sehari.
Bagaimana komentar anda mengetahui ada blogger yang kerjanya mulai jam 8 pagi sampai jam 11 malam?
Kebayang berapa artikel yang dia tulis seharian?
Jadi ingat sama sakit pinggang alias boyok kemeng?
Bagaimana jika saya tambahkan, bahwa blogger yang kerjanya gila-gilaan itu adalah seorang difable. Makin terperanjat?

Mengetahui orang difable bisa mengurus dirinya sendiri saja, saya sudah terkagum-kagum tidak terkira. Apalagi mengetahui mereka berhasil menjadi penolong orang lain. Sepertinya halnya satu tokoh keren ini, simak ceritanya dengan sepenuh hati, oke.

Blogger Difable Bisa Helping People

Jon
Jon Morrow dari SmartBlogger.COM

Jon Morow. Dalam artikelnya berjudul, “How to Quit Your Job Get Paid And Move To Paradise” dia menceritakan asal muasalnya memilih untuk keluar dari pekerjaannya sebagai orang kantoran lalu terjun bebas menjadi blogger.
hiiiyy...Ngeri-ngeri sedap gitu ya kedengarannya?
Bagaimana kisah lengkapnya, ayo disimak dengan lapang dada.

Nama lengkapnya Jon Morrow. Karena sebuah kecelakaan mobil yang parah, Jon mengalami kelumpuhan. Dia menggunakan kursi roda untuk bergerak. 

Mungkin banyak cerita difabel  seperti dia yang menghiasi media. Namun saya ambil kisahnya, karena kebetulan dia juga seorang blogger profesional. Yaitu seseorang yang bekerja sebagai blogger. Yang mendapatkan dollar demi dollar dari bikin blog (saja). Mengucapkan (saja)-nya jangan terlalu kencang ya. Nanti diserbu oleh blogger sejagad raya loh. *becanda…

Sebelumnya Jon adalah pekerja, karyawan dengan gaji besar dan posisi yang matang. Kecelakaan itu adalah titik balik kehidupannya. Dengan luka yang sangat parah, Jon harus menjalani pemulihan berbulan-bulan. Disitulah dia mulai memikirkan tentang kehidupan. Tentang pertanyaan mendasar dalam kehidupannya. Ketika nyawa, hidup sudah merasa penting. Dia bertanya pada diri sendiri. 

“apakah kehidupan ini yang aku inginkan?”
“apakah bekerja di tempatku kemarin, pola hidupku adalah impianku yang tercapai?”
Ternyata Jon menjawab lain. “Tidak, bukan ini yang kuinginkan”

Jon ingin mengubah hidupnya. Dia ingin lebih banyak waktu bersama keluarganya. Dia ingin bebas bekerja apa saja, kapan saja sesukanya. Dia ingin menulis. Dia ingin tulisannya bisa membantu orang, menginspirasi orang lain dan mengubah orang lain itu dari “kerangkeng” hidupnya.
Setelah dinyatakan sembuh, Jon segera membereskan tugas terakhirnya di kantor. Lalu pergi begitu saja dari kantor lamanya. Ketika temannya bertanya, “apa yang akan kau lakukan sekarang”
Sekedarnya saja Jon menjawab, “entahlah, mungkin mulai membuat blog (saja)”
 Tak disangka jawaban sekedarnya saja itulah yang mengubah hidup Jon kemudian.
Apa yang dilakukan Jon kemudian?

Awal Ngeblog Itu 

Jon Fokus di Blog Dari Jam 8 Pagi - 11 Malam

 Tiap Hari, 3 Bulan Full

Berani? 


Jon tidak hanya memikirkan rencana membuat blog. Tapi dia benar-benar menekuninya. Dalam 3 bulan ke depan, dia bekerja sejak jam 8 pagi sampai jam 11 malam. Dari pagi sampai malam, pekerjaannya adalah menulis, membaca dan berinteraksi dengan blogger lainnya. Hanya itu.
Dalam bulan pertama, blognya yang bicara tentang strategi keuangan, On Money Making, langsung melejit, tembus sampai 2000 pengunjung setiap hari. Sampai masuk nominasi sebagai blog keuangan dan bisnis terbaik tahun itu.

Dua bulan setelahnya, Brian Clark mengajaknya menjadi Associate Editor di website Copyblogger. Akhirnya dia memilih untuk menjual blog pertamanya On Money Making kepada lima orang pembeli dan memilih bekerja di Copyblogger, salah satu blog paling terkenal di dunia.

Kesuksesannya ini ternyata masih awal.
Saat itu, musim dingin yang parah. Jon hanya berdiam di apartemennya tanpa bertemu siapapun. Sampai akhirnya dia sadar. Untuk apa aku terkurung di apartemen seperti orang yang menyedihkan begini? Teriak Jon. Full time blogger itu bisa bekerja dimana saja kan?!
Dengan bantuan temannya, Jon pindah ke Mexico. Sekarang, dia ngeblog, menulis sambil menatap ikan lumba-lumba yang berloncatan di lautan. Alamakjaang itu surgaaa, paradise.

