Podcast Bu Heni

Tampilkan postingan dengan label ibu rumah tangga digital. Tampilkan semua postingan

Inspirasi Untuk Ibu Rumah Tangga Digital: Membangun Passive Income

Tidak ada komentar

Passive Income atau pendapatan pasif ini yang kumaksudkan adalah mendapatkan pemasukan berupa uang, dari jasa dan produk digital, yang sekali saja bikinnya dan bisa menghasilkan berulang-ulang.

Berbeda dengan membuka kelas online di KELASKU DIGITAL, yang aku harus mengajar setiap kali ada sesi kelas. Ini bukan disebut passive income. Melainkan active income. Sepertinya begitu. 


Ada beberapa sumber penghasilan yang kuharapkan bisa mendatangkan Passive Income ini, yaitu:

  1. Membuat online course di Udemy.com
  2. Memasang Google Ads di beberapa blog
  3. Ikut afiliasi
  4. Monitize Channel YouTube
  5. Podcast di Anchor dan Spotify

Untuk poin ke-4, entahlah susah amat. Subscriber channel pribadiku dan Kelasku Digital, masih berputar dari 100-200 orang saja, susah banget nambahnya. Dan aku tak pandai juga membuat konten video secara rutin. 

Termasuk poin kelima, dengan kendala mood juga perangkat rekaman yang kurang bagus. Jadi podcast resmiku masih isi beberapa aja.

Yang paling mudah kulakukan adalah menulis di blog, ini bisa spontan. Dan karena terbiasa membuat konten job review, maka menulis postingan untuk afiliasi juga bisa cepat daripada merekam suara dan membuat video. 

Untuk membuat kursus online atau e-course di Udemy, ini adalah niat terkuat untuk mencoba platform yang bagiku dulu sangatlah sulit ditembus. Berbekal OBS dan mic punya anak sulung, seadanya, serta membeli ring light biar wajahku kelihatan cerah, jadilah satu kursus gratis dan satu kursus berbayar. Alhamdulillah dapat juga sampai 30 dollar. Walau untuk dicairkan ke rekening rupiah, minimal kudu 50 dollar.

 
penghasilan dari Affiliasi Shopee

penghasilan dari Google Ads

penghasilan dari Udemy

Ketiga hal ini baru aku lakukan selama pandemi. Itungannya belum berjalan satu tahun. Apalagi google ads itu sering kuotak-atik, kupasang kulepas di blog, begitu aja terus. Karena merasa nggak akan menghasilkan. 

Hampir sebulan lebih, baru dapat 50ribu, dan ga naik-naik juga. Ternyata hari ini diperiksa, sudah berubah jadi 80ribu. Artinya ini ada pergerakan dan bisa jadi passive income. 

Untuk affiliasi SHopee, aku iseng aja mendaftar dan diterima. Padahal follower di tiktok dikit banget, di instagram cuma 2ribuan, kalau di facebook sih full teman ada 5ribu dan facebook page Jilbab Orin ada seribu lebih. Mungkin ini menyebabkan aku lolos ya, ada blog juga. 

Penghasilan dari affiliasi Shopee, sekitar 13 ribu kalau ga salah. Dan ternyata ditransferkan juga walau seuprit itu ke rekening bank. Wah mantap dah. 

Google ads di blog, entahlah. Kadang ga enak hati, karena aku sendiri sebel banget buka blog tapi ada iklannya. Namun kadang merasa penasaran juga, kan enak juga udah nulis susah-susah, ada penghasilan tanpa perlu "mengajar tiap hari" gitu. Jadi kupasang lagi. 

Apapun hasilnya yang menarik adalah aku telah mengalami sendiri prosesnya. 

Terutama untuk kelas online di Udemy, sedikit lagi aku persiapan memperbaiki perangkat rekaman dan tempat menyimpan video hasil rekaman itu. Mungkin beli harddisk external yang ukuran muat 2 Terabyte. Macbookku ini udah penuh banget. Record desktop aja ditolak melulu. Ga bisa simpan file baru lagi. Dan satu per satu aku posting videonya secara unlisted di YouTube, karena sayang banget kalau dihapus. 

Kelasku di Udemy bisa diakses di https://www.udemy.com/user/heni-14/

Pandemi bikin bosen, tapi juga bikin ada effort lebih gimana caranya bekerja dengan baik, dari rumah dengan modal internet. 

