Podcast Bu Heni

Tampilkan postingan dengan label Coding Mum. Tampilkan semua postingan

Catatan Singkat di Apple Developer Academy | UC

Tidak ada komentar
Tepat tanggal 11 Desember 2019, program Apple Developer Academy di Universitas Ciputra (UC) Surabaya angkatan pertama atau disebut juga Cohort 1, telah selesai dan dirayakan dalam Graduation Ceremony. Beberapa hari kemudian baru dilakukan penyerahan Sertifikat - Certification of Completion - resmi di Flexible Space gedung Apple Academy di kawasan kampus UC, seperti yang tampak di foto saya tersebut.
photo credit: Thenar Visual

Sudah kurang lebih 10 bulan sejak hari pertama mengikuti program ini. Dan sampai kemarin, masih ada anak-anak muda, terutama mahasiswa yang mengirimkan pesan pribadi ke media sosial saya. Tentu saja ingin bertanya tentang pengalaman dan cara biar lolos diterima di Apple Developer Academy|UC.Untuk singkatnya, sekaligus akan saya jawab di sini:

Sebelum mendaftar, saya mencari dulu informasi sebanyak-banyaknya tentang Apple Developer Academy, baik yang di Indonesia maupun di beberapa negara lainnya. Untuk mengetahui konsepnya apa sih, tujuannya apa, dan apakah saya bakal diterima jika mendaftar, juga apakah sanggup menjalani proses di akademi selama berbulan-bulan?

Setelah hasil pencarian menunjukkan bahwa ada peluang untuk masuk, maka saya persiapkan dokumen CV untuk mendaftar sebaik mungkin. Jejak rekam, prestasi, hasil karya dan sebagainya diperbarui di semua lini pribadi yang saya punya: blog, instagram, facebook, twitter, linkedin. Supaya apapun tautan yang saya tulis di CV, ketika dicek ulang memang benar isinya dan sudah ter-update.Setelah tahap dokumen lolos dan masuk ke pembuatan video profil, saya lakukan lagi riset kedua. Yaitu riset video profil teman yang memang juga baru mendaftar, dengan cara mengikuti tanda pagar (#) yang sudah diatur tersebut di You Tube, yaitu #uc.apple.academy.2019.

Nah, dari situ ditarik benang merah, kira-kira Pesan apa yang mau disampaikan di video profil, supaya bisa sesuai dengan isi CV dan personal branding yang sudah dibangun sebelumnya. Karena aktivitas saya beberapa tahun ini seputar pemberdayaan perempuan di ranah teknologi juga teknologi pendidikan untuk kelas belajar anak, maka itulah yang saya tampilkan.

Video saya berjudul "Impactfull: Dari Apple Academy Untuk Coding Mum & Coding Kids Indonesia" bisa disimak di sini:


video


Ketika membuat video, usahakan dengan intonasi suara yang keras, jelas dan bersemangat. Ini pasti terpancar otomatis jika kalian punya karakter motivasi diri yang kuat. Kalau sedang baper dan bad mood, lebih baik jangan bikin video dulu ya. Makan bakso pedes dulu biar muncul lagi semangat membaranya :)

Seharusnya video profil ini hanya dibatasi 1 menit. Tapi saya keblabasan lebih dari 3 menit. Dan ketika masa rekam video itu ada drama listrik di rumah mati berjam-jam, maka ketika listrik nyala wifi nyala, tanpa babibu lagi, langsung saya posting videonya ke You Tube, karena memang deadline sampai jam 12 malam itu. Pokoke budal, kalau kata orang Surabaya.

Dokumen dan video lolos, selanjutnya adalah tahapan Tes Tulis yang langsung dikerjakan di Universitas Ciputra. Apa saja bahan materi tes tulis? Nah ini semua juga saya riset dan pelajari sendiri, sebisa mungkin, semaksimal mungkin. Mulai dari konsep Coding : OOP, Swift Programming, lalu tentang design dan juga bisnis. Ditambah lagi karena tes tulis ini waktu saya daftar disebut Tes Potensial Akademik, maka saya pun mengulang lagi materi TPA yang sekarang banyak bertebaran model soal online yang bisa dikerjakan sambil nungguin dadar jagung yang sedang digoreng matang sempurna di dapur :). Kalau ingat TPA harus ingat lagi model tes kalau mau masuk sekolah negeri reguler atau mendaftar jadi dosen. Yaitu ada Deret Hitung, Deret Ukur, Sinonim, Pola dan sebagainya.

Waktu tes tulis ini, dilakukan di Lab. Komputer UC. Soal berjumlah 100 butir dan nilai saya 65. Lumayan dan ternyata memenuhi kredit minimum untuk bisa lolos tahap selanjutnya yaitu interview.
Nah, terakhir persiapan interview, maka persiapannya tidak lain dan tidak bukan adalah menampilkan diri sendiri sekeren mungkin. Jangan sampai kelihatan gembos, ngglembosi atau males-malesan aja gitu ya.

Oke, semua tahap terlampaui dan saya lolos diterima. Cerita lengkapnya bisa dibaca di blog pribadi saya berikut ini: 




Berlanjut menjawab model pertanyaan anak muda tentang pengalaman saya di program ini, berikut jawabannya.

Sebagai informasi awal, profil saya adalah ibu rumah tangga yang punya beberapa aktifitas dan jenis pekerjaan remote work atau sebagai freelancer. Sebagai IBU RUMAH TANGGA perlu digarisbawahi, karena itu mempengaruhi rekam jejak saya sebagai satu-satunya ibu-ibu dan satu-satunya peserta perempuan dari Public Participant.

Menjadi ibu rumah tangga (model saya), artinya mengantar jemput anak, mengurus rumah dan lain sebagainya adalah tugas saya. Ketika ikutan program ini, dan kebetulan masuk ke shift sore dimana harus datang pukul 13.30 WIB siang, dan pulang saat maghib pukul 17.30 WIB petang, itu bukan hal yang biasa-biasa saja. Melainkan suatu keadaan antimainstream yang luar biasa di mana harus ada banyak sekali perubahan dalam struktur yang sudah aman dan nyaman di dalam rumah tangga saya.
Menjemput anak pulang, misalnya, tidak bisa saya lakukan sendiri karena bentrok jam. Maka harus dialihkan ke pihak lain.

Di awal akademi, anak saya titipkan ke tetangga perumahan sebelah yang juga mempunyai usaha laundry kecil-kecilan. Ternyata berjalan 3 bulan, beliau mundur karena kecapekan dengan jalur dari rumahnya ke sekolahan anak saya yang cukup jauh menurutnya (Sambikerep - Lidah Kulon). Apalagi waktu jemput sekitar jam 3 sore, di masa kemarau di mana matahari lagi panas-panasnya juga. Wajar kalau mbak penjemput jadi jatuh sakit. Dengan kondisi ini, saya coba menjadi pengganti, tapi sama juga, nggak sanggup. Jadi migren kepala karena harus riwa-riwi dari UC - Lidah Kulon - Sambikerep - UC untuk sekali jalan.

Maka opsi kedua diambil yaitu menggunakan jasa ojek online. Walau di awal cukup bikin deg-degan karena anak saya masih SMP kelas 7, alhamdulillah berjalan waktu, cukup aman dan lancar.

Ini bentuk struggle saya yang pertama.

Di Apple Developer Academy|UC, kita tidak diberikan jadwal belajar yang ketat, saklek dan padat berjam-jam duduk di meja menghadap komputer saja. Melainkan bentuk belajar yang dinamis dan mandiri (self directed learning). Konsep ini sangat bagus terutama untuk generasi muda, gen Z yang punya karakter jauh berbeda dengan saya si Gen X. Dan ini lagi yang menjadi bentuk struggle saya yang kedua.

