Podcast Bu Heni

Tampilkan postingan dengan label ibu rumah tangga satus persen. Tampilkan semua postingan

Nikah Dulu Baru S2

Tidak ada komentar

 Judulnya bukan untuk memprovokasi kalian untuk menikah muda. Nanti jadi korban Pernikahan Dini, bahaya. Halah. Yang tahu judul sinetron yang dimainkan Agnes Monica dan Syahrul Gunawan ini, fix, kita seumuran. 

Judulnya adalah cerita hidup saya. Yang nggak hebat-hebat amat, jadi ditulis bukan untuk ditiru atau dijadikan target hidup. Apalagi masuk dalam Vision Board kalian di rumah. Jangan. 

Ini adalah berbagi cerita, bahwa yang namanya Menikah Itu, memang beneran nggak mudah. Baik itu untuk perempuan Sarjana, Lulusan SMA, tidak sempat sekolah atau tidak boleh ikut ujian SD seperti ibu saya. 

Baiklah, mari kita lanjutkan ceritanya. 

saya dan suami di usia 20 tahun pernikahan

Begini, sebenarnya rada enggan ngobrolin tentang rumah tangga dan cinta-cintaan di media sosial atau di blog. Bukannya apa, takut menyinggung perasaan kalian yang berbeda cerita. 

Tapi sepertinya udah di usia 42 tahun ini, ya saatnya mendongeng alias berbagi cerita. Siapa tahu ada yang mengena di hati kalian dan bisa nambah wawasan untuk berpikir jernih sebelum mengambil keputusan untuk menikah. 


NIKAH DULU BARU S2

Iya benar. Tiga bulan sebelum Sidang Sarjana di Kimia ITB, saya menikah. Lalu mengerjakan Skripsi, sidang, baru lulus kuliah. 

Singkat cerita, setelah lulus Sarjana di Bandung, saya dan suami memutuskan kembali ke kota kelahiran saya di Surabaya. Hampir selama 12 tahun saya menjadi Ibu Rumah Tangga, yang melanjutkan kuliah S2 dengan biaya sendiri, alias didanai oleh gaji dan tabungan suami. Saya, sama sekali tidak berpenghasilan pada saat itu. 

Kok keren mbak Hen?

Kelihatannya iya. Tapi bener-bener itu adalah sejarah yang berdarah-darah. 


Menjadi Ibu Rumah Tangga setelah lulus Sarjana, sama sekali bukan impian saya bahkan bukan target hidup saya. Saat itu seharusnya saya menjadi PENELITI BIOKIMIA MEDIS di LIPI Bandung. Tepatnya di Laboratorium Bio Molekuler, tempat saya menyelesaikan Tugas Akhir, membantu ibu Zalinar Udin, Kepala Balai Laboratorium itu, yang kebetulan satu grup dengan saya, satu Dosen Pembimbing, almarhum bapak Agus Noer. 

Tugas akhir saya membantu penelitian Disertasi bu Zalinar yang sedang mengambil S3. Judul Skripsi saya adalah penelitian tentang Interaksi DNA Bakteri Salmonella Typhi dengan Ekstrak Tanaman Obat Gardenia Tubifera WALL. 

Wuhuu, saya masih hafal judul skripsi ini di luar kepala.

Hebat?

Bukan itu. Tapi menjadi dosen atau peneliti memang target saya selama kuliah. Bahkan ketika masih SMP dan SMA, atau masih muda, saya sudah "didoktrin" oleh ibu saya untuk kelak menjadi WANITA KARIR dan jangan sampai seperti ibu saya, yang (hanya) menjadi ibu rumah tangga. 

Kebayang apa yang terjadi, ketika strategi pasca menikah saya meleset. Yang harusnya, berdua dengan suami berkarir di Bandung, sama-sama menjadi pegawai BUMN. Lalu melepaskan semuanya dan kembali ke titik nol lagi di Surabaya. 

Suami saya dulu bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nasional) yang dibangun oleh bapak B.J. Habibie. Kelak berubah nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia. 

Dengan dua posisi karir yang sama-sama keren dan matang ini, kami berdua berani melangkah untuk menikah bahkan sebelum saya lulus Sarjana. 


BULAN MADU = NGERJAKAN SKRIPSI

Menikah dengan hal yang manis-manis dan unyu-unyu itu, serius nih, hanya ada di media sosial. Atau di cerita-cerita buku roman. 

Mungkin bisa begitu, kalau pernikahan sudah dalam kondisi ekonomi mapan, berkecukupan bahkan berlebihan. 

Sementara kami, nekad menikah dalam kondisi MINUS alias di bawah titik nol. 

Setelah menikah, kami tak punya tabungan sama sekali. Sepertinya hanya beberapa ratus ribu rupiah saja. Dan itu harus dibagi dengan ongkos naik kereta api kembali ke Bandung, segera, karena saya harus menyelesaikan Seminar Tugas Akhir, lalu skripsi dan sidang. 

Sejenak saja menggelar resepsi pernikahan yang biayanya hasil patungan dari keluarga besar. Lalu beberapa hari saja menginap di rumah orang tua suami. Tidak sampai sepasar atau seminggu kemudian, kami sudah harus kembali ke Bandung. Karena jadwal Seminar Tugas Akhir saya sudah keluar. 

Tanpa pikir panjang untuk bersenang-senang dan bahkan mengecewakan keluarga besar karena tidak sempat banyak menemui tamu dah saudara, kami hanya berkomitmen untuk menyelesaikan kuliah secepat mungkin. Dan tidak menundanya karena akan berdampak pada biaya.


KAMAR KOS PENUH TIKUS

Tidak begitu kaget juga ketika sepasang pengantin baru ini masuk ke kamar kos yang diobrak-abrik tikus di dalam kamar. Yang namanya Mesin Ketik manual saya, habis sudah dengan air kencing dan kotoran tikus yang kecil-kecil. Buku-buku, modul kuliah dan isi rak buku yang terbuka, kena juga jadi tempat pesta pora mereka, si Mickey Mouse, begitu saya menyebut para tikus berkuping bulat, berbadan kecil dan ke sana ke mari suka berjalan sambil membuang kotorannya itu. 

Tanpa ada amarah, tangis, sesal atau jengkel, kami meletakkan tas ransel dan barang bawaan di lantai kamar kos. Lalu gerak cepat membersihkan ini itu. Kemudian mandi dan beristirahat. 

Bersih-bersihnya tidak mudah ya, karena kamar mandi dan akses air bersih hanya ada di lantai bawah ibu kos. Kami ada di kamar atas, lantai kayu sementara yang dirombak menjadi kamar semi permanen dan kemudian disewakan sebagai tempat kos. Sebuah tempat yang kurang layak sebenarnya, namun itulah yang cukup untuk kantong kami berdua. 

Tinggal sekitar beberapa bulan di situ, sampai akhirnya kami putuskan mencari tempat kos yang lebih bersih dan di lantai satu saja, sehingga tidak repot kalau harus ke kamar mandi. Syukurlah akhirnya nemu pas di belakang gedung LIPI Bandung. Jadi saya kalau harus ke laboratorium, lebih dekat. Walaupun sama juga hanya perlu jalan kaki saja seperti di tempat kos sebelumnya. 

Ketika saya di Bandung, suami saya harusnya masih kuliah lagi di ITS (Surabaya), namun tinggal menyelesaikan skripsi. Ya suami saya lulusan D3 Teknik Mesin ITS, lalu kerja di IPTN atau PT. DI yang mengambil cuti belajar untuk kuliah lagi melanjutkan ke jenjang S1. 

