Saat di Apple Developer Academy| UC 2019 Surabaya

Catatan Singkat di Apple Developer Academy | UC

Refleksi Hidup: Semestinya Bisa Secerah Bunga Ini

1 komentar

 Makin berumur makin kusadari, tidak apa-apa jika kamu memilih hal yang berbeda dengan yang diyakini oleh banyak orang, dan kamu sendirian. Setidaknya kamu bisa tersenyum ceria dan bisa secerah bunga kuning ini.

Tadi pagi, ingin melepaskan beban hati dengan menulis banyak tweet, yang tiba-tiba menjadi sebuah utas di twitter. 

Buah dari deep thinking yang kulakukan sejak kemarin. 

Buah lagi dari pertanyaan, "Emang apa sih yang aku cari di hidup ini?", kemarinnya kemarin. 

Kejadian HP jatuh lalu earphone iphone original milikku rusak, putus. Sementara paparan Dipta, muridku yang kutunjuk sebagai Tutor Sebaya di kelas Bootcamp coding, tidak kusimak dan kudengarkan sama sekali. 

Kulihat viewer dari acara IG Live itu hanya 27 orang dari ratusan ribu follower pihak yang mengajakku talkshow secara streaming itu. 

Pertanyaan berulang, sama, membosankan, dan jawabanku yang juga berulang, sama dan membosankan itu seperti menyekat liang tenggorokanku. Enggan sekali rasanya berbicara itu-itu saja. 

Panik ketika earphone itu rusak, setelah 2 tahun lebih aman-aman saja di tanganku. Ini cukup membuatku shock. Kaget. Dan setiap kejadian seperti ini, aku selalu yakin, Allah SWT sedang menegurku. 

Sepele banget earphone seharga 120ribuan aja bikin shock. 

Ya kalau dilihat untung rugi. Percakapan live itu gratisan, tidak dibayar. Karena terburu-buru mengiyakan, aku pun lupa sudah ada jadwal mengajar kelas coding, walaupun ada Tutor Sebaya, namun aku biasanya hadir untuk menyimak dan memberi semangat. Atau mengingatkan tutor jangan bicara terlalu cepat. 

Aku pun tak bisa menyiarkan streaming ke facebook group tertutup, karena suaraku ketika live akan terdengar. 

Aku pun terpaksa berbohong kepada murid-muridku itu, kalau sedang ada tugas briefing dengan pihak penting. Padahal itu sudah selesai barusan. 

Hatiku tak terbiasa dengan hal-hal manipulatif seperti ini. Jadi kejadian HP jatuh dan earphone patah membuatku terpana.

Tuhan, aku salah. Aku bersalah. Mohon maafkan aku. Aku segera akan memperbaikinya. 

Saat itu juga aku ingat kembali dengan cerita dari Dee Lestari, saat launching novel barunya berjudul Inteligensia Embun Pagi. 

Yang kuingat adalah ucapannya bahwa ketika novelnya resmi diumumkan telah terbit, dia sudah menyiapkan template email penolakan menjadi narasumber di berbagai talkshow dan seminar. Juga menolak menjadi instruktur pelatihan menulis. 

Saat itu kupikir, kenapa ya, kan bisa promosi. Kan bisa dapat duit lain lagi. Lumayan kan. Saat itu yang kuasumsikan adalah, ya iyalah Dee udah banyak duitnya, menolak ajakan ini itu ya wajar, itu recehan aja. 

Waktu berlalu, semakin kurasakan bahwa Dee bersikap begitu pasti ada alasan lainnya. Dan itu sedikit banyak kualami sendiri. 


Aku sedang ada di titik, lelah sekali menjadi narasumber untuk topik yang sama. Pertanyaan berulang. Dan aku harus menjawab lagi hal yang sama. Sudah mentok banget. Walau aku tak tega mengatakan, sudah muak. Tidak berani. Mungkin kelak aku butuh promosi lagi, aku belum sehebat dan sekaya Dee, bukan?

Jalan tengahnya sepertinya, aku harus mengatur jadwalku dengan baik. Aku masih butuh dipromosikan sukarela oleh mereka yang mengundangku tanpa bayaran. Atau aku lebih baik me-monetize sekalian urusan ini, sehingga bisa resmi jadi bentuk pekerjaan. 

Hal ini terus bergantian muncul di benakku dan kepalaku. Menimbang ini itu. Untung rugi. Duit dan bukan duit. 

