Saya lupa detilnya dan persisnya mulai kenalan sama nih anak tuh, kapan, dimana dan dalam rangka apa. Yang penting ketika saya aktif berjualan jilbab secara online sekaligus aktif nulis di facebook note, anak ini hadir. Khrisma Awaloka. Seorang mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, yang akhirnya banyak curhat tentang ini itu. Saya ketemu dua kali, waktu saya minta tolong dipinjami buku tentang Psikologi Pendidikan dari IAIN dan ketika saya ikut jualan jilbab di acara bazar wisudanya.
Saya sempat hilang kontak ketika dia sudah menikah dan harus pindah ke Trenggalek, mengikuti suaminya. Khrisma ini sempat galau ketika "diminta" suaminya untuk menjadi ibu rumah tangga "saja" di sana. Beberapa kali dia minta pertimbangan dan penguatan hati, agar bisa menerima kondisinya saat itu. Ah, saya jadi seperti melihat video diri sendiri :).
Walau saya adalah "kakak ketemu gede"-nya nih anak, saya berusaha memberikan nasehat semanis mungkin. Dan tetap memberinya motivasi untuk bisa mengoptimalkan keterbatasannya pada waktu itu. Sampai akhirnya saya melihat dia mulai memajang kreasi flanelnya berupa Jam Karakter.
Waktu itu saya sempat gerah, dan mengomentarinya, "kenapa jualan Jam Karakter" nya itu murah bangeet. Dari sinilah, kami kembali dekat, bertukar pin BB dan dia mulai lagi sering curhat dan konsultasi. Suka juga sih, saya seperti punya adik perempuan baru yang kreatif walau sedikit bawel. Karena kalau curhat nggak segera di bales, langsung aja saya dibombardir dengan PING PING PING!!!. Walau begitu saya memaklumi saja, karena dia telah lebih dulu memborbardir hatiku dengan pernyataannya, bahwa hadiah kecilku waktu mengembalikan buku perpustakaannya yang aku pinjam itu, adalah awal dia punya ide untuk berkreasi dan berbisnis Jam Karakter dari kain flanel. Terharu. Oh so sweeet....
Tak disangka, nih anak ulet juga bisnisnya. Setelah membuat Jam Karakter Flanel, dia pun belajar secara otodidak membuat Pajangan Mahar dari Uang. Yang juga laris manis dipesan secara online. Saya kalah satu langkah.
Dari Pajangan Mahar Uang, Khrisma semakin menemukan passion-nya dan bakatnya. Dia juga membuat perangkat hantaran/seserahan pernikahan. Ini keren sekali. Karena bisnis di bidang pernikahan itu nggak ada matinya. Asal ada manusia perempuan dan lelaki di bumi ini, pasti akan ada pernikahan. Disini saya kalah 2 langkah.
Karena kesibukan masing-masing, kami pun jarang bertukar kabar. Apalagi dia baru saja melahirkan anak pertamanya. BBM saya pun jarang aktif, karena sering gonta-ganti ponsel dan saya terkadang enggan untuk memasangnya kembali. Sampai pada suatu hari, ketika saya membuka timeline Facebook dan melihat foto yang diunggah oleh Khrisma ini, bikin saya melonjak kegirangan. Nih bocah dah sukses. Saya dah kalah beratus-ratus langkah nih :)
Apalagi, Khrisma sudah bisa memberdayakan perempuan dan ibu-ibu di sekitarnya. Satu hal yang dulu sempat dia keluhkan.
Waktu itu dia berkata, "betapa susahnya ngajak tetangga untuk bisnis ya mbak?".
Dan saya menjawab, "fokus dirimu sendiri aja dulu. Kalau kamu dah sukses dan kelihatan bisa menghasilkan pendapatan, mereka pasti datang sendiri kok."
Dan alhamdulillah, dia sukses.
Bisnis UKM nya Awaloka Souvenir ini, bisa membantu banyak keluarga dan calon pengantin yang tidak bisa datang ke tempat penjualan Souvenir karena berbagai hal. Dengan bisnis tipe 'Mass Market" dan berjualan secara online, Awaloka Souvenir segera mendapat tempat di hati konsumennya. Bisnisnya terus berkembang dan semakin memberdayakan sekitarnya.
Awaloka Souvenir sekarang sudah beromset besar. Namun terkadang dia bercerita, ada kesulitan dana ketika menerima pesanan yang besar. Maklum saja, bisnis souvenir kan biasanya jumlahnya banyak, ratusan bahkan ribuan pieces barang. Sedangkan pembayaran dari konsumen hanya dengan uang muka (DP) di awal. Jarang ada yang mau untuk melunasi pesanan sejak di awal, terutama dalam jumlah besar. Sedangkan untuk biaya belanja bahan dan transportasi, terkadang harus lunas.
Karena tinggal di kota kecil, di Trenggalek, Khrisma merasakan biaya transportasi yang cukup menambah pengeluaran. Akan sangat membantu, jika sekali berangkat bisa belanja bahan dengan jumlah yang cukup besar. Selain irit bensin, irit ongkos sopir, juga mendapat harga murah karena belinya bisa dengan harga grosiran dari distributor besar. Untuk hal tersebut, juga membutuhkan dana lagi untuk membangun ruangan baru sebagai gudang barang. Wah, wah gede juga rencana bisnis nih anak. Salut deh.