Sebenarnya, semuanya akan sempurna, jika itungan kami berdua tepat. 

Seharusnya jika sesuai jadwal, kami berdua akan lulus barengan jadi Sarjana. Beneran barengan. 

Akan tetapi, nasib berkata lain, tugas akhir suami saya rumit. Mungkin topiknya yang dikaitkan dengan industri pesawat terbang tempatnya bekerja ya, jadi untuk menemukan software yang pas aja butuh perjuangan. Apalagi kami berdua hanya punya satu unit laptop Celeron, yang sering ngadat ketika suami butuh mengerjakannya untuk skripsi. 

Jangan ditanya bagaimana kondisi pengantin baru yang sama-sama didera skripsi ini. 

Asyik-asyik saja?

Tentu tidak. 

Tegang. Kepikiran terus. Harus berhemat sangat, karena gaji suami kan jadi setengah doang karena cuti belajar. Kebayang kan, setengah gaji untuk biaya hidup sehari-hari, bayar SPP kuliah berdua, bayar kos, transportasi naik angkot sampai 6 kali pulang pergi. Berat banget. 

Dan, kami sama sekali tidak menelepon orang tua atau mertua dan menangis-nangis minta pertolongan. Semua kami ambil sebagai tanggung jawab yang harus dipikul oleh kedua pundak kami sendiri. 

Ketika saya sudah yakin akan bekerja menjadi PENELITI sesuai impian dan target selama kuliah, lalu tiba-tiba saya terlambat datang bulan dan positif hamil, maka melepaskan impian itu dan sepakat kembali ke Surabaya adalah bentuk tanggung jawab saya sebagai perempuan yang memutuskan untuk menikah. 


MENIKAH ADALAH PERKARA TANGGUNG JAWAB

Dan, ketika saya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja selama belasan tahun, itu juga bentuk tanggung jawab.

Mungkin saja, kalian tidak mengalami hal yang sama dan masih bisa melakukan ini itu, bekerja, mencari penghasilan, bisnis dan lain sebagainya selama awal pernikahan. Namun, saya, tidak. 

Kondisi dan situasi saya, anak-anak dan suami yang masih merintis karir, membuat saya berpikir untuk mengalah lebih dulu. Menerima semua keterbatasan keuangan, aktivitas dan meredam ambisi pribadi, semata untuk membuat kondisi RUMAH TANGGA STABIL dulu. 

Baru ketika semua sudah kuat. Anak-anak sehat dan kuat dan mandiri. Suami sudah punya pekerjaan tetap yang bagus dengan posisi yang sangat kompeten di bidangnya. Barulah saya beranjak untuk kembali berkiprah. 

Bayangkan keputusan yang saya ambil ini membutuhkan waktu belasan tahun. Bukan sulap. Dan tidak instan sama sekali. 

Berusaha menahan diri atas nama tanggung jawab mengurus anak-anak, suami dan rumah tangga. Tanpa sama sekali merepotkan kedua belah orang tua. Adalah SENJATA UTAMA untuk laki-laki dan perempuan yang memutuskan untuk menikah. 

Tentu saja sangat tidak enak lebih banyak daripada enaknya. 

Konflik pun mudah terpicu. Karena saya dan suami sama-sama capek lahir batin. Sama-sama berusaha di sisi masing-masing. Dia bekerja sebagai Kepala Keluarga, walau harus lembur tiap hari bahkan sakit Typhus ketika anak-anak masih bayi. Saya pun harus menggedor pintu tetangga ketika tengah malam, meminta bantuan diantarkan ke rumah sakit. Karena saya ada bayi dan anak balita, tentu tidak bisa meninggalkan mereka berdua di rumah untuk membonceng suami saya ke dokter, kan?

Capek. Harus berhemat. Jarang piknik, karena harus berhemat pula. Menyimpan dalam-dalam semua kesusahan dari orang tua. Walau tak jarang, jadinya saudara dan orang tua menganggap kita sebagai orang yang pelit, tak peduli dan anti sosial, karena menarik diri dari beberapa hal dan kegiatan, serta tak mampu menceritakan kondisi keuangan yang sangat ketat dan harus super ngirit. 

Tak mudah menjalani ini semua. Bahkan ketika melanjutkan S2 juga entah komentar muncul dari kanan, kiri, atas dan bawah, masih terus saja ada. 

Kalau dipikir-pikir sekarang, kenapa saya dulu seberani itu melepaskan pekerjaan sebagai Peneliti. Padahal kuliah berdarah-darah selama 4 tahun demi menggapainya. 

Kenapa juga saya sukarela menjadi ibu rumah tangga saja, padahal bisa saja merepotkan orang tua, meminta bantuan ini itu supaya karir saya tetap jalan dan meningkat. 

Kenapa juga saya mau susah payah kuliah lagi S2, padahal pekerjaan suami sudah aman dan saya bisa duduk tenang menerima nafkahnya?

Ini semua adalah perkara TANGGUNG JAWAB. 

Saya menjadi ibu rumah tangga, karena merasa bahwa anak-anak yang saya lahirkan adalah tanggung jawab saya, bukan tugas kakek-neneknya. 

Bahwa saya kuliah lagi S2, itu adalah juga cara membuka pintu untuk kembali mengamalkan ilmu dan kemampuan diri, sebagai bentuk tanggung jawab saya diberikan titipan bakat sebagai pembelajar yang suka belajar dan mengajar. 

Nikah dulu baru S2. 

S2 dulu baru nikah. 

Menikah atau tidak menikah. Yang penting harus berani bertanggung jawab.














[womenhood] Emak Go Digital Kok Gaya Hidup Masih Konvensional ?!

1 komentar
Pada suatu hari saya menemukan satu postingan ini, tentang perempuan Palestina. Saya tertegun beberapa saat ketika membaca satu demi satu keterangan foto di dalamnya.


instagram

Inti dari postingan ini adalah:
Tentang Perempuan Palestina
1. Di Palestina wanita berlomba melahirkan generasi mujahiddin
2. Mereka bangga dari rahimnya lahir para pejuang yang mati syahid
3. Perempuan Palestina tidak kenal ke Mall dan tempat wisata
4. Bagi mereka medan jihad adalah "mall" dan tujuan wisatanya adalah akhirat
5. Di Palestina, kaum perempuan tidak lagi memikirkan kesibukan duniawi
6. Mereka memikirkan kontribusi apa yang bisa disumbangkan untuk Al Aqsha
7. Di Palestina, perempuan tidak minta perhiasan duniawi.
8. Karena mereka yakin, mereka sendiri adalah perhiasan dunia akhirat
9. Perempuan Palestina tidak pernah sibuk  memikirkan "krim" atau  "bedak" apa yang dapat memutihkan wajah.
10. Karena mereka yakin wajah mereka bersinar karena cahaya surgawi.

Wih membaca satu demi satu caption foto di postingan ini, rasanya makjleb di hati. Apalah diri ini? seperti remahan rengginang sisa lebaran yang tercekat di sudut kaleng Kong Guan?
Kecil banget.

Ulasan singkat itu juga mengingatkanku pada sosok para pahlawan perempuan jaman negara Indonesia ini belum merdeka. Mereka yang membantu para pejuang kemerdekaan dengan segala caranya. Seperti Srikandi Malahayati, Cut Nya Dien, Nyi Ageng Serang, Cut Meutia, dan lain sebagainya. Mereka pun pasti punya prinsip hidup seperti para perempuan Palestina. Tidak memikirkan printilan hidup duniawi dan hanya fokus berbuat sesuatu untuk negeri ini, untuk kemanusiaan dan untuk mewujudkan peng-Hamba-annya kepada TUHAN.

