Februari: Bulan Buku dan Cinta

Tidak ada komentar
sebagian buku yang saya beli di awal bulan Februari

Niat awal menulis ini dan merekam suara secara bersamaan, menceritakan hal yang sama. Ternyata sulit bareng mengetik di keyboard sambil bicara di depan mic. Jadinya ngetiknya berhenti, lalu melanjutkan rekaman suara podcast dan diposting di anchor.fm. Podcast itu bisa didengarkan di sini ya, sambil membaca ini. Monggo...

https://anchor.fm/henipr/episodes/Bulan-Buku-dan-Cinta-eptfa2


Bulan ini adalah bulan saya umbar-umbaran membeli buku di awal bulan. Alhamdulillah dengan penghasilan saya sendiri, maksudnya tidak minta suami dan tidak memakai jatah uang bulanan keluarga.

Saya tulis sekalian judul buku yang saya beli.

  1. Buku bekas dari instagram @bukuanakjakarta. Paket bundling 8 buku Pustaka Pengetahuan Modern. Judulnya: Pantai Laut, Dunia Tumbuhan, Burung, Dunia Binatang, Kapal Laut, Tubuh Manusia, Batuan dan Mineral, Pesawat Terbang. Total 250 ribu.
  2. Buku Tasaro GK beli lewat whatsApp istrinya. Beli dua buku berjudul Al Masih dan Belahan Jiwa. Total 204ribu. Beli langsung dari istrinya ini karena pengen dapat kalimat mutiara dan tanda tangan pak Tasaro GK.
  3. Beli lagi bukunya pak Tasaro GK di Mizanstore.com karena takut kehabisan bukunya. Setelah sekilas baca buku berjudul Muhammad di ipusnas (ebook). Total malah dapat 6 buku, berjudul: Patah Hati di Tanah Suci, Muhammad 1: Lelaki Penggenggam Hujan, Muhammad 2: Generasi Penggema Hujan, SERI MAM: Rahasia Bulan (buku anak), Sembilu: Pengembaraan Rasa, Keajaiban Rezeki. Total 385.500,-
  4. Bukunya A. Fuadi, paket novel: Anak Rantau, Ranah 3 Warna, Rantau Muara. beli di tokopedia toko Revanda Book Collection, Bekasi. Sekaligus saya ikut Mini Workshop dari A. Fuadi langsung seharga 100ribu, yang akan diadakan tanggal 14 Februari 2021 menggunakan zoom.
  5. Buku 77 Permasalahan Anak dan Cara Mengatasinya, Ana Widyastuti, seharga Rp 135.000,-. Ini setelah bu Ana membagikan link video ulasan tentang Cara Mengatasi Anak Kecanduan Gadget di lama facebook pribadinya. Saya mengajukan pertemanan ke beliau ketika di mention oleh teman saya, Yeti ketika membagikan Workshop Menulis Buku Aktivitas Anak yang saya ikuti juga nanti tanggal 16, 17, 18 Februari 2021 melalu grup whatsapp, seharga Rp 100.000,-
  6. Preorder buku Rapi Jali karya Dee Lestari, beli di tokopedia Mizanstore, seharga 108.000,- . Ikutan karena lagi viral di Storial. Tapi saya milih beli buku cetaknya aja, ga beli koin untuk baca ebooknya di storial. Dan setelah lihat di instagram @deelestari bahwa buku ini udah dikonsep sejak 25 tahun yang lalu. Kan keren banget tuh.
  7. Preorder buku Sesaudara dalam Iman Sesaudara dalam Kemanusiaan, seharga 25.000. Termasuk promo Nyah Nyoh dari pak Yai Edi AH Iyubenu yang saya kenal dan follow di twitter. Baru tertarik beli buku beliau karena kemarin membaca dan mengunduh tulisan beliau tentang Wasiat Nabi yang di PIN di twitter beliau. Suka cara menulisnya sederhana.
  8. Buku novel anak tulisan mbak Achi TM, lupa judulnya, harganya total 117ribu.
  9. Tambahan 2 buku Muhammad karya Tasaro GK, totalnya sekitar 200ribu.


Nah total berapa rupiah ya ini. Coba saya hitung dulu.

Jadi totalnya sekitar 1,5 juta rupiah lengkap untuk buku dan 2 workshop menulis buku.

Ini gilaa tapi saya bahagia

Ini sebuah kegilaan, ketika berhari-hari bingung mau beli apa ya untuk hari istimewa kelahiran saya ini di bulan Februari. Apa beli oven listrik, set panci bagus atau alat olahraga sepeda statis yang murah meriah. Dan itu berat semuanya, mau beli batal melulu. Mikir melulu. Takutnya ga berguna amat. Sayang. Tapi pengen. Apa butuh? gitu aja mikirnya.

Eh tiba-tiba keluar begitu saja, transfer sana-sini untuk beli buku.

Nah, perasaan saya begitu lega dan plong dan yakin. Tidak menyesal dan mikir ulang seperti sebelumnya. Ini saya lakukan dengan yakin sekali.

Dan sengaja tidak cerita ke anak dan suami. Karena mereka semua bukan pembaca buku dan pecinta buku. Jadi bakal komentar aneh-aneh hahaha.

Dapat Puluhan Juta di Masa Pandemi Corona

Tidak ada komentar

Loh kok bisa?

Saya aja juga gak menyangka, tak mengira. 

Kemarin merekap dan menghitung ulang penghasilan saya selama bekerja dari rumah, full kerja online sejak pandemi, Maret 2020. Total semuanya lebih dari 20 juta. 