Sekali lagi, sebagai kakak saya hanya bisa memberikan saran. Belum bisa ngasih utangan, hehehe. Maka saya sarankan dia untuk mencoba Simulasi dari bank BTPN. Simulasi ini memudahkan dia memperhitungkan cara menyisihkan laba bisnisnya, sehingga bisa memperbesar usahanya. Karena Khrisma masih kesulitan mengakses web Simulasi Menabung BTPN ini , maka sayalah yang melakukan simulasinya dan membantunya memberi tahu hasilnya.
Jadi tahapan untuk mendapatkan simulasi perhitungan menabung untuk memberdayakan usaha kecil dan menengah (UKM) adalah sebagai berikut:
2. Mulai Login Untuk membuat Simulasi, bisa dari facebook atau email (manual)
3. Masukkan nama dan email, serta pilih kategori bisnis yang ingin diberdayakan,
4. Masukkan angka jumlah uang yang mau ditabung dan jangka waktu tabungan.
5. Lengkapilah data yang diperlukan, lalu klik Lihat Hasil Simulasi
6. Dan berikut tampilan Hasil Simulasi
Hasil terakhir saya sampaikan kepada Khrisma. Jika dia bisa menyisihkan uang sebanyak 2,5 juta setiap bulannya. Maka dalam jangka waktu 5 tahun saja, akan mendapatkan tabungan sebesar 170 juta rupiah lebih. Dan waktu itu adalah momen yang tepat. Karena Khrisma sudah siap untuk bekerja lebih keras lagi mengembangkan bisnisnya. Kalau untuk saat ini, saya minta dia bertahan dulu dengan kondisi yang ada. Meningkatkan kualitas dan bekerja sesuai kemampuan. Karena rejeki saat ini ada yang datang duluan, yaitu calon anak keduanya. Menjadi ibu hamil, mengasuh anak balita, sambil berbisnis gila-gilaan tentu bisa menguras tenaga dan membahayakan kesehatan.
Begitulah kisah bisnis-bisnisan yang pernah saya alami. Terkadang saya renungi, bahwa, hasil bisnis itu tidak semata hanya mendapat uang dan uang. Mempunyai teman baru, bahkan saudara baru, adalah hal yang sangat menyenangkan. Apalagi jika langkah kita menjadi inspirasi orang lain. Jadi, jika anda membutuhkan souvenir pernikahan, hantaran plus hiasan mahar, bisa kontak Khrisma ya. Pengiriman dari Trenggalek ke seluruh Indonesia. Salam Inspirasi Bisnis Kreatif.
Ngomongin bisnis itu ajaib bagi saya. Sejak jaman sekolah, cita-cita saya hanya seputar dua hal, menjadi Pengajar atau Peneliti. Tapi mungkin sudah garis nenek moyang, akhirnya saya kecemplung juga di dunia dagang seperti nenek saya, ibu saya dan bahkan ibu mertua saya B-) .
Singkat cerita, saya baru praktek dagang ini ketika sudah menjadi ibu rumah tangga. Waktu hamil anak pertama, saya buka usaha pengetikan dan bimbel. Pengetikan berjalan lancar sampai hamil besar pun rela begadang ngetik skripsi orang. Pas anak lahir, akhirnya saya tutup. Karena ngasuh anak bayi pertama itu, rempongnya luar binasa. Bimbel pun tutup, karena sungkan dengan muridnya. Misalnya ketika saya ngajar, eh anak saya nangis minta ASI, trus minta dikelonin. Ya udah, ikutan terlelap deh.