Ngayal Ngeblog di Tanah Surga ^_^


Saya juga sering ngayal kayak gini loh. Ada di rumah kayu, berlantai kayu. Adem. Banyak tanaman di teras, bahkan di halaman rumah. Ada pohon mangga, jambu, durian, rambutan, semangka dan tak ketinggalan  pohon cabe. Saya duduk di teras berlantai kayu. Angin semilir sejuk. Suara anak-anak berlarian di halaman rumah, diantara pepohonan rindang. Gemericik air menyirami pepohonan, dari selang air yang dipegang suami. Di meja teras, ada Macbook, drawing pad, kopi susu panas, brownies manis menemani saya mengetik. Tidak ada cucian yang belum dijemur, piring kotor yang menumpuk, baju bersih belum disetrika. Lantai sudah disapu dan bersih, kamar mandi sudah kinclong sendiri, semua kasur sudah diganti sprei. Di meja makan tersaji aneka ria hidangan. Di kulkas penuh camilan. Di rekening bank……*lanjutkan sendiri , hihihihi.

Kita semua bermimpi seperti itu. Tampaknya mustahil kan? Ternyata tidak bagi Jon.
Jon bisa mewujudkan semua keinginannya dengan menjadi BLOGGER. Bahkan dia berhasil meraup jutaan dollar dan bisa membelikan mobil untuk ayahnya, ketika memutuskan untuk menolong orang, Helping People. Jon membuka kursus atau kelas belajar cara nge-Blog yang baik. Cara menaikkan trafic blog. Cara mendapatkan penghasilan dari sosial media. Dia melakukannya tanpa menetapkan rate card, standar gaji. Sekali waktu dia menerima 50$, di lain waktu dia menerima 350$, namun dia memberikan dedikasi pekerjaan yang sama besarnya kepada mereka, membantu sampai impian dan tujuan para kliennya terwujud.

Yang menyenangkan adalah kalimat terakhirnya yang menegaskan, bahwa Jon tidak fokus untuk mencari uang dari blog. Dia fokus mengubah hidup seseorang jadi lebih baik. Dan ternyata, uang juga datang sendiri.


Di suatu malam, saya menghubungi seorang blogger senior, mbak Ani Berta. Curhat ala blogger sebenarnya. Dan mbak Ani, juga membagikan pandangannya yang sama seperti Jon. Mbak Ani berkata,

"Ketika menjadi BLOGGER fokus saja untuk memberikan dan membagikan manfaat kepada sebanyak mungkin orang yang membutuhkan. Rejeki akan datang mengikuti"

You are Mastah Blogger mbak Ani, makasih ya.

Kembali ke Jon. Setelah dia bosen jadi pegawai dan memutuskan jadi Profesional Fulltime Blogger, Jon mendapatkan penghasilan berlimpah dari blog dan kelas belajarnya. Kemudian Jon diundang sebagai pembicara, narasumber, speaker, motivator. Jon mengatakan, jika dia bisa melakukannya, maka dia ingin banyak orang yang bisa juga sesukses dia.
Anda ingin keluar kerjaan lalu jadi profesional blogger? Bisa!
Anda ingin jalan-jalan keliling dunia sepuasnya? Bisa!
Anda ingin mendedikasikan diri tiap jam membantu orang dan membuat dunia ini jadi tempat tinggal yang lebih baik? bisa!
Dan itu semua diwujudkan Jon, dengan menjadi BLOGGER.

hhfhh..kalau sudah baca artikel ini ,mereka yang ringan berkomentar, “Enak ya jadi Blogger, Cuma Nulis Doang bisa Dapat Duit” , akan terdiam dan lari tunggang langgang menuju lautan kemudian dicaplok ikan.
*ih dendam banget sih Hen, :D

Begitulah kisah inspiratif dari saya, cerita aslinya dari artikel ini http://www.problogger.net/how-to-quit-your-job-move-to-paradise-and-get-paid-to-change-the-world/

Kalau ingin jadi blogger sukses, coba dulu fokus ngeblog "dari jam 8 pagi sampai jam 11 malam".
Lalu perhatikan apa yang terjadi :)

Semoga menginspirasi,

Salam

Heni Prasetyorini




Terus Belajar : Dari Coding Mum ke Indonesia Android Kejar


Learning to Code is Useful, No matter You're Career Ambitions Are. - Arianna Huffington-

Perjalanan saya masuk ke dalam dunia coding, belajar code (pemrograman), 
sungguh mencengangkan dan semakin mencengangkan. 


Coding Mum.
Saya tak akan berhenti-henti menggunakan hestek Coding Mum (#codingmum) dalam identitas atau sharing di sosial media tentang gerak laku saya di bidang digital kreatif. 
Karena gerakan pemberdayaan perempuan di bidang teknologi digital ini,
bisa dibilang menjadi Titik Belok dari perjalanan karir saya di dunia digital.