Hitungan kasarnya seperti ini,

Sejak April 2020, saya membuka kelas online belajar coding untuk anak. Sampai Desember 2020 kemarin. Total semua murid saya adalah sekitar 100 anak. Ambil biaya kelas rata-rata 200ribu/anak. Maka penghasilan saya dari kelas online adalah 20 juta. 

Selain itu, saya juga dapat pekerjaan part time remote work, sebagai Blog editor dan manajer konten writer, dengan gaji 1 juta per bulan. Dihitung sama saja dari bulan April - Desember 2020, yaitu 9 bulan. Maka total gaji part timer adalah 9 juta. 

Penghasilan saya di masa pandemi adalah 29 juta rupiah. Saya peroleh selama 9 bulan. Ini hitungan kasar atau kisaran. Hitungan sebenarnya bisa lebih dari itu karena sesekali saya juga "dibayar" karena membuat konten video edukasi dan mengisi seminar online. 

Sebagai gambaran hitungan pendapatan saya untuk kelas online, adalah:

  1. saya mengajar mulai 1 kelas per hari, menjadi 2 kelas perhari, meningkat menjadi sampai 4 kelas per hari. Terhitung kelas kelompok dan kelas privat. 
  2. Untuk kerja jadi blog editor, total saya hanya bekerja sekitar 20 -25 jam sebulan. Jadi sekitar cuma 1-2 jam sehari. Dan mengerjakan ini tidak saya lakukan setiap hari. Melainkan sekitar seminggu 2-3 kali. Karena lebih enak jika mengedit tulisan para content writer itu sekalian. Jadi sekali ngedit bisa 10-20 artikel @1000 kata. 

Saya membuka kelas online coding untuk anak itu, sebenarnya rada ragu di awal. 

Karena cemas anak-anak belum bisa ngeh cara belajar secara online.

Eh ndilalah, ada pandemi. Dan sekolah mulai mewajibkan kelas online atau kelas daring. Jadi baik anak-anak maupun orang tuanya, semakin biasa-biasa saja dengan belajar online tersebut. 

Rejekinya lagi. Tema CODING UNTUK ANAK tiba-tiba melejit dan trendi karena mas Menteri Nadiem Makarim mulai menggaungkan Pentingnya Anak Belajar Coding sejak usia dini atau usia sekolah. 

Saya mengenal konsep Coding untuk Anak sejak 2018, sebagai koordinator kelas coding anak secara offline. Ini beberapa foto-fotonya:

satu-satunya peserta perempuan dari 40 anak lainnya

pojok kanan belakang itu anak kedua saya, depannya keponakan saya
anak saya bete banget diajak belajar coding, selain ga tertarik, juga malu dengan laptop warna pink emaknya hahahaha

waktu itu belajar KODU GAME LAB, tapi ini kurang fleksibel untuk berkreasi dan harus donlot. Jadi tidak saya pilih untuk kelas-kelas sekarang

anak dan keponakan saya yang sama-sama nggak tertarik coding, jadinya mondar-mandir melulu cari makanan lah, ke toilet lah. Ohya ini ada di Rumah Kreatif BUMN Mandiri Surabaya

foto bareng anak-anak, ini angkatan 1 kelas coding kids Surabaya yang offline. Setelah angkatan 2, kelasnya berhenti karena berbagai sebab. Baik itu dari sewa ruangan yang ganti aturan menolak kelas ini. Sibuknya para pengajar. Susahnya cari ruangan untuk disewa yang ramah anak, dll.

Dan mulai riset tentang hal itu. Baru tahun 2020 berani membuka kelas online sendiri. Sebagai pengajar. Tidak hanya sebagai koordinator kegiatan. 

Saya mengenal coding sejak 2016, sampai sekarang. Mulai dari materi membuat website dengan HTML dan CSS. Lanjut diterima di Apple Developer Academy| UC Surabaya 2019 dan kenal dengan Swift Programming dan Ios Apps Development. Lalu otodidak mempelajari tentang Coding Kids and how to teach it sejak 2018. Kemudian memilih menekuni ini sampai sekarang. 

Saya bukan Sarjana Informatika atau programmer. Mengenal coding dari beberapa kegiatan saja dan selebihnya otodidak. Merasakan betul kalau belajar coding itu tampak mengerikan dan sulit banget, karena baru kenal di usia udah menjelang 40-an. Udah tua. 

Kebayang  bagaimana jika sejak anak-anak sudah pada kenal coding dan kosa kata tentang hal ini?

Pasti mereka akan jauh lebih santai untuk mempelajari coding lebih lanjut.

Itulah alasannya akhirnya saya pilih tetap di jalur coding, edukasi dan memilih kelas coding untuk anak. Saya juga suka sih, karena lucu bikin coding kids class itu. Materinya lucu dan warna-warni. Anak-anak juga lucu. Memberikan semangat baru. 


Kembali ke Penghasilan Terbesar di masa pandemi. 

Saya percaya ini semua hasil "tabungan keringat" saya bertahun-tahun sebelumnya. Dan bisa "boom" muncul momentumnya di masa pandemi. 

Ketika orang lain kelabakan gabut dan cuma rebahan di rumah saja. Saya malah gas pol tanpa pikir panjang langsung menyiapkan kelas belajar baru. Sebenarnya tidak hanya untuk anak-anak. Saya juga buka kelas blogging, cara membuat kelas online, cara mengajar programming dll untuk orang dewasa. Namun yang ikut sedikit. Kelas gratisan aja sedikit dan ga terlalu direspon. Apalagi kelas berbayar.