Ketika anak pertama udah rada gede, saya dan suami sempat nekad dagang baju produksi sendiri. Mempertimbangkan ibu mertua yang profesinya penjahit. Kami bertiga di siang bolong, keliling jalan Ampel untuk mencari toko yang menjual kain kiloan. Kabarnya murce dan bagus. Ketemu juga akhirnya. Tokonya kecil, yang dagang orang Arab, yang beli juga banyak orang Arab. Saya sampai terpana melihat orang yang hidungnya mancung-mancung disana. Kami beli beberapa jenis kain, dan memberikan kepada ibu mertua untuk membuatkan baju berbordir. Untuk contohnya kadang saya ngarang sendiri, kadang saya tunjukkan majalah. Usaha berjalan lancar di awalnya. Tetangga bahkan pernah memesan selusin gamis bordir. Karena saya maunya dicap produsen yang cekatan, ibu mertua saya kejar harus menyelesaikan dalam waktu dua minggu. Saya serahkan sebebasnya modelnya. Setelah jadi, awalnya tetangga saya senang. Namun setelah lama kelamaan gamisnya itu tidak laku terjual, dia pun mengeluh bahwa model baju saya kurang bagus. Setelah saya telaah, ternyata selera ibu mertua yang di desa beda jauh dengan selera pembeli saya di kota Surabaya. Kendala datang, suami saya harus ke Hungaria untuk training kerjaan. Kurleb 3 bulan. Alhasil nggak ada yang ngantar untuk kulakan kain dan menjahitkannya. Usaha saya pun brenti begitu saja. Uang modal pun lenyap entah kemana. Ya ke dapur lah, pake nanya :D
Note : produksi barang butuh riset, rancangan yang detil dan jelas serta pengawasan kualitas (Quality Control)
Saya pun sempat ikutan MLM jualan produk madu dan turunannya. Dasarnya saya suka sama sekolahan ya. Jadi yang saya kejar itu kelas seminarnya dll, bukan jualannya. Saya hobi browsing dan mencetak semua hal yang mendukung produk knowledge. Tapi cuma cengar-cengir kalau disuruh jualan. Upline saya aja yang cas cis cis nawarin jualan. Dan maksa orang beli aja, itu menurut saya waktu itu. Bisnis yang katanya bikin saya jadi jutawan itu pun harus diberangus total. Karena rumah tangga saya nyaris diambang bahaya. MLM menuntut saya pergi malam pulang malam. Menghabiskan uang belanja dan tabungan untuk modal. Dan tipe keluarga kecil saya, sama sekali tidak cocok dengan hal itu. Demi kesejahteraan bersama, saya pun berhenti total.
Note : tidak semua orang cocok berjualan ala MLM. Tapi dari sini saya belajar untuk tahan terhadap penolakan. "Jika tidak beli sekarang, mungkin beli besok. Jika dia tidak beli, mungkin temannya, adiknya, pakdenya atau tetangganya beli. Jadi tetaplah merespon dengan baik ketika kita menawarkan barang, apapun reaksi calon pembeli."
Selanjutnya saya ingin usaha tanpa modal. Bahasa kerennya jadi reseller nih. Awalnya membawakan baju jualan kakak ipar. Saya membawakan daster, baby doll untuk di tawarkan ke tetangga. Saya mendapatkan keuntungan 10%, sekitar Rp. 10.000,- per baju. Penjualan sistim kredit ibu-ibu, bisa satu bulan bayar di belakang atau bayar dua kali dalam satu bulan. Sesuai kesepakatan saja. Proses jualan ini mengalami kendala klasik. Yaitu yang ngutang lupa bayar :D. Atau yang janji bayar belakangan, sulit ditagihnya. Tapi saya tipe yang tidak mau merugikan orang, sekaligus tidak mau dirugikan. Jadi walau sesulit apapun, saya terus berusaha menagih, minimal uang dasar bisa saya kembalikan ke kakak ipar. Tidak masalah kalau saya tidak dapat keuntungan. Proses ini memakan waktu, hati, jantung dan paru-paru. Bahkan kalau usus bisa diambil, ambil deh.
Karena, walau saya berusaha bicaranya halus sehalus tahu sutra, yang namanya proses penagihan itu bikin nggak enak dua-duanya. Yang nagih bete, yang ditagih lebih bete lagi dan menebarkan kebeteannya dengan leluasa di udara. Situ yang utang, kok kita yang tercoreng-moreng namanya? dunia sudah kebalik. Tapi ini fakta. Maka atas nama menjaga perdamaian dunia, saya berhenti jualan sistim kridit-kridit begitu. Saya ingin hidup bertetangga saya, damai sejahtera bahagia sentosa.
note: Sebaiknya hindari bisnis ala kriditan ibu-ibu jika tidak kuat mental.
Seiring waktu, bisnis saya tidak nambah. Yang nambah malah anak saya, lahir satu lagi. Ketika dia masih bayi, saya dapat inspirasi baru. Membuat aksesoris handmade dari manik-manik. Itu karena ketemu dengan anak kos yang tinggal di rumah ibu saya. "Ayo mbak, aku lihatkan bikinannya kakakku.". Anak kos itu mengajak saya naik ke kamarnya. Dan dalam satu kerdus bekas mie instan yang besar, penuh dengan aneka jenis kalung, gelang dan bros yang sudah dikemas plastik. Semuanya handmade, bikinan kakaknya yang tinggal di Jogja. Wah menarik, pikir saya. Saya pun merasa, menjual aksesoris bisa jadi ladang usaha baru. Secara kebetulan, saudara saya, cewek, baru selesai ikutan kursus membuat aksesoris manik-manik. Dia menunjukkan hasilnya pada saya. Saya pun makin tertarik. Namun yang namanya sodara saya ini, hobi aja komentar ala-ala "ini sulit, kamu nggak akan bisa!". Saya juga lebih hobi lagi, kalau diremehkan malah kayak kepecut. Saya nyengir aja dan berbalik menghampiri si anak kos tadi. Nanya ini itu, ini onoh. Sampai akhirnya dia berucap, "ayo mbak, aku anterin beli bahannya!"