Hampir semua poin  di postingan instagram itu mengobrak-ngabrik hati saya. Namun hal itu juga membuat saya tersenyum lega. Seperti datang seorang Perempuan Palestina yang menepuk-nepuk pundak saya, memberikan penguatan sambil berkata, "Hai Heni, cara hidup yang kau pilih dan kau jalani ini, tidak salah". Lalu spontan saya curhat-curhatan di status whatsapp saya itu, sambil mojok di atas kasur, membatalkan niat menulis sesuatu di buku catatan sebelum tidur.


Inilah hasil semua screenshoot-nya, semoga menjadi sekadar masukan untuk sahabat sekalian tentang kehidupan.

















Ya, dari tiap kotak-kotak itu, anda pasti akan bisa menduga bagaimana saya ini menjalani hidup.
Lucu memang, karena sering orang mengira saya ini adalah perempuan alias emak-emak yang sangat aktif, pergi ke sana ke mari. Pagi, siang, malam bisa keluar untuk hangout, meeting, kerja atau apalah-apalah. Bisa cabut kapan saja untuk mengurus semua keperluan. Gaya hidup kekinian, begitulah kiranya.

Ternyata beda banget. Saya sering dibilang sebagai emak jadul. Sudah kelar kerjaan, langsung pulang. Nggak pakai stay sebentar untuk cangkrukan. Paling banter mandek sebentar untuk sekadar foto-foto di tempat yang bagus untuk diposting di instagram.

Dulu, saya pun resah dengan keterbatasan yang saya miliki ini. Sempat saya ikuti gaya hidup kekinian teman-teman yang baru saya kenal. Tapi saya resah. Hadir namun hati gelisah. Sering menggumam dalam hati, di tengah mall atau hotel atau restoran dan cafe yang mentereng itu, batin saya terus menerus bertanya, "Heni, kamu di sini untuk apa?". "Heni, sebandingkah ini semua dari pengorbananmu meninggalkan rumah?". Bisikan-bisikan semacam itulah yang terus menerus berputar di telinga batin saya.

Sampai akhirnya saya lelah melawan diri sendiri. Maka saya memilih berhenti menjadi kekinian dalam pergaulan. Saya menarik diri dari beberapa hal yang membuat saya resah. Saya bertanya berulang-ulang kepada TUHAN,...

"Ya Alloh SWT, saya harus bagaimana? apa tujuan KAU ciptakan diri ini? tugas apa sebenarnya aku hidup di dunia ini? tolong tunjukkan..."
Dan satu per satu jawaban itu pun ditunjukkan. Sampai akhirnya saya yang selalu berdiskusi dengan suami meyakini, bahwa tugas saya adalah di bidang pendidikan.

"Sudah ma, harus makin fokus sekarang. Kegiatan tidak terkait, lebih baik ditinggalkan. Waktu kita tidak banyak. Sampai kapan kita hidup, nggak ada yang tahu." Seperti itulah ucap suami saya. Dan saya yakini kebenarannya.

Maka, saya pun semakin yakin untuk KEMBALI KE RUMAH. Dan berusaha keras mencari cara agar dari rumah, saya masih bisa berkarya.

Mungkin saya harus keluar rumah, tapi itu untuk mengajar atau belajar atau terkait hal keduanya.

Mungkin saya juga ingin jalan-jalan, senang-senang, bercengkerama ringan, tapi itu jika semua urusan keluarga beres dan suami saya berkata Yess.

Istri zaman now, kok masih nurut suami?
Ah, kalau Alloh SWT dan Rasulullah Muhammad SAW tidak menganjurkan hal ini, ya nggak mungkinlah saya turuti.

Naif banget? iya kadang saya dinilai begitu.

Tapi ternyata pilihan hidup saya, menjadi satu hal yang bisa menguatkan beberapa perempuan lainnya. Terutama mereka yang baru memutuskan keluar dari pekerjaan dan menjadi ibu rumah tangga. Silahkan disimak beberapa tanggapan ini:







Apakah anda mengalami hal yang sama?



Independensi Ala Ibu Rumah Tangga

24 komentar
 It takes nothing to join the crowd. It takes everything to stand alone

Perlu keberanian berdaya ribuan kilo Joule, untuk memutuskan sebagai "independent". Tidak mudah mengatur hati, diri dan motivasi ketika bekerja sendiri. Apalagi jika alasannya adalah segala bentuk pekerjaan dan amanahmu sebagai ibu rumah tangga.


Kok gitu sih?
Anak-anak dihandle suaminya dong, gantian.

Manja banget sih anaknya?
Suruh mereka berangkat sendiri.


Pernah mendapatkan komentar seperti ini? 
Kalau saya sudah khatam, :)

Yaa, begitulah. Yang memahami perasaan ibu rumah tangga, ya.... mereka yang mengalami sendiri sebagai ibu rumah tangga 100% persen, tanpa asisten rumah tangga, tanpa siapapun yang bisa dititipi anaknya jika ditinggal.

Yang belum pernah merasakannya, mungkin akan lebih sulit paham, kenapa IRT itu mudah banget membatalkan janjinya, HANYA karena alasan anaknya sakit.
Atau susah diajak janjian karena alasan terbentur jadwal anaknya ikut lomba mewarnai atau sedang ujian tengah semester di sekolah.

Terdengar sangat remeh temeh, bagi mereka yang tidak tahu seberapa penting hal tersebut bagi kelangsungan hidup sebuah rumah tangga.

Proses Menjadi Independent


Menerima Diri Sendiri
Saya pernah masuk dalam momen putus asa ketika tidak bisa "join the crowd". Tidak bisa berkumpul, berkarya dan bekerja bersama-sama dengan kebanyakan orang. Di komunitas blogger, saya tak punya nyali karena susah sekali bertemu muka. Alasannya apa lagi, kecuali waktunya berbenturan dengan jadwal antar jemput anak sekolah. Apalagi jika acaranya mulai ba'da Maghrib. Itu adalah hal yang mustahil.

DEPRESI banget deh, asli.
Tapi, mau gimana lagi itulah tipe rumah tangga saya. Mengubahnya tidak bisa seperti sulap. Harus ada kesepakatan, pembiasaan dan perbincangan yang cukup panjang.
Ya, saya bertipe rumah tangga jadul, kuno, konservatif dan apalah sebutannya, Just Name It.




Terinspirasi Blind Coder (Programmer Tuna Netra)

Apa iya kita harus depresi terus?
Nggak jalan kemana-mana dong.

Saya tersengat dengan cerita ketika saya ikut acaranya Female Geek tantang programnya mengajari para tuna netra membuat website.

Mbak Anne mengatakan, programmer tuna netra ini berhasil membuat website.

Wow, bayangkan.
Saya saja memahami coding web design, merasa kesulitan dan mudah berhenti. Ini mereka yang mendengarkan code dan kerja komputer lewat suara, bisa berhasil.

Mereka punya banyak keterbatasan, tapi mereka bisa melaju terus. Lah, aku ini? sehat walafiat, normal semuanya. Kenapa harus berhenti hanya gara-gara tidak bisa pergi kemana-mana?
Memangnya kerja di balik meja, di dalam rumah tidak bisa menghasilkan apa-apa?
Tidak bisa mencapai kualitas yang baik?

Fokus Pada Kekuatan Diri
Baiklah, saya sudah mengesampingkan semua kesempatan yang lewat karena saya tidak bisa leluasa "join the crowd". Maka, saya fokus meningkatkan potensi diri, menambah ilmu pendukung profesi dan mengasah skill saya sampai mumpuni.