Sampai akhirnya bertanya dengan kalimat terdalam yang suka dikatakan oleh almarhum bapak padaku dan anak-anak lainnya. 

"Karepmu opo? Opo sing mbok goleki?"

Yang artinya, "Keinginanmu apa? Apa yang sebenarnya kau cari (dalam hidup) ini?"

 

Semakin lama, semakin terngiang suara bapak di telingaku dan mata batinku. 

Setelah sholat, aku pun bisa meluangkan waktu lebih lama untuk duduk, memikirkan jawaban atas pertanyaan itu. 

"Untuk apa semua ini?"

"Yang sudah kudapatkan ini, apakah belum cukup?"

"Apa benar undangan itu karena mereka membutuhkanmu, atau sekadar konten memenuhi rencana program bisnis mereka? komunitas mereka? keuntungan mereka?"

 

Tentu saja, aku sangat ahli menciptakan aneka jenis pertanyaan seperti ini. 

Dan aku yakin, muara jawabannya akan kupilih di bagian mana aku bisa lebih dekat dengan Sang Ilahi. 

Di masa pandemi ini, di mana berita orang meninggal seperti lalu lalang biasa saja berita harga cabe hari ini. Di mana tiba-tiba istri kehilangan suami, anak kehilangan bapak. 

Tentu saja, aku harus pakai akal sehat juga untuk tetap bisa membangun pertahanan diri ke depan. Jalan karir sudah kurintis dengan susah payah. Dan itu juga jadi jalan rejeki dan nafkah untuk keluarga. 

Walau keimanan atas Qadha dan Qadar harus kuyakini sepenuh hati, aku pun yakin bersiap menjadi istri dan ibu yang mandiri finansial, juga kebaikan yang bisa kupersembahkan kepada Tuhanku nanti. 

Selama masih diparingi hidup, badan sehat, pikiran sehat, aku harus bertahan untuk tetap waras dan bekerja dengan baik. Minimal tidak menyisakan kesusahan pada anak-anakku nanti. 

Gusti Allah SWT Mugi paringi ridho barokah. Amiin. 

Credit gambar dari https://unsplash.com/photos/5yDDiMcbnHM

Resep Asem-Asem Bandeng Mudah dan Murah

Tidak ada komentar



Bandeng ini musuh besar saya dulu. Sampai akhirnya punya suami dari daerah pertambakan yang dari bayi udah makan ikan. Dan seringnya ikan bandeng. Dia dan keluarganya tidak risau sama sekali dengan duri kecil-kecil yang saya takuti dulu. 

Lama-lama saya ikutan juga suka makan ikan bandeng. Dan sudah piawai mengatasi duri-durinya. Berikut resep Asem-Asem Bandeng yang mudah banget bikinnya dan pasti seger jadi favorit keluarga anda. 


ASEM-ASEM BANDENG


Asem-Asem Bandeng


BAHAN:

Seekor ikan bandeng segar, bersihkan, tidak perlu dihilangkan sisiknya.
Cuci dengan bersih banget, pastikan tidak ada empedu pahit yang tertinggal saat membuang isi perut ikan. 

Irisan bawang putih dan bawang merah, sesuai selera

Irisan daun bawang

Satu ruas jari lengkuas, digeprek

Dua lembar daun jeruk nipis

Beberapa butir cabe rawit, sesuai selera. 

Asam mentah, secukupnya. 

Garam dan penyedap rasa.


CARA MEMASAK:

1. Didihkan air di panci, masukkan asam mentah. Sampai mendidih. 
2. Masukkan potongan ikan bandeng
3. Masukkan bumbu iris-iris itu semua.
4. Ambil asam mentah yang sudah empuk dan mulai mengelupas, masukkan ke saringan, gecek-gecek dengan sendok, dan masukkan ke air dalam panci. Saring untuk membuat asam atau kecutnya bisa masuk ke air yang mendidih tadi. Ini untuk mengambil sari rasa kecut dari asam mentah. Lalu buang ampasnya. 
5. Berikan garam dan penyedap rasa jika mau. Tambah gula jika suka, nggak juga gpp. 
6. Incipi dulu
7. Tunggu sampai mendidih dan ikan bandeng sudah pasti matang. Dan setelah rasa sudah oke, matikan kompor dan hidangan siap disajikan. 