Tralala, saya pun terbang di atas sepeda motornya menuju toko bahan aksesoris. Perjalanan tak semulus dugaan. Lah iyalah, dia anak kos, asal luar kota. Mana hafal dengan jalanan Surabaya. Apesnya lagi, biarpun saya anak daerah aslii Suroboyo yooo, tapi dari jaman gadis menik-menik nggak pernah boleh dolan, alhasil saya makin nambah bikin nyasar. Untung aja nggak ditilang pak pulisi. Coba kalau.... eh sekarang lagi baek-baek sama pak pulisi yaa... #polisiganteng #kaminaksir , *nggak jadi protes deh.
Saya pun mendapatkan segepok bahan aksesoris. Belinya banyak, kebanyakan malahan, terpaksa. Karena anak kos itu nggak tahu kalau di toko Burhani, dekat pasar Blauran Surabaya itu kalo beli manik-manik kudu serenteng, beli peniti bros kudu seplastik yang kira-kira isinya seperempat kilo. Saya habis sekitar 300 ribu deh, jaman tahun 2007 (masa moneter). Uang belanja kesedot banyak waktu itu, hiks. Maafkan adinda ya ... *pasang tampang melas depan suami.
Nekad Bikin Aksesoris Sendiri
Untungnya di toko itu juga jualan buku tutorial membuat aksesoris manik. Saya baca sekilas. Lalu saya putuskan beli bahan sesuai isi buku, termasuk beli peralatan tang. Setelah itu dengan segenap jiwa raga, saya belajar sendiri di rumah. Saya ingat waktu itu lagi bulan Ramadhan. Jadi setiap selesai sahur, saya duduk di samping anak kedua yang masih bayi. Saya ceklak-ceklik motong kawat, nyambung lagi, masang manik. Membuat kalung, gelang dan bros. Sampai akhirnya jadi.
Buatan saya tahun 2011-2013
Lalu, dijual dimana? Keputusan cepat saya ambil untuk menawarkan ke ibu-ibu wali murid TK sekolahnya anak pertama saya.
Tiap ditanya, harga berapa mbak? Mulai deh, kambuh penyakitnya. Deg-degan, keringat dingin. Hmm...aaahh, mmm,,..eehmm... berapa ya? 5 ribu deh. 10 ribu aja. 30 ribu gpp?. Itu yang namanya ibu-ibu megang aksesoris saya kayak megang ular aja gitu. Megang bentar, taruh. Ngamati pun enggak. Serem kan. Saya pun sempat patah arang. Brenti jualannya aja, tapi tidak berhenti belajar membuatnya.
Buatan saya tahun 2016
Penasaran berlanjut lagi ketika ketemu kain flanel. Saya pun belajar bikinnya. Bikin apa aja. Saya bikin bros kecil-kecil saya suruh jual anak pertama yang sudah kelas 4 SD. Laris manis karena dia selalu jualnya diskon 50%. Tapi segera di banned sama gurunya. Karena proses transaksi begitu heboh di sela-sela pelajaran sekolah. Bisnis duet ibu-anak mati seketika.
Hobi baca saya akhirnya membuat saya mampir ke kios koran depannya bank BTN. Itu bank adalah bank yang bersejarah buat kehidupan kami. Kenapa coba? ... *yang pernah berurusan dengan developer perumahan, pasti paham deh.
Di situ saya pertama kali kenal dengan buletin Peluang Usaha. Buletinnya mengupas habis tentang wirausaha. Lengkap detil. Sampai perjuangan usahanya, jenisnya, bahannya, alamatnya, harganya semua ada. Saya pun tertarik dengan artikel berjudul "Moncernya Bisnis Jualan Jilbab".
Salah satu koleksi buletin PU saya.
Saya ingat, waktu itu sengaja mau ditunjukkan ke suami dan merayunya untuk ngasih modal buat jualan jilbab. Tak disangka, di senja yang mendung dan temaram, suami saya mengatakan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan daripada niat bisnis saya. "Ma, sepertinya aku bakalan kena PHK....tapi itu belum pasti. Cuma kita harus siap-siap saja..."
Jedeeerrrr.....itu rasanya ada petir aja nyamber masuk ke sel neuron otak saya. Padahal perasaan di luar nggak hujan deh, cuma senja mendung temaram, iya kan?. Kalimat pendek itu memporak-porandakan perasaan istri manapun di dunia. Untungnya urat kegengsian saya lebih kuat daripada kelenjar air mata. Jadi tak ada tangis, tak ada melodrama. Langsung saja saya ambil tuh buletin dan menunjuk artikelnya, "kita bisnis saja. Kita jualan jilbab. Jualannya online saja."
Mungkin orang bilang ini the power of kepepet. Tapi saya menyebutnya the power of bonek. Bondo Nekad. Modal Nekat. Saat itu kami merasa perlu bersiap-siap, jika PHK benar terjadi. Dengan cara memulai usaha sendiri, bisnis sendiri dengan kondisi apa adanya saat ini. Tidak menunggu uang pesangon jika PHK benar adanya. Kami pun mulai untuk riset dan bertanya pada teman yang sudah pengalaman berjualan online. Menilik cerita mereka, sebenarnya kami benar-benar tidak siap dan tidak punya modal. Tapi rencana terus saja kami jalankan. Kami berbisnis.