Kesempatan itu akan datang bagi mereka yang bersungguh-sungguh dan tak hendak berhenti belajar serta mengajar. 

Quote ini saya buat sendiri, karena saya rasakan sendiri. Setelah lulus dari Coding Mum di Surabaya, sekitar bulan Mei 2016 kemarin, saya tak henti-hentinya mengikuti even baik Seminar atau Workshop yang bisa menambah wawasan dan skill saya di bidang coding. Ketagihan dan penasaran, bisa disebut begitu.

Sampai akhirnya, seorang teman membagikan link tentang Indonesia Android Kejar. Yaitu sebuah program kelas belajar membuat aplikasi android untuk umum.

Awalnya teman saya memberikan link di waktu deadline. Dan saya telat pula membuka pesannya. Terlambat!
Begitu pikir saya.

Tapi, dengan bondo nekad juga, saya klik saja link pendaftaran dan menuliskan data diri sebagai peserta. Pikir saya waktu itu, registrasi online semacam ini ada beberapa kemungkinan. Jika penuh akan ditolak. Tetapi jika ada yang mengundurkan diri, maka akan tersedia lagi peluang bagi saya.

Dari segi umur, juga saya pikir tak akan diterima. Karena membaca program IAK di websitenya, sepertinya khusus untuk anak muda. Walau begitu, saya mengajak teman saya yang juga ibu-ibu, untuk nekad juga mendaftar.

Ketika masa pengumuman tiba, tidak ada satu pun email pemberitahuan bahwa kami diterima. Saya sudah tidak berharap lagi, kecuali untuk batch selanjutnya jika ada peluang akan mendaftar lagi.

Ndilalah, alhamdulillah, ternyata beberapa minggu kemudian, ada email masuk. Dan email itu memberitahukan bahwa saya terpilih Sebagai Peserta Women Study Group - IAK Surabaya.



Sungguh alhamdulillah. Senang sekali rasanya. Kenapa?
Karena saya sudah lama juga penasaran dengan cara bikin aplikasi berbasis android. Nah, tempo hari sih sempat  ikutan acara serupa, hanya workshop sehari yang diadakan oleh Intel XDK.
Sayangnya waktu itu saya cuma bengong sepanjang workshop, karena laptop kecil mungil saya itu nggak kuat menahan beban, eh, nggak memenuhi spesifikasi software Intel XDK yang digunakan untuk membuat aplikasi android. Jadinya ya dieeem aja tampilannya, nggak gerak kemana-mana. HANG.



Nah loh, kekhawatiran juga menyelimuti benak saya nih. Kalau ikutan IAK, harus mengunduh Android Studio. Apakah laptop saya kuat?
Setelah cek spesifikasi yang dibutuhkan dan mendapat masukan dari bu Farida (dosen ITATS) dan Woko , saya yakin 100% kalau laptop saya nggak bisa dipakai ikutan kelas android.

*mulai mlipir ke pojokan T_T

Udah kepikiran aja, mau menyerah aja deh. Nyari pinjeman laptop juga nggak mungkin. Beli laptop baru juga emangnya pakai sulap bisa?. 

Alhamdulillah, suami saya berpikiran jauh ke depan.
Sebenarnya seputar anaknya juga sih, hehehe. Pikirnya, kalau saya bisa android development gini, ntar kan bisa ngajarin anaknya sendiri.Jadi, urusan laptop akan diusahakan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Anggap saja, membeli laptop ini adalah INVESTASI.

Baik, setelah menghitung isi dompet, maka suami saya all out dalam mencari laptop preloved (kayak istilah kosmetik seken aja nih, hehehe). Maksudnya laptop seken atau laptop bekas.

Setelah 3 hari full browsing dan tanya-tanya ke penjualnya, kami berdua pun berangkat naik motor sejauh puluhan kilometer. Kebayang dari Surabaya Barat ke area Medokan Semampir. Lumayan juga nih pinggang, apalagi saya baruuu aja beres bertarung dengan bakteri Salmonella typhi yang ngendon selama seminggu di badan. Jadi badan udah panas dingin meriang melayang nggak karuan rasanya. 



Singkat cerita, jadinya saya dapat alat perang baru yang imut-imut. Warnanya pink. 
Ternyata super matching sama warna stiker Coding Mum. 

Seperti sudah diatur sama Tuhan .......

Stiker itu saya dapat ketika menjadi Narasumber Sosialisasi Coding Mum di Tulungagung.
Dari sana saya mendapatkan benefit fee yang cukup lumayan. 
Awalnya mau saya tabung buat beli emas aja, hahaha khas emak-emak. 
Ternyata berguna untuk membeli laptop Pink ini, yang kemudian dipakai untuk tahap belajar selanjutnya. Bisa dibilang, laptop pink itu termasuk hasil saya dari Coding Mum. Dari Coding Mum untuk Coding Mum. 