Saya memilih fokus di satu hal. Yaitu TEKNOLOGI.
Teknologi maksudnya seputar teknologi informasi, yaitu digital learning, digital writing, coding, blogging beraroma coding dan startup. Untungnya keluarga saya mempunyai toleransi dan dukungan besar dengan proses belajar. Jadi, saya bisa mengikuti even serupa seminar dan workshop.

Berani Berkata TIDAK
Karena memilih fokus di dunia IT, maka saya harus meneguhkan hati untuk berkata tidak pada hal-hal yang diluar tema saya. Karena waktu untuk keluar rumah tidak banyak, saya harus memilih dengan hati-hati. Keberanian ini juga mendapatkan respon beragam. Ada yang menghargai, ada juga yang berkomentar melemahkan. Sudahlah, anggak saja itu hukum alam.

Kerja Keras Tak Pernah Mengkhianati
Sunatullah berlaku disini. Siapa yang bekerja bersungguh-sungguh, akan menuai hasil yang ditunggu. Saya seribu persen yakin akan hal itu. Maka, saya atur strategi agar semua yang saya hasilkan bisa meningkat kualitasnya. Ketika menulis artikel di blog, saya usahakan isinya semakin berbobot. Saya melakukan riset yang cukup banyak, membaca beberapa artikel, membaca sejarah, mencari quote, mencari sudut pandang berbeda dan hal lain penting lainnya.

Saya membeli buku tentang Copywriting. Saya mengunduh aneka jenis ebook tentang elearning, startup, web design atau apalah yang ingin saya pahami lebih. Saya lakukan itu dengan ZERO MIND. Walaupun postingan itu tidak berbayar, jika topiknya mendukung fokus saya, akan saya lakukan sepenuh hati.

Saya berhati-hati sekali mengelola sosial media. Menahan diri sekuat tenaga tidak mudah membagikan berita viral atau berkomentar, jika itu tidak berkaitan atau mendukung fokus saya. Saya memilih mengalihkan atau mengisi beranda dengan nada motivasi dan inspirasi. Biarlah dianggap tidak update berita, tidak peduli, tidak berdoa; toh cara berdoa itu tidak dengan menuliskannya di status sosial media.

Dan sedikit demi sedikit, usaha kita menunjukkan hasilnya. Orang-orang yang mau bekerjasama dan membutuhkan jasa kita, ternyata datang sendiri karena kualitas yang mereka amati selama ini.


Puncak Independensi Ala Ibu Rumah Tangga
stand alone bravefully
Ketika prestasi kita sudah mulai nampak, mulailah banyak orang yang datang menawari kerjasama. Disini kita harus tetep pasang kepala dingin, waspada tidak jumawa.
From nothing to something, dari nggak dikenal lalu disapa saja, kita bisa merasa wah. Apalagi, jika orang datang, memuja muji kita dan ingin menggunakan jasa kita dalam projeknya.

Awalnya saya merasakan itu. Mudah merasa wah. Dan mudah berkomitmen dengan siapa saja yang katanya membutuhkan bantuan saya. Tetapi dengan berjalannya waktu, saya harus berpikir lebih bijak.
Projek yang menuntut waktu yang panjang, tidak berani saya ambil. 

Saya tidak berani ikut dalam projek jangka panjang yang menuntut meeting berkali-kali, sosialiasi berhari-hari, berkeliling dan pergi kemana-mana. Jika posisi saya masih muda, anak kuliahan atau baru lulus, okelah diajak ini itu yang butuh banyak waktu. Lah, saya ini ibu rumah tangga. Prioritas terbesar masih anak dan keluarga.

Jadi mohon maaf. Daripada nanti ujung-ujungnya konflik, pada ngambek kalau saya nggak bisa meeting karena kudu antar jemput anak. Yaaa, mending saya mundur dan mempersilahkan mereka mengatur jadwal lagi jika membutuhkan saya.

Alhamdulillah, cara ini ternyata bisa juga berjalan. Ketika saya memberikan rambu-rambu, bahwa kalau ngajak saya nggak bisa meeting dadakan karena meninggalkan anak dan suami di rumah, harus dilakukan persiapan ini itu. Sebisa mungkin saya maksimalkan teknologi komunikasi berupa email, messenger atau cloud computing untuk berbagi data. Sehingga mengurangi intensitas untuk meeting kopdaran yang memakan waktu.

Saya pun punya keterbatasan untuk pergi kemana-mana. Alasannya karena saya ini ahli nyasar juga sering nervous sendiri kalau jaraknya udah kejauhan apalagi bakal pulang malam. Efek kelamaan kudu semedi di dalam rumah kali ya? :)

Makanya, teman saya di komunitas Blogger sering bercanda, kalau ngajak mbak Heni, pasti ditanya dulu, "tempatnya dekat rumah nggak?" heheheeh.
Karena mereka udah hafal, kalau lokasi acaranya cukup jauh, saya pasti melipir nggak berani daftar.

Begitulah, bagi teman-teman yang mengalami kesulitan yang sama seperti saya dalam ranah ibu rumah tangga; bisa berbagi rasa dengan saya disini. Tetaplah semangat meningkatkan kualitas diri. Dan yakinlah, kalau sudah rejeki pasti datang sendiri. 
Ibu rumah tangga, punya peluang juga berprestasi.

Salam,

Heni Prasetyorini

Tetap Tegar Jadi Emak Gahar

34 komentar


Emak gahar dilarang tumbang!
Emak gahar dilarang nangis di pojokan!

Lah, mbak Heni, itu ngapain sampai mangap-mangap segala. 
Ekspresinya itu sepenuh hati banget gaharnya. 
Hahaha, itulah cara terampuh saya untuk "mencambuk" diri sendiri. Memaksa diri sendiri melawan baper dan mager. [*baper = bawa perasaan, mager = males gerak]

Apalagi kalau udah harus berhadapan dengan siklus bulanan yang memporak-porandakan mood, dan membuat kaki dan boyok terus nyut-nyutan. Linunya itu loh, kayak habis naik gunung sama himpunan pecinta alam aja. Perasaan jaman sekolah, naik lereng gunung sampai subuh terus pulang ke kos-kosan, besoknya aman aja lari ngejar angkot. Sekarang track jalan kaki cuma pagar dan dapur aja, aduuh badan pegel semua.

Perempuan Multitasking Butuh Multivitamin

Mendengar keluhan saya itu, banyak teman yang menganjurkan saya minum multivitamin mineral dalam kemasan modern yang siap minum. Secara umur juga udah lewat jauh dari angka 17 tahun, saya pun kudu tahu diri juga lah. Apalagi perempuan, kerjaannya banyak bener, nggak ada habisnya dengan waktu terbatas. Mau jadi ibu rumah tangga, kerja dirumah, kerja di kantor, pokoknya jadi emak-emak itu nggak mungkin lepas dari multitasking.

Terlebih kalau udah jadi emak-emak, jadi ibu, jadi mom.
Singkatan kata MOM juga apa coba?


MOM = Master of Multitasking. 


Menjadi seorang ibu adalah sebuah perjalanan baru menjadi manusia ajaib yang ahli melakukan beberapa hal sekaligus. Multitask.


Ajaib?