Jodoh rejeki saya ternyata di kelas anak-anak. Dan rencana saya juga nggak cuma di kelas coding. Tetapi ada juga kelas blogging, di mana saya udah ngeblog sejak 2009. Udah sekitar 12 tahun. Dan mendapatkan banyak manfaat dengan kemampuan nulis dan ngeblog. Pasti bagus jika anak-anak juga bisa dari kecil. 

Ah banyak sekali rencana yang saya buat, setelah menyadari bahwa saya bisa BEKERJA SECARA ONLINE DARI RUMAH SAJA dan menghasilkan pendapatan yang lumayan. 

Tulisan ini saya bagikan untuk memberikan gambaran bahwa ILMU DAN PENGALAMAN yang kita asah bertahun-tahun itu, pasti suatu saat akan menemukan JODOH WAKTU TERBAIKNYA. 

Saya lulus S2 Teknologi Pendidikan tahun 2015. Dan baru 5-6 tahun kemudian inilah menuai hasilnya berusaha bekerja di jalur edukasi non formal ini. Akhirnya ketemu juga jalur yang cocok dan saya sukai. Dan itu malah terbantu karena terbatas ini itu di masa pandemi. 

Beberapa bulan sebelum pandemi, padahal saya udah nego ke sana ke mari. Untuk mencari kelas belajar yang cocok bagi anak-anak. Ga jauh dari rumah saya. Juga ga jauh banget dari pesertanya. Serba salah juga milihnya. Tapi berusaha, berbagi jadwal di Coworking Space ini itu dan Sekolahan ini itu. 

Sudah melakukan pendekatan. Sudah ngobrol. Sudah bikin rencana. Eh ndilalah datang virus Corona. 


Untungnya saya tidak patah arang. 

Dan bondo nekad aja, bonek. Dan juga bobis, Bondo Bismillah membuat kelas online di mana akses wifi rumah saya masih murah meriah. Pakai speedy. Kadang mati. Kadang nyala. Sering lemot. 

Begitu kelas saya ramai dan laris. Bonek jilid 2, yaitu upgrade Speedy 10 mbps yang bayarnya ga sampai 200ribuan/bulan. Upgrade ke Indihome Paket Gamer, yang bayarnya 700ribuan/bulan dengan kecepatan 50mbps.

Tarik ulur rencana upgrade wifi, karena takut kemahalan. Tapi saya nekad aja. Kalau makin joss sinyal, makin banyak kelas yang bisa saya buat. Ga cuma sehari sekali. Bisa sehari 4 kali dan itu terbukti. 

Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Dan sampai sekarang saya semakin percaya diri untuk bisa menghasilkan rupiah dari rumah saja. Dan mungkin kelak bisa dapat dollar juga. Dari kemampuan akademik saya. Dari kesukaan saya pada pendidikan. 


Semoga menginspirasi.

Heni Prasetyorini

Catatan Selama 2020

Tidak ada komentar

 

credit: unsplash.com

Februari 2020

Menjemput anak sulung yang baru selesai ujian nasional SMK. Untuk kembali pulang ke rumah di Surabaya. Selesai sekolah di luar kota, selama 3 tahun. 

Maret 2020

Tak disangka mulai merebak berita adanya virus Corona yang kemudian disebut COVID-19 di Wuhan. Belum heboh Indonesia, belum nentukan lockdown dan karantina mandiri. Tapi kami sekeluarga langsung menerapkannya. 

Semua rencana batal. Padahal beberapa bulan setelah lulus dari Apple Dev Academy, saya mulai bergerilya untuk networking, mencari tempat membuat KELAS BELAJAR untuk KELASKUDIGITAL di beberapa coworkspace terdekat. 

Bahkan sempat mengajar di satu sekolahan di dekat rumah juga. Dan berencana rutin membuka kelas baru setiap Sabtu Minggu di sana. Untuk anak-anak dan dewasa. 


April 2020 = bulan Ramadhan

Nekad mulai kelas online. Setelah hampir setahun riset tentang coding kids and how to teach it. Lulus dari Apple dev, sekitar bulan Desember 2019. Saya berpikir harus mempunyai satu hal yang bisa dijadikan pekerjaan tetap dan itu terkait coding. 

Sempat ingin meneruskan ios apps untuk belajar berhitung yang saya buat di tugas akhir Apple dev, bersama satu mahasiswa PENS yang juga tertarik. Sayangnya dia lagi skripsi, jadi sibuk sendiri. 

Beberapa kelas online juga sudah mulai saya buat, untuk orang dewasa. Karena saya tak yakin kalau anak-anak bisa diajari coding secara online. Namun kondisi pandemi tidak memberikan tempat untuk membuat kelas tatap muka.

Setelah mencoba beberapa conference app, termasuk google hangout, zoom, webex, facebook messenger room dan beberapa lainnya, saya pun membuat KELAS CODING SCRATCH FOR KIDS GRATIS sebagai bentuk TRIAL. 

Tak disangka responnya bagus. Dan berlanjutlah kelas online itu sampai sekarang. Desember 2020. 


GOOGLE MEET GRATIS

Tak disangka, google meet yang sebelumnya hanya untuk pemilik akun G Suite resmi (sekolah atau perusahaan), karena pandemi jadi menggratiskan. 