Nekad banget, karena kami tidak punya modal apapun untuk berjualan online. Tapi bisa juga bisnis ini jalan. Kronologisnya begini. Pertama, saya nekad aja pinjam modal uang ke ibu mertua dengan keyakinan saya tidak akan dipecat jadi menantunya walaupun nanti nggak bisa balikin modal.Setengah uangnya saya belikan bahan baku (jilbab paris polos, bahan payet, dan ongkos pengrajin). Setengah uangnya lagi saya simpan untuk perputaran modal selanjutnya. Setelah proses produksi selesai, saya mendapat satu kresek besar berisi jilbab paris dengan aplikasi bordir, payet, sulam pita dan lukis.
Prosedur kedua adalah cara menjualnya secara online. Saya pinjam manekin kepala bekas kursus rambut dan kamera digital kakak. Hasilnya saya edit menggunakan komputer jadul yang sebenarnya diperuntukkan untuk anak saya main game tetris. Karena sering dipake main game, jadilah kompi itu error. Saya tak ingin berhenti begitu saja. Maka, saya ke warnet dekat rumah. Hampir setiap hari, saya ke warnet bersama anak kedua saya yang berumur 3 tahun. Sejak jam 9 pagi -11 siang, kami "piknik" di warnet. Saya lakukan semua yang diperlukan disana. Mengedit foto, mengupload foto di blog, facebook, twitter. Juga berpromosi di situs iklan gratisan, yaitu toko bagus, dinomarket, indonetwork, dan apapun jenis iklan baris gratisan. Awal berjualan pun, saya tidak punya ponsel untuk kartu GSM. Dan jaman itu, yang masih mengandalkan sms dan telpon untuk kontak langsung, orang akan mau menghubungi kita jika kartunya dari provider yang sama. Karena kartu saya CDMA, bisa dijamin bakal cuma dilirik saja.
Tetep aja saya nekad jualan. Dengan proses komunikasi mengandalkan facebook. Sambil menunggu pesanan, saya mencari lokasi kantor Pos dan ekspedisi kirim barang. Akhirnya pesanan datang, untungnya ini dari teman saya alumni SMA yang ada di Pontianak. Kebingungan lagi tentang ongkos kirim. Jaman dulu, tahun 2010-an belum ada website atau aplikasi ongkos kirim yang bisa diakses seperti sekarang. Saya pun mondar-mandir ke kantor Pos dan ekspedisi, sekedar menanyakan Ongkos kirim, yang bikin petugasnya bete.
Pesanan pertama membuat saya percaya diri. Saya pun terus menerus melakukan promosi dengan telaten. Mengumpulkan hasil penjualan dan keuntungan dengan tertib. Walau jilbabnya ada yang bagus, sekuat tenaga saya tidak memakainya untuk diri sendiri. Semua saya jual. Sampai akhirnya bisa balik modal, maka sebagian saya sisihkan untuk membeli ponsel yang bisa dibuat internetan menggunakan opera mini. Semua berjalan lancar, bahkan sampai ikutan bazar di acara wisuda IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Berbagai kendala pun muncul. Saat itu yang paling laris adalah jilbab paris lukis. Itu yang pesan sudah sampai Aceh, Samarinda. Mendadak, pelukisnya meninggal dunia. Maka berhentilah produksi jilbab saya. Di tahun 2011-2012 pun booming tentang bisnis online, terutama bisnis jilbab. Saya kelabakan mengatasi fashion update. Ditambah kekurangan saya adalah nggak fashionistik sama sekali. Proses produksi pun tersendat, karena saya sulit mencari waktu untuk berkunjung ke desa mertua tempat para pengrajin berada. Suami semakin sibuk di kantor dan harus sering ke luar kota atau training ke luar negeri. Berbagai hal saya lakukan agar toko online saya tetap jalan. Salah satunya dengan kulakan secara online dan menjadi reseller. Apapun dilakukan, karena menurut saya, di jagad dunia online, kita harus tetap update hal baru dan berbeda. Maka untuk menjadi beda, saya coba lagi hal baru yaitu membuat aksesori handmade. Alhamdulillah respon cukup baik. Bahkan sampai ada reporter dari Metro TV Jatim yang mengirimkan sms-nya dan meliput saya untuk segmen tentang Inspirasi Bisnis Kreatif.
Sebenarnya proses shooting ini berjalan ketika saya memutuskan untuk "cuti jualan" dan kuliah lagi. Karena jadi pede setelah masuk tipi, saya pun menggalang teman untuk modal bersama. Namun ini tidak berjalan dengan baik. Bisnis bersama patner itu harus dibangun dengan tingkat pemahaman yang sama terhadap rencana, ide dan praktek bisnisnya. Ada perbedaan sedikit saja, bisa menimbulkan masalah. Saya orangnya tidak mau merusak hawa baik dalam berteman. Maka saya putuskan mengembalikan modal teman-teman dan benar-benar berhenti jualan. Saya fokus pada kuliah saja.
Note : sebaiknya mulailah bisnis secara "solo" atau sendirian. Kecuali yakin mendapatkan patner yang tepat untuk bekerjasama.