Karena namanya Asem-Asem Bandeng, maka rasanya sebaiknya rada kecut, asin dan segar. Tidak perlu terlalu manis. Karena berbeda dengan Sayur Asem ala Jawa, biasanya manis. 

Jika suka tambahkan rempah-rempah lainnya seperti irisan jahe dan batang sereh. Jika tidak ada, resep di atas sudah cukup bikin sedap. 

Sajikan dengan tempe goreng krispi atau krupuk blek. Paling enak dimakan setelah badan meriang dan males makan tuh. Hidangan ini bikin segar dan tidak eneg. 

Selamat mencoba. 


 Credit gambar pertama dari unsplash.com

Inspirasi Untuk Ibu Rumah Tangga Digital: Membangun Passive Income

Tidak ada komentar

Passive Income atau pendapatan pasif ini yang kumaksudkan adalah mendapatkan pemasukan berupa uang, dari jasa dan produk digital, yang sekali saja bikinnya dan bisa menghasilkan berulang-ulang.

Berbeda dengan membuka kelas online di KELASKU DIGITAL, yang aku harus mengajar setiap kali ada sesi kelas. Ini bukan disebut passive income. Melainkan active income. Sepertinya begitu. 


Ada beberapa sumber penghasilan yang kuharapkan bisa mendatangkan Passive Income ini, yaitu:

  1. Membuat online course di Udemy.com
  2. Memasang Google Ads di beberapa blog
  3. Ikut afiliasi
  4. Monitize Channel YouTube
  5. Podcast di Anchor dan Spotify

Untuk poin ke-4, entahlah susah amat. Subscriber channel pribadiku dan Kelasku Digital, masih berputar dari 100-200 orang saja, susah banget nambahnya. Dan aku tak pandai juga membuat konten video secara rutin. 

Termasuk poin kelima, dengan kendala mood juga perangkat rekaman yang kurang bagus. Jadi podcast resmiku masih isi beberapa aja.

Yang paling mudah kulakukan adalah menulis di blog, ini bisa spontan. Dan karena terbiasa membuat konten job review, maka menulis postingan untuk afiliasi juga bisa cepat daripada merekam suara dan membuat video. 

Untuk membuat kursus online atau e-course di Udemy, ini adalah niat terkuat untuk mencoba platform yang bagiku dulu sangatlah sulit ditembus. Berbekal OBS dan mic punya anak sulung, seadanya, serta membeli ring light biar wajahku kelihatan cerah, jadilah satu kursus gratis dan satu kursus berbayar. Alhamdulillah dapat juga sampai 30 dollar. Walau untuk dicairkan ke rekening rupiah, minimal kudu 50 dollar.

 
penghasilan dari Affiliasi Shopee

penghasilan dari Google Ads

penghasilan dari Udemy

Ketiga hal ini baru aku lakukan selama pandemi. Itungannya belum berjalan satu tahun. Apalagi google ads itu sering kuotak-atik, kupasang kulepas di blog, begitu aja terus. Karena merasa nggak akan menghasilkan. 

Hampir sebulan lebih, baru dapat 50ribu, dan ga naik-naik juga. Ternyata hari ini diperiksa, sudah berubah jadi 80ribu. Artinya ini ada pergerakan dan bisa jadi passive income. 

Untuk affiliasi SHopee, aku iseng aja mendaftar dan diterima. Padahal follower di tiktok dikit banget, di instagram cuma 2ribuan, kalau di facebook sih full teman ada 5ribu dan facebook page Jilbab Orin ada seribu lebih. Mungkin ini menyebabkan aku lolos ya, ada blog juga. 

Penghasilan dari affiliasi Shopee, sekitar 13 ribu kalau ga salah. Dan ternyata ditransferkan juga walau seuprit itu ke rekening bank. Wah mantap dah. 

Google ads di blog, entahlah. Kadang ga enak hati, karena aku sendiri sebel banget buka blog tapi ada iklannya. Namun kadang merasa penasaran juga, kan enak juga udah nulis susah-susah, ada penghasilan tanpa perlu "mengajar tiap hari" gitu. Jadi kupasang lagi. 

Apapun hasilnya yang menarik adalah aku telah mengalami sendiri prosesnya. 