Setelah beberapa kali pakai Zoom gratis, saya pun balik badan pakai google meet, karena isu ZOOM BAHAYA. 

Sampai sekarang pun saya memakai google meet, karena masih gratis. Dan Zoom tidak berbahaya tapi berbayar yang lumayan harganya. 


KEJARCITA

Entah bulan apa dimulainya, saya lupa. Tanpa disangka saya dapat pekerjaan part-time remote work baru. Awalnya iseng ikutan menjadi conten writer di blog.kejarcita.id, menulis artikel tentang teknologi pendidikan karena ditawari oleh Cynthia. Waktu itu karena pandemi, udah lulus akademi dan literally menganggur lagi, maka saya mau saja menulis artikel 1000 kata dengan gaji 50ribu. Dengan hitungan, satu bulan bisa menulis 10 artikel, lumayan dapat 500ribu. Apalagi bisa lebih. 20 artikel bisa dapat 1 juta nih. Nulis gitu doang, gak sulit kayak nulis sains kan. Banyak pengalaman pula. 

Aku pun menulis artikel itu seperti orang kesetanan. Seperti orang dikejar deadline. Seperti orang yang sangat-sangat membutuhkan uang. 1000 kata bisa selesai ditulis hanya sekali duduk saja. Bahkan sehari bisa menulis sampai 3 artikel, artinya 3000 kata. 

Nulis pun dengan spontan saja. Tanpa deep thinking. Mengalir saja yang penting sudah tahu kata kuncinya dan pesan apa yang ingin disampaikan.

Dan, sekali lagi, kespontananku dalam menulis ini, dinilai LEBIH BAGUS di mata orang lain. Sampai akhirnya tim kejarcita menawariku menjadi EDITOR BLOG dan juga MANAJER CONTENT WRITER. Dengan alasan, katanya tulisanku bebas typo, tajam dan enak dibaca. 

Di kejarcita juga aku dapat pengalaman pekerjaan baru sebagai kreator video. Yaitu membuat video 10 menit tentang pendidikan sesuai dengan topik yang diberikan. Nah ini sampai aku install app 'telepromper' di iphone. Yang bisa membantu banget membaca teks saat merekam. Ternyata ini berhenti di 4 video saja. Dan lanjut memintaku menjadi narasumber WEBINAR. Dengan gaji sama, per per video atau per pertemuan, 200ribu. 


Kalau menjadi editor dan manajer konten writer itu, aku digaji dari 500ribu, kemudian naik menjadi 1 juta rupiah per bulan. Dinaikkan karena aku pengen mengundurkan diri dengan alasan fokus mengurus kelas online. Your skill raised up your salary. 



NOVEMBER 2020

Memutuskan untuk melepaskan KCMI (Komunitas Coding Mum Indonesia). Setelah beberapa bulan sebelumnya berdiskusi dengan beberapa orang. Dan juga mempertanyakan kesanggupan Wakil alumni Coding Mum sebelumnya untuk menjadi pengurus baru, Presiden baru. Namun rupanya belum ada yang mau. 

Baiklah, sudah melakukan 2 tahun menjaga KCMI dan memberikan awareness adanya KCMI ini, saya memutuskan juga mundur. 

Setelah ngobrol dengan beberapa alumni dan anggota baru KCMI tentang rencana ke depan, disepakati kalau grup yang sudah ada di telegram akan dialihkan dengan bendera baru bernama BUMAGIT. Dan ini tanggung jawab orang lain, Tika. Aku berusaha keras tidak banyak muncul di sana, supaya peralihan tanggung jawab ini bisa berjalan dengan baik. 

Jika KCMI ini benar-benar tidak ada yang mau meneruskan langkahnya menjadi pengurus, maka bisa dibilang saya satu-satunya Presiden KCMI yang pernah ada. What a roller coaster journey >.<


DESEMBER 2020

Menjelang liburan sekolah, sekali lagi, nekad saja membuat kelas online liburan setiap hari untuk anak-anak. Berawal dari satu orang yang bertanya, apakah saya membuka kelas coding liburan untuk anak-anak?

Sebelum menjawabnya, saya buat dulu banner di Canva, lengkap dengan materi dan biaya. Juga upload dulu di instagram. Setelah jadi baru saya jawab, ada kelas liburan. 

Nekad sekali membuka kelas setiap hari, pagi dan sore. Ditambah dengan kelas reguler dan privat sebelumnya. 

Jadi total bulan ini saya mengajar itu bisa 3-4 kali sehari. Allahu Akbar. Capek bangeet. Capek parah. 

Sampai kapok dan bosan banget lihat Google Meet dan Scratch hahaha.

Tapi kalau ketemu anak-anak sih happy aja. Rutinitasnya dan tenaganya itu yang terkuras habis banget. 

Belum habis bulan ini, ada kabar ibu sakit. 

Karena kecapekan.


Di masa masih pandemi dan gelombang kedua dengan virus COVID-19 yang bermutasi, aku pun berpikir ulang tentang kata kecapekan. 

Oh No No No No

Aku tidak mau sakit konyol hanya karena kecapekan. Emang apa yang dicari? Emang siapa yang maksa? Jangan-jangan salah strategi dan metode mengajar saja?

Jadi saya putuskan untuk rehat bulan Januari 2021 nanti. Tidak ada kelas baru yang mulai. Hanya menghabiskan 1 kali kelas liburan dan 2 kali kelas reguler Scratch coder saja. 

Selebihnya, fokus istirahat sambil membuat konten belajar untuk kelas online di Udemy. 