Ya, karena tanpa perlu adanya pelatihan tertentu, seorang ibu otomatis saja bisa melakukan semua hal dalam satu waktu. Misalnya menggendong anak, sambil menyusuinya, sambil membersihkan telinga anaknya, sambil berjalan kesana kemari dari dapur menuju tempat mesin cuci baju. Ya, semuanya bisa dilakukan sekaligus. Bahkan sesekali sang ibu mampir ke meja makan, mencomot beberapa potong tahu goreng untuk pengganjal lapar saat menyusui.  Hitunglah berapa jumlah pekerjaannya? Mau ditambahin lagi? bisa!

Dengan beberapa pekerjaan yang perlu diprioritaskan sekaligus dalam satu waktu inilah, perempuan biasanya kurang baik menata pola makan dan pola hidup yang sehat. Terkadang karena kelelahan pula, terjadi gangguan kesehatan dan pencernaan yang menyebabkan penyerapan vitamin dan mineral dalam tubuh jadi tidak optimal. 


Terlebih jenis vitamin dan mineral itu ada yang larut dalam air, yang bisa mudah hilang jadi keringat atau air seni. Jadi harus di-"supply" terus supaya metabolisme tubuh tetep berjalan baik. Cara termudah ya minum multivitamin dan mineral. Selain menjaga stamina, multivitamin mineral diperlukan juga untuk beberapa hal dalam infografik berikut ini:





Memilih multivitamin juga kudu ati-ati loh mak. Sesuaikan dengan kebutuhan gizi kita yang dipengaruhi gender dan juga umur. Untuk perempuan, suplemen multivitamin biasanya dirancang untuk kebutuhan usia subur 18 - 50 tahun. Bahkan pada wanita hamil, diperlukan multivitamin yang mengandung lebih banyak zat besi dan asam folat, utnuk mencegah bayi lahir cacat. 

Nah, di cerita awal saya lemah letih lesu, itu bisa dikarenakan kekurangan vitamin dan mineral. Emang mak, itu loh, walaupun vitamin dan mineral hanya diperlukan dalam jumlah kecil, akan tetapi penting. Kalau kekurangan bakal ada masalah, kalau berlebihan juga kurang baik. Lebih lengkapnya saya sajikan dalam bentuk tabel ini nih, biar mudah bacanya. 



Tabel1. Jenis Mineral, Fungsi dan Akibat jika kekurangan


Tabel 2. Jenis vitamin, produk makanan sesuai 


Ketika Menstruasi, Kemampuan Multitasking Perempuan Menurun


Jadi, kayak saya tuh, kalau lagi mens badan pegel semua, lemah, letih, lesu, itu bisa diakibatkan kurangnya asupan vitamin dan mineral berupa zat besi, Mangaan dan seng. Saat siklus menstruasi, bahkan ketika sudah menopouse, perempuan membutuhkan asupan zat seng dan zat besi dengan baik. Coba deh kalau lagi drop bulanan gitu, minum suplemen yang ada kedua unsur mineral tadi, dijamin badan lebih seger rasanya. 

Kebetulan, kemarin saya coba minum tuh multivitamin mineral Theragran M, lumayan badan ini jadi seger lagi dan bisa neruskan beberapa pekerjaan yang tertunda. Itu karena, di dalam setiap kapsulnya mengandung beberapa vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh, dengan komposisi tepat. Minumnya juga sehari sekali saja ya, kecuali dokter menganjurkan lain. 


multivitamin theragran M
Jenis vitamin dan mineral yang ada dalam Theragran M


komposisi Multivitamin Mineral Theragran M

Nah, jadi kenapa ada orang bilang kalau multitasking perempuan menurun ketika mens? 

ya karena setelah diteliti, kemampuan spasial perempuan berkurang dalam siklus mens bulanannya. Kemampuan spasial itu penting karena menentukan kemampuan menggabungkan beberapa kemampuan yang berbeda sekaligus. Tetapi hal ini juga berbeda-beda sih, tergantung bawaan tiap orang juga. Ada perempuan yang makin lincah gesit saat mens, ada yang makin susah mikir banyak hal dan melakukan multitasking. 



Pokoknya kalau mau kerja multitasking, butuh banyak energi deh, kayak animasi di bawah ini:


Ingat! Jangan Berlebihan

Walaupun sangat berguna untuk kesehatan, minum multivitamin tidak boleh berlebih loh mak. Hindari multivitamin yang melebihi 100% dari nilai harian yang direkomendasikan. Karena kalau kebanyakan dalam dosis besar, dapat jadi racun bukan jadi nutrisi dalam makanan. Misalnya kelebihan kalsium, akan menghambat penyerapan zat besi. Pokoknya pilih multivitamin dengan komposisi seimbanglah kayak Theragran M ini, yang diproduksi perusahaan terpercaya PT. Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk. Belinya juga gampang, ada di apotek terdekat atau apotek online yang sekarang sudah mulai banyak beredar di internet. 


Tetap Tegar Jadi Emak Gahar

Bener juga nih, setelah rutin mengkonsumsi multivitamin mineral Theragran M, badan jadi lebih segeran. Nggak gampang ngantuk, lesu dan bete lagi. Pekerjaan rumah beres, urusan kerjaan di blog dan edupreneur juga oke. Proposal training digital learning yang sudah diminta oleh pihak sekolah, bisa saya hias lagi dengan beberapa infografik dan mengirimnya menjadi berkas yang lebih cantik. 
fotonya yang cakepan dikit napa mak? :D
Serius nih, nggak mudah jadi perempuan loh, apalagi emak gahar. Kan emak gahar nggak boleh nangis di pojokan? wkk..

Yang artinya, biarpun migren melanda atau gundah gulana kehidupan datang menerjang, tetep aja rencana kerja kudu jalan terus. 

Demi apa coba?
Emak gahar ingin membangun 7 karakter perempuan sukses. Ingin menguji kemampuan diri sendiri, seberapa besar pencapaian yang bisa dibangun oleh perempuan yang baru bisa berkarya setelah belasan tahun menjadi ibu rumah tangga. Nah, 7 karakter ini harus saya upayakan sekuat tenaga tetap ada dalam diri saya. Yaitu:
  1. punya passion yang kuat
  2. mau bekerja keras
  3. fokus 
  4. punya motivasi diri yang kuat
  5. melayani sepenuh hati
  6. gigih menghadapi rintangan
  7. percaya diri
Apalagi saya nih dianugerahi anak laki-laki semua. Saya kudu menunjukkan ketangguhan dalam menjalani hidup. Sehingga anak saya jadi anak gadas, kuat sekuat batu cadas. Tapi itu semua tidak hanya dibangun dengan tekad. Melainkan kudu dibarengi gaya hidup sehat. Sepakat? 

Semoga menginspirasi ya...

Salam, 


Emak Gahar :D
alias Heni Prasetyorini







Saat Ibu Rumah Tangga Ngayal Jadi Juragan Minimarket

6 komentar

Kalau dibilang ibu rumah tangga suka banget baper, itu bener sekali. Terutama di bagian ujung dan akhir dari kolom mingguan kalender. Awal bulan dan akhir bulan, *sigh. Saat awal bulan, harusnya kita gembira ria ya, dana segar udah cair. Tapi, jujur saya sering banget baper pas giliran belanja kebutuhan bulanan untuk sembako dan aneka ria jenis sabun. Tiap maju di meja kasir, sering saya mbatin gini,
"dari dulu kok giliran aku aja yang beli dan bayar, kapan giliranku yang jual?"
 Yang artinya, kapan yaa bisa punya minimarket kayak Alfamart gini. Udah adem, bersih, rapi plus selalu disambut dengan kalimat "selamat datang...." lalu dilepas dengan kalimat, "selamat datang kembali...". So sweet kan? :D

koleksi Alfamart.com
Ya ampun Heni, bangun atuh.
Mimpi kok segede langit pengen punya bisnis franchise alfamart. Eh lah, siapa tahu diijabah oleh Sang Penguasa Alam Semesta? iya toh? Apalagi katanya, bermimpi harus sampai setinggi langit. Biar kalau jatuh, masih berada diantara bintang-bintang. Yang artinya, nggak ada salahnya ibu rumah tangga bermimpi jadi juragan minimarket paling hits di Indonesia ini. Siapa tahu ada teman baik hati, mampir lalu ngasih modal, ya kan?
amin
*lalu berdo'a di pojokan kamar :)

FYI ya Gaess..
For Your Information.
Cakep-cakep gini, saya udah pengalaman dagang loh. Biar kata kemarin berkutat sama tabung reaksi dan erlenmeyer. Ketika fix jadi IRT, jiwa dagang saya mulai dipaksa muncul, hehehe.