Saya mengalami proses adaptasi yang cukup sulit dalam beberapa hal. Ada momentum di mana fokus saya benar-benar terbelah karena hal keluarga. Dan jadwal saya untuk fokus dan mengerjakan sesuatu, belum tentu sinkron dengan jadwal dari teman-teman satu tim, yang usianya jauh lebih muda, yaitu setengah dari usia saya. Ya, di hari penerimaan program ini, usia saya tepat 40 tahun, sedangkan mayoritas peserta di akademi berusia 18-22 tahun. Walau ada beberapa yang juga seumuran dengan saya, namun belum pernah satu tim :)

Keterbatasan ini, cukup berdampak juga dalam kinerja saya di akademi. Bahkan hasil kontemplasi atas kondisi itu, menjadi bentuk satu podcast ini:



Dengan pengalaman saya tadi, pelajaran yang bisa diambil untuk teman-teman yang ingin masuk ke Apple Developer Academy adalah sebagai berikut:
  1. Jika mengalami kesulitan, sampaikan kepada mentor pribadi, mentor akademi, teman atau siapapun yang bisa menjembatani. Karena sebenarnya di apple developer academy, diterapkan model interaksi yang bebas, cair dan dinamis. Tell somebody that you have a problem and you need help. Saya ditempa bertahun-tahun untuk tidak mudah minta tolong, jadi lumayan keteteran di akademi. Just don't act like me there.
  2. Dokumentasikan dengan baik perjalanan belajar (learning Journey) dan refleksi. Setelah di akhir akademi, saya menggunakan tools bernama Airtable (bisa dicari dan diunduh sendiri ya). Dengan fitur Calendar di Airtable, lebih mudah bagi saya mencatat kegiatan sehari-hari, sekaligus memasukkan Learning Evidence atau bukti belajar, baik dalam bentuk gambar screenshot, dokumen ataupun video. Coba deh di www.airtable.com

Baiklah itulah catatan singkat saya. Semoga bisa menginspirasi.

Tak lupa saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk keluarga baru saya di Apple Developer Academy | Universitas Ciputra Surabaya. Juga pihak Apple yang bertukar username, saling follow dan sesekali ngobrol di inbox media sosial. Serta beberapa narasumber yang hadir di Sharing session atau Training session, dan masih terus berkomunikasi dengan saya. Terima kasih banyak. Semoga ke depan bisa saling memberikan manfaat dan kebaikan.

Jika ingin melihat informasi lengkap tentang Apple Developer Academy | Universitas Ciputra Surabaya, silahkan di baca di website officialnya berikut ini:
https://developeracademy.uc.ac.id/id/landing/

Coding Mum Bekraf Membuka Peluang Kerja Untuk Perempuan di Dunia Digital

1 komentar
Sekali lagi saya sampaikan, saya merasa beruntung sekali bisa terlibat di Coding Mum Surabaya. Selain karena dapat ilmu baru yang sudah lama saya idam-idamkan. Saya juga makin keren. Plus membuka peluang kerja baru bagi saya pribadi. Nambah joblist gitu loh. Beneran? Bener banget, beneran, serius deh.

Coding Mum adalah program belajar ibu-ibu untuk mengenal pemrograman front-end dan web-design.

coding mum
Coding Mum pusat bisa diakses di www.codingmum.id
Coding Mum Surabaya bisa diakses di http://codingmumsby.wordpress.com
Program ini diselenggarakan oleh Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), bikinan pak Jokowi. Jadi program ini resmi diselenggarakan oleh negara tercinta kita ini. Yang ingin memberikan peluang berkarya dan bekerja para perempuan, ibu-ibu, khususnya ibu rumah tangga. Program belajar yang ditawarkan masih pada basic web design dan basic front end programming. Hasil belajar yang diharapkan adalah para peserta mampu membuat web design sendiri dan bekerja di bagian front end developer.

Waktu saya antusias mendaftar, sebenarnya harapan saya adalah bisa membuat template blogspot. Selain untuk diri saya sendiri, saya ingin bikin bisnis baru di dunia digital, yaitu “Jualan Template Blogspot”.

Karena awam banget dengan dunia coding (pemrograman), saya ikut saja. Saya senang sekali bisa diterima. Terlebih ketika mendaftar, saya menggunakan status saya sebagai Ibu Rumah Tangga Digital dengan sidejob sebagai Blogger. Namun dalam ESSAI tentang tujuan mengikuti Coding Mum dan rencana selanjutnya, saya tuliskan bahwa saya ingin membuka kelas belajar pemrograman dan digital learning, baik untuk perempuan, guru dan anak-anak. Dan memang ini rencana saya sejak menekuni digital learning dan aneka jenis platform e-learning untuk pembelajaran di sekolah. 

Niat awal ingin bisa bikin template blogspot, ternyata harus ditahan dulu. Kenapa?
Karena di Coding Mum, yang diajarkan adalah membuat web design menggunakan kode HTML 5, Javascript dan CSS 3. Sedangkan kode template blogspot bertipe XML. Beda kode maakk, hiks. Namun kekecewaan saya tidak berumur panjang. Untunglah… karena para mentor memberikan jaminan, akan membimbing saya memahami XML jika diperlukan. Mentornya alias coach-nya super sitimewa deh beneran. Eh, istimewa maksudnya :D

Menurut mentor, “XML itu lebih jadul bu daripada HTML 5 yang akan diajarkan di Coding Mum”.
Tapi ya, gimana lagi, saya ini biasa menggunakan Blogspot yang memakai XML. Jadi biar jadul, tetap aja butuh. Biarin deh saya jadi "Vintage Developer" aja kali. Hehehe.

Lalu bagaimana Coding Mum membuka lapangan kerja buat saya pribadi, khususnya?
Jadi begini. Ketika foto narsis saya pertama kali muncul di Dilo Surabaya, langsung saja derajat saya naik di dunia persilatan jagad maya. Kemarin hanya blogger sekarang nambah jadi coder. Apaan sih coder? Bikin istilah baru sendiri, hehehe.
Beberapa teman baru, malah mengira saya Sarjana IT. Luar biasa kan? Padahal saya Cuma belajar Coding Mum 3 bulan saja.

Yang mungkin memberikan Nilai Tambah bagi saya adalah….saya tidak berhenti belajar dan berkarya di dunia coding itu tadi.
Walaupun saya diberi ilmu tentang HTML5, saya nekad saja masih otak-atik kode XML blogspot saya sendiri secara otodidak. Lalu saya juga kesana-kemari membaca berita tentang dunia developer dan startup. Saya pun rajin ikutan acaranya para developer dan anak-anak muda keren, pinter bin canggih yang pada mendirikan perusahaan digital bernama Startup. Padahal hidden agenda saya sebenarnya biar terus awet muda sekaligus nyari inceran calon mantu, #ehgimana :) .

Dari kiprah ini, saya mendapatkan tawaran job baru berupa:
  1. Aplikasi reviewer. Ya, bahkan ada mbak-mbak bule dari luar negeri yang mengirimkan email Review Request pada saya. Dia meminta saya mereview aplikasi ‘graphic editing’ yang baru dibuatnya itu. Amazing kan? Walaupun saya ngobrol di emailnya dengan bahasa Inggris, dia menginginkan saya mereview aplikasinya dengan bahasa Indonesia saja. Mungkin dia ingin aplikasinya terkenal di negeri kita ini kali ya? Hidup Indonesia!
  2. Narasumber. Tawaran menjadi narasumber alias pembicara di sebuah acara mulai datang pada saya. Yang pertama dari teman saya yang bekerja sebagai dosen. Dia ingin saya tampil di depan mahasiswanya. Yang kedua, teman saya penulis novel, dia ingin saya tampil di komunitas sastranya sebagai blogger. Nah loh, happy kan? Makanya cari temen yang sebaik mereka :D
  3. Trainer. Menjadi trainer alias guru, memang sudah saya jalani sebelumnya. Namun yang terbaru adalah permintaaan menjadi trainer workshop blog dan web design. Biarpun belajar web nya baru aja, saya tetep pede menerimanya. Kenapa? Karena saya punya backup dari mentor Coding Mum yang siaga setiap saat ketika saya butuh bantuan. Coach Siaga dari Dilo Surabaya. Horee…
  4.  Template Blog Redesigner. Peluang jasa ini baru saya temukan kemarin. Ketika saya membenahi template blogspot teman saya yang masih statis. Saya memasang template baru yang responsive dan enak dibaca di gadget mobile seperti HP, Ipad dan tablet android. Disini saya kepikiran ide menerima jasa mengubah template lama jadi responsive. Eh, ternyata responnya bagus juga. Alhamdulillah.