Dan membuat rencana baru. Yang tidak harus membuka google meet setiap kali belajar. Karena itu sangat menyita waktu kedua belah pihak.

Aku pun memutuskan kelas privat murid-muridku. Karena privat itu capek ya. Satu jadwal untuk satu anak saja. Mending satu jadwal sekalian untuk mengajar banyak anak di kelas kelompok. Kelas semi privat juga saya hentikan. Pokoknya hanya ada kelas kelompok dan free streaming di Code With Me. 


--

cerrita lanjut nanti habis maghriban 




Catatan Singkat di Apple Developer Academy | UC

Tidak ada komentar
Tepat tanggal 11 Desember 2019, program Apple Developer Academy di Universitas Ciputra (UC) Surabaya angkatan pertama atau disebut juga Cohort 1, telah selesai dan dirayakan dalam Graduation Ceremony. Beberapa hari kemudian baru dilakukan penyerahan Sertifikat - Certification of Completion - resmi di Flexible Space gedung Apple Academy di kawasan kampus UC, seperti yang tampak di foto saya tersebut.
photo credit: Thenar Visual

Sudah kurang lebih 10 bulan sejak hari pertama mengikuti program ini. Dan sampai kemarin, masih ada anak-anak muda, terutama mahasiswa yang mengirimkan pesan pribadi ke media sosial saya. Tentu saja ingin bertanya tentang pengalaman dan cara biar lolos diterima di Apple Developer Academy|UC.Untuk singkatnya, sekaligus akan saya jawab di sini:

Sebelum mendaftar, saya mencari dulu informasi sebanyak-banyaknya tentang Apple Developer Academy, baik yang di Indonesia maupun di beberapa negara lainnya. Untuk mengetahui konsepnya apa sih, tujuannya apa, dan apakah saya bakal diterima jika mendaftar, juga apakah sanggup menjalani proses di akademi selama berbulan-bulan?

Setelah hasil pencarian menunjukkan bahwa ada peluang untuk masuk, maka saya persiapkan dokumen CV untuk mendaftar sebaik mungkin. Jejak rekam, prestasi, hasil karya dan sebagainya diperbarui di semua lini pribadi yang saya punya: blog, instagram, facebook, twitter, linkedin. Supaya apapun tautan yang saya tulis di CV, ketika dicek ulang memang benar isinya dan sudah ter-update.Setelah tahap dokumen lolos dan masuk ke pembuatan video profil, saya lakukan lagi riset kedua. Yaitu riset video profil teman yang memang juga baru mendaftar, dengan cara mengikuti tanda pagar (#) yang sudah diatur tersebut di You Tube, yaitu #uc.apple.academy.2019.

Nah, dari situ ditarik benang merah, kira-kira Pesan apa yang mau disampaikan di video profil, supaya bisa sesuai dengan isi CV dan personal branding yang sudah dibangun sebelumnya. Karena aktivitas saya beberapa tahun ini seputar pemberdayaan perempuan di ranah teknologi juga teknologi pendidikan untuk kelas belajar anak, maka itulah yang saya tampilkan.

Video saya berjudul "Impactfull: Dari Apple Academy Untuk Coding Mum & Coding Kids Indonesia" bisa disimak di sini:


video


Ketika membuat video, usahakan dengan intonasi suara yang keras, jelas dan bersemangat. Ini pasti terpancar otomatis jika kalian punya karakter motivasi diri yang kuat. Kalau sedang baper dan bad mood, lebih baik jangan bikin video dulu ya. Makan bakso pedes dulu biar muncul lagi semangat membaranya :)

Seharusnya video profil ini hanya dibatasi 1 menit. Tapi saya keblabasan lebih dari 3 menit. Dan ketika masa rekam video itu ada drama listrik di rumah mati berjam-jam, maka ketika listrik nyala wifi nyala, tanpa babibu lagi, langsung saya posting videonya ke You Tube, karena memang deadline sampai jam 12 malam itu. Pokoke budal, kalau kata orang Surabaya.

Dokumen dan video lolos, selanjutnya adalah tahapan Tes Tulis yang langsung dikerjakan di Universitas Ciputra. Apa saja bahan materi tes tulis? Nah ini semua juga saya riset dan pelajari sendiri, sebisa mungkin, semaksimal mungkin. Mulai dari konsep Coding : OOP, Swift Programming, lalu tentang design dan juga bisnis. Ditambah lagi karena tes tulis ini waktu saya daftar disebut Tes Potensial Akademik, maka saya pun mengulang lagi materi TPA yang sekarang banyak bertebaran model soal online yang bisa dikerjakan sambil nungguin dadar jagung yang sedang digoreng matang sempurna di dapur :). Kalau ingat TPA harus ingat lagi model tes kalau mau masuk sekolah negeri reguler atau mendaftar jadi dosen. Yaitu ada Deret Hitung, Deret Ukur, Sinonim, Pola dan sebagainya.

Waktu tes tulis ini, dilakukan di Lab. Komputer UC. Soal berjumlah 100 butir dan nilai saya 65. Lumayan dan ternyata memenuhi kredit minimum untuk bisa lolos tahap selanjutnya yaitu interview.
Nah, terakhir persiapan interview, maka persiapannya tidak lain dan tidak bukan adalah menampilkan diri sendiri sekeren mungkin. Jangan sampai kelihatan gembos, ngglembosi atau males-malesan aja gitu ya.