Enggak kok, serius.
Memang saya keturunan pedagang. Nenek dari ibu saya, gemar berdagang dan kreatif sekali. Kesukaan nenek, yang kami panggil, Mbah Pa, adalah berjualan makanan alias bisnis kuliner. Mbah Pa pernah jualan rujak ulek, buka warung, jualan kue dan es di depan asrama polisi tempat mbah dan ibu saya tinggal.

Ibu saya selain jadi penjahit, juga suka bisnis kuliner. Malah yang paling lama itu bisnis jualan Jamu seduh. Aneka jenis dan merk jamu seduh saya tahu. Cara mengadon jamu juga saya cukup piawai. Bahkan saya dan adik cewek saya, kalau iseng bikin jamu sariawan atau jamu Gadis Remaja. Dibikin sendiri, dikasih madu, diminum sendiri. Iseng-iseng berhadiah kesehatan, hihihi.

Ndilalah alias kebetulan juga, ibu mertua saya penjahit pula. Hadeeh jodoh banget ya, saya dan suami. Sampai profesi ibu kami pun sama.

Nah, sejak saya bertransformasi jadi Ibu Rumah Tangga, saya pun mulai berdagang. Diawali dengan jualan daster milik kakak ipar. Lalu merambah produksi jilbab sendiri dan menjualnya secara online. Sempat ikutan MLM jualan produk madu, tapi gagal total. Lalu membuat aksesoris dari kawat, belajar otodidak sampai ada orang Malaysia yang ingin memesan. Dan dari produk kreatif ini, saya bisa diliput oleh Metro TV Jatim di segmen wideshot Inspirasi Bisnis Kreatif tahun 2013.

Yang intinya adalah, sekali kita berdagang maka virus dagang itu akan melekat erat sampai ke sel DNA. eaaaa...biologis banget siihh Hen.

Beneran, suer. Walaupun sekarang saya milihnya ke jalur digitalpreneur, tetep aja jika ada peluang bisnis maka radar saya akan menyala. Buktinya ya dari kegelisahan saya ketika belanja bahan bulanan di minimarket itu tadi. Gelisah untuk memilih jadi penjual daripada sekedar pembeli. Mimpi setinggi langitnya ya jadi  pemilik bisnis franchise alfamart. Apalagi setelah mengalami pengalaman dagang, serta berkumpul dengan para ahli di bidangnya.

Saya berkesimpulan bahwa berdagang itu tak sekedar nyari duit, nyari untung. Tetapi bisa diniatkan memberikan kemudahan kepada user atau konsumen kita. 

Salah satunya ya seperti minimarket itu tadi. Dengan lebih lengkapnya barang yang tersedia, dengan harga terjangkau, maka konsumen mudah mengakses toko dan memenuhi kebutuhannya. Tidak perlu parkir di tempat yang jauh meliuk-liuk. Cukup jalan kaki beberapa meter atau naik sepeda motor sekitar lima menit, sudah sampai di minimarket.

Kebayang juga saya jadi juragan minimarket, bakal punya banyak teman baru. Karena saya paling seneng nemenin di bagian kasir, lalu ngajak ngobrol orang. Asik gitu, lihat aneka karakter orang dan cara mereka menjawab pertanyaan kita. Terkadang bisa belajar tentang kehidupan tanpa sadar. Yang pasti, di minimarket saya nanti ada spot untuk jualan buku unik dan menarik. Ditambah sesi dongeng tiap Minggu pagi di pelataran minimarket. Aiihh, bakal banyak anak kecil-kecil lucu, imut, ginuk-ginuk.

Amin, Ya Rabb...
Tolong Like, Share dan tulis Amin.
Hihihi...

So, khayalanmu apa?







Jadi Makin Semangat Nih! Dengan PC All in One ASUS V200IB, Bisa Lebih Cepat Start Membuka Kursus

13 komentar
3 tips sukses: Mulai dari hal kecil, Mulai dari diri sendiri, Mulai sekarang juga 

Membuka kursus atau lembaga pendidikan non formal, bukan hal baru bagi saya. Waktu saya SD, sekitar tahun 1990-an, kakak saya membuka kursus komputer, akuntansi dan bahasa Inggris di rumah ibu. Saya sempat "magang" jadi tukang ketik buku modulnya dan mendapat gaji 5 ribu :-D.

Sewaktu saya hamil anak pertama, saya sempat membuka bimbingan belajar untuk anak SD-SMP-SMA dan sebuah usaha jasa pengetikan. Walau usaha ini berhenti karena sesuatu hal, namun keinginan untuk membuat "usaha" serupa terus menyala di hati saya.

Waktu pun bergulir, sampai ilmu saya makin bertambah tanpa terasa. Iya, saya mendapat ilmu dari dunia online, dunia digital. Mulai membuat blog, menjadi blogger, menulis konten digital, membuat dan mengendalikan toko online, mengenal e-learning, digital learning di Teknologi Pendidikan serta terakhir saya belajar pemrograman di kursus Coding Mum.


Inspirasi Membuat Kursus Untuk Perempuan


Sewaktu presentasi di Coding Mum, saya menyajikan desain website Akademi Prasetyorini. Yaitu sebuah lembaga belajar untuk perempuan di ranah bisnis, kreatif dan digital. Rencana awal saya akan berkolaborasi dengan 2 teman lainnya. Namun ternyata ada perubahan. Teman saya pindah rumah, jauh dari saya dan sulit untuk meneruskan rencana. Tidak mudah mencari patner pengganti. Akhirnya saya fokuskan untuk bergerak di bidang digital aja. Memberikan kursus tentang materi digital, untuk membantu guru meningkatkan kinerjanya di sekolah dan mencetak calon perempuan pengusaha baru di dunia digital kreatif.

Dengan keputusan ini, maka saya harus maju sendiri. Jika melihat profil lembaga pendidikan serupa, sepertinya banyak sekali yang harus dipersiapkan dan itu mahal. Ajaib dan mustahil rasanya saya sanggup. Namun saya kembali ingat dua perempuan yang memberikan inspirasi.

Pertama, Bu Aisyah dan profil sekolah gratis khusus anak perempuan yang dikelolanya. Kalau tidak salah lokasinya di daerah Jawa Barat. Dari beliau sebuah nasihat saya catat, "Mendidik Satu Perempuan Artinya Mendidik Satu Generasi".