Nah, menarik bukan belajar coding?
Cobain deh. Jika sudah pernah mencoba, akan ketagihan ngodingnya. Dijamin.

Technology can be fun!
Salam,

Heni Prasetyorini



Stop Gaptek! Perempuan Harus Melek Teknologi

Tidak ada komentar

Though we do need more women to graduate with technological degrees, I always like to remind women that you don't need to have science or technology degrees to build a career in tech. [Susan Wojcicki]

 Sepakat dengan kalimat dari mbak Susan Wojcicki diatas?

"Walaupun kita butuh lebih banyak perempuan yang lulus dari kuliah teknologi, saya selalu mengingatkan bahwa kamu tidak perlu harus jadi lulusan  Sains atau Teknologi lebih dulu, untuk membangun karirmu di bidang teknologi".

Kalau saya, sangat sepakat dengan kalimat diatas.
Dunia teknologi, sangat terbuka menerima calon pebelajar dari berbagai latar belakang.Contohnya teknologi digital kreatif di dunia blogging yang saya geluti sampai sekarang.Membuat blog, merawat dan mengoptimalisasi blog, menjadi BLOGGER, boleh dilakukan oleh siapa saja. Profesi inilah yang paling bisa menerima saya apa adanya.

Mbak Heni, bukannya udah lulus S2?
Iya itu benar. Tapi, walau sudah lulus S2, background saya 14 tahun sebelumnya adalah ibu rumah tangga (IRT). Ketika saya mencoba menggunakan ijazah S2 untuk melamar pekerjaan formal di jaur pendidikan, entah sebagai guru atau dosen, ternyata tidak mudah.

Betapapun saya sudah aktif di dunia pendidikan dari balik layar laptop, kinerja saya tidak tertulis dalam lembaran sertifikasi formal. Mungkin selain faktor IRT ditambah juga usia saya yang sudah over deadline untuk diterima sebagai karyawan :).

Maka, menjadi pekerja bebas (freelancer,), atau pekerja usaha sendiri (self employee) adalah pilihan termudah. Salah satu pilihan adalah menjadi blogger, writer dan trainer pendidikan terutama digital learning.

Ada hal menarik yang saya temui ketika terjun lebih dalam ke komunitas Blogger. Di sana saya berkenalan dengan perempuan yang lulusan SMP, namun kinerja sebagai Bloggernya sudah luar biasa. Dari ngeblog saja, beliau bisa menghidupi keluarganya. Sebut saja namanya Mawar  *loh doi pedagang boraks? - LOL

Anyway, bicara gelar sekolahan, Ibu Menteri kita, bu Susi, juga sekolah formalnya sampai SMP kan?
So, gelas is not a big deal. Bukan patokan kualitas diri seseorang.

Memang benar, belajar dan sekolah formal bukan satu hal yang sama. Belajar itu wajib, bagaimanapun caranya. Jika melihat profil blogger teman saya itu, saya sering menggumam sendiri.
"Seandainya semua perempuan mau melek teknologi, sedikiit saja. Bayangkan sebesar apa pencapaian dalam hidupnya?".

Kalau mau?
Ya kalau mau!
Karena saya masih sering menemukan teman, kenalan, atau perempuan yang tidak peduli dengan teknologi. Cuek dengan ke-gaptek-annya. Namun merasa dunia runtuh karena dia tidak punya skill apa-apa untuk bekerja.

Diajari bikin email, nggak mau lihat langkah saya.
Dibikinin email, nama password selalu lupa.
Padahal mereka lulusan SMA, D3, bahkan Sarjana.
Gemes banget pokoknya.

Perempuan. Ladies. Women.
Ayo toh, melek teknologi. Jangan gaptek, pliiis plis banget deh.


Kita harus meningkatkan kemampuan diri, bagaimanapun bentuknya. Jika fasilitas sudah di genggaman, hape canggih bahkan iphone selalu ditenteng kesana kemari, tinggal memaksimalkan gadget itu. Kalaupun, jika kita sudah dalam zona nyaman. Cukup ekonomi. Rumah tangga harmonis serasi. Anak sekolah di tempat favorit. Tetep saja nggak ada salahnya kita belajar lagi, kan?Kalaupun kita nggak butuh hal lain, Kita bisa membantu orang lain, kan? Kan? Kan?

Ayolah bersusah-susah sedikiit saja.
Agar bisa menjadi garda depan keluarga.
Jika ibu gaptek, bagaimana bisa paham cara mengaktifkan fitur Parental Control, di gadget anak?
Bagaimana bisa diajak ngobrol anak dan suami, yang biasanya lebih melek teknologi?
Apa mau jadi warga kelas dua terus-terusan?
Being underdog?


Ah, ayolah.
Jika mau, kita bisa berbuat sesuatu.
Perempuan, kita harus mulai melek teknologi.


Semoga menginspirasi
- Heni Prasetyorini -

Terus Belajar : Dari Coding Mum ke Indonesia Android Kejar

Tidak ada komentar

Learning to Code is Useful, No matter You're Career Ambitions Are. - Arianna Huffington-

Perjalanan saya masuk ke dalam dunia coding, belajar code (pemrograman), 
sungguh mencengangkan dan semakin mencengangkan. 


Coding Mum.
Saya tak akan berhenti-henti menggunakan hestek Coding Mum (#codingmum) dalam identitas atau sharing di sosial media tentang gerak laku saya di bidang digital kreatif. 
Karena gerakan pemberdayaan perempuan di bidang teknologi digital ini,
bisa dibilang menjadi Titik Belok dari perjalanan karir saya di dunia digital.

Kesempatan itu akan datang bagi mereka yang bersungguh-sungguh dan tak hendak berhenti belajar serta mengajar. 

Quote ini saya buat sendiri, karena saya rasakan sendiri. Setelah lulus dari Coding Mum di Surabaya, sekitar bulan Mei 2016 kemarin, saya tak henti-hentinya mengikuti even baik Seminar atau Workshop yang bisa menambah wawasan dan skill saya di bidang coding. Ketagihan dan penasaran, bisa disebut begitu.

Sampai akhirnya, seorang teman membagikan link tentang Indonesia Android Kejar. Yaitu sebuah program kelas belajar membuat aplikasi android untuk umum.

Awalnya teman saya memberikan link di waktu deadline. Dan saya telat pula membuka pesannya. Terlambat!
Begitu pikir saya.

Tapi, dengan bondo nekad juga, saya klik saja link pendaftaran dan menuliskan data diri sebagai peserta. Pikir saya waktu itu, registrasi online semacam ini ada beberapa kemungkinan. Jika penuh akan ditolak. Tetapi jika ada yang mengundurkan diri, maka akan tersedia lagi peluang bagi saya.

Dari segi umur, juga saya pikir tak akan diterima. Karena membaca program IAK di websitenya, sepertinya khusus untuk anak muda. Walau begitu, saya mengajak teman saya yang juga ibu-ibu, untuk nekad juga mendaftar.

Ketika masa pengumuman tiba, tidak ada satu pun email pemberitahuan bahwa kami diterima. Saya sudah tidak berharap lagi, kecuali untuk batch selanjutnya jika ada peluang akan mendaftar lagi.