Allahu Akbar. Kalau saya ingat-ingat, semakin diingat-ingat, Rabb Allah SWT itu sungguh Maha Mengetahui, Maha Penyayang dan Maha Indah sekali dalam mengatur liku kehidupan makhluk ciptaan-Nya, termasuk saya ini. Betul tidaaakk ? :D



Makin Semangat Belajar Untuk Mengajar Para Moms & Kids


Dari pengalaman ini, saya semakin optimis akan terbukanya peluang berkarir di dunia digital kreatif, terutama coding. Entah itu membuat website seperti program Coding Mum sebelumnya. Juga membuat aplikasi android, seperti yang akan saya ikuti nanti di program Indonesia Android Kejar.


Jika berpikir belajar untuk diri sendiri, saya tidak terlalu akan bersemangat seperti ini. Tetapi, jika saya bayangkan untuk bisa mengajar sesama perempuan dan anak-anak yang lucu, maka semangat saya langsung membara dan menyala-nyala. Sakit typus, ya udah bye bye lah yaaa.... #nenggaksusuberuang


Selanjutnya apa?

Setelah perangkat sesuai spesifikasi siap. Maka saya lanjutkan untuk belajar mandiri tentang bahasa pemrograman menggunakan Android Studio melalui kursus online di WWW.UDACITY.COM.
Kursus ini gratiiisss....




Di Udacity ini, tahapan belajarnya sederhana dan dipotong kecil-kecil, sehingga mudah dipahami. Bahkan beberapa analogi, seperti Parent Code, Children Code dan gambar  bisa memudahkan peserta memahami. Syaratnya cuma satu sih, ngerti bahasa Inggris :D

Nah, ternyata di android, menggunakan XML Syntax.
Wah kebetulan banget, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui nih.
XML Syntax adalah tipe code yang digunakan untuk template blogspot. Jadi, ketika belajar bikin app android, saya sekalian bisa rada ngeh dengan bahasanya template blogspot. Platform blogspot adalah platform yang saya gunakan untuk ngeblog sejak dulu kala, tahun 2009.

Dan saya sungguh suka dengan platform ini. Karena (bagi saya) mudah, relatif aman dan murah jika diredirect ke domain dotcom. Sebuah cara membuat website yang paling mudah dan murah untuk dieksplor dan digunakan untuk blogger atau onlineshopper pemula.


Di Udacity, saya baru sampai ke level 2 Beginner. Video belajarnya cukup lama juga, kadang sampai ngantuk melihat videonya dan konsentrasi ke tahapan tutorial plus kalimat bahasa Inggris yang diucapkan narasumber. Lumayan mikir sih. Walau enak juga, lebih paham sebenarnya karena pasti dijelaskan dengan detil.

Sebagai pilihan, ternyata di internet sudah beredar banyak sekali tutorial serupa yang berbahasa Indonesia. Walau isinya tak sedetil di Udacity, tapi lumayanlah sebagai suplemen biar paham bahasa pemrograman android.

Berikut link belajarnya:
  1. https://www.dicoding.com/academies/2
  2. http://www.okedroid.com/p/belajar-android.html
  3. https://teknorial.com/tutorial-pemrograman-android-studio-bahasa-indonesia/
Tentu masih banyak lagi link belajar mandiri berbahasa Indonesia yang tersebar di blog pribadi orang. Bahkan yang berjualan modul belajar android untuk pemula juga ada. Tinggal bayar ratusan ribu, sudah dikirim DVD nya. 

di kelas IAK di Universitas Ciputra Surabaya (saya pojok kiri)


Syukur alhamdulillah, dengan saya terpilih menjadi peserta Indonesia Android Kejar 2016 ini, saya bisa belajar android secara gratis. Sekaligus bisa mendapatkan link networking baru, yang pasti akan sangaaaat berguna untuk aneka projek kolaborasi di masa depan. 

Wis ah, gitu saja kisah singkat perjalanan saya menuntut ilmu,
walaupun katanya ilmu nggak perlu dituntut karena dia tidak menghina kitab suci, #eh.

Jadi, untuk sahabatku yang mulia dan baik hatinya :v
mari terus semangat mengejar peluang untuk belajar,
Betapapun ada keterbatasan, baik dari segi ekonomi atau apapun, jika niat kuat, pasti diberikan jalan.