Terutama untuk kelas online di Udemy, sedikit lagi aku persiapan memperbaiki perangkat rekaman dan tempat menyimpan video hasil rekaman itu. Mungkin beli harddisk external yang ukuran muat 2 Terabyte. Macbookku ini udah penuh banget. Record desktop aja ditolak melulu. Ga bisa simpan file baru lagi. Dan satu per satu aku posting videonya secara unlisted di YouTube, karena sayang banget kalau dihapus. 

Kelasku di Udemy bisa diakses di https://www.udemy.com/user/heni-14/

Pandemi bikin bosen, tapi juga bikin ada effort lebih gimana caranya bekerja dengan baik, dari rumah dengan modal internet. 

Jika pandemi usai, enak juga kan bisa jadi Digital Nomad sesekali, dengan semua sudah ada jalur penghasilan. Tinggal promosi sana-sini. 

Gitulah, kamu jangan putus asa juga kerja di masa pandemi Corona. Asal niat kuat, cari tahu jalannya dan mulailah mencoba. Lama-lama pasti bisa juga. 


Gambar credit: unsplash.com

Diterima di FFBS Cohort 2 2021: Future Females Business School Programme

Tidak ada komentar




Belajar lagi di usia 42.

Kali ini, saya jadi murid lagi. 

Udah...Bukan untuk belajar coding lagi 🙂.

Tetapi sekarang belajar bisnis. 

Alhamdulillah. Sungguh. Merasa beruntung sekali bisa ikut (lagi) ke program yang tak membatasi usia pendaftaran.

Ketika persiapan wawancara tempo hari, masih deg-deg’an juga. Yakin ga yakin diterima. 

Namun, Allah SWT Maha Baik,  yang mengatur semua ini. 

Tepat ketika saya yakin sudah saatnya menjadi hustler, dan sepakat dengan suami dan anak-anak yang udah bujang semua untuk lebih serius berbisnis, program ini dibuka.

Saya mengalami sendiri kalau berbisnis itu sulit. Tidak mungkin saya bisa. 

Kalaupun ngotot, bakal biasa saja. Karena  saya bukan orang yang lincah bisa pergi ke sana ke mari. Mustahil berhasil. 

Saya adalah ibu rumah tangga yang hampir 100% ada di dalam rumah.

Apalagi di masa pandemi. Keluar hanya untuk belanja sembako atau ke tukang sayur pun tidak setiap hari. Bahkan ke luar pagar rumah saja jarang. 

Tak ada kata kopdar, hangout, piknik, cangkrukan atau apalah-apalah. Sejak kecil pun saya adalah kutu buku yang lebih suka diam di rumah untuk membaca, menulis dan belajar. Tidak suka main. Tidak punya banyak teman. Begitulah sampai dewasa juga tak banyak berubah. 

Mustahil tipe ibu-ibu dengan gaya hidup rumahan seperti saya ini bisa berhasil berbisnis. 

Tapi,  rupanya Gusti Allah SWT belum mengijinkan saya berhenti walau sulit. 

Ada saja kejadian tak terduga,  yang membuat saya harus punya tanggung jawab yang lebih besar atas keputusan yang kami buat untuk keluarga. Serius berbisnis. 

Mungkin anda mengalami hal yang sama.

Dan, percayalah, program seperti FFBS inilah yang bisa menyelamatkan kita dari rasa putus asa atau menyerah.

Entah itu bisnis atau berkarya apa saja, pasti ada aja kendalanya.

Kesulitan tidak hanya bisa melemahkan tapi kadang benar-benar membuat orang merasa gagal dan layak untuk berhenti. 

“Terus belajar dan kemudian mengajar”

Itulah kunci hidup yang semakin kuat saya pegang.

Semoga lancar menjalani program Future Females Business School ini bersama teman seangkatan. Sampai tuntas & langsung praktek ilmunya.

Info lengkap bisa baca di sini https://futurefemales.co/ff-business-school/

Thank You @ukindonesiatechhub @futurefemales  #ffbsukindonesiatechhub

Hasil Tes Karakter di viacharacter.org

Tidak ada komentar

Dalam rangka ikut program Future Females, acara awalnya adalah mengenali diri sendiri. Termasuk ikut tes karakter ini. Dan inilah hasilnya

 











Untuk hasil di https://www.16personalities.com/




Hasilnya untuk Archetypes,
 di https://www.archetypes.com/quiz/






Nikah Dulu Baru S2

Tidak ada komentar

 Judulnya bukan untuk memprovokasi kalian untuk menikah muda. Nanti jadi korban Pernikahan Dini, bahaya. Halah. Yang tahu judul sinetron yang dimainkan Agnes Monica dan Syahrul Gunawan ini, fix, kita seumuran. 