Jika pandemi usai, enak juga kan bisa jadi Digital Nomad sesekali, dengan semua sudah ada jalur penghasilan. Tinggal promosi sana-sini. 

Gitulah, kamu jangan putus asa juga kerja di masa pandemi Corona. Asal niat kuat, cari tahu jalannya dan mulailah mencoba. Lama-lama pasti bisa juga. 


Gambar credit: unsplash.com

Nikah Dulu Baru S2

Tidak ada komentar

 Judulnya bukan untuk memprovokasi kalian untuk menikah muda. Nanti jadi korban Pernikahan Dini, bahaya. Halah. Yang tahu judul sinetron yang dimainkan Agnes Monica dan Syahrul Gunawan ini, fix, kita seumuran. 

Judulnya adalah cerita hidup saya. Yang nggak hebat-hebat amat, jadi ditulis bukan untuk ditiru atau dijadikan target hidup. Apalagi masuk dalam Vision Board kalian di rumah. Jangan. 

Ini adalah berbagi cerita, bahwa yang namanya Menikah Itu, memang beneran nggak mudah. Baik itu untuk perempuan Sarjana, Lulusan SMA, tidak sempat sekolah atau tidak boleh ikut ujian SD seperti ibu saya. 

Baiklah, mari kita lanjutkan ceritanya. 

saya dan suami di usia 20 tahun pernikahan

Begini, sebenarnya rada enggan ngobrolin tentang rumah tangga dan cinta-cintaan di media sosial atau di blog. Bukannya apa, takut menyinggung perasaan kalian yang berbeda cerita. 

Tapi sepertinya udah di usia 42 tahun ini, ya saatnya mendongeng alias berbagi cerita. Siapa tahu ada yang mengena di hati kalian dan bisa nambah wawasan untuk berpikir jernih sebelum mengambil keputusan untuk menikah. 


NIKAH DULU BARU S2

Iya benar. Tiga bulan sebelum Sidang Sarjana di Kimia ITB, saya menikah. Lalu mengerjakan Skripsi, sidang, baru lulus kuliah. 

Singkat cerita, setelah lulus Sarjana di Bandung, saya dan suami memutuskan kembali ke kota kelahiran saya di Surabaya. Hampir selama 12 tahun saya menjadi Ibu Rumah Tangga, yang melanjutkan kuliah S2 dengan biaya sendiri, alias didanai oleh gaji dan tabungan suami. Saya, sama sekali tidak berpenghasilan pada saat itu. 

Kok keren mbak Hen?

Kelihatannya iya. Tapi bener-bener itu adalah sejarah yang berdarah-darah. 


Menjadi Ibu Rumah Tangga setelah lulus Sarjana, sama sekali bukan impian saya bahkan bukan target hidup saya. Saat itu seharusnya saya menjadi PENELITI BIOKIMIA MEDIS di LIPI Bandung. Tepatnya di Laboratorium Bio Molekuler, tempat saya menyelesaikan Tugas Akhir, membantu ibu Zalinar Udin, Kepala Balai Laboratorium itu, yang kebetulan satu grup dengan saya, satu Dosen Pembimbing, almarhum bapak Agus Noer. 

Tugas akhir saya membantu penelitian Disertasi bu Zalinar yang sedang mengambil S3. Judul Skripsi saya adalah penelitian tentang Interaksi DNA Bakteri Salmonella Typhi dengan Ekstrak Tanaman Obat Gardenia Tubifera WALL

Wuhuu, saya masih hafal judul skripsi ini di luar kepala.

Hebat?

Bukan itu. Tapi menjadi dosen atau peneliti memang target saya selama kuliah. Bahkan ketika masih SMP dan SMA, atau masih muda, saya sudah "didoktrin" oleh ibu saya untuk kelak menjadi WANITA KARIR dan jangan sampai seperti ibu saya, yang (hanya) menjadi ibu rumah tangga. 

Kebayang apa yang terjadi, ketika strategi pasca menikah saya meleset. Yang harusnya, berdua dengan suami berkarir di Bandung, sama-sama menjadi pegawai BUMN. Lalu melepaskan semuanya dan kembali ke titik nol lagi di Surabaya. 

Suami saya dulu bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nasional) yang dibangun oleh bapak B.J. Habibie. Kelak berubah nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia. 

Dengan dua posisi karir yang sama-sama keren dan matang ini, kami berdua berani melangkah untuk menikah bahkan sebelum saya lulus Sarjana. 