Kedua, bu Ratih dan kursus rias di Surabaya. Waktu itu saya berkunjung ke rumahnya atas rekomendasi kakak, ketika saya akan menikah dan mencari perias. Rumahnya kecil sekali, masuk gang kecil dan ruwet; bisa dibilang gang tikus. Di rumah kecilnya itu, penuh dengan etalase besar berisi baju pengantin dan perangkat make up. Space untuk tamu, hanya sebuah sofa kecil, itu pun ada beberapa blangkon disana. Yang menarik, di space kecil itu, saya sebagai tamu, harus berbagi tempat dengan dua pasang perempuan yang sedang belajar rias pengantin. Riasannya bagus dan cantik sekali. Menurut bu Ratih, mereka adalah peserta kursus. Dari beliau saya mendapatkan pelajaran, "Memulai Sebuah Kursus Bisa dari Tempat Yang Sederhana".

Dari sini saya mendapatkan inspirasi dan semangat, bahwa sekarang pun saya bisa mulai membuka kursus di rumah. Dengan bekal niat, sebuah netbook mini, televisi dan ruang tamu di rumah sendiri.


Kendala Yang Saya Hadapi

Namun ternyata, saya mempunyai kendala. Netbook saya ukuran layarnya sangat kecil. Dengan layar kecil, tampilan presentasi akan terbatas dan terpotong. Terlebih jika saya ingin membuat screenshoot tiap tahapan belajar sebagai materi tutorial/kursus. Saya butuh laptop yang lebih besar atau saya butuh komputer, begitu pikir saya.

Screenshoot Terbatas Karena Layar Netbook Saya Kurang Besar

Selain itu, beberapa kali netbook saya nge-hang karena "panas" jika dipakai untuk waktu lama. Teman saya yang programmer, menganjurkan jika di rumah lebih baik menggunakan komputer saja, karena lebih stabil. Namun suami saya bilang, kalau komputer itu butuh listrik yang banyak, juga tempat yang lumayan besar. Sedangkan ukuran space bebas di ruang tamu kami hanya sekitar 3x6 meter. Juga perlu pertimbangan modal keuangan kami masih terbatas dan harus dibagi dengan keperluan lain. 

Jadi gimana nih?
Apa niat harus berhenti karena berbagai kendala?
Saya sudah terlatih untuk terus maju walau fasilitas belum ada.
Bondo Nekad, Bonek, Modal Nekad, gitulah maksudnya. Jadi, ayo maju terus....!


Perangkat Komputer Penunjang Bisnis Yang Saya Butuhkan

Analisa kebutuhan komputer yang sudah kami bicarakan adalah, komputer yang spesifikasi-nya bisa untuk pemrograman dan desain grafis, layar lebar, audio bagus untuk merekam tutorial atau presentasi, hemat listrik, hemat tempat, harga terjangkau. 

Tabungan pribadi saya tak seberapa, maka harus sangat hati-hati memperhitungkan pengeluarannya. Setelah semedi dan browsing kesana-kemari, alhamdulillah akhirnya saya nemu satu perangkat yang tepat bahkan sangat tepat.

Perangkatnya adalah komputer model baru, canggih, keren, kompak, yaitu PC All in One ASUS Vivo AiO V200IB. PC All in One berbasis Intel Pentium Processor ini dibandrol dengan harga sekitar 5 juta-an. Nah, dari segi harga, sudah cocok, bagaimana spesifikasinya?.
Amaziingg...saya amazing melihat foto produk, video review dan spesifikasinya. This is it, inilah yang saya cari.















PC All In One ASUS Vivo AiO V200IB 


Vivo AiO V200IB
PC All in One ASUS Vivo AiO V200IB, 
gambar dari web https://www.asus.com/AllinOne-PCs/Vivo-AiO-V200IB/




Dari video review produknya, saya makin terkiwir-kiwir, jatuh cinta lahir batin, beneran sumpah.
Anak saya sampai heran, kenapa saya jingkrak-jingkrak sambil narik-narik sarung suami saya, saking senengnya. Loh kok sarung sih?
Hehehe, doski baru pulang dari masjid soalnya waktu saya nemu informasi tentang PC All in One ASUS Vivo AiO V200IB ini.
"Mas, mas, lihat lihat nih, cocok dengan yang aku butuhkan untuk bikin kursus!"


Semua Yang Saya Butuhkan Ada di PC All in One ASUS Vivo AiO V200IB



Jadi begini, PC All in One itu adalah PC yang CPU-nya udah jadi satu dengan monitornya. Sekilas penampakan seperti monitor saja, atau malah seperti televisi. Nah, PC All In One ASUS V200IB bentuknya kompak, stylish juga kokoh. Bisa diletakkan dengan rapi di rumah saya dengan satu meja panjang. Cukup deh bikin kursus di rumah saya yang mungil.


PC All In One ASUS V200IB ukuran layarnya gede juga; 19,5 inch. Dilengkapi layar LED-baklit yang menawarkan kecerahan sehingga gambar tampak hidup. Sesuai juga dengan kebutuhan saya, untuk membuat rekaman desktop atau merekam diri sendiri sebagai video tutorial. Juga enak untuk kelas digital dengan tele-conference atau video chat. Kursus online makin enak dilakukan dengan layar lebar. 


Keren nih, ada juga teknologi layar sentuh 10 jari. Kalau mau edit gambar mudah kan, nggak perlu beli drawing pad lagi. Peserta kursus juga pasti bakal suka. Untuk presentasi juga pasti mudah dan menarik. 


Gambar bagus kalau suaranya pelan ya kurang asik kan? jangan kuatir deh. Pakai PC All in One ASUS V200IB ini suaranya ciamik. Teknologi ASUS Sonic Master nya udah built in. Malah bisa diatur 5 mode loh, untuk music, movie, gaming, recording dan speech. Lengkap pokoknya.



Dengan Intel Premium Processor- ASUS V200IB hanya membutuhkan energi yang kecil (hemat listrik) tapi performa tetap bagus. Untuk multitasking juga kuat, perpindahan cepat dan halus. Mau browsing, sekaligus nonton animasi, sambil ngedit video...bisaaaa banget.  Ditambah lagi Advanced NIVIDIA Ge Force Graphic 930M yang digunakan. Menampilkan atau membuat video HD bisa lebih cepat. Juga hemat waktu kalau mau mengirimkan foto berkualitas tinggi. 


Yang amazing lagi, teknologi NFC nih. Dengan teknologi ini (dari video reviewnya diatas), kita bisa melihat gambar hasil jepretan henpon tanpa perlu kabel data. Cukup henponnya diletakkan seperti di gambar, maka log in dengan tap, dan bisa kita nikmati gambar atau file lain di henpon langsung ke layar monitor. Ajaib ya?


Pernah kagum dengan charger henpon wireless atau tanpa kabel? nah ini dia, di ASUS V200IB bisa dilakukan loh. Kita lagi kerja pake komputer kompak ini, sambil sekalian nge-charge henpon. Nggak pake repot, nggak pake kabel dan beneran meja kita jadi rapi jali. fiuuh, canggih banget sih ASUS..



Jika bekerja di bagian desain grafis, pasti butuh akses file gambar banyak. Juga untuk programmer, itu file codingnya juga gede banget. Biar aman biasanya disimpan di harddisk eksternal. Nah, port USB  dari ASUS V200IB ini ada banyak. Bahkan port HDMI juga ada, biar bisa disambungkan ke televisi dengan layar lebih besar, jadi kerjaan mengajar atau presentasi bisa lebih leluasa. 


Teknologi pembaca Smart Card juga keren. Biasanya kita nunggu transfer data sampai ngantuk..karena lama. Nah pake ASUS ya gpl deh, ga pake lama. 