Judulnya adalah cerita hidup saya. Yang nggak hebat-hebat amat, jadi ditulis bukan untuk ditiru atau dijadikan target hidup. Apalagi masuk dalam Vision Board kalian di rumah. Jangan. 

Ini adalah berbagi cerita, bahwa yang namanya Menikah Itu, memang beneran nggak mudah. Baik itu untuk perempuan Sarjana, Lulusan SMA, tidak sempat sekolah atau tidak boleh ikut ujian SD seperti ibu saya. 

Baiklah, mari kita lanjutkan ceritanya. 

saya dan suami di usia 20 tahun pernikahan

Begini, sebenarnya rada enggan ngobrolin tentang rumah tangga dan cinta-cintaan di media sosial atau di blog. Bukannya apa, takut menyinggung perasaan kalian yang berbeda cerita. 

Tapi sepertinya udah di usia 42 tahun ini, ya saatnya mendongeng alias berbagi cerita. Siapa tahu ada yang mengena di hati kalian dan bisa nambah wawasan untuk berpikir jernih sebelum mengambil keputusan untuk menikah. 


NIKAH DULU BARU S2

Iya benar. Tiga bulan sebelum Sidang Sarjana di Kimia ITB, saya menikah. Lalu mengerjakan Skripsi, sidang, baru lulus kuliah. 

Singkat cerita, setelah lulus Sarjana di Bandung, saya dan suami memutuskan kembali ke kota kelahiran saya di Surabaya. Hampir selama 12 tahun saya menjadi Ibu Rumah Tangga, yang melanjutkan kuliah S2 dengan biaya sendiri, alias didanai oleh gaji dan tabungan suami. Saya, sama sekali tidak berpenghasilan pada saat itu. 

Kok keren mbak Hen?

Kelihatannya iya. Tapi bener-bener itu adalah sejarah yang berdarah-darah. 


Menjadi Ibu Rumah Tangga setelah lulus Sarjana, sama sekali bukan impian saya bahkan bukan target hidup saya. Saat itu seharusnya saya menjadi PENELITI BIOKIMIA MEDIS di LIPI Bandung. Tepatnya di Laboratorium Bio Molekuler, tempat saya menyelesaikan Tugas Akhir, membantu ibu Zalinar Udin, Kepala Balai Laboratorium itu, yang kebetulan satu grup dengan saya, satu Dosen Pembimbing, almarhum bapak Agus Noer. 

Tugas akhir saya membantu penelitian Disertasi bu Zalinar yang sedang mengambil S3. Judul Skripsi saya adalah penelitian tentang Interaksi DNA Bakteri Salmonella Typhi dengan Ekstrak Tanaman Obat Gardenia Tubifera WALL

Wuhuu, saya masih hafal judul skripsi ini di luar kepala.

Hebat?

Bukan itu. Tapi menjadi dosen atau peneliti memang target saya selama kuliah. Bahkan ketika masih SMP dan SMA, atau masih muda, saya sudah "didoktrin" oleh ibu saya untuk kelak menjadi WANITA KARIR dan jangan sampai seperti ibu saya, yang (hanya) menjadi ibu rumah tangga. 

Kebayang apa yang terjadi, ketika strategi pasca menikah saya meleset. Yang harusnya, berdua dengan suami berkarir di Bandung, sama-sama menjadi pegawai BUMN. Lalu melepaskan semuanya dan kembali ke titik nol lagi di Surabaya. 

Suami saya dulu bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nasional) yang dibangun oleh bapak B.J. Habibie. Kelak berubah nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia. 

Dengan dua posisi karir yang sama-sama keren dan matang ini, kami berdua berani melangkah untuk menikah bahkan sebelum saya lulus Sarjana. 


BULAN MADU = NGERJAKAN SKRIPSI

Menikah dengan hal yang manis-manis dan unyu-unyu itu, serius nih, hanya ada di media sosial. Atau di cerita-cerita buku roman. 

Mungkin bisa begitu, kalau pernikahan sudah dalam kondisi ekonomi mapan, berkecukupan bahkan berlebihan. 