BULAN MADU = NGERJAKAN SKRIPSI

Menikah dengan hal yang manis-manis dan unyu-unyu itu, serius nih, hanya ada di media sosial. Atau di cerita-cerita buku roman. 

Mungkin bisa begitu, kalau pernikahan sudah dalam kondisi ekonomi mapan, berkecukupan bahkan berlebihan. 

Sementara kami, nekad menikah dalam kondisi MINUS alias di bawah titik nol. 

Setelah menikah, kami tak punya tabungan sama sekali. Sepertinya hanya beberapa ratus ribu rupiah saja. Dan itu harus dibagi dengan ongkos naik kereta api kembali ke Bandung, segera, karena saya harus menyelesaikan Seminar Tugas Akhir, lalu skripsi dan sidang. 

Sejenak saja menggelar resepsi pernikahan yang biayanya hasil patungan dari keluarga besar. Lalu beberapa hari saja menginap di rumah orang tua suami. Tidak sampai sepasar atau seminggu kemudian, kami sudah harus kembali ke Bandung. Karena jadwal Seminar Tugas Akhir saya sudah keluar. 

Tanpa pikir panjang untuk bersenang-senang dan bahkan mengecewakan keluarga besar karena tidak sempat banyak menemui tamu dah saudara, kami hanya berkomitmen untuk menyelesaikan kuliah secepat mungkin. Dan tidak menundanya karena akan berdampak pada biaya.


KAMAR KOS PENUH TIKUS

Tidak begitu kaget juga ketika sepasang pengantin baru ini masuk ke kamar kos yang diobrak-abrik tikus di dalam kamar. Yang namanya Mesin Ketik manual saya, habis sudah dengan air kencing dan kotoran tikus yang kecil-kecil. Buku-buku, modul kuliah dan isi rak buku yang terbuka, kena juga jadi tempat pesta pora mereka, si Mickey Mouse, begitu saya menyebut para tikus berkuping bulat, berbadan kecil dan ke sana ke mari suka berjalan sambil membuang kotorannya itu. 

Tanpa ada amarah, tangis, sesal atau jengkel, kami meletakkan tas ransel dan barang bawaan di lantai kamar kos. Lalu gerak cepat membersihkan ini itu. Kemudian mandi dan beristirahat. 

Bersih-bersihnya tidak mudah ya, karena kamar mandi dan akses air bersih hanya ada di lantai bawah ibu kos. Kami ada di kamar atas, lantai kayu sementara yang dirombak menjadi kamar semi permanen dan kemudian disewakan sebagai tempat kos. Sebuah tempat yang kurang layak sebenarnya, namun itulah yang cukup untuk kantong kami berdua. 

Tinggal sekitar beberapa bulan di situ, sampai akhirnya kami putuskan mencari tempat kos yang lebih bersih dan di lantai satu saja, sehingga tidak repot kalau harus ke kamar mandi. Syukurlah akhirnya nemu pas di belakang gedung LIPI Bandung. Jadi saya kalau harus ke laboratorium, lebih dekat. Walaupun sama juga hanya perlu jalan kaki saja seperti di tempat kos sebelumnya. 

Ketika saya di Bandung, suami saya harusnya masih kuliah lagi di ITS (Surabaya), namun tinggal menyelesaikan skripsi. Ya suami saya lulusan D3 Teknik Mesin ITS, lalu kerja di IPTN atau PT. DI yang mengambil cuti belajar untuk kuliah lagi melanjutkan ke jenjang S1. 

Sebenarnya, semuanya akan sempurna, jika itungan kami berdua tepat. 

Seharusnya jika sesuai jadwal, kami berdua akan lulus barengan jadi Sarjana. Beneran barengan. 

Akan tetapi, nasib berkata lain, tugas akhir suami saya rumit. Mungkin topiknya yang dikaitkan dengan industri pesawat terbang tempatnya bekerja ya, jadi untuk menemukan software yang pas aja butuh perjuangan. Apalagi kami berdua hanya punya satu unit laptop Celeron, yang sering ngadat ketika suami butuh mengerjakannya untuk skripsi. 

Jangan ditanya bagaimana kondisi pengantin baru yang sama-sama didera skripsi ini. 

Asyik-asyik saja?

Tentu tidak. 