Seperti Quote yang saya tampilkan di awal tulisan ini, yaitu :
"Belajar Coding Pasti Berguna, Walau Apapun Ambisi Karir Yang Direncana"

Salam,

Heni Prasetyorini




Inspirasi Dari Blind Blogger

Sewaktu mbak Anne Regee - punggawanya Female Geek PHP Indonesia menceritakan keberhasilannya mencetak Blind Coder, yaitu web designer dari kalangan teman difabel yang tuna netra atau low vision, di hati saya sudah terbesit, bagaimana jika semakin banyak juga BLIND BLOGGER

Coba kita lihat video ini.  Video profil seorang beauty blogger yang mengalami low vision. Namanya Emily Davison. Sejak lahir dia sudah mengalami kelainan di mata yang menyebabkannya menjadi tunanetra alias blind people. Emily menjadi blogger profesional di bidang kecantikan, dan mencatat kinerjanya di blog https://fashioneyesta.com/.






Aplikasi Komputer  Untuk Blind People

Blogger yang tunanetra, memang bagi kita yang awam kedengarannya mustahil. Tapi ternyata tidak juga. Kita saja yang belum atau jarang mendengar mereka. Dan bahkan sama sekali tidak pernah bertemu merekaPertanyaan akan muncul. Bagaimana caranya penyandang tuna netra menggunakan fasilitas internet, sementara mereka tidak dapat melihat? Ternyata ketika membaca atau menulis teks di laptop maupun di ponsel, terdapat aplikasi pengubah teks menjadi bahasa lisan.  Aplikasi atau software ini disebut JAWS (JobAccess With Speech).   


BLIND BLOGGER INDONESIA BERPRESTASI

Salah satu Blogger Tunanetra Indonesia yang berprestasi adalah DIMAS. Pria kelahiran 14 Agustus 1988 ini merupakan seorang seorang penulis, blogger, penerjemah, dan aktivis. Dimas aktif sekali dan juga berwirausaha, karena ingin membangun kemandirian kaum tuna netra lewat karya dengan memanfaatkan fasilitas internet.



sumber video disini 



Satu lagi Blind Blogger yang menginspirasi: Maxwell Ivey


di http://theblindblogger.net/


Mungkin bagi kita, menjadi blogger adalah untuk aktualisasi diri atau bekerja menjemput rejeki. that's it. Tapi untuk orang seperti Emily ini, dia menjadi blogger karena ingin mengubah persepsi orang kepada dirinya dan kepada orang lain yang mengalami hal yang sama dengannya. Humanity reason. How about us?

Jika ingin tahu daftar nama blogger yang punya difabilitas dari segi penglihatan di luar negeri, anda bisa membuka link http://www.whitestick.co.uk/blogs.html .



Saya sangat terinspirasi Beauty Blogger yang tunanetra di atas. Terbayang bagaimana usahanya memenuhi jiwanya dengan melakukan sesuatu yang ia sukai, yaitu fashion, walaupun dia tidak bisa melihat baju, aksesoris dan hasil make up yang ia gunakan. Akan tetapi dia merasakan melalui kulit, bau, dan kebesaran hatinya.

Senyumnya yang begitu teduh dan manis, membuat saya malu sendiri. Betapa mudah saya menyerah dengan keterbatasan fisik saya sebagai perempuan. Dan sepertinya itu juga dialami oleh banyak orang. Jadi teman, sekarang mau tunggu apa lagi? segera saja lakukan hal baik untuk sebanyak mungkin orang dan alam semesta.  Yang pastinya akan berbalik memberikan kebaikan juga bagi kita sendiri. Apapun kondisi kita sekarang ini.


Bagaimana? terinspirasi juga?


Mungkin next, untuk para blogger, kita perlu mempelajari bagaimana membuat ARTIKEL BLOG yang ramah untuk BLIND PEOPLE. Misalnya banyak video bersuara, membuat rekaman suara di Soundcloud atau podcast, dan membuat tulisan yang mudah dibaca oleh aplikasi JAWS di komputer mereka. Artinya kudu berbahasa Inggris ya sepertinya? :)


I hope someday I can meet some of blind blogger or blind coder.

And say a big thank you and support for them.


Semoga artikel saya bermanfaat ya,


Heni Prasetyorini



Sharing Tentang Digital Learning di Radio


Kamis, 20 April 2017 kemarin saya diundang di radio Suara Muslim Surabaya untuk sharing Mengenal Digital Learning Sebagai Cara Pembelajaran Sesuai Perkembangan Jaman.

Seneng banget kali ini bisa ngobrol tentang hal-hal yang sudah saya "kepo-in" sejak dulu kala. Apalagi sejak mengambil kuliah Teknologi Pendidikan di Pasca Sarjana Unesa dengan topik e-learning untuk tesis.

Sebelumnya saya ajukan judul tema tentang mudahnya memulai bisnis online. Kok bisnis? ya maksud saya masuk ke ranah muslimahpreneur gitu, dan yang masih nyambung dengan segala hal per-digital-an.

Akan tetapi setelah saya telaah lagi, kayaknya kok belum kompeten banget ngobrolin bisnis. Takutnya nanti nggak bisa jawab pertanyaan. Saya memang pernah mulai buka online shop dan di tahun ketiga sampai ada media televisi yang meliput. Tetapi selanjutnya bisnis saya nggak jalan. Brenti karena kuliah lagi. Nggak pede lah bicara bisnis, hihihi.