Ndilalah, alhamdulillah, ternyata beberapa minggu kemudian, ada email masuk. Dan email itu memberitahukan bahwa saya terpilih Sebagai Peserta Women Study Group - IAK Surabaya.



Sungguh alhamdulillah. Senang sekali rasanya. Kenapa?
Karena saya sudah lama juga penasaran dengan cara bikin aplikasi berbasis android. Nah, tempo hari sih sempat  ikutan acara serupa, hanya workshop sehari yang diadakan oleh Intel XDK.
Sayangnya waktu itu saya cuma bengong sepanjang workshop, karena laptop kecil mungil saya itu nggak kuat menahan beban, eh, nggak memenuhi spesifikasi software Intel XDK yang digunakan untuk membuat aplikasi android. Jadinya ya dieeem aja tampilannya, nggak gerak kemana-mana. HANG.



Nah loh, kekhawatiran juga menyelimuti benak saya nih. Kalau ikutan IAK, harus mengunduh Android Studio. Apakah laptop saya kuat?
Setelah cek spesifikasi yang dibutuhkan dan mendapat masukan dari bu Farida (dosen ITATS) dan Woko , saya yakin 100% kalau laptop saya nggak bisa dipakai ikutan kelas android.

*mulai mlipir ke pojokan T_T

Udah kepikiran aja, mau menyerah aja deh. Nyari pinjeman laptop juga nggak mungkin. Beli laptop baru juga emangnya pakai sulap bisa?. 

Alhamdulillah, suami saya berpikiran jauh ke depan.
Sebenarnya seputar anaknya juga sih, hehehe. Pikirnya, kalau saya bisa android development gini, ntar kan bisa ngajarin anaknya sendiri.Jadi, urusan laptop akan diusahakan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Anggap saja, membeli laptop ini adalah INVESTASI.

Baik, setelah menghitung isi dompet, maka suami saya all out dalam mencari laptop preloved (kayak istilah kosmetik seken aja nih, hehehe). Maksudnya laptop seken atau laptop bekas.

Setelah 3 hari full browsing dan tanya-tanya ke penjualnya, kami berdua pun berangkat naik motor sejauh puluhan kilometer. Kebayang dari Surabaya Barat ke area Medokan Semampir. Lumayan juga nih pinggang, apalagi saya baruuu aja beres bertarung dengan bakteri Salmonella typhi yang ngendon selama seminggu di badan. Jadi badan udah panas dingin meriang melayang nggak karuan rasanya. 



Singkat cerita, jadinya saya dapat alat perang baru yang imut-imut. Warnanya pink. 
Ternyata super matching sama warna stiker Coding Mum. 

Seperti sudah diatur sama Tuhan .......

Stiker itu saya dapat ketika menjadi Narasumber Sosialisasi Coding Mum di Tulungagung.
Dari sana saya mendapatkan benefit fee yang cukup lumayan. 
Awalnya mau saya tabung buat beli emas aja, hahaha khas emak-emak. 
Ternyata berguna untuk membeli laptop Pink ini, yang kemudian dipakai untuk tahap belajar selanjutnya. Bisa dibilang, laptop pink itu termasuk hasil saya dari Coding Mum. Dari Coding Mum untuk Coding Mum. 

Allahu Akbar. Kalau saya ingat-ingat, semakin diingat-ingat, Rabb Allah SWT itu sungguh Maha Mengetahui, Maha Penyayang dan Maha Indah sekali dalam mengatur liku kehidupan makhluk ciptaan-Nya, termasuk saya ini. Betul tidaaakk ? :D



Makin Semangat Belajar Untuk Mengajar Para Moms & Kids


Dari pengalaman ini, saya semakin optimis akan terbukanya peluang berkarir di dunia digital kreatif, terutama coding. Entah itu membuat website seperti program Coding Mum sebelumnya. Juga membuat aplikasi android, seperti yang akan saya ikuti nanti di program Indonesia Android Kejar.


Jika berpikir belajar untuk diri sendiri, saya tidak terlalu akan bersemangat seperti ini. Tetapi, jika saya bayangkan untuk bisa mengajar sesama perempuan dan anak-anak yang lucu, maka semangat saya langsung membara dan menyala-nyala. Sakit typus, ya udah bye bye lah yaaa.... #nenggaksusuberuang


Selanjutnya apa?

Setelah perangkat sesuai spesifikasi siap. Maka saya lanjutkan untuk belajar mandiri tentang bahasa pemrograman menggunakan Android Studio melalui kursus online di WWW.UDACITY.COM.
Kursus ini gratiiisss....




Di Udacity ini, tahapan belajarnya sederhana dan dipotong kecil-kecil, sehingga mudah dipahami. Bahkan beberapa analogi, seperti Parent Code, Children Code dan gambar  bisa memudahkan peserta memahami. Syaratnya cuma satu sih, ngerti bahasa Inggris :D

Nah, ternyata di android, menggunakan XML Syntax.
Wah kebetulan banget, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui nih.
XML Syntax adalah tipe code yang digunakan untuk template blogspot. Jadi, ketika belajar bikin app android, saya sekalian bisa rada ngeh dengan bahasanya template blogspot. Platform blogspot adalah platform yang saya gunakan untuk ngeblog sejak dulu kala, tahun 2009.

Dan saya sungguh suka dengan platform ini. Karena (bagi saya) mudah, relatif aman dan murah jika diredirect ke domain dotcom. Sebuah cara membuat website yang paling mudah dan murah untuk dieksplor dan digunakan untuk blogger atau onlineshopper pemula.


Di Udacity, saya baru sampai ke level 2 Beginner. Video belajarnya cukup lama juga, kadang sampai ngantuk melihat videonya dan konsentrasi ke tahapan tutorial plus kalimat bahasa Inggris yang diucapkan narasumber. Lumayan mikir sih. Walau enak juga, lebih paham sebenarnya karena pasti dijelaskan dengan detil.

Sebagai pilihan, ternyata di internet sudah beredar banyak sekali tutorial serupa yang berbahasa Indonesia. Walau isinya tak sedetil di Udacity, tapi lumayanlah sebagai suplemen biar paham bahasa pemrograman android.

Berikut link belajarnya:
  1. https://www.dicoding.com/academies/2
  2. http://www.okedroid.com/p/belajar-android.html
  3. https://teknorial.com/tutorial-pemrograman-android-studio-bahasa-indonesia/
Tentu masih banyak lagi link belajar mandiri berbahasa Indonesia yang tersebar di blog pribadi orang. Bahkan yang berjualan modul belajar android untuk pemula juga ada. Tinggal bayar ratusan ribu, sudah dikirim DVD nya. 

di kelas IAK di Universitas Ciputra Surabaya (saya pojok kiri)


Syukur alhamdulillah, dengan saya terpilih menjadi peserta Indonesia Android Kejar 2016 ini, saya bisa belajar android secara gratis. Sekaligus bisa mendapatkan link networking baru, yang pasti akan sangaaaat berguna untuk aneka projek kolaborasi di masa depan. 

Wis ah, gitu saja kisah singkat perjalanan saya menuntut ilmu,
walaupun katanya ilmu nggak perlu dituntut karena dia tidak menghina kitab suci, #eh.

Jadi, untuk sahabatku yang mulia dan baik hatinya :v
mari terus semangat mengejar peluang untuk belajar,
Betapapun ada keterbatasan, baik dari segi ekonomi atau apapun, jika niat kuat, pasti diberikan jalan.

Seperti Quote yang saya tampilkan di awal tulisan ini, yaitu :
"Belajar Coding Pasti Berguna, Walau Apapun Ambisi Karir Yang Direncana"

Salam,

Heni Prasetyorini




Menjadi Narasumber Talkshow Creativepreneur di Kediri Sebagai Alumni Coding Mum

Tidak ada komentar
Sebuah undangan menarik kembali datang pada saya, dari bu Poppy Savitri, Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif dari BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) Indonesia. Beliau meminta saya menjadi salah satu narasumber untuk talkshow Creativepreneur di Kediri.