Oke, semua tahap terlampaui dan saya lolos diterima. Cerita lengkapnya bisa dibaca di blog pribadi saya berikut ini: 




Berlanjut menjawab model pertanyaan anak muda tentang pengalaman saya di program ini, berikut jawabannya.

Sebagai informasi awal, profil saya adalah ibu rumah tangga yang punya beberapa aktifitas dan jenis pekerjaan remote work atau sebagai freelancer. Sebagai IBU RUMAH TANGGA perlu digarisbawahi, karena itu mempengaruhi rekam jejak saya sebagai satu-satunya ibu-ibu dan satu-satunya peserta perempuan dari Public Participant.

Menjadi ibu rumah tangga (model saya), artinya mengantar jemput anak, mengurus rumah dan lain sebagainya adalah tugas saya. Ketika ikutan program ini, dan kebetulan masuk ke shift sore dimana harus datang pukul 13.30 WIB siang, dan pulang saat maghib pukul 17.30 WIB petang, itu bukan hal yang biasa-biasa saja. Melainkan suatu keadaan antimainstream yang luar biasa di mana harus ada banyak sekali perubahan dalam struktur yang sudah aman dan nyaman di dalam rumah tangga saya.
Menjemput anak pulang, misalnya, tidak bisa saya lakukan sendiri karena bentrok jam. Maka harus dialihkan ke pihak lain.

Di awal akademi, anak saya titipkan ke tetangga perumahan sebelah yang juga mempunyai usaha laundry kecil-kecilan. Ternyata berjalan 3 bulan, beliau mundur karena kecapekan dengan jalur dari rumahnya ke sekolahan anak saya yang cukup jauh menurutnya (Sambikerep - Lidah Kulon). Apalagi waktu jemput sekitar jam 3 sore, di masa kemarau di mana matahari lagi panas-panasnya juga. Wajar kalau mbak penjemput jadi jatuh sakit. Dengan kondisi ini, saya coba menjadi pengganti, tapi sama juga, nggak sanggup. Jadi migren kepala karena harus riwa-riwi dari UC - Lidah Kulon - Sambikerep - UC untuk sekali jalan.

Maka opsi kedua diambil yaitu menggunakan jasa ojek online. Walau di awal cukup bikin deg-degan karena anak saya masih SMP kelas 7, alhamdulillah berjalan waktu, cukup aman dan lancar.

Ini bentuk struggle saya yang pertama.

Di Apple Developer Academy|UC, kita tidak diberikan jadwal belajar yang ketat, saklek dan padat berjam-jam duduk di meja menghadap komputer saja. Melainkan bentuk belajar yang dinamis dan mandiri (self directed learning). Konsep ini sangat bagus terutama untuk generasi muda, gen Z yang punya karakter jauh berbeda dengan saya si Gen X. Dan ini lagi yang menjadi bentuk struggle saya yang kedua.

Saya mengalami proses adaptasi yang cukup sulit dalam beberapa hal. Ada momentum di mana fokus saya benar-benar terbelah karena hal keluarga. Dan jadwal saya untuk fokus dan mengerjakan sesuatu, belum tentu sinkron dengan jadwal dari teman-teman satu tim, yang usianya jauh lebih muda, yaitu setengah dari usia saya. Ya, di hari penerimaan program ini, usia saya tepat 40 tahun, sedangkan mayoritas peserta di akademi berusia 18-22 tahun. Walau ada beberapa yang juga seumuran dengan saya, namun belum pernah satu tim :)

Keterbatasan ini, cukup berdampak juga dalam kinerja saya di akademi. Bahkan hasil kontemplasi atas kondisi itu, menjadi bentuk satu podcast ini:



Dengan pengalaman saya tadi, pelajaran yang bisa diambil untuk teman-teman yang ingin masuk ke Apple Developer Academy adalah sebagai berikut:
  1. Jika mengalami kesulitan, sampaikan kepada mentor pribadi, mentor akademi, teman atau siapapun yang bisa menjembatani. Karena sebenarnya di apple developer academy, diterapkan model interaksi yang bebas, cair dan dinamis. Tell somebody that you have a problem and you need help. Saya ditempa bertahun-tahun untuk tidak mudah minta tolong, jadi lumayan keteteran di akademi. Just don't act like me there.
  2. Dokumentasikan dengan baik perjalanan belajar (learning Journey) dan refleksi. Setelah di akhir akademi, saya menggunakan tools bernama Airtable (bisa dicari dan diunduh sendiri ya). Dengan fitur Calendar di Airtable, lebih mudah bagi saya mencatat kegiatan sehari-hari, sekaligus memasukkan Learning Evidence atau bukti belajar, baik dalam bentuk gambar screenshot, dokumen ataupun video. Coba deh di www.airtable.com

Baiklah itulah catatan singkat saya. Semoga bisa menginspirasi.

Tak lupa saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk keluarga baru saya di Apple Developer Academy | Universitas Ciputra Surabaya. Juga pihak Apple yang bertukar username, saling follow dan sesekali ngobrol di inbox media sosial. Serta beberapa narasumber yang hadir di Sharing session atau Training session, dan masih terus berkomunikasi dengan saya. Terima kasih banyak. Semoga ke depan bisa saling memberikan manfaat dan kebaikan.