Akhirnya saya ajukan tema tentang Digital Learning, yang lumayan sudah saya kuasai. Hal ini juga diperkuat, setelah saya chit-chat dengan teman yang menjadi dosen dan mengeluh susahnya menerapkan digital learning untuk mahasiswanya. Sementara saya diajak seorang Kepala Sekolah Dasar untuk membantu keinginan beliau menerapkan digital learning untuk kelas 1-2 SD.

Klop deh, pembahasan Digital Learning adalah pilihan topik yang tepat.
Sebelum ke radio, saya sudah menyiapkan materi. Namun karena keterbatasan ada beberapa materi yang belum tersampaikan. Jadi, saya share saja disini.

Mengenal Digital Learning Sebagai Cara Belajar Sesuai Jaman

Ketika era digital sudah tiba, siapa yang tidak mau menyesuaikan diri bisa ketinggalan.
Adalah salah satu karakter makhluk hidup untuk bisa beradaptasi.
Begitu juga manusia. Mau tidak mau, harus bisa beradaptasi dengan perubahan yang terjadi
apalagi perubahan di bidang teknologi.

Perlu juga digarisbawahi bahwa karakter tiap generasi itu berbeda-beda.
Ada istilah generasi X, Y dan Z.
Generasi X bisa dibilang generasi jadul dan gaptek.
Generasi Y dan Z adalah generasi yang sejak jadi embrio sudah mengenal gadget dan internet.
Generasi ini sudah lazim disebut generasi Millenials atau generasi Langgas.

Millenials punya sifat yang harus selalu connected, atau berhubungan dengan dunia luar.
Media sosial bisa menyediakannya.Itulah kenapa mereka harus selalu update dan kemana-mana megang gadget.

Bagaimana jika, fenomena ini ditangkap dengan positif di ranah pendidikan.
Bagaimana caranya agar belajar baik di sekolah formal atau non formal bisa sesuai dengan karakter generasi millenials.

Caranya adalah menerapkan teknologi digital dalam pembelajaran yang biasa di sebut e-learning atau digital learning.

Segmen 1: Mengenal Digital Learning

1.       Apa itu digital learning?

eLearning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun komputer standalone. (LearnFrame.com).

Digital Learning System (DLS) merupakan suatu terobosan baru dalam teknologi pembelajaran yang diterapkan bagi para pelajar untuk belajar secara digital melalui pemanfaatan teknologi baik software (perangkat lunak) maupun hardware (perangkat keras), online maupun offline yang dikemas secara menarik dan interaktif (Sugema)

2.       Apa manfaat digital learning?
Penerapan digital learning ini menjadikan pelajar lebih mandiri belajar dan mendalami materi bahan ajar, karena pelajar dapat belajar kapan saja dan di mana saja, baik secara online maupun offline. Dan evaluasi pembelajaran dilakukan oleh guru secara otomatis melalui proses digital, sehingga tidak perlu pengoreksian secara manual melalui kertas. Hasil evaluasi yang diperoleh pun akan lebih cepat, akurat dan objektif. Digital learning juga dapat menyatukan semua kegiatan belajar mengajar yang biasa dilakukan secara konvensional ke dalam bentuk digital. Di dalam DLS ini, dapat mencantumkan beberapa bahan ajar sebagai referensi yang dapat mempermudah pelajar dalam memahami pelajaran seperti: e-book teori, video tutorial, soal latihan, simulasi percobaan, konsultasi, bahkan fitur pencerahan atau motivasi pagi pelajar.

3.       Siapa yang membutuhkan digital learning?
Siapa saja. ABK. Homeschool karena sakit/hal tertentu. Karyawan atau Anak usia sekolah yang harus bekerja. Bisa jadi pengajar yang dengan keadaan tertentu, misal sakit atau bertugas, tetap bisa mengajar.

Ada kisah sukses anak homeschooling yang masih berusia belasan tahun, sekitar SMP, sudah bisa menyelesaikan kursus online di Coursera dan mendapatkan sertifikat, itu sampai 20 mata kuliah. Dan itu anak Indonesia.
Kursus online ini menerapkan digital learning dimana semuanya dilakukan secara digital tanpa kertas sama sekali (paperless). Buku handout berupa ebook digital, soal ujian juga digital, interaksi dengan dosen dari luar negeri pun digital.
Anak ini selain bisa menguasai materi, juga punya skill kemandirian belajar yang begitu tinggi. Dan itu sangat bagus untuk bekal masa depannya.
Belajar mandiri bukan berarti belajar sendirian. Akan tetapi dengan motivasi diri bisa belajar sesuai kebutuhan, juga tau caranya bertanya kepada para ahli atau mencari jawaban ketika tidak bisa menguasai materi.

Siapa mau punya anak atau murid dengan karakter seperti itu?