Acara di hari kerja, alhamdulillah suami saya bisa mengatur waktunya sehingga bisa pulang dari kantor lebih cepat untuk menjemput anak saya. Ya, namanya ibu rumah tangga yang tugas utamanya antar jemput anak sekolah, bepergian di hari kerja biasanya tidak bisa saya lakukan. Alhamdulillah semakin anak saya gede dan pekerjaan suami di kantor semakin Go Online, jadi bisa dikerjakan dimana saja (di rumah juga), maka saya lebih leluasa sekarang.

Baiklah perjalanan di Kediri pun dimulai sejak pukul 4 sore. Jadi beres njemput anak dan memastikan di aman di rumah, saya berangkat dijemput driver dari Blitar. Alur berangkat dari rumah saya, mampir dulu ke bandara Juanda untuk menjemput rekan dari Jakarta. Jalanan ternyata super macet saat itu, alhamdulillah pas jam 7 malam sesuai rencana kami sudah tiba di Juanda.

Ternyata rekan dari Jakarta adalah bu Poppy dan Zee dari BEKRAF serta Reza - penyiar radio Mustang Jakarta yang akan menjadi pemandu acara talkshow nanti. Wow pasti keren nih, sampai ada penyiar radio segala.

Bertemu bu Poppy itu bikin marem di hati. Dengan ceria beliau menyapa saya, lalu tanpa babibubebo menarik badan saya untuk dipeluk dan cipika cipiki. Anget banget deh, suasana jadi begitu nyaman. Zee dan Reza juga anak-anak muda yang asik diajak bicara. Jadinya perjalanan ke Kediri tidak terasa berat walau mayoritas macet sih jalanannya. Pas kebetulan dengan jam orang pulang kerja nih sepertinya.

Di tengah perjalanan, kami berhenti dulu untuk makan malam. Karena sejatinya sudah merasa kelaparan sejak di Juanda tadi. Tapi biar nggak buang waktu banyak, kami tunda laparnya sampai di Depot Ikan Goreng Cianjur Mojokerto. Nasi, lauk, sayur segera disikan dengan cepat dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Suasana sudah menjelang malam, tapi driver kami sangat sigap dalam melajukan mobilnya sampai tiba di Kediri hampir jam 12 malam. Ulala mata saya sudah tinggal 2,5 watt saking ngantuknya. Di mobil saya tidak sempat tidur, karena asyik sekali mendengar cerita dari bu Poppy.

Iya loh, beliau kuat bercerita kepada saya mulai berangkat sampai tiba di Kediri. Saya aja kliyengan... Bu Poppy sangat antusias menceritakan pengalamannya membina masyarakat Indonesia di berbagai daerah bahkan sampai ke pedalaman, untuk menumbukan ekonomi kreatif. Ada satu program BEKRAF baru yang beliau ceritakan yaitu IKKON (INOVATIF DAN KREATIF KOLABORASI NUSANTARA). Wah kudu di google nih.


Cerita IKKON sangat menarik perhatian saya, jadi tak henti-hentinya saya tik-tok-an, alias menanyakan kembali dan merespon dengan penuh penasaran segala apa yang beliau ceritakan. Seandainya suatu saat diundang juga ke daerah untuk meliput IKKON, sebagai blogger saya pasti senang. #kodelunak :)

Karena sampai di Kediri sudah tengah malam, maka tidak ada pilihan kecuali langsung membersihkan diri dan tidur. Saya sempat kelimpungan ngeri tidur sendirian, karena kamar di hotel banyak cermin dan saya kualat sering nggodain teman alumni SMA dengan mengirim meme ibu di film Pengabdi Setan. Nah loh, girap-girap dewe akhirnya.
Maka saya bisa tidur setelah menyetel film kartun dengan volume lumayan keras, lalu menutup muka saya dengan selimut tebal. Padahal ini belum lihat filmnya loh, cuma meme-nya. Ah aku lemah :D

Esok paginya, persiapan mengisi acara. Saya sarapan pagi bersama bu Poppy, mbak Zee dan satu mbak kalem lainnya (lupa namanya). Ada Rangga dari Blitar yang menjadi panitia. Saya pun menyapa para panitia dan beberapa peserta yang sudah datang.

Sambil menunggu mbak Venna Melinda, saya dan bu Poppy berada di ruang transit. Beberapa kali bu Poppy mondar-mandir untuk mengatur dan memberikan briefing kepada panitia yang mayoritas anak-anak muda (sepertinya masih anak kuliahan).

Peserta lumayan banyak mulai berdatangan dari kabupaten dan kota Kediri. Mereka menyerahkan Surat Undangan sebagai syarat kehadiran. Kemudian mendapatkan Goodie Bag berisi kaos dan note. Di depan ruangan sudah tersedia meja panjang berisi makanan ringan, kopi dan teh. Jadi sebelum mulai acara para peserta bisa "sarapan" dulu, supaya ketika acara tidak harus terpotong dengan sesi coffee break.

Mbak Venna akhirnya sampai di lokasi sekitar pukul 9 pagi. Beliau langsung menyapa semua orang lalu melakukan wawancara dengan KSTV. Nama saya disebut dalam wawancaranya tapi saya tidak ikut masuk frame. Saya malah sibuk merekam sesi wawancara itu lalu menyapa beberapa ibu-ibu yang menjaga stan kerajinan tangan, batik dan coklat. Sudahlah, saya sudah pernah masuk satu frame dengan mbak Venna kok. Bukan di sinetron sih, tapi di BIOS TV ketika ada acara Sosialisasi Coding Mum di Tulungagung setahun yang lalu.

Acara kemudian dimulai dengan rileks, fun dan rame ya karena Reza sang penyiar radio itu asik banget memandu acaranya. Saya dan 3 narasumber lainnya duduk di sofa, di panggung depan para peserta. Masing-masing narasumber berbicara sesuai dengan pancingan dari Reza dan saya dapat giliran terakhir. Wadaahh...lakonne menang keri iki jenenge rek.

Selama mendengar pembicaraan  masing-masing narasumber, saya mencoba menyerap inti dari materi mereka dan melihat respon para peserta. Akhirnya ketika tiba giliran, saya memilih berbicara dengan santai campuran bahasa Jawa.

"Halo pak, bu, mbak, mas, saya Heni dari Surabaya. Asli Suroboyo iki, nek aku ngomonge rodok Kartoloan gak popo yo?"

Yang artinya, Saya Heni asli Surabaya, kalau nanti bicara ala Kartolo, tidak masalah ya?"

Candaan awal saya disambut baik oleh peserta Kediri yang pastinya mayoritas mengerti bahasa Jawa atau bahkan semuanya paham bahasa Jawa sekaligus mengenal Kartolo. Kartolo adalah grup lawak Jula Juli legendaris asal Surabaya yang masih ada sampai sekarang.

Saat itu saya berbagi pengalaman tentang menjadi alumni CODING MUM SURABAYA dan  menyampaikan materi penggunaan teknologi informasi dan digital untuk mendukung terciptanya ekonomi kreatif atau memotivasi para peserta untuk menjadi creativepreneur. Karena latarbelakang per-digital-an saya cukup random, mulai ranah coding, bisnis online, blogging dan menulis maka saya sampaikan semuanya sedikit-sedikit. Karena kalau yang disampaikan banyak dan lengkap, saya nggak bakal diundang lagi #eh.

Peserta antusias tentu dengan konsep bagaimana membuat bisnis mereka menjadi GO ONLINE dengan cara mudah, bisa dimulai sendiri dan bisa diterapkan saat ini juga.

Karena waktu yang mepet, saya menjawab singkat. Sampai akhirnya acara ditutup pukul 11.30 WIB. Selesai acara, beberapa orang menghampiri saya, ada yang mahasiswa, dosen dan asisten KADIN.