Jika ingin melihat informasi lengkap tentang Apple Developer Academy | Universitas Ciputra Surabaya, silahkan di baca di website officialnya berikut ini:
https://developeracademy.uc.ac.id/id/landing/

Coding Mum Bekraf Membuka Peluang Kerja Untuk Perempuan di Dunia Digital

1 komentar
Sekali lagi saya sampaikan, saya merasa beruntung sekali bisa terlibat di Coding Mum Surabaya. Selain karena dapat ilmu baru yang sudah lama saya idam-idamkan. Saya juga makin keren. Plus membuka peluang kerja baru bagi saya pribadi. Nambah joblist gitu loh. Beneran? Bener banget, beneran, serius deh.

Coding Mum adalah program belajar ibu-ibu untuk mengenal pemrograman front-end dan web-design.

coding mum
Coding Mum pusat bisa diakses di www.codingmum.id
Coding Mum Surabaya bisa diakses di http://codingmumsby.wordpress.com
Program ini diselenggarakan oleh Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), bikinan pak Jokowi. Jadi program ini resmi diselenggarakan oleh negara tercinta kita ini. Yang ingin memberikan peluang berkarya dan bekerja para perempuan, ibu-ibu, khususnya ibu rumah tangga. Program belajar yang ditawarkan masih pada basic web design dan basic front end programming. Hasil belajar yang diharapkan adalah para peserta mampu membuat web design sendiri dan bekerja di bagian front end developer.

Waktu saya antusias mendaftar, sebenarnya harapan saya adalah bisa membuat template blogspot. Selain untuk diri saya sendiri, saya ingin bikin bisnis baru di dunia digital, yaitu “Jualan Template Blogspot”.

Karena awam banget dengan dunia coding (pemrograman), saya ikut saja. Saya senang sekali bisa diterima. Terlebih ketika mendaftar, saya menggunakan status saya sebagai Ibu Rumah Tangga Digital dengan sidejob sebagai Blogger. Namun dalam ESSAI tentang tujuan mengikuti Coding Mum dan rencana selanjutnya, saya tuliskan bahwa saya ingin membuka kelas belajar pemrograman dan digital learning, baik untuk perempuan, guru dan anak-anak. Dan memang ini rencana saya sejak menekuni digital learning dan aneka jenis platform e-learning untuk pembelajaran di sekolah. 

Niat awal ingin bisa bikin template blogspot, ternyata harus ditahan dulu. Kenapa?
Karena di Coding Mum, yang diajarkan adalah membuat web design menggunakan kode HTML 5, Javascript dan CSS 3. Sedangkan kode template blogspot bertipe XML. Beda kode maakk, hiks. Namun kekecewaan saya tidak berumur panjang. Untunglah… karena para mentor memberikan jaminan, akan membimbing saya memahami XML jika diperlukan. Mentornya alias coach-nya super sitimewa deh beneran. Eh, istimewa maksudnya :D

Menurut mentor, “XML itu lebih jadul bu daripada HTML 5 yang akan diajarkan di Coding Mum”.
Tapi ya, gimana lagi, saya ini biasa menggunakan Blogspot yang memakai XML. Jadi biar jadul, tetap aja butuh. Biarin deh saya jadi "Vintage Developer" aja kali. Hehehe.

Lalu bagaimana Coding Mum membuka lapangan kerja buat saya pribadi, khususnya?
Jadi begini. Ketika foto narsis saya pertama kali muncul di Dilo Surabaya, langsung saja derajat saya naik di dunia persilatan jagad maya. Kemarin hanya blogger sekarang nambah jadi coder. Apaan sih coder? Bikin istilah baru sendiri, hehehe.
Beberapa teman baru, malah mengira saya Sarjana IT. Luar biasa kan? Padahal saya Cuma belajar Coding Mum 3 bulan saja.

Yang mungkin memberikan Nilai Tambah bagi saya adalah….saya tidak berhenti belajar dan berkarya di dunia coding itu tadi.
Walaupun saya diberi ilmu tentang HTML5, saya nekad saja masih otak-atik kode XML blogspot saya sendiri secara otodidak. Lalu saya juga kesana-kemari membaca berita tentang dunia developer dan startup. Saya pun rajin ikutan acaranya para developer dan anak-anak muda keren, pinter bin canggih yang pada mendirikan perusahaan digital bernama Startup. Padahal hidden agenda saya sebenarnya biar terus awet muda sekaligus nyari inceran calon mantu, #ehgimana :) .

Dari kiprah ini, saya mendapatkan tawaran job baru berupa:
  1. Aplikasi reviewer. Ya, bahkan ada mbak-mbak bule dari luar negeri yang mengirimkan email Review Request pada saya. Dia meminta saya mereview aplikasi ‘graphic editing’ yang baru dibuatnya itu. Amazing kan? Walaupun saya ngobrol di emailnya dengan bahasa Inggris, dia menginginkan saya mereview aplikasinya dengan bahasa Indonesia saja. Mungkin dia ingin aplikasinya terkenal di negeri kita ini kali ya? Hidup Indonesia!
  2. Narasumber. Tawaran menjadi narasumber alias pembicara di sebuah acara mulai datang pada saya. Yang pertama dari teman saya yang bekerja sebagai dosen. Dia ingin saya tampil di depan mahasiswanya. Yang kedua, teman saya penulis novel, dia ingin saya tampil di komunitas sastranya sebagai blogger. Nah loh, happy kan? Makanya cari temen yang sebaik mereka :D
  3. Trainer. Menjadi trainer alias guru, memang sudah saya jalani sebelumnya. Namun yang terbaru adalah permintaaan menjadi trainer workshop blog dan web design. Biarpun belajar web nya baru aja, saya tetep pede menerimanya. Kenapa? Karena saya punya backup dari mentor Coding Mum yang siaga setiap saat ketika saya butuh bantuan. Coach Siaga dari Dilo Surabaya. Horee…
  4.  Template Blog Redesigner. Peluang jasa ini baru saya temukan kemarin. Ketika saya membenahi template blogspot teman saya yang masih statis. Saya memasang template baru yang responsive dan enak dibaca di gadget mobile seperti HP, Ipad dan tablet android. Disini saya kepikiran ide menerima jasa mengubah template lama jadi responsive. Eh, ternyata responnya bagus juga. Alhamdulillah.