Segmen 2: Mengapa kita butuh menerapkan digital learning?

1.       Mengapa kita butuh?
Karena sudah menjadi tuntutan jaman. Digital learning memberikan pengalaman belajar baru yang sesuai dengan karakter generasi millenials. Dengan cara ini, kita bisa menarik perhatian mereka. Selain itu digital learning memberikan kesempatan mereka untuk menumbuhkan soft skill yang dibutuhkan di era digital:
a.       Kolaborasi -à fleksibel virtual team
b.      belajar mandiri à belajar karena butuh
c.       luwes berinteraksi secara global dan internasional
d.      menerima perbedaan dengan terbuka
e.      mengendalikan diri à dengan adanya UU ITE dan etika Digital Netizen

2.       Apa yang terjadi jika tidak menerapkan?
Tentu saja tidak akan kiamat. Karena di detik ini, mereka yang hidup dengan cara sangat sederhana juga bisa.

Kalau menurut pengalaman saya berinteraksi dengan mereka yang bertahan untuk gaptek atau menolak teknologi adalah mudah sekali menjadi pengguna saja. Sekaligus mudah keliru karena tidak tahu dan tidak mau tahu.
Kalau kita dan anak-anak terus bertahan hanya menjadi pengguna, maka kita adalah korban bagi mereka yang pinter teknologi. Mereka yang bikin, kita yang beli. Begitu seterusnya.

Jadi, jika kita punya ilmu dan kemampuan sesuai perubahan jaman yang begitu cepat, maka kita bisa punya senjata lebih banyak untuk mengendalikan diri sekaligus mengembangkan diri.



Segmen 3: Kendala selama ini
1. Apa saja kendalanya?
   a. Mindset keluarga (orang tua) bahwa teknologi itu lebih banyak mudharatnya jadi di stop semuanya
   b. Mindset guru bahwa kerja dengan teknologi itu lebih sulit
   c. Siswa belum terbiasa berkomunikasi dengan platform edukatif
   d. belum meratanya akses listrik dan internet di Indonesia

2. Bagaimana cara mengatasi kendala?
   a. edukasi ke orang tua oleh pihak lembaga pendidikan
   b. pembiasaan penggunaan kinerja berbasis teknologi di sekolah dan di kelas
   c. aktif dalam komunitas teknologi pendidikan


Segmen 4: Langkah Menerapkan Digital Learning

1.       Bagaimana tahapan menerapkan digital learning di sekolah?
a.       Punya mindset yang sama dan sepakat akan pentingnya digital learning.
b.      Menganalisa kesiapan sumber daya manusia dan sumber daya internet. Karena akses internet adalah wajib.
c.       Mencari sumber belajar, bisa belajar mandiri, memanggil Trainer / Guest Teacher, ikut Komunitas terkait seperti Google Educator Group, Bincang Edukasi, dll.


2.       Platform atau tools apa yang bisa digunakan?
a.       Ada gratisan dan berbayar
b.      Alhamdulillah nya yang gratisan itu buanyak sekali. Beberapa negara sudah membuat platform digital learning, termasuk Indonesia.
Terutama yang ada unsur LMS (Learning Management System), seperti Edmodo, Course Networking, Schoology,dll. Kalau di Indonesia: ada  Kelase, Kelas Kita, Ge School.

Bahkan Google sendiri juga mengembangkan banyak tools untuk pendidikan. Terangkum di GAFE (Google App For Education). Saya sendiri sudah menggunakan beberapa tools Google untuk pembelajaran ketika masih bersama teman di pasca Unesa, untuk beberapa guru di MTs Wonosalam Jombang. Dan nanti ada satu sekolah lagi di Sidoarjo yang ingin menerapkan hal yang serupa.

Platform yang sering digunakan, terutama di Indonesia adalah Edmodo. Karena relatif mudah dan menarik, bisa dilihat di www.edmodo.com. Di Indonesia sendiri sudah ada Kelase. Bisa dicoba di www.kelase.net.
Khusus Kelase, saya belum berhasil utak-atik karena register masih belum berhasil. Tetapi jika sudah semakin diperbaiki, dan sesuai kebutuhan, saya akan senang sekali menggunakan produk lokal dari bangsa Indonesia sendiri seperti Kelase.