Mahasiswa: "Bu Heni, saya mahasiswa POLTEK. Saya ingin bertanya ke ibu, kalau lulusan POLTEK bisa bekerja jadi apa saja?"

Wah saya kaget mendengarnya, "loh dek, disini tidak ada komunitas startup?" tanya saja cepat.

"Belum ada bu." Jawab mahasiswa memakai baju batik dan tinggi besar itu.

"Waduh dek, waktuku nggak banyak nih. Nanti japri saya aja ya, lewat instagram boleh. Karena saya harus pulang ke Surabaya sekarang. Bu Poppy harus naik pesawat ke Bandung jam 5 sore nanti."

Ini jawaban saya juga kepada pak dosen dan pak asisten KADIN, yang meminta nomer hp saya dan berniat memanggil saya kembali ke Kediri. Alhamdulillah ya, ternyata cara saya menyampaikan materi tadi bisa berkesan dengan baik ke para peserta.

Ketiwasan alias sayangnya, saya lupa bawa kartu nama. Jadi pouch kartu nama yang biasanya saya siapkan, ternyata ada di tas kuning. Sedangkan sekarang saya membawa tas abu-abu. Gini nih ibu-ibu, pengen gaya jadi rempong sendiri. Dengan meminta maaf berkali-kali karena lupa bawa kartu nama, saya menuliskan nomer hape saya kepada mereka yang meminta kontak juga mendampingi mereka membuka akun instagram saya di hapenya. Saya folbek nanti ya, pokoknya di mention atau DM saya sekalian.

Karena harus mengejar pesawat sore hari, saya, Reza dan bu Poppy berlarian turun ke lantai bawah. Zee masih harus tinggal di Kediri untuk membereskan beberapa keperluan.

"Aduh, eyang-eyang gini lari-lari rasanya jantung mau copot," bu Poppy berkelakar ketika merasa urusan beliau di akhir acara belum tuntas, sedangkan kami harus kembali ke Surabaya saat itu juga. Beliau sebenarnya ingin membereskan beberapa hal, tapi waktu sudah tak terkejar lagi. Saya pun mencoba menenangkan beliau, "bu..sudah bu..gapapa...kesempurnaan hanya milik Alloh," kelakar saya yang bercanda ala Dorce berhasil membuat beliau tertawa.

Kami pun melaju kembali ke Surabaya tanpa mampir sedikitpun untuk membeli oleh-oleh dan lainnya. Bahkan kami tak sempat makan siang serta tak membawa bekal jajan untuk di perjalanan. Alhasil lumayan kelaparan di jalan hehehe. Untunglah bu Poppy diberi oleh beberapa peserta jajanan hasil produksi bisnis mereka, yaitu kripik belut dan coklat. Saya diberi satu bungkus coklat yang saya bawa pulang untuk anak. Sedangkan kripik belut dibuka dan dimakan bersama di mobil. "Lumayan ih ada yang bisa dikunyah dan jadi ganjel perut lapar,"ujar bu Poppy.

Alhamdulillah perjalanan lancar tiada macet yang berarti. Sehingga pas pukul 4 sore lebih sedikit, kami sudah bisa ada di bandara Juanda.

Aduh, saya masih ingin menggali cerita inspiratif lebih banyak dari bu Poppy dan berdiskusi lebih panjang tentang rencana kami, para alumni Coding Mum Surabaya, yang ingin membuka kelas belajar coding lagi untuk ibu-ibu di Surabaya dan sekitarnya.

Ah, pasti ada cara bisa bertemu lagi dengan bu Poppy, sekarang kami matangkan dulu rencana Coding Mum Surabaya, di sela-sela kesibukan para pesertanya bekerja dan berkegiatan sehari-hari di rumah. See you soon bu Poppy, Zee dan Reza. Semoga bisa berjumpa di Jakarta.
Atau daerah lainnya :)

Jurnal Coding Mum Surabaya Batch 1 Yang Saya Ikuti Tahun 2016

Tidak ada komentar
Everyone should learns how to code, 
it teaches you how to think. Steve Jobs

Sungguh diluar dugaan, tetapi benar kata seorang teman, "ketika seorang murid siap maka guru akan datang sendiri".

Hal ini terjadi juga pada saya. Sudah lama sekali saya ingin mempelajari bahasa pemrograman, coding sederhana, maupun ingin belajar membuat web atau web design.

Apalagi ketika terjun di dunia blogger. Juga saat mengenal konsep e-learning, learning management system, sewaktu mengerjakan tesis kemarin.

Dari sini saya sering kepikiran, bagaimana ya membuat website yang mudah diakses oleh guru dan murid, ketika mereka akan belajar sendiri di rumah? Bagaimana mengumpulkan link sumber belajar yang sudah saya dapatkan, dan dimasukkan ke satu website yang menarik, iconnya mudah, warna-warni dan ceria.

Puluhan bahkan ratusan kali mungkin, saya mencari jenis template blog (gratisan) yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan saya tersebut, tapi tidak ada. ya iyalah gratisan :).

Namun ketika mencari template berbayar yang ditawarkan pun, itu masih belum sesuai dengan kebutuhan saya tersebut. Sepertinya saya harus belajar membuat template sendiri, itu yang memenuhi benak saya selama ini. Namun belum menemukan jawabannya sampai akhirnya ada informasi tentang Coding Mum.

Tulisan diatas adalah petikan dari artikel pertama saya ketika mendaftar kelas belajar CODING MUM SURABAYA BATCH 1, yang diselenggarakan tahun 2016.

foto bersama di sesi 1 Coding Mum Surabaya Batch 1, 2016


saya terpana lihat transformasi kode css menjadi bentuk visual :)



Banner pengumuman Coding Mum Sby Batch 1 2016

Semua kisah saya mengikuti Coding Mum Surabaya dan pengalaman setelahnya, saya tulis disini. Silahkan di klik satu per satu.

  1. http://heniprasetyorini.blogspot.co.id/search/label/Coding%20Mum?max-results=12
  2. http://heniprasetyorini.blogspot.co.id/2016/06/asus-vivo-aio-v200ib-pc-all-in-one-canggih-dan-harga-bersahabat--yang-dibutuhkan-untuk-membuat-kursus.html
  3. http://www.prasetyorini.com/2016/08/coding-mum-bekraf-membuka-peluang-kerja-untuk-perempuan-di-dunia-digital.html
  4. http://www.prasetyorini.com/2016/08/dari-coding-mum-menjadi-akademi-prasetyorini.html
  5. http://www.prasetyorini.com/2016/11/belajar-coding-sampai-mendelik-di-usia-cantik.html
  6. https://www.kompasiana.com/heniprasetyorini/coding-mum-mencetak-ibu-rumah-tangga-menjadi-web-designer-dan-front-end-programmer_57616d13cf9273a3091766a8
  7. https://codingmumsby.wordpress.com/ [dibuat oleh tim Dilo]
  8. http://www.bekraf.go.id/berita/page/8/81-tulungagung-siap-coding-mum-2017
  9. http://www.prasetyorini.com/2017/11/menjadi-narasumber-talkshow.html
  10. http://www.antarajatim.com/lihat/berita/208697/bekraf-dorong-pengusaha-lebih-kreatif

WHAT NEXT?

Setelah kelas belajar Batch 1 ini, kami, beberapa alumni Coding Mum Surabaya berkomitmen untuk membuka kelas belajar baru. Untuk update bisa dilihat di instagram @codingmumsurabaya.

Coding Mum Disabilitas Surabaya 2018

Tidak ada komentar
Sebuah pengalaman yang menarik menjadi Koordinator Daerah Coding Mum Disabilitas.