Nah, menarik bukan belajar coding?
Cobain deh. Jika sudah pernah mencoba, akan ketagihan ngodingnya. Dijamin.

Technology can be fun!
Salam,

Heni Prasetyorini



Stop Gaptek! Perempuan Harus Melek Teknologi

Tidak ada komentar

Though we do need more women to graduate with technological degrees, I always like to remind women that you don't need to have science or technology degrees to build a career in tech. [Susan Wojcicki]

 Sepakat dengan kalimat dari mbak Susan Wojcicki diatas?

"Walaupun kita butuh lebih banyak perempuan yang lulus dari kuliah teknologi, saya selalu mengingatkan bahwa kamu tidak perlu harus jadi lulusan  Sains atau Teknologi lebih dulu, untuk membangun karirmu di bidang teknologi".

Kalau saya, sangat sepakat dengan kalimat diatas.
Dunia teknologi, sangat terbuka menerima calon pebelajar dari berbagai latar belakang.Contohnya teknologi digital kreatif di dunia blogging yang saya geluti sampai sekarang.Membuat blog, merawat dan mengoptimalisasi blog, menjadi BLOGGER, boleh dilakukan oleh siapa saja. Profesi inilah yang paling bisa menerima saya apa adanya.

Mbak Heni, bukannya udah lulus S2?
Iya itu benar. Tapi, walau sudah lulus S2, background saya 14 tahun sebelumnya adalah ibu rumah tangga (IRT). Ketika saya mencoba menggunakan ijazah S2 untuk melamar pekerjaan formal di jaur pendidikan, entah sebagai guru atau dosen, ternyata tidak mudah.

Betapapun saya sudah aktif di dunia pendidikan dari balik layar laptop, kinerja saya tidak tertulis dalam lembaran sertifikasi formal. Mungkin selain faktor IRT ditambah juga usia saya yang sudah over deadline untuk diterima sebagai karyawan :).

Maka, menjadi pekerja bebas (freelancer,), atau pekerja usaha sendiri (self employee) adalah pilihan termudah. Salah satu pilihan adalah menjadi blogger, writer dan trainer pendidikan terutama digital learning.

Ada hal menarik yang saya temui ketika terjun lebih dalam ke komunitas Blogger. Di sana saya berkenalan dengan perempuan yang lulusan SMP, namun kinerja sebagai Bloggernya sudah luar biasa. Dari ngeblog saja, beliau bisa menghidupi keluarganya. Sebut saja namanya Mawar  *loh doi pedagang boraks? - LOL

Anyway, bicara gelar sekolahan, Ibu Menteri kita, bu Susi, juga sekolah formalnya sampai SMP kan?
So, gelas is not a big deal. Bukan patokan kualitas diri seseorang.

Memang benar, belajar dan sekolah formal bukan satu hal yang sama. Belajar itu wajib, bagaimanapun caranya. Jika melihat profil blogger teman saya itu, saya sering menggumam sendiri.
"Seandainya semua perempuan mau melek teknologi, sedikiit saja. Bayangkan sebesar apa pencapaian dalam hidupnya?".

Kalau mau?
Ya kalau mau!
Karena saya masih sering menemukan teman, kenalan, atau perempuan yang tidak peduli dengan teknologi. Cuek dengan ke-gaptek-annya. Namun merasa dunia runtuh karena dia tidak punya skill apa-apa untuk bekerja.

Diajari bikin email, nggak mau lihat langkah saya.
Dibikinin email, nama password selalu lupa.
Padahal mereka lulusan SMA, D3, bahkan Sarjana.
Gemes banget pokoknya.

Perempuan. Ladies. Women.
Ayo toh, melek teknologi. Jangan gaptek, pliiis plis banget deh.


Kita harus meningkatkan kemampuan diri, bagaimanapun bentuknya. Jika fasilitas sudah di genggaman, hape canggih bahkan iphone selalu ditenteng kesana kemari, tinggal memaksimalkan gadget itu. Kalaupun, jika kita sudah dalam zona nyaman. Cukup ekonomi. Rumah tangga harmonis serasi. Anak sekolah di tempat favorit. Tetep saja nggak ada salahnya kita belajar lagi, kan?Kalaupun kita nggak butuh hal lain, Kita bisa membantu orang lain, kan? Kan? Kan?

Ayolah bersusah-susah sedikiit saja.
Agar bisa menjadi garda depan keluarga.
Jika ibu gaptek, bagaimana bisa paham cara mengaktifkan fitur Parental Control, di gadget anak?
Bagaimana bisa diajak ngobrol anak dan suami, yang biasanya lebih melek teknologi?
Apa mau jadi warga kelas dua terus-terusan?
Being underdog?


Ah, ayolah.
Jika mau, kita bisa berbuat sesuatu.
Perempuan, kita harus mulai melek teknologi.


Semoga menginspirasi
- Heni Prasetyorini -