Tegang. Kepikiran terus. Harus berhemat sangat, karena gaji suami kan jadi setengah doang karena cuti belajar. Kebayang kan, setengah gaji untuk biaya hidup sehari-hari, bayar SPP kuliah berdua, bayar kos, transportasi naik angkot sampai 6 kali pulang pergi. Berat banget. 

Dan, kami sama sekali tidak menelepon orang tua atau mertua dan menangis-nangis minta pertolongan. Semua kami ambil sebagai tanggung jawab yang harus dipikul oleh kedua pundak kami sendiri. 

Ketika saya sudah yakin akan bekerja menjadi PENELITI sesuai impian dan target selama kuliah, lalu tiba-tiba saya terlambat datang bulan dan positif hamil, maka melepaskan impian itu dan sepakat kembali ke Surabaya adalah bentuk tanggung jawab saya sebagai perempuan yang memutuskan untuk menikah. 


MENIKAH ADALAH PERKARA TANGGUNG JAWAB

Dan, ketika saya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja selama belasan tahun, itu juga bentuk tanggung jawab.

Mungkin saja, kalian tidak mengalami hal yang sama dan masih bisa melakukan ini itu, bekerja, mencari penghasilan, bisnis dan lain sebagainya selama awal pernikahan. Namun, saya, tidak. 

Kondisi dan situasi saya, anak-anak dan suami yang masih merintis karir, membuat saya berpikir untuk mengalah lebih dulu. Menerima semua keterbatasan keuangan, aktivitas dan meredam ambisi pribadi, semata untuk membuat kondisi RUMAH TANGGA STABIL dulu. 

Baru ketika semua sudah kuat. Anak-anak sehat dan kuat dan mandiri. Suami sudah punya pekerjaan tetap yang bagus dengan posisi yang sangat kompeten di bidangnya. Barulah saya beranjak untuk kembali berkiprah. 

Bayangkan keputusan yang saya ambil ini membutuhkan waktu belasan tahun. Bukan sulap. Dan tidak instan sama sekali. 

Berusaha menahan diri atas nama tanggung jawab mengurus anak-anak, suami dan rumah tangga. Tanpa sama sekali merepotkan kedua belah orang tua. Adalah SENJATA UTAMA untuk laki-laki dan perempuan yang memutuskan untuk menikah. 

Tentu saja sangat tidak enak lebih banyak daripada enaknya. 

Konflik pun mudah terpicu. Karena saya dan suami sama-sama capek lahir batin. Sama-sama berusaha di sisi masing-masing. Dia bekerja sebagai Kepala Keluarga, walau harus lembur tiap hari bahkan sakit Typhus ketika anak-anak masih bayi. Saya pun harus menggedor pintu tetangga ketika tengah malam, meminta bantuan diantarkan ke rumah sakit. Karena saya ada bayi dan anak balita, tentu tidak bisa meninggalkan mereka berdua di rumah untuk membonceng suami saya ke dokter, kan?

Capek. Harus berhemat. Jarang piknik, karena harus berhemat pula. Menyimpan dalam-dalam semua kesusahan dari orang tua. Walau tak jarang, jadinya saudara dan orang tua menganggap kita sebagai orang yang pelit, tak peduli dan anti sosial, karena menarik diri dari beberapa hal dan kegiatan, serta tak mampu menceritakan kondisi keuangan yang sangat ketat dan harus super ngirit. 

Tak mudah menjalani ini semua. Bahkan ketika melanjutkan S2 juga entah komentar muncul dari kanan, kiri, atas dan bawah, masih terus saja ada. 

Kalau dipikir-pikir sekarang, kenapa saya dulu seberani itu melepaskan pekerjaan sebagai Peneliti. Padahal kuliah berdarah-darah selama 4 tahun demi menggapainya. 

Kenapa juga saya sukarela menjadi ibu rumah tangga saja, padahal bisa saja merepotkan orang tua, meminta bantuan ini itu supaya karir saya tetap jalan dan meningkat. 

Kenapa juga saya mau susah payah kuliah lagi S2, padahal pekerjaan suami sudah aman dan saya bisa duduk tenang menerima nafkahnya?

Ini semua adalah perkara TANGGUNG JAWAB. 

Saya menjadi ibu rumah tangga, karena merasa bahwa anak-anak yang saya lahirkan adalah tanggung jawab saya, bukan tugas kakek-neneknya. 