Coding Mum Disabilitas adalah sebuah program belajar coding untuk sahabat disabilitas atau difabel yang diselenggarakan oleh BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) Indonesia. Sebelumnya Bekraf membuka Coding Mum yang menyasar target ibu rumah tangga yang bekerja di rumah. Keduanya mengusung tema yang sama yaitu melek digital literasi. Artinya program belajar ini mencoba mengenalkan sebuah dunia baru di era digital yaitu bahasa pemrograman. Nah, materi awal yang coba dikenalkan adalah pemrograman untuk membuat website dari nol. Atau bisa dibilang dengan istilah Make A Website from Scratch.

Saya sendiri adalah alumni dari Coding Mum Surabaya Batch 1 tahun 2016. Setelah mengikuti program ini, saya dan beberapa teman membuka kelas belajar coding untuk ibu-ibu dan selanjutnya juga untuk anak-anak.

Mungkin melihat konsistensi saya untuk menggulirkan kembali semangat belajar coding untuk berbagai kalangan terutama perempuan dan anak, maka pihak Bekraf menghubungi saya dan mengajukan tawaran untuk menjadi koordinator daerah Coding Mum Disabilitas Surabaya 2018.

Tentu saja, tanpa berpikir lama saya langsung mengiyakan tawaran itu dan tak peduli akan sesulit apa atau bakal seberhasil apa. Pokoke budal, kalau kata orang Surabaya ya.

Kinerja saya dimulai dengan tugas mencari lokasi belajar yang nyaman dan fasilitasnya cocok untuk pelatihan coding. Lalu publikasi program dalam rangka rekruitmen mentor dan mencari peserta. Untuk melakukan hal ini saya dibantu oleh pihak Kolla dari Jakarta, yang merupakan event organizer dari pihak Bekraf.

Mencari peserta difabel itu PR banget bagi saya yang sama sekali tak pernah bersinggungan dengan pihak mereka dalam acara apapun selama ini. Karena tidak punya koneksi awal, saya pun mengirimkan pesan broadcast ke berbagai grup whatsapp yang saya ikuti. Mulai SCCF, UMKM Surabaya, Blogger, Grup Guru Belajar Surabaya, alumni sekolah dan bahkan wali murid sekolahan anak-anak saya.

Alhamdulillah dengan cara ini, saya mendapatkan satu per satu nomor kontak pihak terkait yang bisa dihubungi. Mulai dari guru SLB, interpreter bahasa isyarat, ketua komunitas disabilitas dan dosen PLB (Pendidikan Luar Biasa). Semuanya saya hubungi dengan sangat intens. Termasuk satu per satu nama yang mendaftar di link google form yang dibuat oleh pihak Kolla.

Deg-degan tiada tara. Dan di awal kerja saya mendapatkan pengalaman sangat berharga tentang perbedaan gaya bahasa ketika berhadapan dengan teman difabel. Intinya saya harus berhati-hati dalam menulis kata demi kata, sehingga tidak ada salah paham.

Karena menulis chat kepada teman tuli berbeda jauh dengan teman yang tuna netra. Cara menulisnya, susunan bahasanya, bahkan tanda baca yang digunakan sempat membuat saya kaget.
Tapi, mbak Gita, mentornya mentor dari pihak Kolla memberikan masukan bahwa itulah yang harus saya hadapi. Saya harus bisa menyesuaikan diri.


Training of Trainer

Program CM Disabilitas ini dimulai dengan 2 hari pelatihan untuk calon trainer  yang disebut ToT (Training of Trainer). Isi pelatihan bukan semata mengajarkan tentang coding, karena tentu saja calon mentor sudah paham semua karena rata-rata mereka adalah programmer dan web designer. 

Pelatihan lebih ditujukan cara mengajar kelas yang harus berdampingan dengan interpreter bahasa isyarat untuk teman tuli. 

Berikut adalah contoh ketika mbak Gita memberikan arahan kepada calon mentor, 





Selama proses ToT, calon mentor saling berdiskusi tentang bagaimana agar pelatihan selama 8 hari ke depan itu berjalan lancar, menyenangkan dan semua peserta utuh sampai akhir. Tidak mrotoli satu per satu di tengah jalan. Nah, mbak Balqis, guru SLB dan interpreter bahasa isyarat memberikan ide bahwa suasana harus menyenangkan dan kita, calon mentor, harus bersikap layaknya keluarga kepada para teman difabel. Untuk itu dia dan mbak Ani, seorang programmer yang akhirnya menjadi asisten mentor, membuat video untuk mengajak teman tuli bersemangat belajar coding. Inilah videonya,




Setelah dua hari ToT , langsung dilanjutkan dengan pelatihan reguler Coding Mum Disabilitas Surabaya 2018. Peserta sejumlah 20 orang, terdiri dari teman disabilitas tuli, tuna daksa dan slow learner, serta beberapa guru SLB dan pemilik yayasan peduli ABK sebagai perwakilan dari pemerhati disabilitas. Di program kali ini, kami belum bisa memfasilitasi teman dari tuna netra karena terbatasnya fasilitas dan sumber daya manusia. Mohon maaf untuk teman tuna netra. Semoga ada program Blind Coding nanti yang bisa diselenggarakan di lain waktu. 





Cara mengajar adalah seperti di bawah ini, ada mentor utama yaitu kak Korniawan serta satu interpreter bahasa isyarat di depan kelas. Mereka bergantian "bicara" menerangkan isi materi. 




Jika ada peserta yang kesulitan, maka ada 3 asisten mentor yang siap membantu, yaitu kak Tika, kak Ani dan kak Yakup. Bahkan ada 2 asisten mentor volunteer, kak Yudhi dan kak Qurin,  yang baik hati mau datang dan juga membantu dalam beberapa hari. 





Berikut gambaran pembelajaran coding dengan interpreter mbak Balqis dan mentor kak Korniawan.



Alhamdulillah CM Disabilitas ini selesai pas waktunya dan hampir semua pesertanya selalu masuk kelas. Ada beberapa yang absen karena harus menempuh ujian di sekolah. Atau peserta tuna daksa yang absen karena pendampingnya tidak bisa mengantar. 

Untuk mengatasi absennya peserta, kami memberikan forum tanya jawab di grup whatsapp. Dan saya berusaha merekam dengan baik sesi pelajaran yang diberikan, lalu membaginya di grup. Jadi saya selama pelatihan kerjanya jadi tukang foto dan tukang rekam video. Selain juga mengurusi printilan kebutuhan logistik dan harian selama acara. Misalnya kabel olor colokan listrik, tatanan kursi, layar dan projectornya, air minum, permen dan beberapa jajanan yang bisa dikunyah dan lain sebagainya. Ya namanya juga koordinator :)

tukang foto modal hape dan tripod dari jaknot 

Di sesi akhir pelatihan adalah presentasi. Semua peserta maju untuk presentasi. Sungguh mengharukan tapi tak ada satu pun yang berlinang air mata. Karena suasana begitu meriah dan rame. Khas Suroboyoan banget. 



Semua bersemangat dan bahkan presentasi kami diposting di instagram pribadi bapak Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF).


Coding Mum Disabilitas: Coding Mum Disabilitas Surabaya telah ditutup hari ini. Sebanyak 18 peserta Coding Mum Disabilitas mempresentasikan website hasil pelatihannya selama ini. Pelatihan coding yang diselenggarakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerjasama dengan PT Kolaborasi Ide Kreatif (Kolla Space) sudah dimulai sejak tanggal 19 April hingga 3 Mei 2018 di Rumah Kreatif BUMN Mandiri Surabaya. Kegiatan diikuti oleh peserta disabilitas yang memiliki minat untuk mempelajari coding. Ketiga juri yang hadir adalah Ibu Farida dari ITATS, Bapak Amin dari perwakilan BEKRAF dan Ibu Gita Citra dari Kolla Space. Peserta mayoritas adalah siswa SLB yang berasal dari Gresik dan Surabaya. Peserta dari Gresik setiap hari pulang pergi dari Gresik ke Rumah Kretif BUMN Surabaya dengan jarak tempuh lebih dari 1 jam. Berikut video pendek dari salah satu peserta dan beberapa foto.
Sebuah kiriman dibagikan oleh Triawan Munaf (@triawanmunaf) pada


Beberapa hari sebelum akhir pelatihan, kami mendiskusikan tentang program selanjutnya dari pelatihan ini. Dan alhamdulillah, mentor dan peserta sama antusiasnya ingin belajar terus. 