Itulah liku cerita berbisnis bondo nekad saya. Hal penting yang saya dapatkan dari "belajar bisnis" adalah pantang menyerah. Kesulitan pasti ada di depan mata, apapun jenis usaha atau profesi kita. Jika dalam satu jenis usaha, kita sudah mentok dan rasanya sulit untuk diteruskan, maka kita bisa bikin usaha baru. Pelajari hal baru, sebisa mungkin kita sendiri yang membuatnya dari nol, sehingga tahu seluk beluk keperluannya atau celah untuk menjualnya dengan baik.
Sekarang sudah tahun 2016. Untuk memulai jenis usaha apapun, rasanya sangat mudah. Apalagi jika berjualan online. Jika tanpa modal apapun, bisa mencoba untuk menjadi Reseller Dropship, yaitu menjual barang secara online, dimana kita yang mempromosikan dan penjual asli yang mengirimkan ke pembeli secara langsung atas nama kita. Saya pun sampai sekarang masih melakukannya. Mengetahui ongkos kirim ekspedisi manapun bisa di website dan aplikasi android. Untuk mengirim juga banyak sekali ekspedisi baru, bahkan kurir online baru. Pokoknya tinggal niat, telaten dan berhati-hati dalam mengelola keuangannya, pasti bisnisnya berhasil.
Bagaimana dengan bisnis saya sekarang?
Untuk versi jual beli produk, saya masih "cuti jualan", sampai saya temukan makloon produksi atau suplier yang tepat. Sebenarnya ketika saya telaah lagi diri sendiri, hobi saya adalah belajar hal baru dan baru lagi. Mulai membuat aksesoris, kreasi flanel, tas, membuat blog, menulis ebook, dsb. Jika itu semua dirangkum, maka mungkin lebih tepat jika saya membuka suatu lembaga pendidikan dan ketrampilan. Atau menulis sesuatu untuk menginspirasi orang memulai bisnis kreatif, seperti halnya buletin yang menginspirasi saya dulu.
Ah, jadi ingat saat itu. Di hari pertama kuliah umum Pascasarjana UNESA tahun 2013, di gedung K10. Kuliah pengenalan. Saya berkenalan dengan seorang guru IPA dari Sidoarjo. Ketika giliran dia bertanya, " mbak Heni, ngajar dimana?". Dan saya jawab, "nggak kok, saya ibu rumah tangga". Dia spontan menjawab, " oh, mau bikin sekolah sendiri ya?".
Ah, semoga.
Bismillah.
Dari wirausaha membuka peluang usaha baru dan hal baik lainnya. Jadi, mari kita berwirausaha :)
"Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Semua tentang Wirausaha yang diselenggarakan oleh Suzie Icus dan Siswa Wirausaha"
Hampir tiga minggu yang lalu, sebuah sms tiba-tiba masuk ke handphoneku.
SMS itu masuk ketika aku masih duduk di atas sajadah untuk sholat dhuhur. Bahkan belum berdzikir dan berdoa. Sudah jadi kebiasaan, tiap ada suara sms, aku langsung segera menyambar hp. Karena takut itu dari suami atau ibu, dan itu penting. Jika ringtone suara BBM, aku masih tak terlalu mengindahkan karena ibu dan suami tidak memakai ponsel pintar itu.
Ternyata SMS tawaran dari Metro TV jatim itu yang datang. Semula aku tak terlalu menghiraukan, dan menjawabnya sekedarnya saja. Kujawab, "Maaf mas saya tidak siap. Karena beberapa saat ini bisnis Jilbab Orin sedang vakum."
Kupikir jawabanku akan mengakhiri semuanya. Tetapi ada sms balasan, "bisa diatur settingnya mbak. Jika mbak masih ada beberapa produk handmade dll. Ini untuk acara Inspirasi Bisnis Kreatif. Dan ini gratis. Lumayan kan mbak, jika gambarnya bagus bisa masuk tivi."
Gratis?
wah kebetulan juga. Karena tahun kemarin, aku sering mendapat tawaran muncul di media koran atau elektronik tapi harus membayar dulu sejumlah uang. Mulai dari 4 jutaan. Dan aku belum bersedia. Dan tawaran ini gratis? wow kebetulan yang amazing sekali kan.
"kalau bisa besok siang kita shoot ya mbak," begitu lanjut sms-nya.
Hahh, besok? gila aja. Hampir semua produk jilbabku habis terjual. Yang tersisa hanya beberapa. Aksesoris kawat, lumayan banyak karena jika waktu luang aku bereksperimen membuat aksesoris kawat. Tetapi ini luar biasa, besok? ah aku langsung menyatakan tidak sanggup.
"kalau 2 minggu lagi, gimana mas? untuk persiapan?," jawabku bernegosisasi.
"Oh, 2 minggu lagi mungkin saya sedikit sibuk banyak liputan mbak. Besok sabtu itu saya banyak waktu luang. Ya sudah, semoga 2 minggu lagi tidak ada halangan, trims." jawaban singkat itu mengakhiri sms-sms kami.