Untuk rekaman suara saya di radio, bisa disimak disini:


Semoga bermanfaat, jika ada yang ingin ditanyakan atau sharing bisa hubungi saya di email:
heni.prasetyorini@gmail.com

[Podcast] Limit Itu Ada Kawan



Simak Podcast, saya berikut ini:


Limit itu ada kawan.⁣

Kita sering dibombardir kalimat motivasi yang membakar jiwa kita tiada tara.⁣

Don’t limit yourself.⁣
There is no limit.⁣

Jangan batasi dirimu.⁣
Tidak ada batasan atas apapun.⁣

Belasan bahkan puluhan tahun saya coba membuktikan hal itu. Saya bisa. Pasti bisa. Kalau mereka bisa, saya juga bisa. Harus bisa. Mau jungkir balik gak karuan, pokoknya harus bisa.⁣

Itulah kenapa bisa dibilang gila juga saya coba hal baru yang susahnya minta ampun. Udah tahu bakal gagal pun tetap saya coba. ⁣

Karena ya itu tadi, membuktikan bahwa no limit, tidak ada batas. Asal tetap kerja keras mencoba.⁣

Tapi, berjalan usia. Sudah masuk 40 tahun something, pola pikir mulai berubah. ⁣

Pengalaman gila mencoba hal baru sudah mencapai klimaksnya. Mulai berpikir logis dan realistis.⁣

Bahwa sebenarnya ada Limit di antara kita. Ada batas. Entah itu batas tugas rumah tangga, kondisi suami, anak atau orang tua. Situasi ekonomi, sosial dan adat budaya. Itu bisa jadi batas. Dan tak mengapa kita terima batas itu dengan lapang dada. Lalu fokus mengoptimalkan hal terbaik apa yang bisa kita lakukan di dalam lingkaran batas tersebut.⁣

Jadi, There is a limit and that’s okay.


Woman is Not a Joke !


“Woman is not a joke, nor are you
Perempuan bukan bahan guyonan, tidak juga kamu.”

Bagi kami - Pegiat Pemberdayaan Pendidikan untuk perempuan, hati kami sangat terluka ketika melihat kalian membagikan foto perempuan tertentu dan menertawakannya.

Apa sih yang ada di pikiranmu?

Kalau yang ada di pikiranku adalah bagaimana perempuan itu bisa lebih pintar sehingga tahu cara berkarya dan bekerja tanpa harus menjual tubuhnya.

Sekali lagi, apa sih yang ada di pikiranmu melakukan itu? menjadikan perempuan sebagai bahan guyonan menghibur hati di grup-grup whatsapp kalian,
padahal istrimu, anakmu, dan bahkan ibumu adalah perempuan.

Apakah perempuan hanyalah guyonan bagimu? ——-

Bagi beberapa orang, mungkin, bahkan sesama perempuan juga, sikap saya ini lebay. Sok sok an. Silahkan saja.
.
Sikap dan prinsip saya ini begitu kuat. Pernah saya hanya masuk satu grup wag alumni kisaran kurang dari 5 menit langsung keluar.
Alasan tak lain dan tak bukan, karena banyak foto perempuan yang dijadikan guyonan di sana.
.
Beberapa teman menganggap saya sombong dan sok. Ada yang sengaja menjapri meminta saya bergabung kembali untuk menjadi “pendakwah” di sana. Tentu langsung saya tolak. Mbelgedes!
Masih banyak cara lain untuk berdakwah. Sampai saat ini saya putus kontak dengan mereka. Yo wis.
.
Pagi ini, mengalami hal sama. Howalah.
Sempat beberapa waktu lalu saya diam saja menghadapi hal-hal semacam itu. Kadang diam-diam left group. Atau bertahan. Atas nama silaturahmi.
.
Tapi lama-lama saya mikir-mikir sendiri.
Atas nama silaturahmi?
Benarkah?
Silaturahmi macam apa?
.
Halah yowislah
Hidup dengan berprinsip, lebih bermartabat untuk saya. Tidak dianggap jadi teman, dll dll, wis sak karepmu. Nek jare wong Suroboyo, “gak duwe konco yo gak popo wis rek. Sepurane ya, aku metu."
.
Peristiwa pagi ini semakin dan semakin menguatkan tekad saya untuk terus ada di Ranah Pegiat Pendidikan untuk Perempuan.
Minimal tak ada lagi adek-adek putri yang harus bekerja secara tidak bener, karena mereka tidak cukup ilmu untuk bekerja dengan benar dan hidup layak.
Sehingga kelak mereka bisa bekerja mandiri dan tidak jadi bahan tertawaan macam ini.
.
Persis dengan prinsip ibu saya,”wong wedok iku nek isok kerjo, karo wong lanang gak bakal digawe sembrono”.
Perempuan itu kalau bisa bekerja tidak akan disepelekan oleh lelaki.
.
Ibu saya benar. Saya yakini itu.
Setelah rentetan tugas dan 🍎academy ini usai, bismillah, saya akan mulai kelas khusus perempuan, Akademi Prasetyorini, di rumah saya sendiri. Mengajarkan tentang Life Skill dan Technology.

Rumah saya di Surabaya Barat. Siapapun kalian yang ingin berpartisipasi, saya terbuka sekali. Jika ada anak perempuan putus sekolah, baik SMP atau SMA, dan bisa datang ke rumah saya, silahkan hubungi saya langsung.

Bismillah. Semoga Gusti Allah maringi kemudahan.

Sungguh saya lelah dan jenuh sekali dengan peristiwa macam pagi ini.