Sementara kami, nekad menikah dalam kondisi MINUS alias di bawah titik nol. 

Setelah menikah, kami tak punya tabungan sama sekali. Sepertinya hanya beberapa ratus ribu rupiah saja. Dan itu harus dibagi dengan ongkos naik kereta api kembali ke Bandung, segera, karena saya harus menyelesaikan Seminar Tugas Akhir, lalu skripsi dan sidang. 

Sejenak saja menggelar resepsi pernikahan yang biayanya hasil patungan dari keluarga besar. Lalu beberapa hari saja menginap di rumah orang tua suami. Tidak sampai sepasar atau seminggu kemudian, kami sudah harus kembali ke Bandung. Karena jadwal Seminar Tugas Akhir saya sudah keluar. 

Tanpa pikir panjang untuk bersenang-senang dan bahkan mengecewakan keluarga besar karena tidak sempat banyak menemui tamu dah saudara, kami hanya berkomitmen untuk menyelesaikan kuliah secepat mungkin. Dan tidak menundanya karena akan berdampak pada biaya.


KAMAR KOS PENUH TIKUS

Tidak begitu kaget juga ketika sepasang pengantin baru ini masuk ke kamar kos yang diobrak-abrik tikus di dalam kamar. Yang namanya Mesin Ketik manual saya, habis sudah dengan air kencing dan kotoran tikus yang kecil-kecil. Buku-buku, modul kuliah dan isi rak buku yang terbuka, kena juga jadi tempat pesta pora mereka, si Mickey Mouse, begitu saya menyebut para tikus berkuping bulat, berbadan kecil dan ke sana ke mari suka berjalan sambil membuang kotorannya itu. 

Tanpa ada amarah, tangis, sesal atau jengkel, kami meletakkan tas ransel dan barang bawaan di lantai kamar kos. Lalu gerak cepat membersihkan ini itu. Kemudian mandi dan beristirahat. 

Bersih-bersihnya tidak mudah ya, karena kamar mandi dan akses air bersih hanya ada di lantai bawah ibu kos. Kami ada di kamar atas, lantai kayu sementara yang dirombak menjadi kamar semi permanen dan kemudian disewakan sebagai tempat kos. Sebuah tempat yang kurang layak sebenarnya, namun itulah yang cukup untuk kantong kami berdua. 

Tinggal sekitar beberapa bulan di situ, sampai akhirnya kami putuskan mencari tempat kos yang lebih bersih dan di lantai satu saja, sehingga tidak repot kalau harus ke kamar mandi. Syukurlah akhirnya nemu pas di belakang gedung LIPI Bandung. Jadi saya kalau harus ke laboratorium, lebih dekat. Walaupun sama juga hanya perlu jalan kaki saja seperti di tempat kos sebelumnya. 

Ketika saya di Bandung, suami saya harusnya masih kuliah lagi di ITS (Surabaya), namun tinggal menyelesaikan skripsi. Ya suami saya lulusan D3 Teknik Mesin ITS, lalu kerja di IPTN atau PT. DI yang mengambil cuti belajar untuk kuliah lagi melanjutkan ke jenjang S1. 

Sebenarnya, semuanya akan sempurna, jika itungan kami berdua tepat. 

Seharusnya jika sesuai jadwal, kami berdua akan lulus barengan jadi Sarjana. Beneran barengan. 

Akan tetapi, nasib berkata lain, tugas akhir suami saya rumit. Mungkin topiknya yang dikaitkan dengan industri pesawat terbang tempatnya bekerja ya, jadi untuk menemukan software yang pas aja butuh perjuangan. Apalagi kami berdua hanya punya satu unit laptop Celeron, yang sering ngadat ketika suami butuh mengerjakannya untuk skripsi. 

Jangan ditanya bagaimana kondisi pengantin baru yang sama-sama didera skripsi ini. 

Asyik-asyik saja?

Tentu tidak. 

Tegang. Kepikiran terus. Harus berhemat sangat, karena gaji suami kan jadi setengah doang karena cuti belajar. Kebayang kan, setengah gaji untuk biaya hidup sehari-hari, bayar SPP kuliah berdua, bayar kos, transportasi naik angkot sampai 6 kali pulang pergi. Berat banget. 

Dan, kami sama sekali tidak menelepon orang tua atau mertua dan menangis-nangis minta pertolongan. Semua kami ambil sebagai tanggung jawab yang harus dipikul oleh kedua pundak kami sendiri. 