Bahwa saya kuliah lagi S2, itu adalah juga cara membuka pintu untuk kembali mengamalkan ilmu dan kemampuan diri, sebagai bentuk tanggung jawab saya diberikan titipan bakat sebagai pembelajar yang suka belajar dan mengajar. 

Nikah dulu baru S2. 

S2 dulu baru nikah. 

Menikah atau tidak menikah. Yang penting harus berani bertanggung jawab.














Memutuskan Sibuk Dari Rumah

Tidak ada komentar

Irisan fokus hari ini:
1. Organizing Global Startup Weekend Women 27-29 September 2019


2. Mentoring Dilo PAD Surabaya September - Oktober 2019

3. Preparing materi seminar tentang Hoax untuk millenial

4. Writing buku biografi pak dosen teknik.

5. On going final project bikin ios apps di Apple Developer Academy @ UC bersama tim dan mentor.

6. Chit chat menyiapkan buku starter kit go digital untuk Bumagit Project (Bumagit = Ibu Rumah Tangga Digital) bersama satu alumni Coding Mum Surabaya.

7. Chit chat dengan slow respon dengan Coding Ranger (grup fasilitator dan mentor KCMI - merumuskan kelas online berkelanjutan bagi Komunitas Coding Mum Indonesia - yang rencana start Oktober 2019). Slow respon karena pada sibuk semua. Ada yang kerja, ada yang ngajar, ada yang terbang ke Beijing dan Taiwan :). Mumsky ini memang super-super tenan.
8. Finding new suplier - produsen - makloon untuk Reborn Olshop Jilbab Orin. Dari hasil analisis dan pengalaman, olshop bisa jadi pintu edukasi womenpreneur yang paling menarik dan bisa saling menguntungkan. Karena edukasi juga butuh dana.

9. Mempelajari cara kerja sebagai agen salah satu ekspedisi kirim barang yang baru dan memanfaatkan android apps. Jadi olshop reborn-buka-bisa kirim barang sendiri dari rumah dan kurir datang. Teman dan tetangga sekitar juga bisa kirim barang melalui saya di rumah. *belum sempat saya pelajari, tapi sudah tersedia ekspedisi kit dan posternya.

10. Wrapping konsep mendirikan Akademi Prasetyorini, sebuah kelas belajar Lifeskill dan Teknologi, untuk perempuan. Kelas diadakan secara online dan di rumah.

Ke depan, fokus saya adalah membuat kegiatan sibuk berbasis rumah. Entah itu disebut Working at home, Home Business atau bahkan Home based learning. Pokoknya dari rumah.

Maka, menyelesaikan satu demi satu tugas yang sudah terlanjur ada dan harus riwa-riwi keluar rumah setiap hari. Setelah itu berbenah dan mencurahkan fokus ke rumah. Semoga dimudahkan. Semoga bisa. Bismillah.

Dan mohon maaf jika ada beberapa projek teman yang tidak bisa saya dukung sepenuhnya, karena harus wara wiri seperti roadshow rutin yang menguras tenaga. Saya siapnya bikin Training of Trainer saja untuk anak-anak muda. Biar mereka yang riwa-riwi mengajar dan berbagi semangat kemana-mana.

I choose to keep my energy, here. At home.
Kegiatan ke luar rumah, okelah, sesekali saja. Tidak tiap hari, tidak terikat. Umur dah ga bisa bo'ong juga ini. Ga kuat tiap hari riwa-riwi apalagi harus menerjang teriknya panas matahari di jalan beraspal Surabaya.

Refleksi dari pengalaman beberapa tahun ini dan diskusi bersama suami tercinta, mendapatkan kesimpulan bahwa jika kami fokus bergerak dari rumah, akan mendapatkan hasil yang jauh lebih maksimal. Karena saya basicnya adalah freelancer, jadi mudah saja memutuskan ini. Untuk teman-teman yang terikat di sebuah lembaga, semoga masing-masing kita bisa saling mendukung lah ya.

Selamat hari Senin. Selamat memaksimalkan potensi diri. Mengakui keterbatasan diri. Dan mengoptimalkan kegiatan yang mampu dikerjakan.

Have a good days teman-teman.

*foto ketika dijemput saat mengisi workshop di Universitas Hang Tuah Surabaya. Momen istimewa. Drivernya adalah pensiunan TNI AL - membuat saya teringat almarhum bapak di sepanjang perjalanan. Bapak saya juga Purnawirawan TNI AL.