Waktu pun berlalu. Aku menganggap hal ini akan lancar saja. 2 minggu lagi akan kupersiapkan dengan sempuran. Jilbab handmade, aksesoris handmade, bahkan membuat logo baru dan baligo baru. Sempurna pokoknya.
tetapi... 2minggu lagi banyak liputan?
bagaimana jika dia tidak sempat datang meliput kami? betapa emannya, sayangnya kesempatan ini disia-siakan.
Tetapi jika lanjut? bagaimana? stokku kurang banget tentu. Kemarin vakum berbisnis cukup lama sejak anak-anak berturut-turut opname dan aku mempersiapkan diri untuk kuliah lagi.
Sepanjang sore aku kepikiran terus, terlebih setelah buka puasa. Lalu aku kontak teman ibu-ibu wali murid TK anakku yang udah lulus. Mereka pun bersedia membantu. Kami punya waktu 24 jam saja.
Dan begitulah sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Mencorat-coret buku membuat konsep, mengumpulkan aksesoris wire jewelry yang kubuat selama ini, mengumpulkan produk jilbab handmade yang mewakili seperti jilbab sulam pita, jilbab lukis, jilbab bordir.
Sempat aku tidak PD menggunakan rumahku sendiri sebagai tempat liputan. Dan mengajukan ide butik teman sebagai gantinya. Namun teman emak-emakku tadi menentang semua. Aku harus tampil apa adanya, dan menunjukkan hasil kerja kerasku selama ini. Toh semuanya berkonsep sebagai inspirasi bisnis. Dan menurut mereka, yang kulakukan selama ini sangat bisa menjadi inspirasi. Alhamdulillah, aku pun nurut dengan ide mereka.
Dan setelah sahur, aku pun mulai beraksi. Membuat nama JIlbab Orin dari kain flanel, menata ruang tamu kami yang super minimalis itu menjadi workshop. Suamiku membantuku dengan baik, mengeluarkan kursi, mengepel dan mengangkat meja. Sehingga aku fokus pada kreativitas visualisasi di ruangan itu.
menyiapkan display, masih 30%
Menjelang dhuhur semuanya beres. Aku, anakku, suamiku sampai ketiduran sambil menunggu emak-emak datang. Membawa patung manekin tambahan, baju, aksesoris, dll yang membantu agar display lebih semarak.
Kebetulan ada satu emak yang jadi perias pengantin, kami pun di make overnya. Celakanya, giliranku di make up belum beres, eh si reporter dan kameraman datang. Mas @rifaipamone ini pun teriak-teriak manggil agar aku keluar dari kamar untuk interview awal. Aduh mak, lisptikku masih separuh.
Panik. Temanku yang perias itu masih ngejar aku aja agar bisa beres make upnya. Jadi aku di make over sambil jalan, sambil ngobro, kayak artis kejar tayang aja dah. hehehe...
Sambil menyiapkan lainnya, reporter ngobrol sama suamiku. Dan dia kaget ketika diberitahu suamiku, kalau aku dulu pernah dapat panggilan kerja dari Metro TV, tapi aku tolak karena sedang hamil anak pertama. Ohya, aku ingat dulu pas iseng ikut bursa kerja, hehehe. Dikit nyambung juga deh. *eh tapi aku lupa ya, itu Metro TV apa Trans TV ??* halaagh yaudinlah, kagak penting juga.
Dan akhirnya proses shooting berjalan dengan lancar, diselingku keriweuhan sedikit oleh anak-anak kami yang berseliweran dan teriak-teriak.
Satu lagi, namanya ibu-ibu yang ribet sama foto-foto narsisnya. Apalagi pada pengen di foto di gadget masing-masing. Ruwetnyaaa emaak-emaaak, sungguh malu-maluin :D
Ending shooting, aku berikan dua paket kripik Khas Malang. Sekalian promosi juga sebenarnya. Mas reporter berkali-kali menyebutkan kalau ini gratis loh.
Rasa happy dan legaku numpuk jadi satu. Karena kebetulan, hari itu Sabtu 13 Juli 2013, adalah hari ulang tahun pernikahanku dan suamiku. So sweettt.....
Begitulah, acara shooting selesai, kami harus menunggu dua minggu katanya. Nah sudah dua minggu lebih berlalu belum ada kabar. Apalagi pas seminggu setelahnya, anakku yang kecil masuk rumah sakit, opname karena demam berdarah. Udah deh, nggak kepikiran sama sekali tuh liputan akan tayang.
dan... 3 minggu kemudian, alias kemarin.... mendadak lagi, ada sms ke hp-ku, dan itu ... OMG... membacanya membuatku menyesal tiada tara.
mengapa? karena sms itu datangnya jam setengah 2. Dan baru aku baca jam setengah 4 sore. Telaat..... oh tidaaakkk !!!!
Aku mencarinya di website www.metrotvnews.com di bagian wideshot, dan ternyata tidak ada. Aku konfirmasikan kata mas Rifai ini tidak semua tayangan di upload di web metro.