Ketika saya sudah yakin akan bekerja menjadi PENELITI sesuai impian dan target selama kuliah, lalu tiba-tiba saya terlambat datang bulan dan positif hamil, maka melepaskan impian itu dan sepakat kembali ke Surabaya adalah bentuk tanggung jawab saya sebagai perempuan yang memutuskan untuk menikah. 


MENIKAH ADALAH PERKARA TANGGUNG JAWAB

Dan, ketika saya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja selama belasan tahun, itu juga bentuk tanggung jawab.

Mungkin saja, kalian tidak mengalami hal yang sama dan masih bisa melakukan ini itu, bekerja, mencari penghasilan, bisnis dan lain sebagainya selama awal pernikahan. Namun, saya, tidak. 

Kondisi dan situasi saya, anak-anak dan suami yang masih merintis karir, membuat saya berpikir untuk mengalah lebih dulu. Menerima semua keterbatasan keuangan, aktivitas dan meredam ambisi pribadi, semata untuk membuat kondisi RUMAH TANGGA STABIL dulu. 

Baru ketika semua sudah kuat. Anak-anak sehat dan kuat dan mandiri. Suami sudah punya pekerjaan tetap yang bagus dengan posisi yang sangat kompeten di bidangnya. Barulah saya beranjak untuk kembali berkiprah. 

Bayangkan keputusan yang saya ambil ini membutuhkan waktu belasan tahun. Bukan sulap. Dan tidak instan sama sekali. 

Berusaha menahan diri atas nama tanggung jawab mengurus anak-anak, suami dan rumah tangga. Tanpa sama sekali merepotkan kedua belah orang tua. Adalah SENJATA UTAMA untuk laki-laki dan perempuan yang memutuskan untuk menikah. 

Tentu saja sangat tidak enak lebih banyak daripada enaknya. 

Konflik pun mudah terpicu. Karena saya dan suami sama-sama capek lahir batin. Sama-sama berusaha di sisi masing-masing. Dia bekerja sebagai Kepala Keluarga, walau harus lembur tiap hari bahkan sakit Typhus ketika anak-anak masih bayi. Saya pun harus menggedor pintu tetangga ketika tengah malam, meminta bantuan diantarkan ke rumah sakit. Karena saya ada bayi dan anak balita, tentu tidak bisa meninggalkan mereka berdua di rumah untuk membonceng suami saya ke dokter, kan?

Capek. Harus berhemat. Jarang piknik, karena harus berhemat pula. Menyimpan dalam-dalam semua kesusahan dari orang tua. Walau tak jarang, jadinya saudara dan orang tua menganggap kita sebagai orang yang pelit, tak peduli dan anti sosial, karena menarik diri dari beberapa hal dan kegiatan, serta tak mampu menceritakan kondisi keuangan yang sangat ketat dan harus super ngirit. 

Tak mudah menjalani ini semua. Bahkan ketika melanjutkan S2 juga entah komentar muncul dari kanan, kiri, atas dan bawah, masih terus saja ada. 

Kalau dipikir-pikir sekarang, kenapa saya dulu seberani itu melepaskan pekerjaan sebagai Peneliti. Padahal kuliah berdarah-darah selama 4 tahun demi menggapainya. 

Kenapa juga saya sukarela menjadi ibu rumah tangga saja, padahal bisa saja merepotkan orang tua, meminta bantuan ini itu supaya karir saya tetap jalan dan meningkat. 

Kenapa juga saya mau susah payah kuliah lagi S2, padahal pekerjaan suami sudah aman dan saya bisa duduk tenang menerima nafkahnya?

Ini semua adalah perkara TANGGUNG JAWAB. 

Saya menjadi ibu rumah tangga, karena merasa bahwa anak-anak yang saya lahirkan adalah tanggung jawab saya, bukan tugas kakek-neneknya. 

Bahwa saya kuliah lagi S2, itu adalah juga cara membuka pintu untuk kembali mengamalkan ilmu dan kemampuan diri, sebagai bentuk tanggung jawab saya diberikan titipan bakat sebagai pembelajar yang suka belajar dan mengajar. 

Nikah dulu baru S2. 

S2 dulu baru nikah. 

Menikah atau tidak menikah. Yang penting harus berani bertanggung jawab.