Pokoknya kerjaan beress tuntass dengan ASUS V200IB



Spesifikasi PC All in One ASUS V200IB ini sesuai dengan materi kursus yang akan saya berikan:
  1. Materi Microsoft Office untuk bisa buka usaha jasa pengetikan
  2. Membuat Blog dan mengoptimasikannya
  3. Membuat konten digital untuk personal atau pengajar (guru)
  4. Membuat kelas virtual dengan platform digital learning (guru) 
  5. Membuat web design dan belajar front end programming
  6. Membuat aplikasi berbasis android 

Keenam materi digital itu, saya olah sedemikian rupa sehingga sesuai dengan tahapan pemula dan lanjutan (advance). Sementara sasaran peserta selain perempuan pada umumnya (ibu rumah tangga dan profesi lain), juga para pengajar (guru) dan penyelenggara bimbel yang ingin meningkatkan usahanya di ranah digital.

Strategi belajar juga akan menggunakan metode Blended Learning, yaitu kombinasi kelas tatap muka dan kelas online. Peserta bisa mengulang materi belajar secara mandiri di rumah, melalui website dan sumber belajar yang sudah saya siapkan.


Skenario Usaha Ada 3 Tahapan


Perkara perangkat sudah beres, saya tinggal memantapkan desain skenario usaha kursus yang ingin saya kembangkan. Karena harga produk juga sudah ada, mudah bagi saya menghitung rencana bisnis dalam jangka waktu 3-5 sampai 10 tahun ke depan. 

Skenarionya begini:
  • 1-3 tahun, Tahap Inkubasi. 
  • 3-5 tahun, Tahap Pemantapan.
  • 5-10 tahun, Tahap Pengembangan.




Tahap Inkubasi 
Masa ini, kursus dimulai saat ini juga, dengan perangkat yang ada. Rencananya, saya hanya membutuhkan perangkat berupa:
  1. PC All in One Asus untuk membuat konten digital/materi kursus dan presentasi (untuk saya pribadi sebagai pengajar).
  2. Kabel HDMI untuk menyambungkan PC All in One Asus dengan televisi
  3. Televisi (sudah ada)
  4. Ruangan (belajar dengan lesehan di lantai).
  5. Laptop dibawa oleh masing-masing peserta kursus
  6. Akses internet dengan wifi kabel (sudah ada)
Dari masa inkubasi ini, evaluasi dilakukan untuk memantapkan fokus materi kursus, strategi pengajaran yang sesuai dengan peserta dan perangkat yang dibutuhkan.

Tahap Pemantapan
Modal untuk penambahan perangkat dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk renovasi ruangan dan tambahan perangkat. Rencananya fasilitas yang akan diwujudkan adalah:
  1. 6-12 unit PC All in One ASUS untuk peserta
  2. LCD Proyektor
  3. Meja panjang untuk peserta dengan sudah disediakan PC All in One Asus
  4. Akses internet dengan wifi kabel (sudah ada)
  5. Lokasi masih di rumah
  6. Pengajar tambahan diambil dari alumni
Tahap Pengembangan 
Di tahap ini kursus sudah mapan, baik dari segi manajemen dan sistem usaha juga dari keuangan. Ada 3 hal yang ingin saya kembangkan dari sini, yaitu Franchise, Kredit PC All in One dan Cafe Coding. 
  1. Franchise adalah projek untuk mereka yang sudah punya modal dan memenuhi ketentuan yang kami berikan. Selain sistem usaha, kami juga menyediakan perangkat berupa PC All in One ASUS, LCD Projector, Kabel HDMI, dll. 
  2. Kredit PC All in One Asus, kami tujukan pada alumni yang ingin mulai membuka usaha sendiri di rumah dengan modal terbatas. Mengingat saya sendiri juga pernah mengalami kendala yang sama ketika akan memulai usaha. 
  3. Cafe Coding adalah projek entertainment dan komunitas alumni yang perlu dijaga loyalitasnya sehingga usaha kursus tetap bertahan lama. Cafe ini berisi spot makanan dan spot ngoding, salah satu materi kursus. Spot ini berisi beberapa unit PC All in One ASUS, yang bisa digunakan oleh pengunjung. Disini juga diberikan ruangan untuk presentasi bagi para komunitas yang ingin membuat workshop atau launching produk baru. 
Mengapa 3 tahapan?
Kalau melihat skenario bisnis saya, kesannya lambat ya? 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun.
Hal ini bukan karena saya kurang percaya diri, namun saya memang menyesuaikan langkah. Ibaratnya saya tidak tancap gas pol, melainkan perlahan tapi pasti. 
Kenapa?
Tentu saja karena saya masih harus menjadikan anak-anak dalam skala prioritas. Saya ingin bisa membimbing anak dalam belajar sampai di tahapan sekolah yang aman, minimal SMA, baru bisa saya lepas mandiri 100%. Sekarang anak terkecil saya masih berusia 10 tahun masih kelas 4 SD. Jadi 3 tahapan skenario itu saya buat, agar tetap seimbang antara bisnis dan keluarga. 

Mengapa hanya perempuan?
Sejak awal saya menyatakan, ingin terlibat dalam projek pengembangan perempuan, baik secara pendidikan dan kemandirian. Selain itu di tahapan inkubasi dan pemantapan, keduanya saya lakukan di rumah. Selain karena saya ingin berbagi untuk perempuan, saya juga harus menjaga kehormatan suami dan keluarga. Akan lebih elok jika interaksi intens terjadi sesama perempuan saja ketika di rumah. Jika usaha sudah berkembang, saya akan meng-handle-nya langsung bersama suami dan dua anak laki-laki saya, maka bisa lebih luas jangkauan peserta kursusnya.

Mengapa di semua tahapan tetap setia dengan PC All in One ASUS?
Dengan suami saja setia, kenapa dengan ASUS enggak?
#eaaa....

Saya sudah percaya dengan kualitas ASUS. Waktu kuliah pasca kemarin, dosen saya, pak B julukannya, sering memamerkan laptopnya pada kami. "Walau semua udah ganti, saya selalu setia sama ASUS. Nih laptop bandel banget!", begitu katanya. Dan beberapa teman juga memilih ASUS. Saya pun yakin takkan salah pilih untuk selalu menggunakan produk ASUS untuk kepentingan pribadi maupun usaha dan bisnis. Recommended windows desktop brand loh nih ASUS.  
ASUS Desktops – Most recommended Windows desktop brand.


Apalagi produk ASUS PC All in One yang canggih dan keren itu. Kekuatan komputasinya dapat menunjang bisnis tradisional dengan teknologi terkini berupa layar sentuh 10 jari, koneksi port serial (COM), modul NFC dan pembaca Smart Card untuk mendukung aplikasi bisnis. Juga, karena bodinya ramping dan kompak, menjadikan produk ini sempurna untuk bisnis yang memiliki keterbatasan ruang area kerja. Cocok sebagai penunjang rencana untuk memulai kursus di rumah minimalis. 

Baiklah semua spesifikasi PC All in One ASUS V200IB sudah saya ulik sedemikian rupa. Dan hasilnya sesuai banget dengan kebutuhan saya membuat kursus. Alhamdulillah, untung saya ketemu ASUS. Sudah kebayang kelak kursus saya  pasti bisa berjalan asyik, seru, menarik dan maknyuuss. 
*Sumber foto yang diedit dan sumber informasi diambil dari https://www.asus.com/AllinOne-PCs/Vivo-AiO-V200IB/

keterangan:
Artikel ini diikutsertakan dalam ASUSPRO Intel Writing Competition, dan alhamdulillah mendapatkan Juara 2 untuk kategori All in One. Semoga ASUS makin jaya, dan kursus saya bisa segera dimulai dengan materi belajar yang makin enak dibaca. Terima kasih dan sukses ya ASUS