Duh, menyesalnya. Tapi ya sudahlah. Pengalaman ini luar biasa pokoknya. Thanks to metro. Semoga mereka bisa dan boleh dan mau mengirimkan file videonya kepada kami. Amiin.
Pertama, saya kemarin nonton acara Kick Andy di Metro TV. Temanya adalah Kids-Preneur, yaitu profil para pemenang lomba usahawan cilik yang diadakan oleh bank Permata. Menarik sekali, terutama profil usahawan kakak beradik laki-laki yang menjual replika mobil kuno,brosur dan onderdil mobil kuno. Dua anak itu bernama Sena dan Wibi. Kedekatan mereka dalam bersaudara membuat saya ingat dua anak lelaki saya, Aldo dan Aji. Saya sungguh berharap kelak mereka tumbuh dewasa sebagai sahabat. Dan melihat contoh kemarin, mungkin saja lewat bisnis bersama sejak kecil mereka akan semakin akrab. Saya mulai berpikir untuk mengenalkan bisnis pada mereka. Mungkin tentang kaos sablon digital printing atau kaos berlukis fabric crayon dengan gambar buatan mereka sendiri. Karena mereka gemar sekali menggambar. Dan Aldo, si kakak, sudah mulai mencoba sendiri menggambar dengan Photoshop. Semoga ada jalan yang mudah untuk memulai hal tersebut, untuk pembelajaran.
Bisnis dikupas sedikit oleh pak Renald Khasali di acara metro TV itu dengan singkat tapi kena pas banget padaku. Bahwa generasi sekarang adalah tipe Connected Generation. Yaitu generasi yang terhubung satu sama lainnya, terutama lewat internet atau blackberry. Bahkan pak Renald berkelakar, anak sekarang baru lahir saja tangan kanannya sudah pegang mouse. Karakter lain dari anak sekarang adalah mereka bertipe Driver = pengemudi. Mereka mulai bisa mengemudikan hidup mereka sendiri. Soft skill mereka bagus, mereka bisa presentasi bisnis dengan baik, berpromosi dengan yakin dan tekun menjalankan usahanya.
Pak Andi F. Noya selaku host menanyakan bahwa dulu ada kekhawatiran jika anak diajari mencari uang atau berbisnis maka akan merusak konsentrasinya belajar di sekolah. Jadi sejak kapan anak diajari bisnis, begitu tanya pak Andi selanjutnya.
Dan pak Renald menjawab, "sebenarnya bisnis juga belajar. Asal dibimbing dengan baik. Harus ditekankan bahwa bisnis itu tidak mencari uang. Uang bukan tujuan. uang adalah akibat. Yang perlu diperhatikan adalah pembelajaran dalam berbisnis, seperti tekun, kerja keras, jujur, berkomunikasi dengan baik, melayani pelanggan, pencatatan teratur, disiplin dan sebagainya. Dengan bekal ini maka karakter anak akan terbentuk mandiri dan tangguh.
Yang tidak kalah penting, lanjut pak Renald, kita harus mengawasi bacaan anak tentang bisnis. Tentu bacaan ini bisa mereka dapat dari mana saja, terlebih dari internet. Kita harus membimbing mereka agar tidak salah menafsirkan. Karena sekarang banyak beredar bacaan yang memberikan cara instan untuk sukses berbisnis dan sebagainya. Seperti halnya konsep "The power of Kepepet", Kerja Cerdas, dsb.
Bisnis harus dikonsep dengan baik, dan tidak perlu menunggu untuk kepepet dulu baru bergerak dengan sungguh-sungguh. Juga tentang kerja cerdas, jangan sampai anak menafsirkan bahwa bekerja cerdas itu berarti tidak perlu bekerja keras. Karena tidak ada satupun bisnis di bumi ini bisa sukses tanpa kerja keras.
Kata-kata pak Renald ini sangat baru bagi saya. Memberi konsep baru tentang bisnis dan terutama kaitannya dengan anak-anak. Sekaligus juga menguatkan saya untuk tetap menekuni bisnis yang telah saya mulai dua tahun yang lalu. benar memang kata beliau, dalam bisnis ini banyak hal yang bisa disebut pembelajaran.
Kemudian baru tadi, saya tak sengaja menekan channel TVRI dan menemukan acara Rumah Perubahan Renald Kasali. Disitu beliau menunjukkan buku yang beliau tulis, berjudul Recode, Change Your DNA. Sekilas kalimat singkat yang saya ingat adalah kita harus beradaptasi dengan baik saja dalam hidup yang selalu berubah.
Langsung deh, saya tertarik untuk membeli buku ini. Dan ternyata, setelah saya cari di Google, berita bahagianya adalah pak Renald berbaik hati untuk membuat ebook gratis dari buku tersebut. Linknya disini. Sementara info tentang ebook gratis ini saya peroleh dari blog seseorang disini
Tanpa menunggu, ebook itu langsung saya download. Dan alhamdulillah, ebooknya ada berbentuk pdf, bisa dibaca, ada beberapa foto menarik dan tentu saya akan lanjut membacanya malam ini juga. Jika tertarik silahkan klik link yang saya berikan di atas.