MENTOR, JURI, PESERTA Coding Mum Disabilitas Surabaya 2018

Begitulah secuplik pengalaman berharga saya ketika meng-handle Coding Mum Disabilitas Surabaya 2018. Cerita lengkapnya banyak banget sebenarnya. Bahkan layak dijadikan novel atau drama beberapa episode. Karena banyak sekali yang terjadi saat itu. Termasuk adanya visualisasi kepala perempuan tanpa jasad, yang sedang ikut kelas Coding Mum mulai awal sampai akhir, tapi hanya bisa disaksikan oleh satu peserta tuli . Hiyyy.... 






Mendadak Jadi Presiden Komunitas Coding Mum Indonesia

Tidak ada komentar
Sejak akhir tahun 2018 kemarin, saya resmi menjadi Presiden Komunitas Coding Mum Indonesia. Hal ini menjadi peristiwa yang sangat bersejarah buat saya, keluarga dan para pegiat Coding Mum di Surabaya. Sama sekali tidak menyangka, akhirnya suara terbanyak jatuh pada nama saya. "HENI", "MBAK HENI", "MBAK HENI SARANGHAEYO", beberapa kali nama itu disebut oleh ibu Susi ketika membacakan nama yang ditulis dalam gulungan kertas kecil itu. Kertas yang dibagikan ke semua wakil alumni Coding Mum se-Indonesia yang hadir di Hotel Tunjungan Surabaya, bulan November 2018.

Sebelumnya saya mohon maaf baru sempat menulis artikel ini sekarang, 19 Januari 2019. Karena sejak pelantikan jadi Presiden, isi kepala saya tak ada hentinya berpikir untuk bisa melaksanakan tugas dengan baik. Sampai saat ini pun banyak sekali putaran ide untuk program baru KCMI ke depan. Dengan siapa akan berkolaborasi dan lain sebagainya yang harus dibicarakan secara intens dengan Pengurus Inti KCMI, Ambassador KCMI dan juga pihak Kolla Education dan tentu saja BEKRAF.

Ibu Poppy Savitri, Direktur Edukasi Kreatif BEKRAF memberikan sambutan

Jadi ceritanya begini, CODING MUM itu sebenarnya program unggulan dari Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Indonesia, yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2016. Kebetulan, alhamdulillah, saya termasuk peserta Coding Mum di Surabaya angkatan pertama di tahun itu juga. Semenjak itu, saya dan beberapa alumni di Surabaya, gencar meneruskan "nafas edukasi dan pemberdayaan perempuan melalui teknologi" ini di Surabaya dan sekitarnya. Baik itu berupa seminar, workshop membuat website, menjadi narasumber di radio dan tentu saja aktif "bicara" di media sosial.

Selama dua tahun lebih itu, bisa dibilang para alumni Coding Mum di Indonesia masih berjalan sendiri-sendiri. Coding Mum sebenarnya sudah dilaksanakan juga di luar negeri, yaitu Hongkong dan Malaysia. Teman-teman yang berkerja sebagai Buruh Migran Indonesia, antusias sekali belajar coding bersama dan lulusannya bahkan ada yang sudah berani dan bisa menerima pekerjaan membuat website yang dikerjakan dari jarak jauh, karena klien mereka berasal dari Indonesia. Keren kan ya?

Program Coding Mum ini mulai diminati dan dirasakan manfaatnya. Alumni yang sudah mendapatkan pelatihan juga sudah ada dari beberapa kota besar di Indonesia. Alangkah baiknya jika program ini terus bergulir secara mandiri, untuk itulah dibentuklah Komunitas Coding Mum Indonesia. Pemberdayaan alumni untuk terus menggerakkan program ini diutarakan oleh mbak Ellen dan bu Susi dari pihak Kolla Space Education yang selama ini menjadi penyelenggara pelatihan Coding Mum.

Video Proses Pemilihan Pengurus Inti



Tentu saja rencana ini disambut dengan sangat antusias oleh kami, para wakil alumni Coding Mum dari Aceh sampai Jayapura yang hadir di Surabaya saat itu. Setelah pemilihan pengurus inti, kami bersiap untuk hadir ke Bekraf Festival Surabaya, yang juga acara besarnya Bekraf. Di momen ini saya juga sudah diminta sebelumnya untuk menjadi narasumber Talkshow Coding Mum. 

Intinya semuanya begitu antusias dan menyenangkan. Meluap-luap, meletup-letup sampai akhirnya saya tak begitu awas dengan langkah sendiri. Jadi setelah membuat video singkat ini untuk mengajak hadirin dan hadirat ingat untuk datang ke Grand City Mall Surabaya, tempat diadakannya talkshow sekaligus Bekraf Festival, eh tiba-tiba saya jatuh terkilir. Kaki yang mendadak menekuk sendiri dengan konfigurasi yang entah gimana itu rasanya sakiiit sekali. Apalagi kaki yang terkilir itu adalah kaki kiri, kaki yang beberapa tahun lalu sempat terkilir juga sampai retak, dioperasi dan dipasang kawat tembaga sampai sekarang. Kebayang ngilunya itu loh gaes. Sementara beberapa menit lagi, saya harus naik panggung untuk mengisi talkshow bersama Bu Poppy dan Mbak Ellen.


Video Reminder Talkshow



Talkshow harus terus berjalan


Begitulah, biar kaki ngilu dan sakitnya sampai ke ubun-ubun, semua rencana harus berjalan sebagaimana mestinya. Tepat ketika saya terkilir, ibu Susi buru-buru membawakan balsem yang entah dari siapa itu, untuk membuat kaki saya lumayan "panas". Saya olesi saja dan berusaha mengurutnya sedikit demi sedikit. Saya bersyukur karena kaki saya masih bisa digerakkan, jari-jari kaki bisa bergerak, diurut juga tak terlalu sakit seperti dulu. "Untunglah ini tidak retak lagi sepertinya, sakitnya tak seperti yang lalu itu", begitu saya ucapkan kepada bu Susi yang tampaknya cemas sekali. 

Allahu Akbar, peristiwa ini membuat saya mencoba meramunya menjadi hikmah. Biarpun ini bisa dibilang karangan saya sendiri. 
"Heni, kamu jadi Presiden, jadi pemimpin. Harus hati-hati dalam melangkah. Jika sembrono akan terkilir dan sakit seperti ini." Begitu yang saya ulang-ulang untuk menguatkan diri sendiri. Bahwa sakit ini adalah reminder dan saya nggak boleh cengeng. 

Alhamdulillah banyak teman baik, membantu menggandeng saya untuk naik turun panggung beberapa kali. Untuk momen talkshow, peresmian Komunitas Coding Mum Indonesia dan pelantikan menjadi Presiden, serta yang terakhir berfoto bersama Ketua BEKRAF, bapak Triawan Munaf dan semua anggota alumni dan Kolla yang hadir.

komunitas coding mum indonesia
Wakil alumni Coding Mum se-Indonesia bersama pak Triawan Munaf, Kepala BEKRAF

Begitulah, sejak tanggal 16 November 2018 itu saya resmi menjadi ketua umum yang selanjutnya disebut Presiden dari Komunitas Coding Mum Indonesia sampai 2 tahun ke depan. Semoga bisa menjalankan tugas dengan baik. Mohon dukungan teman-teman semua.

Jika ingin bergabung bersama kami, bisa mengunjungi website codingmum.id.
Sampai jumpa di kegiatan Coding Mum selanjutnya ya...